MENGEMBANGKAN KEMAMPUAN BERPIKIR IMAJINATIF MELALUI BERCERITA

dibaca normal:5 menit

“Kali ini Pak Guru akan bercerita paling keren tentang kalian,” seru saya pada ketiga murid saya, Tegar, Nera, dan Devin, yang sedang minta diceritakan sebuah dongeng.

“Cerita apa, Pak Guru?” Tanya Devin antusias.

“Pak Guru akan bercerita petualangan keren tiga anak hebat dalam menangkap binatang paling besar di dunia, Dinosaurus. Kalian tahu siapa anak itu?”

Devin, Nera, dan Tegar saling pandang. Kemudian menatapku kembali dengan menggelengkan kepala.

“Tidak!” seru ketiganya serentak.

Saya menjelaskan pelan-pelan, “Ketiga anak itu adalah Nera, Devin, dan Tegar!”

Ketiga anak itu kembali saling pandang. Ekspresi ketiganya sangat senang namanya disebut dalam dongeng yang akan saya ceritakan.

“Ceritanya bagaimana Pak Guru?” tanya Tegar antusias.

“Iya, suatu hari, Tegar, Nera, dan Devin pergi ke hutan rimba yang sangat lebat. Mereka akan menangkap Dinosaurus yang tubuhnya besar sekali. Apakah ketiga anak ini berhasil….”

“Pasti berhasil. Pasti bisa. Kami anak-anak yang hebat, Pak Guru!” teriak Nera memotong seraya berdiri dan menunjukkan gerakan silat, seakan sudah siap-siap bertarung dengan Dinosaurus.

Saya pun melanjutkan bercerita saat Nera sudah duduk kembali, “Ya, pasti bisa. Nah, agar bisa menangkap Dinosaurus, ketiga anak ini akan membawa senjata yang sakti. Tegar apa senjata yang kau bawa?”

“Tongkat sakti!” jawab Tegar yang disambut tawa Nera dan Devin.

“Nera apa senjata sakti yang kau bawa?” tanya saya kembali.

“Tali sakti!” teriak Nera senang.

“Devin, apa senjata sakti yang kau bawa?”

“Topi sakti!” teriak Devin.

“Baiklah, dengan senjata sakti itulah ketiganya masuk ke hutan rimba yang dipenuhi banyak pepohonan. Di tengah hutan ketiga anak itu menemukan Dinosaurus yang bertubuh besar. Nera apa yang akan kamu lakukan untuk menangkap Dinosaurus itu?” teriak saya.

“Aku lemparkan tali saktiku ke Dinosaurus. Tali itu segera melayang dan langsung mengikat kaki-kaki dan tubuh Dinosaurus!” seru Nera penuh rasa bangga.

“Tegar!” teriak saya kembali.

“Aku lemparkan topi saktiku. Segera topi itu menjadi besar dan menutup kepala Dinosaurus!” teriak Tegar penuh rasa senang.

“Devin!” teriak saya lagi.

“Tongkat saktiku aku lempar. Ke kaki Dinosaurus yang terikat. Saat tongkat saktiku mengenai kaki-kakinya, maka Dinosaurus itu kemudian terjatuh,” seru Devin dengan tidak kalah bangganya.

“Hore! Kalian anak-anak hebat. Bisa menangkap Dinosaurus itu!” teriak saya memuji anak-anak yang kemudian menunujukkan rasa bangganya pada diri sendiri.

“Apa yang akan kalian lakukan dengan Dinosaurus itu? Dinosaurus yang sudah kalian tangkap,” tanya saya.

Anak-anak pun saling pandang. Seperti sedang membuat kesepakatan bersama. Nera kemudian angkat bicara, “Akan kami bawa pulang…”

“Ya, di rumah akan kami buatkan kandang yang sangat besar. Akan kami rawat dan jaga Dinosaurus itu,” jawaban Tegar.

“Dan aku setiap hari akan memberikan makan Dinosaurus itu. Aku senang sekali pastinya. Karena Dinosaurusnya nanti beranak dan akan tambah banyak,” tambah Devin yang disusul oleh tawa Tegar dan Nera.

…..

(Kami semua senang merayakan kegiatan berimajinasi melalui bercerita. Kegiatan bercerita yang sangat disukai anak-anak, yang tanpa disadari mengembangkan kemampuan berpikir anak-anak)

Ya, penggalan pengalaman saya di atas menunjukkan antusiasme anak-anak dalam mengembangkan kemampuan berpikir imajinatif melalui sebuah bercerita yang menyenangkan. Dengan cerita yang didesain dengan tokoh-tokoh yang langsung diperankan oleh anak-anak, maka anak-anak merasa terlibat langsung dalam cerita. Anak-anak akan merasakan langsung bahwa dirinya adalah pahlawan yang hebat.

Dari sinilah, anak-anak kemudian dapat mengembangkan imajinasinya dengan bebas dalam konteks cerita. Dengan imajinasi inilah, maka saat saya bertanya, “Senjata apa yang kalian bawa untuk menangkap Dinosaurus?” Maka anak-anak langsung menjawab dengan cepat sesuai dengan imajinasinya masing-masing. Dan senjata yang mereka sebutkan pun aneh-aneh sesuai dengan keinginan imajinasi mereka.

Tentu saja tidak hanya sampai di situ, saat kemudian saya bertanya lagi, “Apa yang kalian lakukan?” Segera anak-anak itu dengan cepat menyampaikan hasil berpikir imajinasinya yang tidak saya perkirakan. Anak-anak dengan cepat dan tepat menyampaikan gagasan imajinasinya.

Dari sinilah, melalui cerita atau dongeng yang melibatkan langsung anak-anak sebagai tokoh cerita, kita bisa mengembangkan berpikir imajinatif anak-anak dengan baik. Proses berpikir imajinasinya dibangun berdasarkan pada konteks cerita atau dongeng yang hadir dalam pikiran anak-anak.

Dari dongeng atau cerita itu, anak-anak kemudian dilibatkan menjadi tokoh. Ini jelas akan semakin membuat kepemilikan dan keterlibatan anak-anak dalam bercerita. Dari sinilah, anak-anak menjadi memiliki, dan bahkan menyatu dalam konteks imajinatif anak-anak melalui dongeng, sehingga setiap pertanyaan yang saya ajukan pun, terlihat begitu cepat dijawab sesuai dengan daya imajinasi yang dikembangkan anak-anak.

Proses berpikir dalam kenyataan ini menunjukkan mekanisme berpikir yang imajinatif, yaitu suatu berpikir yang berorientasikan pada daya kreativitas anak yang beda, yang sesuai dengan gambaran idealitas diri anak-anak. Dari sinilah, anak-anak pun dikondisikan untuk bisa mengungkapkan ide-gagasan imajinatifnya melalui dongeng.

Jika dilakukan secara intensif, maka cara bercerita seperti di atas akan mengembangkan berpikir imajinatif anak sebagai pondasi berpikir kreatif yang sesuai dengan idealitas kita semua.

Berpikir imajinatif ini jelas memiliki peranan yang penting bagi murid-murid kita. Einstein (1982) menyatakan bahwa seharusnya penguasaan dan pemhaman kita terhadap ilmu pengetahuan itu cukup 1%, sedangkan yang 99% adalah imajinasi. Sebab, melalui imajinasi inilah kita akan bisa menciptakan segala sesuatu yang tidak mungkin menjadi ada.

Untuk itu, melalui berpikir kreatif inilah anak-anak kita akan memiliki kemampuan untuk mewujudkan ide-gagasan yang melampaui zamannya, yaitu ide gagasan yang mampu menjadikan kita semua sebagai penemu. Temuan yang sumber utamanya adalah imajinasi kreatif, yang kemudian dalam proses realisasinya akan diaktualisasikan oleh ilmu pengetahuan yang dimilikinya.

Dari sinilah, kita ketahui bahwa berpikir kreatif menjadi hal penting yang harus dikenalkan dan dikembangkan oleh guru dan orang tua pada anak-anak. Pengembangan sejak usia dini tentu saja menjadi lebih baik karena sejak usia dini anak sudah dikondisikan dan dikembangkan kemmpuan berpikir kreatifnya. Dan salah satu yang bisa dilakukan adalah dengan menggunakan teknik mendongeng dengan melibatkan anak sebgai tokoh-tokohnya.

 

HERU KURNIAWAN

Pengajar di Institut Agama Islam Negeri (IAIN) Purwokerto; Penulis Buku Parenting dan Bacaan-Aktivitas Anak-anak; www.rumahkreatifwadaskelir.com WA. 081564777990;  Ig. herukurniawan_1982   Email: heru_1982@yahoo.com

 

Comments

comments

0 replies

Leave a Reply

Want to join the discussion?
Feel free to contribute!

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *