GURU-GURU TAK TERLUPAKAN DALAM HIDUPKU

dibaca normal:5 menit

1.

Saya masih ingat guru SD saya. Guru yang setiap hari Sabtu, membawa satu kardus buku-buku. Setelah buku itu diletakkan di atas meja kemudian berkata, “Anak-anak, hari ini Pak Guru akan membagikan buku untuk kalian. Tugas kalian adalah membaca sampai selesai selama satu minggu. Kemudian, minggu depan buku dikumpulkan lagi. Akan Pak Guru putar bergantian membaca.”

Guru SD saya pun membagikan buku itu satu per satu. Saya termasuk anak yang berbinar melihat buku cerita yang saya terima. Buku yang tidak pernah saya lihat karena di SD kami tidak ada perpustakaan. Dan saya, menjadi salah satu anak yang membaca buku pinjaman Guru SD saya setiap minggu. Tanpa saya sadari, saya telah membaca 24 buku selama 24 bulan. Pengalaman yang sangat mengesankan saya.

Saya masih selalu teringat

2.

Di bangku SMP, saya masih ingat dengan Guru Bahasa Indonesia saya. Guru yang setiap pelajarannya selalu membuat kontes adu kecepatan menjawab pertanyaan nama pengarang-pengarang hebat Indonesia.

“Siapa yang menulis Buku Puisi Deru Campur Debu?” taya Guru saya.

“Chairil Anwar!” saya angkat tangan dan menjawab.

“Siapa yang menulis novel Siti Nurbaya?”

“Marah Rusli!” saya menjawab.

“Siapa yang menulis Novel Merahnya Merah?”

“Iwan Simatupang!” saya selalu menjawab dengan tepat.

Seluruh mata teman-teman menatapku dengan sebal. Saya malu. Tapi saya ingin selalu bisa menjawab benar, sebab semalaman, jika besok ada pelajaran bahasa Indonesia, saya selalu membaca buku Rangkuman Pengetahuan Umum Lengkap (RPUL), bagian nama-nama pengarang Indonesia. Saya pun hafal, tapi saya sebenarnya tidak pernah membaca buku-bukunya (ha-ha-ha-ha).

Selesai bertanya jawab, Guru saya itu kemudian menceritakan kisah-kisah novel-novel itu. Saya sangat terpukau dan antusias mendengarkan. Sampai kemudian, Guru saya itu datang mendekati saya, kemudian berbisik, “Her, kamu pintar dengan  penulis-penulis novel Indonesia. Sekarang coba kamu baca novel-novelnya, pasti kamu suka.” Saya diam tidak bisa berkutik. Saya pun mendadak ingin sekali jam istirahat datang. Saya ingin ke perpustakaan sekolah.

Dan saat jam istirahat tiba, saya ke perpustakaan sekolah, saya berbinar melihat deretan novel-novel yang sering diceritakan Guru saya. Saya melihat novel Dian yang Tak Kunjung Padam, Sengsara Membawa Nikmat, Siti Nurbaya, Rafillus, Olenka, Kering, Koong, dan sebagainya yang semuanya memikat hati saya. Tanpa saya sadari, saya mengambil novel Dian yang Tak Kunjung Padam karya Sutan Takdir Alisjahbana dan Olenka karya Budi Darma.

Dua novel yang kemudian menyedot minatku untuk membaca buku-buku novel di perpustakaan. Sampai, tanpa saya sadari saya telah menyelesaikan novel-novel berat di usia yang masih anak-anak, saat duduk di bangku SMP. Saya sangat berkesan, dan sampai sekarang saya masih ingat isi cerita novel-novel itu, dan saya masih ingat Guru bahasa Indonesia saya yang menanamkan rasa cinta saya pada buku.

Ini sangat mengagumkan bagi saya.

3.

Saat duduk di bangku SMA, saya selalu ingat Guru bahasa Indonesia saya. Guru bahasa Indonesia yang memperkenalkan saya dengan sebuah buku berjudul Sinopsis Novel-Novel Indonesia Muktahir, buku yang berisi ringkasan novel-novel yang hampir seluruhnya sudah saya baca saat di bangku SMP.

Tidak heran saat Guru saya bertanya soal pengarang-pengarang novel hebat Indonesia, saya selalu bisa menjawab dengan benar. Sampai pada suatu hari, di perpustakaan sekolah. Saat perasaan saya sedang hancur karena baru ditolak cinta, saya suntuk membaca novel di perpustakaan. Tanpa sepengetahuan saya, Guru bahasa Indonesia itu ada di perpustakaan juga.

“Sedang apa, Her?” tanya Guru saya.

“Baca dan mau pinjam buku?” jawab saya sambil menunjukkan novel Kering karya Iwan Simatupang. Saya suka dengan novel-novel Iwan Simatupang sejak SMP dan dilanjutkan SMA.

Guru saya mendekat kemudian berkata pelan, “Kamu itu besok cocoknya jadi guru bahasa Indonesia.”

Kata-kata itu selalu terngiang di benak kepala saya. Kata-kata yang belum saya dengan dari guru manapun sejak saya sekolah. Guru yang telah mengarahkan cita-citaku karena tahu hobi saya membaca buku.

Saya tak bisa melupakan kata-kata itu sampai sekarang.

4.

Dan tiga tahun kemudian, tepatnya tahun 2000, saat saya mengalami keputusasaan yang akut. Saat saya bingung harus kemana lagi. Karena saya tidak diterima kuliah di universitas negeri, saya gagal lolos tes ujian masuk perguruan tinggi negeri, saya mendadak ingin tidak kuliah. Saya ingin di rumah saja membantu Ayah dan Ibu di sawah menjadi petani.

Tapi, suatu malam, Bu De saya datang. Bu De memaksa saya untuk mendaftar kuliah di sebuah perguruan tinggi swasta di Purwokerto, tepatnya di Universitas Muhammadiyah Purwokerto. Saya pun ikut dengan Mas Catur, saudara sepupu saya. Kami pergi ke sana, dan sampai di Sekretariat Pendaftaran Mahasiswa Baru, tepat di depan loket saya menjadi bingung.

Di hadapan saya ada selembar formulir yang bertuliskan, pilihan jurusan dan program studi. Saya diam dan menimang-nimang mana jurusan yang harus saya pilih. Mana yang tepat bagi saya. Saya bingung dan tidak tahu mana yang harus saya pilih. Dan entah dari mana datangnya, dalam keadaan kritis seperti itu, saya memanggil pengalaman masa lalu saya saat duduk di bangku SD, SMP, dan SMA.

Dan saya teringat masa lalu sekolah saya, dan yang teringat adalah saat Guru SD saya yang membawa buku dan membagikannya pada murid-muridnya, Guru yang membuatku suka membaca buku. Terus saya juga teringat Guru SMP saya yang menyatakan diriku pintar dalam dunia pernovelan, Guru yang membuatku telah membaca ratusan novel di perpustakaan sekolah. Dan tentu saja, kata Guru SMA saya, “Kamu itu besok harus jadi guru bahasa Indonesia!” begitu keras bergema di pikiran saya.

Setelah menemukan pengalaman mengagumkan di sekolah, saat saya dalam keadaan krisis dan kebingungan ini, saya kemudian menentukan pilihan bahwa saya akan kuliah di Pendidikan Bahasa dan Sastra Indonesia. Bismilah! Saya menuliskan dengan mantap. Saya yakin kelak saya akan jadi guru bahasa Indonesia yang mengajar seperti Guru SD, SMP, dan SMA saya dulu.

Perjalanan hidup yang tidak saya lupakan.

5.

Dari situ, saya menyadari satu hal: Tugas kita sebagai guru yang paling utama adalah membuat pengalaman mengesankan bagi murid-muridnya. Pengalaman mengesankan inilah, yang tak akan dilupakan murid-muridn, yang suatu saat nanti, saat murid-murid mengalami krisis dan kebingungan, pengalaman berkesan dari guru itu akan dipanggil. Akan dijadikan sebagai pegangan dalam menyelesaikan krisis yang sedang dialami. Seperti yang saya alami sendiri

 

Dan jika, pengalaman berkesan itu berhasil menyelamatkan hidup murid-murid, maka murid tidak akan melupakan gurunya. Guru yang telah berhasil mendidik dengan sepenuh hati. Guru yang menjadikan muridnya bermasa depan indah karena pengalaman mengagumkannya yang telah diberikan pada murid, dan murid tak melupakan sepanjang hidupnya.

Ini yang saya rasakan atas pengalaman istimewa yang saya dapat dari guru-guru saya di bangku SD, SMP, dan SMA yang tak terlupakan. Hormat saya pada guru-guru saya yang istimewa. Aku tundukan kepala dan ikhlaskan hati untuk doa yang saya lafalkan untuk guru-guru saya. Semoga engkau diberikan keberkahan dalam hidup yang singkat ini.

Semoga menginspirasi kita sebagai guru!

 

HERU KURNIAWAN

Pengajar di Institut Agama Islam Negeri (IAIN) Purwokerto; Founder Rumah Kreatif Wadas Kelir Purwokerto

Penulis Buku Parenting dan Bacaan Anak-anak;  www.rumahkreatifwadaskelir.com;  Ig.herukurniawan_1982 WA. 081564777990

Comments

comments

0 replies

Leave a Reply

Want to join the discussion?
Feel free to contribute!

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *