PAKET B DAN C WADAS KELIR GELAR PENTAS DRAMA, SUKSES KOCOK PERUT WARGA!

dibaca normal:3 menit

Sabtu, 28 April 2018, malam Minggu di Rumah Kreatif Wadas Kelir ramai dengan orang-orang berkostum pantomime dan berkebaya ala-ala jadul (zaman dahulu). Mereka adalah para warga belajar Paket B dan Paket C Wadas Kelir yang akan unjuk gigi mementaskan pertunjukan di panggung Café Baca “Pentas Seni dan Literasi” edisi bulan April.

Para warga belajar yang berasal dari lintas usia, mulai dari usia remaja hingga usia lanjut (nenek-nenek) telah semangat berlatih sejak dua minggu terakhir. Setiap malam, meski gerimis, hujan lebat, lelah sepulang kerja, sambil membawa anak, mereka semua tetap giat berlatih teater demi pentas!

Kegiatan tersebut sebenarnya merupakan praktikum mata pelajaran kesenian yang diampu oleh Tutor Khotibul Iman. Ide pementasan tersebut tercetus dari keinginan memberikan pengalaman berkesan dan menambah semangat belajar para warga-belajar. Sebab, sebagian besar dari warga-belajar belum pernah memiliki pengalaman berpentas, apalagi pentas drama, pantomim, hingga musikalisasi puisi.  Maka, kesempatan tersebut agaknya juga tidak disia-siakan oleh para warga-belajar agar menjadi momentum paling berkesan selama setahun terakhir belajar di Paket Wadas Kelir.

“Deg-degan banget mau pentas dari semalem. Kepikiran lupa adegan, lupa dialognya. Terus nanti ditonton anak sama suami. Seneng-seneng malu,” tutur Puput Sefniati, salah satu warga-belajar yang dalam kesehariaannya cukup pemalu dan pendiam.

Beberapa warga-belajar di Paket Wadas Kelir memang memerlukan motivasi lebih agar selalu semangat datang ke sekolah dan berporses aktif di kelas. Ada beberapa yang jika ditanyai tutor selalu menjawab dengan ragu-ragu, malu, atau dengan suara yang amat pelan serta menunduk malu. Maka, melalui kegiatan ini pula diharapkan dapat menumbuhkan rasa percaya diri dan saling memiliki dalam lingkungan belajar di Paket Wadas Kelir.

Hal tersebut agaknya terbukti, ketika pentas berlangsung, melihat euphoria penonton yang cukup membludak (didominasi oleh sanak family para pemain pentas), para warga belajar berakting sangat total dan melepaskan segala beban di atas pentas. Mementaskan naskah lakon yang diadaptasi oleh salah satu tutor, Endah Kusumaningrum, para warga belajar berhasil menghibur dan mengocok perut penonton dengan dialog dan adegan-adegan lucu.

“Itu Yuyu Kangkang lucu banget. Perutku sampe kaku lihatnya!” tutur salah satu warga dari barisan penonton.

“Nggak nyangka melihat mereka sangat berbeda dengan kesehariannya yang biasa kalem jadi acting judes, total banget. Jadi kemayu dan genit, juga total banget. Top!” tutur Agustina Wulandari, salah satu tutor Paket B dan Paket  Wadas Kelir.

Melihat antusiasme para penonton, mereka, para pemain turun pentas dengan senyum yang mengembang. Lega! Perjuangan dua minggu menghafal naskah, latihan koreo pantomime, latihan musikalisasi puisi, terbayar tunai!

“Aku pengen pentas lagi kayak gini, Pak! Apa bikin film yuk , besok-besok. Sekolahnya jadi seru, nggak cuma pelajaran duduk di kelas. Praktek, berkarya, asyik!” tutur Ruli Karunia, salah satu waga belajar.

 

ENDAH KUSUMANINGRUM

Relawan Pustaka Wadas Kelir & Mahasiswa Pascasarjana Universitas Muhammadiyah Purwokerto

JALIN KERJASAMA DENGAN LPPM UNSOED, WADAS KELIR TINGKATKAN KUALITAS BAHASA INGGRIS RELAWANNYA

dibaca normal:4 menit

“Relawan di Wadas Kelir semuanya cerdas dan berpotensi. Cita-cita kami tinggi, yaitu melanjutkan studi S2 dan S3 dengan jalur beasiswa. Tetapi, kami terganjal satu hal, bahasa Inggris kami kurang memadai untuk mendapat skor TOEFL yang tinggi. Padahal itulah salah satu kunci mendapat beasiswa full-bright,” tutur Fenny Nida Fitriyani , salah satu relawan Rumah Kreatif Wadas Kelir yang membidangi sekolah literasi bahasa Inggris di sana.

Hal yang diungkapkan oleh Feny adalah benar. Kendala yang dirasakan banyak relawan Rumah Kreatif Wadas Kelir adalah persoalan bahasa Inggris. Hal tersebut sebetulnya sudah coba diatasi oleh tim yang menangani sekolah literasi bahasa.

Setiap Jumat malam, setiap relawan dan remaja diwajibkan belajar bahasa Inggris. Metode yang digunakan untuk menyampaikan materi pun dibuat semenarik dan se-easy mungkin. Contohnya materi listening dan speaking dengan metode ‘sing a song’, yaitu dengan memutar sebuah lagu dan mengucapkan liriknya dengan pelafalan yang benar. Tahap selanjutnya adalah mempelajari structure yaitu dengan mencoba mengartikan dan mempelajari struktur kalimat dalam lirik lagu.

“Setiap kali ikut sekolah literasi bahasa Inggris aku seneng karena sekarang kalau ada lagu yang udah dipelajari jadi bisa nyanyi. Terus pengucapannya bener, jadi nggak malu-maluin. Kata temenku aku jago banget bahasa Inggris. Padahal cuma bisa itu, hihihi,” tutur Nanda, salah satu remaja yang rajin mengikuti kelas di sekolah literasi bahasa.

Hal itu tidak membuat Rumah Kreatif Wadas Kelir berpuas diri dan terus mencoba mendampingi belajar bahasa Inggris. Salah satu caranya adalah dengan menjalin kerja sama dengan pihak LPPM Unsoed untuk mengadakan pelatihan bahasa Inggris bagi para relawan pengajar, remaja, dan masyarakat di Wadas Kelir.

Niat baik tersebut seperti gayung bersambut ketika tim dari LPPM Unsoed, yang terdiri dari Mrs. Rindha, Mrs. Septi, Mrs. Indah dan tiga mahasiswa pendamping, datang ke Rumah Kreatif Wadas Kelir dan melaksanakan Program Pengabdian Kepada Masyarakat (Penerapan Iptek) dengan tema “Pelatihan Pembelajaran Kreatif bagi Pengajar di Rumah Kreatif Wadas Kelir” selama 7 hari, terhitung sejak 13-20 April 2018.

Tidak hanya relawan yang mengikuti acara tersebut, tetapi para Bunda PAUD Wadas Kelir, Tutor Paket B dan C Wadas Kelir, Tutor Bimbel Wadas Kelir, remaja, bahkan warga belajar (siswa) Paket B dan C Wadas Kelir.

Sesuai tema yang diusung oleh tim, hal yang disampaikan dirasa sangat bermanfaat bagi semua elemen yang mengikuti pelatihan tersebut. Seperti yang dituturkan oleh salah satu Bunda PAUD Wadas Kelir, Chamdiyati, “Selama ini biasanya ngga pede mau ngomong pake bahasa Inggris, takut salah pas ngajarin anak-anak, grogi lah. Tapi ini tadi udah diajarin sama Miss Septi. Besok jadi udah bisa ngomong yang bener,”

Tim dari LPPM Unsoed juga memotivasi para peserta untuk selalu aktif bertanya, menjawab, dan berpendapat dalam sesi pelatihannya. Hal itu dimaksudkan agar para peserta bisa langsung mempraktikkan apa yang sudah mereka pelajari bersama para pemateri, sehingga mereka terbiasa mengucapkan bahasa Inggris.

Dituturkan oleh Mrs. Indah, salah satu pemateri dalam pelatihan bahwa hal yang memang menjadi kendala orang Indonesia belajar bahasa Inggris adalah tidak adanya ruang yang luas untuk mempraktikkannya. Padahal kunci utama belajar bahasa adalah selalu melakukan pembiasaan, berulang-ulang, dan telaten menggunakan setiap hari, minimal satu jam sehari agar terbiasa.

Tidak hanya menyampaikan materi soal bagaimana belajar dan mengajarkan bahasa Inggris. Di akhir sesi, Mrs. Rindha Widyaningsih, yang merupakan ketua tim pengabdian juga menyampaikan motivasi dan memaparkan tentang kiat menghadapi kesulitan belajar anak usia dini (AUD).

Beliau yang merupakan lulusan S2 Psikologi UGM menjadi tempat curhat yang sangat asyik bagi para Bunda PAUD, tutor, hingga warga belajar yang kebetulan mengikuti sesi terakhir tersebut. Banyak keluh-kesah mereka terungkapkan dan mendapatkan pencerahan dari ahlinya. Terlihat wajah bahagia dan optimis mereka ketika mendapat saran dan motivasi dari Mrs. Rindha.

“Kami sangat menyambut baik gerakan belajar oleh masyarakat di lingkungan Rumah Kreatif Wadas Kelir. Semoga jalinan silaturahmi dan berbagi ilmu kita tidak hanya sampai di sini. Kami ingin kembali lagi ke Rumah Kreatif Wadas Kelir untuk ikut berkontribusi memajukan negeri,” pungkas Mrs. Rindha ketika menutup acara pelatihan teresebut.

Siang itu, setelah asyik dan lelah belajar, kami memanjatkan syukur dengan berfoto, memotong tumpeng, dan duduk melingkar untuk makan bersama. Kami makan bersama beralaskan meja-meja cantik yang juga dihadiahkan oleh Tim LPPM Unsoed untuk menunjang kegiatan belajar di Rumah Kreatif Wadas Kelir. Sungguh, terima kasih banyak!

ENDAH KUSUMANINGRUM

Relawan Pustaka Wadas Kelir & Mahasiswa Pascasarjana Universitas Muhammadiyah Purwokerto

 

 

 

IMAJINASI MASA ANAK-ANAK SAYA DULU SOAL PRAKTIK IBADAH YANG TAK TERLUPAKAN HINGGA SAAT INI

dibaca normal:5 menit

Saya masih ingat dengan Pak De saya. Sosok yang saya idolakan waktu kecil, dan kebaikannya tak terlupakan sampai saat ini. Dan ilmunya saya gunakan untuk mendidik anak-anak saya sekarang. Sebab, saya meyakini, masa kecil terbaik kita adalah masa kecil terbaik buat anak-anak kita juga.

Kenapa Pak De saya begitu mengesankan, sehingga saya banyak menghabiskan waktu bermain di rumahnya dengan anaknya? Karena saya dan anaknya diperlakukan dengan sama. Tidak dibedakan. Apa yang dilakukan pada anaknya, dilakukan juga pada saya. Apa yang diberikan untuk anaknya, dia berikan juga untuk saya.

Misalnya, saat keluarganya tamasya, saya diajak ikut serta. Saat tamasya, saya tidak dianggap sebagai orang lain. Saya diperlakukan seperti keluarganya. Saya diperlakukan seperti anaknya. Saat anaknya dibelikan mainan, saya juga dibelikan mainan. Saat anaknya naik perahu, saya juga diajak naik perahu. Saya merasa sedang tamasya dengan keluarga saya sendiri.

Karena perlakukan yang demikian, saya sangat hormat pada Pak De dan keluarganya. Sampai masa kecil saya, yang di rumah belum dikenalkan Sholat, saya diajak Sholat pertama kali oleh Pak De saya.

Ceritanya, pada suatu sore, saat saya sudah main ke rumah Pak De saya. Adzan Ashar berkumandang. Pak De yang baru pulang kerja memanggil anaknya yang sedang bermain dengan saya. Saya pun ikut dipanggil juga.

“Saatnya Sholat Ashar!”

Anaknya segera mengambil air wudhu dan memakai sarung. Saya bingung, tapi mendadak Pak De membawakan saya sarung. Seraya berkata lirih, “Kamu juga harus ikut Sholat, Her!”

Saya tak bisa berkata. Kata-kata Pak De selalu tak bisa saya tolak, sekalipun waktu kecil saya sering menolak perkataan orang tua saya. Saya ikut Sholat, dan selesai Sholat saya dan anak Pak De diajak ke kota. Kami makan Bakso yang tak terlupakan. Pak De kemudian berkata, “Ini hadiah atas Sholat kalian hari ini. Jadilah anak-anak yang rajin Sholat.”

Kata-kata Pak De saya membekas sampai sekarang. Saya pun meniru Pak De saya dalam mendidik anak-anak saya soal Sholat.

Dan saat saya kemudian berkeluarga. Saya dan Istri memiliki empat anak yang masih kecil. Dengan belajar pada apa yang telah Pak De saya berikan ke saya. Saya memiliki prinsip, “Anak-anakku adalah siapa saja yang sedang bermain dengan anakku!”

Maka, saat anak-anak saya sedang bermain dengan teman-temnnya. Saat saya ingin membelikan mainan pada anak saya, saya dan Istri sepakat juga untuk membelikan mainan pada anak yang sedang bermain dengan anak saya. Dan apa dampak menakjubkannya: anak-anak saya sendiri sangat senang temannya yang dapat mainan dari orang tuanya.

Dan yang terpenting, saat saya memberikan perintah Sholat pada anak saya. Anak saya akan mengajak teman-temannya. Dan saat saya ikut perintahkan temannya untuk sholat bersama anak saya, mereka semua ikut. Saya pun jadi sering menyaksikan pemandangan menakjubkan, anak-anak usia dini yang sering bermain di rumah saya, bila adzan telah berkumandang, maka semuanya menghentikan bermainnya. Dan semuanya menunaikan Sholat bersama. Indah sekali.

Di sini saya memahami sebagai orang tua. Bahwa untuk mengubah sikap anak-anak kita ke arah yang baik, terutama dalam praktik ibadah, harus dilakukan dengan mengubah sikap teman-temannya. Untuk bisa mengubah sikap teman-temannya, kita harus perlakukan dengan baik bahkan sama teman-teman anak kita dengan anak kita sendiri. Dengan cara ini, anak-anak yang menjadi teman anak kita akan merasa bahagia diperlakukan sama oleh kita.

Dari sinilah, sosok orang tua ideal tidak saja diberikan oleh anak kita, tetapi juga anak-anak teman anak kita. Dan anak-anak kita akan merasa senang dan bangga jika teman-temannya diperlakukan baik oleh orang tuanya. Bahkan diberikan perlakuan yang sama dengannya. Karena saya sering melakukan hal demikian, maka saat saya ingin memberikan hadiah mainan pada anak saya, anak saya sering berkata, “Apakah Devin dan Tegar juga akan dibelikan mainan?”

Saya mengangguk dengan senang seraya berkata, “Pasti!”

Jika sudah demikian anak saya akan melonjak kegirangan, dan anak-anak saya akan memanggil teman-temannya tersebut. Mereka berteriak sepanjang jalan, “Tegar, Devin! Ayuk, main ke rumah. Ayah mau belikan mainan buat kita!”

Dan saat anak-anak itu berkumpul. Saya selalu bertanya, “Devin dan Tegar, bawa baju koko tidak?”

Jika keduanya tidak membawa, maka akan tersenyum. Saat itulah saya katakan, “Baju kokonya diambil, ya. Sebentar lagi Sholat Dhuhur.”

Devin dan Tegar pun segera berlari pulang mengambil baju kokonya. Kemudian kembali ke rumah saya. Mereka kemudian bermain dengan asyiknya. Sampai kemudian terdengar Adzan Dhuhur.

Dan dari balik kaca kamar saya menyaksikan pemandangan menakjubkan.

“Sudah Adzan, Sholat dulu, yuk!” perintah Nera anak saya pada teman-temannya.

“Iya…” seru Zaka, anak saya juga.

Mereka kemudian menghentikan kegiatan bermainnya. Dengan penuh tawa bahagia, mereka masuk rumah untuk memakai baju koko. Kemudian bersegera ke mushola dekat rumah. Dan keempat anak itu menunaikan Sholat Dhuhur berjamaah. Saya yang ikut Sholat dibarisan anak-anak itu bergetar hati saya.

Anak-anakku dan teman-temannya, sekalipun masih usia dini, telah berani menghentikan kegiatan bermain yang menyenangkan untuk jeda menunaikan Sholat berjamaah.

Usai Sholat yang membikin hati saya luluh lantak, saya mengajak mereka untuk beli es krim. Kami makan es krim bersama dengan senang. Menambah suasana bahagia yang tak berhingga.

Di sini saya meyakini bahwa anak-anak saya adalah siapa saja yang sedang bermain dengan anak saya. Mereka harus diperlakukan sama dengan anak kita sebab dari mereka anak-anak kita hidup bersosial. Saat kita mampu menciptakan kehidupan sosial yang sama menyenangkannya, maka kita adalah orang tua yang akan selalu dituruti perintah baiknya, termasuk perinta untuk membiasakan Sholat sejak kecil bagi semua anak-anak yang menjadi lingkungan sosial anak-anak kita.

Semoga menginspirasi!

 

HERU KURNIAWAN

Pengajar di Institut Agama Islam Negeri Purwokerto & Founder Rumah Kreatif Wadas Kelir Purwokerto.

 

GANDENG ELEX MEDIA KOMPUTINDO, FESTIVAL LITERASI #3 RUMAH KREATIF WADAS KELIR SUKSES!

dibaca normal:3 menit

Selasa, 1 Mei 2018. Ingar bingar sejak pagi di lingkungan Rumah Kreatif Wadas Kelir didominasi oleh anak-anak usia PAUD dan SD. Mereka adalah para peserta lomba mewarnai yang diselenggarakan oleh RKWK dalam rangka Festival Literasi #3. Sebanyak 200-an anak-anak dari sekitaran Barlingmascakeb berkumpul di pelataran Rumah Kreatif Wadas Kelir dan bersiap mengikuti lomba.

Tidak hanya itu, persiapan juga mulai terlihat sibuk di area Hall Perpustakaan IAIN Purwokerto. Pasalnya, Festival Literasi #3 tersebut merupakan kegiatan beruntun, yaitu lomba mewarnai untuk AUD di pagi hari dan pelatihan penulisan buku di siang hari dan diselenggarakan di area IAIN Purwokerto.

Yang istimewa dari kegiatan tersebut adalah Rumah Kreatif Wadas Kelir didukung oleh Elex Media Komputindo (EMK) , salah satu penerbit mayor dari Gramedia Grup yang juga telah banyak menerbitkan buku-buku para relawan di Rumah Kreatif Wadas Kelir.

Tidak hanya didukung oleh EMK, kegiatan tersebut juga dapat terselenggara karena dukungan dari berbagai pihak seperti Komunitas Kreatif Menulis Online (KMKO), Komunitas Guru Belajar (KGB), Ikatan Pustakawan Indonesia (IPI). Antusiasme peserta pun didominasi oleh masyarakat umum dan para anggota komunitas pendukung tersebut.

Dituturkan oleh peserta yang ikut serta dalam kegiatan Festival Literasi #3, dari cabang lomba mewarnai, para orang tua yang mengikutsertakan anak-anaknya dalam perlombaan mewarnai merasa sangat puas karena mengetahui bahwa juri yang menilai karya putra dan putri mereka adalah para illustrator professional dari Gramedia Grup. Selain itu, para juri  juga tidak sungkan memberikan masukan pada hasil karya anak-anak.

“Seneng, karena hari libur ini bisa diisi dengan kegiatan yang sangat bermanfaat. Anak saya berkarya di kegiatan mewarnai, pulang dapat bingkisan buku aktivitas terbitan Elex, Gramedia, terus dihibur sama pertunjukan pantomim lucu. Mereka pasti puas!” tutur Beti, ibunda Bilqis dan Malfa, peserta lomba mewarnai.

Sementara dari kegiatan Pelatihan Penulisan Buku Anak, para peserta yang notabenenya telah lolos kurasi naskah dari panitia merasa puas karena memiliki semangat dan harapan terkait kegiatan kepenulisannya.

Dalam kegiatan pelatihan tersebut, para pemateri menjelaskan berbagai hal, mulai dari yang sederhana hingga yang rumit seperti perhitungan royalti pada para peserta. Mereka yang awalnya hanya merasa iseng menulis, menjadi terbuka wawasannya tentang dunia penulisan dan penerbitan buku.

“Nggak nyangka bisa kumpul bareng orang-orang hebat. Semangat nulis jadi berlipat-lipat dan nggak sabar bukunya nampang di rak toko buku. Pulang dari sini harus makin semangat nulis!” tutur Musriah, salah satu peserta pelatihan menulis.

Dituturkan juga oleh Joko Wibowo, pimpinan bidang buku anak di Elex Media Komputindo, bahwa kegiatan serupa harus selalu ada di masyarakat agar geliat literasi terus berkembang. Jika masyarakat peduli membaca dan berkarya, bukan tidak mungkin budaya baca di Indonesia akan naik melejit menduduki peringkat atas dan menjadi negara yang semakin berkualitas.

“Wah, salut dan hormat buat semua yang terlibat. Relawan RKWK yang dari berbulan-bulan lalu bejibaku nyiapin acara, sampai tadi acara selesai sore. Semangatnya luar biasa. Pengabdian tanpa kenal lelah. Masyarakat dan peserta, dan komunitas pendukung yang terlibat. Saya salut dengan orang-orang Banyumas!” tutur Agnes Sihombing, Chief Editor Elex Media Komputindo yang ikut hadir dan menjadi juri sekaligus pemateri dalam gelaran Festival Literasi #3.

Tak melewatkan moment, Rumah Kreatif Wadas Kelir yang kebetulan telah selesai mendirikan bangunan sederhana tempat berproses dan mendisplay buku-buku sekaligus menjadikan moment tersebut sebagai acara peresmian kantor dan toko buku milik Rumah Kreatif Wadas Kelir.

“Semoga Rumah Kreatif Wadas Kelir makin sukses. Tokonya makin maju dan berkembang, jadi partner solidnya Elex dan Gramedia berkarya mencerdaskan anak bangsa!” pungkas Dewa, salah satu Chief Editor Elex Media Komputindo yang juga  ikut hadir dan menjadi juri sekaligus pemateri dalam gelaran Festival Literasi #3.

 

ENDAH KUSUMANINGRUM

Relawan Pustaka Wadas Kelir & Mahasiswa Pascasarjana Universitas Muhammadiyah Purwokerto

 

IMAJINASI SURGA NERA ITU BISA MANDI DI SUNGAI YANG BERAIR SUSU DENGAN TEMAN-TEMANNYA

dibaca normal:4 menit

Usai empat hari meninggalkan keluarga karena tugas kampus, paginya harinya, usai anak-anak menjalankan ibadah Sholat Subuh, saya memeluk Nera (6 tahun) anak kedua saya.

Saya bertanya padanya, “Apakah selama Ayah pergi Nera meninggalkan Sholat?”

Dengan cepat Nera menjawab, “Tidak, Yah. Nera sholat terus lima waktu setiap hari.”

Aku semakin erat memeluknya. Kemudian iseng-iseng saya bertanya lebih lanjut, “Nera rajin Sholat. Nera ingin diberikan hadiah apa?”

“Surga, Yah.”

“Memangnya di Surga Nera mau ngapain?”

“Nera mau mandi di Sungai yang airnya susu.”

Saya tersentak kaget. Saya tidak menyangka dengan jawabannya. Saya jadi semakin penasaran. Saya mengajukan pertanyaan iseng lagi, “Memangnya Nera mandinya sama siapa?”

“Ya, sama Zakka, Tegar, dan Devin.”

Yang disebutkan Nera adalah adik dan teman-teman dekat Nera, yang setiap hari bermain bersama, dan setiap terdengar Adzan dari Mushola dekat rumah, mereka selalu langsung memakai celana panjang, mengambil air wudhu, dan Sholat bersama. Sekalipun mereka sedang asyik bermain. Semua ditinggalkan demi untuk Sholat.

“Memangnya di Sungai Susu itu, selain mandi, Nera mau ngapain?”

“Mau mandi sambil minum susu, lah, Yah. Nera mandinya akan bawa kaleng dan sedotan. Susu di sungai akan Nera masukan dalam kaleng, kemudian mandi sambil minum susu pakai sedotan.”

Aku tersenyum senang seraya memeluk dan mencium Nera, anak keduaku yang istimewa.

Jawaban Nera atas pertanyaan iseng saya memberikan pemahaman pada saya bahwa anak-anak kecil sudah memiliki imajinasi Surga. Saya pun menelusuri dari mana imajinasi Surga Nera dengan Sungai yang mengalirkan susu itu?

Istri saya menjelaskan, “Imajinasi Surga itu lahir dari pengetahuan Surga yang didapat di sekolah Kelompok Bermain (KB) Wadas Kelir. Dan imajinasi minum susunya didapat dari kegemaran Nera minum susu. Kombinasi pengetahuan dan pengalaman dirinya menciptakan hasil pemahaman tentang Surga dan Sungai Susunya. Surga yang tidak sebatas sebagai tempat yang indah, tetapi juga tempat yang bisa memberikan kesenangan pada anak-anak.”

Atas penjelasan istri ini, saya paham bahwa pendidikan dan pengalaman bagi anak-anak merupakan kombinasi penting dalam membentuk pemahaman akan suatu hal, termasuk dalam memahami Surga sebagai tujuan bagi Nera dalam praktik Sholatnya.

Pertanyannya saya kemudian, “Kenapa Nera tidak memilih Neraka sebagai alasan untuk tujuan Sholatnya?” Pertanyaan ini pun saya lontarkan pada Istri yang menjadi Ibu di rumah dan jadi guru di sekolah Nera.

Dan istri saya memberikan jawaban yang menggugah perasaanku, “Begini, Yah!” Istri kemudian menunjukkan sebuah foto anak-anakku yang sedang Sholat, kemudian bertanya, “Bagaimana menurut Ayah ekspresi Nera dalam Sholat? Sedih atau senang?”

Saya tahu persis ekspresi anak-anakku. Saya pun menjawab dengan cepat, “Nera senang.”

“Betul sekali. Saya pun berpikir demikian. Dan menurut saya, tapi barang kali ini keliru, Nera senang karena saya selalu menanamkan imajinasi Surga sebagai balasan pada anak-anak yang rajin Sholat daripada ancaman neraka…”

“Apa bedanya?” pertanyaan saya memotong penjelasan Istri.

“Jika anak mengimajinasikan indahnya Surga atas balasan Sholatnya, maka anak akan tetap melakukan Sholat. Jika anak mengimajinasikan ancaman Neraka atas balasan perbuatan yang meninggalkan Sholat juga anak-anak akan melakukan Sholat. Jadi, imajinasi Surga dan Neraka tetap akan membuat anak Sholat. Tapi, imajinasi indahnya Surga akan membuat anak-anak Sholat dengan ekspresi senang dan bahagia, sedangkan imajinasi ancaman Neraka bagi yang meninggalkan Sholat akan membuat anak Sholat dengan dampak psikologi yang kurang baik, anak bisa menjadi takut. Bedanya di dampak psikologi yang diciptakan.”

Saya merekam dengan baik. Coba memahami penjelasan Istri, Ibu dari anak-anakku. Di sini saya mendapatkan satu pemahaman: imajinasi Surga dan Neraka tumbuh dari pendidikan dan pengalaman yang dibentuk sekolah dan orang tuanya. Dan setiap imajinasi anak, selalu memunculkan dampak psikologis bagi anak-anak. Termasuk imajinasi Surga dan Neraka yang didapat dari orang tuanya.

Suatu pagi, saya kembali mendekati Nera. Saya ingin mendapatkan pemahaman darinya, “Nera, sini!”

Nera mendekat, kemudian saya mengajukan pertanyaan, “Nera tahu Neraka?”

“Nera tahu. Di sana banyak apinya. Takut!”

Kemudian Nera pergi begitu saja. Seperti tidak peduli atau tidak mau membahas hal demikian. Kenapa? Barangkali imajinasinya tidak mau terlalu jauh larut dalam berbagai kengerian yang dipahami soal Neraka. Saya melihat langsung dampak psikologis takut dan tidak suka atas hal-hal yang menakutkan.

Saat Nera sedang bermain dengan teman-temannya. Kemudian terdengar Adzan berkumandang, saya memeluknya dari belakang. Kemudian saya berkata pelan, “Yuk, masuk Surga bersama dengan Sholat dulu.”

Nera menatap wajah saya dengan senyum senangnya. Kemudian Nera berkata, “Tapi, juga Nera ingin diberi hadiah karena rajin Sholat.”

“Hadiah apa?”

“Mainan.”


Saya tersenyum senang. Karena di balik motif Nera rajin Sholat, tidak semata ingin Surga, tetapi juga punya motivasi ingin diberikan hadiah dari orang tuanya. Saya tersenyum karena memahami tidak selamanya imajinasi Surga itu kuat mengikat keyakinan anak-anak dalam beribadah, tapi perlu motivasi dunia yang menyenangkan dalam praktik ibadahnya.

Apakah ini salah? Tentu saja tidak, sebab tanpa kita sadari, kita sendiri sebagai orang dewasa juga melakukan hal demikian. Rajin Sholat salah satu motivasinya adalah mendapatkan kebaikan dalam urusan dunia. Anak-anak pun jangan heran akan demikian.

Tapi, dari sini, kita akan memahami bahwa imajinasi Surga yang indah dan dunia nyata yang menyenangkan setelah melakukan Sholat menjadi dua kunci dalam membentuk anak-anak untuk rajin Sholat.

Demikian ini yang keluarga saya alami dengan anak-anak.

HERU KURNIAWAN

Pengajar di Institut Agama Islam Negeri Purwokerto

& Founder Rumah Kreatif Wadas Kelir