MEREKAP KERINGAT DAN AIR MATA LIMA TAHUN PERJUANGAN RUMAH KREATIF WADAS KELIR #1

dibaca normal:3 menit

(Bagian Satu)

…..

Ini adalah tahun kelima kami, Rumah Kreatif Wadas Kelir, berjuang! Masih terlalu muda, bahkan masih anak-anak usia kami. Tapi, kami telah banyak menyeka keringat dan air mata yang mengalir karena kelelahan dan kebanggaan yang tak pernah kami sangka.

Dalam perjalanan bersama Rumah Kreatif Wadas Kelir, kami hanya meyakini, “Bahwa, di hadapan Tuhan, setiap keringat dan air mata itu ada harganya!”

Kami memulai pada tahun 2013, saat persoalan hidup tiba-tiba menyekap keluargaku karena kasus pembelian rumah. Cobaan yang membuat keluargaku tak berdaya. Niat baik menolong membeli rumah (sekarang jadi Rumah Kreatif Wadas Kelir) diibalas dengan pelimpahan persoalan hidup. Saat itu tak ada logika yang bisa digunakan untuk menyelesaikan.

Saat aku pasrah tidak berdaya, Istriku berbisik, “Bagaimana jika rumah ini kita buka untuk anak-anak. Kita jadikan rumah ini sebagai sekolah untuk anak-anak sekitar. Siapa tahu dengan begitu beban ini menjadi ringan!”

Saya menatap Istri saya dan berkata, “Apakah kamu siap untuk repot dan bersusah payah.” Dan istri menjawab dengan kata-kata yang selalu kuucapkan, “Jangan takut berbuat baik, sekalipun kita tidak akan merasakan kebaikan itu, yakinlah, anak keturunan kita kelak akan merasakannya. Bukankah, perisai terbaik untuk anak-anak kita adalah: doa dan kebaikan.”

Aku terhenyak. Aku bangkit dari duduk dan keterpurukan hidup dengan keyakinan dan harapan baru. Menyelesaikan persoalan hidup ini dengan cara merepotkan keluarga sendiri. Setidaknya siapa tahu ini menjadi cara lupa dari persoalan yang menimpa keluarga kami.

…..

Ya, pintu rumah pun kami buka, tepatnya di bulan April 2013 (sayangnya saya lupa waktunya, sehingga saya pun tidak tahu tanggal kelahiran Rumah Kreatif Wadas Kelir sampai sekarang). Dan saya bersama istri sepakat menyebut: Rumah Kreatif Wadas Kelir (RKWK). Wadas Kelir saya ambil dari Jalan Wadas Kelir tempat kami tinggal!

Pertanyaan pertama: apa yang kami lakukan?

Saya dan istri menghampiri anak-anak sekitar. Saat mereka sedang bermain saya datang. Saya merayu mereka untuk bermain di rumah saya. Saya janjikan yang bermain akan saya pinjami buku. Saya punya banyak buku di rumah. Dan anak-anak suka.

Cara lainnya, setiap ada kerumunan anak-anak saya datangi. Saya ajak mereka untuk untuk beli jajan atau makan bersama. Saya yang traktir semua. Sampai saya ajak anak-anak tamasya dengan gratis. Dengan cara ini, saya berhasil memiliki massa anak-anak yang banyak. Saya langsung tenar, orang baru yang langsung ngartis bagi anak-anak.

Banyak anak-anak mengenal saya. Banyak yang memanggil saya setiap kali bertemu, “Pak Guru!” kata anak-anak. Saya tertawa dalam hati. Bahagia. Memiliki banyak teman anak-anak adalah kebanggaan bagi keluarga saya.

“Bagaimana rasanya sekarang, Yah?” tanya Istri saya suatu malam saat saya kelelahan. Saya hanya diam dengan sorot mata lelah. Belum sempat menjawab saya tertidur lelap.

Sampai sekarang saya belum bisa menjawab pertanyaan istri. Sebab saya tidak tahu rasanya. Rasanya akan saya ceritakan kelak saat semuanya harus berakhir. Sebab, bukankah rasa sebuah makanan akan bisa dikisahkan setelah kita selesai makan?

…..

(bersambung)

 

 

Comments

comments

0 replies

Leave a Reply

Want to join the discussion?
Feel free to contribute!

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *