MENELADANI KESEDERHANAAN KELUARGA KI HADJAR DEWANTARA

dibaca normal:4 menit

Di tengah kenyataan begitu mudahnya memenuhi kebutuhan sehari-hari melalui barang-barang mewah, misalnya, gadget bermerek dan berharga mahal, makan makanan instan yang mahal, perabotan bergengsi yang mahal, dan kendaraan yang mahal, maka hidup sederhana sekarang menjadi sesuatu yang langka.

Gengsi telah mengalahkan yang substansi. Orang menjadi ingin memiliki sesuatu yang mahal hanya karena ingin mendapatkan pujian daripada memenuhi kebutuhan. Hal ini membuat kecenderungan masyarakat yang konsumtif dan suka pamer sesuatu yang mahal dan bermerek.

Jika ini terus dibiarkan, maka generasi anak-anak kita kelak akan menjadi generasi yang suka pamer dan konsumtif. Hobi mempertontonkan kepemilikan yang bermerek dan mahal, bergaya hidup konsumtif, dan mengabaikan aspek kesederhanaan yang sesungguhnya menjadi ciri masyakat Indonesia yang sesungguhnya.

Di sinilah, pendidikan kesederhanaan begitu penting. Sikap berani hidup sederhana dimulai dalam lingkup keluarga, dan dalam hal ini, kita bisa meneladani pendidikan kesederhanaan dari keluarga Ki Hadjar Dewantara, yang merupakan Pahlawan Pendidikan Indonesia.

Sekalipun lahir dalam keluarga bangsawan, yaitu putra GPH Suryaningrat dan cucu Pakualam III, kenyataan ini tidak membuat Ki Hadjar Dewantara dan keluarganya hidup mewah. Ki Hadjar Dewantara terus mendidik anak-anaknya dalam kesederhanaan. Pendidikan kesederhanaan dalam keluarganya diberikan melalui contoh-contoh keteladanan yang dipaktikannya sendiri dalam kehidupan sehari-hari.

Kesederhanaan dalam Makanan

Pendidikan kesederhaan dalam makanan yang dimakan oleh keluarga Ki Hadjar Dewantara ditunjukkan dalam peristwa ini. Saat baru ditetapkan sebagai Menteri Pendidikan, Pengajaran, dan Kebudayan Republik Indonesia,  Ki Hadjar Dewantara pulang ke rumah larut malam. Di rumah Ki Hadjar Dewantara mengadakan pesta bersama keluarga atas pelantikan dirinya menjadi menteri. Pesta keluarga itu diisi dengan makan Mie Godhok khas Yogayakarta bersama yang dibeli oleh anaknya. Pesta berlangsung sederhana dan hikmat sebagai ungkapan syukur pada Tuhan.

Di sini Ki Hadjar Dewantara mengajarkan kesederhanaan bahwa perayaan pesta dilakukan dengan Mie Godhok, bukan dengan makan mewah di restoran. Ini mengajarkan pada anak-anak untuk makan dengan sederhana, sekalipun makan untuk pesta perayaan. Jika pesta perayaan yang besar dirayakan dengan Mie Godhok, apalagi dengan makan biasa, pasti lebih sederhana lagi.

Menurut Ki Hadjar Dewantara, yang terpenting bukan mewah dan mahalnya, tapi nikmat dan hikmatnya. Makanan yang sederhana, murah, dan sehat bisa menjadi hidangan yang membahagiakan. Jika ini kita tiru dalam pendidikan di keluarga kita, maka anak-anak akan memahami bahwa yang terpenting dari makanan bukan mewahnya, tapi nikmat dan hikmatnya. Dengan cara ini kesederhanaan dalam makanan akan membentuk kesederhanaan perilaku anak.

Kesederhanaan Perabotan Rumah

Apa yang dilihat anak-anak di rumah jelas akan menentukan persepsi anak. Jika di rumah bergelimpang barang-barang atau perabotan mewah, maka anak-anak pun akan berpikir untuk memiliki barang-barang yang mewah untuk dirinya. Hal ini disadari oleh Ki Hadjar Dewantara.

Untuk itu, sekalipun Ki Hadjar Dewantara keluarga bangsawan, tetapi perabotan atau barang-barang yang menghias rumahnya itu sederhana. Tidak ada barang yang mewah. Bahkan, perabotnya itu didapat dari barang-barang bekas milik orang Belanda yang dibelinya dengan harga murah.

Hal ini diceritakan bahwa Keluarga Ki Hadjar Dewantara tidak akan melewatkan momen jika ada keluarga Belanda yang akan pulang ke Belanda, yang selalu menjual perabotan rumahnya sebelumpulan ke Belanda. Ki Hadjar Dewantara dan keluarganya selalu membeli barang-barang bekas itu yang harganya murah, kemudian perabotan atau barang bekas itu digunakan dan menghias rumah keluarga Ki hadjar Dewantara yang sederhana.

Dari situ, anak-anak keluarga Ki Hadjar Dewantara sudah terbiasa dengan melihat keadaan rumah yang sederhana dengan perabotan yang sederhana. Ini membuat pendidikan kesederhanaan di keluarga Ki Hadjar Dewantara terbentuk. Kesederhanaan yang menjadi filosofi keluarga Ki Hadjar Dewantara yang kemudian diberikan pada anak-anaknya melalui keteladanan dalam keluarga.

Kesederhanaan Pakaian

Selain kesederhanaan dalam makanan dan perabot rumah, Ki Hadjar Dewantara dikenal sebagai sosok yang sederhana dalam berpakian. Dalam berbagai keadaan Ki Hadjar Dewantara selalu mengenakan pakaian yang sesuai dengan situasi dan kondisinya dengan pakaian yang sederhana.

Pernah suatu pagi, Ki Hadjar Dewantara berkebun di sekitar halaman rumahnya hanya dengan mengenakan sarung dan kaos oblong. Saat ada tamu datang, tamu tersebut tidak tahu bahwa yang menerima tamu itu Ki Hadjar Dewantara. Maka, saat Ki Hadjar Dewantara masuk rumah dan mengganti pakaian yang sederhana dan lebih sopan lagi, tamu tersebut kaget, ternyata yang tadi menemuinya adalah Ki Hadjar Dewantara yang hanya mengenakan sarung dan kaos oblong sederhana.

Dengan kesederhanaan dalam berpakian di rumah, Ki Hadjar Dewantara mengajarkan putra-putranya untuk tidak memakai pakaian yang mewah, bermerek, dan mahal. Yang terpenting adalah substansi pakaian yang sesuai dengan fungsi, kondisi, dan kesopanannya.

Di sini, keluarga Ki Hadjar Dewantara mengajarkan tiga pokok kesederhanaan yang harus ditanamkan pada anak-anak kita, yaitu kesederhanaan atas apa yang dimakan, kesederhanaan atas apa yang dipakai, dan kesederhanaan atas apa yang dimiliki. Jika yang dimakan adalah makanan yang sederhana tetapi sehat dan nikmat maka jadilah kita orang yang sehat. Jika yang dipakai adalah pakaian yang sederhana dan baik, maka jadilah kita orang yang terhormat. Jika yang kita miliki adalah perabot dan barang yang sederhana maka jadilah kita orang yang amanat.

Dari sinilah, mengajarkan kesederhanaan melalui prinsip keteladanan pendidikan kesederhanaan Ki Hajar Dewantara pada putra-putranya menjadi penting untuk kita tiru dan teladani. Tujuannya agar kita sebagai orang tua bisa mewujudkan generasi yang seperti Ki Hadjar Dewantara di masa datang. Generasi sederhana yang sangat mencintai bangsa dan negaranya.

 

HERU KURNIAWAN

Pengajar Institut Agama Islam Negeri Purwokerto & Founder Rumah Kreatif Wadas Kelir

ELEX FEST JADI MOMEN ISTIMEWA RUMAH KREATIF WADAS KELIR DALAM MENJALIN KEAKRABAN DENGAN REDAKSI ELEX MEDIA KOMPUTINDO

dibaca normal:3 menit

Salah satu hal yang membuat kami tak henti bersyukur adalah Rumah Kreatif Wadas Kelir semakin dikenal masyarakat luas karena manfaatnya.

–Heru Kurniawan, Founder RKWK

Ketika awal berdirinya Rumah Kreatif Wadas Kelir (RKWK), para relawan tidak pernah mengira dalam waktu lima tahun perjalanannya nama RKWK akan dikenal hingga ke tingkat nasional. Hal itu mulai dirasakan para relawan sejak RKWK dianugerahi beberapa penghargaan tingkat nasional, baik dari lembaga pemerintah maupun nonpemerintah.

Seperti Sabtu (17/02/2018) lalu, RKWK diberi kehormatan oleh penerbit Elex Media Komputindo (Gramedia Grup) untuk berpartisipasi dalam rangkaian acara #ELEXFEST. Acara yang dihelat di Bentara Budaya Jakarta itu adalah rangkaian perayaan ulang tahun Elex Media Komputindo yang ke-33. RKWK yang diwakili oleh Heru Kurniawan (founder) dipercaya menjadi salah satu pemateri dalam diskusi panel bertema “Buku sebagai Bisnis Kreatif”.

Dalam panggung diskusi panel tersebut, RKWK bersama Suwandi S. Brata (Publishing Director Kompas Gramedia), Oda Sekar Ayu (Penulis Novel), Ryan Filbert (Penulis Buku Investasi dan Founder Stocklab Board Game), dan Yahya Muhaimin (Penggerak Industri Kreatif) berbicara mengenai peran masing-masing tokoh dalam upayanya menggerakkan bisnis ekonomi kreatif di bidang perbukuan.

“RKWK memiliki sebuah formulasi yang kami beri nama literapreneur,” tutur Heru Kurniawan ketika membuka pembicaraannya di panggung diskusi panel tersebut. Para peserta diskusi terlihat antusias mendengarkan penjelasan Heru Kurniawan terkait strategi industri kreatif perbukuan yang dikelolanya bersama RKWK. Hal itu dibuktikan dengan antusiasme audien yang bertanya soal literapreneur dengan lebih mendalam.

Sejak tiga tahun terakhir, buku-buku karya relawan RKWK memang telah diterbitkan oleh Elex Media Komputindo. Baik buku-buku aktivitas anak, buku kumpulan dongeng, hingga buku-buku teori popular seperti buku parenting. Animo masyarakat pada buku-buku relawan RKWK terbitan Elex Media bisa dibilang sangat baik. Rata-rata buku-buku tersebut sold out di toko buku Gramedia. Para relawan penulis buku itu harus semakin sering berinteraksi dengan pihak Elex Media. Sejak saat itu lah keakraban antara relawan penulis buku dengan para editor Elex Media terjalin, hingga merasa seperti keluarga.

Tidak hanya dengan Penerbit Elex Media, dengan penerbit lain dari Gramedia Grup seperti Bhuana Ilmu Populer (BIP) keakraban serupa pun terjalin. Saat ulang tahun ke-25 Penerbit BIP yang menghadirkan konsep “Writers Gathering” RKWK pun dipercaya menjadi salah satu pembicara dalam diskusi panelnya. Keakraban dan rasa kekeluargaan inilah yang agaknya membuat para relawan penulis buku merasa betah dan terus produktif menghasilkan karya-karya untuk para pembaca.

“Sebagai salah satu partner terbaik kami dari kota kecil bernama Purwokerto, kami berharap RKWK akan terus melahirkan penulis-penulis kreatif muda, yang buku-bukunya diterbitkan oleh kami,” tutur Agnes, salah satu chief editor Elex Media Komputindo yang menemui kami di penghujung acara.

Baik dari pihal Elex Media (Gramedia) maupun RKWK sangat berharap agar kerja sama yang baik itu tidak akan pernah terhenti. Sebab, seperti yang dikatakan Pramoedya Ananta Toer bahwa “Dengan menulis kita abadi”. Salam produktif!

 

ENDAH KUSUMANINGRUM

Relawan Pustaka Wadas Kelir

ANAK-ANAK TANPA TELEVISI, APA JADINYA?

dibaca normal:7 menit

Sudah tiga tahun, di rumah saya tidak ada televisi. Televisi saya taruh di poskampling untuk kegiatan masyarakat. Awalnya anak-anak protes, tapi setelah saya jelaskan mereka paham. Tentu saja paham dalam keterpaksaan. Namun, seringkali mendidik anak harus demikian, orang tua harus berani tegas dan memaksa untuk hal-hal baik yang lebih prinsip. Demi kebaikan tumbuh dan kembang anak-anak kita.

Dan menurut saya, sebaik-baiknya rumah bukan yang tanpa televisi, ada televisi pun bisa menjadi rumah terbaik untuk pendidikan anak-anak. Tapi, saya sedang tidak menyukai televisi karena kenyataan dengan adanya televisi anak-anak saya setiap hari menghabiskan waktu dengan menonton televisi.

Saya mencatat aktivitas anak-anak saat ada televisi: bangun tidur langsung menonton televisi. Saat dingatkan untuk berangkat sekolah anak-anak malas, setelah dipaksa, baru mau berangkat dengan semangat yang tertinggal di televisi. Setelah pulang sekolah, dengan tubuh yang letih, anak-anak kembali menonton televisi sambil tiduran. Kadang tertidur pulas dan bangun saat sore. Saat malam belajar menjadi sangat terpaksa, anak ingin cepat selesai, karena ingin menonton televisi.

Karena hal ini, saya putuskan membuang televisi dari rumah ke tampat yang lebih tepat, di poskampling. Awalnya, anak-anak jika mau menonton televisi langsung ke poskampling, tetapi lama kelamaan, anak-anak jenuh dan tidak mengasyikan. Akhirnya sama sekali anak-anak tidak menonton televisi.

Pertanyaan yang ingin saya jawab dalam tulisan ini adalah: apa jadinya anak-anak tanpa televisi? Bagaimana perkembangan yang bisa saya rasakan sebagai orang tua saat rumah tanpa televisi?

Saya merasa tepat memutuskan untuk membuang televisi dari rumah, sekalipun saya tidak tahu sampai kapan saya bisa bertahan. Tapi, waktu tiga tahun tanpa televisi barang kali menjadi waktu yang cukup lama juga, dan berpengaruh atas perkembangan psikologi anak-anak saya.

Selesai bangun tidur, tanpa televisi, anak-anak saya duduk sebentar seperti sedang mengumpulkan kemampuan daya ingatnya yang telah hilang dalam tidur panjang. Selesai duduk, anak-anak biasanya mengamati lingkungan sekelilingnya. Saat menemukan sesuatu yang bisa dijadikan mainan, anak-anak menghampiri sesuatu itu. Misalnya, tumpukan mainan bongkar pasang yang berserak di rumah saya.

Dan saya memang sengaja membelikan dan menyiapkan aneka mainan edukatif di situ, mulai dari lego, bongkar pasang, mobil-mobilan, dan benda-benda lainnya. Anak-anak pun kemudian bermain dengan benda-benda itu, biasanya disertai dengan bermain drama. Memerankan suatu kehidupan tertentu. Dan jika libur, teman-temannya datang dan ikut bermain sampai anak-anak merasa lapar, kemudian berteriak minta makan pada Ibunya. Anak-anak pun makan, jika merasa sedang asyik bermain, anak-anak sarapan sambil terus bermain.

Saatnya sekolah, anak-anak berangkat sekolah. Jika liburan, anak-anak terus bermain mengembangkan imajinasinya sendiri. Dan anak-anak kuat bermain selama berjam-jam. Bahkan, jika teman-temannya datang, permainan akan dilakukan secara kolosal, dan sudah bisa dipastikan, rumah akan jadi kapal pecah yang menakjubkan. Saya dan istri saya hanya geleng-geleng kepala seraya berkata lirih, “Inilah hebatnya anak-anak tanpa televisi!”

Saat jenuh dengan permainan ini, anak-anak akan meminta izin untuk pinjam gadget. Saya izinkan tapi dengan durasi waktu dan tidak boleh main game, hanya boleh menonton kartun-kartun pendek. Anak-anak menonton sambil merebahkan tubuh dan pikirannya yang telah terkuras untuk berimajinasi dan bermain. Anak-anak duduk santai dan menonton, sampai kemudian jenuh dan pergi keluar rumah.

Di luar rumah anak-anak ingat dengan poin yang kami gunakan untuk mengapresiasi anak jika membaca buku. Membaca satu buku akan mendapatkan satu poin. Jika poin sudah terkumpul dua puluh, maka anak-anak akan dapat hadiah dengan dibelikan mainan baru atau jalan-jalan tamasya. Anak-anak pun segera pergi ke Taman Bacaan Masyarakat (TBM) Wadas Kelir yang saya dirikan lima tahun lalu di depan rumah.

Di TBM Wadas Kelir itu anak-anak minta dibacakan buku, setidaknya sehari akan ada minimal satu sampai lima buku yang dibacakan dan dibaca anak-anak. Di TBM Wadas Kelir itu anak-anak juga bermain lari-lar dengan teman-temannya serta mewarnai. Di TBM Wadas Kelir anak menghabiskan waktu untuk membaca, mewarnai, dan belajar dengan teman-temannya.

Kemudian kembali pulang dengan tubuh dan pikiran yang lelah menjelang sore. Anak-anak kembali minta gadget untuk menonton film kartun sambil tiduran. Anak-anak pun terlelap tidur, dan bangun segera mandi dan menunaikan sholat maghrib. Selesai sholat maghrib anak-anak minta belajar, mulai dari coret-coret, mengerjakan tugas sekolah, mengerjakan buku aktivitas, dan dibacakan buku sampai mendongeng. Kemudian dilanjutkan lagi bermain sampai kemudian terlelap tidur untuk menjalani aktivitas sehari hari.

Dari sinilah saya kemudian bisa membandingkan: saat anak-anak ada televisi dengan setelah tidak ada televisi. Dan saya melihat dan merasakan sendiri, tanpa televisi perkembangan potensi baik anak meningkat cepat dibandingkan saat ada televisi. Tanpa televisi anak-anak lebih liar, kuat, imajinatif, cerdas, dan memiliki budaya literasi yang tinggi, serta tertib makan.

Cerda, Kreatif, dan Imajinatif

Tanpa televisi, sejak bangun tidur anak-anak langsung bermain. Permainan yang dimainkan adalah permainan imajinatif, menggunakan alat-alat permainan untuk mengembangkan ide gagasan anak-anak, mulai dari cerita mobil-mobilan, rumah-rumahan, perang-perangan, dan sebagainya. Anak-anak menghadirkan imajinasinya sendiri untuk membuat mainan itu hidup dan menyenangkan. Anak-anak bertambah kreatif dan imajinatif karena sistem bermain diciptakan sendiri dengan memberdayakan pengetahuannya.

Pada awalnya adalah benda-benda mainan yang diam. Anak-anak kemudian memainkannya secara sederhana. Tapi, berkat diskusi yang intensif dengan teman-temannya, maka kemudian lahirlah permainan-permainan baru. Permainan baru yang kemudian diciptakan dengan sistem aturan baru. Aturan yang dibuat oleh anak-anak melalui kesepakatan baru. Sampai tahap kita melihat anak-anak mampu mengembangkan daya kreatif dan imajinatisinya dengan bagus.

Kemudian anak-anak akan bermain dengan aktivitas-aktivitas yang telah disepakati. Dalam bermain ini, anak-anak secara personal mengembangkan kemampuan untuk mengatasi berbagai persoalan yang dihadapi dalam bermain. Tujuannya untuk bisa mendapatkan predikat pemenang. Di sinilah anak-anak mengembangkan sistem kemampuan daya pikirnya. Anak-anak menggunakan daya pikirnya untuk mengatasi persoalan. Anak-anak pun akan memiliki kecerdasan, imajinasi, dan kreativitas yang mengagumkan.

Jika kegiatan ini dilakukan setiap hari. Kegiatan ini mendapatkan porsi waktu yang lama karena anak-anak tidak terganggu waktunya dengan menonton televisi, maka anak-anak akan semakin cerdas, kreatif, dan imajinatif. Paling tidak pengembangan kecerdasan, kreativitas, dan imajinasi anak lebih lama dan lebih bagus dengan tidak ada televisi di rumah. Dan jika ini dilakukan dalam rentang waktu yang lama karena di rumah tidak ada televisi, maka saya menyaksikan sendiri anak-anak saya tumbuh dalam keadaan sebagai anak yang cerdas, kreatif, dan imajinatif.

Pertumbuhan Badan dan Gerak

Tanpa televisi di rumah, saya pun menyaksikan sendiri pertumbuhan tubuh yang bagus. Bermain dengan seluruh gerak tubuh menjadikan anak cepat lapar, makan yang dulu menjadi persoalan sekarang tidak. Setelah bermain, anak-anak cepat menjadi lapar, maka anak langsung minta makan, dan anak-anak makan dengan lahap tepat pada waktunya.

Jika ada buah-buahan kesukaannya langsung disantap. Bahkan, sering pesan buah-buahan dan makanan kesukaannya. Bermain telah mengkondisikan tubuh yang lapar dan suka makan. Saya pun menyaksikan pertumbuhan tubuh anak-anak saya yang baik, dengan ditunjang fisik yang baik. lincah dalam bergerak dan berlari karena dalam bermain selalu melakukan gerakan yang aktif.

Ini berimplikasi pada sakit yang mulai jarang dialami pada anak. Tanpa televisi anak-anak saya menjadi sehat fisiknya. Aktif bergerak motoriknya. Kuat badannya. Dan memiliki ketangkasan yang baik dibanding dulu saat televisi menjadi hiasan rumah yang menyedot banyak perhatian dan waktu anak-anak untuk menonton berjam-jam sambil tiduran.

Kepekaan Sosial

Anak-anak juga tumbuh dengan kepekaan sosial yang bagus. Setiap hari anak-anak bermain dengan teman-temannya. Bermain dalam memainkan sistem permainan yang mereka buat sendiri dengan aneka media dan benda-benda yang dipilih. Dari sini proses interakasi dalam sistem virtual yang dibentuk anak-anak terjadi. Interasksi pun terjadi antaranak dengan baik.

Jika anak sendirian tanpa teman, anak sering murung. Anak pun kemudian keluar rumah mencari temannya. JIka mendapatkan teman rasa bahagia bersemi dalam sikapnya. Dan segeralah terlibat interaksi yang menarik melalui kegiatan bermain. Dalam situasi bermain inilah, anak-anak akan tumbuh karakter sosialnya yang mengagumkan.

Saya hampir setiap hari melihat anak-anak berbagi jajan atau makanan. Bekerja sama dalam menyelesaikan sesuatu persoalan. Dan tentu saja, yang tidak bisa dihindari adalah pertengkaran. Pertengkaran yang membuat anak-anak terlatih menyelesaikan persoalan internalnya. Untuk berani minta maaf dan memaafkan karena anak saling membutuhkan aktivitas bermain. Sebab tanpa televisi anak-anak tidak punya pelarian untuk menyendiri.

Di rumah sendirian tanpa televisi itu menyiksa. Bermain di rumah sendirian itu tidak menyenangkan. Dorongan ini membuat anak-anak merasakan kebutuhan penting tentang teman. Teman yang akan mengisi hari-hari menjalani kehidupan di rumah tanpa televisi. Kehidupan yang pada akhirnya diisi dengan kegiatan bermain menyenangkan dengan teman. Melalui kegiatan bermain bersama teman ini, sikap dan karakter sosial anak dibentuk dengan baik.

Kemampuan Literasi

Tanpa televise, saya menyaksikan sendiri, anak-anak saya memiliki kemampuan literasi yang bagus. Pada mulanya saat capek mengantuk anak-anak minta dibacakan buku. Kemudian anak-anak jatuh cinta dengan buku, dan saat saya mengapresiasi dengan memberikan poin untuk meraih hadiah jika membaca buku, membuat anak-anak semakin senang membaca atau dibacakan buku.

Sehari akan ada satu sampai lima buku cerita pendek yang dibaca atau dibacakan. Tanpa televisi kebutuhan literasi anak dapat dipenuhi dengan sempurna. Buku menjadi teman dalam keadaan gundah gulana. Perasaan yang dulu biasa dipenuhi dengan menonton televisi, sekarang dipenuhi dengan membaca atau dibacakan buku.

Ini membuat anak-anak tumbuh dalam literasi yang bagus. Saya tidak pernah mengajari secara langsung apalagi memaksa untuk membaca, menulis, dan berhitung. Tapi, anak-anak saya, sejak pendidikan anak usia dini, sudah bisa membaca, menulis, da berhitung dengan baik. ini semua dibentuk karena  kemampuan literasi yang bagus saat di rumah tanpa televisi.

 Tentu saja, saya menyadari, dengan adanya televisi, anak-anak kita sesungguhnya bisa tumbuh dan berkembang maksimal juga. Tapi, karena pengalaman subjektif saya yang kurang baik dengan keberadaan televisi, terutama dari tayangan televisi yang tidak baik bagi anak-anak, memutuskan rumah tanpa televisi menjadi pilihan terakhir. Pilihan yang membawa saya menemukan banyak hal menakjubkan pada diri anak-anak setelah mengisi hari-harinya bermain dan belajar.

Dan sebenarnya, banyak hal yang pasti lebih menakjubkan lagi, tetapi untuk mengungkapkan semuanya membutuhkan riset yang detil dan pengalaman yang kompleks untuk mengungkapkannya. Namun, setidaknya, dengan apa yang sudah saya ceritakan, semoga memberikan kesadaran penting bagi orang tua, yang mengalami persoalan sama dengan saya, untuk berani membuat televisi dari rumah karena rasa cinta yang lebih pada anak. Bukan rasa cinta untuk memenuhi rasa senang anak, tetapi rasa cinta untuk tumbuh kembang yang baik untuk anak-anak kita, yang barangkali, bisa dipenuhi dengan melepas ketergantungan anak-anak kita pada televisi.

 

HERU KURNIAWAN

Pengajar di Institut Agama Islam Negeri Purwokerto dan Founder Rumah Kreatif Wadas Kelir

PRINSIP PENDIDIKAN “HOME SCHOOLING” DALAM KELUARGA HAJI AGUS SALIM

dibaca normal:4 menit

Sekitar tahun 1925, saat itu Mohamad Roem berkunjung ke rumah Haji Agus Salim, yang merupakan praktisi hebat bidang pendidikan, tokoh kenegarawanan, sekaligus sosok jenius yang menguasai sembilan bahasa. Saat itu, Mohamad Roem dikejutkan dengan sesuatu kejadian yang menakjubkan: Syauket, anak Haji Agus Salim yang baru berusia empat tahun sudah mahir berbicara dengan menggunakan bahasa Belanda tanpa terbata-bata. Padahal, Mohamad Roem sendiri, yang saat itu sudah duduk di bangku SMA, belum bisa semahir berbahas Belanda seperti anak itu.

Selain itu, Mohamad Roem juga dikejutkan oleh anak Haji Agus Salim, Syauket yang di usia belia ternyata sudah gemar membaca. Mengisi hari dengan membaca buku-buku. Minat membacanya melebihi minat baca anak usia SMA. Mohamad Roem sangat tepukau dengan kenyataan ini. Mohamad Roem pun ingin tahu soal pendidikan yang dilakukan Haji  Agus Salim pada anaknya.

Kefasihan bahasa asing yang dikuasai anak Haji Agus Salim ini juga menjadi tanda tanya bagi seorang wartawan dan aktivis sosial Belanda bernama Jef Last. Ia pernah bertanya, mengapa putra Agus Salim begitu fasih berbahasa Inggris, padahal ia tidak belajar di sekolah?

Jawaban Haji Agus Salim sederhana. “Apakah Anda pernah mendengar tentang seekor kuda yang belajar meringkik? Kuda-kuda tua meringkik sebelum anak-anak kuda ikut meringkik. Begitu pun saya, meringkik dalam bahasa Inggris dan putra saya juga meringkik dalam bahasa Inggris.”

Setelah diselidiki, rupanya Haji Agus Salim ini menerapkan sistem pendidikan “home schooling” di rumahnya. Ide Haji Agus Salim ini berangkat dari keuletannya membaca teori-teori perkembangan anak, seperti Maria Montessori, yang saat itu ramai diperbincangkan, khususnya oleh Bapak Pendidikan Nasional atau yang kita kenal dengan Ki Hajar Dewantara. Sehingga Haji Agus Salim tidak ingin melewatkan masa jenius kemampuan bahasa anak-anaknya, Haji Agus Salim pun melakukan kegiatan home schooling di rumahnya.

Sebab Haji Agus Salim sangat meyakini salah satu pemikiran monumental Montessori tentang betapa pentingnya mengoptimalkan masa jenius bahasa anak yang dilihat dari segi kebermanfaatannya terhadap tumbuh kembang anak. Salah satunya, mengenalkan dan mengajarkan bahasa asing pada anaknya saat masih usia dini. Dan saat menjalankan home schooling, Haji Agus Salim bersama isterinya tidak pernah lupa dengan prinsip yang selalu dipegang erat olehnya.

Pertama, Haji Agus Salim bersama isterinya tidak menentukan jam belajar dan bermain bagi anak-anaknya, namun setiap kali ada kesempatan selalu dimanfaatkan untuk mendidik anak-anaknya dengan baik.

Contohnya, saat anak-anaknya sedang asyik bermain perahu kertas di rumah kontarakannya yang bocor. Di saat seperti itulah anak-anaknya bermain sambil belajar. Belajar bahasa, membaca, menulis, berhitung, hingga belajar agama. Dalam mendidik anaknya, Haji Agus Salim juga lebih mendorong anak-anaknya untuk memiliki rasa keingintahuan yang tinggi, memberikan alat untuk memuaskan keinginantahuan, dan mengenalkan anak ke dunia yang diminatinya.

Dari hal ini, kita menjadi tahu dan sadar bahwa peran orang tua bukan hanya sekadar mengajar, tetapi juga sebagai pendamping dan pendidik dalam mengenalkan anak pada dunia luar, membentuk karakter anak, sekaligus mengantarkan anak menjadi pribadi dewasa. Di sinilah kita dituntut untuk terus bisa mendampingi anak-anak saat sedang bermain maupun belajar dengan sebaik-baiknya.

Kedua, membiasakan sejak kecil anak-anaknya berbahasa Belanda. Sekalipun Haji Agus Salim seorang muslim, anak-anaknya tetap diajarkan bahasa Belanda sebab bahasa Belanda menjadi bahasa kolonial saat itu. Cara yang digunakan pun cukup unik. Sejak bayi, anak-anaknya sudah diajak bicara bahasa Belanda dan diajari menyanyi Belanda.

Kebiasaan-kebiasaan yang dilakukan inilah yang pada akhirnya Haji Agus Salim bersama isterinya berhasil mengantarkan anak-anaknya fasih berbahasa asing. Bahasa itu seakan diserap, diciptakan, dan dikuasai secara total oleh anak-anaknya. Istilahnya Montessori, penguasaan bahasa secara total dan ajaib ini dikenal dengan “fenomena eksplosif”.

Haji Agus salim pun sadar perihal kejeniusan berbahasa anak-anaknya sehingga tidak menyia-nyiakan masa jenius bahasa itu, dengan mengajak anak-anaknya menggunakan berbagai bahasa asing dalam kesehariannya. Dari sinilah anak-anak Haji Agus Salim mahir dalam berbahasa asing, Inggris dan Belanda.

 

Ketiga, mengajarkan nasionalisme dan semangat kemerdekaan pada anaknya. Dari ruang keluarga anak-anaknya diajarakan untuk menyayi lagu-lagu nasional, seperti Indonesia raya dan lagu nasional lainnya. Kemampuan Haji Agus Salim di bidang kemiliteran pun ia tularkan pada anak-anaknya. Tujuannya agar anak menjadi seseorang yang kuat dan menumbuhkan rasa memiliki terhadap bangsanya.

Keempat, menjadikan ruang keluarga sebagai perpustakaan keluarga. Hal yang pertama kali diminta Haji Agus Salim terhadap calon isterinya saat itu adalah meminta calon isterinya untuk sering membaca buku.

Alasannya, kelak saat ia memiliki anak tidak akan menyekolahkan ke sekolah formal, ia akan dididik dengan caranya sendiri. Ternyata benar, setelah menikah dan memiliki tujuh anak, mereka dididik dengan tangannya sendiri. Buku digunakan oleh Haji Agus Salim sebagai media belajar dan bermain yang menyenangkan bagi anak-anknya.

Ruang keluarga pun penuh dengan buku-buku babon. Sehingga tidak heran jika anak pertamanya, diusia belia sudah membaca buku detektif bahasa Belanda, anak kedua berusia 6 tahun sudah membaca buku Mahabarata– pun versi bahasa Belanda pula, dan kelima anak yang lainnya pun sama memiliki sejak kecil sudah memiliki budaya membaca yang tinggi. Berkat sejak kecil sudah gila baca inilah, anak-anak Haji Agus Salim tumbuh menjadi orang-orang hebat dan sukses.

Dari apa yang dilakukan Agus Salim bersama isterinya inilah, kita menjadi belajar bahwa untuk mengantarkan anak menjadi pribadi dewasa yang sempurna, tidak hanya bisa dilakukan dengan menyekolahkan anak di sekolah formal yang mahal dan favorit. Namun, lebih kepada bagaimana peran orang tua di dalam keluarga berperan sebagai guru utama. Selain itu, komitmen orang tua dalam menemani anak belajar pun juga menjadi kunci utama.

 

M. HAMID SAMIAJI

Periset Pusat Studi Pendidikan dan Kreativitas Anak di Rumah Kreatif Wadas Kelir dan Mahasiswa Institut Agama Islam Negeri Purwokerto

SENSASI WISATA MAHASISWA MANCANEGARA KE RUMAH KREATIF WADAS KELIR

dibaca normal:3 menit

RUMAH KREATIF WADAS KELIR, setiap siang, selepas anak-anak pulang sekolah, Pusat Belajar Masyarakat-Rumah Kreatif Wadas Kelir (PBM-RKWK) pasti ramai. Mereka ramai-ramai datang untuk meminjam dan mengembalikan buku, mewarnai, atau sekadar mendengar kisah yang di-read aloud oleh para relawan pustaka.

Namun siang itu, Sabtu 3 Februari 2019, ada yang berbeda. Anak-anak datang untuk menyambut tamu spesial, yaitu beberapa mahasiswa asing. Mereka datang untuk melaksanakan program Global Village, semacam program  pertukaran budaya dari negara masing-masing. Dalam kesempatan itu, sembilan mahasiswa asing datang dari Tiongkok (5 orang) dan Mesir (4 orang).

Beberapa bulan terakhir, RKWK memang menjalin kerja sama dengan AIESEC (basis Universitas Jenderal Soedirman), sehingga kegiatan serupa sering dilaksanakan. Seperti Desember 2017 lalu, RKWK kedatangan seorang tamu dari Ukraina. Setiap kali ada tamu asing, anak-anak di sekitar RKWK selalu antusias menyambut dan belajar bersama para tamu. Sebab, dengan belajar bersama para tamu, mereka merasa seperti diajak berkeliling dunia.

Siang itu tidak hanya anak-anak, warga sekitar juga ikut bergabung meramaikan acara Global Village yang dihelat selama lima jam. Para mahasiswa asing itu antusias memperkenalkan tentang negaranya masing-masing. Bahkan, kelompok mahasiswa dari China menyajikan demo masak.

Mereka memasak sejenis dimsum. Masing-masing anak yang ingin mencicipi harus lolos dari games yang dibuat oleh mereka, yaitu mengucapkan sebuah kata dalam bahasa China. Suasana semakin akrab terjalin. Anak-anak, remaja, dan warga pun antusias maju, bekerja keras mengerahkan kemampuannya untuk bisa mengucapkan satu kata bahasa China agar bisa mencicipi dimsum yang menggoda selera.

Dituturkan oleh Dini, seorang anak yang sempat mencicipi dimsum buatan para mahasiswa dari China, bahwa rasa dimsum itu mirip seperti siomay yang biasa ia makan. “Enak! Seneng bisa makan masakan orang China,” tuturnya tersenyum senang, mungkin ia merasa baru saja makan dimsum di China.

Tak hanya itu, kelompok mahasiswa dari Mesir juga tidak kalah heboh mencoba menarik perhatian anak-anak yang hadir. Mereka mengajarkan sebuah tarian khas Mesir. Anak-anak antusias meniru koreografinya, meski kadang mereka justru tertawa. Tertawa bersama ii yang kemudian membuat kehebohan yang menyenangkan bersama-sama.

Program Globab Village tersebut dilaksanakan dengan tujuan untuk saling memperkenalkan kebudayaan dari berbagai negara. RKWK dipilih sebagai rekan oleh AIESEC karena merupakan pusat pendidikan masyarakat yang merangkul semua lini. Mulai dari anak-anak, remaja, hingga orang tua.

“Pihak AIESEC berharap acara ini bisa memberikan wawasan tentang dunia pada masyarakat di Wadas Kelir,” tutur Akmal, ketua pelaksana kegiatan Global Village.

Acara serupa akan terus dilaksanakan di Wadas Kelir dengan harapan akan membuka wawasan luas tentang dunia, sehingga memacu semangat anak-anak, remaja, dan warga di sekitar RKWK untuk terus bercita-cita  tinggi.

“Paling tidak, dengan datangnya para mahasiswa asing itu, anak-anak RKWK akan termotivasi belajar bahasa Inggris dan ingin kuliah! Sebab, selain para relawan di RKWK, para tamu hebat itu lah yang menginspirasi anak-anak untuk terus belajar dan menjadi orang pintar,” tutur Syamsul Hidayat, seorang tokoh masyarakat di Wadas Kelir.

Heru Kurniawan, founder RKWK, menegaskan bahwa “RKWK akan selalu membuka pintu untuk semua yang ingin belajar dan berbagi di sini, apalagi tamu istimewa yang ingin belajar bersama itu dari luar negeri. Maka harus dihormati dan digali ilmu dengan budayanya, sehingga warga wadas kelir, sekalipun di kampung, bisa memiliki wawasan global yang bagus!”

Seperti pepatah yang kita kenal, kejarlah ilmu sampai ke China. Anak-anak RKWK harus berkeinginan menjelajahi negeri-negeri tempat ilmu-ilmu ditemukan dan berkembang.

[Liputan Endah Kusumaningrum]

 

 

 

PESAN PENTING LITERASI PARENTING DI LABSCHOOL PIAUD FTIK-IAIN PURWOKERTO

dibaca normal:3 menit

“Rumah Kreatif Wadas Kelir, terus mendapatkan kepercayaan dari masyakarat, sekolah, komunitas, dan pemerintah sebagai komunitas yang ahli di bidang pendidikan keluarga. Buku-buku Parenting hasil pemikiran dan praktik baik pendidikan keluarga di Wadas Kelir telah banyak terbit. Berbagai seminar, workshop, dan pelatihan dalam Pendidikan Keluarga banyak melibatkan Rumah Kreatif Wadas Kelir sebagai pemateri. Suatu kehormatan konsep dan pemikiran pendidikan keluarga Rumah Kreatif Wadas Kelir mulai digunakan oleh keluarga Indonesia

 

Kelompok Bermain (KB) Al-Azkia, yang merupakan Labschool Program Studi Pendidikan Islam Anak Usia DIni (PIAUD), Rabu, 7 Februari 2018, mengadakan kegiatan parenting untuk orang tua anak didik. Kegiatan Parenting yang rutin diselenggarakan setiap bulan ini selalu menghadirkan pakar dan akademisi pendidikan anak usia dini.

Dalam kegiatan parenting kali ini, menghadirkan pemateri Heru Kurniawan, M.A. dari Rumah Kreatif Wadas Kelir yang sekaligus pengajar PIAUD FTIK-IAIN Purwokerto, dan praktisi-akademisi pendidikan anak usia dini. Pada kegiatan parenting ini, Heru Kurniawan, M.A., menyampaikan materi tentang arti penting literasi, terutama membacakan buku untuk anak-anak usia dini.

Heru Kurniawan, M.A. menyampaikan bahwa anak usia dini adalah anak yang menjadikan alam bawah sadarnya sebagai basis belajar dalam menyerap dan memahami segala hal yang terjadi di sekelilingnya. Dengan alam bawah sadar anak menemukan dan mengembangkan eksistensi dan kemampuannya dengan baik melalui proses belajar bahasa anak usia dini itu tidak terstruktur, kompleks, dan impresif. Melalui alam bawah sadar inilah anak-anak usia dini belajar bahasa dengan dengan cepat.

Dari sinilah anak-anak usia dini cepat sekali memahami bahasa, untuk itu, usia 0-6 tahun merupakan masa terbaik bagi anak untuk belajar bahasa. Anak akan sekali cepat memahami dan menyerap bahasa dengan pola dan variasinya. Maka, orang tua harus intensif memberikan stimulasi lingkungan bahasa yang baik, salah satunya melalui membacakan buku.

Kenapa dengan membacakan buku? Karena kenyataanya semua anak usai dini, jika ditanya siapa yang ingin bisa membaca, pasti semuanya angkat tangan. Ini pertanda minat baca anak usia dini seratus persen sempurna. Tidak ada anak usia dini yang tidak ingin dan tidak minat dengan membaca. Maka, untuk mengembangkan minat ini yang sempurna ini, orang tua harus mulai intensif dengan membacakan buku pada anak-anak, agar minat membaca anak tetap terjaga dengan baik. dengan minat yang sempurna, maka tidak ada anak yang tidak suka dibacakan buku. Jika sejak kecil orang tua membacakan buku, maka jadilah anak-anak kita generasi yang suka membaca buku.

Jadi, jika kenyataan sekarang minat baca masyarakat kita rendah, sebab utamnya adalah pada orang tua. Orang tua sejak kecil tidak pernah membiasakan anak-anaknya untuk dibacakan buku. Melalui membacakan buku ini, tahapan anak-anak membaca buku akan dilalui dengan baik, yaitu tahap anak bermain dengan buku, tahap menirukan orang tua membaca buku, tahap mengenal gambar dan kata, dan tahap membaca buku dengan senang.

Maka, tidak ada jalan lain, untuk menciptakan anak-anak kita yang hobi membaca buku, semua harus dimulai dari kerelaan dan kesediaan orang tua dalam membacakan buku untuk anak-anak setiap hari. Untuk mendukung kegiatan membacakan buku ini, maka orang tua harus menciptakan lingkungan membaca di keluarga yang baik, yang bisa dilakukan dengan: menjadikan buku-buku berserak di rumah, sering memerintah anak untuk membaca atau dibacakan, memberikan contoh orang tua membaca, dan sering membacakan buku pada anak.

Dengan keempat penciptaan kondisi membaca ini di keluarga, maka kegiatan membacakan buku untuk anak-anak usia dini akan menjadi momen terbaik bagi anak. Anak-anak akan antusias jika dibacakan buku. Dari kebiasaan inilah, anak-anak kita kemudian akan senang dengan buku, yang kemudian anak aka cepat bisa membaca, dan akan hobi membaca. Kita akan menyaksikan anak-anak kita sebagai generasi pembaca buku yang membanggakan.

Orang tua murid sangat antusias dengan kegiatan parenting dengan materi ini. Semua orang tua mengungkapkan berbagai persoalan terkait dengan minat anak-anaknya terhadap buku, dan pemateri menjelaskan cara mengatasi persoalan tersebut dengan jelas dan menarik. Dalam diskusi terjadi komunikasi yang menyenangkan antara orang tua dengan materi.

Dan untuk mengatasi berbagai kendala orang tua yang mempunyai persoalan tidak memliki banyak buku di rumah, Ana Kurniawati, S.Pd.I., Kepala KB Al-Azkia menyatakan bahwa KB Al-Azkia bekerja sama dengan Rumah Kreatif Wadas Kelir akan menyediakan buku-buku bacaan yang bisa dipinjam oleh orang tua untuk mengembangkan kemampuan literasi anak-anak didik KB Al-Azkia.

Dan ke depannya, KB Al-Azkia dengan bekerja sama dengan Rumah Kreatif Wadas Kelir akan mengembangkan kegiatan belajar dan bermain yang berbasis kurikulum literasi. Sejak dari awal anak-anak akan dididik dan dikondisikan untuk ditingkatkan kemampuan literasi dasarnya melalui berbagai kegiatan literasi yang menyenangkan bagi anak.

Redaksi Wadas Kelir

TIGA PRIORITAS UTAMA KELUARGA BUNG HATTA DALAM MEMBELANJAKAN UANG

dibaca normal:5 menit

Sebagai wakil presiden kala itu, sudah selayaknya keluarga Bung Hatta hidup kaya. Tapi, kenyataannya tidak demikian, keluarga Bung Hatta hidup sederhana, bahkan dalam beberapa hal mengalami kekurangan. Ini menunjukkan sikap dan itikad kuat keluarga Bung Hatta hidup sederhana. Hidup sederhana sebagai pilihan hidup dalam keluarga yang dijalaninya sampai akhir hayat.

Dalam kesederhaan inilah, keluarga Bung Hatta mendapatkan kebahagiaan. Karena, bagi keluarga Bung Hatta, yang terpenting bukan kekayaan, tetapi bagaimana mempersembahkan kekayaan untuk kepentingan bangsa dan negara. Keluarga Bung Hata rela dan bahagia hidup dalam kesederhaan, asal bisa terus memberikan harta untuk bangsa dan negaranya.

Semua ini terjadi karena prinsip keluarga yang tegas dalam menyikapi kekayaan atau kepemilikan uang. Kekayaan atau uang bagi keluarga Bung Hatta harus ditempatkan untuk kepentingan bangsa dan negara, bukan untuk kepentingan diri untuk memperkaya sendiri. Untuk itu, Bung Hatta tidak berani mengambil uang negara yang bukan haknya. Bahkan uang keluarga pun sering digunakan untuk kepentingan negara.

Keluarga Bung Hatta menerapkan tiga prinsip utama dalam menggunakan atau membelanjakan uang keluarga, yaitu uang keluarga untuk kepentingan negara, uang keluarga untuk kepentingan ilmu pengetahuan, serta uang keluarga untuk kepentingan pribadi melalui menabung secara rutin.

Kepentingan Negara

Berdasarkan pengakuan Mahar Mardjono, mantan dokter pribadi Bung Hatta, menjelaskan bahwa  saat Bung Hatta menjalani pengobatan atas sakitnya, dan uang dari Negara yang digunakannya berobat masih tersisa, Bung Hatta memerintahkan mengembalikan uang sisa pengobatannya pada negara, padahal sebenarnya itu sudah menjadi hak Bung Hatta.

Hal serupa juga dilakukan saat Bung Hatta turun dari Wakil Presiden, saat Sekretaris Kabinet memberikan uang senilai enam juta yang merupakan sisa dana nonbujeter untuk keperluan operasional dirinya selama menjabat wakil presiden. Akan tetapi, Bung Hata menolaknya, dan mengembalikannya pada negara, sekalipun uang itu sebenarnya haknya.

Bahkan, saat istri Bung Hatta telah menabung banyak untuk keperluan membeli mesin jahit, Bung Hatta mendadak mengeluarkan kebiajakan negara tentang senering, yaitu penurunan nilai mata uang dari Rp. 100,- menjadi Rp. 1,- tanpa memberi tahu istrinya terlebih dahulu, sehingga impian istrinya untuk memiliki mesin jahit tidak bisa dipenuhi. Bung Hatta pun mendapatkan protes dari istrinya, tetapi dengan tegas Bung Hata menjawab bahwa ini demi tugasnya pada negara dan bangsa, jadi harus rela melepas impian tabungan untuk memenuhi mimpi memiliki mesin jahit.

Kebahagian keluarga Bung Hatta bukan pada seberapa banyak memiliki kekayaaan, tetapi seberapa banyak kekayaan diberikan pada negara. Ini membuat keluarga Bung Hatta selalu bahagia, walaupun kehidupan keluarga dalam kesederhanaan. Kesadaran ini menjadi nilai pendidikan penting bagi keluarga, untuk sejak awal menempatkan kepentingan negara di atas kepentingan pribadi dan keluarga.

Di sinilah, aforisme yang mengatakan bahwa kemajuan negara bergantung pada kemajuan keluarga. Jika semua keluarga melakukan apa yang dilakukan oleh keluarga Bung Hatta, maka majulah negara kita karena semua keluarga akan rela mengorbankan hartanya untuk negara, bukan sebaliknya seperti yang sekarang ini terjadi. Banyak orang mengambil uang negara untuk memperkaya diri dan keluarganya dengan alas an agar bahagia. Nilai pendidikan rela mengeluarkan uang keluarga untuk kepentingan negara dari Bung Hatta perlu diteladani setiap keluarga.

Kepentingan Ilmu Pengetahuan

Sejak kecil, berkat didikan Kakeknya, Pak Gaek Ilyas, yang menggantikan peran Ayah Bung Hatta yang meninggal saat Bung Hatta  masih dalam kandungan, menekankan tentang pentingnya ilmu pengetahuan. Kata-kata Kakeknya, “Harta dunia ini tidak ada yang kekal, yang kekal hanya ilmu pengetahuan dan ibadah. Segala yang terjadi di dunia ini sudah ditakdirkan Allah. Sudah ada suratannya lebih dahulu.” terus diingat Bung Hatta, bahkan menjadi filosofi keluarga Bung Hatta.

Filosofi ini yang kemudian membuat Bung Hatta kecil dan muda semangat dalam menuntut ilmu.Belajar tanpa lelah dan sekolah sampai tinggi ke Negeri Belanda. Hingga kepintaran dan kecerdasaannya dalam penguasaan ilmu pengetahuan mengantarkannya menjadi orang nomor dua di negeri ini. Dan kenyataan ini yang membuat Bung Hatta juga memprioritaskan pendidikan anak-anaknya sampai tinggi.

Rasa cinta pada ilmu pengetahuan ini dibuktikan juga dengan kerelaan Bung Hatta meninggalkan Istana Merdeka karena rasa cintanya pada buku dan ilmu pengetahuan. Menurut, Muetia Hatta, putra Bung Hatta, selepas tidak jadi wakil presiden, Bung Hatta menghabiskan waktu dengan menulis dan membaca. Bung Hatta memiliki perpustakaan yang berisi banyak buku. Dan tentu saja, jika kekayaan keluarga saja, Bung Hatta rela diberikan untuk negara, maka buku-buku itu dibeli dari hasil kerja kerasnya.

Keluarga Bung Hatta mengajarkan pada keluarga kita untuk berani mengorbankan uang untuk membelanjakan buku-buku dan ilmu pengetahuan. Buku-buku yang kemudian akan dipajang di dalam rumah untuk kecerdasan dan kepintaran seluruh anggota keluarga. Melalui buku-buku yang dibeli oleh keluarga ini, nanti anak-anak kita dan orang tuanya akan rajin membaca, sehingga seluruh anggota keluarga menjadi orang-orang yang pintar dan cerdas. Orang yang menguasai ilmu pengetahuan luas dan berpendidikan tinggi sehingga akan memiliki masa depan bagus.

Ini barang kali berbeda dengan keluarga kebanyakan sekarang ini, yang sangat tidak menjadikan buku sebagai prioritas dalam membelanjakan uang keluarga. Keluarga sekarang lebih senang membelanjakan uang untuk kepentingan konsumtif daripada ilmu pengetahuan. Untuk itu, suksesnya keluarga Bung Hatta, salah satunya faktornya adalah kesadaran untuk membelanjakan uang keluarga untuk membeli buku sebagai sumber ilmu pengetahuan keluarga.

Kepentingan Sendiri dengan Menabung

Ada satu kisah yang menunjukkan usaha keras keluarga Bung Hatta dalam mewujudkan sesuatu adalah dengan menabung. Pertama, usaha istri Bung Hatta, yang untuk mewujudkan keinginannya untuk memiliki mesih jahit, istri Bung Hatta, menabung uang sedikit demi sedikit, walapun akhirnya gagal memiliki mesin jahit karena kebijakan negara dalam menurunkan nilai mata uang.

Kedua, kisah Bung Hatta yang ingin memiliki sepatu bermerk Bally, yang pada saat itu harganya sangat mahal. Untuk memenuhi keinginan memiliki sepatu itu, Bung Hata menabung, menyisihkan uangnya dari penghasilannya sendiri, sedikit-demi sedikit untuk memenuhi keinginan itu. Sayang sekali, keinginan Bung Hatta pun tidak terwujud karena tabungannya tidak cukup untuk membeli sepatu itu.

Dua cerita ini mengajarkan pendidikan keluarga yang sangat berharga pada keluarga kita, yaitu soal menabung. Menabung menjadi salah satu alokasi penting keuangan keluarga dalam mewujudkan keinginan mimpi Bung Hatta dan Istrinya. Keluarga Bung Hatta sabar menungumpulkan uang melalui proses panjang demi mewujudkan keinginan keluarga.

Ini keteladanan keluarga yang penting, yang barang kali sekarang menjadi langka karena sekarang keluarga barang kali lebih memilih kredit untuk memenuhi keinginan keluarga daripada menabung. Kita menjadi orang yang tidak sabar dan konsumtif. Di sinilah nilai menabung untuk memenuhi keinginan pribadi keluarga bisa menjadi aktivitas penting dalam membelanjakan uang seperti yang diajarkan keluarga Bung Hatta.

Apa yang dilakukan keluarga Bung Hatta dalam membelanjakan uang dan hartanya menjadi contoh konkret dalam mewujudkan keluarga sederhana yang bahagia pada masa sekarang ini. Saat keluarga-keluarga sekarang banyak yang lebih suka memperkaya diri, konsumptif, dan tidak peduli terhadap ilmu pengetahuan, maka belajar pada pengelolaan uang keluarga Bung Hatta menjadi hal penting yang harus dilakukan sekarang.

Saya bayangkan apa jadinya jika keluarga-keluarga di Indonesia itu semuanya rela mengorbankan uang dan kekakayannya untuk negara, kemudian memprioritaskan membelanjakan ilmu pengetahuan dalam bentuk membeli buku dan sekolahkan anak, serta selalu menabung dalam mewujudkan keinginan diri setiap anggota keluarga. Saya yakin keluarga di Indonesia akan menajdi keluarga tulang punggung maju dan sejahteranya bangsa ini, karena kekayaan negara akan ditopang dari keluarga, semua anggota keluarga cerdas dan berpendidikan tinggi, serta tidak konsumtif.

Di sinilah perlunya kita tahu dan belajar dari tata kelola keuangan dan kekayaan yang dilakukan keluarga Bung Hatta.

 

 

HERU KURNIAWAN

Pengajar Institut Agama Islam Negeri Purwokerto & Founder Rumah Kreatif Wadas Kelir

RUMAH YANG BERSERAK BUKU-BUKU ADALAH RUMAH YANG AKAN MENCIPTAKAN ANAK-ANAK HOBI MEMBACA

dibaca normal:4 menit

Saya menyaksikan sendiri, kejadian sederhana ini: Mafi, anak saya yang berusia 11 tahun tampak gelisah. Awalnya duduk di depan rumah, terus pindah ke ruang tamu, terus masuk kamar.

Apa yang dilakukan di kamar?

Mafi tidur-tiduran, tapi kemudian bangkit. Mafi kemudan mengambil majalah Bobo yang tergeletak di lantai kamarnya. Sambil tiduran dia membacanya. Saya menghitung waktu, satu jam lebih dia membaca majalah Bobo itu.

Kemudian Mafi keluar kamar, saya melihat ekspresi yang berbeda. Mafi sudah tidak gelisah lagi. Dia kemudian keluar rumah dan berbaur dengan teman-temannya untuk bermain.

Saya senang sekali mendapatkan kenyataan ini. Rumah yang sudah saya desain berserak buku-buku memberikan manfaat penting bagi saya. Anak-anak saya sejak awal sudah terbiasa mengisi kegelisahannya dengan membaca buku.

Dan dari sinilah, saya mendapatkan kenyataan bahwa anak-anak saya sejak kecil suka membaca buku disebabkan oleh kenyataan di rumah saya berserak dengan buku-buku.

Di kamar anak-anak ada buku-buku yang berserak di rak kecil yang terbuka. Di meja belajar ada buku-buku yang bertumpuk. Di ruang tamu ada buku-buku yang tertata di rak dan di meja. Sampai, beberapa buku tercecer di tempat-tempat tertentu.

Dan saya menyadari, bagi tamu-tamu yang bermain ke rumah saya, ini rumah tampak tidak rapi dan kotor. Namun, saya lebih senang dengan kenyataan bahwa dengan buku-buku berserak anak-anak saya terbiasa bermain dan membaca buku. Menjadikan buku sebagai media untuk bermain dan membaca.

Dengan buku-buku yang berserak di rumah, maka orang tua akan mendapatkan setidaknya empat pemandangan menyenangkan yang dilakukan oleh anak-anak kita atas buku-buku yang bersera di rumah.

Buku untuk Media Bermain

Karena banyak buku-buku di rumah, maka anak-anak punya gagasan kreatif: buku-buku dijadikan media bermain anak. Saya sering melihat anak-anak main laptop-laptopan, mobil-mobilan, sampai jual-jualan dengan menggunakan buku. Anak-anak memanfaatkan untuk alat bermain yang menyenangkan.

Di sini, buku-buku berperan dalam memenuhi imajinasi anak-anak. Buku menjadi sahabat atau teman bagi anak dalam bermain. Ini akan menciptakan hubungan emosional anak dengan buku. Anak akan semakin dekat dengan buku sehingga dalamdiri anak akan terbangun persepsi bahwa buku adalah teman yang baik. Teman yang bisa diajak dan dijadikan permainan yang menyennagkan.

Rasa cinta anak pada buku akan muncul dan terbangun, yang pada gilirannya, anak tidak saja tertarik dalam perannya sebagai media bermain, tetapi kelak akan tertarik pada isinya sebagai pemuas kebutuhan imajinasi dan ilmu pengetahuan anak.

Buku untuk Dibaca

Buku-buku berserak. Anak-anak setiap harinya terbiasa melihat buku-buku. Maka suatu waktu, anak akan penasaran, dan mengambil salah satu buku. Anak kemudian membaca buku tersebut. Ternyata buku itu bagus dan menarik. Anak pun akan larut membaca buku sampai berjam-jam. Dari sinilah anak-anak terbiasa membaca buku dan semakin penasaran dengan buku.

Pada mulanya dilakukan jika sedang sendiri dan gelisah. Buku dijadikan tempat untuk mengisi waktu dalam kegelisahannya. Tapi, perlahan-lahan, sering dengan didapatinya kenyataan bahwa buku itu menyenangkan, maka membaca akan dijadikan prioritas inti dalam mengisi hari-hari. Saat sudah demikian, maka buku-buku yang berserak sudah mampu membangun budaya baca anak di lingkungan keluarga.

Buku untuk Mengerjakan Tugas Sekolah

Setiap harinya pasti akan ada tugas dari sekolah. Tugas yang membutuhkan banyak buku untuk menjawabnya. Saat sudah demikian, jika anak meminta tolong pada orang tua, maka orang tua bisa merekomendasikan buku yang bisa membantu anak untuk menjawab tugas dari sekolah.

Anak pun akan mengambil buku itu, membacanya untuk menemukan jawaban. Saat buku memberikan banyak informasi dan ilmu pengetahuan yang bisa digunakan untuk menjawab tugas, bahkan dengan membaca buku, anak mendapatkan nilai yang bagus dari tugas sekolahnya, maka di sinilah terbangun kesadaran begitu pentingnya buku-buku yang berserak di rumah.

Anak pun kemudian akan membaca buku-buku yang berserak. Anak-anak akan semakin pintar dan berprestasi di sekolah. Di sinilah, telah terbangun kesadaran anak-anak tentang arti penting membaca agar pintar dan berprestasi. Anak-anak pun akan tumbuh menjadi pribadi yang terbiasa membaca dari buku-buku yang berserak di rumah.

Buku untuk Menulis

Dan perlahan-lahan, anak-anak akan mulai memegang pinsil atau bolpoin, yang kemudian digunakan untuk menulis. Bisa jadi awalnya adalah mencoret-coret, tetapi pada gilirannya adalah menulis atau mengisi buku-buku aktivitas anak dengan menyenangkan.

Saat ini terjadi, maka buku-buku yang berserak sedang mengkondisikan anak-anak untuk menulis. Dari yang menulis sederhana sampai menulis untuk menyampaikan gagasan dan pikiran. Budaya menulis anak pun dikondisikan dari menciptakan kenyataan bahwa rumah kita berserakan banyak buku.

Dari sinilah, menciptakan budaya membaca keluarga bukan melulu persoalan memaksa dan memerintah anak membaca, tetapi juga harus dimulai dengan menyediakan banyak buku di rumah yang dibuat berserak, di setiap sudut selalu saja ada pemandangan buku-buku.

Rumah yang berserak buku-buku adalah rumah yang sedang menyiapkan masa depan anak-anak yang pintar dan cerdas, karena buku-buku di rumah pada gilirannya akan dijadikan teman untuk mengisi hari melalui kegiatan membaca yang membahagiakan.

 

HERU KURNIAWAN

Pengajar di Institut Agama Islam Negeri Purwokerto & Founder Rumah Kreatif Wadas Kelir

PESAN PARENTING DI MI MAARIF NU BAJONG PURBALINGGA: ORANG TUA JANGAN PUTUS ASA DALAM MENDIDIK DAN MENDAMPINGI ANAK-ANAK KITA YANG BERMASALAH

dibaca normal:3 menit

Di hadapan ratusan orang tua murid MI Maarif NU Bajong Purbalingga, Heru Kurniawan, Founder Rumah Kreatif Wadas Kelir, menyampaikan materi parenting soal cara mengatasi anak-anak yang bermasalah pada Minggu, 21 Januari 2018 di Gedung Pertemuan MI Maarif NU Bajong, Purbalingga.

Di awal materi, Heru Kurniawan menyampaikan bahwa tidak ada anak yang tidak membawa persoalan bagi orang tuanya. Sebab, melalui persoalan ini anak-anak kita akan tumbuh dewasa, dan orang tua dituntut untuk terus memberikan pendidikan terbaik bagi anaknya.

Misalnya, anak-anak yang hidup dimanjakan televisi, maka hari-harinya akan diisi dengan menonton televisi, di sinilah orang tua harus terus memberikan pengertian dan pendidikan pada anak untuk tidak menghabiskan waktu dengan menonton televise terus.

Sebaliknya, misalnya, anak-anak yang di rumah tidak ada televiie, juga banyak persoalan yang dimunculkan, salah satunya rumah berantakan, anak-anak liar bermaian, rumah kotor, dan sebagainya. Ini juga masalah yang menuntut orang tua untuk terus memberikan pengertian pada anak-anak agar setiap kali bermain harus dibersihkan, dirapikan, dan hati-hati dalam bermain.

Dari sinilah, masalah adalah hakikat anak karena dengan masalah anak-anak kita tumbuh dan berkembang pemikiran dan kedewasaannya. Dan karena anak-anak bermasalah orang tua harus terus memberikan pendidikan dan pendampinga terbaiknya.

Untuk itu, masalah-malasah yang ditimbulkan oleh anak-anak kita harus disikapi dengan bijak, yaitu dengan tidak putus asa untuk terus mendidik dan mendampingi. Tidak putus asa berarti orang tua jangan menyerah dan pasrah atas berbagai persoalan yang dciptakan oleh anak-anak kita. Dampingi anak-anak kita, nasihati, dan arahkan terus untuk menjadi anak yang baik. Jangan menyerah sebab anak-anak membutuhkan pengulangan yang intensif, sampai kemudian menemukan momen sadarnya.

Jangan menyerah karena menyerah, misalnya dengan mengatakan, “Sudahlah, terserah kamu. Ibu menyerah mendidikmu. Selalu tidak menurut dan mengulang kesalahan yang sama!” Bahaya! Sekali orang tua menyerah, maka itu pertanda kehancuran anak. Anak-anak kita akan semakin dalam larut dalam kegiatan yang akan membuatnya buruk perkembangan karakternya. Dan jika anak buruk, ujungnya juga ke orang tua. Maka jangan menyerah menyelesaikan persoalan yang dihadapi anak adalah harga mati bagi orang tua.

Inilah hal penting yang harus dimiliki ornag tua dalam menghadapi anak-anak yang bermasalah. Jangan menyerah dan putus asa. Dengan penuh rasa sayang damping anak-anak untuk keluar dari masalah yang dihadapinya, misalnya, masalah kenakalan, kecanduan gadget, malas belajar, dan sebagainya. Terus buat aturan yang tegas untuk kebaikan anak, nasihati, dan alihkan.

Dengan usaha yang pantang menyerah ini, saya meyakini pada diglirannya anak-anak nanti akan tersadarkan. Anak-anak berani melawan sendiri atas pengaruh negatif di sekelilingnya yang selama ini membuat anak bermasalah. Saat ini terjadi, maka ini hal ini menandakan kesadaran nalar anak sudah terbangun dengan baik, dan kita orang tua sukses dalam mendidik dan mendampingi anak-anak yang bermasalah.

Peserta sangat antusias atas materi yang diberikan oleh Heru Kurniawa. Maka, saat sesi tanya jawab dibuka, puluhan orang tua mengajukan berbagai pertanyaan dan persoalan yang dihadapi anak-anaknya, mulai dari persoalan anak yang kecanduan gadget dan televise, suka menirukan aksi film, suka membolos sekolah, egois, sampai tidak memiliki kepercayaan diri.

Atas persoalan yang dihadapi para orang tua ini, Heru Kurniawan menjelaskan dengan sangat baik, yang intinya adalah dalam menghadapi segala persoalan anak-anak kita, yang menurut kita bermasalah, orang tua tidak boleh putus asa sehingga membiarkan anak larut dengan persoalannya. Didik dan dampingi terus anak-anak, nasihati terus, dan alihkan ke kegiatan yang baik. Maka, pasti suatu saat anak-anak kita akan meningkalkan segala kegiatan yang membuatnya jadi anak bermasalah.

Redaksi Wadas Kelir