Yuk Pahami Delay Gratification Skill Anak

dibaca normal: 3 menit

SAHABAT KELUARGA – ”Bu, aku mau beli sepeda,” rengek Dila.

”Sabar Dila, Minggu depan kita beli bareng ayah yah!” jawab ibunya.

”Tapikan sekarang baru hari senin Bu, masih lama hari Minggunya,” pintanya terus merengek.

Dila terus menghitung hari-hari yang terasa begitu lama. Bahkan merengek untuk mempercepat untuk membeli sepeda.

Bisa dibayangkan apa reaksi anak mendengarkan kata ”sabar” jika ia sedang menginginkan sesuatu. Ia akan terus meminta dan merengek agar kita mengabulkan dengan segera keinginannya.

Hal ini menunjukkan kemampuan anak dalam mengendalikan dirinya masih kurang. Bahkan ia bisa menunjukkan perilaku yang tidak sesuai saat keinginannya tidak segera dituruti.

Bagi anak menunda keinginan merupakan tugas yang sulit. Tetapi kita tidak mungkin membiarkan si kecil menangis meronta-ronta, bukan? Kita cenderung mengutamakan keinginannya daripada ia terus merengek dan tantrum.

Menunggu artinya menunda kepuasan atau delayed gratification. Seorang pakar psikologi kepribadian dari Universitas Columbia, Walter Mischel, menjelaskan delayed gratification adalah kemampuan sosial seseorang dalam mengontrol diri dengan cara menunda kepuasan demi mencapai hasil yang lebih besar di masa yang akan datang. Mischael terkenal dengan eksperimennya The Marshmallow Test pada anak usia 4-5 tahun.

Cara kerjanya, anak-anak dibawa masuk ke sebuah ruangan dan masing-masing diberi marshmallow satu. Mereka tidak boleh makan bahkan menyentuhnya selama 15 menit tanpa awasan penguji. Anak yang berhasil akan mendapat marshmallow satu lagi.

Dari 653 anak hanya 3 yang berhasil. Kegagalan mereka levelnya pun berbeda-beda. Ada yang dalam satu detik setelah penguji keluar, ada yang 5 menit, 10 menit, dan seterusnya.

Setelah 20 tahun, Walter Mischel mencoba mendata kembali anak-anak yang pernah terlibat dalam The Marshmallow Test. Anak-anak yang mampu menahan diri tidak memakan marshmallow selama 15 menit tumbuh dengan mengagumkan. Konsentrasi dan logika mereka tumbuh pesat, mampu memelihara persahabatan, dan bertahan dalam tekanan.

Dari riset Mischel kita bisa mengetahui bahwa konsep delay gratification skill yang berkembang dengan baik akan membuat anak tumbuh dengan kontrol diri yang baik. Kemampuan ini berkembang sejak anak berusia seitar 2 tahun dimana anak sudah mengerti konsep sebab akibat.

Seiring bertambahnya usia, anak mulai bisa menekan keinginannya sendiri dan menahan diri demi mendapatkan kepuasan yang lebih. Anak memiliki kemampuan menunda kepuasan yang tinggi sampai mereka memasuki usia remaja.

Berikut perbedaan anak yang terampil dalam menunda kepuasan/delay gratification dan anak yang kurang:

Pertamatelaten

Anak yang terampil dalam menunda kepuasan akan menyelesaikan tugasnya dengan baik dan telaten. Ia akan berusaha dengan terampil untuk mendapatkan hasil yang memuaskan. Berbeda dengan kurang terampil, mereka cenderung mudah menyerah saat mengerjakan tugas yang tak kunjung selesai.

Keduabertanggung jawab

Beberapa anak cenderung sulit melaksanakan tugas yang menjadi tanggung jawabnya bahkan tugas baru, misalnya piket kelas. Namun anak yang mempunyai keterampilan menunda kepuasan yang baik walaupun tidak ingin melakukannya, tetapi mengerti bahwa tugas yang harus dikerjakan, ia akan mengerjakan apa yang sudah menjadi tanggung jawabnya. Sedangkan anak yang kurang terampil cenderung akan mengerjakan hal disukainya saja dan tidak begitu memahami apa yang menjadi tanggung jawabnya.

Ketigasabar

Anak lebih memahami arti menunggu dengan kesabaran. Sehingga saat anak mempunyai keiginan ia paham ada sebuah proses untuk mendapatkannya. Sehingga saat bunda mengatakan ”nanti lagi” atau ”sebentar dulu”, anak dapat mencernanya dengan baik. Sedangkan yang kurang terampil akan rewel bahkan tantrum saat keinginannya tidak dipenuhi.

Keempatmampu memahami situasi

Misalnya dalam kondisi anak harus mengantre untuk giliran hafalan juz ’amma. Anak-anak yang mempunyai keterampilan menunda kepuasan akan memahami bahwa ia harus mengantri untuk menunggu gilirannya. Bahkan anak mampu memanfaatkan waktunya dengan baik untuk mempelajari hafalannya sebelum maju. Sedangkan anak yang kurang terampil cenderung akan sulit untuk memahami situasi ini. Meskipun sudah dijelaskan secara baik, anak cenderung tidak mendengarkannya, bahkan bisa jadi akan tantrum.

Keterampilan menunda kepuasan memang terasa sulit bagi si kecil. Namun kebaikan yang didapat dari skill ini dapat membuahkan hasil yang luar biasa bagi si kecil. Kemampuan ini menghasilkan pengaruh positif terhadap performa akademis dan social skill mereka. (Munasiroh – Relawan Pustaka Wadas Kelir. Foto: Fuji Rachman)

Comments

comments

0 replies

Leave a Reply

Want to join the discussion?
Feel free to contribute!

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *