MENGHADIRKAN DAN MENJAGA SEMANGAT SHOLAT DALAM KELUARGA

dibaca normal:4 menit

Tersebab pekerjaan yang banyak dan harus segera diselesaikan, beberapa hari itu saya harus keluar kota beberapa hari, kemudian pulang malam, tidur malam, bangun tidur tidak bisa lebih pagi dari biasanya, dan yang saya sedihkan, saya jarang bercakap dan bermain dengan anak-anak.

Dan pagi itu, saya bangun terlalu siang, itu saja yang membangunkan saya adalah Nera, “Ayah, bangun. Disuruh Ibu sholat Subuh dan antarkan Kakak Mafi dan Nera ke sekolah!”

 

Saya segera bangun mengambil air wudhu, sholat Subuh, dan menyiapkan segala sesuatunya. Saya pun mengantarkan kedua anak saya: Mafi dan Nera ke sekolah. Di tengah jalan saya bertanya, “Tadi sholat Subuhnya sama siapa?”

“Ibu!” jawab Mafi dan Nera serentak.

“Semalam sholat Maghrib dan Isyanya?” tanya saya kembali.

“Maghribnya di Mushola….” Mafi menghentikan kata-katanya.

“Kak Mafi dan Nera ketiduran, Yah. Tidak sholat Isya. Lupa, Yah,” Nera menjelaskan pelan.

Saya tidak bisa berkomentar apa-apa. Saya menyalahkan diri saya sendiri yang beberapa hari terlalu sibuk. Dan selepas mengatarkan anak-anak ke sekolah, di rumah saya berbincang dengan Istri.

“Apa yang terjadi dengan sholatnya anak-anak selama Ayah disibukkan dengan pekerjaan?” tanya saya.

“Anak-anak semangat sholatnya menurun. Lebih asyik bermain. Jika diingatkan sering dicuekin. Dan saat malam, sebelum Isya lebih dulu tertidur….” Istri menjelaskan panjang lebar.

Saya pun terdiam. Pangkal salahnya adalah saya: saya tidak bisa menghadirkan dan menjaga semangat sholat anak-anak di keluarga.

Anak-anak adalah individu yang menyerap. Akan selalu bisa menyerap kejadian di lingkungannya, dan tidak terkecuali energi dari orang tuanya. Di sinilah, tugas orang tua tidak melulu soal menasihati, mendidik, memberi, dan mengasihi, akan tetapi harus mampu menghadirkan energi atau semangat, termasuk semangat dalam menjalankan ibadah sholat.

Saya teringat hari-hari sebelumnya, saat terdengar adzan, kemudian saya mengambil air wudhu, terus berkata, “Saatnya sholat!” maka anak-anak akan bersegera sholat mengikuti saya. Kami pun akan sholat berjamaah di Mushola dengan penuh bahagia.

Dan waktu lainnya di rumh selalu saya isi dengan berdiskusi, bermain, sampai membacakan dan menceritakan kisah-kisah Rasulullah SAW dan para Sahabatnya, yang semakin menegaskan kehadiran suasana semangat religius untuk sholat dalam keluarga. Bahkan, tidak hanya sampai di situ, saat diri saya sendiri sedang senang dengan sholat, maka anak-anak pun mengikuti hal yang sama.

Ini menunjukkan kehadiran semangat dan energi sholat ini diserap dan dipahami oleh anak, sehingga anak-anak pun mendapatkan energi sholat yang sama dari orang tuanya. Energi inilah yang kemudian menggerakkan anak-anak melakukan hal yang sama dengan orang tuanya.

Jadi, jika ada keluarga yang semangat dan suasana sholatnya tidak ada, itu terjadi karena orang tuanya tidak mau dan mampu menghadirkan energi sholat dalam keluarganya. Kita pun pasti banyak melihat fenomena, anak-anak yang sejak kecil rajin sholat karena orang tua yang setiap hari memberikan contoh dan energi sholat juga pada anak-anaknya.

Sebaliknya, anak-anak yang perilaku sholatnya tidak konsisten, bisa jadi bukan karena orang tuanya tidak menyuruh dan memberi contoh. Tapi, orang tuanya tidak mampu menghadirkan dan menjaga semangat dan suasana untuk sholat. Kita pun banyak melihat kejadian di keluarga yang orang tuanya rajin sholat, tetapi anak-anaknya tidak mengikuti orang tuanya.

Di sinilah, menghadirkan semangat sholat menjadi kunci penting dalam membimbing anak-anak untuk rajin sholat. Menghadirkan semangat ini harus dilakukan dengan: memberikan contoh, menunjukkan semangat dan menyenangkannya sholat, selalu berdiskusi tentang ibadah dan sholat dengan anak, sampai selalu berkisah tentang Rasulullah SAW dan para Sahabatnya.

Dengan cara ini, suasana semangat untuk melakukan ibadah sholat diciptakan dan dijaga dengan baik. Anak-anak kita pun akan menyerap semangat itu sehingga menjadi energi yang menggerakkan anak-anak kita untuk selalu menunaikan sholat dengan sebaik mungkin.

Saya pun mendadak teringat kejadian hari hari kemarin, saat terdengar kumandang adzan, saya bergeas berganti baju, kemudian mengambil air wudhu, dan mengajak anak-anak sholat berjamaah. Anak-anak saya pun bergegas melakukan hal yang sama. Kemudian kami sholat berjamaah bersama. Rasanya kenyataan itu sangat bahagia dan menyenangkan.

Dan saat saya kemudian terjebak dalam pekerjaan, saat energi sholat tidak bisa saya hadirkan dan jaga di keluarga dengan baik, saya pun mendapatkan kenyataan pahit ini. Anak-anak semangat sholatnya menurun. Anak-anak menyerap kenyataan Ayahnya yang sedang kehilangan semangat ibadahnya.

Di sinilah anak-anak harus diakui menjadi cermin dan miniature kenyataan keimanan orang tuanya. Jika orang tuanya mampu menghadirkan dan menjaga semangat dan suasan sholatnya dengan baik, anak-anak pun akan demikian. Tapi, sebaliknya, jika orang tua gagal menghadirkan dan menjaga suasan sholatnya dengan baik, maka anak-anak akan kehilangan arah.

Saya pun tertunduk sedih menyaksikan kenyataan ini. Dan istri saya tahu keadaan ini, dia pun berkata, “Nanti selepas anak-anak pulang sekolah. Hadirkan kembali semangat dan suasan sholat seperti kemarin. Pasti anak-anak akan paham dan mengerti. Dan semangat dan suasan sholat akan hadir kembali di keluarga kita.”

Aku menganggukkan kepala. Anak-anakku telah mengajariku cara bertaubat dengan sikap-sikap yang istimewa.

Semoga menginspirasi.

 

Heru Kurniawan
Pengajar di Institut Agama Islam Negeri Purwokerto
Penulis Buku Parenting, Bacaan, dan Aktivitas                                                                                                                                Founder Rumah Kreatif Wadas Kelir

Comments

comments

0 replies

Leave a Reply

Want to join the discussion?
Feel free to contribute!

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *