MENGHADIRKAN DAN MENJAGA SEMANGAT SHOLAT DALAM KELUARGA

dibaca normal:4 menit

Tersebab pekerjaan yang banyak dan harus segera diselesaikan, beberapa hari itu saya harus keluar kota beberapa hari, kemudian pulang malam, tidur malam, bangun tidur tidak bisa lebih pagi dari biasanya, dan yang saya sedihkan, saya jarang bercakap dan bermain dengan anak-anak.

Dan pagi itu, saya bangun terlalu siang, itu saja yang membangunkan saya adalah Nera, “Ayah, bangun. Disuruh Ibu sholat Subuh dan antarkan Kakak Mafi dan Nera ke sekolah!”

 

Saya segera bangun mengambil air wudhu, sholat Subuh, dan menyiapkan segala sesuatunya. Saya pun mengantarkan kedua anak saya: Mafi dan Nera ke sekolah. Di tengah jalan saya bertanya, “Tadi sholat Subuhnya sama siapa?”

“Ibu!” jawab Mafi dan Nera serentak.

“Semalam sholat Maghrib dan Isyanya?” tanya saya kembali.

“Maghribnya di Mushola….” Mafi menghentikan kata-katanya.

“Kak Mafi dan Nera ketiduran, Yah. Tidak sholat Isya. Lupa, Yah,” Nera menjelaskan pelan.

Saya tidak bisa berkomentar apa-apa. Saya menyalahkan diri saya sendiri yang beberapa hari terlalu sibuk. Dan selepas mengatarkan anak-anak ke sekolah, di rumah saya berbincang dengan Istri.

“Apa yang terjadi dengan sholatnya anak-anak selama Ayah disibukkan dengan pekerjaan?” tanya saya.

“Anak-anak semangat sholatnya menurun. Lebih asyik bermain. Jika diingatkan sering dicuekin. Dan saat malam, sebelum Isya lebih dulu tertidur….” Istri menjelaskan panjang lebar.

Saya pun terdiam. Pangkal salahnya adalah saya: saya tidak bisa menghadirkan dan menjaga semangat sholat anak-anak di keluarga.

Anak-anak adalah individu yang menyerap. Akan selalu bisa menyerap kejadian di lingkungannya, dan tidak terkecuali energi dari orang tuanya. Di sinilah, tugas orang tua tidak melulu soal menasihati, mendidik, memberi, dan mengasihi, akan tetapi harus mampu menghadirkan energi atau semangat, termasuk semangat dalam menjalankan ibadah sholat.

Saya teringat hari-hari sebelumnya, saat terdengar adzan, kemudian saya mengambil air wudhu, terus berkata, “Saatnya sholat!” maka anak-anak akan bersegera sholat mengikuti saya. Kami pun akan sholat berjamaah di Mushola dengan penuh bahagia.

Dan waktu lainnya di rumh selalu saya isi dengan berdiskusi, bermain, sampai membacakan dan menceritakan kisah-kisah Rasulullah SAW dan para Sahabatnya, yang semakin menegaskan kehadiran suasana semangat religius untuk sholat dalam keluarga. Bahkan, tidak hanya sampai di situ, saat diri saya sendiri sedang senang dengan sholat, maka anak-anak pun mengikuti hal yang sama.

Ini menunjukkan kehadiran semangat dan energi sholat ini diserap dan dipahami oleh anak, sehingga anak-anak pun mendapatkan energi sholat yang sama dari orang tuanya. Energi inilah yang kemudian menggerakkan anak-anak melakukan hal yang sama dengan orang tuanya.

Jadi, jika ada keluarga yang semangat dan suasana sholatnya tidak ada, itu terjadi karena orang tuanya tidak mau dan mampu menghadirkan energi sholat dalam keluarganya. Kita pun pasti banyak melihat fenomena, anak-anak yang sejak kecil rajin sholat karena orang tua yang setiap hari memberikan contoh dan energi sholat juga pada anak-anaknya.

Sebaliknya, anak-anak yang perilaku sholatnya tidak konsisten, bisa jadi bukan karena orang tuanya tidak menyuruh dan memberi contoh. Tapi, orang tuanya tidak mampu menghadirkan dan menjaga semangat dan suasana untuk sholat. Kita pun banyak melihat kejadian di keluarga yang orang tuanya rajin sholat, tetapi anak-anaknya tidak mengikuti orang tuanya.

Di sinilah, menghadirkan semangat sholat menjadi kunci penting dalam membimbing anak-anak untuk rajin sholat. Menghadirkan semangat ini harus dilakukan dengan: memberikan contoh, menunjukkan semangat dan menyenangkannya sholat, selalu berdiskusi tentang ibadah dan sholat dengan anak, sampai selalu berkisah tentang Rasulullah SAW dan para Sahabatnya.

Dengan cara ini, suasana semangat untuk melakukan ibadah sholat diciptakan dan dijaga dengan baik. Anak-anak kita pun akan menyerap semangat itu sehingga menjadi energi yang menggerakkan anak-anak kita untuk selalu menunaikan sholat dengan sebaik mungkin.

Saya pun mendadak teringat kejadian hari hari kemarin, saat terdengar kumandang adzan, saya bergeas berganti baju, kemudian mengambil air wudhu, dan mengajak anak-anak sholat berjamaah. Anak-anak saya pun bergegas melakukan hal yang sama. Kemudian kami sholat berjamaah bersama. Rasanya kenyataan itu sangat bahagia dan menyenangkan.

Dan saat saya kemudian terjebak dalam pekerjaan, saat energi sholat tidak bisa saya hadirkan dan jaga di keluarga dengan baik, saya pun mendapatkan kenyataan pahit ini. Anak-anak semangat sholatnya menurun. Anak-anak menyerap kenyataan Ayahnya yang sedang kehilangan semangat ibadahnya.

Di sinilah anak-anak harus diakui menjadi cermin dan miniature kenyataan keimanan orang tuanya. Jika orang tuanya mampu menghadirkan dan menjaga semangat dan suasan sholatnya dengan baik, anak-anak pun akan demikian. Tapi, sebaliknya, jika orang tua gagal menghadirkan dan menjaga suasan sholatnya dengan baik, maka anak-anak akan kehilangan arah.

Saya pun tertunduk sedih menyaksikan kenyataan ini. Dan istri saya tahu keadaan ini, dia pun berkata, “Nanti selepas anak-anak pulang sekolah. Hadirkan kembali semangat dan suasan sholat seperti kemarin. Pasti anak-anak akan paham dan mengerti. Dan semangat dan suasan sholat akan hadir kembali di keluarga kita.”

Aku menganggukkan kepala. Anak-anakku telah mengajariku cara bertaubat dengan sikap-sikap yang istimewa.

Semoga menginspirasi.

 

Heru Kurniawan
Pengajar di Institut Agama Islam Negeri Purwokerto
Penulis Buku Parenting, Bacaan, dan Aktivitas                                                                                                                                Founder Rumah Kreatif Wadas Kelir

MENGKONDISIKAN ANAK-ANAK SHOLAT BERSAMA TEMAN-TEMANNYA

dibaca normal:5 menit

Siang itu, saya pulang istirahat dari kantor bertepatan dengan berkumandangnya  adzan sholat Duhur.

Segera kupanggil anak-anak yang sedang asyik dengan teman-temannya. Di situ ada kedua anak saya: Nera dan Zakka dengan kedua temannya: Tegar dan Devin.

Aku hampiri mereka dan berkata pelan, “Saatnya sholat Duhur!”

Anak-anak cuek. Mereka terus asyik bermain. Saya kemudian mendekati Tegar dan Devin.

“Tegar dan Devin, sholat sama Pak Guru, yuk!” ajak saya.

Devin dan Tegar tampak bingung. Menatap saya dan tersenyum polos. Kemudian bibir mungilnya berkata, “Tidak bawa sarung, Pak Guru.”

Saya segera masuk ke rumah dan membawakan dua sarung untuk keduanya.

“Ini sarungnya, yuk, sholat.”

Tegar dan Devin sudah saya buat tidak bisa berkutik. Keduanya saling pandang bingung, kemudian  menurut ajakan saya. Menerima sarung dari saya dan bergegas ikut dengan saya ke mushola.

Dan kedua anak saya, Nera dan Zakka, segera lari ke dalam rumah, dan kembali dalam keadaan sudah bercelana panjang dan berpeci.

“Ayah, Nera ikut!”

“Ayah, Zakka ikut”

Kami pun akhirnya sholat berjamaah bersama anak-anak saya dan teman-temannya. Sejak saat itu, Devin dan Tegar jika bermain dengan anak-anak saya sering membawa celana dan sarung karena sering saya ajak sholat bersama.

Dari kejadian ini saya ingin mengatakan bahwa saat kita ingin mengajak anak-anak dalam kebaikan, maka ajaklah teman-teman dekatnya. Anak-anak kita bukanlah anak-anak kita saja. Anak-anak kita adalah anak-anak yang berteman dan bermain dengan anak kita. Dalam pertemanan itu, anak-anak kita telah mengikatkan dirinya dengan anak-anak yang telah menjadi temannya.

Untuk itu, perlakuan yang sama ke anak-anak dan teman-temannya merupakan penciptaan kondisi yang diidealkan anak-anak kita. Jika anak kita diberikan makanan, sesungguhnya anak kita berharap juga teman-temannya diberikan makanan sebab anak-anak kita pasti tidak ingin dirinya makan sendirian, tetapi temannya tidak makan. Anak-anak kita pasti ingin teman-temannya juga disayang orang tuanya, bukan hanya dirinya saja.

Saat anak-anak mendapatkan makanan dan teman-temannya juga, maka anak-anak kita akan merasa berhak untuk mengadakan pesta makan bersama yang menyenangkan dengan teman-temannya. Anak-anak akan merasa gembira dan bahagia atas makan bersama tersebut. Dan lebih dari itu, anak-anak kita akan bangga pada orang tuanya yang baik pada teman-temannya. Inilah yang seharusnya kita lakukan pada teman-teman anak kita.

Sebalinya, anak akan kecewa jika dirinya diperlakukan terlalu istimewa di depan teman-temannya, sedangkan teman-temannya tidak. Anak akan kecewa jika, hanya karena ingin memberikan makanan yang enak atau mainan yang bagus, orang tua harus mengusir teman-temannya. Bahkan anak sedih jika dirinya diistimewakan, tetapi teman-temannya didiamkan saja. Anak-anak juga memiliki empati tinggi atas teman-temannya. Kita sebagai orang tua harus memahami hal ini.

Untuk itu, saat kita mengajak sholat anak-anak kita, maka ajaklah sholat teman-temannya. Barang kali, di awal ajakan kita, teman-teman anak kita akan menolak dan akan pulang, tetapi tidak masalah. Setidaknya, teman-teman anak kita akan tahu sistem aturan yang harus ditaati jika bermain dengan anak-anak kita. Saya yakin dengan pendekatan yang baik. Dengan perlakuan yang sama dengan anak-anak kita, maka teman teman-teman anak kita akan menurut juga. Akan mau diajak sholat bersama anak-anak kita.

Dan teman-teman anak-anak kita bisa menjadi kontrol paling efektif bagi anak-anak kita sendiri. Kita bisa melihat kejadian di atas, kejadian yang saya alami dengan anak-anak saya sendiri. Pertanyaanya: kenapa saat saya ajak anak-anak saya sholat mereka cuek? Tentu saja ini terjadi karena teman-temannya masih asyik bermain. Anak-anak saya pasti iri dengan teman-temannya yang asyik bermain, sementara diirnya disuruh sholat.

Di sini artinya, ekosistem kebaikan tidak saya ciptakan dengan baik. Akan tetapi, saat teman-teman anak saya yang diajak sholat dengan baik-baik, dan teman-teman anak saya mau, maka ekosistem kebaikan sedang saya ciptakan. Anak-anak saya akan malu dengan dirinya sendiri. Anak-anak akan merasa harus bertanggung jawab terhadap perannya sebagai anak saya sendiri.

“Jika Ayahku mengajak teman-teman saya untuk sholat, dan teman-teman saya mau. Maka saya pun harus mau!” ini barang kali perasaan yang muncul di benak anak-anak kita.

Untuk itu, saya sering merasa sedih saat melihat kenyataan: orang tua yang selalu menjauhkan anak-anaknya dari ekosistem kebaikan dengan teman-temannya. Orang tua seperti ini biasanya akan memperlakukan teman-teman anaknya berbeda dengan anak-anaknya sendiri.

Misalnya, saat orang tua ingin menasihati kebaikan, maka anaknya akan dipisahkan dengan teman-temannya. Atau, saat orang tua ingin memberikan hadiah, maka teman-temannya tidak diberikan. Teman-temannya hanya dijadikan objek penonton untuk melihat anak kita sendiri. Kelihatannya sikap seperti ini akan menggembirakan anak-anak kita, tetapi sesungguhnya ini akan membuat sedih aak kita dan temannya yang akan iri dan sedih. Saat keadaan seperti ini, tampaknya anak kita sangat bahagia dan senang, tetapi sesungguhnya senangnya tidak paripurna karena akan berempati pada temannya. Anak kita akan merasakan kesedihan temannya.

Maka, kita sebagai orang tua perlu mencoba, misalnya, jika kita memberikan hadiah untuk anak-anak kita, maka berikan hadiah juga untuk teman dekatnya. Rasakan apa sensasi yang terjadi. Saya yakin anak kita akan merasakan bahagia yang meluap. Bahagia karena dirinya mendapatkan hadiah, dan bahagia karena temannya bahagia telah mendapatkan hadiah dari orang tuanya.

Dan untuk merayakan kebahagiaan itu, anak-anak akan merayakannnya dengan bermain bersama dengan hadiah itu. Kita sebagai orang tua akan lebih bahagia juga melihat anak-anak dan teman-temannya bahagia merayakan hadiah yang sudah kita berikan dengan penuh cinta.

Hal ini terjadi pula pada sholat. Saat teman-teman anak kita dilibatkan dalam kegiatan sholat berjamaah juga, maka pesta kekhusyukkan sholat pun akan terjadi bersama. Anak-anak kita sendiri akan sholat dengan senang karena teman-temannya ikut sholat. Sholat pun menjadi kegiatan bersama yang sangat menyenangkan.

Bayangkan jika ini tidak dilakukan. Jika hanya anak-anak kita yang kita suruh sholat, tetapi teman-temannya tidak. Maka yang akan terjadi adalah anak-anak kita akan sholat dalam kecemesan dan kekecewaan karena saat anak-anak kita sholat, teman-temannya sedang bermain. Anak-anak kita pun dalam sholatnya akan membayangkan teman-temannya yang sedang bermain. Ini akan membuat konsentrasi dan kekhusyukan sholat anak-anak kita terganggu dan anak mengalami kecemasan.

Saya pun menyaksikan kenyataan siang itu: saat saya pulang dari kantor, di ruang tamu saya menemukan dua buah selana panjanganak-anak. Saya tanyakan celana siapa pada istri saya.

“Itu celana panjang Devin dan Tegar. Keduanya jika main ke rumah dengan anak-anak kita sering bawa celana karena tahu saatnya sholat harus sholat dulu.”

Saya dan istri saya tersenyum senang. Ekosistem kebaikan dalam sholat sudah saya ciptakan dengan baik.

Pada suatu siang pun saya menjumpai kenyataan, Ibu Devin datang membawakan sarung ke rumah saya. Kata Ibu Devin, “Ini celana panjang Devin buat sholat di sini.”

Kemudian Ibu Devin cerita, “Saya suka Devin bermain di sini sebab Devin jadi rajin sholat dan mengaji.”

Dari sini saya meyakini bahwa salah satu tugas penting kita sebagai orang tua dalam mendisiplinkan anak-anak kita sholat adalah dengan menciptakan ekosistem kebaikan sholat dalam kehidupan anak-anak dengan teman-temannya. Maka, perlakukan sama teman-teman anak kita dengan anak kita sendiri. Salah satunya perlakuan dalam menunaikan ibadah sholat.

 

HERU KURNIAWAN

Pengajar di Institut Agama Islam Negeri Purwokerto; Penulis Buku Parenting dan Bacaan-Aktivitas Anak; dan Founder  Rumah Kreatif Wadas Kelir.

 

AKAN SELALU ADA KISAH DI SETIAP USAI SHOLAT DAN DOA KAMI

dibaca normal:4 menit

Usai kami sholat Isya berjamaah.

“Ayah, kisah?” seru Nera.

“Ayah, kisah?” tambah Zakka.

 

Sejenak saya tatap mata keduanya yang tampak lelah karena seharian telah bermain. Dan saya gembira, rasa lelahnya tidak mengurangi rasa ingin mendengarkan kisah yang selalu saya ceritakan selepas sholat berjamaah dengan istri dan anak-anak.

 “Kisah, Yah?” tambah Mafi.

 Saya pun segera bercerita yang saya ambil dari kisah pada masa Rasulullah SAW:

 Suatu ketika seorang Ibu dengan dua anak yang masih kecil, datang kepada Aisyah, untuk meminta bantuan.

 Saat itu Aisyah hanya bisa memberikan tiga butir kurma. Wanita itu memberikan kepada anaknya, masing-masing satu butir, dan yang satunya lagi untuk dirinya.

 

Namun ketika sudah habis dimakan, kedua anak itu menatap ibunya, sebagai tanda masih kurang. Sang ibu membelah menjadi dua kurma yang seharusnya menjadi jatahnya, untuk diberikan kepada kedua anaknya.

 Ketika Rasulullah SAW sudah pulang, Aisyah menceritakan kejadian itu. Rasulullah SAW pun mengatakan, “Tidak ada yang perlu engkau herankan! Karena sesungguhnya rahmat Allah SWT kepada ibu yang telah menjadikannya penyayang kepada anak.”

 Kisah pendek yang membuat anak-anak saya suka. Dan seperti biasanya, selesai berkisah, saya akan mengajukan pertanyaan-pertanyaan pada anak-anak saya,

 “Berapa anak yang dibawa oleh ibu itu?” tanya saya pada Zakka.

 “Dua!” Zakka menjawab dengan senang.

 “Apa yang dilakukan Ibu dengan biji kurmanya?” tanya saya pada Nera.

 “Dibelah jadi dua, dan diberikan ke kedua anaknya!” Nera tidak mau kalah.

 “Kenapa rahmat Allah diberikan pada Ibu?” tanya saya pada Mafi.

 “Karena ibu yang telah melahirkan anak, dan menyayangi anaknya!” kata Mafi bangga.

 Saya dan istri saya berpandangan senang. Anak-anak tidak hanya senang dan tahu soal kisah-kisah Rasulullah SAW, tetapi juga memahami maknanya.

Ini adalah salah satu momen penting yang membahagiakan saya, istri, bersama anak-anak. Ya, kami menyadari bahwa kami tidak bisa selamanya sholat berjamaah di Musholah karena kenyataan aktivitas dan kegiatan bermain anak yang kadang melupakan dan tidak mau diganggu.

Dan saat tidak bisa sholat berjamaah di Mushola dengan anak-anak, saya pun melakukan sholat berjamaah di rumah dengan keluarga. Setip selesai sholat dan membaca doa, saya selalu membacakan kisah-kisah Rasulullah SAW pada anak-anak. Awalnya, saya tidak yakin anak-anak akan senang karena selesai sholat biasanya anak-anak lari. Ingin melanjutkan permainannya yang telah tertunda karena peringatan sholat dari Ayah-Ibunya.

Tapi, di luar dugaanku, saat bibir saya berkata, “Ayah punya kisah Rasulullah SAW yang menarik.” Anak-anak langsung antusias senang. Mereka langsung mendekat berpelukan dan tiduran di sajadah dan pangkuan saya. “Ceritakan, kisahnya, Yah!” Saat itu saya kemudian berkisah. Kisah yang saya ambil dari Hadist dan Al-Qur’an. Dan anak-anak mendengarkan dengan saksama, sampai selesai dan kadang sering tertidur.

Dan tidak hanya sampai berakhir di kisah saja, tetapi juga berlanjut ke pertanyaan-pertanyaan seputar kisah yang saya ceritakan. Anak-anak pun antusias menjawabnya dengan sangat suka. Tentu saja, saya memberikan kesukaran pertanyaan sesuai dengan usia anak-anak sehingga anak-anak akan dengan senang menjawabnya.

Jadilah, tempat Sholat yang sempit bergelar sajadah menjadi semakin istimewa. Tidak hanya menjadi tempat sholat dan berdoa saja, tetapi menjadi tempat untuk berkisah dan berdiskusi. Berkisah tentang kisah-kisah Rasulullah SAW dan berdiskusi tentang isi kisah dan topik pembicaraan lainnya.

Dari sini saya memahami bahwa sholat bagi anak-anak tidak hanya dipahami sebagai ritual ibadah dan doa, tetapi tempat untuk membangun komunikasi intensif yang menyenangkan dengan Ayah-Ibunya. Anak-anak berharap dalam usai sholatnya aka nada kebersamaan yang menyenangkan. Kebersamaan yang penuh dengan kasih sayang.

Dan hal di atas terjadi karena selesai sholat, setelah rutinitas dan kegiatan bermain yang melelahkan ditaklukan dengan ketenangan hati dalam doa, maka tubuh kita yang bergolak secara fisiologis diam dan takluk. Dalam keadaan demikian, hati dan pikiran anak-anak yang selesai Sholat terbuka. Saat itulah anak-anak membutuhkan asupan kasih sayang yang intensif.

Dan berkisah dengan diskusi menjadi satu asupan akhlak penuh gizi yang harus disuapi ke nurani anak-anak. Hasilnya sangat menakjubkan, saya sendiri menyaksikannya sendiri, anak-anak memiliki daya serap terhadap kisah-kisah Rasulullah SAW yang bagus. Anak paham dengan detil kisah yang diceritakan. Anak memahami nilai-nilai dengan baik pula. Sampai kemampuan berpikir anak-anak menjadi meningkat.

Tidak hanya sampai di situ, anak-anak menjadi sangat dekat dengan Ayah-Ibunya. Setiap usai sholat dan berkisah, anak-anak akan melingkarkan tubuhnya di atas sajadah dengan dengan Ayah-Ibunya, tiduran bersandaran dan menjadikan paha Ayah-Ibunya sebagai bantal. Atau memeluk Ayah-Ibunya dari belakang sambil bersandar. Semuanya bercengkrama dalam kehangatan keluarga yang tidak terlupakan dan tergantikan.

Untuk itu, usai sholat dan berdoa berjamaah dengan anak-anak, jangan lewatkan momen indah ini dengan tidak berbagi kisah pada anak-anak. Luangkan waktu sebentar, ceritakan kisah-kisah Rasulullah SAW yang menakjubkan. Anak-anak akan menyukai. Anak-anak akan senang. Dan anak-anak akan bangga terhadap Ayah-Ibunya yang menakjubkan. Selalu punya banyak kisah menawan Rasulullah SAW yang kela akan diteladani oleh anak-anak kita.

 

HERU KURNIAWAN
Founder Rumah Kreatif Wadas Kelir

BELAJAR MERDEKA KOLABORASI KOMUNITAS GURU BELAJAR (KGB) DENGAN RELAWAN PUSTAKA WADAS KELIR

dibaca normal:3 menit

“Ini sudah bukan saatnya berkompetisi, tapi saatnya kolaborasi. Bukan saatnya untuk berlomba meraih kemenangan sendiri. Tapi, harus menang bersama dalam meraih tujuan. Harus berkolaborasi dan bersinergi,” ungkap Daru Kuswanta, Ketua Komunitas Guru Belajar (KGB) Purwokerto dalam kata pembukannya sebagai pemateri.

Dua puluhan peserta diskusi dan bedah buku (8/7) antusias mengikuti kegiatan yang diselenggarakan di Pusat Belajar Masyarakat (PBM) Wadas Kelir. Kegiatan diisi dengan penjelasan Daru Kuswanta seputar kiprah, tujuan, dan kegiatan yang telah diselenggarakan oleh KGB. Kegiatan yang bersumber pada kekuatan untuk selalu “Merdeka Belajar” olah para pendidik dan murid, yang akan membuat pendidikan maju.

Daru Kuswanta pun menjelaskan bahwa empat tujuan yang ingin dicapai KGB adalah memajukan dunia pendidikan, porosnya bersumber pada kemerdekaan belajar, kompetensi, kolaborasi, dan karier. Melalui KGB semua pendidikan diorientasikan untuk mewujudkan keempat hal ini. Melalui merdeka dalam belajar, maka pendidik akan meningkatkan kompetensinya, sehingga mampu berkolaborasi dalam meningkatkan karier pendidik yang benar-benar mampu menciptakan ruang merdeka belajar bagi anak didiknya.

Untuk itulah, Heru Kurniawan menjelaskan bahwa dalam menciptakan kemerdekaan belajar, maka kesadaran belajar harus benar-benar tumbuh dalam diri diri kita. Kita semua setiap hari terlibat dalam kegiatan belajar, tapi pertanyaannya adalah apakah kesadaran belajar kita hadir? Kita pun sering melihat orang yang belajar, tetapi hasilnya tidak memiliki kesadaran belajar yang baik. Padahal kesadaran belajar bertanda pada kemauan untuk membaca dan mendengarkan, tidak mudah melakukan penilaian buruk, mampu mengendalikan diri dengan baik, selalu bijaksana dalam menyikapi fenomena, dan tentu saja, memiliki kesadaran cinta yang menyayangi.

Namun kenyataannya, lanjut Heru Kurniawan, kita banyak menjumpai perilaku orang belajar yang bertolak belakang. Mereka belajar di sekolah. Tapi sikapnya menunjukkan individu yang malas membaca dan mendengarkan, mudah melakukan penilaian buruk atas fenomena, individualis dan egois, ekspresif dan pemarah, serta tidak memiliki rasa sayang yang tinggi. Dan inilah yang sedang kita rasakan sekarang ini.

Untuk itu, merdeka belajar hakikatnya adalah memerdekakan kesadaran kita untuk belajar. Belajar dengan sebaik mungkin dengan penuh daya kreativitas tinggi, yang didasarkan pada penghormatan pada keberbedaan, kebebasan berpikir, keluasan pengetahuan, dan penghormatan hak-hak kemanusiaan kita. Dengan cara begini, kita akan menemukan belajar dalam makna yang sesungguhnya, demikian Daru Kuswanta menjelaskan.

Dari sinilah, buku Relawan Pustaka karya Relawan Rumah Kreatif Wadas Kelir (RKWK) mengungkapkan pengalaman kebebasan belajar relawan dalam mencintai buku-buku. Pengalaman yang didadapat sejak kecil tentang kemerdekaan mereka membaca. Membaca yang pada gilirannya menjadika mereka individu yang merdeka dalam belajar, dan rela menjadi relawan pustaka yang memikul tugas penting dalam meliterasikan diri dan masyarakat tanpa mendapatkan imbalan, kecuali ilmu itu sendiri.

Sedangkan buku Panduan Guru Belajar 2.0 membahas berbagai persoalan dalam kegiatan belajar kita. Persoalan-persoalan yang kemudian dipecahkan oleh para guru kreatif. Guru yang mampu mengadakan berbagai metode dan pendekatan kegiatan belajar yang kreatif dan menarik, sehingga proses kegiatan belajar di sekolah selalu disukai anak-anak. Anak-anak pun tumbuh dalam kemerdekaan belajar yang seharusnya. Praktik-praktik baik dalam mengajar inilah yang kemudian disajikan dalam buku ini. Buku inspiratif yang akan membimbing para pendidik untuk memberikan kegiatan belajar yang merdeka.

 

UMI KHOMSIYATUN

Relawan Pustakan Rumah Kreatif Wadas Kelir dan Mahasiswa Pascasarjana Universitas Muhammadiyah Purwokerto

KERJA BAKTI GEMBIRA: MEMBERSIHKAN DAN MENGHIDUPKAN PUSAT BELAJAR WADAS KELIR UNTUK SEMANGAT BELAJAR YANG LEBIH MEMBUMBUNG TINGGI

dibaca normal:3 menit

RUMAH KREATIF WADAS KELIR, Minggu (1/7) istimewa bagi kami: relawan, remaja, dan anak-anak Wadas Kelir. Sebabnya, hari Minggu ini menjadi pembuka awal bulan dan awal minggu yang baik setelah libur panjang Lebaran. Kami punya harapan pada hari ini akan menjadi hari pembuka yang membawa kebaikan bersama. Kebaikan dalam belajar di Pusat Belajar Masyarakat (PBM) Wadas Kelir yang lebih membumbung tinggi lagi.

Kami pun memulai hari ini dengan memberi kabar di group WA Rumah Kreatif Wadas Kelir, “Hari yang baik. Yuk, kita mulai dengan Kerja Bakti Gembira!” Dan serentak pesan ini dibaca remaja, relawan, dan anak-nak Wadas Kelir. Kami pun bersegera kumpul, dan tanpa banyak berkata, langsung bekerja bakti dengan semangat penuh gembira.

Kerja bakti gembira yang disi dengan membersihkan ruang kelas belajar kami, halaman bermain kami, sampai jalan-jalan tempat kami melangkah untuk sampai ke PBM Wadas Kelir. Semua kami bersihkan dan ditata dengan rapi, sehingga menghasilkan suasana yang nyaman dan menyenangkan. Kami pun bekerja dalam kegembiraan canda tawa yang tak akan terlupakan karena kami adalah keluarga masa depan yang indah.

Selang beberapa saat, setelah kami bekerja bakti, perlahan-lahan warga mulai bergabung. Ikut membantu kami membersihkan jalan yang selalu setia mengantarkan kami sampai ke PBM Wadas Kelir. Kehadiran warga membuat suasana kerja bakti jadi semakin seru dan istimewa. Semua bahu membahu dalam gerakan yang mengesankan dan menggembirakan.

Mbah Kaji, tokoh masyarakat yang ikut, berkomentar indah, “Terima kasih pada Rumah Kreatif Wadas Kelir yang gerakannya tidak pernah tanggung. Tidak hanya mengurusi dirinya sendiri, tetapi juga mau mengurusi tempat-tempat lain. Mau membersihkan jalan, halaman rumah, dan pekarangan warga lain. Ini membuat kami senang dan ingin selalu ikut serta.”

Kami pun tidak bisa membalas dengan kata apapun, selain senyuman tanda kami sangat senang dan bahagia. Dan Mbah Kaji menambahkan, “Silahkan pakai bambu-bambu saya di belakang rumah buat pagar di Wadas Kelir dan pinggir jalan agar semakin indah.” Kami sangat senang, gerakan mempercantik lingkungan didukung masyarakat.

Belum sempat berlalu lama, tokoh masyarakat Pak Narsidi datang dengan menawarkan diri, “Pak Guru, di rumah banyak bunga matahari dan bibit-bibitnya. Ambil bibitnya dan tabur bijinya di sekitar PBM Wadas Kelir, pasti akan semakin indah penuh dengan bunga-bunga.” Kami membalas dengan senyum penuh sukacita. Menyaksikan kenyataan PBM Wadas Kelir menjadi milik masyarakat Wadas Kelir.

Karena kegembiraan dan kerja sama yang harmonis dengan masyarakat, kerja bakti gembira dapat diselesaikan dengan cepat. Selanjutnya, kami berkumpul di PBM Wadas Kelir untuk kerja bakti selanjutnya yang lebih menyenangkan lagi. Kerja bakti menghabiskan makanan untuk sarapan pagi yang mengesankan. Makan bersama dalam kegembiraan dan kecapekan menjadi kekuatan utama untuk memaknai nikmatnya sarapan hari ini. Kami pun makan dengan lahap menghabiskan menu sederhana yang kami masak dengan kerja bakti pula.

Usai makan bersama, sambil melepas lelah, kami berdiskusi soal ide-gagasa yang semakin membuat Rumah Kreatif Wadas Kelir maju dan berkembang. Kami pun menampung ide-gagasan dari relawan, remaja, dan anak-anak secara terbuka, yang selanjutnya akan disusun dalam program kegiatan di bulan Mei 2018. Misalnya, kami menyepakati untuk mengisi Hari Anak Nasional, 23 Juli 2018, Rumah Kreatif Wadas Kelir akan menyelenggarakan acara Festival Literasi #4 yang akan menyelenggarakan lomba kreativitas permainan tradisional.

Kerja bakti gembira sungguh membuat kami gembira. Gembira karena lingkungan Wadas Kelir menjadi semakin bersih, nyaman, dan menyenangkan. Gembira karena kegiatan kami dibantu dan menyatu dengan masyarakat. Gembira karena kami bisa makan ekstra banyak. Serta gembira kami bisa mendapatkan ide-gagasan inovatif untuk kemajuan Rumah Kreatif Wadas Kelir ke depannya.

 

HERU KURNIAWAN

Founder Rumah Kreatif Wadas Kelir