SAYA SELALU BERTERIAK-TERIAK MEMANGGIL ANAK-ANAK SETIAP SORE UNTUK SEKOLAH LITERASI!

dibaca normal:4 menit

Setiap sore, selepas Sholat Asar, menjelang pukul 16.00 WIB, saya selalu keluar rumah. Kemudian mendekati anak-anak yang sedang bermain. Dan tanpa ba-bi-bu, saya langsung berteriak, “Ayuk, mandi! Mandi! Kita sekolah. Sekolah bersama Pak Guru!”

Beberapa anak langsung pulang dan mandi, kemudian datang untuk sekolah bersama saya. Tapi, lebih banyak lagi, pergi hanya berpindah tempat. Kemudian melanjutkan kegiatan bermain lagi. Tidak mau bergabung untuk sekolah bersama saya.

Tapi, saya selalu berusaha mengelola perasaan saya sebisa mungkin untuk tidak kecewa, apalagi marah sama anak-anak yang tidak mau belajar. Saya selalu menyapa mereka dan berbuat baik pada mereka. Tapi, jika bertemu lagi, saya tetap berteriak, “Kok, tidak berangkat sekolah. Besok sekolah ya?” tanpa bosan dan jenuh.

Dan, bagi anak-anak yang datang, saya langsung menyambut dengan penuh suka cita. Saya menyodorkan tangan untuk dijabat. Mempertunjukkan ekspresi gembira untuk meyakinkan bahwa belajar hari ini akan menyenangkan. Selanjutnya, dengan ide-ide belajar yang sudah saya pikirkan, saya sudah siap menyajikan pengalaman belajar yang menyenangkan.

Selalu saja, yang saya tunjukkan adalah semangat melalui berkata lantang penuh gembira. Mengeluarkan energi-energi positif selama kegiatan belajar. Dan jika ada yang mengalami persoalan, saya mencoba untuk mendampingi untuk menyelesaikannya dengan baik.

Dan jika saat kami sedang belajar, sedangkan di luar ada anak-anak yang sedang bermain. Tidak ikut kegiatan kami. Sekalipun dalam hati saya, sungguh sebagai manusia yang egois, saya merasa sedih dan kecewa, tapi saya merasa tidak berhak untuk kecewa dan marah. Saya meyakinkan diri bahwa anak-anak punya acara sendiri untuk belajar, sekalipun melalui bermain. Saya tidak boleh merasa benar sendiri.

Maka yang hanya bisa saya lakukan adalah seperti awal berteriak, “Kenapa tidak ikut sekolah? Besok ikut, ya?”

Dan anak-anak tentu saja hanya bias menjawab dengan senyuman. Dengan wajah senang-senang saja. Sambal terus melanjutkan bermainnya. Dan saya hanya mengelus dada mencoba untuk selalu bahagia sebab saya menyadari sepenuhnya: saya menyelenggarakan sekolah yang tak tercatat dalam kewajiban yang harus dilakukan. Sekolah yang saya kelola hanya sebuah sekolah yang bernama Sekolah Literasi yang hanya boleh diikuti bagi yang mau saja. Jika tidak mau, ya, saya harus pasrah dan sabar.

Dengan teknik berteriak-teriak tanpa henti, saya perlahan-lahan mendapatkan simpatik anak-anak. Atau barang kali lebih tepatnya rasa kasihan anak-anak pada saya. “Kasihan, Pak Guru, tiap sore teriak-teriak mengajak kita sekolah. Padahal, kami sebenarnya tidak ingin. Tapi, kasihan Pak Guru, jadi yuk, sekolah!” barang kali beginilah kata hati anak-anak yang kemudian datang untuk ikut sekolah dengan saya.

Ha-ha-ha-ha! Jika begini kenyataannya, tentu saya sangat sedih. Tapi, tidak apa. Toh, saya juga hanya berniat sederhana saja: memanfaatkan waktu dua jam untuk anak-anak dalam kebaikan. Kebaikan belajar yang bisa saja tidak penting. Tapi, setidaknya, dalam dua jam itu, yang biasanya anak-anak gunakan untuk main game atau nonton tv, jadi tidak. Anak-anak belajar bersama saya.

Dan dengan berteriak-teriak tanpa henti. Dengan tanpa marah dan kecewa, anak-anak yang terus saja tidak ikut kegiatan belajar dengan saya. Saya menerimanya dengan suka cita, buktinya, saat kegiatan sekolahnya itu tamasya, anak-anak yang tidak pernah ikut, biasanya mendadak jadi anak paling rajin. Mendadak ikut serta kegiatan tersebut.

Menyikapi ini saya tentu saja berterima kasih. Dalam hidupnya, akhirnya, sekalipun hanya sebulan sekali anak-anak ini mau juga sekolah dan belajar dengan saya. Saya sangat bahagia bisa memberinya ilmu dan pemahaman, sekalipun mungkin besok tidak terpakai kembali.

Ha-ha-ha! inilah indahnya nasib menjadi guru di masyarakat dengan sekolah yang tanpa kewajiban. Inilah indahnya belajar untuk menjadi sabar dan baik dalam menghadapi setiap tanggapan anak-anak yang mau dan tidak mau diajak belajar. Inilah pelajaran penting yang saya dapatkan menjadi guru untuk anak-anak yang sekolahnya tidak diwajibkan.

Terima kasih, anak-anakku. Sayalah yang sesungguhnya sedang belajar pada kalian, makanya saya selalu begitu semangat berteriak-teriak mengajak kalian sekolah setiap sore. Terima kasih atas pelajaran berharga kalian tentang kehidupan, yang apapun keadaannya, harus selalu disikapi dengan ikhlas dan sabar.

 

HERU KURNIAWAN

Guru Sekolah Literasi Rumah Kreatif Wadas Kelir & Founder Rumah Kreatif Wadas Kelir

Comments

comments

0 replies

Leave a Reply

Want to join the discussion?
Feel free to contribute!

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *