MELATIH BERPIKIR DAN BERLOGIKA ANAK MELALUI BACAAN CERITA

dibaca normal:4 menit

Saya menyerahkan selembar kertas yang berisi cerita sederhana pada anak-anak yang akan belajar dengan saya hari itu. Isi ceritanya sangat sederhana dan mudah dipahami:

Minggu pagi hari, Andi, Anti, dan Ayah-Ibu pergi tamasya ke pantai dengan mengendari mobil Avanza. Sampai di pantai mereka langsung membeli sarapan, dan makan bersama penuh suka cita. Selepas sarapan, Andi langsung mengeluarkan pancingnya. Andi pun mengajak Ayah memancing di laut dengan naik perahu. Ayah sangat senang menemani Andi memancing. Sampai kemudian pancing Andi ditarik ikan, dan Andi berhasil mendapatkan seekor ikan yang sangat besar.

 

Andi dan Ayah memamerkan hasil tangkapan pancingnya pada Anti dan Ibu dari jauh. Keduanya sangat senang melihat ikan kesukaannya. Keduanya pun sudah punya rencana nanti malam, selepas pulang dari pantai, akan memasak ikan bakar yang lezat untuk acara makan keluarga malam hari. Pasti sangat menyenangkan sekali.

Setelah anak-anak membaca cerita itu, salah satu anak menyeletuk, “Kok, ceritanya singkat dan hanya begini. Ini mau diapakan Pak Guru. Saya sudah paham isi ceritanya!”

Saya hanya menanggapi dengan tersenyum senang. Kemudian saya berteriak pada anak-anak, “Apakah kalian sudah selesai membaca?”

“Sudah!” teriak anak-anak kompak.

“Jika sudah, sekarang jawab pertanyaan saya:  Pergi kemanakah keluarga Andi?”

“Ke pantai, Pak Guru!” jawab Zakka.

“Yes, betul.”

“Apa yang dilakukan keluarga Andi setelah sampai di pantai?”

“Sarapan!” jawab Vita.

“Yes, betul.”

“Apa yang dilakukan Andi dan Ayah setelah sarapan?”

“Memancing di laut!” jawab Ova.

“Yes, betul.”

Saya diam beberapa saat menatap wajah anak-anak yang penuh antusias belajar, kemudian bertanya dengan pelan pada anak-anak, “Apa warna mobil Avanza yang dikendarai keluarga Andi?”

Semua anak mendadak diam. Beberapa anak membaca cerita itu lagi, tetapi tidak menemukan jawabannya. Anak-anak saling pandang. Saling memberi isyarat bahwa pertanyaan ini jawabannya tidak ada di cerita.

“Jawabannya tidak ada di cerita, Pak Guru!” protes Nera.

“Iya, betul. Tapi, coba kita pikirkan. Pasti kalian akan menemukan jawabannya!” rayu saya pada anak-anak.

“Yes, aku tahu. Mungkin warnanya putih, Pak Guru!” jawab Mafi.

“Kenapa?” tanya saya.

“Karena yang saya tahu, mobil Avanza itu warnanya ada yang putih, hitam, dan silver. Jadi karena saya suka putih, mobil keluarga Andi juga berwarna putih.”

“Yes, benar.”

Mafi tersenyum senang.

“Terus, sarapan yang dimakan keluarga Andi apa ya? Dan Ikan yang ditangkap Andi melalui pancingnya ikan apa, ya?”

Dua pertanyaan ini membuat anak-anak heboh. Mereka memberikan jawabannya dan argumennya. Saya senang menyaksikannya. Setiap anak berpendapat atas jawabannya masing-masing.

Dan tentu saja saya tidak menyalahkannya karena setiap jawaban ada argumentasi yang dibangun anak-anak, dan semuanya bisa diterima dengan logika dalam konteksnya.

Misalnya, Dwi menjawab, “Sarapannya ikan bakar karena di pantai pagi hari banyak penjual ikan bakar.Dan ikan yang didapat adalah ikan kakap yang besar. Ikan yang sering didapat melalui memancing di laut.”

Jawab Dwi sudah menunjukkan kemampuannya dalam melakukan berpikir dan berlogika. Berpikir karena berdasarkan pengetahuan yang dimiliki: Dwi bisa menjawab pertanyaan, tetapi tidak hanya sekadar menjawab, Dwi juga berlogika karena menghubungkan jawabannya dengan kenyataan kontekstual yang banyak di alami dan diketahuinya.

Inilah yang saya sebut dengan berpikir dn berlogika sebagai suatu kemampuan anak mengembangkan pengetahuan dan nalar logisnya, yang salah satunya dapat dilakukan melalui bacaan cerita.

Di sini menyiratkan bahwa setiap kali anak-anak kita dikondisikan untuk membaca atau dibacakan cerita, maka tugas guru atau orang tua selanjutnya adalah mengkondisikan anak-anak untuk mengembangan pikiran dan pengetahuannya melalui menjawab pertanyaan dari guru dan orang tua. Dan dalam memberikan pertanyaan, guru dan orang tua tidak serta merta memberikan pertanyaan yang jawabannya ada di bacaan cerita (tersurat).

Akan tetapi, juga harus diberikan pertanyaan yang tersirat, yang dalam teks bacaan itu tidak ada jawabannya langsung. Akan tetpi, sesuangguhnya jawaban itu ada dalam konteks yang tersirat. Misanya, keluarga Andi naik mobii Avanza yang warnanya tidak disebutkan dalam cerita, tetapi setiap mobil kan pasti ada warnanya, di sini anak-anak akan melogikakan jawabannya.

Dari sinilah, melalui kegiatan ini, kita sedang mengembangkan dua kemampuan penting bagi anak-anak, yaitu berpikir dan berlogika. Berpikir ini terkait dengan kemampuan koginitf anak dalam menggunakan pengetahuan atau pemahaman atas bacaan untuk menjawab pertanyaan dengan tepat.

Namun, pertanyaan tersirat ini, tidak cukup hanya dengan kemampuan berpikir. Akan tetapi harus dilanjutkan dengan kemampuan berlogika, yaitu menguhubungkan jawaban atas pertanyaan dengan alasan dan argumentasi rasionalisasinya. Dengan rasionalisasi yang baik ini, maka anak-anak akan semakin menjadi bermakna pengetahuan dan pemahaman yang dimilikinya.

Melalui dua kemampuan berpikir dan berlogika ini, maka anak-anak akan dikondisikan untuk memahamai bacaan dengan baik, kemudian mampu mengkontekstualisasikan bacaan dengan pengalaman dan kenyataan yang sebenarnya, yang tanpa disadari menjadi hal yang diacu dalam bacaan.

Dari sinilah, melalui bacaan sederhana, kita bisa meningkatkan kemampuan berpikir anak-anak dengan baik.

 

HERU KURNIAWAN

Pengajar di Institut Agama Islam Negeri (IAIN) Purwokerto

Founder Rumah Kreatif Wadas Kelir Purwokerto

Penulis Buku Parenting dan Bacaan Anak-anak

www.rumahkreatifwadaskelir.com

Ig.herukurniawan_1982 WA. 081564777990

GURU-GURU TAK TERLUPAKAN DALAM HIDUPKU

dibaca normal:5 menit

1.

Saya masih ingat guru SD saya. Guru yang setiap hari Sabtu, membawa satu kardus buku-buku. Setelah buku itu diletakkan di atas meja kemudian berkata, “Anak-anak, hari ini Pak Guru akan membagikan buku untuk kalian. Tugas kalian adalah membaca sampai selesai selama satu minggu. Kemudian, minggu depan buku dikumpulkan lagi. Akan Pak Guru putar bergantian membaca.”

Guru SD saya pun membagikan buku itu satu per satu. Saya termasuk anak yang berbinar melihat buku cerita yang saya terima. Buku yang tidak pernah saya lihat karena di SD kami tidak ada perpustakaan. Dan saya, menjadi salah satu anak yang membaca buku pinjaman Guru SD saya setiap minggu. Tanpa saya sadari, saya telah membaca 24 buku selama 24 bulan. Pengalaman yang sangat mengesankan saya.

Saya masih selalu teringat

2.

Di bangku SMP, saya masih ingat dengan Guru Bahasa Indonesia saya. Guru yang setiap pelajarannya selalu membuat kontes adu kecepatan menjawab pertanyaan nama pengarang-pengarang hebat Indonesia.

“Siapa yang menulis Buku Puisi Deru Campur Debu?” taya Guru saya.

“Chairil Anwar!” saya angkat tangan dan menjawab.

“Siapa yang menulis novel Siti Nurbaya?”

“Marah Rusli!” saya menjawab.

“Siapa yang menulis Novel Merahnya Merah?”

“Iwan Simatupang!” saya selalu menjawab dengan tepat.

Seluruh mata teman-teman menatapku dengan sebal. Saya malu. Tapi saya ingin selalu bisa menjawab benar, sebab semalaman, jika besok ada pelajaran bahasa Indonesia, saya selalu membaca buku Rangkuman Pengetahuan Umum Lengkap (RPUL), bagian nama-nama pengarang Indonesia. Saya pun hafal, tapi saya sebenarnya tidak pernah membaca buku-bukunya (ha-ha-ha-ha).

Selesai bertanya jawab, Guru saya itu kemudian menceritakan kisah-kisah novel-novel itu. Saya sangat terpukau dan antusias mendengarkan. Sampai kemudian, Guru saya itu datang mendekati saya, kemudian berbisik, “Her, kamu pintar dengan  penulis-penulis novel Indonesia. Sekarang coba kamu baca novel-novelnya, pasti kamu suka.” Saya diam tidak bisa berkutik. Saya pun mendadak ingin sekali jam istirahat datang. Saya ingin ke perpustakaan sekolah.

Dan saat jam istirahat tiba, saya ke perpustakaan sekolah, saya berbinar melihat deretan novel-novel yang sering diceritakan Guru saya. Saya melihat novel Dian yang Tak Kunjung Padam, Sengsara Membawa Nikmat, Siti Nurbaya, Rafillus, Olenka, Kering, Koong, dan sebagainya yang semuanya memikat hati saya. Tanpa saya sadari, saya mengambil novel Dian yang Tak Kunjung Padam karya Sutan Takdir Alisjahbana dan Olenka karya Budi Darma.

Dua novel yang kemudian menyedot minatku untuk membaca buku-buku novel di perpustakaan. Sampai, tanpa saya sadari saya telah menyelesaikan novel-novel berat di usia yang masih anak-anak, saat duduk di bangku SMP. Saya sangat berkesan, dan sampai sekarang saya masih ingat isi cerita novel-novel itu, dan saya masih ingat Guru bahasa Indonesia saya yang menanamkan rasa cinta saya pada buku.

Ini sangat mengagumkan bagi saya.

3.

Saat duduk di bangku SMA, saya selalu ingat Guru bahasa Indonesia saya. Guru bahasa Indonesia yang memperkenalkan saya dengan sebuah buku berjudul Sinopsis Novel-Novel Indonesia Muktahir, buku yang berisi ringkasan novel-novel yang hampir seluruhnya sudah saya baca saat di bangku SMP.

Tidak heran saat Guru saya bertanya soal pengarang-pengarang novel hebat Indonesia, saya selalu bisa menjawab dengan benar. Sampai pada suatu hari, di perpustakaan sekolah. Saat perasaan saya sedang hancur karena baru ditolak cinta, saya suntuk membaca novel di perpustakaan. Tanpa sepengetahuan saya, Guru bahasa Indonesia itu ada di perpustakaan juga.

“Sedang apa, Her?” tanya Guru saya.

“Baca dan mau pinjam buku?” jawab saya sambil menunjukkan novel Kering karya Iwan Simatupang. Saya suka dengan novel-novel Iwan Simatupang sejak SMP dan dilanjutkan SMA.

Guru saya mendekat kemudian berkata pelan, “Kamu itu besok cocoknya jadi guru bahasa Indonesia.”

Kata-kata itu selalu terngiang di benak kepala saya. Kata-kata yang belum saya dengan dari guru manapun sejak saya sekolah. Guru yang telah mengarahkan cita-citaku karena tahu hobi saya membaca buku.

Saya tak bisa melupakan kata-kata itu sampai sekarang.

4.

Dan tiga tahun kemudian, tepatnya tahun 2000, saat saya mengalami keputusasaan yang akut. Saat saya bingung harus kemana lagi. Karena saya tidak diterima kuliah di universitas negeri, saya gagal lolos tes ujian masuk perguruan tinggi negeri, saya mendadak ingin tidak kuliah. Saya ingin di rumah saja membantu Ayah dan Ibu di sawah menjadi petani.

Tapi, suatu malam, Bu De saya datang. Bu De memaksa saya untuk mendaftar kuliah di sebuah perguruan tinggi swasta di Purwokerto, tepatnya di Universitas Muhammadiyah Purwokerto. Saya pun ikut dengan Mas Catur, saudara sepupu saya. Kami pergi ke sana, dan sampai di Sekretariat Pendaftaran Mahasiswa Baru, tepat di depan loket saya menjadi bingung.

Di hadapan saya ada selembar formulir yang bertuliskan, pilihan jurusan dan program studi. Saya diam dan menimang-nimang mana jurusan yang harus saya pilih. Mana yang tepat bagi saya. Saya bingung dan tidak tahu mana yang harus saya pilih. Dan entah dari mana datangnya, dalam keadaan kritis seperti itu, saya memanggil pengalaman masa lalu saya saat duduk di bangku SD, SMP, dan SMA.

Dan saya teringat masa lalu sekolah saya, dan yang teringat adalah saat Guru SD saya yang membawa buku dan membagikannya pada murid-muridnya, Guru yang membuatku suka membaca buku. Terus saya juga teringat Guru SMP saya yang menyatakan diriku pintar dalam dunia pernovelan, Guru yang membuatku telah membaca ratusan novel di perpustakaan sekolah. Dan tentu saja, kata Guru SMA saya, “Kamu itu besok harus jadi guru bahasa Indonesia!” begitu keras bergema di pikiran saya.

Setelah menemukan pengalaman mengagumkan di sekolah, saat saya dalam keadaan krisis dan kebingungan ini, saya kemudian menentukan pilihan bahwa saya akan kuliah di Pendidikan Bahasa dan Sastra Indonesia. Bismilah! Saya menuliskan dengan mantap. Saya yakin kelak saya akan jadi guru bahasa Indonesia yang mengajar seperti Guru SD, SMP, dan SMA saya dulu.

Perjalanan hidup yang tidak saya lupakan.

5.

Dari situ, saya menyadari satu hal: Tugas kita sebagai guru yang paling utama adalah membuat pengalaman mengesankan bagi murid-muridnya. Pengalaman mengesankan inilah, yang tak akan dilupakan murid-muridn, yang suatu saat nanti, saat murid-murid mengalami krisis dan kebingungan, pengalaman berkesan dari guru itu akan dipanggil. Akan dijadikan sebagai pegangan dalam menyelesaikan krisis yang sedang dialami. Seperti yang saya alami sendiri

 

Dan jika, pengalaman berkesan itu berhasil menyelamatkan hidup murid-murid, maka murid tidak akan melupakan gurunya. Guru yang telah berhasil mendidik dengan sepenuh hati. Guru yang menjadikan muridnya bermasa depan indah karena pengalaman mengagumkannya yang telah diberikan pada murid, dan murid tak melupakan sepanjang hidupnya.

Ini yang saya rasakan atas pengalaman istimewa yang saya dapat dari guru-guru saya di bangku SD, SMP, dan SMA yang tak terlupakan. Hormat saya pada guru-guru saya yang istimewa. Aku tundukan kepala dan ikhlaskan hati untuk doa yang saya lafalkan untuk guru-guru saya. Semoga engkau diberikan keberkahan dalam hidup yang singkat ini.

Semoga menginspirasi kita sebagai guru!

 

HERU KURNIAWAN

Pengajar di Institut Agama Islam Negeri (IAIN) Purwokerto; Founder Rumah Kreatif Wadas Kelir Purwokerto

Penulis Buku Parenting dan Bacaan Anak-anak;  www.rumahkreatifwadaskelir.com;  Ig.herukurniawan_1982 WA. 081564777990

SEKOLAH LIETRASI WADAS KELIR: BELAJAR MEMBACA, BERPIKIR, DAN BERKARYA!

dibaca normal:2 menit

Sudah seminggu saya membuka Sekolah Literasi . Tidak disangka antusias anak-anak dan remaja mengikuti Sekolah Literasi ini cukup tinggi. Setidaknya, lima belas sampai dua puluh anak ikut serta dalam sekolah ini. Dan semuanya antusias mengkuti kegiatan belajar di Sekolah Literasi ini.

Kami mendesain Sekolah Literasi ini dengan unik. Anak-anak PAUD, Sekolah Dasar (SD), dan Sekolah Menengah Pertama (SMP) saya satukan jadi satu kelas. Kemudian semuanya terlibat dalam suatu kegiatan belajar yang paling dasar: memahami pola substansi informasi melalui kegiatan berpikir dan bernalar.

Dari sinilah, anak-anak kemudian memiliki kemampuan yang sama, sekalipun usia dan jenjang pendidikan. Namun, tentu saja anak-anak PAUD mendapatan pendampingan untuk dibantu membaca dan memahami substansi pola, sehingga akan diarahkan.

Dan yang saya dapatkan, jenjang pendidikan tinggi bukan jaminan anak akan lebih cepat dan pandai dalam memahami substansi pola suatu informasi. Yang jenjang pendidian lebih tinggi sering banyak kalah cepat dalam memahami substansi pola informasi dari anak-anak yang jenjang pendidikan di bawahnya. Jadi ini menjadi salah satu keunikan Sekolah Literasi di Wadas Kelir ini.

Substansi materi belajar saya kembangkan dari tiga paradigma literasi: membaca, berpikir, dan berkarya. Aspek membaca direalisasikan dalam kegiatan tugas membaca sehari satu buku dan membaca teks belajar yang dijadikan materi pengayaan substansi pola informasi. Aspek berpikir dilakukan dengan bermain logika pengayaan dan menjawab pertanyaan dari teks belajar. Sedangkan aspek berkarya dengan menulis atau menunjukkan performa atas suatu materi belajar tertentu.

Melalu ketiga aspek materi belajar ini, Sekolah Literasi akan menyiapkan anak-anak yang gemar membaca, memiliki kemampuan berpikir tingkat tinggi, dan keterampilan dan kreativitas dalam mengekspresikan ide gagasan melalui karya dan performa.

Silahkan yang ingin mencoba sensasi belajar di Sekolah Literasi Wadas Kelir, ajak putra-putri Ayah dan Ibu ke Wadas Kelir setiap Kamis – Minggu, Pukul 16.00 – 17.30 WIB, langsung yang mengajar adalah Pak Guru Heru dengan diasisteni langsung oleh Relawan Pustaka Wadas Kelir.

 

TIM KREATIF SEKOLAH LITERASI WADAS KELIR

RUMAH KREATIF WADAS KELIR

Jln. Wadas Kelir Rt.7 Rw.5 Karangklesem

Purwokerto Selatan – Banyumas

Jawa Tengah;  WA. 081564777990

www.rumahkreatifwadaskelir.com

Ig. Rumahkreatifwadaskelir atau Ig. Herukurniawan_1982

SAYA SELALU BERTERIAK-TERIAK MEMANGGIL ANAK-ANAK SETIAP SORE UNTUK SEKOLAH LITERASI!

dibaca normal:4 menit

Setiap sore, selepas Sholat Asar, menjelang pukul 16.00 WIB, saya selalu keluar rumah. Kemudian mendekati anak-anak yang sedang bermain. Dan tanpa ba-bi-bu, saya langsung berteriak, “Ayuk, mandi! Mandi! Kita sekolah. Sekolah bersama Pak Guru!”

Beberapa anak langsung pulang dan mandi, kemudian datang untuk sekolah bersama saya. Tapi, lebih banyak lagi, pergi hanya berpindah tempat. Kemudian melanjutkan kegiatan bermain lagi. Tidak mau bergabung untuk sekolah bersama saya.

Tapi, saya selalu berusaha mengelola perasaan saya sebisa mungkin untuk tidak kecewa, apalagi marah sama anak-anak yang tidak mau belajar. Saya selalu menyapa mereka dan berbuat baik pada mereka. Tapi, jika bertemu lagi, saya tetap berteriak, “Kok, tidak berangkat sekolah. Besok sekolah ya?” tanpa bosan dan jenuh.

Dan, bagi anak-anak yang datang, saya langsung menyambut dengan penuh suka cita. Saya menyodorkan tangan untuk dijabat. Mempertunjukkan ekspresi gembira untuk meyakinkan bahwa belajar hari ini akan menyenangkan. Selanjutnya, dengan ide-ide belajar yang sudah saya pikirkan, saya sudah siap menyajikan pengalaman belajar yang menyenangkan.

Selalu saja, yang saya tunjukkan adalah semangat melalui berkata lantang penuh gembira. Mengeluarkan energi-energi positif selama kegiatan belajar. Dan jika ada yang mengalami persoalan, saya mencoba untuk mendampingi untuk menyelesaikannya dengan baik.

Dan jika saat kami sedang belajar, sedangkan di luar ada anak-anak yang sedang bermain. Tidak ikut kegiatan kami. Sekalipun dalam hati saya, sungguh sebagai manusia yang egois, saya merasa sedih dan kecewa, tapi saya merasa tidak berhak untuk kecewa dan marah. Saya meyakinkan diri bahwa anak-anak punya acara sendiri untuk belajar, sekalipun melalui bermain. Saya tidak boleh merasa benar sendiri.

Maka yang hanya bisa saya lakukan adalah seperti awal berteriak, “Kenapa tidak ikut sekolah? Besok ikut, ya?”

Dan anak-anak tentu saja hanya bias menjawab dengan senyuman. Dengan wajah senang-senang saja. Sambal terus melanjutkan bermainnya. Dan saya hanya mengelus dada mencoba untuk selalu bahagia sebab saya menyadari sepenuhnya: saya menyelenggarakan sekolah yang tak tercatat dalam kewajiban yang harus dilakukan. Sekolah yang saya kelola hanya sebuah sekolah yang bernama Sekolah Literasi yang hanya boleh diikuti bagi yang mau saja. Jika tidak mau, ya, saya harus pasrah dan sabar.

Dengan teknik berteriak-teriak tanpa henti, saya perlahan-lahan mendapatkan simpatik anak-anak. Atau barang kali lebih tepatnya rasa kasihan anak-anak pada saya. “Kasihan, Pak Guru, tiap sore teriak-teriak mengajak kita sekolah. Padahal, kami sebenarnya tidak ingin. Tapi, kasihan Pak Guru, jadi yuk, sekolah!” barang kali beginilah kata hati anak-anak yang kemudian datang untuk ikut sekolah dengan saya.

Ha-ha-ha-ha! Jika begini kenyataannya, tentu saya sangat sedih. Tapi, tidak apa. Toh, saya juga hanya berniat sederhana saja: memanfaatkan waktu dua jam untuk anak-anak dalam kebaikan. Kebaikan belajar yang bisa saja tidak penting. Tapi, setidaknya, dalam dua jam itu, yang biasanya anak-anak gunakan untuk main game atau nonton tv, jadi tidak. Anak-anak belajar bersama saya.

Dan dengan berteriak-teriak tanpa henti. Dengan tanpa marah dan kecewa, anak-anak yang terus saja tidak ikut kegiatan belajar dengan saya. Saya menerimanya dengan suka cita, buktinya, saat kegiatan sekolahnya itu tamasya, anak-anak yang tidak pernah ikut, biasanya mendadak jadi anak paling rajin. Mendadak ikut serta kegiatan tersebut.

Menyikapi ini saya tentu saja berterima kasih. Dalam hidupnya, akhirnya, sekalipun hanya sebulan sekali anak-anak ini mau juga sekolah dan belajar dengan saya. Saya sangat bahagia bisa memberinya ilmu dan pemahaman, sekalipun mungkin besok tidak terpakai kembali.

Ha-ha-ha! inilah indahnya nasib menjadi guru di masyarakat dengan sekolah yang tanpa kewajiban. Inilah indahnya belajar untuk menjadi sabar dan baik dalam menghadapi setiap tanggapan anak-anak yang mau dan tidak mau diajak belajar. Inilah pelajaran penting yang saya dapatkan menjadi guru untuk anak-anak yang sekolahnya tidak diwajibkan.

Terima kasih, anak-anakku. Sayalah yang sesungguhnya sedang belajar pada kalian, makanya saya selalu begitu semangat berteriak-teriak mengajak kalian sekolah setiap sore. Terima kasih atas pelajaran berharga kalian tentang kehidupan, yang apapun keadaannya, harus selalu disikapi dengan ikhlas dan sabar.

 

HERU KURNIAWAN

Guru Sekolah Literasi Rumah Kreatif Wadas Kelir & Founder Rumah Kreatif Wadas Kelir

MAHASISWA THAILAND BELAJAR DI WADAS KELIR

dibaca normal:4 menit

Kamis, 3 Agustus 2018, 12 mahasiswa asal Pattani, Thailand Selatan datang ke Rumah Kreatif Wadas Kelir (RKWK) untuk belajar pengembangan bahasa dan sosial. Selama 10 hari ke depan, kedua belas mahasiswa ini akan tinggal di rumah warga sekitar untuk belajar seputar bahasa dan kebudayaan Indonesia.

Kedua belas mahasiswa tersebut adalah pemuda-pemudi asal Pattani yang mendapatkan beasiswa belajar di Indonesia. Sebanyak 8 mahasiswa mendapat beasiswa di IAIN Purwokerto dan 4 mahasiswa mendapat beasiswa di STKIP Darussalam Cilacap. Sebagian besar mahasiswa yang mendapatkan beasiswa belajar tersebut adalah mahasiswa transfer dari Jamiah Islam Syeikh Daud Al-Fathani (JISDA) dan Alumni beberapa madrasah ternama di Pattani.

Sebelumya, seminggu yang lalu, secara resmi, kedua belas mahasiswa tersebut diserahkan untuk belajar di RKWK oleh perwakilan pihak dari Pattani, Thailand Selatan, yang kala itu diwakili langsung oleh Rektor dan jajaran pejabat JISDA serta didampingi oleh pihak rektorat IAIN Purwokerto dan STKIP Darussalam Cilacap.

Kegiatan serah-terima tersebut sekaligus menjadi kesempatan bagi keduabelah pihak (RKWK dan Pihak Pattani) untuk menandatangani MoU, yaitu kerja sama dalam hal pembimbingan bagi mahasiswa Pattani yang belajar di Jawa Tengah.

RKWK dipercaya menjadi pihak penyelenggara program pengembangan karena tahun lalu telah sukses menggelar kegiatan serupa. Tahun 2017, 13 mahasiswa asal Pattani yang baru tiba di Indonesia mengikuti program serupa di RKWK. Kegiatan tersebut dilihat membawa dampak positif bagi para mahasiswa.

Alhamdulillah, dulu saya belajar di Wadas Kelir dulu, jadi nggak malu belajar bicara bahasa Indonesia. Sekarang udah lancar, kuliah jadi enak. Jadi kenal juga dengan dunia menulis dari kakak-kakak relawan di Rumah Kreatif Wadas Kelir,” tutur Rais, salah satu alumni kegiatan pengembangan kebahasaan dan sosial di Wadas Kelir tahun 2017.

Selama sepuluh hari ke depan, para mahasiswa akan didampingi oleh para relawan RKWK untuk belajar tentang tiga hal, yaitu kebahasaan, seni, dan kegiatan sosial. Dalam hal kebahasaan, para mahasiswa ini akan diajarkan tata bahasa Indonesia dalam berbagai ranah, terutama dalam kegiatan sehari-hari. Selain itu, para mahasiswa ini akan dikenalkan dengan dunia kepenulisan kreatif. Para relawan yang menangani kegiatan pengembangan lini bahasa ini adalah lulusan pendidikan bahasa dan sastra Indonesia dan para relawan yang bukunya sudah terbit di berbagai penerbit.

Kegiatan lain adalah pengembangan seni. Dalam hal ini, para mahasiswa akan diajari macam-macam kegiatan dan produksi seperti pementasan pantomim, baca puisi, hingga membuat film. Selama 15 kali pertemuan, para mahasiswa akan didampingi oleh lini kreatif khusus seni, yaitu Tim Rumah Seni Wadas Kelir. Goal dari lini ini adalah menghelat malam puncak yang akan diisi dengan pentas seni. Kegiatan tersebut akan menjadi wadah bagi para mahasiswa untuk menunjukkan hasil prosesnya selama di RKWK, seperti pemutaran film karya para mahasiswa, pentas pantomim, pentas drama, pentas baca puisi, dan lain-lain.

Kegiatan lainnya, yang juga dilaksanakan adalah kegiatan sosial. Pada kegiatan ini, para mahasiswa akan diajak bertamu dan menyapa warga sekitar, caranya dengan tausiah di mushalla sekitar, mengajari anak-anak mengaji, mengunjungi rumah warga untuk wawancara tentang kebudayaan setempat, dan memasak bersama. Kegiatan tersebut diharapkan akan membuat para mahasiswa mengenal kebudayaan di Indonesia, sehingga mereka akan merasa betah selama belajar di sini.

Dituturkan oleh pihak rektorat JISDA bahwa mereka sangat bersyukur dengan adanya kegiatan pengembangan di RKWK. Selain, jelas akan membantu para mahasiswa yang sedang dalam proses menyesuaikan diri di lingkungan baru di Indonesia, juga menambah sebuah ikatan saudara.

“Kami melepas anak-anak kami dari Pattani untuk belajar di universitas di Indonesia ini. Tapi, kami sebagai orang tua tetap mempunyai rasa khawatir pada anak-anak yang jauh ini. Namun, dengan adanya RKWK ini, hati kami merasa ada ketenangan, karena kami berpesan agar menjadikan RKWK ini sebagai salah satu rumah untuk pulang. Anggap RKWK ini keluarga. Apalagi sambutan hangatnya selama ini pada kami sangatlah ramah. Saya yakin mereka betah belajar di sini,” pungkas Ust. Dr. H. Abdurrasyid Hamiyae, Rektor JISDA.

Rumah Kreatif Wadas Kelir selalu merasa terhormat  dan terharu apabila orang-orang datang  berkunjung dan belajar bersama relawan dan masyarakat di Wadas Kelir. Sebab, cita-cita RKWK adalah menjadi kampung belajar, tempat orang-orang dari seluruh dunia datang, untuk singgah, mengenal kearifan lokal, dan belajar.

Sebab, kami percaya bahwa tidak ada seorang pun yang singgah dalam hidup kami tanpa dimaksudkan Tuhan untuk mengajari sesuatu yang penting.

 

ENDAH KUSUMANINGRUM

Mahasiswa Pascasarjana Universitas Muhammadiyah Purwokerto

Relawan Pustaka Rumah Kreatif Wadas Kelir

MEMULAI MENGAJARKAN BERBAGI PADA ANAK

dibaca normal:5 menit

“Ini Punyaku!” teriak salah satu anak.

Tiba-tiba permainan menjadi tidak menyenangkan. Anak-anak pun berhenti bermain. Orang tua yang melihat anaknya seperti ini tentu perlu mengarahkan anak agar dapat senang berbagi. Nilai berbagi sebaiknya diajarkan sejak dini pada anak-anak.

Anak-anak memiliki pertumbuhan yang cepat. Sejak dini, anak melakukan aktivitas melalui pengalaman yang didapatkannya. Pengalaman yang baik bagi anak akan menumbuhkan energi positif. Hal inilah yang sebaiknya dapat diperhatikan, yakni memastikan bahwa anak memiliki pengalaman energi positif untuk bekal dewasa nanti.

Salah satu pemberian dan pengajaran sejak dini yang dapat dilakukan adalah berbagi. Yah, mengajarkan berbagi memiliki pengaruh yang positif terhadap perkembangan anak khususnya aspek sosial-interpersonal anak

Nilai berbagi perlu ditunjukkan kepada anak dari orangtua. Orangtua yang membiasakan anak untuk berbagi tidak saja memberi manfaat pada diri anak tapi juga orang lain. Anak akan mengenal rasa empati dan peduli terhadap orang lain. Bukan hanya itu, berbagi akan mengajarkan kebersamaan pada anak. Perkembangan sosial pada  anak akan tumbuh dengan baik. Anak juga akan memiliki teman baik lebih banyak.

Oleh karena itu, orang lain pun akan senang. Orangtua sebagai orang dewasa perlu memperhatikan sikap anak terhadap orang lain. Membiarkan anak bersikap acuh tak acuh dan mengabaikan orang lain akan menyebabkan tumbuh sikap egois atau menang sendiri pada anak. Hal ini tentu tidak boleh dibiarkan, mengingat anak sejak dini perlu memiliki sikap sosial yang baik.

Sikap sosial yang baik dapat ditunjukkan dengan kepedulian, simpati dan juga dengan berbagi. Ada beberapa cara untuk menumbuhkan sikap berbagi pada anak, di antaranya;

Pertama, menciptakan lingkungan senang berbagi. Orang tua sebaiknya mengajak anak untuk ikut beraktivitas bersama teman-teman saat bermain. Orangtua dapat membawa beberapa mainan yang lebih banyak dan mengajak anak-anak lain di lingkungan terdekat. Mainan yang dapat digunakan untuk berbagi seperti balok-balok, puzzle atau lego. Mainan tersebut dapat mendorong anak untuk berinteraksi dengan teman-teman lain. Dengan bermain bersama, anak akan mudah berkomunikasi saat bermain bersama. Dengan begitu, sikap berbagi akan muncul seiring dengan interaksi dalam permainan sederhana.

Di sinilah orang tua sebaiknya menciptakan lingkungan berbagi pada anak. Di lingkungan terdekat misalnya saat makan bersama keluarga juga dapat diterapkan interaksi yang ditunjukan dengan sikap berbagi. “Ini ada dua telur, yang satu untuk adikmu”, contoh sederhana ini akan membuat anak memiliki pengalaman berbagi. Anak akan tahu, bahwa saat dirinya memiliki sesuatu. Oranglain juga dapat merasakan hal yang sama.

Sikap berbagi harus dapat dipahami anak bukan sebagai kemampuan. Tapi, anak dapat mengerti bahwa berbagi adalah sikap untuk hidup bersama dengan yang lain. Anak akan mengerti bahwa dirinya tidak hidup sendirian. Anak dapat diajarkan

Kedua, Ikut bermain bersama anak. Saat anak memperebutkan mainan dengan anak yang lain. Sebaiknya orangtua dapat ikut bermain bersama. Orangtua dapat duduk lebih dekat pada anak saat bermain. Anak biasanya akan bermain lebih baik saat ada orang dewasa yang memperhatikan. Orangtua dapat menyarankan anak saat terjadi masalah tanpa menyinggung anak.

Ketiga, Mengajak bertukar mainan. “Coba, mainannya ditukar dulu”, orangtua dapat menggunakan kalimat tersebut untuk merayu anak agar dapat berbagi. Orangtua juga dapat memberi pilihan dengan memberi waktu pada saat bermain. Katakan, “ Waktunya lima menit untuk bermain lego, lima menit selanjutnya kamu tukar dengan mainan yang lain ya”. Orangtua dapat membatasi waktu bermain saaat menggunkan mainan. Hal ini akan membuat anak dapat mengerti dengan teman lainnya.

Cara-cara di atas dapat digunakan orangtua saat membiasakan anak untuk dapat berbagi dengan orang lain. Dengan mengajarkan anak berbagi, anak dapat belajar ketulusan sehingga akan membuat anak nyaman dan bahagia.

Di sinilah pentingnya berbagi dapat segera diajarkan pada anak. Anak akan mengerti bahwa ia adalah makhluk sosial yang keberadaannya bersama banyak orang. Anak perlu diajarkan bahwa orang lain membutuhkannya dan suatu saat nanti anak pun akan membutuhkan orang lain.

Dengan berbagi, anak-anak pun memperoleh manfaatnya, di antaranya; Pertama, Menumbuhkan Sikap Bersyukur. Selama ini sikap bersyukur hanya berhenti pada diri sendiri. Banyak anak yang pandai, tapi enggan untuk mengajarkannya pada orang lain. Anak dapat dilatih dan dibiasakan untuk berbagi baik tenaga, pengetahuan dan lainnya. Dengan berbagi, konsep bersyukur tidak saja berhenti pada pengetahuan tapi hal itu dapat dipraktikkan dengan hal sederhana.

Kedua, Menumbuhkan Sikap Gotong Royong. Cerita di atas adalah gambaran sederhana individu untuk mencapai suatu tujuan. Salah satu karakter yang mulai hilang di nusantara adalah gotong royong. Penyebab lunturnya gotong royong adalah egosentris atau berpusat pada diri sendiri. Saat anak sejak dini saja tidak pernah diajarkan bahkan ditunjukkan keteladanan tentang berbagi, maka dapat dipastikan anak akan tumbuh dengan keegoisan. Perasaan enggan untuk bergaul dengan orang lain akan terkesan menjadi hal yang biasa hingga ia dewasa. Di sinilah peran berbagi sangat penting dalam kehidupan anak.

Ketiga, Menumbuhkan Empati. Memahami orang lain sangatlah penting. Salah satu manfaat berbagi adalah untuk menumbuhkan empati yakni kemampuan memahami orang lain. Kemampuan memahami perasaan orang lain. Anak yang diajarkan berbagi sejak dini dapat mengerti kondisi dan situasi orang lain. Hal itu akan mencegah anak berbuat arogan dan berbangga diri secara berlebihan.

Di sinilah, anak-anak akan memperoleh manfaat saat anak membiasakan diri untuk berbagi sejak dini. Sikap tersebut akan tumbuh sebagai bekalnya dewasa. Orangtua tidak perlu khawatir saat anak memiliki banyak teman. Anak-anak akan memiliki kepribadian yang baik dengan cara-cara yang dilakukannya. Pengalaman anak akan diperkokoh dalam mengembangkan sikap sosialnya. Dengan begitu, keberhasilan orangtua dalam memberikan pangajaran tentang berbagi dapat dirasakan.

Anak-anak akan tumbuh dengan perilaku yang baik untuk lingkungan terdekatnya.  Demikian, pelajaran tentang berbagi akan mengenalkan anak sebagai bekal hidup. Bekal hidup yang sejak dini ditumbuhkan dan ditanamkan oleh orangtua sebagai pendidik utama. Anak akan juga mengenal orangtuanya dengan penuh hormat karena diberikan pengajaran tentang berbagi.

Dipublish Awal di Laman Anggun PAUD

 

MUHAMMAD IQBAL

Mahasiswa Institut Agama Islam Negeri Purwokerto & Relawan Pustaka di Rumah Kreatif Wadas Kelir Purwokerto

MENGHADAPI ANAK GLOPHOBIA, TAKUT PADA BALON

dibaca normal:4 menit

Ada satu peristwa yang menarik saat saya mengadakan lomba permainan tradisional dalam rangka memperingati Hari Anak Nasional 23 Juli 2018 yang lalu.

Saat anak-anak asyik lain mengikuti berbagai kegiatan permainan lomba tradisoanl, ada satu anak yang berdiam diri, memegang erat tangan saya, dan bersembunyi sambil mengintip-ngintip di belakang lengan. Karena penasaran, akhirnya pun saya bertanya pada anak tersebut.

”Mas Echy, kenapa? Kok nggak ikutan main?” tanya saya.

”Enggak, Kak,” jawab Echy anak yang baru berusia sekitar dua tahun.

Saya lanjutkan bertanya, ”Apa ada teman yang nakal?”

”Bukan,” jawabnya.

”Lalu, apa dong?” tanya saya penasaran.

Dengan suara pelan dia menjawab, ”Echy takut, Kak”

”Takut sama siapa? Apa ada teman yang tidak mengizinkanmu ikut bermain?” saya penasaran.

”Itu Kak,” jawabnya sambil menunjukkan tangan mengarah ke sebuah balon.

”Kamu takut balon?” tanya saya kemudian. ”Iya, Kak.”

Saya langsung menatap wajahnya dan memeluknya. Sesekali saya mencoba mendekatkan balon padanya. Echy merespons dengan memeluk sangat erat dan menjerit ketakutan.

Akhirnya saya mencoba bertanya pada ibunya. Ternyata Echy pernah mengalami kejadian balonnya meletus saat bermain dengan kakaknya. Sehingga dia trauma terhadap suara letusan balon. Setelah kejadian itu, melihat balon dari jauh saja sudah memeluk ibunya. Jika balon di dekatkan, dia menangis dan teriak-teriak.

 Dari sini kita menjadi tahu bahwa Echy mengalami glophobia, takut terhadap balon. Glophobia biasanya terjadi karena sebuah kejadian yang sangat mengejutkan atau menimbulkan ledakan emosi yang berlebihan, seperti rasa takut yang akut.

Selain itu, dalam tahap perkembangan anak, usia dua tahunan merupakan masa-masa anak cenderung memiliki rasa takut yang tidak masuk akal. Pemicunya, anak belum mencapai kematangan berpikir.

Mengapa bisa demikian? Sebelumnya kita perlu tahu bagaimana pikiran seorang anak bekerja. Misalnya, saya masih ingat betul saat sedang berada di bangku sekolah, tiba-tiba tanpa persiapan apapun, saya dipanggil oleh guru Bahasa Indonesia untuk maju ke depan kelas.

Apa yang saya rasakan saat itu? Terkejut, keringat bercucuran, dan perasaan takut salah. Dari situ saya selalu ingat momen-momen tersebut yang sering kali peristiwa tersebut jadi cerita-cerita lucu antarteman di setiap kali berjumpa.

Dari ilustrasi tersebut, secara sekilas menjelaskan bagaimana cara kerja pikiran anak merekam sebuah informasi. Pikiran anak mampu ”merekam” dan ”mengunci” informasi yang masuk secara ekstrem, yaitu yang terlebih dahulu mengalami lonjakan emosi atau terkejut.

Hasil ”rekaman” momen dan ”kuncian” perasaan yang terjadi itu, akan kembali ”diputarulang” ketika ada kejadian atau hal-hal serupa kembali terjadi.

Secara sederhana, kita dapat simpulkan bahwa ketika anak sangat emosional atau sangat terkejut, maka apapun yang dilihat, didengar, dan dirasakan, akan mengalir seperti air bah, masuk ke pikiran bawah sadarnya. Secara refleks pikiran bawah sadar akan mengeluarkan jejak rekaman peristiwa dan perasaan tersebut kembali ketika anak berada pada situasi atau peristiwa serupa. Inilah konsep terjadinya trauma.

 Lantas apakah trauma ini bisa disembuhkan? 

 Glophobia merupakan sebuah trauma yang sifatnya wajar dan natural, sehingga bisa disembuhkan. Caranya dengan tidak menakut-nakuti anak, tidak mengancam dengan hal yang diatakuti, tetap dengan pendekatan seorang anak, yakni bermain. Tujuannya adalah agar anak tumbuh menjadi pribadi yang merasa aman terhadap lingkungannya dan lebih tangguh menghadapi ancaman yang datang dari lingkungannya.

Berikut cara yang bisa dilakukan untuk mengatasi glophobia dengan pendekatan bermain.

 

Pertamamemainkan balon yang masih kempes. Ajak anak bermain dengan balon kempes. Berilah dia kesempatan untuk sekadar memegang balon kempes serta berilah pengertian dalam pikiran bawah sadar bahwa balon bukanlah benda yang berbahaya dan bisa menciderainya selagi itu bukan balon gas. Selanjutnya berdayakan akal anak untuk menyaksikan kenyataan bahwa tidak semua balon akan meletus.

Keduaisi balon dengan sedikit udara di depan anak. Kemudian ajak anak berdiskusi untuk membuat percobaan bersama-sama. Lepaskan balon (berisi sedikit udara) tersebut, biarkan balon terlempar sedikit. Selanjutnya bersama-sama melakukan percobaan balon (yang berisi sedikit udara) itu ditusuk dengan jarum. Balon akan meletus dengan suara kecil. Lakukan ini berulang-ulang hingga anak berani mencoba meniup dan menusuk balon tersebut dengan jarum.

Ketigatingkatkan intensitas dan volume udara. Setelah anak mulai terbiasa, tambahkan kembali intensitasnya, dengan udara lebih banyak. Lakukan berulang hingga anak dapat meniup balon dengan ukuran besar. Selanjutnya, cobalah untuk menusuknya kembali dengan jarum bersama-sama dan beritahu anak agar menutup telinga untuk meredam suara balon yang meletus. Anak menjadi tahu saat ada peristiwa yang sama ia akan mengetahui apa yang akan dilakukan.

Keempatberi apresiasi saat anak berhasil mencoba, ceritakan dari buku yang mengandung gambar balon, ceritakan betapa senangnya saat mendapatkan sebuah balon. Sehingga dengan apresiasi ini, anak akan merasa senang karena berhasil melampaui ketakutannya juga merasa bangga.

Kelimabersabarlah saat bermain, jika terburu-buru, hasilnya tidak sesuai yang diharapkan. Trauma terhadap balon tersebut akan dirasakan kembali dan ketakutannya akan muncul. Jika ini terjadi, maka prosesnya harus dimulai dari awal dan mungkin akan sedikit lebih sulit untuk membujuk anak untuk mau melakukannya kembali. Sebab memori anak mengulang kembali atau ingat kecelakaan kecil yang dilaluinya.

Dari sini kita menjadi tahu bahwa cara terbaik melawan takut atau menumbuhkan keberanian dalam diri seorang anak dengan memberikan tantangan. Jika anak berhasil melampaui tantangan maka dia akan mendapatkan kebanggaan (rasa puas) tersendiri dan jika tidak berhasil maka tugas orangtua selanjutnya adalah bersama-sama kembali untuk mencobanya hingga bisa.

Dari keberhasilannya melampaui rasa takut inilah, anak juga akan terbiasa untuk berhasil melampaui berbagi persoalan hidup di masa mendatangnya.

 

MUKHAMAD HAMID SAMIAJI

Mahasiswa Institut Agama Islam Negeri Purwokerto

Pecinta Buku dan Tutor Bimbel Wadas Kelir Purwokerto