ANAK-ANAK TANPA TELEVISI, APA JADINYA?

dibaca normal:7 menit

Sudah tiga tahun, di rumah saya tidak ada televisi. Televisi saya taruh di poskampling untuk kegiatan masyarakat. Awalnya anak-anak protes, tapi setelah saya jelaskan mereka paham. Tentu saja paham dalam keterpaksaan. Namun, seringkali mendidik anak harus demikian, orang tua harus berani tegas dan memaksa untuk hal-hal baik yang lebih prinsip. Demi kebaikan tumbuh dan kembang anak-anak kita.

Dan menurut saya, sebaik-baiknya rumah bukan yang tanpa televisi, ada televisi pun bisa menjadi rumah terbaik untuk pendidikan anak-anak. Tapi, saya sedang tidak menyukai televisi karena kenyataan dengan adanya televisi anak-anak saya setiap hari menghabiskan waktu dengan menonton televisi.

Saya mencatat aktivitas anak-anak saat ada televisi: bangun tidur langsung menonton televisi. Saat dingatkan untuk berangkat sekolah anak-anak malas, setelah dipaksa, baru mau berangkat dengan semangat yang tertinggal di televisi. Setelah pulang sekolah, dengan tubuh yang letih, anak-anak kembali menonton televisi sambil tiduran. Kadang tertidur pulas dan bangun saat sore. Saat malam belajar menjadi sangat terpaksa, anak ingin cepat selesai, karena ingin menonton televisi.

Karena hal ini, saya putuskan membuang televisi dari rumah ke tampat yang lebih tepat, di poskampling. Awalnya, anak-anak jika mau menonton televisi langsung ke poskampling, tetapi lama kelamaan, anak-anak jenuh dan tidak mengasyikan. Akhirnya sama sekali anak-anak tidak menonton televisi.

Pertanyaan yang ingin saya jawab dalam tulisan ini adalah: apa jadinya anak-anak tanpa televisi? Bagaimana perkembangan yang bisa saya rasakan sebagai orang tua saat rumah tanpa televisi?

Saya merasa tepat memutuskan untuk membuang televisi dari rumah, sekalipun saya tidak tahu sampai kapan saya bisa bertahan. Tapi, waktu tiga tahun tanpa televisi barang kali menjadi waktu yang cukup lama juga, dan berpengaruh atas perkembangan psikologi anak-anak saya.

Selesai bangun tidur, tanpa televisi, anak-anak saya duduk sebentar seperti sedang mengumpulkan kemampuan daya ingatnya yang telah hilang dalam tidur panjang. Selesai duduk, anak-anak biasanya mengamati lingkungan sekelilingnya. Saat menemukan sesuatu yang bisa dijadikan mainan, anak-anak menghampiri sesuatu itu. Misalnya, tumpukan mainan bongkar pasang yang berserak di rumah saya.

Dan saya memang sengaja membelikan dan menyiapkan aneka mainan edukatif di situ, mulai dari lego, bongkar pasang, mobil-mobilan, dan benda-benda lainnya. Anak-anak pun kemudian bermain dengan benda-benda itu, biasanya disertai dengan bermain drama. Memerankan suatu kehidupan tertentu. Dan jika libur, teman-temannya datang dan ikut bermain sampai anak-anak merasa lapar, kemudian berteriak minta makan pada Ibunya. Anak-anak pun makan, jika merasa sedang asyik bermain, anak-anak sarapan sambil terus bermain.

Saatnya sekolah, anak-anak berangkat sekolah. Jika liburan, anak-anak terus bermain mengembangkan imajinasinya sendiri. Dan anak-anak kuat bermain selama berjam-jam. Bahkan, jika teman-temannya datang, permainan akan dilakukan secara kolosal, dan sudah bisa dipastikan, rumah akan jadi kapal pecah yang menakjubkan. Saya dan istri saya hanya geleng-geleng kepala seraya berkata lirih, “Inilah hebatnya anak-anak tanpa televisi!”

Saat jenuh dengan permainan ini, anak-anak akan meminta izin untuk pinjam gadget. Saya izinkan tapi dengan durasi waktu dan tidak boleh main game, hanya boleh menonton kartun-kartun pendek. Anak-anak menonton sambil merebahkan tubuh dan pikirannya yang telah terkuras untuk berimajinasi dan bermain. Anak-anak duduk santai dan menonton, sampai kemudian jenuh dan pergi keluar rumah.

Di luar rumah anak-anak ingat dengan poin yang kami gunakan untuk mengapresiasi anak jika membaca buku. Membaca satu buku akan mendapatkan satu poin. Jika poin sudah terkumpul dua puluh, maka anak-anak akan dapat hadiah dengan dibelikan mainan baru atau jalan-jalan tamasya. Anak-anak pun segera pergi ke Taman Bacaan Masyarakat (TBM) Wadas Kelir yang saya dirikan lima tahun lalu di depan rumah.

Di TBM Wadas Kelir itu anak-anak minta dibacakan buku, setidaknya sehari akan ada minimal satu sampai lima buku yang dibacakan dan dibaca anak-anak. Di TBM Wadas Kelir itu anak-anak juga bermain lari-lar dengan teman-temannya serta mewarnai. Di TBM Wadas Kelir anak menghabiskan waktu untuk membaca, mewarnai, dan belajar dengan teman-temannya.

Kemudian kembali pulang dengan tubuh dan pikiran yang lelah menjelang sore. Anak-anak kembali minta gadget untuk menonton film kartun sambil tiduran. Anak-anak pun terlelap tidur, dan bangun segera mandi dan menunaikan sholat maghrib. Selesai sholat maghrib anak-anak minta belajar, mulai dari coret-coret, mengerjakan tugas sekolah, mengerjakan buku aktivitas, dan dibacakan buku sampai mendongeng. Kemudian dilanjutkan lagi bermain sampai kemudian terlelap tidur untuk menjalani aktivitas sehari hari.

Dari sinilah saya kemudian bisa membandingkan: saat anak-anak ada televisi dengan setelah tidak ada televisi. Dan saya melihat dan merasakan sendiri, tanpa televisi perkembangan potensi baik anak meningkat cepat dibandingkan saat ada televisi. Tanpa televisi anak-anak lebih liar, kuat, imajinatif, cerdas, dan memiliki budaya literasi yang tinggi, serta tertib makan.

Cerda, Kreatif, dan Imajinatif

Tanpa televisi, sejak bangun tidur anak-anak langsung bermain. Permainan yang dimainkan adalah permainan imajinatif, menggunakan alat-alat permainan untuk mengembangkan ide gagasan anak-anak, mulai dari cerita mobil-mobilan, rumah-rumahan, perang-perangan, dan sebagainya. Anak-anak menghadirkan imajinasinya sendiri untuk membuat mainan itu hidup dan menyenangkan. Anak-anak bertambah kreatif dan imajinatif karena sistem bermain diciptakan sendiri dengan memberdayakan pengetahuannya.

Pada awalnya adalah benda-benda mainan yang diam. Anak-anak kemudian memainkannya secara sederhana. Tapi, berkat diskusi yang intensif dengan teman-temannya, maka kemudian lahirlah permainan-permainan baru. Permainan baru yang kemudian diciptakan dengan sistem aturan baru. Aturan yang dibuat oleh anak-anak melalui kesepakatan baru. Sampai tahap kita melihat anak-anak mampu mengembangkan daya kreatif dan imajinatisinya dengan bagus.

Kemudian anak-anak akan bermain dengan aktivitas-aktivitas yang telah disepakati. Dalam bermain ini, anak-anak secara personal mengembangkan kemampuan untuk mengatasi berbagai persoalan yang dihadapi dalam bermain. Tujuannya untuk bisa mendapatkan predikat pemenang. Di sinilah anak-anak mengembangkan sistem kemampuan daya pikirnya. Anak-anak menggunakan daya pikirnya untuk mengatasi persoalan. Anak-anak pun akan memiliki kecerdasan, imajinasi, dan kreativitas yang mengagumkan.

Jika kegiatan ini dilakukan setiap hari. Kegiatan ini mendapatkan porsi waktu yang lama karena anak-anak tidak terganggu waktunya dengan menonton televisi, maka anak-anak akan semakin cerdas, kreatif, dan imajinatif. Paling tidak pengembangan kecerdasan, kreativitas, dan imajinasi anak lebih lama dan lebih bagus dengan tidak ada televisi di rumah. Dan jika ini dilakukan dalam rentang waktu yang lama karena di rumah tidak ada televisi, maka saya menyaksikan sendiri anak-anak saya tumbuh dalam keadaan sebagai anak yang cerdas, kreatif, dan imajinatif.

Pertumbuhan Badan dan Gerak

Tanpa televisi di rumah, saya pun menyaksikan sendiri pertumbuhan tubuh yang bagus. Bermain dengan seluruh gerak tubuh menjadikan anak cepat lapar, makan yang dulu menjadi persoalan sekarang tidak. Setelah bermain, anak-anak cepat menjadi lapar, maka anak langsung minta makan, dan anak-anak makan dengan lahap tepat pada waktunya.

Jika ada buah-buahan kesukaannya langsung disantap. Bahkan, sering pesan buah-buahan dan makanan kesukaannya. Bermain telah mengkondisikan tubuh yang lapar dan suka makan. Saya pun menyaksikan pertumbuhan tubuh anak-anak saya yang baik, dengan ditunjang fisik yang baik. lincah dalam bergerak dan berlari karena dalam bermain selalu melakukan gerakan yang aktif.

Ini berimplikasi pada sakit yang mulai jarang dialami pada anak. Tanpa televisi anak-anak saya menjadi sehat fisiknya. Aktif bergerak motoriknya. Kuat badannya. Dan memiliki ketangkasan yang baik dibanding dulu saat televisi menjadi hiasan rumah yang menyedot banyak perhatian dan waktu anak-anak untuk menonton berjam-jam sambil tiduran.

Kepekaan Sosial

Anak-anak juga tumbuh dengan kepekaan sosial yang bagus. Setiap hari anak-anak bermain dengan teman-temannya. Bermain dalam memainkan sistem permainan yang mereka buat sendiri dengan aneka media dan benda-benda yang dipilih. Dari sini proses interakasi dalam sistem virtual yang dibentuk anak-anak terjadi. Interasksi pun terjadi antaranak dengan baik.

Jika anak sendirian tanpa teman, anak sering murung. Anak pun kemudian keluar rumah mencari temannya. JIka mendapatkan teman rasa bahagia bersemi dalam sikapnya. Dan segeralah terlibat interaksi yang menarik melalui kegiatan bermain. Dalam situasi bermain inilah, anak-anak akan tumbuh karakter sosialnya yang mengagumkan.

Saya hampir setiap hari melihat anak-anak berbagi jajan atau makanan. Bekerja sama dalam menyelesaikan sesuatu persoalan. Dan tentu saja, yang tidak bisa dihindari adalah pertengkaran. Pertengkaran yang membuat anak-anak terlatih menyelesaikan persoalan internalnya. Untuk berani minta maaf dan memaafkan karena anak saling membutuhkan aktivitas bermain. Sebab tanpa televisi anak-anak tidak punya pelarian untuk menyendiri.

Di rumah sendirian tanpa televisi itu menyiksa. Bermain di rumah sendirian itu tidak menyenangkan. Dorongan ini membuat anak-anak merasakan kebutuhan penting tentang teman. Teman yang akan mengisi hari-hari menjalani kehidupan di rumah tanpa televisi. Kehidupan yang pada akhirnya diisi dengan kegiatan bermain menyenangkan dengan teman. Melalui kegiatan bermain bersama teman ini, sikap dan karakter sosial anak dibentuk dengan baik.

Kemampuan Literasi

Tanpa televise, saya menyaksikan sendiri, anak-anak saya memiliki kemampuan literasi yang bagus. Pada mulanya saat capek mengantuk anak-anak minta dibacakan buku. Kemudian anak-anak jatuh cinta dengan buku, dan saat saya mengapresiasi dengan memberikan poin untuk meraih hadiah jika membaca buku, membuat anak-anak semakin senang membaca atau dibacakan buku.

Sehari akan ada satu sampai lima buku cerita pendek yang dibaca atau dibacakan. Tanpa televisi kebutuhan literasi anak dapat dipenuhi dengan sempurna. Buku menjadi teman dalam keadaan gundah gulana. Perasaan yang dulu biasa dipenuhi dengan menonton televisi, sekarang dipenuhi dengan membaca atau dibacakan buku.

Ini membuat anak-anak tumbuh dalam literasi yang bagus. Saya tidak pernah mengajari secara langsung apalagi memaksa untuk membaca, menulis, dan berhitung. Tapi, anak-anak saya, sejak pendidikan anak usia dini, sudah bisa membaca, menulis, da berhitung dengan baik. ini semua dibentuk karena  kemampuan literasi yang bagus saat di rumah tanpa televisi.

 Tentu saja, saya menyadari, dengan adanya televisi, anak-anak kita sesungguhnya bisa tumbuh dan berkembang maksimal juga. Tapi, karena pengalaman subjektif saya yang kurang baik dengan keberadaan televisi, terutama dari tayangan televisi yang tidak baik bagi anak-anak, memutuskan rumah tanpa televisi menjadi pilihan terakhir. Pilihan yang membawa saya menemukan banyak hal menakjubkan pada diri anak-anak setelah mengisi hari-harinya bermain dan belajar.

Dan sebenarnya, banyak hal yang pasti lebih menakjubkan lagi, tetapi untuk mengungkapkan semuanya membutuhkan riset yang detil dan pengalaman yang kompleks untuk mengungkapkannya. Namun, setidaknya, dengan apa yang sudah saya ceritakan, semoga memberikan kesadaran penting bagi orang tua, yang mengalami persoalan sama dengan saya, untuk berani membuat televisi dari rumah karena rasa cinta yang lebih pada anak. Bukan rasa cinta untuk memenuhi rasa senang anak, tetapi rasa cinta untuk tumbuh kembang yang baik untuk anak-anak kita, yang barangkali, bisa dipenuhi dengan melepas ketergantungan anak-anak kita pada televisi.

 

HERU KURNIAWAN

Pengajar di Institut Agama Islam Negeri Purwokerto dan Founder Rumah Kreatif Wadas Kelir

Comments

comments

3 replies
  1. kangsupris says:

    selama tv benar2 mendidik..dan tidak terlalu lama menontonnya..maka menurut sy baik2 saja…namun kenyataannya…banyak acara tv yg keliatannya aman untuk anak tp malah isinya ada lagu2 dewasa..atau adegan yg kurang pas untuk anak…jadi..sy memilih tanpa tv pak..hehe..

    Reply
  2. Saino says:

    pilihan yang tepat walau kita sendiri harus berkorban perasaan sepi hiburan untuk mendapatkan generasi kita yang akan tumbuh kembang dengan kreatifitas, minat baca dan mandiri, saya pun sedang mencoba menjauhkan semua bentuk permainan game dengan anak walaupun belum menemukan solusi pengganti permainan yang mendidik dan berkreatifitas.

    Reply

Leave a Reply

Want to join the discussion?
Feel free to contribute!

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *