Read Aload: Metode Mengembangkan Perilaku Prososial Anak

dibaca normal: 4 menit

SAHABAT KELUARGA – Kemajuan teknologi dan informasi selain memberikan dampak positif bagi perkembangan anak dilain sisi sering kali menjadi penghalang bagi pertumbuhan dan perkembangan anak.

Media digital dan elektronik telah berhasil menarik perhatian kebanyakan anak Indonesia yang secara langsung dan tidak langsung memicu aktivitas keseharian mereka lebih terkontaminasi pada pemanfaatan media tersebut. Bahkan saat ini media ikut mengambil alih peran orang tua dalam mengembangkan kepribadian anak.

Lalu apakah hasil kepribadian anak yang dicetak oleh media menjadi lebih baik? Tentu saja tidak karena bagaimanapun orang tua adalah madrasah dan tempat belajar anak pertama dan utama. Akibatnya, banyak anak yang tumbuh dan berkembang tanpa mengenal moril ataupun rasa kepekaannya terhadap lingkungan disekitarnya. Mereka menganggap gadget adalah satu-satunya teman yang dapat mengerti dirinya, penolong saat susah dan pemberi kebahagiaan setiap waktu.

Menurut Dr. Muhammad Yaumi (2014: 155) dalam bukunya yang berjudul Pendidikan Karakter: Landasan, Pilar dan Implementasi menyatakan bahwa anak yang hidup di perkotaan memiliki kebiasaan menonton televisi, bermain video gameplay stasion, dan internet yang rasionya 19 kali berbanding satu kali berbicara dengan orang tua.

Belum lagi dengan permasalahan rendahnya minat baca anak-anak di Indonesia. Sebagian besar belum menjadikan kebiasaan membaca sebagai kebutuhan dasar. Mereka pada umumnya hanya dipaksa dan dituntut untuk bisa baca agar dapat mengerjakan ujian dan mendapat nilai bagus sesuai KKM yang berlaku di sekolah tanpa dibekali peminatan terlebih dahulu.

Jim Trelease (2006: 19) dalam bukunya, ReadAload Handbook, mengisahkan saat dirinya mengajar di kelas Taman Kanak-Kanak. Saat anak-anak itu ditanya siapa yang ingin belajar membaca? Maka dengan sendirinya anak-anak akan semangat menunjuk dirinya sendiri. Kita punya 100 persen minat di taman kanak-kanak tetapi kehilangan 78 persen pembaca potensial ketikan menginjak tahun kedua belas pendidikan. Sekolah seharusnya menciptakan orang-orang yang suka membaca seumur hidup mereka – yang terus membaca dan mendidik diri mereka sendiri sepanjang hidup mereka sebagai orang dewasa.

Anak usia dini dan Perilaku Prososial

Dari banyaknya permasalahan di atas, salah satu efek yang saat ini banyak terjadi adalah kurangnya rasa empati atau perilaku prososial pada diri anak. Padahal dalam kehidupan bermasyarakat, manusia dituntut untuk berinteraksi dengan sesama, karena manusia adalah makluk sosial. Perilaku prososial inilah yang akan membentuk suatu peradaban yang saling berkesinambungan seperti mata rantai.

Perilaku prososial (Asih dan Pratiwi, 2010:1) merupakan salah satu bentuk perilaku yang muncul dalam kontak sosial, sehingga perilaku prososial adalah tindakan yang dilakukan atau direncanakan untuk menolong orang lain tanpa peduli motif-motif si penolong.

Wilayah kedua dari perkembangan sosial anak yang mendapat perhatian besar dari para pengasuh anak usia dini adalah aspek positif perkembangan moral, yang lebih dikenal sebagai perilaku prososial. Wilayah ini mencakup perilaku seperti empati, dimana anak-anak mengekspresikan kasih sayang dengan menghibur atau menyenangkan orang lain dalam kesusahan atau dengan mengungkapkan perasaan anak lainnya selama konflik interpersonal; kemurahan hati, dimana anak-anak bergiliran secara sukarela atau memenuhi permintaan dengan riang, dan kepedulian, dimana anak-anak membantu seseorang menyelesaikan tugas atau membantu seseorang yang membutuhkan (Beaty, 2013: 168).

Penanaman perilaku sosial pada anak usia dini merupakan hal penting. Kerena perilaku dasar inilah yang akan membawa anak pada sebuah kebiasaan dan kecerdasan yang baik dalam lingkungannya.

Mengapa anak usia dini? Karena semua potensi kecerdasan dalam otak manusia sejak lahir dimulai saat anak dalam kandungan. Yaitu dari kurun waktu tujuh tahun pertama kehidupan manusia, kecerdasan dapat disingkap dan dilejitkan. Potensi kecerdasan tersebut dapat disingkap jika mendapatkan perawatan (Fauzi, 2018:73).

Keluarga merupakan merupakan tempat utama anak dalam melakukan pembelajaran baik secara langsung ataupun tidak langsung. Anak-anak menyerap semua yang terjadi di sekitar mereka, apa yang dilakukan ibu saat anaknya menangis, apa yang ayah lakukan saat orang mengecewakannya, dan apa yang anggota keluarga lakukan saat mereka tidak sepakat. Setiap emosional menghadirkan perilaku yang bisa ditiru oleh mereka.

Oleh karena itu orang tua harus dapat menjadi role model bagi mereka dengan cara memberikan contoh dan teladan yang baik kepada anak secara konsisten. Penanaman perilaku prososial juga dapat dimulai dari hal-hal sederhana seperti berbagi makanan, saling bantu saat mengerjakan PR, membersihkan rumah secara bersama-bersama, dan lain-lain.

Read Aload sebagai Metode Penanaman Perilaku Prososial

Read aload atau lebih disebut juga membaca nyaring merupakan kegiatan yang baru bagi sebagian orang. Beberapa orang biasanya mengenalnya dengan kata ’membaca nyaring’. Membaca nyaring menurut Kamus Besar Bahasa Indonesia adalah kegiatan membaca yang dilakukan dengan suara nyaring atau lantang. Namun, dalam metode penanaman perilaku prososial ini membaca nyaring atau read aload bukan hanya membaca secara lantang tapi juga merupakan metode yang digunakan guru dalam menanamkan perilaku prososial pada anak-anak (Jim Trelease, 2006: 7).

Penanaman perilaku prososial harus dilakukan dengan cara yang tepat dan membekas agar sampai pada tujuan terurama pada anak usia dini. Ada dua hal yang biasanya sangat disukai oleh anak-anak, yaitu cerita dan musik.

Cerita adalah salah satu media yang sangat efektif dalam mendidik anak, dan read aload adalah metode yang tepat untuk ini semua. Kegiatan bercerita biasanya menjadi kesempatan baik untuk read aload kepada anak-anak dalam menanamkan aksi-aksi atau nilai-nilai baik yang ada pada tokoh dalam cerita.

Tidak hanya orang tua di rumah, di sekolah pun bisa melakukan kegiatan ini. Yang perlu diketahui adalah kegiatan read aload ini tidak hanya dilakukan menjelang tidur saja. Itu semua bisa dilakukan pada waktu kapanpun dan dimanapun termasuk di sekolah dan dalam waktu pembelajaran.

Dalam kasus ini PAUD Wadas Kelir menerapkan metode tersebut. Sekolah menanamkan kurikulum berbasis literasi untuk siswanya.

Dalam kegiatan ini, sekolah bekerjasama dengan para guru untuk selalu melakukan kegiatan read aload setiap pagi, dan dalam setiap pembelajarannya selalu diambil dari kegiatan-kegitan yang ada di buku. Dari kegiatan itu, secara tidak langsung anak-anak selalu belajar tentang perilaku prososial.

Dari hasil riset yang dilakukan terkait kegitan ini, siswa-siswi PAUD Wadas Kelir memperlihatkan perilaku yang lain dari pada anak seusianya. Dalam melakukan kebersihan kelas dan kerapiannya anak seusia mereka sudah dapat bekerja sama dengan baik tanpa dimintai pertolongan oleh guru. Seperti membersihkan dan menggotong beberapa meja secara bersama-sama. Hingga melakukan perilaku kejujuran saat berbuat salah dan mengakui kesalahannya secara langsung oleh guru kelasnya.

Hal lain yang lebih menarik adalah ketika sedang berbuat kebaikan, mereka akan menyebut salah satu tokoh dalam cerita, dan menyebutkan, ”Aku seperti Kumbi dan teman-temannya” secara bangga. Ini membuktikan adanya penanaman pembelajaran yang berdampak bagi diri anak.

Riset ini memberitahukan bahwa kegiatan membacakan buku atau read aload kepada anak-anak adalah hal yang sangat penting. Dari sanalah bibit-bibit tunas bangsa akan tumbuh dengan perilaku prososial yang sangat baik. Dapat dikatakan bahwa membacakan buku atau melakukan read aload adalah kegiatan investasi para guru dan orang tua untuk masa depan anak.

(Putri Puji Ayu Lestari – Relawan Pustaka Rumah Kreatif Wadas Kelir dan Mahasiswa Pendidikan Guru Madrasah Ibtidaiyah IAIN Purwokerto. Foto: Fuji Rachman)

Sumber : https://sahabatkeluarga.kemdikbud.go.id/laman/index.php?r=tpost/xview&id=249900248

Comments

comments

0 replies

Leave a Reply

Want to join the discussion?
Feel free to contribute!

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *