MENGENAL LIMA MODEL BERCERITA YANG DISUKAI ANAK-ANAK

dibaca normal:4 menit

Jika anak-anak ditanya, “Siapa yang suka cerita?” Saya yakin, jika pertanyaan itu ditujukan pada seratus anak, maka seratus anak itu akan menjawab dengan serentak,”Saya!” Semua anak angkat tangan dan menyatakan dirinya suka dengan cerita.

Dan kenyataannya memang anak-anak selalu menyukai cerita. Selalu antusias jika orang tua bercerita. Selalu penasaran dengan alur cerita yang diceritakan dengan menarik oleh orang tuanya.  Anak-anak dan cerita pun menjadi dunia yang tidak bisa dipisahkan. Di mana ada anak-anak, selalu saja akan ada cerita yang dinantikan untuk diceritakan.

Bercerita pun kemudian menjadi media penting dalam menjalin komunikasi dan interaksi antara orang tua dengan anak-anak. Orang tua yang bisa bercerita dengan baik akan selalu dinantikan kehadirannya anaknya. Saat anak-anak mau tidur, misalnya, akan selalu membutuhkan cerita dari orang tuanya. Atau, saat anak-anak bosan di rumah, maka cerita menjadi hal yang dirindukan anak-anak untuk mengobati kebosanan anak.

Dengan kenyataan ini, maka memiliki kepandaian atau bisa bercerita dihadapan anak-anak menjadi keharusan bagi orang tua. Tidak heran para orang tua pun sudah memiliki kesadaran ini, sehingga dirinya terus belajar untuk bisa bercerita dengan baik untuk anak-anaknya.

Salah satu hal yang harus dipahami orang tua, selalin kemampuan bercerita adalah memahami model-model bercerita yang disukai anak. Berdasarkan pada hasil penelitian yang saya lakukan atas kebiasaan orang tua dalam bercerita pada anak-anaknya, saya menemukan lima model bercerita yang disukai oleh anak-anak.

Pertama, model bercerita pengalaman masa kecil. Saya yakin anak-anak kita selalu penasaran dengan pengalaman masa kecil orang tuanya. Untuk itu, saat orang tua menceritakan pengalaman masa kecilnya, anak-anak pasti suka. Anak-anak pasti penasaran, sehingga selalu antusias mendengarkan saat orang tua menceritakan pengalaman masa kecilnya dulu. Jika sudah selesai diceritakan, dipastikan anak-anak akan minta dilanjutkan kembali esok harinya. Sampai, karena sangat suka dan penasarannya, esok saat anak-anak diajak liburan ke rumah Nenek dan Kakeknya, dipastikan anak-anak akan mencari lokasi atau kejadian yang pernah diceritakan orang tuanya. Maka, sebagai orang tua, jangan sampai anak-anak kita tidak tahu masa kecil orang tuanya. Ceritakanlah pengalaman masa kecil orang tua, anak-anak pasti suka.

Kedua, model bercerita dengan pelibatan anak sebagai tokohnya. Anak sangat senang sekali jika dirinya diajak terlibat dalam cerita yang diceritakan. Tokoh dalam cerita yang diceritakan adalah anak itu sendiri. Anak-anak akan merasa bangga dan hebat karena dirinya adalah tokoh sekaligus pahlawan dalam cerita. Ada keterlibatan emosional yang membuat anak-anak merasakan sensasi yang mengesankan menjadi tokoh hebat dalam cerita. Karena sensasi emosional inilah, maka anak-anak akan senang diceritakan yang melibatkan dirinya sebagai tokoh dalam cerita.

Ketiga, model cerita dengan mengakomodasi permintaan anak. Cerita yang menarik bagi anak adalah cerita yang sesuai dengan keinginan dan kesukaan anak. Untuk itu, model cerita yang bisa mengakomodasi keinginan anak adalah membuat anak-anak senang cerita yang diceritakan orang tuanya. Model bercerita seperti ini biasanya dimulai dengan pertanyaa, “kali ini akan bercerita soal apa?” melalui pertanyaan ini, anak dengan serentak akan menjawab, misalnya, “kucing” maka orang tua harus bersegera bercerita soal kucing. Bisa cerita yang tokohnya kucing atau mendeskripsikan kucing melalui cerita. Model bercerita yang demikian akan disukai oleh anak-anak.

Keempat, model bercerita dengan membacakan buku. Anak-anak suka dengan buku-buku yang gambarnya menarik. Buku-buku yang memikat dan sesuai dengan kesenangan anak. Untuk itu, membacakan buku-buku yang menarik akan disukai oleh anak-anak. Jika sudah tertarik, anak-anak biasanya akan terus memegang buku tersebut, dan esok harinya akan kembali meminta orang tua untuk membacakan buku tersebut kembali. Anak-anak akan selalu menyukai bercerita yang dilakukan dengan membacakan buku.

Kelima, model bercerita dengan tanya jawab yang menyenangkan. Model seperti ini akan disukai anak-anak karena anak-anak dikondisikan untuk senang dan pintar. Sebelum bercerita coba berikan pertanyaan, misalnya, orang tua menirukan suara salah satu binatang, kemudian meminta anak untuk menebak suara apa. Anak-anak akan menebak dengan antusias, sambil terus tebak-tebakan, orang tua kemudian bercerita. Dan dalam setiap bagian cerita, orang tua selalu menyisipkan aneka tebak-tebakkan yang menyenangkan. Dengan cara demikian anak-anak pun akan menyukai cerita yang diceritakan.

Dengan tahu kelima model bercerita yang disukai anak-anak ini, maka orang tua bisa dengan mudah memilih model cerita apa yang akan dipraktikan untuk anak-anak, dan setiap harinya bisa divariasikan dengan kelima model bercerita itu. Sehingga anak-anak tidak akan bosan dan selalu senang dengan cerita yang diceritakan oleh orang tuanya.

 

 

HERU KURNIAWAN

Pengajar di Institut Agama Islam Negeri Purwokerto

Penulis Buku Parenting dan Bacaan Anak-anak

Founder Rumah Kreatif Wadas Kelir

MEREKAP KERINGAT DAN AIR MATA LIMA TAHUN PERJUANGAN RUMAH KREATIF WADAS KELIR #1

dibaca normal:3 menit

(Bagian Satu)

…..

Ini adalah tahun kelima kami, Rumah Kreatif Wadas Kelir, berjuang! Masih terlalu muda, bahkan masih anak-anak usia kami. Tapi, kami telah banyak menyeka keringat dan air mata yang mengalir karena kelelahan dan kebanggaan yang tak pernah kami sangka.

Dalam perjalanan bersama Rumah Kreatif Wadas Kelir, kami hanya meyakini, “Bahwa, di hadapan Tuhan, setiap keringat dan air mata itu ada harganya!”

Kami memulai pada tahun 2013, saat persoalan hidup tiba-tiba menyekap keluargaku karena kasus pembelian rumah. Cobaan yang membuat keluargaku tak berdaya. Niat baik menolong membeli rumah (sekarang jadi Rumah Kreatif Wadas Kelir) diibalas dengan pelimpahan persoalan hidup. Saat itu tak ada logika yang bisa digunakan untuk menyelesaikan.

Saat aku pasrah tidak berdaya, Istriku berbisik, “Bagaimana jika rumah ini kita buka untuk anak-anak. Kita jadikan rumah ini sebagai sekolah untuk anak-anak sekitar. Siapa tahu dengan begitu beban ini menjadi ringan!”

Saya menatap Istri saya dan berkata, “Apakah kamu siap untuk repot dan bersusah payah.” Dan istri menjawab dengan kata-kata yang selalu kuucapkan, “Jangan takut berbuat baik, sekalipun kita tidak akan merasakan kebaikan itu, yakinlah, anak keturunan kita kelak akan merasakannya. Bukankah, perisai terbaik untuk anak-anak kita adalah: doa dan kebaikan.”

Aku terhenyak. Aku bangkit dari duduk dan keterpurukan hidup dengan keyakinan dan harapan baru. Menyelesaikan persoalan hidup ini dengan cara merepotkan keluarga sendiri. Setidaknya siapa tahu ini menjadi cara lupa dari persoalan yang menimpa keluarga kami.

…..

Ya, pintu rumah pun kami buka, tepatnya di bulan April 2013 (sayangnya saya lupa waktunya, sehingga saya pun tidak tahu tanggal kelahiran Rumah Kreatif Wadas Kelir sampai sekarang). Dan saya bersama istri sepakat menyebut: Rumah Kreatif Wadas Kelir (RKWK). Wadas Kelir saya ambil dari Jalan Wadas Kelir tempat kami tinggal!

Pertanyaan pertama: apa yang kami lakukan?

Saya dan istri menghampiri anak-anak sekitar. Saat mereka sedang bermain saya datang. Saya merayu mereka untuk bermain di rumah saya. Saya janjikan yang bermain akan saya pinjami buku. Saya punya banyak buku di rumah. Dan anak-anak suka.

Cara lainnya, setiap ada kerumunan anak-anak saya datangi. Saya ajak mereka untuk untuk beli jajan atau makan bersama. Saya yang traktir semua. Sampai saya ajak anak-anak tamasya dengan gratis. Dengan cara ini, saya berhasil memiliki massa anak-anak yang banyak. Saya langsung tenar, orang baru yang langsung ngartis bagi anak-anak.

Banyak anak-anak mengenal saya. Banyak yang memanggil saya setiap kali bertemu, “Pak Guru!” kata anak-anak. Saya tertawa dalam hati. Bahagia. Memiliki banyak teman anak-anak adalah kebanggaan bagi keluarga saya.

“Bagaimana rasanya sekarang, Yah?” tanya Istri saya suatu malam saat saya kelelahan. Saya hanya diam dengan sorot mata lelah. Belum sempat menjawab saya tertidur lelap.

Sampai sekarang saya belum bisa menjawab pertanyaan istri. Sebab saya tidak tahu rasanya. Rasanya akan saya ceritakan kelak saat semuanya harus berakhir. Sebab, bukankah rasa sebuah makanan akan bisa dikisahkan setelah kita selesai makan?

…..

(bersambung)

 

 

PESAN TANGGUNG JAWAB MEMBACA BUKU UNTUK ANAK DAN ORANG TUA

dibaca normal:3 menit

Pertanyaan yang harus dijawab adalah: apakah dengan mewajibkan anak dan orang tua meminjam buku dari sekolah secara otomatis mereka akan tertib membaca?

Tentu saja, saya berani mengatakan: Tidak!

Kenapa?

Kenyataan harus kita akui bahwa kebanyakan keluarga dari anak-anak didik kita bukan dari keluarga yang senang dengan membaca. Bahkan banyak yang di rumah tidak ada buku untuk bacaan anaknya. Maka, tentu saja aktivitas membacakan buku tidak pernah ada.

Nah, jika kenyataan ini telah terbentuk selama bertahun-tahun, maka meminjam buku tidak akan secara otomatis menyelesaikan masalah, yaitu langsung membuat anak-anak dan orang tua terlibat aktif dalam kegiatan membaca buku.

Dan yang terjadi kemudian adalah anak dan orang tua meminjam buku sebagai cara untuk menggugurkan kewajiban. Tapi, setelah buku dipinjam, buku hanya akan terus berada di tas sekolah anak, atau buku hanya diletakan di meja belajar tanpa di sentuh, apalagi dibaca.

Anak-anak dan orang tua terus memperpanjang budaya menjalani hari tanpa membaca. Setiap hari tetap saja diisi dengan kegiatan menonton televisi dan bermain gadget. Sehingga, program wajib meminjam buku dari sekolah hanya jadi seremonial saja. Hanya menggugurkan kewajiban saja. Tentu saja ini sangat ironis jika memang sekolah kita sedang mendesain dirinya menjadi sekolah literasi.

Terus apa yang harus dilakukan sekolah?

Berikan tanggung jawab pada anak dan orang tua. Maksudnya adalah setiap kali selesai meminjam, mencatat, dan memberikan buku pada anak, maka guru harus mengingatkan orang tua dengan berkata, “Jangan lupa, Ayah dan Ibu untuk membacakan buku buat buah hati!”

Setelah mengingatkan orang tua, selanjutnya yang perlu diingatkan adalah anak, “Jangan lupa, minta Ayah dan Ibu untuk bacakan ceritanya karena besok Bunda mau tanya-tanya soal ceritanya, loh!”

Dua penguatan ini akan dengan efektif mengingatkan orang tua dan anak untuk sama-sama meluangkan waktu setiap harinya untuk membaca buku bersama-sama. Dan sebaliknya, jika orang tua lupa, maka anak akan minta orang tua untuk membacakan buku. Ini semua terjadi karena adanya pesan tanggung jawab dari sekolah.

Jadi, sekolah, melalui guru yang bertugas, jangan hanya meminjam dan mencatat saja. Akan tetapi juga memberikan penekanan tanggung jawab pada orang tua dan guru untuk membaca buku yang dipinjam.

Dari pesan tanggung jawab ini, maka anak dan orang tua akan teringat. Akan bertanggung jawab untuk membaca buku, sekalipun sebenarnya, pada awalnya sangat terpaksa. Akan tetapi, karena pesan tanggung jawab, maka orang tua dan anak akan membaca setiap hari , yang kemudian akan menjadi kebiasaan membaca di keluarga. Sampai akhirnya menjadi keluarga yang literat.

Terhadap pesan tanggung jawab ini, saya pun masih teringat saat kejadian suatu pagi. Saat itu, anak saya Zakka (5 tahun), tiba-tiba menangis tanpa sebab saat mau mandi untuk berangkat sekolah. Saya dan istri bingung kebingungan. Setelah kami tanya baik-baik, Zakka berkata, “Belum baca buku!”

Saya dan istri langsung sadar. Zakka mendapatkan tugas setiap hari untuk selalu membaca buku. Zakka kemudian mengambil buku cerita yang dipinjam dari sekolah dan menyerahkan pada kami.

“Bacakan buku ini!”

Kami pun paham. Zakka menangis karena semalam tidurnya sore hari dan lupa dibacakan buku. Zakka pasti ingat pesan tanggung jawab dari gurunya yang meminta untuk dibacakan buku, sebab esok pagi pasti akan ditanyakan oleh guru hasil bacaannya. Saya dan istri tersenyum senang, sambil merasa bersalah.

Istri saya kemudian membacakan buku dengan suara lantang. Zakka menyimak dengan baik. Setelah selesai, ekspresi Zakka berubah. Zakka yang awalnya kecewa dan marah berubah menjadi bahagia.

“Zakka berangkat sekolah, ya!”

Saya dan istri tersenyum senang menyaksikan kenyataan ini. Di sini saya paham. Konsep wajib meminjam buku di sekolah tak sebatas meminjam. Akan tetapi , orang tua dan anak-anak diberikan tanggung jawab untuk dibacakan bersama anak-anak.

Di sinilah arti penting memberikan pesan tangunggung jawab pada anak dan orang tua agar buku yang dipinjam untuk dibaca. Melalui pesan tanggung jawab ini, anak-anak dan orang tua akan selalu mengingatkan untuk setiap hari membaca buku bersama-sama.

 

 

HERU KURNIAWAN

Pengajar di Institut Agama Islam Negeri (IAIN) Purwokerto; Penulis Buku Parenting dan Bacaan-Aktivitas Anak-anak; www.rumahkreatifwadaskelir.com WA. 081564777990;Ig. herukurniawan_1982   Email: heru_1982@yahoo.com

MENGEMBANGKAN KEMAMPUAN BERPIKIR IMAJINATIF MELALUI BERCERITA

dibaca normal:5 menit

“Kali ini Pak Guru akan bercerita paling keren tentang kalian,” seru saya pada ketiga murid saya, Tegar, Nera, dan Devin, yang sedang minta diceritakan sebuah dongeng.

“Cerita apa, Pak Guru?” Tanya Devin antusias.

“Pak Guru akan bercerita petualangan keren tiga anak hebat dalam menangkap binatang paling besar di dunia, Dinosaurus. Kalian tahu siapa anak itu?”

Devin, Nera, dan Tegar saling pandang. Kemudian menatapku kembali dengan menggelengkan kepala.

“Tidak!” seru ketiganya serentak.

Saya menjelaskan pelan-pelan, “Ketiga anak itu adalah Nera, Devin, dan Tegar!”

Ketiga anak itu kembali saling pandang. Ekspresi ketiganya sangat senang namanya disebut dalam dongeng yang akan saya ceritakan.

“Ceritanya bagaimana Pak Guru?” tanya Tegar antusias.

“Iya, suatu hari, Tegar, Nera, dan Devin pergi ke hutan rimba yang sangat lebat. Mereka akan menangkap Dinosaurus yang tubuhnya besar sekali. Apakah ketiga anak ini berhasil….”

“Pasti berhasil. Pasti bisa. Kami anak-anak yang hebat, Pak Guru!” teriak Nera memotong seraya berdiri dan menunjukkan gerakan silat, seakan sudah siap-siap bertarung dengan Dinosaurus.

Saya pun melanjutkan bercerita saat Nera sudah duduk kembali, “Ya, pasti bisa. Nah, agar bisa menangkap Dinosaurus, ketiga anak ini akan membawa senjata yang sakti. Tegar apa senjata yang kau bawa?”

“Tongkat sakti!” jawab Tegar yang disambut tawa Nera dan Devin.

“Nera apa senjata sakti yang kau bawa?” tanya saya kembali.

“Tali sakti!” teriak Nera senang.

“Devin, apa senjata sakti yang kau bawa?”

“Topi sakti!” teriak Devin.

“Baiklah, dengan senjata sakti itulah ketiganya masuk ke hutan rimba yang dipenuhi banyak pepohonan. Di tengah hutan ketiga anak itu menemukan Dinosaurus yang bertubuh besar. Nera apa yang akan kamu lakukan untuk menangkap Dinosaurus itu?” teriak saya.

“Aku lemparkan tali saktiku ke Dinosaurus. Tali itu segera melayang dan langsung mengikat kaki-kaki dan tubuh Dinosaurus!” seru Nera penuh rasa bangga.

“Tegar!” teriak saya kembali.

“Aku lemparkan topi saktiku. Segera topi itu menjadi besar dan menutup kepala Dinosaurus!” teriak Tegar penuh rasa senang.

“Devin!” teriak saya lagi.

“Tongkat saktiku aku lempar. Ke kaki Dinosaurus yang terikat. Saat tongkat saktiku mengenai kaki-kakinya, maka Dinosaurus itu kemudian terjatuh,” seru Devin dengan tidak kalah bangganya.

“Hore! Kalian anak-anak hebat. Bisa menangkap Dinosaurus itu!” teriak saya memuji anak-anak yang kemudian menunujukkan rasa bangganya pada diri sendiri.

“Apa yang akan kalian lakukan dengan Dinosaurus itu? Dinosaurus yang sudah kalian tangkap,” tanya saya.

Anak-anak pun saling pandang. Seperti sedang membuat kesepakatan bersama. Nera kemudian angkat bicara, “Akan kami bawa pulang…”

“Ya, di rumah akan kami buatkan kandang yang sangat besar. Akan kami rawat dan jaga Dinosaurus itu,” jawaban Tegar.

“Dan aku setiap hari akan memberikan makan Dinosaurus itu. Aku senang sekali pastinya. Karena Dinosaurusnya nanti beranak dan akan tambah banyak,” tambah Devin yang disusul oleh tawa Tegar dan Nera.

…..

(Kami semua senang merayakan kegiatan berimajinasi melalui bercerita. Kegiatan bercerita yang sangat disukai anak-anak, yang tanpa disadari mengembangkan kemampuan berpikir anak-anak)

Ya, penggalan pengalaman saya di atas menunjukkan antusiasme anak-anak dalam mengembangkan kemampuan berpikir imajinatif melalui sebuah bercerita yang menyenangkan. Dengan cerita yang didesain dengan tokoh-tokoh yang langsung diperankan oleh anak-anak, maka anak-anak merasa terlibat langsung dalam cerita. Anak-anak akan merasakan langsung bahwa dirinya adalah pahlawan yang hebat.

Dari sinilah, anak-anak kemudian dapat mengembangkan imajinasinya dengan bebas dalam konteks cerita. Dengan imajinasi inilah, maka saat saya bertanya, “Senjata apa yang kalian bawa untuk menangkap Dinosaurus?” Maka anak-anak langsung menjawab dengan cepat sesuai dengan imajinasinya masing-masing. Dan senjata yang mereka sebutkan pun aneh-aneh sesuai dengan keinginan imajinasi mereka.

Tentu saja tidak hanya sampai di situ, saat kemudian saya bertanya lagi, “Apa yang kalian lakukan?” Segera anak-anak itu dengan cepat menyampaikan hasil berpikir imajinasinya yang tidak saya perkirakan. Anak-anak dengan cepat dan tepat menyampaikan gagasan imajinasinya.

Dari sinilah, melalui cerita atau dongeng yang melibatkan langsung anak-anak sebagai tokoh cerita, kita bisa mengembangkan berpikir imajinatif anak-anak dengan baik. Proses berpikir imajinasinya dibangun berdasarkan pada konteks cerita atau dongeng yang hadir dalam pikiran anak-anak.

Dari dongeng atau cerita itu, anak-anak kemudian dilibatkan menjadi tokoh. Ini jelas akan semakin membuat kepemilikan dan keterlibatan anak-anak dalam bercerita. Dari sinilah, anak-anak menjadi memiliki, dan bahkan menyatu dalam konteks imajinatif anak-anak melalui dongeng, sehingga setiap pertanyaan yang saya ajukan pun, terlihat begitu cepat dijawab sesuai dengan daya imajinasi yang dikembangkan anak-anak.

Proses berpikir dalam kenyataan ini menunjukkan mekanisme berpikir yang imajinatif, yaitu suatu berpikir yang berorientasikan pada daya kreativitas anak yang beda, yang sesuai dengan gambaran idealitas diri anak-anak. Dari sinilah, anak-anak pun dikondisikan untuk bisa mengungkapkan ide-gagasan imajinatifnya melalui dongeng.

Jika dilakukan secara intensif, maka cara bercerita seperti di atas akan mengembangkan berpikir imajinatif anak sebagai pondasi berpikir kreatif yang sesuai dengan idealitas kita semua.

Berpikir imajinatif ini jelas memiliki peranan yang penting bagi murid-murid kita. Einstein (1982) menyatakan bahwa seharusnya penguasaan dan pemhaman kita terhadap ilmu pengetahuan itu cukup 1%, sedangkan yang 99% adalah imajinasi. Sebab, melalui imajinasi inilah kita akan bisa menciptakan segala sesuatu yang tidak mungkin menjadi ada.

Untuk itu, melalui berpikir kreatif inilah anak-anak kita akan memiliki kemampuan untuk mewujudkan ide-gagasan yang melampaui zamannya, yaitu ide gagasan yang mampu menjadikan kita semua sebagai penemu. Temuan yang sumber utamanya adalah imajinasi kreatif, yang kemudian dalam proses realisasinya akan diaktualisasikan oleh ilmu pengetahuan yang dimilikinya.

Dari sinilah, kita ketahui bahwa berpikir kreatif menjadi hal penting yang harus dikenalkan dan dikembangkan oleh guru dan orang tua pada anak-anak. Pengembangan sejak usia dini tentu saja menjadi lebih baik karena sejak usia dini anak sudah dikondisikan dan dikembangkan kemmpuan berpikir kreatifnya. Dan salah satu yang bisa dilakukan adalah dengan menggunakan teknik mendongeng dengan melibatkan anak sebgai tokoh-tokohnya.

 

HERU KURNIAWAN

Pengajar di Institut Agama Islam Negeri (IAIN) Purwokerto; Penulis Buku Parenting dan Bacaan-Aktivitas Anak-anak; www.rumahkreatifwadaskelir.com WA. 081564777990;  Ig. herukurniawan_1982   Email: heru_1982@yahoo.com

 

MELATIH BERPIKIR DAN BERLOGIKA ANAK MELALUI BACAAN CERITA

dibaca normal:4 menit

Saya menyerahkan selembar kertas yang berisi cerita sederhana pada anak-anak yang akan belajar dengan saya hari itu. Isi ceritanya sangat sederhana dan mudah dipahami:

Minggu pagi hari, Andi, Anti, dan Ayah-Ibu pergi tamasya ke pantai dengan mengendari mobil Avanza. Sampai di pantai mereka langsung membeli sarapan, dan makan bersama penuh suka cita. Selepas sarapan, Andi langsung mengeluarkan pancingnya. Andi pun mengajak Ayah memancing di laut dengan naik perahu. Ayah sangat senang menemani Andi memancing. Sampai kemudian pancing Andi ditarik ikan, dan Andi berhasil mendapatkan seekor ikan yang sangat besar.

 

Andi dan Ayah memamerkan hasil tangkapan pancingnya pada Anti dan Ibu dari jauh. Keduanya sangat senang melihat ikan kesukaannya. Keduanya pun sudah punya rencana nanti malam, selepas pulang dari pantai, akan memasak ikan bakar yang lezat untuk acara makan keluarga malam hari. Pasti sangat menyenangkan sekali.

Setelah anak-anak membaca cerita itu, salah satu anak menyeletuk, “Kok, ceritanya singkat dan hanya begini. Ini mau diapakan Pak Guru. Saya sudah paham isi ceritanya!”

Saya hanya menanggapi dengan tersenyum senang. Kemudian saya berteriak pada anak-anak, “Apakah kalian sudah selesai membaca?”

“Sudah!” teriak anak-anak kompak.

“Jika sudah, sekarang jawab pertanyaan saya:  Pergi kemanakah keluarga Andi?”

“Ke pantai, Pak Guru!” jawab Zakka.

“Yes, betul.”

“Apa yang dilakukan keluarga Andi setelah sampai di pantai?”

“Sarapan!” jawab Vita.

“Yes, betul.”

“Apa yang dilakukan Andi dan Ayah setelah sarapan?”

“Memancing di laut!” jawab Ova.

“Yes, betul.”

Saya diam beberapa saat menatap wajah anak-anak yang penuh antusias belajar, kemudian bertanya dengan pelan pada anak-anak, “Apa warna mobil Avanza yang dikendarai keluarga Andi?”

Semua anak mendadak diam. Beberapa anak membaca cerita itu lagi, tetapi tidak menemukan jawabannya. Anak-anak saling pandang. Saling memberi isyarat bahwa pertanyaan ini jawabannya tidak ada di cerita.

“Jawabannya tidak ada di cerita, Pak Guru!” protes Nera.

“Iya, betul. Tapi, coba kita pikirkan. Pasti kalian akan menemukan jawabannya!” rayu saya pada anak-anak.

“Yes, aku tahu. Mungkin warnanya putih, Pak Guru!” jawab Mafi.

“Kenapa?” tanya saya.

“Karena yang saya tahu, mobil Avanza itu warnanya ada yang putih, hitam, dan silver. Jadi karena saya suka putih, mobil keluarga Andi juga berwarna putih.”

“Yes, benar.”

Mafi tersenyum senang.

“Terus, sarapan yang dimakan keluarga Andi apa ya? Dan Ikan yang ditangkap Andi melalui pancingnya ikan apa, ya?”

Dua pertanyaan ini membuat anak-anak heboh. Mereka memberikan jawabannya dan argumennya. Saya senang menyaksikannya. Setiap anak berpendapat atas jawabannya masing-masing.

Dan tentu saja saya tidak menyalahkannya karena setiap jawaban ada argumentasi yang dibangun anak-anak, dan semuanya bisa diterima dengan logika dalam konteksnya.

Misalnya, Dwi menjawab, “Sarapannya ikan bakar karena di pantai pagi hari banyak penjual ikan bakar.Dan ikan yang didapat adalah ikan kakap yang besar. Ikan yang sering didapat melalui memancing di laut.”

Jawab Dwi sudah menunjukkan kemampuannya dalam melakukan berpikir dan berlogika. Berpikir karena berdasarkan pengetahuan yang dimiliki: Dwi bisa menjawab pertanyaan, tetapi tidak hanya sekadar menjawab, Dwi juga berlogika karena menghubungkan jawabannya dengan kenyataan kontekstual yang banyak di alami dan diketahuinya.

Inilah yang saya sebut dengan berpikir dn berlogika sebagai suatu kemampuan anak mengembangkan pengetahuan dan nalar logisnya, yang salah satunya dapat dilakukan melalui bacaan cerita.

Di sini menyiratkan bahwa setiap kali anak-anak kita dikondisikan untuk membaca atau dibacakan cerita, maka tugas guru atau orang tua selanjutnya adalah mengkondisikan anak-anak untuk mengembangan pikiran dan pengetahuannya melalui menjawab pertanyaan dari guru dan orang tua. Dan dalam memberikan pertanyaan, guru dan orang tua tidak serta merta memberikan pertanyaan yang jawabannya ada di bacaan cerita (tersurat).

Akan tetapi, juga harus diberikan pertanyaan yang tersirat, yang dalam teks bacaan itu tidak ada jawabannya langsung. Akan tetpi, sesuangguhnya jawaban itu ada dalam konteks yang tersirat. Misanya, keluarga Andi naik mobii Avanza yang warnanya tidak disebutkan dalam cerita, tetapi setiap mobil kan pasti ada warnanya, di sini anak-anak akan melogikakan jawabannya.

Dari sinilah, melalui kegiatan ini, kita sedang mengembangkan dua kemampuan penting bagi anak-anak, yaitu berpikir dan berlogika. Berpikir ini terkait dengan kemampuan koginitf anak dalam menggunakan pengetahuan atau pemahaman atas bacaan untuk menjawab pertanyaan dengan tepat.

Namun, pertanyaan tersirat ini, tidak cukup hanya dengan kemampuan berpikir. Akan tetapi harus dilanjutkan dengan kemampuan berlogika, yaitu menguhubungkan jawaban atas pertanyaan dengan alasan dan argumentasi rasionalisasinya. Dengan rasionalisasi yang baik ini, maka anak-anak akan semakin menjadi bermakna pengetahuan dan pemahaman yang dimilikinya.

Melalui dua kemampuan berpikir dan berlogika ini, maka anak-anak akan dikondisikan untuk memahamai bacaan dengan baik, kemudian mampu mengkontekstualisasikan bacaan dengan pengalaman dan kenyataan yang sebenarnya, yang tanpa disadari menjadi hal yang diacu dalam bacaan.

Dari sinilah, melalui bacaan sederhana, kita bisa meningkatkan kemampuan berpikir anak-anak dengan baik.

 

HERU KURNIAWAN

Pengajar di Institut Agama Islam Negeri (IAIN) Purwokerto

Founder Rumah Kreatif Wadas Kelir Purwokerto

Penulis Buku Parenting dan Bacaan Anak-anak

www.rumahkreatifwadaskelir.com

Ig.herukurniawan_1982 WA. 081564777990

GURU-GURU TAK TERLUPAKAN DALAM HIDUPKU

dibaca normal:5 menit

1.

Saya masih ingat guru SD saya. Guru yang setiap hari Sabtu, membawa satu kardus buku-buku. Setelah buku itu diletakkan di atas meja kemudian berkata, “Anak-anak, hari ini Pak Guru akan membagikan buku untuk kalian. Tugas kalian adalah membaca sampai selesai selama satu minggu. Kemudian, minggu depan buku dikumpulkan lagi. Akan Pak Guru putar bergantian membaca.”

Guru SD saya pun membagikan buku itu satu per satu. Saya termasuk anak yang berbinar melihat buku cerita yang saya terima. Buku yang tidak pernah saya lihat karena di SD kami tidak ada perpustakaan. Dan saya, menjadi salah satu anak yang membaca buku pinjaman Guru SD saya setiap minggu. Tanpa saya sadari, saya telah membaca 24 buku selama 24 bulan. Pengalaman yang sangat mengesankan saya.

Saya masih selalu teringat

2.

Di bangku SMP, saya masih ingat dengan Guru Bahasa Indonesia saya. Guru yang setiap pelajarannya selalu membuat kontes adu kecepatan menjawab pertanyaan nama pengarang-pengarang hebat Indonesia.

“Siapa yang menulis Buku Puisi Deru Campur Debu?” taya Guru saya.

“Chairil Anwar!” saya angkat tangan dan menjawab.

“Siapa yang menulis novel Siti Nurbaya?”

“Marah Rusli!” saya menjawab.

“Siapa yang menulis Novel Merahnya Merah?”

“Iwan Simatupang!” saya selalu menjawab dengan tepat.

Seluruh mata teman-teman menatapku dengan sebal. Saya malu. Tapi saya ingin selalu bisa menjawab benar, sebab semalaman, jika besok ada pelajaran bahasa Indonesia, saya selalu membaca buku Rangkuman Pengetahuan Umum Lengkap (RPUL), bagian nama-nama pengarang Indonesia. Saya pun hafal, tapi saya sebenarnya tidak pernah membaca buku-bukunya (ha-ha-ha-ha).

Selesai bertanya jawab, Guru saya itu kemudian menceritakan kisah-kisah novel-novel itu. Saya sangat terpukau dan antusias mendengarkan. Sampai kemudian, Guru saya itu datang mendekati saya, kemudian berbisik, “Her, kamu pintar dengan  penulis-penulis novel Indonesia. Sekarang coba kamu baca novel-novelnya, pasti kamu suka.” Saya diam tidak bisa berkutik. Saya pun mendadak ingin sekali jam istirahat datang. Saya ingin ke perpustakaan sekolah.

Dan saat jam istirahat tiba, saya ke perpustakaan sekolah, saya berbinar melihat deretan novel-novel yang sering diceritakan Guru saya. Saya melihat novel Dian yang Tak Kunjung Padam, Sengsara Membawa Nikmat, Siti Nurbaya, Rafillus, Olenka, Kering, Koong, dan sebagainya yang semuanya memikat hati saya. Tanpa saya sadari, saya mengambil novel Dian yang Tak Kunjung Padam karya Sutan Takdir Alisjahbana dan Olenka karya Budi Darma.

Dua novel yang kemudian menyedot minatku untuk membaca buku-buku novel di perpustakaan. Sampai, tanpa saya sadari saya telah menyelesaikan novel-novel berat di usia yang masih anak-anak, saat duduk di bangku SMP. Saya sangat berkesan, dan sampai sekarang saya masih ingat isi cerita novel-novel itu, dan saya masih ingat Guru bahasa Indonesia saya yang menanamkan rasa cinta saya pada buku.

Ini sangat mengagumkan bagi saya.

3.

Saat duduk di bangku SMA, saya selalu ingat Guru bahasa Indonesia saya. Guru bahasa Indonesia yang memperkenalkan saya dengan sebuah buku berjudul Sinopsis Novel-Novel Indonesia Muktahir, buku yang berisi ringkasan novel-novel yang hampir seluruhnya sudah saya baca saat di bangku SMP.

Tidak heran saat Guru saya bertanya soal pengarang-pengarang novel hebat Indonesia, saya selalu bisa menjawab dengan benar. Sampai pada suatu hari, di perpustakaan sekolah. Saat perasaan saya sedang hancur karena baru ditolak cinta, saya suntuk membaca novel di perpustakaan. Tanpa sepengetahuan saya, Guru bahasa Indonesia itu ada di perpustakaan juga.

“Sedang apa, Her?” tanya Guru saya.

“Baca dan mau pinjam buku?” jawab saya sambil menunjukkan novel Kering karya Iwan Simatupang. Saya suka dengan novel-novel Iwan Simatupang sejak SMP dan dilanjutkan SMA.

Guru saya mendekat kemudian berkata pelan, “Kamu itu besok cocoknya jadi guru bahasa Indonesia.”

Kata-kata itu selalu terngiang di benak kepala saya. Kata-kata yang belum saya dengan dari guru manapun sejak saya sekolah. Guru yang telah mengarahkan cita-citaku karena tahu hobi saya membaca buku.

Saya tak bisa melupakan kata-kata itu sampai sekarang.

4.

Dan tiga tahun kemudian, tepatnya tahun 2000, saat saya mengalami keputusasaan yang akut. Saat saya bingung harus kemana lagi. Karena saya tidak diterima kuliah di universitas negeri, saya gagal lolos tes ujian masuk perguruan tinggi negeri, saya mendadak ingin tidak kuliah. Saya ingin di rumah saja membantu Ayah dan Ibu di sawah menjadi petani.

Tapi, suatu malam, Bu De saya datang. Bu De memaksa saya untuk mendaftar kuliah di sebuah perguruan tinggi swasta di Purwokerto, tepatnya di Universitas Muhammadiyah Purwokerto. Saya pun ikut dengan Mas Catur, saudara sepupu saya. Kami pergi ke sana, dan sampai di Sekretariat Pendaftaran Mahasiswa Baru, tepat di depan loket saya menjadi bingung.

Di hadapan saya ada selembar formulir yang bertuliskan, pilihan jurusan dan program studi. Saya diam dan menimang-nimang mana jurusan yang harus saya pilih. Mana yang tepat bagi saya. Saya bingung dan tidak tahu mana yang harus saya pilih. Dan entah dari mana datangnya, dalam keadaan kritis seperti itu, saya memanggil pengalaman masa lalu saya saat duduk di bangku SD, SMP, dan SMA.

Dan saya teringat masa lalu sekolah saya, dan yang teringat adalah saat Guru SD saya yang membawa buku dan membagikannya pada murid-muridnya, Guru yang membuatku suka membaca buku. Terus saya juga teringat Guru SMP saya yang menyatakan diriku pintar dalam dunia pernovelan, Guru yang membuatku telah membaca ratusan novel di perpustakaan sekolah. Dan tentu saja, kata Guru SMA saya, “Kamu itu besok harus jadi guru bahasa Indonesia!” begitu keras bergema di pikiran saya.

Setelah menemukan pengalaman mengagumkan di sekolah, saat saya dalam keadaan krisis dan kebingungan ini, saya kemudian menentukan pilihan bahwa saya akan kuliah di Pendidikan Bahasa dan Sastra Indonesia. Bismilah! Saya menuliskan dengan mantap. Saya yakin kelak saya akan jadi guru bahasa Indonesia yang mengajar seperti Guru SD, SMP, dan SMA saya dulu.

Perjalanan hidup yang tidak saya lupakan.

5.

Dari situ, saya menyadari satu hal: Tugas kita sebagai guru yang paling utama adalah membuat pengalaman mengesankan bagi murid-muridnya. Pengalaman mengesankan inilah, yang tak akan dilupakan murid-muridn, yang suatu saat nanti, saat murid-murid mengalami krisis dan kebingungan, pengalaman berkesan dari guru itu akan dipanggil. Akan dijadikan sebagai pegangan dalam menyelesaikan krisis yang sedang dialami. Seperti yang saya alami sendiri

 

Dan jika, pengalaman berkesan itu berhasil menyelamatkan hidup murid-murid, maka murid tidak akan melupakan gurunya. Guru yang telah berhasil mendidik dengan sepenuh hati. Guru yang menjadikan muridnya bermasa depan indah karena pengalaman mengagumkannya yang telah diberikan pada murid, dan murid tak melupakan sepanjang hidupnya.

Ini yang saya rasakan atas pengalaman istimewa yang saya dapat dari guru-guru saya di bangku SD, SMP, dan SMA yang tak terlupakan. Hormat saya pada guru-guru saya yang istimewa. Aku tundukan kepala dan ikhlaskan hati untuk doa yang saya lafalkan untuk guru-guru saya. Semoga engkau diberikan keberkahan dalam hidup yang singkat ini.

Semoga menginspirasi kita sebagai guru!

 

HERU KURNIAWAN

Pengajar di Institut Agama Islam Negeri (IAIN) Purwokerto; Founder Rumah Kreatif Wadas Kelir Purwokerto

Penulis Buku Parenting dan Bacaan Anak-anak;  www.rumahkreatifwadaskelir.com;  Ig.herukurniawan_1982 WA. 081564777990

SAYA SELALU BERTERIAK-TERIAK MEMANGGIL ANAK-ANAK SETIAP SORE UNTUK SEKOLAH LITERASI!

dibaca normal:4 menit

Setiap sore, selepas Sholat Asar, menjelang pukul 16.00 WIB, saya selalu keluar rumah. Kemudian mendekati anak-anak yang sedang bermain. Dan tanpa ba-bi-bu, saya langsung berteriak, “Ayuk, mandi! Mandi! Kita sekolah. Sekolah bersama Pak Guru!”

Beberapa anak langsung pulang dan mandi, kemudian datang untuk sekolah bersama saya. Tapi, lebih banyak lagi, pergi hanya berpindah tempat. Kemudian melanjutkan kegiatan bermain lagi. Tidak mau bergabung untuk sekolah bersama saya.

Tapi, saya selalu berusaha mengelola perasaan saya sebisa mungkin untuk tidak kecewa, apalagi marah sama anak-anak yang tidak mau belajar. Saya selalu menyapa mereka dan berbuat baik pada mereka. Tapi, jika bertemu lagi, saya tetap berteriak, “Kok, tidak berangkat sekolah. Besok sekolah ya?” tanpa bosan dan jenuh.

Dan, bagi anak-anak yang datang, saya langsung menyambut dengan penuh suka cita. Saya menyodorkan tangan untuk dijabat. Mempertunjukkan ekspresi gembira untuk meyakinkan bahwa belajar hari ini akan menyenangkan. Selanjutnya, dengan ide-ide belajar yang sudah saya pikirkan, saya sudah siap menyajikan pengalaman belajar yang menyenangkan.

Selalu saja, yang saya tunjukkan adalah semangat melalui berkata lantang penuh gembira. Mengeluarkan energi-energi positif selama kegiatan belajar. Dan jika ada yang mengalami persoalan, saya mencoba untuk mendampingi untuk menyelesaikannya dengan baik.

Dan jika saat kami sedang belajar, sedangkan di luar ada anak-anak yang sedang bermain. Tidak ikut kegiatan kami. Sekalipun dalam hati saya, sungguh sebagai manusia yang egois, saya merasa sedih dan kecewa, tapi saya merasa tidak berhak untuk kecewa dan marah. Saya meyakinkan diri bahwa anak-anak punya acara sendiri untuk belajar, sekalipun melalui bermain. Saya tidak boleh merasa benar sendiri.

Maka yang hanya bisa saya lakukan adalah seperti awal berteriak, “Kenapa tidak ikut sekolah? Besok ikut, ya?”

Dan anak-anak tentu saja hanya bias menjawab dengan senyuman. Dengan wajah senang-senang saja. Sambal terus melanjutkan bermainnya. Dan saya hanya mengelus dada mencoba untuk selalu bahagia sebab saya menyadari sepenuhnya: saya menyelenggarakan sekolah yang tak tercatat dalam kewajiban yang harus dilakukan. Sekolah yang saya kelola hanya sebuah sekolah yang bernama Sekolah Literasi yang hanya boleh diikuti bagi yang mau saja. Jika tidak mau, ya, saya harus pasrah dan sabar.

Dengan teknik berteriak-teriak tanpa henti, saya perlahan-lahan mendapatkan simpatik anak-anak. Atau barang kali lebih tepatnya rasa kasihan anak-anak pada saya. “Kasihan, Pak Guru, tiap sore teriak-teriak mengajak kita sekolah. Padahal, kami sebenarnya tidak ingin. Tapi, kasihan Pak Guru, jadi yuk, sekolah!” barang kali beginilah kata hati anak-anak yang kemudian datang untuk ikut sekolah dengan saya.

Ha-ha-ha-ha! Jika begini kenyataannya, tentu saya sangat sedih. Tapi, tidak apa. Toh, saya juga hanya berniat sederhana saja: memanfaatkan waktu dua jam untuk anak-anak dalam kebaikan. Kebaikan belajar yang bisa saja tidak penting. Tapi, setidaknya, dalam dua jam itu, yang biasanya anak-anak gunakan untuk main game atau nonton tv, jadi tidak. Anak-anak belajar bersama saya.

Dan dengan berteriak-teriak tanpa henti. Dengan tanpa marah dan kecewa, anak-anak yang terus saja tidak ikut kegiatan belajar dengan saya. Saya menerimanya dengan suka cita, buktinya, saat kegiatan sekolahnya itu tamasya, anak-anak yang tidak pernah ikut, biasanya mendadak jadi anak paling rajin. Mendadak ikut serta kegiatan tersebut.

Menyikapi ini saya tentu saja berterima kasih. Dalam hidupnya, akhirnya, sekalipun hanya sebulan sekali anak-anak ini mau juga sekolah dan belajar dengan saya. Saya sangat bahagia bisa memberinya ilmu dan pemahaman, sekalipun mungkin besok tidak terpakai kembali.

Ha-ha-ha! inilah indahnya nasib menjadi guru di masyarakat dengan sekolah yang tanpa kewajiban. Inilah indahnya belajar untuk menjadi sabar dan baik dalam menghadapi setiap tanggapan anak-anak yang mau dan tidak mau diajak belajar. Inilah pelajaran penting yang saya dapatkan menjadi guru untuk anak-anak yang sekolahnya tidak diwajibkan.

Terima kasih, anak-anakku. Sayalah yang sesungguhnya sedang belajar pada kalian, makanya saya selalu begitu semangat berteriak-teriak mengajak kalian sekolah setiap sore. Terima kasih atas pelajaran berharga kalian tentang kehidupan, yang apapun keadaannya, harus selalu disikapi dengan ikhlas dan sabar.

 

HERU KURNIAWAN

Guru Sekolah Literasi Rumah Kreatif Wadas Kelir & Founder Rumah Kreatif Wadas Kelir

MEMULAI MENGAJARKAN BERBAGI PADA ANAK

dibaca normal:5 menit

“Ini Punyaku!” teriak salah satu anak.

Tiba-tiba permainan menjadi tidak menyenangkan. Anak-anak pun berhenti bermain. Orang tua yang melihat anaknya seperti ini tentu perlu mengarahkan anak agar dapat senang berbagi. Nilai berbagi sebaiknya diajarkan sejak dini pada anak-anak.

Anak-anak memiliki pertumbuhan yang cepat. Sejak dini, anak melakukan aktivitas melalui pengalaman yang didapatkannya. Pengalaman yang baik bagi anak akan menumbuhkan energi positif. Hal inilah yang sebaiknya dapat diperhatikan, yakni memastikan bahwa anak memiliki pengalaman energi positif untuk bekal dewasa nanti.

Salah satu pemberian dan pengajaran sejak dini yang dapat dilakukan adalah berbagi. Yah, mengajarkan berbagi memiliki pengaruh yang positif terhadap perkembangan anak khususnya aspek sosial-interpersonal anak

Nilai berbagi perlu ditunjukkan kepada anak dari orangtua. Orangtua yang membiasakan anak untuk berbagi tidak saja memberi manfaat pada diri anak tapi juga orang lain. Anak akan mengenal rasa empati dan peduli terhadap orang lain. Bukan hanya itu, berbagi akan mengajarkan kebersamaan pada anak. Perkembangan sosial pada  anak akan tumbuh dengan baik. Anak juga akan memiliki teman baik lebih banyak.

Oleh karena itu, orang lain pun akan senang. Orangtua sebagai orang dewasa perlu memperhatikan sikap anak terhadap orang lain. Membiarkan anak bersikap acuh tak acuh dan mengabaikan orang lain akan menyebabkan tumbuh sikap egois atau menang sendiri pada anak. Hal ini tentu tidak boleh dibiarkan, mengingat anak sejak dini perlu memiliki sikap sosial yang baik.

Sikap sosial yang baik dapat ditunjukkan dengan kepedulian, simpati dan juga dengan berbagi. Ada beberapa cara untuk menumbuhkan sikap berbagi pada anak, di antaranya;

Pertama, menciptakan lingkungan senang berbagi. Orang tua sebaiknya mengajak anak untuk ikut beraktivitas bersama teman-teman saat bermain. Orangtua dapat membawa beberapa mainan yang lebih banyak dan mengajak anak-anak lain di lingkungan terdekat. Mainan yang dapat digunakan untuk berbagi seperti balok-balok, puzzle atau lego. Mainan tersebut dapat mendorong anak untuk berinteraksi dengan teman-teman lain. Dengan bermain bersama, anak akan mudah berkomunikasi saat bermain bersama. Dengan begitu, sikap berbagi akan muncul seiring dengan interaksi dalam permainan sederhana.

Di sinilah orang tua sebaiknya menciptakan lingkungan berbagi pada anak. Di lingkungan terdekat misalnya saat makan bersama keluarga juga dapat diterapkan interaksi yang ditunjukan dengan sikap berbagi. “Ini ada dua telur, yang satu untuk adikmu”, contoh sederhana ini akan membuat anak memiliki pengalaman berbagi. Anak akan tahu, bahwa saat dirinya memiliki sesuatu. Oranglain juga dapat merasakan hal yang sama.

Sikap berbagi harus dapat dipahami anak bukan sebagai kemampuan. Tapi, anak dapat mengerti bahwa berbagi adalah sikap untuk hidup bersama dengan yang lain. Anak akan mengerti bahwa dirinya tidak hidup sendirian. Anak dapat diajarkan

Kedua, Ikut bermain bersama anak. Saat anak memperebutkan mainan dengan anak yang lain. Sebaiknya orangtua dapat ikut bermain bersama. Orangtua dapat duduk lebih dekat pada anak saat bermain. Anak biasanya akan bermain lebih baik saat ada orang dewasa yang memperhatikan. Orangtua dapat menyarankan anak saat terjadi masalah tanpa menyinggung anak.

Ketiga, Mengajak bertukar mainan. “Coba, mainannya ditukar dulu”, orangtua dapat menggunakan kalimat tersebut untuk merayu anak agar dapat berbagi. Orangtua juga dapat memberi pilihan dengan memberi waktu pada saat bermain. Katakan, “ Waktunya lima menit untuk bermain lego, lima menit selanjutnya kamu tukar dengan mainan yang lain ya”. Orangtua dapat membatasi waktu bermain saaat menggunkan mainan. Hal ini akan membuat anak dapat mengerti dengan teman lainnya.

Cara-cara di atas dapat digunakan orangtua saat membiasakan anak untuk dapat berbagi dengan orang lain. Dengan mengajarkan anak berbagi, anak dapat belajar ketulusan sehingga akan membuat anak nyaman dan bahagia.

Di sinilah pentingnya berbagi dapat segera diajarkan pada anak. Anak akan mengerti bahwa ia adalah makhluk sosial yang keberadaannya bersama banyak orang. Anak perlu diajarkan bahwa orang lain membutuhkannya dan suatu saat nanti anak pun akan membutuhkan orang lain.

Dengan berbagi, anak-anak pun memperoleh manfaatnya, di antaranya; Pertama, Menumbuhkan Sikap Bersyukur. Selama ini sikap bersyukur hanya berhenti pada diri sendiri. Banyak anak yang pandai, tapi enggan untuk mengajarkannya pada orang lain. Anak dapat dilatih dan dibiasakan untuk berbagi baik tenaga, pengetahuan dan lainnya. Dengan berbagi, konsep bersyukur tidak saja berhenti pada pengetahuan tapi hal itu dapat dipraktikkan dengan hal sederhana.

Kedua, Menumbuhkan Sikap Gotong Royong. Cerita di atas adalah gambaran sederhana individu untuk mencapai suatu tujuan. Salah satu karakter yang mulai hilang di nusantara adalah gotong royong. Penyebab lunturnya gotong royong adalah egosentris atau berpusat pada diri sendiri. Saat anak sejak dini saja tidak pernah diajarkan bahkan ditunjukkan keteladanan tentang berbagi, maka dapat dipastikan anak akan tumbuh dengan keegoisan. Perasaan enggan untuk bergaul dengan orang lain akan terkesan menjadi hal yang biasa hingga ia dewasa. Di sinilah peran berbagi sangat penting dalam kehidupan anak.

Ketiga, Menumbuhkan Empati. Memahami orang lain sangatlah penting. Salah satu manfaat berbagi adalah untuk menumbuhkan empati yakni kemampuan memahami orang lain. Kemampuan memahami perasaan orang lain. Anak yang diajarkan berbagi sejak dini dapat mengerti kondisi dan situasi orang lain. Hal itu akan mencegah anak berbuat arogan dan berbangga diri secara berlebihan.

Di sinilah, anak-anak akan memperoleh manfaat saat anak membiasakan diri untuk berbagi sejak dini. Sikap tersebut akan tumbuh sebagai bekalnya dewasa. Orangtua tidak perlu khawatir saat anak memiliki banyak teman. Anak-anak akan memiliki kepribadian yang baik dengan cara-cara yang dilakukannya. Pengalaman anak akan diperkokoh dalam mengembangkan sikap sosialnya. Dengan begitu, keberhasilan orangtua dalam memberikan pangajaran tentang berbagi dapat dirasakan.

Anak-anak akan tumbuh dengan perilaku yang baik untuk lingkungan terdekatnya.  Demikian, pelajaran tentang berbagi akan mengenalkan anak sebagai bekal hidup. Bekal hidup yang sejak dini ditumbuhkan dan ditanamkan oleh orangtua sebagai pendidik utama. Anak akan juga mengenal orangtuanya dengan penuh hormat karena diberikan pengajaran tentang berbagi.

Dipublish Awal di Laman Anggun PAUD

 

MUHAMMAD IQBAL

Mahasiswa Institut Agama Islam Negeri Purwokerto & Relawan Pustaka di Rumah Kreatif Wadas Kelir Purwokerto

MENGHADAPI ANAK GLOPHOBIA, TAKUT PADA BALON

dibaca normal:4 menit

Ada satu peristwa yang menarik saat saya mengadakan lomba permainan tradisional dalam rangka memperingati Hari Anak Nasional 23 Juli 2018 yang lalu.

Saat anak-anak asyik lain mengikuti berbagai kegiatan permainan lomba tradisoanl, ada satu anak yang berdiam diri, memegang erat tangan saya, dan bersembunyi sambil mengintip-ngintip di belakang lengan. Karena penasaran, akhirnya pun saya bertanya pada anak tersebut.

”Mas Echy, kenapa? Kok nggak ikutan main?” tanya saya.

”Enggak, Kak,” jawab Echy anak yang baru berusia sekitar dua tahun.

Saya lanjutkan bertanya, ”Apa ada teman yang nakal?”

”Bukan,” jawabnya.

”Lalu, apa dong?” tanya saya penasaran.

Dengan suara pelan dia menjawab, ”Echy takut, Kak”

”Takut sama siapa? Apa ada teman yang tidak mengizinkanmu ikut bermain?” saya penasaran.

”Itu Kak,” jawabnya sambil menunjukkan tangan mengarah ke sebuah balon.

”Kamu takut balon?” tanya saya kemudian. ”Iya, Kak.”

Saya langsung menatap wajahnya dan memeluknya. Sesekali saya mencoba mendekatkan balon padanya. Echy merespons dengan memeluk sangat erat dan menjerit ketakutan.

Akhirnya saya mencoba bertanya pada ibunya. Ternyata Echy pernah mengalami kejadian balonnya meletus saat bermain dengan kakaknya. Sehingga dia trauma terhadap suara letusan balon. Setelah kejadian itu, melihat balon dari jauh saja sudah memeluk ibunya. Jika balon di dekatkan, dia menangis dan teriak-teriak.

 Dari sini kita menjadi tahu bahwa Echy mengalami glophobia, takut terhadap balon. Glophobia biasanya terjadi karena sebuah kejadian yang sangat mengejutkan atau menimbulkan ledakan emosi yang berlebihan, seperti rasa takut yang akut.

Selain itu, dalam tahap perkembangan anak, usia dua tahunan merupakan masa-masa anak cenderung memiliki rasa takut yang tidak masuk akal. Pemicunya, anak belum mencapai kematangan berpikir.

Mengapa bisa demikian? Sebelumnya kita perlu tahu bagaimana pikiran seorang anak bekerja. Misalnya, saya masih ingat betul saat sedang berada di bangku sekolah, tiba-tiba tanpa persiapan apapun, saya dipanggil oleh guru Bahasa Indonesia untuk maju ke depan kelas.

Apa yang saya rasakan saat itu? Terkejut, keringat bercucuran, dan perasaan takut salah. Dari situ saya selalu ingat momen-momen tersebut yang sering kali peristiwa tersebut jadi cerita-cerita lucu antarteman di setiap kali berjumpa.

Dari ilustrasi tersebut, secara sekilas menjelaskan bagaimana cara kerja pikiran anak merekam sebuah informasi. Pikiran anak mampu ”merekam” dan ”mengunci” informasi yang masuk secara ekstrem, yaitu yang terlebih dahulu mengalami lonjakan emosi atau terkejut.

Hasil ”rekaman” momen dan ”kuncian” perasaan yang terjadi itu, akan kembali ”diputarulang” ketika ada kejadian atau hal-hal serupa kembali terjadi.

Secara sederhana, kita dapat simpulkan bahwa ketika anak sangat emosional atau sangat terkejut, maka apapun yang dilihat, didengar, dan dirasakan, akan mengalir seperti air bah, masuk ke pikiran bawah sadarnya. Secara refleks pikiran bawah sadar akan mengeluarkan jejak rekaman peristiwa dan perasaan tersebut kembali ketika anak berada pada situasi atau peristiwa serupa. Inilah konsep terjadinya trauma.

 Lantas apakah trauma ini bisa disembuhkan? 

 Glophobia merupakan sebuah trauma yang sifatnya wajar dan natural, sehingga bisa disembuhkan. Caranya dengan tidak menakut-nakuti anak, tidak mengancam dengan hal yang diatakuti, tetap dengan pendekatan seorang anak, yakni bermain. Tujuannya adalah agar anak tumbuh menjadi pribadi yang merasa aman terhadap lingkungannya dan lebih tangguh menghadapi ancaman yang datang dari lingkungannya.

Berikut cara yang bisa dilakukan untuk mengatasi glophobia dengan pendekatan bermain.

 

Pertamamemainkan balon yang masih kempes. Ajak anak bermain dengan balon kempes. Berilah dia kesempatan untuk sekadar memegang balon kempes serta berilah pengertian dalam pikiran bawah sadar bahwa balon bukanlah benda yang berbahaya dan bisa menciderainya selagi itu bukan balon gas. Selanjutnya berdayakan akal anak untuk menyaksikan kenyataan bahwa tidak semua balon akan meletus.

Keduaisi balon dengan sedikit udara di depan anak. Kemudian ajak anak berdiskusi untuk membuat percobaan bersama-sama. Lepaskan balon (berisi sedikit udara) tersebut, biarkan balon terlempar sedikit. Selanjutnya bersama-sama melakukan percobaan balon (yang berisi sedikit udara) itu ditusuk dengan jarum. Balon akan meletus dengan suara kecil. Lakukan ini berulang-ulang hingga anak berani mencoba meniup dan menusuk balon tersebut dengan jarum.

Ketigatingkatkan intensitas dan volume udara. Setelah anak mulai terbiasa, tambahkan kembali intensitasnya, dengan udara lebih banyak. Lakukan berulang hingga anak dapat meniup balon dengan ukuran besar. Selanjutnya, cobalah untuk menusuknya kembali dengan jarum bersama-sama dan beritahu anak agar menutup telinga untuk meredam suara balon yang meletus. Anak menjadi tahu saat ada peristiwa yang sama ia akan mengetahui apa yang akan dilakukan.

Keempatberi apresiasi saat anak berhasil mencoba, ceritakan dari buku yang mengandung gambar balon, ceritakan betapa senangnya saat mendapatkan sebuah balon. Sehingga dengan apresiasi ini, anak akan merasa senang karena berhasil melampaui ketakutannya juga merasa bangga.

Kelimabersabarlah saat bermain, jika terburu-buru, hasilnya tidak sesuai yang diharapkan. Trauma terhadap balon tersebut akan dirasakan kembali dan ketakutannya akan muncul. Jika ini terjadi, maka prosesnya harus dimulai dari awal dan mungkin akan sedikit lebih sulit untuk membujuk anak untuk mau melakukannya kembali. Sebab memori anak mengulang kembali atau ingat kecelakaan kecil yang dilaluinya.

Dari sini kita menjadi tahu bahwa cara terbaik melawan takut atau menumbuhkan keberanian dalam diri seorang anak dengan memberikan tantangan. Jika anak berhasil melampaui tantangan maka dia akan mendapatkan kebanggaan (rasa puas) tersendiri dan jika tidak berhasil maka tugas orangtua selanjutnya adalah bersama-sama kembali untuk mencobanya hingga bisa.

Dari keberhasilannya melampaui rasa takut inilah, anak juga akan terbiasa untuk berhasil melampaui berbagi persoalan hidup di masa mendatangnya.

 

MUKHAMAD HAMID SAMIAJI

Mahasiswa Institut Agama Islam Negeri Purwokerto

Pecinta Buku dan Tutor Bimbel Wadas Kelir Purwokerto

 

MENGHADIRKAN DAN MENJAGA SEMANGAT SHOLAT DALAM KELUARGA

dibaca normal:4 menit

Tersebab pekerjaan yang banyak dan harus segera diselesaikan, beberapa hari itu saya harus keluar kota beberapa hari, kemudian pulang malam, tidur malam, bangun tidur tidak bisa lebih pagi dari biasanya, dan yang saya sedihkan, saya jarang bercakap dan bermain dengan anak-anak.

Dan pagi itu, saya bangun terlalu siang, itu saja yang membangunkan saya adalah Nera, “Ayah, bangun. Disuruh Ibu sholat Subuh dan antarkan Kakak Mafi dan Nera ke sekolah!”

 

Saya segera bangun mengambil air wudhu, sholat Subuh, dan menyiapkan segala sesuatunya. Saya pun mengantarkan kedua anak saya: Mafi dan Nera ke sekolah. Di tengah jalan saya bertanya, “Tadi sholat Subuhnya sama siapa?”

“Ibu!” jawab Mafi dan Nera serentak.

“Semalam sholat Maghrib dan Isyanya?” tanya saya kembali.

“Maghribnya di Mushola….” Mafi menghentikan kata-katanya.

“Kak Mafi dan Nera ketiduran, Yah. Tidak sholat Isya. Lupa, Yah,” Nera menjelaskan pelan.

Saya tidak bisa berkomentar apa-apa. Saya menyalahkan diri saya sendiri yang beberapa hari terlalu sibuk. Dan selepas mengatarkan anak-anak ke sekolah, di rumah saya berbincang dengan Istri.

“Apa yang terjadi dengan sholatnya anak-anak selama Ayah disibukkan dengan pekerjaan?” tanya saya.

“Anak-anak semangat sholatnya menurun. Lebih asyik bermain. Jika diingatkan sering dicuekin. Dan saat malam, sebelum Isya lebih dulu tertidur….” Istri menjelaskan panjang lebar.

Saya pun terdiam. Pangkal salahnya adalah saya: saya tidak bisa menghadirkan dan menjaga semangat sholat anak-anak di keluarga.

Anak-anak adalah individu yang menyerap. Akan selalu bisa menyerap kejadian di lingkungannya, dan tidak terkecuali energi dari orang tuanya. Di sinilah, tugas orang tua tidak melulu soal menasihati, mendidik, memberi, dan mengasihi, akan tetapi harus mampu menghadirkan energi atau semangat, termasuk semangat dalam menjalankan ibadah sholat.

Saya teringat hari-hari sebelumnya, saat terdengar adzan, kemudian saya mengambil air wudhu, terus berkata, “Saatnya sholat!” maka anak-anak akan bersegera sholat mengikuti saya. Kami pun akan sholat berjamaah di Mushola dengan penuh bahagia.

Dan waktu lainnya di rumh selalu saya isi dengan berdiskusi, bermain, sampai membacakan dan menceritakan kisah-kisah Rasulullah SAW dan para Sahabatnya, yang semakin menegaskan kehadiran suasana semangat religius untuk sholat dalam keluarga. Bahkan, tidak hanya sampai di situ, saat diri saya sendiri sedang senang dengan sholat, maka anak-anak pun mengikuti hal yang sama.

Ini menunjukkan kehadiran semangat dan energi sholat ini diserap dan dipahami oleh anak, sehingga anak-anak pun mendapatkan energi sholat yang sama dari orang tuanya. Energi inilah yang kemudian menggerakkan anak-anak melakukan hal yang sama dengan orang tuanya.

Jadi, jika ada keluarga yang semangat dan suasana sholatnya tidak ada, itu terjadi karena orang tuanya tidak mau dan mampu menghadirkan energi sholat dalam keluarganya. Kita pun pasti banyak melihat fenomena, anak-anak yang sejak kecil rajin sholat karena orang tua yang setiap hari memberikan contoh dan energi sholat juga pada anak-anaknya.

Sebaliknya, anak-anak yang perilaku sholatnya tidak konsisten, bisa jadi bukan karena orang tuanya tidak menyuruh dan memberi contoh. Tapi, orang tuanya tidak mampu menghadirkan dan menjaga semangat dan suasana untuk sholat. Kita pun banyak melihat kejadian di keluarga yang orang tuanya rajin sholat, tetapi anak-anaknya tidak mengikuti orang tuanya.

Di sinilah, menghadirkan semangat sholat menjadi kunci penting dalam membimbing anak-anak untuk rajin sholat. Menghadirkan semangat ini harus dilakukan dengan: memberikan contoh, menunjukkan semangat dan menyenangkannya sholat, selalu berdiskusi tentang ibadah dan sholat dengan anak, sampai selalu berkisah tentang Rasulullah SAW dan para Sahabatnya.

Dengan cara ini, suasana semangat untuk melakukan ibadah sholat diciptakan dan dijaga dengan baik. Anak-anak kita pun akan menyerap semangat itu sehingga menjadi energi yang menggerakkan anak-anak kita untuk selalu menunaikan sholat dengan sebaik mungkin.

Saya pun mendadak teringat kejadian hari hari kemarin, saat terdengar kumandang adzan, saya bergeas berganti baju, kemudian mengambil air wudhu, dan mengajak anak-anak sholat berjamaah. Anak-anak saya pun bergegas melakukan hal yang sama. Kemudian kami sholat berjamaah bersama. Rasanya kenyataan itu sangat bahagia dan menyenangkan.

Dan saat saya kemudian terjebak dalam pekerjaan, saat energi sholat tidak bisa saya hadirkan dan jaga di keluarga dengan baik, saya pun mendapatkan kenyataan pahit ini. Anak-anak semangat sholatnya menurun. Anak-anak menyerap kenyataan Ayahnya yang sedang kehilangan semangat ibadahnya.

Di sinilah anak-anak harus diakui menjadi cermin dan miniature kenyataan keimanan orang tuanya. Jika orang tuanya mampu menghadirkan dan menjaga semangat dan suasan sholatnya dengan baik, anak-anak pun akan demikian. Tapi, sebaliknya, jika orang tua gagal menghadirkan dan menjaga suasan sholatnya dengan baik, maka anak-anak akan kehilangan arah.

Saya pun tertunduk sedih menyaksikan kenyataan ini. Dan istri saya tahu keadaan ini, dia pun berkata, “Nanti selepas anak-anak pulang sekolah. Hadirkan kembali semangat dan suasan sholat seperti kemarin. Pasti anak-anak akan paham dan mengerti. Dan semangat dan suasan sholat akan hadir kembali di keluarga kita.”

Aku menganggukkan kepala. Anak-anakku telah mengajariku cara bertaubat dengan sikap-sikap yang istimewa.

Semoga menginspirasi.

 

Heru Kurniawan
Pengajar di Institut Agama Islam Negeri Purwokerto
Penulis Buku Parenting, Bacaan, dan Aktivitas                                                                                                                                Founder Rumah Kreatif Wadas Kelir