TIGA PRIORITAS UTAMA KELUARGA BUNG HATTA DALAM MEMBELANJAKAN UANG

dibaca normal:5 menit

Sebagai wakil presiden kala itu, sudah selayaknya keluarga Bung Hatta hidup kaya. Tapi, kenyataannya tidak demikian, keluarga Bung Hatta hidup sederhana, bahkan dalam beberapa hal mengalami kekurangan. Ini menunjukkan sikap dan itikad kuat keluarga Bung Hatta hidup sederhana. Hidup sederhana sebagai pilihan hidup dalam keluarga yang dijalaninya sampai akhir hayat.

Dalam kesederhaan inilah, keluarga Bung Hatta mendapatkan kebahagiaan. Karena, bagi keluarga Bung Hatta, yang terpenting bukan kekayaan, tetapi bagaimana mempersembahkan kekayaan untuk kepentingan bangsa dan negara. Keluarga Bung Hata rela dan bahagia hidup dalam kesederhaan, asal bisa terus memberikan harta untuk bangsa dan negaranya.

Semua ini terjadi karena prinsip keluarga yang tegas dalam menyikapi kekayaan atau kepemilikan uang. Kekayaan atau uang bagi keluarga Bung Hatta harus ditempatkan untuk kepentingan bangsa dan negara, bukan untuk kepentingan diri untuk memperkaya sendiri. Untuk itu, Bung Hatta tidak berani mengambil uang negara yang bukan haknya. Bahkan uang keluarga pun sering digunakan untuk kepentingan negara.

Keluarga Bung Hatta menerapkan tiga prinsip utama dalam menggunakan atau membelanjakan uang keluarga, yaitu uang keluarga untuk kepentingan negara, uang keluarga untuk kepentingan ilmu pengetahuan, serta uang keluarga untuk kepentingan pribadi melalui menabung secara rutin.

Kepentingan Negara

Berdasarkan pengakuan Mahar Mardjono, mantan dokter pribadi Bung Hatta, menjelaskan bahwa  saat Bung Hatta menjalani pengobatan atas sakitnya, dan uang dari Negara yang digunakannya berobat masih tersisa, Bung Hatta memerintahkan mengembalikan uang sisa pengobatannya pada negara, padahal sebenarnya itu sudah menjadi hak Bung Hatta.

Hal serupa juga dilakukan saat Bung Hatta turun dari Wakil Presiden, saat Sekretaris Kabinet memberikan uang senilai enam juta yang merupakan sisa dana nonbujeter untuk keperluan operasional dirinya selama menjabat wakil presiden. Akan tetapi, Bung Hata menolaknya, dan mengembalikannya pada negara, sekalipun uang itu sebenarnya haknya.

Bahkan, saat istri Bung Hatta telah menabung banyak untuk keperluan membeli mesin jahit, Bung Hatta mendadak mengeluarkan kebiajakan negara tentang senering, yaitu penurunan nilai mata uang dari Rp. 100,- menjadi Rp. 1,- tanpa memberi tahu istrinya terlebih dahulu, sehingga impian istrinya untuk memiliki mesin jahit tidak bisa dipenuhi. Bung Hatta pun mendapatkan protes dari istrinya, tetapi dengan tegas Bung Hata menjawab bahwa ini demi tugasnya pada negara dan bangsa, jadi harus rela melepas impian tabungan untuk memenuhi mimpi memiliki mesin jahit.

Kebahagian keluarga Bung Hatta bukan pada seberapa banyak memiliki kekayaaan, tetapi seberapa banyak kekayaan diberikan pada negara. Ini membuat keluarga Bung Hatta selalu bahagia, walaupun kehidupan keluarga dalam kesederhanaan. Kesadaran ini menjadi nilai pendidikan penting bagi keluarga, untuk sejak awal menempatkan kepentingan negara di atas kepentingan pribadi dan keluarga.

Di sinilah, aforisme yang mengatakan bahwa kemajuan negara bergantung pada kemajuan keluarga. Jika semua keluarga melakukan apa yang dilakukan oleh keluarga Bung Hatta, maka majulah negara kita karena semua keluarga akan rela mengorbankan hartanya untuk negara, bukan sebaliknya seperti yang sekarang ini terjadi. Banyak orang mengambil uang negara untuk memperkaya diri dan keluarganya dengan alas an agar bahagia. Nilai pendidikan rela mengeluarkan uang keluarga untuk kepentingan negara dari Bung Hatta perlu diteladani setiap keluarga.

Kepentingan Ilmu Pengetahuan

Sejak kecil, berkat didikan Kakeknya, Pak Gaek Ilyas, yang menggantikan peran Ayah Bung Hatta yang meninggal saat Bung Hatta  masih dalam kandungan, menekankan tentang pentingnya ilmu pengetahuan. Kata-kata Kakeknya, “Harta dunia ini tidak ada yang kekal, yang kekal hanya ilmu pengetahuan dan ibadah. Segala yang terjadi di dunia ini sudah ditakdirkan Allah. Sudah ada suratannya lebih dahulu.” terus diingat Bung Hatta, bahkan menjadi filosofi keluarga Bung Hatta.

Filosofi ini yang kemudian membuat Bung Hatta kecil dan muda semangat dalam menuntut ilmu.Belajar tanpa lelah dan sekolah sampai tinggi ke Negeri Belanda. Hingga kepintaran dan kecerdasaannya dalam penguasaan ilmu pengetahuan mengantarkannya menjadi orang nomor dua di negeri ini. Dan kenyataan ini yang membuat Bung Hatta juga memprioritaskan pendidikan anak-anaknya sampai tinggi.

Rasa cinta pada ilmu pengetahuan ini dibuktikan juga dengan kerelaan Bung Hatta meninggalkan Istana Merdeka karena rasa cintanya pada buku dan ilmu pengetahuan. Menurut, Muetia Hatta, putra Bung Hatta, selepas tidak jadi wakil presiden, Bung Hatta menghabiskan waktu dengan menulis dan membaca. Bung Hatta memiliki perpustakaan yang berisi banyak buku. Dan tentu saja, jika kekayaan keluarga saja, Bung Hatta rela diberikan untuk negara, maka buku-buku itu dibeli dari hasil kerja kerasnya.

Keluarga Bung Hatta mengajarkan pada keluarga kita untuk berani mengorbankan uang untuk membelanjakan buku-buku dan ilmu pengetahuan. Buku-buku yang kemudian akan dipajang di dalam rumah untuk kecerdasan dan kepintaran seluruh anggota keluarga. Melalui buku-buku yang dibeli oleh keluarga ini, nanti anak-anak kita dan orang tuanya akan rajin membaca, sehingga seluruh anggota keluarga menjadi orang-orang yang pintar dan cerdas. Orang yang menguasai ilmu pengetahuan luas dan berpendidikan tinggi sehingga akan memiliki masa depan bagus.

Ini barang kali berbeda dengan keluarga kebanyakan sekarang ini, yang sangat tidak menjadikan buku sebagai prioritas dalam membelanjakan uang keluarga. Keluarga sekarang lebih senang membelanjakan uang untuk kepentingan konsumtif daripada ilmu pengetahuan. Untuk itu, suksesnya keluarga Bung Hatta, salah satunya faktornya adalah kesadaran untuk membelanjakan uang keluarga untuk membeli buku sebagai sumber ilmu pengetahuan keluarga.

Kepentingan Sendiri dengan Menabung

Ada satu kisah yang menunjukkan usaha keras keluarga Bung Hatta dalam mewujudkan sesuatu adalah dengan menabung. Pertama, usaha istri Bung Hatta, yang untuk mewujudkan keinginannya untuk memiliki mesih jahit, istri Bung Hatta, menabung uang sedikit demi sedikit, walapun akhirnya gagal memiliki mesin jahit karena kebijakan negara dalam menurunkan nilai mata uang.

Kedua, kisah Bung Hatta yang ingin memiliki sepatu bermerk Bally, yang pada saat itu harganya sangat mahal. Untuk memenuhi keinginan memiliki sepatu itu, Bung Hata menabung, menyisihkan uangnya dari penghasilannya sendiri, sedikit-demi sedikit untuk memenuhi keinginan itu. Sayang sekali, keinginan Bung Hatta pun tidak terwujud karena tabungannya tidak cukup untuk membeli sepatu itu.

Dua cerita ini mengajarkan pendidikan keluarga yang sangat berharga pada keluarga kita, yaitu soal menabung. Menabung menjadi salah satu alokasi penting keuangan keluarga dalam mewujudkan keinginan mimpi Bung Hatta dan Istrinya. Keluarga Bung Hatta sabar menungumpulkan uang melalui proses panjang demi mewujudkan keinginan keluarga.

Ini keteladanan keluarga yang penting, yang barang kali sekarang menjadi langka karena sekarang keluarga barang kali lebih memilih kredit untuk memenuhi keinginan keluarga daripada menabung. Kita menjadi orang yang tidak sabar dan konsumtif. Di sinilah nilai menabung untuk memenuhi keinginan pribadi keluarga bisa menjadi aktivitas penting dalam membelanjakan uang seperti yang diajarkan keluarga Bung Hatta.

Apa yang dilakukan keluarga Bung Hatta dalam membelanjakan uang dan hartanya menjadi contoh konkret dalam mewujudkan keluarga sederhana yang bahagia pada masa sekarang ini. Saat keluarga-keluarga sekarang banyak yang lebih suka memperkaya diri, konsumptif, dan tidak peduli terhadap ilmu pengetahuan, maka belajar pada pengelolaan uang keluarga Bung Hatta menjadi hal penting yang harus dilakukan sekarang.

Saya bayangkan apa jadinya jika keluarga-keluarga di Indonesia itu semuanya rela mengorbankan uang dan kekakayannya untuk negara, kemudian memprioritaskan membelanjakan ilmu pengetahuan dalam bentuk membeli buku dan sekolahkan anak, serta selalu menabung dalam mewujudkan keinginan diri setiap anggota keluarga. Saya yakin keluarga di Indonesia akan menajdi keluarga tulang punggung maju dan sejahteranya bangsa ini, karena kekayaan negara akan ditopang dari keluarga, semua anggota keluarga cerdas dan berpendidikan tinggi, serta tidak konsumtif.

Di sinilah perlunya kita tahu dan belajar dari tata kelola keuangan dan kekayaan yang dilakukan keluarga Bung Hatta.

 

 

HERU KURNIAWAN

Pengajar Institut Agama Islam Negeri Purwokerto & Founder Rumah Kreatif Wadas Kelir

Comments

comments

1 reply

Leave a Reply

Want to join the discussion?
Feel free to contribute!

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *