MENJADI SOSOK TOKOH DI DALAM BUKU

dibaca normal:4 menit

Saya pernah merasa kebingungan saat guru saya baru masuk kelas. Penampilannya aneh. Tidak seperti biasanya. Memakai topi seperti pesulap, dasi panjang di lehernya, dan tongkat kecil. Saya dan teman-teman di kelas saling pandang satu sama lain dan bertanya, “apa itu?”

“Ha, ha, ha” suara tawa kami. “Bapak sedang apa? Kok memakai pakaian seperti itu?” tanya saya.

“Bapak sedang menjadi seorang Herry Potter. Kalian mau tahu ceritanya?”

Aku mengangguk pelan. Teman-teman pun juga. Pak Guru tak mau menceritakannya. Hanya memberikan pernyataan bahwa Herry Potter seorang penyihir cilik yang hebat. Saya menjadi semakin penasaran. Setiap kali mengajar ada saja yang perkataan Harry Potter. Sepertinya saya telah terteror dengan Harry Potter. Teman-teman saya pun bertanya-tanya siapa Harry Potter.

Hari kedua, dengan penampilannya yang masih sama, Pak Guru membawa foto Harry Potter. Saya menjadi ada bayangan tentang sosok Herry Potter. Pak Guru menunjukkan kehebatan Harry Potter hingga genap satu minggu berjalan. Di akhir pekan, Pak Guru membawa novel Harry Potter dan menunjukkan tujuh serinya, saya dan teman-teman pun terkejut. Setebal itu? Dalam bayangan kami, baca buku pelajaran saja kami tidak telaten apalagi membaca setiap halaman novel yang berjumlah tujuh seri itu.

Namun, di minggu kedua, Pak Guru semakin membuat saya kagum tentang Harry Potter dan bertanya-tanya dalam hati tentang ceritanya. Akhirnya, saya mulai memegang buku itu dan membolak-baliknya. Teman-teman juga sudah mulai menghampiri buku yang berada di pojok kelas sebelah meja Pak Guru. Saya membaca beberapa halaman dan mulai menanggapi soal Harry Potter saat pelajaran.

Aku merasa senang bisa berdiskusi tentang Harry Potter dan tahu ceritanya. Beberapa teman yang mendengarkan tanggapanku pun mulai penasaran. Sampai akhirnya, kami semua di kelas membicarakan tentang Harry Potter dari novel-novelnya. Hampir satu bulan, saya dan teman-teman mengenal sosok Harry Potter. Beberapa teman bahkan sudah membaca hingga selesai.

Pak Guru mulai berganti kostum dan mengajar dengan suara tegas dan seperti berpidato. Sosok Bung Karno yang sedang dimainnkannya. Hampir selama satu tahun di SMP saya disuguhi sosok-sosok yang luar biasa. Mulai dari tokoh dalam novel, biografi bung karno, kisah nabi, hingga dongeng-dongeng klasik yang membuat saya suka sejarah.

Pelajaran IPS yang dulu menjadi pelajaran yang paling menyebalkan diubah menjadi pelajaran yang paling menyenangkan bagi saya. Setiap hari saya dihantui rasa penasaran dengan buku-buku sejarah. Saya lebih banyak mengenal tentang sosok-sosok pejuang dan orang-orang hebat di dunia.

Dari pengalaman saya ini, saya memahami bahwa hobi membaca berawal dari guru saya yang selalu menjadi sosok tokoh dalam buku. Mau tidak mau rasa penasaran muncul karena melihat begitu hebatnya guru saya menyulap suasana kelas menjadi kehidupan dari sosok yang diperankan. Itu membuat saya begitu penasaran dengan buku biografi. Setiap kali saya ke toko buku, pertama yang saya lihat adalah buku biografi.

Saya selalu kagum dengan buku-buku biografi dari orang-orang hebat negeri ini dan dunia. Kisah inspiratif dari perjuangan tokoh pendidikan, sejarawan, sastrawan, pahlawan, ilmuwan, dan sosok-sosok orang yang mengubah dunia menjadikan saya suka membaca.

Ide-ide hebat yang cemerlang saya temukan di setiap lembar buku biografi. Kecintaan saya terhadap buku membuat saya semangat untuk belajar. Rasa malu terhadap tokoh yang menginspirasi saya membuat saya pun tidak patah semangat untuk berjuang. Itu yang menginspirasi saya menjadi seorang guru. Bagi saya menjadi guru pilihan yang menyenangkan untuk membuat anak suka membaca.

Melalui ruang kelas, buku-buku pelajaran dan perpustakaan, guru dapat menginspirasi anak untuk suka membaca. Sosok yang ditampilkan dengan wawasan yang luas tentang tokoh dalam buku, akan membuat anak tertarik dengan tokoh. Saat itu, ambillah buku, tunjukkan padanya wajah dari tokoh dalam buku dan sediakan buku-buku tentang tokoh tersebut. Saat istirahat berlangsung, satu, dua, bahkan tiga sampai delapan anak akan ada yang menghampiri buku-buku itu. Ingin mengetahui sosoknya lewat membaca buku.

Seperti yang saya saksikan di kelas saya. Kelas Sekolah Literasi Wadas Kelir, kelasnya anak-anak desa yang ingin bermain di sore hari. Saya hanya membawa uang seribu rupiah. Ada sosok perempuan Aceh di uang seribu rupiah. Sosok Cut Meutia saya tampilkan di depan anak-anak. Mereka bertanya-tanya tentang sosok Cut Meutia. Saya hanya memberi tahu buku tentang Cut Meutia ada di Gerobak Baca TBM Wadas Kelir dan untuk sekolah literasi minggu depan akan saya kenalkan  lagi tentang sosoknya. Beberapa hari setelah saya mengajar ada perbincangan kecil dari anak-anak yang sedang duduk sambil mewarnai.

“Aku tanya sama bu guru di sekolah, masa tidak tahu Cut Meutia?”

“Aku juga, tapi aku sudah baca bukunya tadi di TBM. Dia salah satu dari tujuh srikandi Aceh,”

“Oh, ya! aku belum baca yang itu. Aku cuma baca dia punya anak satu yang selalu dibawanya mengembara  ke hutan rimba. Kamu baca buku yang mana? Aku mau baca juga.”

Sungguh indah mendengar perbincangan anak-anak ini. Ada rasa ingin tahu yang tinggi membuatnya haus akan membaca. Tak puas dengan buku yang dibacanya, ia akan membaca buku lain yang membuat anak semakin tahu tentang sosok dalam buku.

Karena itu, menjadi sosok tokoh di dalam buku suatu keharusan. Suasana kelas yang dibangun melalui tokoh dalam buku akan menjadi kelas yang mempunyai perbincangan hebat tentang tokoh melalui buku yang telah dibacanya. Akan ada kompetisi kecil tentang keseruan anak-anak dari membaca buku.

 

TITI ANISATUL LAELY

Relawan Pustaka Wadas Kelir & Mahasiswa Pascasarjana UIN Sunan Kalijaga Yogyakarta