MENEMPEL SLOGAN BUKU DI DINDING RUANG-RUANG KELAS

dibaca normal:5 menit

“Jangan risaukan penderitaan hari ini, jalani saja dan lihatlah apa yang akan terjadi di depan. Karena yang kita tuju bukan sekarang, tapi ada yang lebih besar dan prinsipil, yaitu manusia yang telah menemukan misinya.”

~ A. Fuadi, Novel Negeri 5 Menara

 

 

Saya masih ingat benar kalimat ini terpampang di atas papan tulis kelas. Saat pertama kali saya naik kelas 2 SMP, wali kelas saya langsung memimpin untuk menghias kelas kami. 36 anak yang satu kelas mempunyai ide untuk menghias dengan origami dan gambar-gambar. Namun, ibu guru bilang, “Tidak!”

“Kenapa, Bu?” kami mirip paduan suara.

“Kita akan pajang hasil karya kalian dan quote dari buku.”

Kami semua bengong. Ibu guru langsung mengambil satu quote “Man Jadda Wa Jada” sebagai langkah awal membuat hiasan kelas. Kami pun mengikuti perintah Bu Guru. Kami tempel tepat di atas papan tulis. Setiap hari yang saya baca saat menunggu pelajaran dan istirahat, kalimat itu. Kalimat yang tertempel rapi dengan warna-warni kertas asturo yang menempel di atas papan tulis. Kalimat inspiratif dari sebuah novel. Entah novel apa itu, tapi saya mulai termotivasi. Namun, saya malu untuk menanyakan ke Bu Guru arti dari beberapa kata yang belum saya mengerti.

Saat jam pelajaran Bahasa Inggris, Pak Hartoyo masuk kelas. Guru paling lucu yang selalu membuat saya tak henti-hentinya tertawa saat beliau sedang menjelaskan beberapa kalimat bahasa Inggris dengan nada bahasa Jawa-nya.

“Wah, kalimat apa ini?” tanya Pak Hartono menunjuk catatan di atas papan tulis.

“Itu kalimat dari Bu Rini, Pak! Katanya dari novel,” jawab ketua kelas.

“Kalian tahu tentang kisah di dalam novel itu?”

Kami menggeleng-geleng kepala.

“Cerita seorang Alif. Ia seperti berdiri di puncak dunia. Dia telah mengelilingi separuh dunia. Tulisannya tersebar di banyak media, dan diwisuda dengan nilai  terbaik. Dia yakin pasti akan ada perusahaan-perusahaan besar yang menerimanya. Tapi, Alif lulus di saat yang tidak tepat. Dia lulus saat krisis ekonomi di Indonesia. Satu per satu, surat penolakan kerja datang padanya. Kepercayaan dirinya mulai goyah. Bagaimana dia bisa menggapai mimpinya?”

Kami menggeleng-gelengkan kepala lebih cepat.

“Ya, kalian baca saja novelnya. Inspiratif, keren sekali pokoknya!”

“Yaaaah, bapak. Lanjut, pak!” protes kami.

“Kapan pelajarannya, kalian maju satu-satu dulu pidato bahasa Inggris baru saya lanjutkan.”

Dengan wajah manyun dan hela nafas kami mengakhiri pembicaraan. Ah, rasanya kesal saat sedang asyik-asyiknya menyimak cerita, kata tanya itu menjadi akhir cerita. Wajah penasaran saya menjadikan saya benar-benar ingin bertanya pada bu Rini.

Kelas saya bertemu dengan Bu Rini hanya seminggu sekali karena beliau guru BK (Bimbingan Konseling). Saat datang beliau membaca satu slogan lagi yang akan di tempel di bawah jam dinding.

“Man Jadda Wa Jada”

Asing sekali kalimat itu di telinga saya. akhirnya saya memberanikan diri untuk bertanya.

“Bu, ini kalimat-kalimat apa, Bu? Saya jadi penasaran.”

“Ya, ibu memang sengaja membuat kalian penasaran,” jawab Bu Rini sambil tersenyum.

“Loh, kok?”

“Kita hari ini akan ke perpustakaan, ikut ibu saja!”

Baiklah. Saya ikuti permainan Bu Rini. Rasa penasaran saya membuat saya menjadi begitu penurut pada beliau. Kami segera membantunya memasang slogan itu di kelas dan kami berjalan ke perpustakaan sekolah.

Sampai di perpustakaan, kami mengikuti Bu Rini menuju ke arah rak buku novel. Di sana ada cukup banyak novel tenlit, pertemananan, lucu, dan lebih banyak macamnya.

“Silahkan kalian cari novel Negeri 5 Menara, jika ada yang tidak kebagian boleh baca seri lainnya. Waktu dua jam pelajaran ibu untuk membaca novel itu.”

Kami melongo mendengar perkataan Bu Rini. Namun, karena terlanjur penasaran saya pun langsung mencari novel itu. Rak nomor 1 barisan paling bawah dan bersampul agak kusam. Saya temukan novel Negeri 5 Menara. Saya baca pelan dan menemukan Alif, tokoh dari novel tersebut. Saya baca lembar demi lembar. Kagum, sedih, bangga, rasanya menjadi merasakan jadi tokoh yang ada di dalam buku. Dan akhirnya saya temukan kalimat di atas papan tulis yang pernah Bu Rini tempelkan. Saya pun menjadi semakin penasaran dan terus membaca hingga saya temukan kalimat yang ada di bawah jam dinding.

“Waktu habis! Oke, apa yang sudah kalian dapatkan?”

“Ada slogan yang ibu tempel di dalam buku ini,” jawab saya.

“Tepat! Saya memang sengaja menempel slogan itu agar kalian selalu termotivasi. Buku itu, selalu membuka wawasan, memberi inspirasi, memberi motivasi. Buku selalu membuat mata kita lebih lebar, berbinar-binar, membuat mimpi kita makin dekat, dan selalu ingin berjuang.”

Cuplikan kisah ini yang mendorong saya untuk suka membaca. Setiap slogan yang dibawa tiap kali pertemuan dengan Bu Rini kami tempel, setiap kalimatnya selalu ada motivasi dan membuat inspirasi bagi saya. Ruang kelas yang tadinya hanya tempelan satu dua kertas kini, dari tiap sudut dinding yang mudah di baca tertempel slogan-slogan buku yang telah kami baca. Kelas kami penuh dengan slogan yang kini kami dapatkan sendiri.

Bu Rini selalu tersenyum saat setiap kali masuk ada slogan-slogan baru yang menempel di dinding-dinding kelas kami. setiap kali kami membaca buku baru kami mengutip satu, dua hingga tiga kalimat inspiratif yang terdapat dalam buku. Gerakan kelas saya diapresiasi oleh kepala sekolah. Kelas kami diberi buku-buku bacaan dan dicanangkan sebagai lomba slogan buku di tiap kelasnya.  Tempelan slogan-slogan di dinding ruang-ruang kelas menjadi hiasan yang indah.

Saya membayangkan jika ada dinding ruang-ruang kelas yang tertempel slogan-slogan buku, saya yakin akan ada banyak anak-anak yang suka membaca. Mereka begitu mengagumi kalimat-kalimat demi kalimat yang ada. Rasanya tergugah hati untuk selalu ingin membaca. Setiap ada kesempatan untuk sekadar menengok kanan kiri, depan dan belakang, ada banyak kalimat inspiratif yang ingin selalu diingat dan diperjuangkan. Tidak ada kalimat negatif. Hanya ada kalimat harapan, impian, masa depan, dan rencana berjuang untuk menjadi yang kita inginkan mendatang.

Saya menyadari, sebagai seorang guru dan orangtua, kita harus bisa mengutip kata inspiratif yang dapat membuat penasaran, membuka wawasan, dan membuat banyak pertanyaan bagi anak. Karena rasa penasaranlah yang sebenarnya membuat anak mulai suka melakukan sesuatu. Proses ini yang harus kita manfaat untuk membuat anak penasaran dengan buku. Melalui slogan yang ditempel di dinding ruang-ruang kelas anak akan mulai penasaran dengan tulisan yang menempel di kelasnya. Di situlah kesempatan untuk guru, untuk bisa memasukkan keinginan anak untuk membaca dan mengajaknya membaca.

Jadi, menempel slogan di dinding ruang-ruang kelas menjadi suatu keharusan. Kelas adalah kamar bagi anak. kamar tempatnya melakukan segala aktivitas pribadi yang ia inginkan. Begitu pun kelas, ia akan melakukan aktivitas pribadi yang membuatnya merasa percaya diri ketika keluar dari ruang kamar (kelas). Siap untuk menjadi pemberani, membuktikan hasil belajar yang ia miliki. Ia akan menjadi pribadi yang lebih percaya diri saat buku-buku menjadi inspirasi dan motivasi. Cita-cita yang tinggi selalu dimiliki.

Indah bukan? Maka siapkan diri kita sebagai guru yang penuh inovasi. Satu slogan yang kita tempelkan di dinding-dinding kelas akan membawa inspirasi dan motivasi untuk anak. Dari sini kita sedang menyiapkan generasi literat yang membawa inspirasi.

 

TITI ANISATUL LALEY

Relawan Pustaka Wadas Kelir & Mahasiswa Pascasarjana UIN Sunan Kalijaga Yogyakarta

RUMAH KREATIF WADAS KELIR LIBATKAN SEMUA USIA DI GELARAN FESTIVAL LITERASI #2 MENDONGENG

dibaca normal:3 menit

Setelah sukses menggelar Festival Literasi #1 pada Februari lalu, Rumah Kreatif Wadas Kelir kembali gelat Festival Literasi #2 di bulan Maret.

Di festival yang dihelat pada Minggu, 17 Maret 2018 tersebut, Rumah Kreatif Wadas Kelir menggelar lomba mendongeng untuk empat kategori, yaitu: kategori SD, kategori SMP/SMA, kategori mahasiswa, dan kategori guru. Total peserta yang terdaftar pada gelaran tersebut adalah 70 orang.

Pesertanya pun datang dari beragam wilayah. Mulai dari dalam kota, hingga yang terjauh datang dari Kabupaten Bumiayu. Seperti contohnya serombongan mahasiswa Universitas Peradaban yang ikut meramaikan lomba mendongeng kategori mahasiswa.

Lomba mendongeng dipilih karena dongeng adalah dunia yang dekat dengan semua orang di semua usia. Dongeng merupakan “dunia dalam kata”, cerita yang begitu menakjubkan dan mempesona bagi anak-anak. Imajinasi yang dibangun melalui dongeng bisa memicu potensi-potensi harfiah yang dimiliki anak.

Ada begitu banyak manfaat  yang akan diperoleh oleh anak melalui dongeng. Dongeng bisa menstimulasi minat membaca serta memancing kepekaan psikolinguistik mereka  yang nantinya akan sangat mendukung kemampuan membaca dan menulisnya. Selain hal tersebut, ada banyak nilai-nilai moral yang bisa ditanamkan melalui dongeng. Manfaat tersebut diperoleh anak tanpa ia merasa sedang digurui.

Menurut penelitian, dalam proses perkembangannya, dongeng senantiasa mengaktifkan tidak hanya aspek-aspek intelektual, tetapi juga aspek kepekaan, kehalusan budi, emosi, seni, fantasi, dam imajinasi, tidak hanya mengutamakan otak kiri, tapi juga otak kanan.

Daya imajinasi anak dapat berkembang luas melalui dongeng. Seperti teori yang disebutkan Piaget bahwa pada saat anak berusia 2-7 tahun, ia tengah berada pada masa pengembangan kognitif pra operasional, dongeng merupakan sarana belajar yang menyenangkan.

Dari segala keunggulan mendongeng tersebut, hal baik yang dapat dirasakan orang tua dan anak dalam proses mendongeng adalah terciptanya positive bonding antara orangtua dengan anak. Dengan kegiatan mendongeng kerekatan hubungan emosi antara anak dengan orangtua dapat tebangun optimal.

Namun, belum semua orang tua menyadari betapa pentingnya kegiatan mendongeng untuk putra-putri mereka. Tidak hanya orang tua, guru, terutama guru di tahapan pendidikan dasar seperti PAUD, SD, dan SMP, juga perlu memahami pentingnya manfaat mendongeng bagi siswa/siswi mereka.

Seperti yang diungkapkan oleh Rahmah Setiawati, selaku ketua panitia kegiatan, bahwa melalui kegiatan Festival Literasi #2 tersebut, Rumah Kreatif Wadas Kelir juga ingin menumbuhkan kesadaran pada khalayak tentang manfaat mendongeng bagi anak-anak Indonesia.

Hal yang menarik, ternyata gelaran Festival Literasi #2 tersebut tidak hanya dikunjungi oleh calon-calon peserta yang ingin mengikuti lomba mendongeng. Beberapa orang tua yang sedang mempelajari teknik mendongeng untuk mendongengi putra-putrinya di rumah juga datang untuk mencari referensi.

“Biasanya belajar di Youtube aja. Eh, mumpung di sini ada lomba mendongeng, pasti banyak jagoan tampil. Bolehlah kami curi ilmunya,” tutur Bunda Hera yang datang dengan putra dan suaminya, khusus untuk melihat dan belajar teknik mendongeng dari para peserta.

Hal tersebut tentu disambut baik oleh pihak Rumah Kreatif Wadas Kelir. Sebab, Rumah Kreatif Wadas Kelir memang membuka diri sebagai tempat masyarakat belajar dan berbagi. Semoga dengan gelaran tersebut, masyarakat semakin sadar dan mencintai kegiatan mendongeng. Cita-cita sederhana yang ingin diwujudkan oleh Rumah Kreatif Wadas Kelir adalah, setiap malam di setiap rumah warga terdengar seorang ibu atau ayah yang sedang mengantar anaknya tidur dengan mendongeng. Sebab, dongeng mengandung banyak informasi baru bagi anak. Hal ini menjadikan anak senang terhadap pengetahuan, dan anak akan membangun persepsi yang positif tentang sebuah buku. Dongeng dapat pula menjadi metode penanaman moral bagi anak. Banyak sekali pesan moral yang dapat diajarkan kepada anak melalui dongeng, tanpa mereka merasa sedang diajari atau dinasehati.

 

ENDAH KUSUMANINGRUM

 Relawan Pustaka Wadas Kelir & Mahasiswa Pascasarjana Universitas Muhammadiyah Purwokerto

 

 

 

SAAT ORANG TUA MENGATAKAN, “SUDAHLAH SEMUA TERSERAH KAMU!”MAKA KECEWALAH ANAK-ANAK KITA!

dibaca normal:5 menit

Suatu hari saya mengisi acara parenting di suatu sekolah di desa. Saat sedang duduk menunggu acara dimulai, Kepala Sekolahnya bilang begini:

 

”Saya sedih dengan anak-anak sekolah sekarang. Kemarin ada anak yang jarang masuk sekolah karena dia lebih asyik memilih bermain gadget seharian daripada sekolah. Saat dia berangkat gadgetnya kami sita. Kami pun bilang, ’kamu mau pilih sekolah atau gadget’. Di luar dugaan saya, anak itu berkata bangga, ‘lebih baik tidak sekolah asal bisa bermain gadget daripada sekolah tidak pegang gadget’”

 “Terus, kami mengadukan persoalan anak ini ke orang tuanya agar gadgetnya disita. Tapi, komentar orang tua membuat kami miris. Orang tuanya bilang ‘sudah putus asa memarahi dan menasihati anaknya untuk tidak main gadget’. Sudah berkali-kali dan tak mempan. Maka sudah ‘sana terserah kamu, nak’. Dan hasilnya anak itu begini, sering sekali bolos sekolah demi bermain gadget.”

 Saya pun hanya mengelus dada dengan masalah ini. Inilah persoalan yang sekarang dihadapi anak-anak kita.

Pertanyaannya: apa yang sedang terjadi dengan hal ini?

Inilah yang saya sebut sebagai ‘sikap putus asa orang tua’ yang berakibat fatal bagi anak-anaknya. Kita harus memahami satu hal penting: bahwa anak kita setiap harinya akan membuat persoalan. Persoalan yang kemudian membuat orang tua diuji. Melalui persoalan inilah anak-anak kita akan tumbuh dan berkembang menjadi dewasa. Tak terkecuali persoalan kecanduan anak-anak dengan gadget.

Jika kita sudah tahu bahwa anak-anak setiap harinya akan membawa persoalan, maka orang tua dituntut untuk membantu dan mendampingi anak dalam menyelesaikan persoalan yang dihadapi anak. Dalam membantu anak ini, prinsip dasar yang tidak boleh terjadi pada orang tua adalah “putus asa!”

Sikap putus asa orang tua ini biasanya diwujudkan dengan ungkapan, ”Sudah, Nak! Ayah dan Ibu menyerah menasihatimu. Sudah berkali-kali tetapi kamu tetap saja begitu. Sekarang semua terserah padamu saja!”

Saat orang tua mengatakan demikian, maka pada awalnya anak merasa senang. Sekarang kebiasaan buruknya tidak akan dilarang oleh orang tuanya. Tapi, lama-kelamaan, anak akan merasa kecewa karena sesungguhnya anak ingin diperhatikan dan dinasihati orang tuanya. Tapi, karena orang tua sudah putus asa. Anak pun akan ungkapkan kecewanya dengan terus semakin larut dalam perbuatan buruknya.

Inilah yang bahaya.

Dan saya menjumpai berbagai kasus yang bersumber dari hal ini. Misalnya, anak-anak yang sudah kecanduan gadget akut, sumber utamanya adalah orang tua putus asa dan membiarkan anaknya larut dengan gadget.

Atau, kasus anak-anak kecil yang sudah mengendarai sepeda motor dan ugal-ugalan juga bersumber dari orang tua yang sudah putus asa menasihati kemudian membiarkan anaknya dengan motornya.

Dari putus asa orang tua inilah anak-anak semakin kecewa dan kecanduan dengan kesalahannya. Kita bisa analogikan diri kita sendiri, jika kita suami atau istri melakukan kesalahan, kemudian suami atau istri kita tahu, kemudian dibiarkan saja, maka kita pasti kecewa. Dan kekecewaan ini kita ungkapkan dengan terus larut dalam kesalahan. Begitu juga anak-anak kita.

Untuk itu, apa yang harus dilakukan orang tua dalam mengatasi permasalahan yang dihadapi oleh anak-anak. Tidak ada lain adalah “damping terus” dan “jangan putus asa”. Ini rahasianya. Anak-anak kita adalah individu yang sedang belajar dengan berbagai persoalannya, baik persoalan yang disukai maupun di benci.

Mendampingi terus berarti selalu ada di samping anak, baik secara keberadaan maupun psikologi, sedangkan jangan putus asa berarti terus memerintah dan menasihati dengan tidak menyerah. Jika anak-anak kita kecanduan gadget, misalnya, maka orang tua harus terus mendampingi anak. Aktif melakukan berbagai kegiatan dengan yang membuat anak melupakan gadget.

Dan jika tahu anak bermain gadget terlalu lama, maka dengan keras melarang anak. Awalnya, anak akan marah dan kecewa, tapi demi kebaikannya kita harus tegas dalam mengatur waktu anak bermain gadget. Dan ini harus dilakukan terus menerus, kita tidak boleh menyerah dan putus asa. Anak-anak akan menggunakan berbagai cara untuk terus bermain gadget, tetapi orang tua juga terus menasihati dengan tidak putus asa, dan menggunakan berbagai cara untuk mendampingi anaknya agar tidak kecanduan gadget.

Sikap tangguh tidak putus asa orang tua dalam mendampingi anak inilah yang akan membuat hati anak luluh dan anak-anak akan sadar dengan kesalahannya. Namun, untuk menemukan titik sadar ini orang tua harus terus berjuang mendidik anak-anak tanpa putus asa. Sikap gigih kita ini nanti akan menyadarkan anak-anak kita tentang hal yang baik baginya.

Saya punya pengalaman dengan anak saya. Dari kelas satu sampai sekarang paling susah untuk bangun pagi dan sekolah. Tapi, saya dan istri saya terus tanpa bosan ingatkan sekolah. Saat kelas tiga anak saya pernah mogok sekolah. Tidak masuk sampai sebulan lebih, dan sudah mengatakan untuk tidak mau sekolah. Saya tentu saja pusing dan pening. Berbagai cara saya coba, sampai akhirnya bisa bersama dengan pihak sekolah mengatasi persoalan ini.

Anak saya pun kemudian sekolah lagi dan sekarang sudah kelas lima. Pada suatu malam saya hampiri dia. Saya ceritakan pengalaman mogok sekolah ini. Anak saya hanya tersenyum malu. Terus saya tanya, “Mafi mau tidak sekolah?”

Anak saya berteriak keras, “Tidak, Yah. Mafi mau sekolah sampai tinggi.”. Terus saya tanya lagi, “Mafi mau ayah belikan hape yang bagus tapi tidak usah sekolah.” Anak saya menjawab dengan lantang, “Tidak, Yah. Mafi lebih baik tidak punya hape asal sekolah terus. Tapi, kalau Ayah mau belikan hape, Mafi akan terima tapi Mafi harus terus sekolah.”

Saya segera memeluk anak saya karena saya dan istri saya merasa berhasil membangun kesadaran sekolah itu penting untuk anak saya setelah saya mengalami keadaan hampir putus asa karena anak mogok sebulan lebih tidak sekolah. Saat memeluk itulah saya berbisik, “Ayah, tetap belum bisa membelikan Mafi hape yang bagus sebelum lulus MI dan masuk SMP Unggulan. Itu pun, jika Mafi nanti Ayah belikan hape, ayah akan tetap membuat aturan yang ketat agar tidak kecanduan hape!”

Anak saya yang awalnya erat memeluk saya, mendengar bisikan saya mengendurkan pelukannya. Itu pertanda kecewa karena ayahnya kembali membuat aturan ketat. Aturan yang membatasi dirinya. Dan anak saya yakin bahwa aturan yang sudah dibuat Ayahnya pasti akan terus diperjuangkan habis-habisan dengan tidak putus asa.

Namun, anak saya juga pasti memahami bahwa nasihat dan aturan yang tak putus asa itu merupakan wujud kasih sayang ayahnya pada dirinya. Seperti, kasus selalu mengingatkan sekolah tanpa jera dan waktu bermain gadget, yang membuat dirinya sekarang sadar tentang pentingnya sekolah dan tidak larut dan kecanduan dengan gadget yang membuat dirinya terus berprestasi di sekolah dan masih bisa bermain lepas dengan teman dan adik-adiknya.

Di sinilah arti penting orang tua untuk tidak putus asa menasihati anak dan terus mendampingi saat anak-anak kita terperangkap dalam kesalahan dan persoalan. Semoga menginspirasi.

 

HERU KURNIAWAN

Pengajar di Institut Agama Islam Negeri Purwokerto & Founder Rumah Kreatif Wadas Kelir

PRIORITAS DAN HARAPAN YANG MEMBUATNYA MENJADI YANG TERBAIK

dibaca normal:3 menit

Rumah Kreatif Wadas Kelir, Breefing menjadi pertemuan santai saya bersama bunda-bunda Kelompok Bermain (KB) Wadas Kelir. Seperti biasanya, pukul 09.30 WIB Taman Bacaan Masyarakat (TBM) Wadas Kelir menjadi tempat kami untuk mempersiapkan kegiatan untuk mengajar anak-anak esok hari.

Literasi menjadi pengawal kami untuk memeroleh pengetahuan baru tentang PAUD. Literasi yang diisi oleh Bunda Aerin menjadi pengawal semangat bunda-bunda memelajari tentang metode Montessori. Ya, ada dua hal yang selalu saya dapatkan dari pertemuan dengan bunda-bunda ini, ide dan ketakjuban.

Ide yang saya dapatkan adalah dari literasi dan pengalaman bunda-bunda saat mengajar sebelumnya. Cerita bagaimana anak-anak mengikuti kegiatan dan kesulitan bunda-bunda dalam mengajar. Itu yang membuat saya mengangguk-angguk dan memikirkan solusi dari tiap pengalaman bunda-bunda. Memaksa saya untuk selalu bisa mencarikan solusi terbaik yang harus solutif [walau sebenarnya saya yang sedang belajar dari semua bunda].

Ada satu kalimat yang membuat kacamata saya berembun, “Saya pun punya banyak pekerjaan, namun saat breefing, ya harus dihentikan dulu. Ini hanya soal proritas, mau diprioritaskan atau tidak. Saya mencoba untuk selalu ikut untuk PAUD Kita”

Rasa memiliki yang dibuktikan dari kalimat ini membuat saya terharu. Ternyata, memang Bunda Chamdi pantas untuk menjadi bunda KB Wadas Kelir. Sosok Bunda Chamdi di mata saya memang sangat menginspirasi. Wanita yang mempunyai tiga ini, masih bersekolah di PAKET C setara SMA di Wadas Kelir.

Semangatnya untuk belajar dan mengajar menjadikan saya tak boleh mengeluh. Seorang ibu rumah tangga yang sekaligus mengelola mushola ini selalu mendukung kegiatan yang ada di Wadas Kelir. Beliau selalu ikut serta di dalam kegiatan yang kami adakan. Bukan hanya dukungan tenaga, namun menyediakan tempat dan makanan tak jarang beliau lakukan.

Tak berbeda dengan bunda Chamdi, guru yang selalu rajin membaca dan membacakan buku ke anak-anak ini selalu menjadi semangat saya saat rasa malas mulai datang. Bunda Beti, beliau selalu dipanggil oleh anak-anak. Bunda Beti mengajar juga di KB Wadas Kelir. Wanita yang selalu memperhatikan tiap kali ada orang yang berbicara di depannya adalah sosok bunda yang selalu di cari anak-anak kelas Bintang.

Sosok keibuannya yang selalu sabar saat mengajar selalu jadi idola saya saat di kelas. Bunda Beti selalu menunjukkan dirinya ingin belajar. Ia juga salah satu warga Paket C di Wadas Kelir. Semangatnya saat berangkat membawa anaknya ke kelas dengan berbagai aktivitasnya tak menyurutkan semangatnya untuk tetap berangkat dan tetap fokus memperhatikan saat pelajaran.

“Suami saya selalu bilang, kamu jangan sampai keluar dari PAUD. Biar kamu bisa belajar dari relawan. Saya pun manggut-manggut. Saya juga senang bisa ngajar di PAUD. Saya jadi banyak pengalaman dan sedikit-sedikit bisa mendidik anak saya biar ketularan kaya relawan,” tutur Bunda Beti menimpali perkataan Bunda Chamdi sambil tersenyum bahagia.

Kalimat ini membuat saya tersenyum lebar di depan bunda Beti dan saling tengok dengan Iyung Dian, istri Pak Guru. Ternyata ada harapan besar yang diinginkan oleh Bunda Beti dan keluarganya. Ini bagian ketakjuban yang selalu saya dapatkan. Rasa syukur yang mendalam bagi saya menjadi relawan di Wadas Kelir. Tak pantas rasanya, keluh kami utarakan pada mereka. Ini memang yang selalu kami katakan pada warga. Pak Guru dan relawan selalu menunjukkan semangat pada warga untuk istikomah membangun Wadas Kelir.

Dua bunda ini, salah satu bunda yang menjadi bunda terbaik di bulan Februari. Mereka menunjukkan keseriusan untuk memajukan Wadas Kelir.

 

PRIORITAS DAN HARAPAN

Jurnal relawan pustaka yang menjadi kegiatan literasi untuk guru KB Wadas Kelir, selalu dikumpulkan oleh keduanya. Tugas sebagai relawan pustaka hampir semuanya terpenuhi. Mereka bunda-bunda yang hebat. Tak hanya membaca dan membacakan buku ke anak-anak, namun menulis pengalaman anak dan pengalamannya sendiri menjadi aktivitas mereka sehari-hari. Relawan ingin mengapresiasinya dengan memberikan dua hadiah untuk dua bunda yang mendapatkan skor tertinggi di tugas relawan pustaka. Bunda Chamdi dan Bunda Beti menjadi bunda terbaik di bulan ini. Prioritas dan harapanlah yang membuatnya selalu bersemangat. Setidaknya, ini bagian dari mimpi kami. Semoga menginspirasi!

 

TITI ANISATUL LAELY

Relawan Pustaka Wadas Kelir dan Mahasiswa Pascasarjana UIN Sunan Kalijaga Yogyakarta

RUMAH KREATIF WADAS KELIR DIGANDENG IPPNU PURBALINGGA SAMBUT HARLAH DENGAN MUNCULKAN KESADARAN TOLERANSI PADA REMAJA MELALUI LITERASI

dibaca normal:3 menit

Tidak hanya bergerak di lingkup sendiri, Rumah Kreatif Wadas Kelir bekerja menghidupkan literasi ke berbagai penjuru. Salah satunya adalah dengan menjadi mitra bagi organisasi-organisasi yang bergerak untuk menumbuhkan budaya literasi di masyarakat.

 

IPPNU Purbalingga sambut harlah IPNU yang ke-64 dan IPPNU ke-63 dengan serangkaian lomba, di antaranya adalah lomba penulisan esai. Lomba tersebut mengangkat isu toleransi dan kehidupan multikultural di Indonesia. Menyasar para generasi muda, yaitu siswa tingkat SLTA, lomba tersebut diikuti kurang lebih oleh 100 siswa se-Purbalingga.

“Dewasa ini, kita melihat banyak sekali pergolakan di daerah-daerah hingga kota-kota besar di Indonesia, salah satu hal yang mendasarinya adalah sikap yang anti toleransi. Saya sangat bersyukur, Purbalingga lewat IPPNU berusaha membangkitkan gairah kaum muda bicara soal toleransi. Semoga dengan upaya-upaya seperti ini, generasi ke depan lebih sadar dan peduli akan pentingnya nilai toleransi dalam kehidupan yang amat heterogen, terutama di Indonesia,” tutur Dyah Hayuning Pratiwi, Wakil Bupati Purbalingga yang turut hadir membuka acara puncak pra-harlah tersebut.

Sabtu, 10 Maret 2018, bertempat di Dinas Perpusarda Kabupaten Purbalingga, acara puncak pra-harlah yang dihelat oleh IPPNU Kabupaten Purbalingga digelar. Puncak acara pra-harlah tersebut adalah presentasi karya tulis oleh 10 besar peserta lomba esai.

Seminggu sebelumnya, seratusan naskah esai tulisan siswa-siswi SLTA se-Kabupaten Purbalingga dikurasi oleh tim juri dari Rumah Kreatif Wadas Kelir, yaitu Heru Kurniawan, Umi Khomsiyatun, dan Endah Kusumaningrum. Rumah Kreatif Wadas Kelir dipercaya sebagai sedalam seleksi naskah hingga penentuan juara. Dari keseratus naskah tersebut dipilih sepuluh naskah yang dianggap paling layak untuk selanjutnya dipresentasikan di hadapan juri.

Kecenderungan umum yang dilihat oleh tim juri dalam proses kurasi naskah adalah teknik penulisan esai yang masih kurang tajam. Tema toleransi yang diangkat oleh panitia cenderung dimaknai secara lugas, sehingga tulisan yang dihasilkan selalu berbicara tentang toleransi secara teoretis, belum pada representasi bacaan dan pandangan penulis tentang isu toleransi. Selain itu, masih banyak sekali kesalahan ejaan dan tata tulis dalam esai.

Namun, hal-hal semacam ini masih amat dimaklumi oleh juri melihat para peserta merupakan siswa SLTA yang notabenenya masih berproses dan belajar menuliskan gagasan.

Beruntung, sepuluh naskah terbaik yang terpilih menjadi angin segar yang menghadirkan gagasan dan mencerminkan pemikiran dari para generasi muda di Purbalingga mengenai isu toleransi.

Tulisan Millatina Hanaul Azkiya contohnya, memotret isu toleransi dari sudut pandang yang dekat dengan kehidupannya sebagai remaja. Dalam esainya, ia mengulas tentang perdebatan panjang yang selalu terulang setiap tahun ketika menyambut tahun baru. Teknik penulisan esai yang ringan dengan cara membuka esai melalui cerita pengalaman merupakan hal yang ‘segar’ dan menggugah pembacanya.

Tulisan lain yang juga dianggap layak maju presentasi adalah tulisan Tania Rahayu, yang akhirnya keluar sebagai juara 1. Tulisan tersebut merepresentasikan ketajaman sudut pandang penulisnya. Banyaknya referensi dan data-data empiris yang disuguhkan oleh Tania membuatnya berhasil meyakinkan juri atas gagasannya tentang “Resolusi Toleransi di Indonesia”.

Bekerja sama dengan Wadas Kelir Publisher, esai-esai karya peserta lomba tersebut nantinya akan diterbitkan dalam sebuah antologi. Dituturkan oleh Ketua IPPNU Kabupaten Purbalingga, Mamdudatun Afriani, bahwa geliat literasi dalam organisasi IPPNU harus terus berkembang. Penerbitan buku tersebut diharapkan jadi penanda momentum dan artefak literasi yang ditinggalkan oleh pengurusan periode itu, agar terus berkembang dan dijadikan contoh periode-periode selanjutnya.

Aziz Aneko Putro, selaku koordinator lomba esai tersebut menyampaikan ucapan terima kasih atas kerja sama Rumah Kreatif Wadas Kelir dengan IPPNU Kabupaten Purbalingga. “Saya yakin, melalui literasi kita juga dapat merawat kebhinekaan. Salah satunya dengan lomba ini dan rencana kita menerbitkannya menjadi buku yang bisa dibaca oleh masyarakat luas!” tuturnya mengantar kepulangan tim Rumah Kreatif Wadas Kelir dari lokasi acara.

ENDAH KUSUMANINGRUM

Relawan Pustaka Wadas Kelir & Mahasiswa Pascasarjana Universitas Muhammadiyah Purwokerto

BELAJAR KEHIDUPAN PADA SEBATANG BAMBU

dibaca normal:3 menit

Kisah yang menyentuh hati saya, yang saya dapat teman saya yang telah meninggal dunia. Semoga kebaikannya diterima di sisi Allah.

Seorang petani yang telah menanam bambu puluhan tahun lamanya. Dari ratusan batang bambu yang tumbuh, Petani melihat satu batang bambu terbaik. Lurus menjulang dan besar bentuknya.

Pagi hari Petani mendatangi Bambu itu dengan membawa parang.

Petani:
“Bambu, aku harus menebangmu?”

Bambu:
“Kenapa harus aku yang ditebang. Bukankah di kebunmu banyak bambu-bambu lain sepertiku.”

Petani:
“Sebab kau bambu yang terbaik yang ada di kebunku. Sangat tepat untuk kubuat karya yang paling sempurna.”

Bambu:
“Baiklah jika demikian. Kau pemilikku yang berhak atasku. Jika memang menurutmu aku yang terbaik, maka tebanglah aku.”

Bambu itu kemudian ditebang dengan parang paling tajam. Tentu saja Bambu kesakitan tidak terhingga saat tubuhnya bersentuhan dengan parang. Bambu itu menjerit dan menangis.

Petani:
“Maaf Bambu setelah kutebang, aku ingin membersihkan ruasmu. Apakah kamu bersedia?”

Bambu:
“Kenapa harus dibersihkan ruasku?”

 

 

 

Petani:

“Agar aku bisa membuatmu lebih indah. Dan Untuk bisa membentukmu menjadi karya sempurna, aku harus melakukan itu.”

Bambu:
“Baiklah jika begitu, silahkan bersihkan ruasku demi karya terbaikmu. Kau pemilikku, Petani.”

Bambu memejamkan matanya menahan kesakitan tak berhingga saat ruasnya dibersihkan dengan parang yang tajam.

Petani:
“Sekarang izinkan aku untuk memtong-motongmu menjadi beberapa bagian. Apakah kamu bersedia?”

Bambu:
“Kenapa aku harus dipotong-potong? Kamu tahu sendirikan, dipotong-potong itu sakit rasanya?”

Petani:
“Tentu saja, Bambu. Aku juga sebenarnya tidak tega melakukan ini, tapi ini demi karya sempurna yang ingin kuciptakan darimu.”

Bambu;
“Baiklah jika demikian.”

Parang tajam kembali memotong bambu menjadi beberapa bagian. Bambu kesakitan tapi tetap diam menerima tuannya, menahan rasa peding yang mengkoyak tubuhnya.

Petani:
“Sekarang yang terakhir, izinkan saya untuk melubangi ruasmu dari dalam. Semoga kau bersedia.

Bambu:
“Petani, kau sudah menebangku. membersikan ruasku, dan memotongku. Kau tahu Itu sakit sekali, sekarang kau akan melubangi ruas dalamku. Ini sungguh sangat menyakitkan bagiku.”

Petani:
“Iya saya merasakan itu. Iya, ini demi karya sempurna yang ingin kuciptakan darimu. Semoga kau ikhlas merelakan.”

Bambu:
“Baiklah.”

Petani memasukan besi tajam ke dalam bambu dan melubangi ruas bambu. Bambu hanya diam menerima, dan menahan sakit tak terperi.

Sampai akhirnya karya sempurna itu terwujud. Potongan bamboo yang bersih dan berlubang dari dalam  digunakan untuk mengaliri air dari satu pematang sawah ke pematang lainnya.

Para petani sangat bahagia karena air bisa mengalir ke pematang sawahnya dan panen melimpah setiap musimnya. Dan bambu pun sangat bahagia dirinya telah berguna bagi manusia. Setiap hari melihat para petani senang bahagia di sawah, bambu merasakan hidup yang sungguh bermaknya, yaitu bahagia karena orang lain bahagia karena kita.

Barang kali demikian cara Tuhan menjadikan keluarga kita sebagai karya yang sempurna untuk bermanfaat bagi orang lain. Kita harus ikhlas menerima setiap kesakitan hidup dalam keluarga, jangan ceritakan sakitnya pada pada orng lain, tetapi yakin bahwa setiap sakit dan derita dalam kehidupan keluarga merupakan bagian dari cara Tuhan untuk jadikan kita sebagai keluarga sempurna.

Keluarga yang akan membahagiakan keluarga lainnya. Termasuk membahagiakan anak-anak kita sendiri.

 

HERU KURNIAWAN

Pengajar di Institut Agama Islam Negeri Purwokerto & Founder Rumah Kreatif Wadas Kelir

BERBAGI MOMEN SPESIAL DI AWAL BULAN UNTUK PAUD WADAS KELIR DAN TAMAN BERMAIN KITA PURWOKERTO

dibaca normal:3 menit

Sambutan awal bulan, tepatnya 1 Maret 2018, PAUD Wadas Kelir mendapatkan bantuan APE (Alat Permainan Edukatif) dari Taman Bermain Kita Purwokerto. Seperti salah satu visi Wadas Kelir yaitu berbagi, Taman Bermain (TB) Kita tenyata juga mempunyai program kegiatan berbagi untuk hari ulang tahun TB Kita.

Kegiatan berbagi yang menjadi agenda di bulan Maret untuk TB Kita menjadi momen spesial untuk anak-anak PAUD Wadas Kelir dan TB Kita. Terpaut usia yang cukup jauh, 15 tahun TB Kita berdiri dan baru dua tahun belum genap PAUD Wadas Kelir yang melatar belakangi kegiatan ini dIlaksanakan di PAUD Wadas Kelir.

Saat usai pembelajaran awal, tepatnya pukul 09.00 WIB anak-anak istirahat dan makan bersama di teras PAUD. Lewat dua mobil yang ramai terdengar suara anak-anak. Kami menengok ke arah jalan dan terlihat ada beberapa tangan-tangan kecil yang melambai. Bunda-bunda PAUD Wadas Kelir memberi sambutan salam dan senyuman hangat pada tiap anak berseragam biru yang menuju ke ruang kegiatan kami,

Pusat Belajar Masyarakat Wadas Kelir. Anak-anak TB Kita menyambut balik dengan mencium tangan bunda-bunda dan terlihat mata yang berbinar melihat gambar-gambar dinding PBM Wadas Kelir yang penuh dengan gambar-gambar edukatif. Anak-anak diarahkan untuk masuk PBM dan sembari beristirahat Bunda Anis dan Bunda Airin menyambut kedatangan anak-anak dengan perkenalan. Anak-anak antusias mengenalkan diri masing-masing dan mengenalkan ustadz dan ustadzahnya.

Lima belas menit kemudian, datanglah anak-anak dari PAUD Wadas Kelir yang telah usai beristirahat. Tatapannya langsung terfokus pada Alat Permainan Edukatif (APE) dan buku  yang berjumlah 3 kardus besar dan wajah sumringah anak-anak langsung mengerumuni APE dan buku yang dibawa anak-anak TB Kita. Bunda Wafa Aerin mengkoordinir anak-anak untuk masuk dan berkenalan dengan tiap anak yang datang dari TB Kita.

Untuk pertama kalinya anak-anak PAUD Wadas Kelir berkenalan dengan kelompok bermain lain dalam satu acara yang diadakan PAUD Wadas Kelir. Terlihat rasa senang, malu, heran, dan bingung namun ingin main bersama dari keduanya. Anak-anak saling pandang dan beberapa anak langsung saling berbaur. “Mau main di sini yang lama, asyik ada teman baru,” pendapat Afifah, salah satu anak TB Kita.

Acara yang disambut langsung oleh Founder Rumah Kreatif Wadas Kelir yang sekaligus sebagai ketua komite PAUD Wadas Kelir, diawali dengan ucapan terimakasih atas kedatangan dan kegiatan yang sangat bermanfaat bagi anak. “Terimakasih atas kedatangannya dan kegiatan berbagi yang memang perlu diajarkan kepada anak sejak dini, karena jiwa sosial yang tinggi yang dibentuk sejak kecil akan membentuk mental anak yang suka berbagi,” tutur Heru Kurniawan. Sambutan dari salah satu ustadzah menuturkan, “Kegiatan ini memang rutin dilakukan setiap tahun dan atas rekomendasi dari Pak Karso selaku pegawai di TB Kita tentang PAUD Wadas Kelir yang merupakan PAUD yang sedang merintis dan mempunyai perkembangan yang bagus, pihak pengelola memutuskan untuk ke PAUD Wadas Kelir. Saat kami survey di hari sebelumnya, ternyata memang kegiatannya cukup banyak dan mempunyai tempat yang representatif.”

Kegiatan penyambutan dan diakhiri dengan penyerahan APE diikuti oleh 35 siswa berserta 7 ustadz dan ustadzah dari TB Kita dan 40 siswa  beserta 8 bunda dari PAUD Wadas Kelir dengan penuh kehangatan. Perkenalan anak-anak dari TB Kita, bermain bersama, dan berbagi yang diwakili oleh dua orang dari masing-masing sekolah diakhiri dengan tepuk tangan. Foto bersama APE dan ucapan terima kasih dari anak-anak PAUD Wadas Kelir menutup perjumpaan pagi itu. Anak-anak mengantar sampai ke halaman.

Binar mata anak-anak PAUD Wadas Kelir menyambut APE dan buku yang dibawa oleh TB  Kita membuat anak-anak semakin bersemangat untuk berangkat sekolah.

 

TITI ANISATUL LAELY

Relawan Pustaka Wadas Kelir

 

 

 

 

 

 

 

NAK, TAHUKAH KAMU, LIMA HAL YANG MEMBUAT ORANG TUAMU BANGGA PADA ANAKNYA?

dibaca normal:3 menit

“Nak, tahukah kamu, lima hal yang membuat orangtuamu bangga padamu,” tanya saya pada seorang anak yang berkunjung di Wadas Kelir.

Anak itu diam berpikir sebelum kemudian nyengir dan menggelengkan kepala, “Tidak tahu, Pak Guru!”

“Baiklah, akan aku ceritakan padamu, ya. Orang tua akan bangga pada anaknya jika anaknya melakukan lima hal ini!”

Pertama, Ibadah.

Jika kamu rajin sholat, puasa, dan selalu mengaji, maka bapak-ibu akan bahagia. Senang melihatnya. Bangga telah melahirkanmu, Nak. Kau akan jadi anak harapan kedamaian dunia dan akhirat Ayah-Bundamu.

“Yang, selanjutnya, saya tahu Pak Guru!”

“Apa, sebutkan!”

Kedua, Berbakti.

“Berbakti pada Ayah-Ibu!”

“Betul sekali, Nak.Jika kau bisa menjadi anak yang penurut. Selalu mendengarkan nasihat Ayah dan Ibu. Melakukan yang diperintahkan Ayah dan Ibu. Maka Ayah-Ibumu akan senang dan bahagia. Kau pasti anak yang penuh kasih sayang pada orang tua.”

“Selanjutnya aku juga tahu, Pak Guru”

Ketiga, Rajin Belajar.

“Rajin belajar!”

“Betul sekali, Nak. Jika kau rajin belajar. Rajin sekolah. Prestasi di sekolahmu bagus. Kau selalu juara. Mendapat banyak prestasi dan beasiswa. Pasti Ayah-Ibumu akan berlinang air mata saat mengantarmu ke sekolah, dan akan senang bahagia saat bercerita kehebatanmu di hadapan keluarga besarmu atau tetanggamu. Kau anak yang cerdas dan pintar.”

“Apakah, yang keempat kau tahu, Nak?”

Anak itu menggelengkan kepala.

Keempat, Sehat!

“Saat kau sakit, Ayah Ibumu sedih tidak?”

“Sedih Pak Guru, menungguiku semalaman, sampai tidak bisa tidur. Dan wajahnya lelah.”

“Iya, Ayah-Ibumu tidak ingin anaknya sakit. Maka rajinlah olah raga. Rajin bermain.Makan tepat waktu. Makan makanan yang bergizi. Minuman yang sehat.Jangan membeli makanan yang tidak sehat dan berbahaya, sehingga kau selalu sehat menemani Ayah dan Ibu, Nak. Itu akan emmbuat Ayah dan Ibumu senang melihat anaknya sehat.”

“Yang kelima apa, Pak Guru?”

Kelima, Anak yang baik.

“Jadilah anak yang baik. Anak yang penuh kasih sayang dan kebaikan pada teman-temanmu. Setiap kali banyak temanmu yang main ke rumahmu dengan senang, maka sungguh Ayah-Ibumu itu senang dan bahagia. Karena anaknya adalah anak yang baik. Memiliki banyak teman, dan sangat disukai teman-temannya. Ini membuat Ayah dan Ibu yakin bahwa karktermu itu mulia.”

“Indah sekali, kan, Nak. Jika kita bisa menjadi anak seperti yang saya jelaskan tadi. Pasti Ayah-Ibumu akan bahagia dan bangga padamu, Nak.”

Anak itu hanya diam. Semoga merenungkan nasihat saya.

“Pak Guru berangkat ke kantor dulu, Nak. Silahkan membaca buku dulu ya. Sebab rajin membaca akan membuatmu pintar, dan Ayah dan Ibumu selalu ingin anaknya pintar.”

Saya kemudian memberikan Majalah Bobo untuk dibaca. Saya meniggalkan anak itu di rumah saya dengan harapan: semoga anak-anakku juga bisa memiliki kelima sifat yang sudah saya ceritakan.

 

HERU KURNIAWAN

Pengajar di Institut Agama Islam Negeri Purwokerto & Founder Rumah Kreatif Wadas Kelir

KISAH AYAHKU, YANG MENGAJARIKU TANGGUNG JAWAB DARI PANEN PADI YANG TERSIMPAN DI HATI

dibaca normal:2 menit

“Yah, Minggu depan aku harus membayar kuliah?”

Ayahku hanya diam. Kemudian menatapku tajam. Seperti tahu dengan segala keresahanku.

“Pasti, Nak. Kuliahmu itu yang utama!”

Mendadak saya teringat hari-hari di rantau. Banyak waktu yang saya sia-siakan. Banyak waktu yang saya gunakan untuk bermain sehingga jauh dari pada belajar. Saya sedih. Saya merasakan bersalah melihat raut wajah Ayahku yang tak bisa menyembunyikan kebingungannya bila diminta soal uang kuliah.

“Terus kapan Ayah memberiku uang?”

“Besok!”

Esok harinya, Ayahku mengajakku ke sawah. Aku diperlihatkan hamparan padi yang mulai menguning.

“Inilah yang akan membiayaimu, Nak!”

Aku hanya menatap bengong. Hamparan padi hasil kerja keras Ayah dan Ibuku. Mendadak seorang lelaki datang. Aku kenal dia. Dia adalah juragan padi yang biasa membeli pada para petani di kampungku.

“Bagaimana? Apakah sepakat harganya?” katanya pada Ayahku.

“Tentu saja. Uangnya serahkan pada anakku.”

Kemudian lelaki itu menyerahkan uang penjualan padi itu padaku. Aku bergetar menerimanya. Serasa ada beban berat yang mengguncang pundakku. Aku semakin bersalah pada Ayahku.

Setelah uang itu saya terima. Dengan penuh kasih Ayahku berbisik, “Nak, itu uang buat bayar kualiahmu. Jangan sia-siakan. Itu semua adalah kerja keras Ayah dan Ibumu. Kuliah yang benar biar baik nasibmu!”

Aku mendadak meneteskan air mata. Aku bertekad untuk tidak sia-siakan waktu kuliahku.

Sekarang aku menyadari inilah cara terbaik mendidik anak agar tahu betapa semua bersumber dari keringat Ayah dan Ibuku yang tidak boleh kusia-siakan. Sekalipun berat, tapi barangkali ini menjadi cara terbaik orang tua dalam memberikan tanggung jawab pada anaknya. Dan saya pernah merasakan sensasi perasaan itu dari Ayah dan Ibuku.

 

HERU KURNIAWAN

Pengajar di Institut Agama Islam Negeri Purwokerto & Founder Rumah Kreatif Wadas Kelir

MENGENAL SOSOK PAHLAWAN MELALUI OUTING CLASS PAUD WADAS KELIR KE PEMADAM KEBAKARAN

dibaca normal:2 menit

Rumah Kreatif Wadas Kelir, “Pahlawan adalah orang yang mau berkorban untuk orang lain,” kata Snerayuza (Nera), salah satu anak berumur lima tahun di PAUD Wadas Kelir, yang ditanya arti pahlawan oleh petugas pemadam kebakaran. Dua jempol langsung ditujukan ke Nera oleh petugas.

Pengenalan sosok pahlawan dari profesi pemadam kebakaran menjadi awal pengenalan tentang profesi pemadam kebakaran dan fungsi dari mobil pemadam kebakaran. Anak-anak memperhatikan dengan saksama apa yang dijelaskan oleh petugas. Penjelasan yang menarik dan pemakaian beberapa baju pemadam kebakaran membuat anak semakin fokus dengan petugas yang sedang mempraktikkan saat terjadi kebakaran. Diselingi dengan gelak tawa anak-anak yang mengatakan bajunya seperti robot membuat suasana lebih menyenangkan.

Saat anak ditanya tentang pekerjaan pemadam kebakaran semua menjawab tahu. Read Aloud yang dilakukan bunda-bunda PAUD Wadas Kelir, telah tampak dari jawaban anak-anak. Anak-anak sudah tahu profesi pemadam kebakaran dan cara memadamkan api saat terjadi kebakaran. Anak-anak malah bertanya tentang pakaian dan benda-benda yang mudah terbakar sebagai pembuktian. Saat mengenali secara langsung, anak-anak menjadi sangat antusias dan ingin mencobanya.

Petugas pemadam kebakaran mengajak anak untuk mencoba baju yang dipakai oleh pemadam kebakaran, cara menyemprotkan air pada api hingga padam, dan menaiki mobil pemadam kebakaran. “Asyik banget, Bun. Mau jadi pemadam kebakaran,” celetuk salah satu anak saat mencoba memadamkan api. Anak-anak perempuan yang cenderung takut, akhirnya mau mencoba untuk menjadi seorang pemadam kebakaran, bahkan ada yang sangat berani untuk mau memadamkan apinya sendiri dan memakai baju pemadam kebakaran.

Kegiatan outing class yang dilaksanakan Sabtu, 7 Maret 2018 begitu mengesankan untuk anak-anak PAUD Wadas Kelir. Diakhiri dengan bermain, makan bersama dan memberi makan ikan di Balai Kumambang anak-anak mengikuti semua kegiatan dengan riang gembira. “Kegiatan ini untuk menciptakan keakraban anak-anak dan bunda-bundanya dan mengajarkan anak mandiri karena orangtua tidak ikut. Perjalanan dari Wadas Kelir ke Dinas Pemadam Kebakaran yang ditempuh sekitar 30 menit dilalui dengan nyanyi bersama. Anak-anak terlihat mengikuti dengan antusias dan memberi tanggapan positif tentang sosok pahlawan seorang pemadam kebakaran,” jelas Dian Wahyu Sri Lestari, kepala PAUD Wadas Kelir.

Kalimat terakhir yang paling diingat anak-anak saat meninggalkan dinas pemadam kebakaran ialah “Pantang pulang sebelum padam”. Penjelasan yang disampaikan oleh petugas pemadam kebakaran untuk mengedukasi tentang api yang bersahabat dan tidak bersahabat menjadi oleh-oleh untuk orangtua.

Titi Anisatul Laely

Relawan Pustaka Wadas Kelir