PRINSIP PENDIDIKAN “HOME SCHOOLING” DALAM KELUARGA HAJI AGUS SALIM

dibaca normal:4 menit

Sekitar tahun 1925, saat itu Mohamad Roem berkunjung ke rumah Haji Agus Salim, yang merupakan praktisi hebat bidang pendidikan, tokoh kenegarawanan, sekaligus sosok jenius yang menguasai sembilan bahasa. Saat itu, Mohamad Roem dikejutkan dengan sesuatu kejadian yang menakjubkan: Syauket, anak Haji Agus Salim yang baru berusia empat tahun sudah mahir berbicara dengan menggunakan bahasa Belanda tanpa terbata-bata. Padahal, Mohamad Roem sendiri, yang saat itu sudah duduk di bangku SMA, belum bisa semahir berbahas Belanda seperti anak itu.

Selain itu, Mohamad Roem juga dikejutkan oleh anak Haji Agus Salim, Syauket yang di usia belia ternyata sudah gemar membaca. Mengisi hari dengan membaca buku-buku. Minat membacanya melebihi minat baca anak usia SMA. Mohamad Roem sangat tepukau dengan kenyataan ini. Mohamad Roem pun ingin tahu soal pendidikan yang dilakukan Haji  Agus Salim pada anaknya.

Kefasihan bahasa asing yang dikuasai anak Haji Agus Salim ini juga menjadi tanda tanya bagi seorang wartawan dan aktivis sosial Belanda bernama Jef Last. Ia pernah bertanya, mengapa putra Agus Salim begitu fasih berbahasa Inggris, padahal ia tidak belajar di sekolah?

Jawaban Haji Agus Salim sederhana. “Apakah Anda pernah mendengar tentang seekor kuda yang belajar meringkik? Kuda-kuda tua meringkik sebelum anak-anak kuda ikut meringkik. Begitu pun saya, meringkik dalam bahasa Inggris dan putra saya juga meringkik dalam bahasa Inggris.”

Setelah diselidiki, rupanya Haji Agus Salim ini menerapkan sistem pendidikan “home schooling” di rumahnya. Ide Haji Agus Salim ini berangkat dari keuletannya membaca teori-teori perkembangan anak, seperti Maria Montessori, yang saat itu ramai diperbincangkan, khususnya oleh Bapak Pendidikan Nasional atau yang kita kenal dengan Ki Hajar Dewantara. Sehingga Haji Agus Salim tidak ingin melewatkan masa jenius kemampuan bahasa anak-anaknya, Haji Agus Salim pun melakukan kegiatan home schooling di rumahnya.

Sebab Haji Agus Salim sangat meyakini salah satu pemikiran monumental Montessori tentang betapa pentingnya mengoptimalkan masa jenius bahasa anak yang dilihat dari segi kebermanfaatannya terhadap tumbuh kembang anak. Salah satunya, mengenalkan dan mengajarkan bahasa asing pada anaknya saat masih usia dini. Dan saat menjalankan home schooling, Haji Agus Salim bersama isterinya tidak pernah lupa dengan prinsip yang selalu dipegang erat olehnya.

Pertama, Haji Agus Salim bersama isterinya tidak menentukan jam belajar dan bermain bagi anak-anaknya, namun setiap kali ada kesempatan selalu dimanfaatkan untuk mendidik anak-anaknya dengan baik.

Contohnya, saat anak-anaknya sedang asyik bermain perahu kertas di rumah kontarakannya yang bocor. Di saat seperti itulah anak-anaknya bermain sambil belajar. Belajar bahasa, membaca, menulis, berhitung, hingga belajar agama. Dalam mendidik anaknya, Haji Agus Salim juga lebih mendorong anak-anaknya untuk memiliki rasa keingintahuan yang tinggi, memberikan alat untuk memuaskan keinginantahuan, dan mengenalkan anak ke dunia yang diminatinya.

Dari hal ini, kita menjadi tahu dan sadar bahwa peran orang tua bukan hanya sekadar mengajar, tetapi juga sebagai pendamping dan pendidik dalam mengenalkan anak pada dunia luar, membentuk karakter anak, sekaligus mengantarkan anak menjadi pribadi dewasa. Di sinilah kita dituntut untuk terus bisa mendampingi anak-anak saat sedang bermain maupun belajar dengan sebaik-baiknya.

Kedua, membiasakan sejak kecil anak-anaknya berbahasa Belanda. Sekalipun Haji Agus Salim seorang muslim, anak-anaknya tetap diajarkan bahasa Belanda sebab bahasa Belanda menjadi bahasa kolonial saat itu. Cara yang digunakan pun cukup unik. Sejak bayi, anak-anaknya sudah diajak bicara bahasa Belanda dan diajari menyanyi Belanda.

Kebiasaan-kebiasaan yang dilakukan inilah yang pada akhirnya Haji Agus Salim bersama isterinya berhasil mengantarkan anak-anaknya fasih berbahasa asing. Bahasa itu seakan diserap, diciptakan, dan dikuasai secara total oleh anak-anaknya. Istilahnya Montessori, penguasaan bahasa secara total dan ajaib ini dikenal dengan “fenomena eksplosif”.

Haji Agus salim pun sadar perihal kejeniusan berbahasa anak-anaknya sehingga tidak menyia-nyiakan masa jenius bahasa itu, dengan mengajak anak-anaknya menggunakan berbagai bahasa asing dalam kesehariannya. Dari sinilah anak-anak Haji Agus Salim mahir dalam berbahasa asing, Inggris dan Belanda.

 

Ketiga, mengajarkan nasionalisme dan semangat kemerdekaan pada anaknya. Dari ruang keluarga anak-anaknya diajarakan untuk menyayi lagu-lagu nasional, seperti Indonesia raya dan lagu nasional lainnya. Kemampuan Haji Agus Salim di bidang kemiliteran pun ia tularkan pada anak-anaknya. Tujuannya agar anak menjadi seseorang yang kuat dan menumbuhkan rasa memiliki terhadap bangsanya.

Keempat, menjadikan ruang keluarga sebagai perpustakaan keluarga. Hal yang pertama kali diminta Haji Agus Salim terhadap calon isterinya saat itu adalah meminta calon isterinya untuk sering membaca buku.

Alasannya, kelak saat ia memiliki anak tidak akan menyekolahkan ke sekolah formal, ia akan dididik dengan caranya sendiri. Ternyata benar, setelah menikah dan memiliki tujuh anak, mereka dididik dengan tangannya sendiri. Buku digunakan oleh Haji Agus Salim sebagai media belajar dan bermain yang menyenangkan bagi anak-anknya.

Ruang keluarga pun penuh dengan buku-buku babon. Sehingga tidak heran jika anak pertamanya, diusia belia sudah membaca buku detektif bahasa Belanda, anak kedua berusia 6 tahun sudah membaca buku Mahabarata– pun versi bahasa Belanda pula, dan kelima anak yang lainnya pun sama memiliki sejak kecil sudah memiliki budaya membaca yang tinggi. Berkat sejak kecil sudah gila baca inilah, anak-anak Haji Agus Salim tumbuh menjadi orang-orang hebat dan sukses.

Dari apa yang dilakukan Agus Salim bersama isterinya inilah, kita menjadi belajar bahwa untuk mengantarkan anak menjadi pribadi dewasa yang sempurna, tidak hanya bisa dilakukan dengan menyekolahkan anak di sekolah formal yang mahal dan favorit. Namun, lebih kepada bagaimana peran orang tua di dalam keluarga berperan sebagai guru utama. Selain itu, komitmen orang tua dalam menemani anak belajar pun juga menjadi kunci utama.

 

M. HAMID SAMIAJI

Periset Pusat Studi Pendidikan dan Kreativitas Anak di Rumah Kreatif Wadas Kelir dan Mahasiswa Institut Agama Islam Negeri Purwokerto

Comments

comments

0 replies

Leave a Reply

Want to join the discussion?
Feel free to contribute!

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *