MEMAHAMI RASA TAKUT ANAK

dibaca normal: 3 menit

Takut adalah suatu kondisi perasaan cemas berlebihan yang memberikan dampak kekhawatiran pada diri sendiri. Perasaan takut terjadi karena hadirnya suasana, objek, dan orang lain yang tidak diharapakan dan selalu ditiadakan oleh anak. Sumber rasa takut ini adalah pengalaman anak yang tidak mengenakan, cerita orang lain yang membuat asosiasi takut, serta menyaksikan kejadian yang memberikan dampak takut pada diri.

 

Di sinilah, rasa takut anak melibatkan tiga hal penting: adanya objek, suasana, atau sosok yang menstimulasi kecemasan anak; sarana yang mengantarkan anak untuk takut, misalnya, menyaksikan, mengalami, atau pun mendengar cerita tidak langsung; dan dampak psikologis cemas dan khawatir yang ditimbulkan atas takut pada anak. Misalnya, saat anak mengalami langsung suasana sepi di malam hari, maka rasa takut yang menimbulkan cemas dan khawatir pada anak pun muncul.

 

Oleh karena setiap hari anak-anak berinteraksi dengan objek, tempat, suasana, dan orang lain, maka perasaan takut setiap kali mengalami hal yang mencemaskan akan selalu terjadi. Artinya, takut adalah suatu kondisi perasaan yang akan selalu dialami oleh anak-anak. Pertanyaannya adalah bagaimana mengatasi perasaan takut yang dialami oleh anak?

Yang sering terjadi adalah, saat anak-anak sedang merasakan takut, orang tua justru menyalahkan anak. Apalagi jika rasa takut itu meuncul karena hal sepele yang dianggap orang tua anak tidak seharusnya takut. Sikap salah yang sering dilakukan orang tua tampak dari ekspresi kata-kata yang diucapkan, misalnya, “ah, kamu penakut, sama semut saja takut!”, “Jangan penakut, setan itu tidak ada!”, “Berangkat sekolah, tidak usah takut dengan temanmu!” “Minum, obat! Sama obat saja takut!”

 

Ungkapan-ungkapan demikian menunjukkan sikap orang tua yang menyalahkan anak dan rasa takutnya. Padahal rasa takut adalah hal yang alamiah, yang bisa terjadi pada siapapun, kapanpun, dan dimanapun. Jika demikian kenyataannya, maka yang atasi atas rasa takut anak bukan pada anak atau rasa takutnya. Atau, sering kali orang tua menghilangkan rasa takut dengan menghilangkan atau menghindarkan anak atas objek, suasana, dan orang yang membuat anak takut. Ini juga tidak menyelesaikan persoalan karena anak-anaktidak bisa dihindarkan atas sesuatu yang membuat takut.

 

Yang harus dilakukan orang tua adalah memahami kebutuhan yang diharapkan anak saat sedang takut. Ya, kebutuhan mendasar anak saat Saat merasakan takut ini adalah kehadiran orang tua untuk memberikan perlindungan pada anak. Melalui perlindungan inilah, anak-anak akan mendapatkan kenyataan ada orang yang memahami kecemasannya, sikap baik untuk melindungi, dan solusi untuk mengatasi pesoalan takut yang sedang dihadapi. Untuk itu, saat anak-anak sedang mengalami rasa takut, maka orang tua harus melakukan langkah-langkah seperti ini.

Pertama, segera mungkin hadir di dekat anak-anak, jangan menunda nanti karena perasaan takut dan cemas itu darurat untuk segera di atasi. Saat takut anak-anak sangat membutuhkan sesorang yang bisa membantunya, maka bersegeralah untuk mendekat ke anak. Tinggalkan semua pekerjaan dan rutinitas, segerakah mendekat dan duduk bersama anak untuk membantu mengatasi rasa takut anak.

 

Kedua, ekspresikan kepedulian kita pada anak. Tunjukkan bahwa rasa takut yang sedang dihadapi anak adalah hal yang serius, jangan remehkan dengan menganggap rasa takut anak tidak pantas dan keterlaluan, ini akan membuat anak kecewa. Ekspresi ini akan meyakinkan anak bahwa rasa takut yang sedang dihadapi ini dipahami oleh orang tuanya, sehingga akan timbul harapan besar anak pada orang tuanya untuk melindungi dan membantunya.

 

Ketiga, katakan perhatian kita dengan ungkupan yang menunjukkan dua hal: orang tua akan melindungi dan membantu menyelesaikannya, misalnya, “Kamu harus tenang, Nak. Jangan takut, Ayah dan Ibu akan tetap di samping kamu. Ayah dan Ibu akan melindungmu dari hantu yang berkelebat itu…” jika ungkapan yang meunjukkan perlindungan sudah, maka katakan hal yang menunjukkan sikap ingin membantu mengatasi rasa takut, misalnya, “Jika kamu takut hantu, esok lampu di kamar ini dibuat lebih terang lagi, pasti hantunya akan pergi jauh. Dan Ayah-Ibu akan ajarkan kamu hafalan doa yang membuat hantu tidak datang lagi.”

 

Keempat, untuk menciptakan efek keterlibatan dan perhatian yang lengkap, maka peluklah anak. Saat anak sedang takut dia membutuhkan perlindungan dalam pelukan. Saat memeluk inilah, kemudian kita mengatakan hal-hal yang menunjukkan kesedian orang tua memberikan perlindungan dan keikutsertaan mengatasi ketakutan ini akan membuat anak semakin tenang.

Melalui sikap-sikap di atas ini, maka anak pun akan memahami bahwa ketakutan boleh datang menghampiriku, tetapi aku punya orang tua yang selalu melindungi dan membantuku untuk mengatasinya dengan baik. Hal ini akan membuat anak-anak berani dalam mengatasi setiap ketakutan yang dihadapi. Kepercayaan diri anak akan tumbuh, dan pada gilirannya, anak-anak pun ke depannya akan semakin bisa mengatasi berbagai ketakutan yang dialaminya.

 

 

HERU KURNIAWAN

Pengajar di Institut Agama Islam Negeri Purwokerto

Founder Rumah Kreatif Wadas Kelir

Penulis Buku Parenting, Bacaan, dan Aktivitas Anak

 

Comments

comments

0 replies

Leave a Reply

Want to join the discussion?
Feel free to contribute!

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *