KENAPA ORANG TUA HARUS MEMBACA?

dibaca normal:4 menit

Sering kali saya mendapatkan pertanyaan dari para orang tua, “Kenapa saya harus membaca buku? Saya sudah tua dan sudah tidak sekolah lagi? Terus, apa manfaatnya jika saya rajin membaca buku?”

Saya pun kemudian bercerita kenapa saya suka membaca buku. Ya, itu karena Ayah-Ibu saya adalah orang tua yang suka membacakan buku ke saya, sering membelikan buku, dan di rumah saya dulu banyak sekali buku-buku. Dan yang lebih penting lagi, saya sering melihat Ayah dan Ibu saya membaca buku.

Saya pun sejak kecil mengganggap membaca buku menyenangkan. Saya sering menyaksikan Ayah dan Ibu saya tertawa sendiri saat membaca buku. Saya sering melihat mereka serius dalam membaca. Dan saya sangat senang sekali saat keduanya bercerita soal bacaan yang telah dibacanya pada saya. Saya pun kemudian meyakini bahwa dalam buku itu ada sesuatu yang menakjubkan. Saat itulah saya sudah berkeinginan kuat untuk bisa membaca. Saya ingin bisa seperti Ayah dan Ibu, bisa membaca buku dengan sangat antusias dan menyenangkan.

Dan hasilnya sekarang, karena saya dibesarkan dari orang tua yang suka membaca buku, saya pun menjadi suka membaca buku. Dari situ, saya menganggap, “Ayah dan Ibuku adalah Perpustakaan Pertama dalam Hidupku.”

Orang yang pertama kali mengenalkan buku, mengenalkan indahnya membaca buku, dan pada akhirnya membuat saya suka membaca buku. Dan saya bersyukur sekali sebab karena suka membaca buku, cita-cita saya sejak kecil ingin menjadi guru bisa tercapai tercapai.

Saya meyakini salah satu aspek kebaikan yang saya capai dalam hidup saya karena membaca buku. Hobi saya membaca buku membuat proses perjalanan pendidikan saya tidak masalah. Saya bisa mengikuti dengan baik, dan mendapatkan nilai yang baik karena saya membaca materi sekolah dengan baik. Saya juga membaca materi ilmu pengetahuan, dan karya sastra dengan baik.

Inilah salah satu alasan penting orang tua harus membaca buku. Kebiasaan orang tua membaca buku akan membuat anak-anak kita ikut hobi membaca buku pula.

Mungkin ini terkesan subjektif, baiklah jika demikian, akan saya paparan hasil riset ilmiah yang membuat orang tua harus membaca buku. Dalam buku Read Aloud (2008) yang menjelaskan sebuah riset atas budaya baca orang tua.

Risetnya mengambil sampel tiga puluh orang yang lahir dan hidup sama-sama dari keluarga miskin: (1) tapi sekalipun dari keluarga miskin yang lima belas orang berhasil menjadi profesor, sukses dalam ekonomi dan pendidikan, (2) sedangkan lima belas orang lainnya tidak sukses, hanya menjadi tenaga kasar atau buruh, dan miskin.  Hasil penelitiannya adalah sebagai berikut.

Pertama, dua belas dari lima belas profesor itu sejak kecil dibacakan atau diceritakan kisah atau buku oleh orang tuanya, sedangkan yang dari pekerja itu yang dibacakan buku hanya empat orang dari lima belas orang.

Kedua, empat belas dari lima belas profesor merupakan anak dari keluarga yang rumahnya penuh dengan buku-buku, memiliki perpustakaan keluarga dengan koleksi buku yang melimpah, sedangkan dari kalangan pekerja dalam keluarganya rata-rata hanya memiliki empat buku.

Ketiga, para orang tua (ayah dan ibu) tiga belas profesor itu diidentifikasi sebagai sosok yang sering membaca buku dengan baik, mengisi hari dengan membaca buku, sedangkan orang tua para pekerja itu hanya enam yang menjadi pembaca buku.

Keempat, kelima belas profesor itu itu sejak kecil disuruh oleh orang tuanya untuk rajin membaca buku, sedang dari pekerja itu hanya tiga orang yang disuruh membaca oleh orang tuanya.

Di sini kita bisa melihat bahwa orang tua yang suka membaca, menyuruh anaknya membaca, menyediakan bacaan buku di rumah, dan suka membacakan buku itu menjadi kegiatan penting orang tua dalam menyiapkan masa depan anak-anaknya untuk sukses dalam segala bidang.

Maka, jika kita sebagai orang tua ingin anak-anaknya sukses, maka membaca menjadi kegiatan yang harus dibiasakan di rumah. Dan ini akan berlaku dan berjalan dengan baik jika orang tuanya adalah pembaca yang baik pula. Untuk itu, membaca sesungguhnya adalah modal dasar dalam menyiapkan anak-anak kita untuk memiliki masa depan yang bagus.

Dan tugas penting orang tua dalam menciptakan anak-anak yang suka membaca buku adalah menjadikan dirinya teladan sebagai pembaca buku yang baik. Dengan menjadi pembaca buku yang baik, maka dipastikan rumah kita akan penuh dengan buku-buku yang berserak, orang tua akan dengan sendirinya rajin memerintahkan anaknya untuk membaca buku, dan pasti akan sering membacakan buku pada anak-anaknya.

Melalui kebiasaan inilah, kita sedang menyiapkan keluarga yang suka membaca buku. Keluarga yang antara orang tua dan anak-anaknya aktif dalam kegiatan membaca buku. Dari sinilah, keluarga sedang menyiapkan anak-anak yang kelak akan sukses seperti yang hasil riset di atas.

Maka, kita sebagai orang tua sudah tidak punya alasan lagi untuk tidak membaca buku, jika kita ingin anak-anak kita suka dan hobi membaca buku. Yuk, kita mulai menjadi orang tua yang suka membaca dan membacakan buku untuk anak-anak kita.

 

HERU KURNIAWAN

Founder Rumah Kreatif Wadas Kelir & Pengajar di Institut Agama Islam Negeri Purwokerto

MENGENAL TIGA ASPEK PSIKOLOGI ANAK-ANAK YANG SUKA MENONTON FILM

dibaca normal:4 menit

Hari Minggu, pukul 10.00 WIB, matahari tengah bercakap dengan awan dan bersepakat untuk tidak menurunkan hujan. Suasana mendung menyenangkan. Udara sejuk berhembus menambah suasan nyaman untuk membaca buku.

Saat itu, Kak Hafidz, Relawan Wadas Kelir, tengah sibuk mempersiapkan proyektor untuk pemutaran film “Bioskip Mini” khas Wadas Kelir yang hendak ditayangkan bersama anak-anak Wadas Kelir yang sudah antusias menanti.

“Sekarang, yang diputar film apa, Kak?” tanya Nera yang sudah sangat penasaran.

“Film Boboboy, Nera!” Ka Hafidz membalas dengan senyum ramah.

“Ayo, Nera ajak teman-teman yang lainnya lagi!” tambah Kak Hafidz.

Nera langsung pergi memanggil teman-teman laiinya. Anak-anak di Wadas Kelir sangat menyukai film. Anak-anak selalu menganggap film adalah hiburan yang menyenangkan. Tempat bertumpu untuk mengembangkan imajinasi.

Entah dari mana datangnya, saya mendadak ingat pengalaman masa kecil, saat itu setiap hari libur, saya rela harus menunggu berjam-jam untuk menonton film favorit saya “Dragon Ball”. Film “Dragon Ball” telah membuat saya kecanduan untuk menonton dan mengikuti ceritanya sampai selesai.

Dan hebatnya lagi, selesai menonton Film “Dragon Ball”, saat saya bermain bersama teman-teman, saya menirukan adegan dalam film itu. Saya senang berfantasi seolah-olah menjadi tokoh Goku dalam “Dragon Ball” yang bertempur melawan musuh-musuhnya.

Saya merasa bangga memiliki kekuatan ‘hamehameha’ dan dapat mengalahkan musuh. Meskipun saat itu saya sadar sesungguhnya saya sedang bermain dan berimajinasi penuh suka cita.

“Kekuataaaan Angin!” mendadak Zaka berteriak dengan keras mengagetkanku yang sedang mendampingi anak-anak menonton Film Boboboy.

“Kekuataaaan Api!” teriak Nera sambil membalas sambil memperagakan sebuah jurus yang saya sendiri kurang paham.

Melihat hal itu saya jadi sadar ternyata mereka mengalami hal yang sama seperti saat saya masih kecil: senang sekali berfantasi. Film pun ternyata mempengaruhi fantasi, imajinasi, bahkan psikologi anak-anak.

Saya pun terhenyak, teringat tulisan dalam Harian Kompas (5 Januari 2018) yang menyampaikan bahwa karya sastra novel fenomenal abad 17 yang berjudul “Die Leither Weither Jong” menceritakan penderitaan pemuda bernama Weither yang bunuh diri. Ternyata kisah ini mampu membius banyak pembaca sehingga banyak orang yang bunuh diri saat itu menirukan kisah dalam novel itu.

Barangkali film juga memiliki efek psikologi yang sama seperti novel itu. Terlebih film tidak hanya menggunakan daya visual, tetapi juga daya audio yang kombinasinya antar keduanya menjadi sangat menarik mengalahkan novel.

Maka jika ditelaah, sesungguhnya ada tiga efek psikologi yang yang ditimbulkan Film pada anak setelah setelah anak menonton film.

Pertama, Defence Stage. Efek psikologi ini dapat ditunjukkan dengan sikap dan perilaku anak yang terpengaruh dengan keadaan apa yang dipertontonkan. Anak sudah menganggap bahwa dirinya adalah orang yang mengalami hal itu.

Anak pun akan meniru apapun yang ada di dalam film. Anak-anak mengimitasi dirinya adalah tokoh-tokoh yang berperilaku dalam film.  Kita pun akan melihat kenyataan anak-anak yang cara bicaranya, kata-katanya, sikapnya, sampai emosi dan perangainya mirip dengan tokoh-tokoh yang ditampilkan dalam Film.

Kedua, Fantasy Stage. Nah, saat anak masih menganggap bahwa dirinya bukanlah dirinya yang dilihat. Namun, anak memaklumi fanstasinya. Di sini anak-anak sudah memiliki kesadaran bahwa sekalipun film sangat menarik baginya, tetapi dunia film berbeda dengan dunianya. Di sini anak-anak masih meniru, tetapi kesadarannya sudah muncul sehingga peniruan tidak dilakukan secara total, tetapi sebatas peran tertentu saja.

Ketiga, Transformation Stage. Saat anak sudah meyakini bahwa dia adalah dia dan aku adalah aku. Yang ketiga inilah yang paling ideal untuk membentengi seseorang dari apa yang tonton atau lihat. Anak-anak suka dengan Film, tetapi film adalah tempat untuk mendapatkan hiburan dan nilai, buka tempat mengadopsi sikap.

Anak-anak ini akan menjadikan film sebagai tempat untuk mencari kesenangan dan pemahaman, bukan tempat meniru. Inilah yang ideal bagi anak-anak, sehingga anak-anak tidak terperangkap dalam mengimitasi film. Untuk mendapatkan kesadaran ini, orang tua harus terus mendampingi anak-anak dalam menonton film, serta memberikan pemahaman atas film sehingga kesadaran ini bisa terbentuk.

Ketiga hal ini baik untuk kita kenali agar dapat melihat psikologi seseorang terutama anak-anak yang suka menonton film. Dengan begitu, kita sebagai orang dewasa dapat melihat tanda yang ditunjukkan pada sikap dan perilakunya setelah menonton film.

Tujuanya, tentu saja, anak bisa menonton film dengan tidak berlebihan, dan sebagai hiburan film tidak merusak psikologi anak-anak. Anak-anak memiliki kesdaran Transformation Stage yang bagus karena mampu membedakan bahwa dirinya berbeda dengan tokoh yang difilm. Tapi, anak-anak mampu mengambil nilai penting yang ada di film.

 

MUHAMMAD IQBAL

Relawan Pustaka Wadas Kelir dan Mahasiswa Institut Agama Islam Negeri Purwokerto

KEPEMIMPINAN KREATIF YANG DIKEMBANGKAN DI RUMAH KREATIF WADAS KELIR

dibaca normal:2 menit

Himpunan Mahasiswa Jurusan (HMJ) Pendidikan Dasar, Fakultas Tarbiyah dan Ilmu Keguruan (FTIK), Institut Agama Islam Negeri (IAIN) Purwokerto mengundang founder Rumah Kreatif Wadas Kelir, Heru Kurniawan, dalam acara “Culture Leader”, di Gedung Benih Ikan, Tambaksogra, Selasa 16 Januari 2018.

Di hadapan 50 mahasiswa, Heru Kurniawan, sebagai pimpinan Rumah Kreatif Wadas Kelir, menyampaikan konsep kepemimpinan kreatif yang telah dipraktikannya selama lima tahun dalam memimpin anak-anak, remaja, relawan, dan masyarakat Wadas Kelir, Karangklesem, Purwokerto Selatan.

Menurut Heru Kurniawan, kepemimpinan kreatif adalah kepemimpinan yang didasari sikap rela dan ikhlas menerima orang-orang yang dipimpin dalam hidupnya, yang kemudian diikat dengan kesadaran sebagai keluarga. Dalam kesadaran keluarga ini, pemimpin bisa membangun komunikasi hati dan mimpi dalam satu visi. Visi untuk mencapai tujuan bersama. Tujuan untuk meningkatkan derajat orang-orang dalam keluarga.

Di sinilah, tugas utama pemimpin adalah membuat keluarga yang dipimpin menjadi mulia dan bermartabat. Dan kemuliaan keluarga ditentukan oleh kemuliaan anggota keluarganya. Untuk itu, tugas pemimpin tidak semata-mata memberikan perintah dan menjalankan sistem, tetapi yang lebih penting adalah dapat mengidentifikasi, memotivasi, dan memberikan ruang kreatif bagi yang dipimpin untuk menemukan eksistensinya dalam berprestasi sebagai inividu.

Menurut Heru Kurniawan, yang dilakukan di Rumah Kreatif Wadas Kelir itu demikian. Orang-orang yang dipimpin diidentifikasi kemampuan dan potensinya. Jika sudah ditemukan, maka orang yang dipimpin akan dimotivasi untuk terus berkreasi dan berkarya sampai menemukan hasilnya dalam bentuk prestasi dan ekistensi. Di sinilah, relawan, remaja, anak-anak, dan masyarakat senang karena melalui Rumah Kreatif Wadas Kelir pencapaian prestasi dan eksistensi bisa diwujudkan. Prestasi dan eksistensi ini yang kemudian mendatangkan materi dalam pemenuhan kebutuhan ekonomi atau kesejahteraan.

Dengan cara ini, pemimpin telah berhasil menjalankan perannya dalam membangun keluarga yang anggotanya adalah orang-orang hebat yang lahir dari kepemimpinan kreatif. Pemimpin kreatif adalah pemimpin yang terus memperjuangkan dalam menghebatkan orang-orang yang dipimpin karena karya terhebat dari pemimpin adalah kehebatan orang yang dipimpin.

Dari dasar inilah, Rumah Kreatif Wadas Kelir, selama lima tahun sudah tumbuh dan berkembang dalam pola kepemimpinan yang demikian. Pola kepemimpinan yang berdasarkan pada rasa cinta keluarga, semangat berkarya dan bekerja untuk meraih prestasi dan eksistensi, serta dapat memenuhi kebutuhan ekonomi hidupnya dengan baik.

Heru Kurniawan berharap semoga model kepemimpinan yang dikembangkan Rumah Kreatif Wadas Kelir bisa menjadi model yang akan menginspirasi banyak orang, terutama para pemimpin, baik di lembaga maupun komunitas, untuk membangun dirinya sebagai pemimpin yang kreatif.

Usai menyampaikan materi di atas, tanya jawab dengan peserta berjalan menarik. Banyak mahasiswa yang bertanya lebih jauh soal materi kepemimpinan kreatif yang di kembangkan di Wadas Kelir, dan Heru Kurniawan menjawab dengan penjelasan yang menarik dan mudh dipahami.

 

Redaksi Wadas Kelir.

BERMAIN KATA DALAM LAGU: ANTARA SENANG DAN TEGANG JADI WARNA YANG MENGGEMBIRAKAN! [Catatan Kegiatan Belajar, Minggu 21 Januari 2018]

dibaca normal:3 menit

Saya bangun tidur pukul 16.00 WIB karena sebuah pesan singkat masuk, “Pak Guru, jadi mengajar anak-anak!” Rasa malas menyergap tubuh yang rapuh ini. Saya teringat betapa lelahnya hari ini, dan saya baru tidur lima belas menit. Padahal semalaman habis bergadang menyelesikan pekerjaan menata Toko Buku Wadas Kelir.

Namun, saat saya ingin kembali merebahkan tubuh saya ke tempat tidur, saya teringat kata-kata saya sendiri, kata-kata yang jadi prinsiphidup saya, “Hakikat hidup itu capek. Kita tinggal memilih: ingin capek untuk diri sendiri atau capek untuk orang lain. Dan hati saya sudah memilih: capek untuk orang lain!”

Saya pun segera bangkit. Membasuh muka agar tampak bahagia. Sebab modal utama mengajar adalah bahagia. Bahagia itu milik murid yang kita ajar, sedang penderiataan milik gurunya. Saya bercermin, tampak sudah sudah lumayan segar. Saya melangkah ke Pusat Belajar Masyarakat (PBM) Wadas Kelir.

Anak-anak menyambut kedatangan saya dengan senang. Melihat mereka, kecapekan dan kelesuan rontok dimakan bahagia merayakan pesta belajar paling menyenangkan di dunia. Pesta belajar yang sebenarnya saya belum punya ide gagasan, tapi saya suka dengan hal ini, sebab ide kreatif pasti akan menolong saya.

“Hari ini belajar apa, Pak Guru?” tanya Meli. Saya pura-pura tersenyum bahagia. Padahal, sedang berpikir keras untuk menciptakan permainan yang menyenangkan hari ini. Dan spontan saya berkata, “Kita akan bermain lagu. Ayuk, kita menyanyi lagu ‘Naik-naik ke Puncak Gunung’ dengan keras!”

Dengan penuh semangat, anak-anak dan relawan menyanyi lagu “Naik-naik ke Puncak Gunung” dengan penuh semangat. Setelah selesai, saya langsung mendapatkan ide untuk permainan yang menyenangkan hari ini.

Saya segera memberikan petunjuk, “Permainan hari ini, kita akan menyanyikan lagu anak-anak secara bergiliran, setiap orang hanya boleh menyanyikan dengan satu kata yang akan dilanjutkan teman berikutnya, paham?”

Anak-anak tersenyum senang. Mereka paham. Saya menambahi, “Yang akan menjadi pemenang adalah yang tidak pernah melakukan kesalahan!” Semua anak mengangguk tidak sabar. Lagu pertama adalah Naik-naik ke Puncak Gunung.

Saya                      : Naik

Malva                  : Naik

Meli                      : Ke

Rahma                  : Puncak

Tata                      : Gunung

Nera                     : Tinggi

Luna                     : Tinggi

Cesi                       : Sekali

Dan seterusnya, jika ada yang melakukan kesalahan, maka menyanyi akan diulangi lagi, dan yang melakukan kesalahan dicatat jumlah salahnya. Saat satu lagu sukses dinyanyikan secara bergiliran, maka anak-anak bertepuk tangan penuh suka cita karena gembira. Kemudian dilanjutkan lagu berikutnya.

Permainan yang sederhana, tetapi ternyata sangat menyita perhatian dan energi. Sebabnya, dalam setiap lagu bisa diulang 3-5 kali karena banyak anak-anak yang melakukan kesalahan. Tapi, jika benar semua rasanya sangat bahagia karena telah menaklukan rintangan.

Saya menyaksikan sendiri anak-anak sangat suka. Mereka bermain penuh gembira, sampai waktu dua jam habis tanpa terasa. Setelah selesai bermain, kami menghitung jumlah kesalahan kami. Dan dipilihlan anak yang menjadi juaranya karena tidak pernah melakukan kesalahan.

Setelah selesai, hujan turun lebat. Saya berpamitan pada anak-anak, Mereka melepas saya dengan ekspresi suka cita yang masih tersisa. Saya sangat senang telah bermain dengan anak-anak selama dua jam dengan penuh suka cita. Perlahan-lahan saya mendengar hati saya berkata, “Seni paling indah di dunia adalah membahagiakan orang lain!”

Saya pun bersegera menyiapkan kegiatan selanjutnya. Mengisi malam-malam hari bersama anak-anak dan keluarga. Hari yang tentu saja tidak boleh saya lewatkan indahnya sebab dengan keluarga makna kebahagiaan saya dengan orang lain menjadi lebih sempurna.

 

Heru Kurniawan

Founder Rumah Kreatif Wadas Kelir dan Pengajar di Institut Agama Islam Negeri Purwokerto

PARENTING KECERDASAN JAMAK ANAK DI KELOMPOK BERMAIN WADAS KELIR

dibaca normal:2 menit

Orang tua harus memahami bahwa setiap anak itu cerdas. Cerdas sesuai dengan kecerdasannya masing-masing karena kecerdasan itu jamak. Tidak tunggal seperti yang dipahami banyak orang tua, yaitu anak yang cerdas adalah anak yang nilai rapornya tinggi. Bahkan mendapatkan peringkat satu sampai tiga di kelas. Jika tidak memiliki nilai yang bagus, anak dipersepsi tidak cerdas.

Untuk itulah, kecerdasan jamak harus dikenalkan pada orang tua karena dengan mengetahui kecerdasan jamak, orang tua nantinya akan bisa mengidentifikasi kecerdasan anak-anaknya. Orang tua pun akan bisa memahami bahwa anak-anaknya cerdas. Cerdas sesuai dengan karakteristik yang telah dipahami dan diidentifikasi oleh orang tuanya sendiri.

Dalam konetks inilah, Kelompok Bermain (KB) Wadas Kelir, pada pertemuan wali murid, mengadakan kegiatan Parenting Kecerdasan Jamak Anak, yang diselenggarakan Kami, 18 Januari 2018 di halaman KB Wadas Kelir. Acara ini dihadiri empat puluh wali murid yang antusias mendengarkan dan berdiskusi dengan pemateri, Endah Kusumaningrum, S.Pd., Relawan Pustaka Wadas Kelir, mahasiswa Pascasarjana di Universitas Muhammadiyah Purwokerto.

Endah Kusumaningrum, S,Pd., dalam materinya menyampaikan tentang potensi kecerdasan anak yang jamak. Kecerdasan yang dimiliki setiap anak, sehingga anak-anak tidak ada yang bodoh. Setiap anak itu cerdas. Tugas orang tua dan guru itulah yang dituntut untuk bisa mengidentifikasi kecerdasan anak-anaknya. Dari sinilah, Endah Kusumaningrum, S.Pd., kemudian menjelaskan berbagai metode dalam memahami, mengidentifikasi, dan mengembangkan kecerdasan jamak anak-anak.

Menurut salah satu wali murid, Bunda Salwa, ini adalah pengetahuan baru. Saya baru tahu tentang kecerdasan jamak ini. Saya pun jadi yakin tentang kecerdasan anak saya. Anak saya punya keistimewaan kecerdasanya sendiri. Saya suka materi pareting ini. Sangat penting bagi saya dalam membuka wawasan saya untuk bisa terus meningkatkan kecerdasan anak saya.

Semua wali murid sangat antusias mengikuti materi parenting kali ini. Menurut, Dian Wahyu Sri Lestari, selaku Kepala KB Wadas Kelir, hal ini disebabkan ini termasuk materi baru yang penting diketahui orang tua. Orang tua selama ini menganggap anak yang cerdas adalah anak yang dapat nilai bagus dan peringkat bagus di sekolah. Padahal, kecerdasan tidak hanya itu. Kecerdasan itu jamak.

Dengan paham soal ini, maka Kepala KB Wadas Kelir, para orang tua lebih baik dan bijak lagi dalam menyikapi kecerdasan anak-anaknya. Orang tua tidak hanya paham dan bisa mengidentifikasi kecerdasan anak-anaknya. Akan tetapi, juga bisa mengembangkan kecerdasan anak-anaknya setelah tahu tentang metodenya dari kegiatan Parenting Kecerdasan Jamak kali ini.

Redaksi Rumah Kreatif Wadas Kelir.

 

BERMAIN HURUF DALAM ANGKA KATA: MELATIH DAYA INGAT, KECEPATAN, DAN MENULIS ANAK-ANAK

dibaca normal:3 menit

Pukul 16.00 WIB, selepas pulang dari kantor, saya memacu sepeda motor lebih cepat dari biasanya. Hari ini, Jumat, 19 Januari 2018, saya mengajar anak-anak Rumah Kreatif Wadas Kelir. Jadwal yang selalu menyenangkan sekalipun sejak pagi sampai sore tubuh saya belum rehat. Sesampai di Pusat Belajar Masyarakat (PBM) Wadas Kelir, saya langsung bergabung dengan anak-anak yang siap belajar hari ini.

Dengan gaya saya yang aneh, saya langsung mengajak anak-anak berteriak menyebutkan satu kata sesuai dengan intonasi yang saya lafalkan. Saya ingin semua anak bersemangat dan berteriak karena semangat merupakan modal awal belajar yang menggembirakan.

Di sisi lain, semangat yang diekspresikan dengan berteriak itu, melatih keberanian anak-anak dan kemampuan oleh vokal yang baik. Ini akan penting bagi anak ke depannya, yaitu membekali anak untuk berani berkata lantang dengan vokal bagus di depan umum.

Setelah selesai, seperti biasanya, anak-anak pasti selalu penasaran dengan permainan literasi yang akan saya gunakan hari ini. Dan saya langsung beraksi dengan permainan yang sudah saya temukan di sepanjang jalan saya pulang. Ya, saya terbiasa dengan untuk berpikir cepat dan kreatif dalam menghadapi dunia ini.

Saya berteriak menyebut kata, “I B U!” Kemudian saya menyebutkan angka “2” dan saya menyebut huruf “B” [karena B berada di urutan kedua]. Anak-anak langsung paham maksudnya. Saya sangat senang jika anak-anak langsung mengerti dengan pola permainan yang akan saya mainkan, sekalipun saya tidak menjelaskannya. Sebab, ini menunjukkan kecerdasan anak-anak.

Saya kemudian menyebutkan kata: “M E J A”! Kemudian secara bergilir anak-anak saya tunjuk. Misalnya, “Malva, 2!” Malva pun langsung menjawab, “E”. Atau saya menunjuk, “Hanif, 4!” maka Hanif langsung berteriak menjawab, “A”. Anak-anak semua bisa. Mereka senang bermain. Bermacam-macam kata pun dimainkan, mulai dari kata yang terdiri atas tiga huruf sampai enam huruf. Semua anak bisa. Saya sangat bergembira.

Saya kemudian saya meningkatkan kesukaran bermain dengan menyebutan dua sampai tiga angka yang harus dijawab anak dengan cepat. Misalnya, saya menyebut kata, “T A K S I!” kemudian saya menunjuk dan bertanya, “Mafi, 3, 5, 1!” Mafi pun berpikir sejenak kemudian berteriak, “K, I, T!”.

Di sini anak-anak mulai mengalami kesulitan. Beberapa anak salah menjawab. Tapi, beberapa anak cepat dan tepat menjawab. Ini semakin membuat anak-anak senang dalam bermain dan berkompetisi. Saya merasakan sensasi bermain yang menyenangkan ini. Tanpa disadari anak-anak, saya sedang melatih memampuan dan kecepatan berpikir anak.

Saya menjumpai anak, Nera yang berusia enam tahun, masih duduk di bangku PAUD. Sekalipun, teman-temannya anak Sekolah Dasar, tapi Nera begitu cepat menjawab setiap pertanyaan, dan benar semua. Padahal anak-anak Sekolah Dasar lainnya mengalami kesulitan, dan sering salah menjawab.

Di sini saya melihat kenyataan kemampuan kecerdasan dan kecepatan anak-anak melalui permainan yang menggembirakan ini. Saya ikut senang merayakan kegembiraan melalui kegiatan bermain ini.

Selesai bermain ini, saya melanjutkan dengan evaluasi tak terduga. Anak-anak saya minta menuliskan kata-kata yang sudah digunakan untuk bermain. Anak-anak mendadak kebingungan, dari sepuluh kata yang telah digunakan untuk bermain, anak-anak hanya bisa menyebutkan enam sampai sembilan kata. Saya tersenyum senang melihat kerja anak-anak dalam mengingat ini.

Setelah menyebutkan kata-kata yang telah digunakan dalam bermain ini, saya kemudian menugaskan anak-anak untuk membuat kalimat dari setiap kata yang dituliskan. Kata yang telah digunakan untuk media bermain bersama. Di sinilah, anak-anak pun berlatih menulis kalimat sederhana.

Misalnya, ini karya Hanif siswa kelas tiga Sekolah Dasar: [1] AYAM: Ayahku memelihara ayam di kandang; [2] BUKU: Setiap hari aku membaca buku di TBM Wadas Kelir; [3] KURSI: Ayah suka duduk di kurs kayu depan rumah; [4] IBU: Aku sayang sekali dengan ibuku; [5] MEJA: Meja kayu belajarku berwarna cokelat; dan [6] TAKSI: Saya ingin sekali berangkat ke sekolah dengan naik taksi.

Saya bahagia, semua anak tidak mengalami kesusahan dalam menulis. Semua anak menikmati berpikir yang menyenangkan. Semua anak bergembira merayakan kegiatan bermain literasi yang menyenangkan. Dan saya meyakini, semua anak nanti akan tumbuh menjadi individu yang cerdas, kreatif, dan berkarakter karena permainan hari ini akan terus dilanjutkan untuk hari-hari berikutnya. Semoga menginspirasi.

 

 

HERU KURNIAWAN

Founder Rumah Kreatif Wadas Kelir

Dosen Institut Agama Islam Negeri Purwokerto

TAMAN BACAAN MASYARAKAT (TBM) WADAS KELIR DAPAT APRESIASI MOTOR PUSTAKA DARI PERPUSTAKAAN NASIONAL RI

dibaca normal:2 menit

Sabtu, 13 Januari 2018, Pukul. 14,00 WIB sebuah pesan masuk ke handphone Heru Kurniawan, Founder Rumah Kreatif Wadas Kelir. Pesan itu dari Mba Melvie, Pengurus Forum TBM Pusat yang mengabarkan bahwa TBM Wadas Kelir terpilih untuk mendapatkan apresiasi Motor Pustaka dari Perpustakaan Nasional RI.

Menurut Heru Kurniawan, tentu saja, ini adalah apresiasi pemerintah atas dedikasi TBM Wadas Kelir yang sudah lima tahun bergerak dalam dunia literasi di masyarakat. Dedikasi dalam memberikan pelayanan dan pengembangan budaya literasi masyarakat hingga masyarakat Wadas Kelir sekarang memiliki budaya baca yang bagus. Dan budyaa membaca ini akan terus ditingkatkan.

Untuk itu, apresiasi Motor Pustaka ini akan digunakan untuk kepentingan literasi masyarakat. Motor pustaka ini milik masyarakat, yang untuk kepentingan pengembangan budaya baca semua punya hak yang sama untuk menggunakannya, papar Heru Kurniawan lebih lanjut.

Perwakilan yang kemudian datang dalam acara penyerahan Motor Pustaka di Perpustakaan Nasional di Jakarta, Rabu 17 Januari 2018, adalah Heru Kurniawan dan Risdianto Hermawan, Ketua TBM Wadas Kelir. Keduanya berangkat ke Jakarta dengan moda Kereta Api, dan sampai di Jakarta pagi hari. Keduanya pun langsung mengikuti berbagai kegiatan yang diselenggarakan panitia.

Kegiatan awal yang diikuti adalah Silaturahim Donasi Buku di Kantor Pos bersama Pimpinan Dirjen PAUD dan Dikmas Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan RI, Pimpinan Kantor Pos, Pimpinan Marketing Gramedia, Asia Foundation, Komisi Pemberantasan Korupsi, dan sebagainya. Dalam acara yang hikmat ini TBM Wadas Kelir mendapatkan apresiasi donasi buku-buku dari KPK dan Kementerian Pendidikan dan Kebudyaan.

Selepas acara ini, kegiatan dilanjutkan dengan Penyerahan Motor Pustaka yang dipimpinan langsung oleh Pimpinan Perpustakaan Nasional RI. Dalam sambutannya, para pimpinan Perpustakaan Nasional RI menyampaikan terima kasih atas kerja literasi para pegiat dalam mencerdaskan masyarakat melalui budaya baca. Maka diharapkan Motor Pustaka ini akan semakin menambah semangat untuk bekerja dalam meningkatkan budaya baca masyarakat.

Dengan penghargaan ini, Risdianto Hermawan mengemukakan, kerja TBM Wadas Kelir akan ditingkatkan, baik peningkatan dalam pelayanan maupun bimbingan dan pendampingan pada masyarakat agar terus mau membaca buku-buku di TBM Wadas Kelir. Dan Motor Pustaka ini akan digunakan untuk meningkatkan pelayanan dan kinerja TBM Wadas Kelir agar selalu lebih baik lagi.

Redaksi Wadas Kelir.

KESIAPAN ORANG TUA DALAM MEMAHAMI ANAK SEBAGAI ILMU PENGETAHUAN HIDUP YANG BERGERAK

dibaca normal:5 menit

Saya menyaksikan sendiri, suasana saat saya bersama dengan anak-anak. Kami sedang makan telur puyuh bersama. Saat salah satu anak, Zaka yang berusia empat tahun, mengambil salah satu telur puyuh, saya bertanya, “Apakah sudah bisa mengupas telurnya?” Zaka diam sejenak seperti sedang mengingat sesuatu sambil menatap saya.

Bibir mungilnya kemudian berceloteh, “Bisa, kan sudah pernah diajari Bunda Dian di PAUD!” Zaka kemudian bekerja keras mengupas telur puyuh itu. Sangat kesusahan, tetapi akhirnya bisa, sekalipun telur puyuh menjadi menjadi remuk. Zaka kemudian tersenyum pada saya seraya berkata penuh bahagia, “Zaka, bisa, kan?”

Saya kemudian terhenyak. Ini sangat menakjubkan bagi saya. Anak merupakan sosok yang dalam setiap geraknya adalah ilmu pengetahuan. Zaka mengajarkan pada saya tentang banyak ilmu dari satu kejadian sederhana mengupas telur. Ilmu pengetahuan tentang daya ingat yang luar biasa, tentang kerja keras dan kesungguhan, tentang pengalaman yang menakjubkan, dan tentang cara menyikapi kemenangan yang membuat saya senang.

Inilah yang saya sebut anak-anak sebagai ilmu pengetahuan hidup yang bergerak. Ilmu pengetahuan yang tidak disampaikan dengan kata-kata. Ilmu pengetahuan yang tidak bisa dibaca hanya dengan mata. Tapi, dapat dipahami dengan mengamati penuh keterbukaan kesadaran dan pengetahuan. Sehingga melalui sikap anak-anak kita akan mendapatkan banyak ilmu pengetahuan yang sangat penting untuk kehidupan ini.

Lihat saja anak yang menangis, jika kita sikapi dengan kemarahan, maka anak seakan sosok yang selalu mengusik ketenangan kita. Membuat repot dan menyusahkan. Selalu tidak bisa ditebak maksud dan keinginannya. Jika sudah berpikir demikian, kita pun menjadi emosi tak terperi. Ingin lari dari tanggung jawab kita sebagai orang tua.

Jika sudah demikian, maka peran kita sebagai ilmuwan tidak akan bisa dilakukan dengan baik. Anak-anak tak hanya sekedar anak-anak yang kita lahirkan. Lebih dari itu, anak-anak adalah ilmu pengetahuan bergerak yang harus dipelajari dan dipahami. Peran kita pun tidak hanya sebagai orang tua, tetapi juga sebagai ilmuwan yang harus selalu bisa mengungkap ilmu pengetahuan dari anak-anak kita. Ilmu pengetahuan yang akan membuat kita banyak tahu tentang anak. Ilmu pengetahuan yang membuat kita semakin cerdas dan pintar.

Dari sinilah, peran kita sebagai orang tua akan meningkat menjadi ilmuwan. Ilmuwan yang memiliki banyak ilmu pengetahuan, sehingga dengan penguasaan ilmu pengetahuan, kita dapat mempelajari anak dengan baik. Dapat menyikapi setiap geraknya dengan baik. Serta dapat menafsir gerak anak sebagai ilmu pengetahuan tak bernilai.

Untuk mewujudkan ini, kita tidak hanya dituntut bisa menjadi orang tua yang baik bagi anak. Tetapi, juga cerdas menyikap setiap hal yang terjadi pada anak-anak, sehingga anak-anak benar-benar sebagai sosok ilmu pengetahuan yang dapat dimengerti dan dipahami oleh orang tuanya. Segala persoalan yang dihadapi pun bisa dibantu penyelesaiannnya oleh orang tuanya dengan baik.

Untuk itu, dalam menyiapkan diri sebagai orang tua yang mampu mengungkapkan rahasia ilmu pengetuhan bergerak yang ada dalam diri anak-anak, maka orang tua harus memiliki tiga kesiapan utama sebagai berikut.

Pertama, kesiapan kasih sayang. Pada mulanya adalah anak-anak yang kita lahirkan karena kasih sayang. Maka anak-anak pun tumbuh dalam kebutuhan kasih sayang yang optimal. Di sini, orang tua dituntut untuk bisa menjadi individu yang selalu memberikan kasih sayang. Dengan kasih sayang ini, maka setiap hal yang dilakukan anak adalah kebaikan. Kebaikan yang harus disikapi dengan baik pula sehingga anak-anak dengan orang tua tercipta hubungan yang harmonis dalam kebaikan dan kasih sayang.

Kesiapan kasih sayang ini membuat orang tua selalu menerima sikap apapun yang dilakukan oleh anak. Dalam kebaikan dan ketidakbaikan anak, orang tua selalu mengedepankan kasih sayang. Inilah yang nanti akan membuat orang tua memiliki kesadaran untuk menerima apa yang dilakukan anak. Sikap menerima ini akan menjadi orang tua memahami banyak kejadian yang dilakukan anak sebagi informasi dan ilmu pengetahuan yang berguna bagi orang tua untuk dipelajari.

Kedua, kesiapan referensi. Saat komunikasi kebaikan dan kasih sayang terbangun. Sesungguhnya anak-anak kita tak hanya sekadar individu yang baik. tapi juga individu yang cerdas menyampaikan banyak ilmu pengetahuan. Agar ilmu pengetahuan yang disampaikan oleh anak bisa dipahami orang tua, maka orang tua dituntut untuk memiliki banyak pengetahuan juga. Di sinilah, orang tua harus memiliki referensi bacaan tentang dunia anak-anak yang baik.

Referensi ini didapat dari kesadaran orang tua untuk membaca buku, terutama buku-buku tentang perkembangan anak, parenting, pendidikan dalam keluarga dan sebagainya. Buku-buku yang akan mengkayakan pengetahuan orang tua terhadap anak. Buku-buku yang akan menyempurnakan kesiapan kasih sayang orang tua dengan pengetahuan yang memahamkan orang tua. Pemahaman ini yang akan membuat orang tua dapat menafsir-interpretasikan segala ilmu pengetahuan yang ada dalam setiap sikap dan gerak anak-anak.

Penguasaan referensi inilah yang membuat orang tua menjadi cerdas dan pintar. Orang tua pun akan bisa menangkap dan mehamai gerak ilmu pengetahuan yang dilakukan oleh anak. Anak-anak bisa dipahami dalam konteks ilmu pengetahuan yang menarik dan penting untuk kehidupannya. Inilah yang menjadi modal dasar orang tua untuk kemudian dapat menyelesaikan segala persoalan yang dihadapi anak-anaknya.

Ketiga, kesiapan menyelesaiakan persoalan. Dengan kesiapan referensi ini, oran tua akan dapat banyak ilmu pengetahuan terhadap gerak dan sikap anak-anaknya, dan ilmu pengetahuan itu akan digunakan untuk menyelesaikan berbagai persoalan yang dihadapi anak-anaknya. Karena dalam kehidupannya, anak-anak akan selalu mengahadapi banyak persoalan, saat mengahadapi persoalan itu anak-anak membutuhkan orang tua yang banyak ilmu pengetahuan tentang dirinya.

Di sinilah, kesiapan orang tua dari aspek kasih sayang dan referensi dibutuhkan oleh anak. Sabab hanya orang tua yang penuh kasih sayang, cerdas, dan berpengetahuan luas yang akan bisa memecahkan persoalan yang dihadapi anaknya sebab anaknya hakikatnya adalah ilmu pengetahuan yang hidup dan bergerak, yang selalu membutuhkan temuan-temuan baru untuk memperkaya temuan ilmu pengetuan sebelumnya.

Dari sinilah terjadi lingkaran kenyataan yang harus dipahami orang tua bahwa anak-anak adalah sumber ilmu pengetahuan yang hidup dan bergerak, yang bisa dipahami dan diselesaikan segala persoalannya dengan menggunakan kesiapan kasih sayang dan referensi ilmu pengetahuan.

Untuk itu, orang tua yang ideal untuk anak-anak, yang merupakan sumber ilmu pengetahuan yang bergerak, adalah orang tua yang memiliki kasih sayang, paham dengan ilmu dunia anak, serta terlibat langsung dalam penyelesaian berbagai persoalan yang dihadapi anak-anak. Dari sinilah, orang tua dan anak selalu terlibat dalam aktivitas ilmu pengetahuan yang akan menjadi contoh dan temuan penting.

Dengan terminologi ini, kita sebaai orang tua sedang membangun keluarga yang berumah ilmu pengetahuan karena di dalamnya diisi oleh orang tua dan anak-anak yang selalu belajar. Belajar melalui membaca referensi dunia anak-anak, belajar melalui ilmu pengethuan yang ada dalam setiap gerak anak, serta belajar dalam menyelesaikan berbagai persoalan yang dihadapi anak.

Dengan keluarga yang berumah ilmu pengetahuan, maka kita sedang menyiapkan kesuksesan keluarga sebab ilmu pengetahuan menjadi salah satu kunci sukses dalam kehidupan yang serba disruption.

 

HERU KURNIAWAN

Pengajar di Institut Agama islam Negeri Purwokerto

Founder Rumah Kreatif Wadas Kelir

IMPLEMENTASI LITERASI INTEGRITAS ANTIKORUPSI PADA ANAK-ANAK DI PAUD WADAS KELIR

dibaca normal:3 menit

Pada 11 Desember 2017, Rumah Kreatif Wadas Kelir mendapatkan kehormatan dipilih oleh Pusat Edukasi Antikorupsi, Komisi Pemberantasan Korupsi (KPK), dan Forum Taman Bacaan Masyarakat (FTBM) Pusat sebagai panglima pelaksana kegiatan pendidikan tali integritas antikorupsi KPK.

Di sini, Rumah Kreatif Wadas Kelir akan mendapatkan bantuan buku-buku dari Pusat Edukasi Antikorupsi KPK. Buku-buku ini kemudian akan di kelola oleh Rumah Kreatif Wadas Kelir sebagai bahan pustaka yang akan dipinjamkan ke masyarakat serta dikelola sebagai bahan pembelajaran antikorupsi pada masyarakat.

Dengan amanat ini, Heru Kurniawan, selaku Founder Rumah Kreatif Wadas Kelir, segera membuat kebijakan yang bertajuk Literasi Integritas Antikorupsi. Kegiatan awal langsung diimplementasikan pada Kelompok Bermain (KB) Wadas Kelir. Dua kegiatan yang sudah dan sedang dilaksanakan selama sebulan ini adalah pembiasaan Senam Sahabat Pemberani, Ayo Berani Jujur dari KPK dan Read Aloud dengan buku-buku KPK.

Dian Wahyu Sri Lestari, selaku Kepala Sekolah KB Wadas Kelir, menjelaskan bahwa sudah sejak akhir bulan Desember 2017, saat Rumah Kreatif Wadas Kelir mendapatkan bantuan buku-buku Antikorupsi dari KPK, KB Wadas Kelir langsung menggunakan buku-buku itu sebagai bahan kegiatan membacakan buku pada anak-anak. Hampir setiap harinya 1- 5 buku dari KPK ini dibacakan ke anak-anak, dan anak-anak sangat suka. Mereka sangat mengagumi tokoh-tokoh dalam buku.

Anak-anak di KB Wadas Kelir sudah hafal dengan cerita-cerita buku-buku KPK ini. Sampai akhirnya, sekarang kami kebingungan karena buku sudah dibacakan semua. Kami, para guru pun mengulang membacakan buku yang sama, sekalipun beberapa anak protes sebab katanya sudah tahu, dan ingin cerita yang baru lagi. Namun, ternyata anak-anak tetap saja suka dengan cerita-cerita dalam buku KPK ini.

Tidak hanya itu, selain membacakan buku-buku KPK, anak-anak PAUD juga berlatih Senam Sahabat Pemberani, Ayo Berani Jujur dari KPK. Sudah sebulan lebih senam ini dipakai untuk pembiasaan kegiatan bermain dan belajar setiap hari Sabtu. Dan anak-anak antusias dengan senam ini. Selalu saja ramai dan senang jika melakukan kegiatan senam ini. Anak-anak pun sekarang sudah hafal semua gerakan senam ini.

Semoga saja Pusat Edukasi Antikorupsi segera membuat senam yang baru lagi, yang durasinya lebih panjang lagi dari ini dan lebih menarik lagi, sehingga anak-anak bisa lebih antusias dan lama melakukan gerakan-gerakan senam yang menyehatkan ini.

Di sisi lain, Dian Wahyu Sri Lestari menjelaskan bahwa atas perintah Heru Kurniawan, Guru-guru KB Wadas Kelir sekarang sedang diberi tugas mengembangkan buku-buku aktivitas antikorupsi dan integritas untuk anak-anak usia dini, sehingga anak-anak tidak saja mendapatkan materi antikorupsi dari bacaan, tetapi juga dari buku aktivitas.

Kami pun ada rencana, jika kerja sama dengan KPK kedepan berjalan dengan baik, kami ingin mencoba menawarkan konsep buku aktivitas anak usia dini yang berkonten pendidikan antikorupsi ini pada KPK. Harapan kami semoga bisa diterima untuk kemudian dicetak dan didistribusikan ke sekolah pendidikan anak usia dini se Indonesia. Jika ini terlaksana kami sangat senang, KB Wadas Kelir bisa menjadi contoh program kegiatan literasi antikorupsi pada anak-anak usia dini.

 

Redaksi Rumah Kreatif Wadas Kelir

 

 

SISWA SD N DANASRI KARANGLEWAS BELAJAR DAN BERMAIN LITERASI KREATIF DI RUMAH KREATIF WADAS KELIR

dibaca normal:3 menit

Kamis, 11 Januari 2018, waktu menunjukkan pukul 13.15 WIB. Dua mobil Angkutan Umum masuk ke area Pusat Belajar Masyarakat (PBM) Wadas Kelir. Puluhan anak-anak dari SD N Danasri Karanglewas yang masih berseragam sekolah keluar dengan ekspresi campur aduk. Antara capek, penasaran, dan lapar menyatu. Maklum, hari itu, menurut Bu Guru Suryanti, anak-anak sudah melakukan karya wisata ke Bukit Triangulasi Windujaya dan Arpusarda Purwokerto. Kini kunjungan karya wisata terakhir ke Rumah Kreatif Wadas Kelir.

Turun dari Angkutan Umum anak-anak langsung ke Mushola Wadas Kelir. Mereka bersegera mengambil air wudhu dan menunaikan ibadah Sholat Dhuhur. Kami sangat senang dan bangga dengan mereka. Kepatuhan dan sikap spiritual yang luar biasa. Perlu dicontoh oleh anak-anak di sekolah lainnya.

Selesai beribadah, tampak sekali wajah bercahaya anak-anak masa depan bangsa ini. Mereka menyalami kami, Relawan Pustaka Wadas Kelir, satu per satu. Anak-anak menempati tempat duduk lesehan di kelas yang sudah kami sediakan. Sambil menyantap hidangan khas Rumah Kreatif Wadas Kelir, anak-anak mengikuti upacara pembukaan yang dikemas dengan interaktif dan kreatif yang menyenangkan.

Antusias anak-anak membuat kami yakin bahwa mereka penasaran dengan Rumah Kreatif Wadas Kelir. Mereka penasaran dengan apa yang akan kami sajikan. Dan ini menambah kekuatan energi bagi kami untuk bisa memberikan kegiatan belajar yang menakjubkan hari ini.

Dan saat kegiatan belajar literasi dimulai, anak-anak penuh dengan antusias bermain literasi yang menyenangkan. Dimulai dengan bermain literasi kreatif, produktif, dan inovatif, anak-anak bergerak di halaman PBM dengan dibagi menjadi tiga pos literasi. Semuanya antusias bermain. Rasa lelah yang tadi terekspresikan di wajah mereka hilang semua. Semua anak bergembira merayakan permainan literasi khas Rumah Kreatif Wadas Kelir.

Permainan dilanjutkan dengan bermain literasi read aloud dengan berbagai perlombaan penguasaan ilmu pengetahuan. Anak-anak menunjukkan superioritasnya dalam memahami bacaan dan pengetahuan yang telah dimiliki. Menyaksikan anak-anak bermain, terasa semua anak itu pintar semua. Semua berebut menjawab setiap pertanyaan dengan jawaban ilmu pengetahuan yang dikuasai. Semua bergembira merayakan ilmu pengetahuan yang menyenangkan.

Dan waktu tanpa terasa sudah menunjukkan pukul 15.15 WIB. Sebentar lagi waktu Sholat Ashar. Kegiatan pun dipungkasi, sekalipun ekspresi anak-anak menunjukkan keinginannya untuk lagi. Tapi, semuanya harus diakhiri dan ditutup. Dalam penutupan ini, Bu Guru Suryanti, menyampaikan rasa senang dan keterkejutannya. Sebab apa yang dilakukan Rumah Kreatif Wadas Kelir melebihi ekspektasinya.

“Saya kira, kedatangan di Rumah Kreatif Wadas Kelir, dengan kondisi anak-anak sudah lelah akan membuat anak-anak bosan. Tapi, teranyata sebaliknya. Mereka malah ingin bermain dan belajar di Wadas Kelir terus sebab kegiatanya luar biasa menyenangkan. Saya senang dan bangga. Terima kasih tak berhingga pada Rumah Kreatif Wadas Kelir,” Kata Bu Suryanti dalam sambutan penutupannya.

Kami sebagai Relawan Pustaka Rumah Kreatif Wadas Kelir bangga dan bahagia sebab sudah menjadi komitmen kami untuk selalu bisa memuliakan tamu yang ingin belajar. Memuliakan dengan cara bisa menyajikan pengalaman luar biasa dalam belajar yang tidak akan dilupakan anak-anak. Yang harapan kami, kelak melalui kegiatan belajar dan bermain literasi di Rumah Kreatif Wadas Kelir, akan ada anak yang berkesan dan menjadi titik sadar untuk terus menuntut ilmu hingga menjadi orang hebat, orang yang akan memimpin bangsa ini.

Terima kasih anak-anak dan para guru SD N Danasri Karanglewas yang telah menjadikan Rumah Kreatif Wadas Kelir sebagai tempat wisata belajar dan bermain literasi yang menyenangkan.

Redaksi Rumah Kreatif Wadas Kelir