PESAN TANGGUNG JAWAB MEMBACA BUKU UNTUK ANAK DAN ORANG TUA

dibaca normal:3 menit

Pertanyaan yang harus dijawab adalah: apakah dengan mewajibkan anak dan orang tua meminjam buku dari sekolah secara otomatis mereka akan tertib membaca?

Tentu saja, saya berani mengatakan: Tidak!

Kenapa?

Kenyataan harus kita akui bahwa kebanyakan keluarga dari anak-anak didik kita bukan dari keluarga yang senang dengan membaca. Bahkan banyak yang di rumah tidak ada buku untuk bacaan anaknya. Maka, tentu saja aktivitas membacakan buku tidak pernah ada.

Nah, jika kenyataan ini telah terbentuk selama bertahun-tahun, maka meminjam buku tidak akan secara otomatis menyelesaikan masalah, yaitu langsung membuat anak-anak dan orang tua terlibat aktif dalam kegiatan membaca buku.

Dan yang terjadi kemudian adalah anak dan orang tua meminjam buku sebagai cara untuk menggugurkan kewajiban. Tapi, setelah buku dipinjam, buku hanya akan terus berada di tas sekolah anak, atau buku hanya diletakan di meja belajar tanpa di sentuh, apalagi dibaca.

Anak-anak dan orang tua terus memperpanjang budaya menjalani hari tanpa membaca. Setiap hari tetap saja diisi dengan kegiatan menonton televisi dan bermain gadget. Sehingga, program wajib meminjam buku dari sekolah hanya jadi seremonial saja. Hanya menggugurkan kewajiban saja. Tentu saja ini sangat ironis jika memang sekolah kita sedang mendesain dirinya menjadi sekolah literasi.

Terus apa yang harus dilakukan sekolah?

Berikan tanggung jawab pada anak dan orang tua. Maksudnya adalah setiap kali selesai meminjam, mencatat, dan memberikan buku pada anak, maka guru harus mengingatkan orang tua dengan berkata, “Jangan lupa, Ayah dan Ibu untuk membacakan buku buat buah hati!”

Setelah mengingatkan orang tua, selanjutnya yang perlu diingatkan adalah anak, “Jangan lupa, minta Ayah dan Ibu untuk bacakan ceritanya karena besok Bunda mau tanya-tanya soal ceritanya, loh!”

Dua penguatan ini akan dengan efektif mengingatkan orang tua dan anak untuk sama-sama meluangkan waktu setiap harinya untuk membaca buku bersama-sama. Dan sebaliknya, jika orang tua lupa, maka anak akan minta orang tua untuk membacakan buku. Ini semua terjadi karena adanya pesan tanggung jawab dari sekolah.

Jadi, sekolah, melalui guru yang bertugas, jangan hanya meminjam dan mencatat saja. Akan tetapi juga memberikan penekanan tanggung jawab pada orang tua dan guru untuk membaca buku yang dipinjam.

Dari pesan tanggung jawab ini, maka anak dan orang tua akan teringat. Akan bertanggung jawab untuk membaca buku, sekalipun sebenarnya, pada awalnya sangat terpaksa. Akan tetapi, karena pesan tanggung jawab, maka orang tua dan anak akan membaca setiap hari , yang kemudian akan menjadi kebiasaan membaca di keluarga. Sampai akhirnya menjadi keluarga yang literat.

Terhadap pesan tanggung jawab ini, saya pun masih teringat saat kejadian suatu pagi. Saat itu, anak saya Zakka (5 tahun), tiba-tiba menangis tanpa sebab saat mau mandi untuk berangkat sekolah. Saya dan istri bingung kebingungan. Setelah kami tanya baik-baik, Zakka berkata, “Belum baca buku!”

Saya dan istri langsung sadar. Zakka mendapatkan tugas setiap hari untuk selalu membaca buku. Zakka kemudian mengambil buku cerita yang dipinjam dari sekolah dan menyerahkan pada kami.

“Bacakan buku ini!”

Kami pun paham. Zakka menangis karena semalam tidurnya sore hari dan lupa dibacakan buku. Zakka pasti ingat pesan tanggung jawab dari gurunya yang meminta untuk dibacakan buku, sebab esok pagi pasti akan ditanyakan oleh guru hasil bacaannya. Saya dan istri tersenyum senang, sambil merasa bersalah.

Istri saya kemudian membacakan buku dengan suara lantang. Zakka menyimak dengan baik. Setelah selesai, ekspresi Zakka berubah. Zakka yang awalnya kecewa dan marah berubah menjadi bahagia.

“Zakka berangkat sekolah, ya!”

Saya dan istri tersenyum senang menyaksikan kenyataan ini. Di sini saya paham. Konsep wajib meminjam buku di sekolah tak sebatas meminjam. Akan tetapi , orang tua dan anak-anak diberikan tanggung jawab untuk dibacakan bersama anak-anak.

Di sinilah arti penting memberikan pesan tangunggung jawab pada anak dan orang tua agar buku yang dipinjam untuk dibaca. Melalui pesan tanggung jawab ini, anak-anak dan orang tua akan selalu mengingatkan untuk setiap hari membaca buku bersama-sama.

 

 

HERU KURNIAWAN

Pengajar di Institut Agama Islam Negeri (IAIN) Purwokerto; Penulis Buku Parenting dan Bacaan-Aktivitas Anak-anak; www.rumahkreatifwadaskelir.com WA. 081564777990;Ig. herukurniawan_1982   Email: heru_1982@yahoo.com

MENGEMBANGKAN KEMAMPUAN BERPIKIR IMAJINATIF MELALUI BERCERITA

dibaca normal:5 menit

“Kali ini Pak Guru akan bercerita paling keren tentang kalian,” seru saya pada ketiga murid saya, Tegar, Nera, dan Devin, yang sedang minta diceritakan sebuah dongeng.

“Cerita apa, Pak Guru?” Tanya Devin antusias.

“Pak Guru akan bercerita petualangan keren tiga anak hebat dalam menangkap binatang paling besar di dunia, Dinosaurus. Kalian tahu siapa anak itu?”

Devin, Nera, dan Tegar saling pandang. Kemudian menatapku kembali dengan menggelengkan kepala.

“Tidak!” seru ketiganya serentak.

Saya menjelaskan pelan-pelan, “Ketiga anak itu adalah Nera, Devin, dan Tegar!”

Ketiga anak itu kembali saling pandang. Ekspresi ketiganya sangat senang namanya disebut dalam dongeng yang akan saya ceritakan.

“Ceritanya bagaimana Pak Guru?” tanya Tegar antusias.

“Iya, suatu hari, Tegar, Nera, dan Devin pergi ke hutan rimba yang sangat lebat. Mereka akan menangkap Dinosaurus yang tubuhnya besar sekali. Apakah ketiga anak ini berhasil….”

“Pasti berhasil. Pasti bisa. Kami anak-anak yang hebat, Pak Guru!” teriak Nera memotong seraya berdiri dan menunjukkan gerakan silat, seakan sudah siap-siap bertarung dengan Dinosaurus.

Saya pun melanjutkan bercerita saat Nera sudah duduk kembali, “Ya, pasti bisa. Nah, agar bisa menangkap Dinosaurus, ketiga anak ini akan membawa senjata yang sakti. Tegar apa senjata yang kau bawa?”

“Tongkat sakti!” jawab Tegar yang disambut tawa Nera dan Devin.

“Nera apa senjata sakti yang kau bawa?” tanya saya kembali.

“Tali sakti!” teriak Nera senang.

“Devin, apa senjata sakti yang kau bawa?”

“Topi sakti!” teriak Devin.

“Baiklah, dengan senjata sakti itulah ketiganya masuk ke hutan rimba yang dipenuhi banyak pepohonan. Di tengah hutan ketiga anak itu menemukan Dinosaurus yang bertubuh besar. Nera apa yang akan kamu lakukan untuk menangkap Dinosaurus itu?” teriak saya.

“Aku lemparkan tali saktiku ke Dinosaurus. Tali itu segera melayang dan langsung mengikat kaki-kaki dan tubuh Dinosaurus!” seru Nera penuh rasa bangga.

“Tegar!” teriak saya kembali.

“Aku lemparkan topi saktiku. Segera topi itu menjadi besar dan menutup kepala Dinosaurus!” teriak Tegar penuh rasa senang.

“Devin!” teriak saya lagi.

“Tongkat saktiku aku lempar. Ke kaki Dinosaurus yang terikat. Saat tongkat saktiku mengenai kaki-kakinya, maka Dinosaurus itu kemudian terjatuh,” seru Devin dengan tidak kalah bangganya.

“Hore! Kalian anak-anak hebat. Bisa menangkap Dinosaurus itu!” teriak saya memuji anak-anak yang kemudian menunujukkan rasa bangganya pada diri sendiri.

“Apa yang akan kalian lakukan dengan Dinosaurus itu? Dinosaurus yang sudah kalian tangkap,” tanya saya.

Anak-anak pun saling pandang. Seperti sedang membuat kesepakatan bersama. Nera kemudian angkat bicara, “Akan kami bawa pulang…”

“Ya, di rumah akan kami buatkan kandang yang sangat besar. Akan kami rawat dan jaga Dinosaurus itu,” jawaban Tegar.

“Dan aku setiap hari akan memberikan makan Dinosaurus itu. Aku senang sekali pastinya. Karena Dinosaurusnya nanti beranak dan akan tambah banyak,” tambah Devin yang disusul oleh tawa Tegar dan Nera.

…..

(Kami semua senang merayakan kegiatan berimajinasi melalui bercerita. Kegiatan bercerita yang sangat disukai anak-anak, yang tanpa disadari mengembangkan kemampuan berpikir anak-anak)

Ya, penggalan pengalaman saya di atas menunjukkan antusiasme anak-anak dalam mengembangkan kemampuan berpikir imajinatif melalui sebuah bercerita yang menyenangkan. Dengan cerita yang didesain dengan tokoh-tokoh yang langsung diperankan oleh anak-anak, maka anak-anak merasa terlibat langsung dalam cerita. Anak-anak akan merasakan langsung bahwa dirinya adalah pahlawan yang hebat.

Dari sinilah, anak-anak kemudian dapat mengembangkan imajinasinya dengan bebas dalam konteks cerita. Dengan imajinasi inilah, maka saat saya bertanya, “Senjata apa yang kalian bawa untuk menangkap Dinosaurus?” Maka anak-anak langsung menjawab dengan cepat sesuai dengan imajinasinya masing-masing. Dan senjata yang mereka sebutkan pun aneh-aneh sesuai dengan keinginan imajinasi mereka.

Tentu saja tidak hanya sampai di situ, saat kemudian saya bertanya lagi, “Apa yang kalian lakukan?” Segera anak-anak itu dengan cepat menyampaikan hasil berpikir imajinasinya yang tidak saya perkirakan. Anak-anak dengan cepat dan tepat menyampaikan gagasan imajinasinya.

Dari sinilah, melalui cerita atau dongeng yang melibatkan langsung anak-anak sebagai tokoh cerita, kita bisa mengembangkan berpikir imajinatif anak-anak dengan baik. Proses berpikir imajinasinya dibangun berdasarkan pada konteks cerita atau dongeng yang hadir dalam pikiran anak-anak.

Dari dongeng atau cerita itu, anak-anak kemudian dilibatkan menjadi tokoh. Ini jelas akan semakin membuat kepemilikan dan keterlibatan anak-anak dalam bercerita. Dari sinilah, anak-anak menjadi memiliki, dan bahkan menyatu dalam konteks imajinatif anak-anak melalui dongeng, sehingga setiap pertanyaan yang saya ajukan pun, terlihat begitu cepat dijawab sesuai dengan daya imajinasi yang dikembangkan anak-anak.

Proses berpikir dalam kenyataan ini menunjukkan mekanisme berpikir yang imajinatif, yaitu suatu berpikir yang berorientasikan pada daya kreativitas anak yang beda, yang sesuai dengan gambaran idealitas diri anak-anak. Dari sinilah, anak-anak pun dikondisikan untuk bisa mengungkapkan ide-gagasan imajinatifnya melalui dongeng.

Jika dilakukan secara intensif, maka cara bercerita seperti di atas akan mengembangkan berpikir imajinatif anak sebagai pondasi berpikir kreatif yang sesuai dengan idealitas kita semua.

Berpikir imajinatif ini jelas memiliki peranan yang penting bagi murid-murid kita. Einstein (1982) menyatakan bahwa seharusnya penguasaan dan pemhaman kita terhadap ilmu pengetahuan itu cukup 1%, sedangkan yang 99% adalah imajinasi. Sebab, melalui imajinasi inilah kita akan bisa menciptakan segala sesuatu yang tidak mungkin menjadi ada.

Untuk itu, melalui berpikir kreatif inilah anak-anak kita akan memiliki kemampuan untuk mewujudkan ide-gagasan yang melampaui zamannya, yaitu ide gagasan yang mampu menjadikan kita semua sebagai penemu. Temuan yang sumber utamanya adalah imajinasi kreatif, yang kemudian dalam proses realisasinya akan diaktualisasikan oleh ilmu pengetahuan yang dimilikinya.

Dari sinilah, kita ketahui bahwa berpikir kreatif menjadi hal penting yang harus dikenalkan dan dikembangkan oleh guru dan orang tua pada anak-anak. Pengembangan sejak usia dini tentu saja menjadi lebih baik karena sejak usia dini anak sudah dikondisikan dan dikembangkan kemmpuan berpikir kreatifnya. Dan salah satu yang bisa dilakukan adalah dengan menggunakan teknik mendongeng dengan melibatkan anak sebgai tokoh-tokohnya.

 

HERU KURNIAWAN

Pengajar di Institut Agama Islam Negeri (IAIN) Purwokerto; Penulis Buku Parenting dan Bacaan-Aktivitas Anak-anak; www.rumahkreatifwadaskelir.com WA. 081564777990;  Ig. herukurniawan_1982   Email: heru_1982@yahoo.com