MEMULAI MENGAJARKAN BERBAGI PADA ANAK

dibaca normal:5 menit

“Ini Punyaku!” teriak salah satu anak.

Tiba-tiba permainan menjadi tidak menyenangkan. Anak-anak pun berhenti bermain. Orang tua yang melihat anaknya seperti ini tentu perlu mengarahkan anak agar dapat senang berbagi. Nilai berbagi sebaiknya diajarkan sejak dini pada anak-anak.

Anak-anak memiliki pertumbuhan yang cepat. Sejak dini, anak melakukan aktivitas melalui pengalaman yang didapatkannya. Pengalaman yang baik bagi anak akan menumbuhkan energi positif. Hal inilah yang sebaiknya dapat diperhatikan, yakni memastikan bahwa anak memiliki pengalaman energi positif untuk bekal dewasa nanti.

Salah satu pemberian dan pengajaran sejak dini yang dapat dilakukan adalah berbagi. Yah, mengajarkan berbagi memiliki pengaruh yang positif terhadap perkembangan anak khususnya aspek sosial-interpersonal anak

Nilai berbagi perlu ditunjukkan kepada anak dari orangtua. Orangtua yang membiasakan anak untuk berbagi tidak saja memberi manfaat pada diri anak tapi juga orang lain. Anak akan mengenal rasa empati dan peduli terhadap orang lain. Bukan hanya itu, berbagi akan mengajarkan kebersamaan pada anak. Perkembangan sosial pada  anak akan tumbuh dengan baik. Anak juga akan memiliki teman baik lebih banyak.

Oleh karena itu, orang lain pun akan senang. Orangtua sebagai orang dewasa perlu memperhatikan sikap anak terhadap orang lain. Membiarkan anak bersikap acuh tak acuh dan mengabaikan orang lain akan menyebabkan tumbuh sikap egois atau menang sendiri pada anak. Hal ini tentu tidak boleh dibiarkan, mengingat anak sejak dini perlu memiliki sikap sosial yang baik.

Sikap sosial yang baik dapat ditunjukkan dengan kepedulian, simpati dan juga dengan berbagi. Ada beberapa cara untuk menumbuhkan sikap berbagi pada anak, di antaranya;

Pertama, menciptakan lingkungan senang berbagi. Orang tua sebaiknya mengajak anak untuk ikut beraktivitas bersama teman-teman saat bermain. Orangtua dapat membawa beberapa mainan yang lebih banyak dan mengajak anak-anak lain di lingkungan terdekat. Mainan yang dapat digunakan untuk berbagi seperti balok-balok, puzzle atau lego. Mainan tersebut dapat mendorong anak untuk berinteraksi dengan teman-teman lain. Dengan bermain bersama, anak akan mudah berkomunikasi saat bermain bersama. Dengan begitu, sikap berbagi akan muncul seiring dengan interaksi dalam permainan sederhana.

Di sinilah orang tua sebaiknya menciptakan lingkungan berbagi pada anak. Di lingkungan terdekat misalnya saat makan bersama keluarga juga dapat diterapkan interaksi yang ditunjukan dengan sikap berbagi. “Ini ada dua telur, yang satu untuk adikmu”, contoh sederhana ini akan membuat anak memiliki pengalaman berbagi. Anak akan tahu, bahwa saat dirinya memiliki sesuatu. Oranglain juga dapat merasakan hal yang sama.

Sikap berbagi harus dapat dipahami anak bukan sebagai kemampuan. Tapi, anak dapat mengerti bahwa berbagi adalah sikap untuk hidup bersama dengan yang lain. Anak akan mengerti bahwa dirinya tidak hidup sendirian. Anak dapat diajarkan

Kedua, Ikut bermain bersama anak. Saat anak memperebutkan mainan dengan anak yang lain. Sebaiknya orangtua dapat ikut bermain bersama. Orangtua dapat duduk lebih dekat pada anak saat bermain. Anak biasanya akan bermain lebih baik saat ada orang dewasa yang memperhatikan. Orangtua dapat menyarankan anak saat terjadi masalah tanpa menyinggung anak.

Ketiga, Mengajak bertukar mainan. “Coba, mainannya ditukar dulu”, orangtua dapat menggunakan kalimat tersebut untuk merayu anak agar dapat berbagi. Orangtua juga dapat memberi pilihan dengan memberi waktu pada saat bermain. Katakan, “ Waktunya lima menit untuk bermain lego, lima menit selanjutnya kamu tukar dengan mainan yang lain ya”. Orangtua dapat membatasi waktu bermain saaat menggunkan mainan. Hal ini akan membuat anak dapat mengerti dengan teman lainnya.

Cara-cara di atas dapat digunakan orangtua saat membiasakan anak untuk dapat berbagi dengan orang lain. Dengan mengajarkan anak berbagi, anak dapat belajar ketulusan sehingga akan membuat anak nyaman dan bahagia.

Di sinilah pentingnya berbagi dapat segera diajarkan pada anak. Anak akan mengerti bahwa ia adalah makhluk sosial yang keberadaannya bersama banyak orang. Anak perlu diajarkan bahwa orang lain membutuhkannya dan suatu saat nanti anak pun akan membutuhkan orang lain.

Dengan berbagi, anak-anak pun memperoleh manfaatnya, di antaranya; Pertama, Menumbuhkan Sikap Bersyukur. Selama ini sikap bersyukur hanya berhenti pada diri sendiri. Banyak anak yang pandai, tapi enggan untuk mengajarkannya pada orang lain. Anak dapat dilatih dan dibiasakan untuk berbagi baik tenaga, pengetahuan dan lainnya. Dengan berbagi, konsep bersyukur tidak saja berhenti pada pengetahuan tapi hal itu dapat dipraktikkan dengan hal sederhana.

Kedua, Menumbuhkan Sikap Gotong Royong. Cerita di atas adalah gambaran sederhana individu untuk mencapai suatu tujuan. Salah satu karakter yang mulai hilang di nusantara adalah gotong royong. Penyebab lunturnya gotong royong adalah egosentris atau berpusat pada diri sendiri. Saat anak sejak dini saja tidak pernah diajarkan bahkan ditunjukkan keteladanan tentang berbagi, maka dapat dipastikan anak akan tumbuh dengan keegoisan. Perasaan enggan untuk bergaul dengan orang lain akan terkesan menjadi hal yang biasa hingga ia dewasa. Di sinilah peran berbagi sangat penting dalam kehidupan anak.

Ketiga, Menumbuhkan Empati. Memahami orang lain sangatlah penting. Salah satu manfaat berbagi adalah untuk menumbuhkan empati yakni kemampuan memahami orang lain. Kemampuan memahami perasaan orang lain. Anak yang diajarkan berbagi sejak dini dapat mengerti kondisi dan situasi orang lain. Hal itu akan mencegah anak berbuat arogan dan berbangga diri secara berlebihan.

Di sinilah, anak-anak akan memperoleh manfaat saat anak membiasakan diri untuk berbagi sejak dini. Sikap tersebut akan tumbuh sebagai bekalnya dewasa. Orangtua tidak perlu khawatir saat anak memiliki banyak teman. Anak-anak akan memiliki kepribadian yang baik dengan cara-cara yang dilakukannya. Pengalaman anak akan diperkokoh dalam mengembangkan sikap sosialnya. Dengan begitu, keberhasilan orangtua dalam memberikan pangajaran tentang berbagi dapat dirasakan.

Anak-anak akan tumbuh dengan perilaku yang baik untuk lingkungan terdekatnya.  Demikian, pelajaran tentang berbagi akan mengenalkan anak sebagai bekal hidup. Bekal hidup yang sejak dini ditumbuhkan dan ditanamkan oleh orangtua sebagai pendidik utama. Anak akan juga mengenal orangtuanya dengan penuh hormat karena diberikan pengajaran tentang berbagi.

Dipublish Awal di Laman Anggun PAUD

 

MUHAMMAD IQBAL

Mahasiswa Institut Agama Islam Negeri Purwokerto & Relawan Pustaka di Rumah Kreatif Wadas Kelir Purwokerto

Comments

comments

0 replies

Leave a Reply

Want to join the discussion?
Feel free to contribute!

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *