MENGENAL LIMA MODEL BERCERITA YANG DISUKAI ANAK-ANAK

dibaca normal:4 menit

Jika anak-anak ditanya, “Siapa yang suka cerita?” Saya yakin, jika pertanyaan itu ditujukan pada seratus anak, maka seratus anak itu akan menjawab dengan serentak,”Saya!” Semua anak angkat tangan dan menyatakan dirinya suka dengan cerita.

Dan kenyataannya memang anak-anak selalu menyukai cerita. Selalu antusias jika orang tua bercerita. Selalu penasaran dengan alur cerita yang diceritakan dengan menarik oleh orang tuanya.  Anak-anak dan cerita pun menjadi dunia yang tidak bisa dipisahkan. Di mana ada anak-anak, selalu saja akan ada cerita yang dinantikan untuk diceritakan.

Bercerita pun kemudian menjadi media penting dalam menjalin komunikasi dan interaksi antara orang tua dengan anak-anak. Orang tua yang bisa bercerita dengan baik akan selalu dinantikan kehadirannya anaknya. Saat anak-anak mau tidur, misalnya, akan selalu membutuhkan cerita dari orang tuanya. Atau, saat anak-anak bosan di rumah, maka cerita menjadi hal yang dirindukan anak-anak untuk mengobati kebosanan anak.

Dengan kenyataan ini, maka memiliki kepandaian atau bisa bercerita dihadapan anak-anak menjadi keharusan bagi orang tua. Tidak heran para orang tua pun sudah memiliki kesadaran ini, sehingga dirinya terus belajar untuk bisa bercerita dengan baik untuk anak-anaknya.

Salah satu hal yang harus dipahami orang tua, selalin kemampuan bercerita adalah memahami model-model bercerita yang disukai anak. Berdasarkan pada hasil penelitian yang saya lakukan atas kebiasaan orang tua dalam bercerita pada anak-anaknya, saya menemukan lima model bercerita yang disukai oleh anak-anak.

Pertama, model bercerita pengalaman masa kecil. Saya yakin anak-anak kita selalu penasaran dengan pengalaman masa kecil orang tuanya. Untuk itu, saat orang tua menceritakan pengalaman masa kecilnya, anak-anak pasti suka. Anak-anak pasti penasaran, sehingga selalu antusias mendengarkan saat orang tua menceritakan pengalaman masa kecilnya dulu. Jika sudah selesai diceritakan, dipastikan anak-anak akan minta dilanjutkan kembali esok harinya. Sampai, karena sangat suka dan penasarannya, esok saat anak-anak diajak liburan ke rumah Nenek dan Kakeknya, dipastikan anak-anak akan mencari lokasi atau kejadian yang pernah diceritakan orang tuanya. Maka, sebagai orang tua, jangan sampai anak-anak kita tidak tahu masa kecil orang tuanya. Ceritakanlah pengalaman masa kecil orang tua, anak-anak pasti suka.

Kedua, model bercerita dengan pelibatan anak sebagai tokohnya. Anak sangat senang sekali jika dirinya diajak terlibat dalam cerita yang diceritakan. Tokoh dalam cerita yang diceritakan adalah anak itu sendiri. Anak-anak akan merasa bangga dan hebat karena dirinya adalah tokoh sekaligus pahlawan dalam cerita. Ada keterlibatan emosional yang membuat anak-anak merasakan sensasi yang mengesankan menjadi tokoh hebat dalam cerita. Karena sensasi emosional inilah, maka anak-anak akan senang diceritakan yang melibatkan dirinya sebagai tokoh dalam cerita.

Ketiga, model cerita dengan mengakomodasi permintaan anak. Cerita yang menarik bagi anak adalah cerita yang sesuai dengan keinginan dan kesukaan anak. Untuk itu, model cerita yang bisa mengakomodasi keinginan anak adalah membuat anak-anak senang cerita yang diceritakan orang tuanya. Model bercerita seperti ini biasanya dimulai dengan pertanyaa, “kali ini akan bercerita soal apa?” melalui pertanyaan ini, anak dengan serentak akan menjawab, misalnya, “kucing” maka orang tua harus bersegera bercerita soal kucing. Bisa cerita yang tokohnya kucing atau mendeskripsikan kucing melalui cerita. Model bercerita yang demikian akan disukai oleh anak-anak.

Keempat, model bercerita dengan membacakan buku. Anak-anak suka dengan buku-buku yang gambarnya menarik. Buku-buku yang memikat dan sesuai dengan kesenangan anak. Untuk itu, membacakan buku-buku yang menarik akan disukai oleh anak-anak. Jika sudah tertarik, anak-anak biasanya akan terus memegang buku tersebut, dan esok harinya akan kembali meminta orang tua untuk membacakan buku tersebut kembali. Anak-anak akan selalu menyukai bercerita yang dilakukan dengan membacakan buku.

Kelima, model bercerita dengan tanya jawab yang menyenangkan. Model seperti ini akan disukai anak-anak karena anak-anak dikondisikan untuk senang dan pintar. Sebelum bercerita coba berikan pertanyaan, misalnya, orang tua menirukan suara salah satu binatang, kemudian meminta anak untuk menebak suara apa. Anak-anak akan menebak dengan antusias, sambil terus tebak-tebakan, orang tua kemudian bercerita. Dan dalam setiap bagian cerita, orang tua selalu menyisipkan aneka tebak-tebakkan yang menyenangkan. Dengan cara demikian anak-anak pun akan menyukai cerita yang diceritakan.

Dengan tahu kelima model bercerita yang disukai anak-anak ini, maka orang tua bisa dengan mudah memilih model cerita apa yang akan dipraktikan untuk anak-anak, dan setiap harinya bisa divariasikan dengan kelima model bercerita itu. Sehingga anak-anak tidak akan bosan dan selalu senang dengan cerita yang diceritakan oleh orang tuanya.

 

 

HERU KURNIAWAN

Pengajar di Institut Agama Islam Negeri Purwokerto

Penulis Buku Parenting dan Bacaan Anak-anak

Founder Rumah Kreatif Wadas Kelir

Comments

comments

0 replies

Leave a Reply

Want to join the discussion?
Feel free to contribute!

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *