MENGKONDISIKAN ANAK-ANAK SHOLAT BERSAMA TEMAN-TEMANNYA

dibaca normal:5 menit

Siang itu, saya pulang istirahat dari kantor bertepatan dengan berkumandangnya  adzan sholat Duhur.

Segera kupanggil anak-anak yang sedang asyik dengan teman-temannya. Di situ ada kedua anak saya: Nera dan Zakka dengan kedua temannya: Tegar dan Devin.

Aku hampiri mereka dan berkata pelan, “Saatnya sholat Duhur!”

Anak-anak cuek. Mereka terus asyik bermain. Saya kemudian mendekati Tegar dan Devin.

“Tegar dan Devin, sholat sama Pak Guru, yuk!” ajak saya.

Devin dan Tegar tampak bingung. Menatap saya dan tersenyum polos. Kemudian bibir mungilnya berkata, “Tidak bawa sarung, Pak Guru.”

Saya segera masuk ke rumah dan membawakan dua sarung untuk keduanya.

“Ini sarungnya, yuk, sholat.”

Tegar dan Devin sudah saya buat tidak bisa berkutik. Keduanya saling pandang bingung, kemudian  menurut ajakan saya. Menerima sarung dari saya dan bergegas ikut dengan saya ke mushola.

Dan kedua anak saya, Nera dan Zakka, segera lari ke dalam rumah, dan kembali dalam keadaan sudah bercelana panjang dan berpeci.

“Ayah, Nera ikut!”

“Ayah, Zakka ikut”

Kami pun akhirnya sholat berjamaah bersama anak-anak saya dan teman-temannya. Sejak saat itu, Devin dan Tegar jika bermain dengan anak-anak saya sering membawa celana dan sarung karena sering saya ajak sholat bersama.

Dari kejadian ini saya ingin mengatakan bahwa saat kita ingin mengajak anak-anak dalam kebaikan, maka ajaklah teman-teman dekatnya. Anak-anak kita bukanlah anak-anak kita saja. Anak-anak kita adalah anak-anak yang berteman dan bermain dengan anak kita. Dalam pertemanan itu, anak-anak kita telah mengikatkan dirinya dengan anak-anak yang telah menjadi temannya.

Untuk itu, perlakuan yang sama ke anak-anak dan teman-temannya merupakan penciptaan kondisi yang diidealkan anak-anak kita. Jika anak kita diberikan makanan, sesungguhnya anak kita berharap juga teman-temannya diberikan makanan sebab anak-anak kita pasti tidak ingin dirinya makan sendirian, tetapi temannya tidak makan. Anak-anak kita pasti ingin teman-temannya juga disayang orang tuanya, bukan hanya dirinya saja.

Saat anak-anak mendapatkan makanan dan teman-temannya juga, maka anak-anak kita akan merasa berhak untuk mengadakan pesta makan bersama yang menyenangkan dengan teman-temannya. Anak-anak akan merasa gembira dan bahagia atas makan bersama tersebut. Dan lebih dari itu, anak-anak kita akan bangga pada orang tuanya yang baik pada teman-temannya. Inilah yang seharusnya kita lakukan pada teman-teman anak kita.

Sebalinya, anak akan kecewa jika dirinya diperlakukan terlalu istimewa di depan teman-temannya, sedangkan teman-temannya tidak. Anak akan kecewa jika, hanya karena ingin memberikan makanan yang enak atau mainan yang bagus, orang tua harus mengusir teman-temannya. Bahkan anak sedih jika dirinya diistimewakan, tetapi teman-temannya didiamkan saja. Anak-anak juga memiliki empati tinggi atas teman-temannya. Kita sebagai orang tua harus memahami hal ini.

Untuk itu, saat kita mengajak sholat anak-anak kita, maka ajaklah sholat teman-temannya. Barang kali, di awal ajakan kita, teman-teman anak kita akan menolak dan akan pulang, tetapi tidak masalah. Setidaknya, teman-teman anak kita akan tahu sistem aturan yang harus ditaati jika bermain dengan anak-anak kita. Saya yakin dengan pendekatan yang baik. Dengan perlakuan yang sama dengan anak-anak kita, maka teman teman-teman anak kita akan menurut juga. Akan mau diajak sholat bersama anak-anak kita.

Dan teman-teman anak-anak kita bisa menjadi kontrol paling efektif bagi anak-anak kita sendiri. Kita bisa melihat kejadian di atas, kejadian yang saya alami dengan anak-anak saya sendiri. Pertanyaanya: kenapa saat saya ajak anak-anak saya sholat mereka cuek? Tentu saja ini terjadi karena teman-temannya masih asyik bermain. Anak-anak saya pasti iri dengan teman-temannya yang asyik bermain, sementara diirnya disuruh sholat.

Di sini artinya, ekosistem kebaikan tidak saya ciptakan dengan baik. Akan tetapi, saat teman-teman anak saya yang diajak sholat dengan baik-baik, dan teman-teman anak saya mau, maka ekosistem kebaikan sedang saya ciptakan. Anak-anak saya akan malu dengan dirinya sendiri. Anak-anak akan merasa harus bertanggung jawab terhadap perannya sebagai anak saya sendiri.

“Jika Ayahku mengajak teman-teman saya untuk sholat, dan teman-teman saya mau. Maka saya pun harus mau!” ini barang kali perasaan yang muncul di benak anak-anak kita.

Untuk itu, saya sering merasa sedih saat melihat kenyataan: orang tua yang selalu menjauhkan anak-anaknya dari ekosistem kebaikan dengan teman-temannya. Orang tua seperti ini biasanya akan memperlakukan teman-teman anaknya berbeda dengan anak-anaknya sendiri.

Misalnya, saat orang tua ingin menasihati kebaikan, maka anaknya akan dipisahkan dengan teman-temannya. Atau, saat orang tua ingin memberikan hadiah, maka teman-temannya tidak diberikan. Teman-temannya hanya dijadikan objek penonton untuk melihat anak kita sendiri. Kelihatannya sikap seperti ini akan menggembirakan anak-anak kita, tetapi sesungguhnya ini akan membuat sedih aak kita dan temannya yang akan iri dan sedih. Saat keadaan seperti ini, tampaknya anak kita sangat bahagia dan senang, tetapi sesungguhnya senangnya tidak paripurna karena akan berempati pada temannya. Anak kita akan merasakan kesedihan temannya.

Maka, kita sebagai orang tua perlu mencoba, misalnya, jika kita memberikan hadiah untuk anak-anak kita, maka berikan hadiah juga untuk teman dekatnya. Rasakan apa sensasi yang terjadi. Saya yakin anak kita akan merasakan bahagia yang meluap. Bahagia karena dirinya mendapatkan hadiah, dan bahagia karena temannya bahagia telah mendapatkan hadiah dari orang tuanya.

Dan untuk merayakan kebahagiaan itu, anak-anak akan merayakannnya dengan bermain bersama dengan hadiah itu. Kita sebagai orang tua akan lebih bahagia juga melihat anak-anak dan teman-temannya bahagia merayakan hadiah yang sudah kita berikan dengan penuh cinta.

Hal ini terjadi pula pada sholat. Saat teman-teman anak kita dilibatkan dalam kegiatan sholat berjamaah juga, maka pesta kekhusyukkan sholat pun akan terjadi bersama. Anak-anak kita sendiri akan sholat dengan senang karena teman-temannya ikut sholat. Sholat pun menjadi kegiatan bersama yang sangat menyenangkan.

Bayangkan jika ini tidak dilakukan. Jika hanya anak-anak kita yang kita suruh sholat, tetapi teman-temannya tidak. Maka yang akan terjadi adalah anak-anak kita akan sholat dalam kecemesan dan kekecewaan karena saat anak-anak kita sholat, teman-temannya sedang bermain. Anak-anak kita pun dalam sholatnya akan membayangkan teman-temannya yang sedang bermain. Ini akan membuat konsentrasi dan kekhusyukan sholat anak-anak kita terganggu dan anak mengalami kecemasan.

Saya pun menyaksikan kenyataan siang itu: saat saya pulang dari kantor, di ruang tamu saya menemukan dua buah selana panjanganak-anak. Saya tanyakan celana siapa pada istri saya.

“Itu celana panjang Devin dan Tegar. Keduanya jika main ke rumah dengan anak-anak kita sering bawa celana karena tahu saatnya sholat harus sholat dulu.”

Saya dan istri saya tersenyum senang. Ekosistem kebaikan dalam sholat sudah saya ciptakan dengan baik.

Pada suatu siang pun saya menjumpai kenyataan, Ibu Devin datang membawakan sarung ke rumah saya. Kata Ibu Devin, “Ini celana panjang Devin buat sholat di sini.”

Kemudian Ibu Devin cerita, “Saya suka Devin bermain di sini sebab Devin jadi rajin sholat dan mengaji.”

Dari sini saya meyakini bahwa salah satu tugas penting kita sebagai orang tua dalam mendisiplinkan anak-anak kita sholat adalah dengan menciptakan ekosistem kebaikan sholat dalam kehidupan anak-anak dengan teman-temannya. Maka, perlakukan sama teman-teman anak kita dengan anak kita sendiri. Salah satunya perlakuan dalam menunaikan ibadah sholat.

 

HERU KURNIAWAN

Pengajar di Institut Agama Islam Negeri Purwokerto; Penulis Buku Parenting dan Bacaan-Aktivitas Anak; dan Founder  Rumah Kreatif Wadas Kelir.

 

AKAN SELALU ADA KISAH DI SETIAP USAI SHOLAT DAN DOA KAMI

dibaca normal:4 menit

Usai kami sholat Isya berjamaah.

“Ayah, kisah?” seru Nera.

“Ayah, kisah?” tambah Zakka.

 

Sejenak saya tatap mata keduanya yang tampak lelah karena seharian telah bermain. Dan saya gembira, rasa lelahnya tidak mengurangi rasa ingin mendengarkan kisah yang selalu saya ceritakan selepas sholat berjamaah dengan istri dan anak-anak.

 “Kisah, Yah?” tambah Mafi.

 Saya pun segera bercerita yang saya ambil dari kisah pada masa Rasulullah SAW:

 Suatu ketika seorang Ibu dengan dua anak yang masih kecil, datang kepada Aisyah, untuk meminta bantuan.

 Saat itu Aisyah hanya bisa memberikan tiga butir kurma. Wanita itu memberikan kepada anaknya, masing-masing satu butir, dan yang satunya lagi untuk dirinya.

 

Namun ketika sudah habis dimakan, kedua anak itu menatap ibunya, sebagai tanda masih kurang. Sang ibu membelah menjadi dua kurma yang seharusnya menjadi jatahnya, untuk diberikan kepada kedua anaknya.

 Ketika Rasulullah SAW sudah pulang, Aisyah menceritakan kejadian itu. Rasulullah SAW pun mengatakan, “Tidak ada yang perlu engkau herankan! Karena sesungguhnya rahmat Allah SWT kepada ibu yang telah menjadikannya penyayang kepada anak.”

 Kisah pendek yang membuat anak-anak saya suka. Dan seperti biasanya, selesai berkisah, saya akan mengajukan pertanyaan-pertanyaan pada anak-anak saya,

 “Berapa anak yang dibawa oleh ibu itu?” tanya saya pada Zakka.

 “Dua!” Zakka menjawab dengan senang.

 “Apa yang dilakukan Ibu dengan biji kurmanya?” tanya saya pada Nera.

 “Dibelah jadi dua, dan diberikan ke kedua anaknya!” Nera tidak mau kalah.

 “Kenapa rahmat Allah diberikan pada Ibu?” tanya saya pada Mafi.

 “Karena ibu yang telah melahirkan anak, dan menyayangi anaknya!” kata Mafi bangga.

 Saya dan istri saya berpandangan senang. Anak-anak tidak hanya senang dan tahu soal kisah-kisah Rasulullah SAW, tetapi juga memahami maknanya.

Ini adalah salah satu momen penting yang membahagiakan saya, istri, bersama anak-anak. Ya, kami menyadari bahwa kami tidak bisa selamanya sholat berjamaah di Musholah karena kenyataan aktivitas dan kegiatan bermain anak yang kadang melupakan dan tidak mau diganggu.

Dan saat tidak bisa sholat berjamaah di Mushola dengan anak-anak, saya pun melakukan sholat berjamaah di rumah dengan keluarga. Setip selesai sholat dan membaca doa, saya selalu membacakan kisah-kisah Rasulullah SAW pada anak-anak. Awalnya, saya tidak yakin anak-anak akan senang karena selesai sholat biasanya anak-anak lari. Ingin melanjutkan permainannya yang telah tertunda karena peringatan sholat dari Ayah-Ibunya.

Tapi, di luar dugaanku, saat bibir saya berkata, “Ayah punya kisah Rasulullah SAW yang menarik.” Anak-anak langsung antusias senang. Mereka langsung mendekat berpelukan dan tiduran di sajadah dan pangkuan saya. “Ceritakan, kisahnya, Yah!” Saat itu saya kemudian berkisah. Kisah yang saya ambil dari Hadist dan Al-Qur’an. Dan anak-anak mendengarkan dengan saksama, sampai selesai dan kadang sering tertidur.

Dan tidak hanya sampai berakhir di kisah saja, tetapi juga berlanjut ke pertanyaan-pertanyaan seputar kisah yang saya ceritakan. Anak-anak pun antusias menjawabnya dengan sangat suka. Tentu saja, saya memberikan kesukaran pertanyaan sesuai dengan usia anak-anak sehingga anak-anak akan dengan senang menjawabnya.

Jadilah, tempat Sholat yang sempit bergelar sajadah menjadi semakin istimewa. Tidak hanya menjadi tempat sholat dan berdoa saja, tetapi menjadi tempat untuk berkisah dan berdiskusi. Berkisah tentang kisah-kisah Rasulullah SAW dan berdiskusi tentang isi kisah dan topik pembicaraan lainnya.

Dari sini saya memahami bahwa sholat bagi anak-anak tidak hanya dipahami sebagai ritual ibadah dan doa, tetapi tempat untuk membangun komunikasi intensif yang menyenangkan dengan Ayah-Ibunya. Anak-anak berharap dalam usai sholatnya aka nada kebersamaan yang menyenangkan. Kebersamaan yang penuh dengan kasih sayang.

Dan hal di atas terjadi karena selesai sholat, setelah rutinitas dan kegiatan bermain yang melelahkan ditaklukan dengan ketenangan hati dalam doa, maka tubuh kita yang bergolak secara fisiologis diam dan takluk. Dalam keadaan demikian, hati dan pikiran anak-anak yang selesai Sholat terbuka. Saat itulah anak-anak membutuhkan asupan kasih sayang yang intensif.

Dan berkisah dengan diskusi menjadi satu asupan akhlak penuh gizi yang harus disuapi ke nurani anak-anak. Hasilnya sangat menakjubkan, saya sendiri menyaksikannya sendiri, anak-anak memiliki daya serap terhadap kisah-kisah Rasulullah SAW yang bagus. Anak paham dengan detil kisah yang diceritakan. Anak memahami nilai-nilai dengan baik pula. Sampai kemampuan berpikir anak-anak menjadi meningkat.

Tidak hanya sampai di situ, anak-anak menjadi sangat dekat dengan Ayah-Ibunya. Setiap usai sholat dan berkisah, anak-anak akan melingkarkan tubuhnya di atas sajadah dengan dengan Ayah-Ibunya, tiduran bersandaran dan menjadikan paha Ayah-Ibunya sebagai bantal. Atau memeluk Ayah-Ibunya dari belakang sambil bersandar. Semuanya bercengkrama dalam kehangatan keluarga yang tidak terlupakan dan tergantikan.

Untuk itu, usai sholat dan berdoa berjamaah dengan anak-anak, jangan lewatkan momen indah ini dengan tidak berbagi kisah pada anak-anak. Luangkan waktu sebentar, ceritakan kisah-kisah Rasulullah SAW yang menakjubkan. Anak-anak akan menyukai. Anak-anak akan senang. Dan anak-anak akan bangga terhadap Ayah-Ibunya yang menakjubkan. Selalu punya banyak kisah menawan Rasulullah SAW yang kela akan diteladani oleh anak-anak kita.

 

HERU KURNIAWAN
Founder Rumah Kreatif Wadas Kelir

MENJADIKAN BUKU SEBAGAI HADIAH ISTIMEWA BUAT ANAK

dibaca normal:5 menit

“Hore! Aku sudah hampir 30 bintang!” teriak Najwa senang.

Teriakkan Najwa, Siswa kelas 3 SD yang saya ajar les privat Matematika. Setiap saya datang, ada satu buku yang selalu saya bawa. Setiap kali selesai mengajar, sepuluh menit saya gunakan untuk membacakan cerita untuknya. Satu cerita atau dongeng yang membentuk karakter saya ceritakan padanya.

“Kak, hari ini baca cerita yang apa?”

“Mmmm, cerita ayam berkokok.”

“Siap!”

Saya mulai bercerita. Najwa begitu memperhatikan. Saya membuatnya tak berpaling dari buku. Halaman demi halaman kami baca bergantian. Tidak terasa, dua buku yang saya bawa sudah habis saya ceritakan. Najwa meminta saya untuk membacakan buku lagi, namun buku sudah tidak ada. Alhasil, saya menceritakannya tanpa buku namun bersumber dari buku yang akan saya bawa minggu depan.

Les privat dengannya tak terasa cepat berakhir.

Pertemuan les kami satu minggu hanya tiga kali. Namun, hampir setiap hari pertama libur les hingga hari-hari berikutnya ada chat whatsapp masuk ke handphone saya. Chat dari Najwa menggunakan telepon genggam milik ibunya.

“Kak Anis, kapan lesnya? Kok nggak les-les?”

“Belum. Hari ini tidak ada les. Tunggu hari Senin sampai Rabu pasti nanti kita ketemu lagi, ya!”

Pertanyaan dan jawaban yang hampir sama dan selalu dalam chat saya dengan Najwa.

Ujungnya, dia menanyakan buku apa yang akan saya bawa. Saya merasa sudah berhasil membuatnya kepo tentang buku. Ada rasa ingin tahu yang membuatnya selalu ingin membaca. Saya memberitahunya judul buku yang akan saya bawa.

Namun, kecintaan Najwa pada buku, baru sekadar saat saya membacakan buku. Saat di rumah dia tidak pernah membaca buku. Kata ibunya dia hanya mau saat membaca dengan saya. Saat itu, saya cukup sedih. Saya hanya menjadi guru les privat yang berguna cukup satu jam untuknya.

Dari sini saya mulai berpikir untuk bisa membuatnya gemar membaca. Mencari ide agar dia mau untuk selalu membaca buku. Bukan hanya tertarik saat ada saya.

“Kak, bintangku sudah 32. Horeee!!!”

“Kok bisa?”

“Matematikaku dapat nilai seratus, jadi tambahnya 3 bintang, kan?”

“Iya. Wah, selamat Najwa. Besok akan kakak bawa hadiahnya.”

Najwa sangat bersemangat. Kami berjabat tangan dan berpelukan.

Saya pergi ke toko alat perlengkapan sekolah. Saat saya masuk, saya masih belum punya tujuan untuk membeli jenis kado untuk Najwa. Seketika saya lihat ada anak kecil yang sedang membaca buku khusyu sekali di lantai. Saat itu, saya langsung berpikir untuk membelikan Najwa buku. Pasti itu akan memberinya semangat untuk membaca. Hadiah yang tepat untuk Najwa.

Saya datang ke rumah Najwa. Najwa sudah menunggu kedatangan saya di depan rumah. Wajah sumringah Najwa terlihat saat saya mengeluarkan kado dari tas. Kami belajar dan membaca buku bersama. Najwa senang mendapatkan buku dongeng dari saya. Saya berpesan untuk rajin baca buku.

Beberapa minggu kemudian,

“Mbak Anis, Najwa sekarang suka sekali baca buku. Dia tiap hari membaca buku dari Mbak Anis dan meminta saya untuk membeli buku bacaan untuknya. Saya menjadi senang Najwa menjadi suka dengan buku. Nilainya juga semakin bagus  karena dia suka membaca buku-buku pelajarannya sendiri,” lapor Ibu Najwa saat menunggu Najwa mandi.

Saya tersenyum senang mendengar laporan perkembangan Najwa dalam membaca. Ternyata ada dampak yang nyata pada nilai di sekolahnya. Saat itu, saya juga menerapkan di Sekolah Literasi Wadas Kelir. Kegiatan sore hari yang cukup melelahkan, setelah seharian saya berkelana, saya mengajar anak-anak di kampung tempat saya tinggal.

Anak-anak saya beri aturan untuk pemerolehan bintang. Anak-anak melompat kegirangan dan ingin mendapatkan bintang terbanyak. Mereka saya ajar seperti sedang bertanding cerdas cermat. Anak-anak dengan cepat menjawab pertanyaan dan menanggapi setiap yang saya ucapkan. Mereka menunggu untuk mendapatkan bintang. Anak-anak sudah mulai mengerti yang selama ini saya bacakan ke mereka. Anak-anak duduk rapi melingkar di depan saya.

Beberapa minggu saya ajar dan ada tiga anak yang sudah mendapat tiga puluh bintang. Beberapa kali setelahnya saya mencoba mengulang kembali buku yang sudah saya baca. mereka sudah hafal dan semakin paham. Ternyata anak-anak semakin suka membaca.

Dari pengalaman saya ini, saya memahami bahwa buku bisa menjadi hadiah yang menginspirasi bagi anak. Saya teringat sekali, saat saya kecil tidak ada yang menghadiahkan saya buku. Saya diberi hadiah benda-benda lucu seperti boneka dan pernak-pernik yang menarik. Itu pun saya sudah sangat senang dan membuat saya ingin mengoleksinya lebih banyak.

Saya menjaganya dengan baik. Bahkan sangat tidak rela saat hilang atau kotor. Itu pun terjadi pada Najwa. Dia sangat senang mendapatkan hadiah buku. Berdasarkan cerita ibunya, dia membawa buku dongeng itu kemana saja saat dia membawa tas. Bahkan ke sekolah dan mengaji. Dia juga semakin suka membaca dan ingin mengoleksi buku seperti yang saya hadiahkan padanya.

Ternyata hadiah masih menjadi hal yang menarik untuk anak. Dengan demikian, seorang guru harus memberikan hadiah yang bermanfaat dan menginspirasi anak untuk lebih baik.

Salah satunya, buku. Buku menjadi hadiah yang istimewa yang akan mengubah hidup anak. Meningkatkan minat bacanya dan bahkan prestasinya di sekolah. Jika biasanya memberi hadiah pada anak berupa mainan atau boneka, gantilah dengan buku. Cara ini efektif untuk mengajari anak mencintai buku. Kalau guru memberi buku tentang hewan melata, katakan padanya jika buku tersebut dapat menambah pengetahuan seputar kehidupan hewan melata yang menarik.

Jika guru-guru berpikir demikian, saya membayangkan betapa indahnya suasana sekolah. Di setiap tas anak-anak terdapat buku-buku kesayangannya. Bukan hanya buku pelajaran yang ia bawa. Indah sekali sekolah yang tiap siswanya saat jam pelajaran kosong, istirahat, buku-buku yang mereka keluarkan. Sambil menikmati makan siang dan bercengkrama dengan buku-buku. Saya yakin pasti anak-anak Indonesia akan semakin imajinatif. Anak-anak yang punya inovasi dan kreatif akan tumbuh dari ribuan buku-buku yang telah menemaninya selama sekolah.

Jadikan buku sebagai hadiah untuk murid-murid kita dalam momen spesial. Maka buku itu juga akan spesial maknanya. Sebab, buku hadiah dari Bapak-Ibu Guru akan menjadi kunci pembuka hati anak-anak untuk jatuh cinta pada buku. Jatuh cinta yang diwujudkan dengan senang membaca buku.

 

TITI ANISATUL LAELY

Relawan Pustaka Rumah Kreatif Wadas Kelir
& Mahasiswa Pascasarjana UIN Sunan Kalijaga Yogyakarta

 

IMAJINASI MASA ANAK-ANAK SAYA DULU SOAL PRAKTIK IBADAH YANG TAK TERLUPAKAN HINGGA SAAT INI

dibaca normal:5 menit

Saya masih ingat dengan Pak De saya. Sosok yang saya idolakan waktu kecil, dan kebaikannya tak terlupakan sampai saat ini. Dan ilmunya saya gunakan untuk mendidik anak-anak saya sekarang. Sebab, saya meyakini, masa kecil terbaik kita adalah masa kecil terbaik buat anak-anak kita juga.

Kenapa Pak De saya begitu mengesankan, sehingga saya banyak menghabiskan waktu bermain di rumahnya dengan anaknya? Karena saya dan anaknya diperlakukan dengan sama. Tidak dibedakan. Apa yang dilakukan pada anaknya, dilakukan juga pada saya. Apa yang diberikan untuk anaknya, dia berikan juga untuk saya.

Misalnya, saat keluarganya tamasya, saya diajak ikut serta. Saat tamasya, saya tidak dianggap sebagai orang lain. Saya diperlakukan seperti keluarganya. Saya diperlakukan seperti anaknya. Saat anaknya dibelikan mainan, saya juga dibelikan mainan. Saat anaknya naik perahu, saya juga diajak naik perahu. Saya merasa sedang tamasya dengan keluarga saya sendiri.

Karena perlakukan yang demikian, saya sangat hormat pada Pak De dan keluarganya. Sampai masa kecil saya, yang di rumah belum dikenalkan Sholat, saya diajak Sholat pertama kali oleh Pak De saya.

Ceritanya, pada suatu sore, saat saya sudah main ke rumah Pak De saya. Adzan Ashar berkumandang. Pak De yang baru pulang kerja memanggil anaknya yang sedang bermain dengan saya. Saya pun ikut dipanggil juga.

“Saatnya Sholat Ashar!”

Anaknya segera mengambil air wudhu dan memakai sarung. Saya bingung, tapi mendadak Pak De membawakan saya sarung. Seraya berkata lirih, “Kamu juga harus ikut Sholat, Her!”

Saya tak bisa berkata. Kata-kata Pak De selalu tak bisa saya tolak, sekalipun waktu kecil saya sering menolak perkataan orang tua saya. Saya ikut Sholat, dan selesai Sholat saya dan anak Pak De diajak ke kota. Kami makan Bakso yang tak terlupakan. Pak De kemudian berkata, “Ini hadiah atas Sholat kalian hari ini. Jadilah anak-anak yang rajin Sholat.”

Kata-kata Pak De saya membekas sampai sekarang. Saya pun meniru Pak De saya dalam mendidik anak-anak saya soal Sholat.

Dan saat saya kemudian berkeluarga. Saya dan Istri memiliki empat anak yang masih kecil. Dengan belajar pada apa yang telah Pak De saya berikan ke saya. Saya memiliki prinsip, “Anak-anakku adalah siapa saja yang sedang bermain dengan anakku!”

Maka, saat anak-anak saya sedang bermain dengan teman-temnnya. Saat saya ingin membelikan mainan pada anak saya, saya dan Istri sepakat juga untuk membelikan mainan pada anak yang sedang bermain dengan anak saya. Dan apa dampak menakjubkannya: anak-anak saya sendiri sangat senang temannya yang dapat mainan dari orang tuanya.

Dan yang terpenting, saat saya memberikan perintah Sholat pada anak saya. Anak saya akan mengajak teman-temannya. Dan saat saya ikut perintahkan temannya untuk sholat bersama anak saya, mereka semua ikut. Saya pun jadi sering menyaksikan pemandangan menakjubkan, anak-anak usia dini yang sering bermain di rumah saya, bila adzan telah berkumandang, maka semuanya menghentikan bermainnya. Dan semuanya menunaikan Sholat bersama. Indah sekali.

Di sini saya memahami sebagai orang tua. Bahwa untuk mengubah sikap anak-anak kita ke arah yang baik, terutama dalam praktik ibadah, harus dilakukan dengan mengubah sikap teman-temannya. Untuk bisa mengubah sikap teman-temannya, kita harus perlakukan dengan baik bahkan sama teman-teman anak kita dengan anak kita sendiri. Dengan cara ini, anak-anak yang menjadi teman anak kita akan merasa bahagia diperlakukan sama oleh kita.

Dari sinilah, sosok orang tua ideal tidak saja diberikan oleh anak kita, tetapi juga anak-anak teman anak kita. Dan anak-anak kita akan merasa senang dan bangga jika teman-temannya diperlakukan baik oleh orang tuanya. Bahkan diberikan perlakuan yang sama dengannya. Karena saya sering melakukan hal demikian, maka saat saya ingin memberikan hadiah mainan pada anak saya, anak saya sering berkata, “Apakah Devin dan Tegar juga akan dibelikan mainan?”

Saya mengangguk dengan senang seraya berkata, “Pasti!”

Jika sudah demikian anak saya akan melonjak kegirangan, dan anak-anak saya akan memanggil teman-temannya tersebut. Mereka berteriak sepanjang jalan, “Tegar, Devin! Ayuk, main ke rumah. Ayah mau belikan mainan buat kita!”

Dan saat anak-anak itu berkumpul. Saya selalu bertanya, “Devin dan Tegar, bawa baju koko tidak?”

Jika keduanya tidak membawa, maka akan tersenyum. Saat itulah saya katakan, “Baju kokonya diambil, ya. Sebentar lagi Sholat Dhuhur.”

Devin dan Tegar pun segera berlari pulang mengambil baju kokonya. Kemudian kembali ke rumah saya. Mereka kemudian bermain dengan asyiknya. Sampai kemudian terdengar Adzan Dhuhur.

Dan dari balik kaca kamar saya menyaksikan pemandangan menakjubkan.

“Sudah Adzan, Sholat dulu, yuk!” perintah Nera anak saya pada teman-temannya.

“Iya…” seru Zaka, anak saya juga.

Mereka kemudian menghentikan kegiatan bermainnya. Dengan penuh tawa bahagia, mereka masuk rumah untuk memakai baju koko. Kemudian bersegera ke mushola dekat rumah. Dan keempat anak itu menunaikan Sholat Dhuhur berjamaah. Saya yang ikut Sholat dibarisan anak-anak itu bergetar hati saya.

Anak-anakku dan teman-temannya, sekalipun masih usia dini, telah berani menghentikan kegiatan bermain yang menyenangkan untuk jeda menunaikan Sholat berjamaah.

Usai Sholat yang membikin hati saya luluh lantak, saya mengajak mereka untuk beli es krim. Kami makan es krim bersama dengan senang. Menambah suasana bahagia yang tak berhingga.

Di sini saya meyakini bahwa anak-anak saya adalah siapa saja yang sedang bermain dengan anak saya. Mereka harus diperlakukan sama dengan anak kita sebab dari mereka anak-anak kita hidup bersosial. Saat kita mampu menciptakan kehidupan sosial yang sama menyenangkannya, maka kita adalah orang tua yang akan selalu dituruti perintah baiknya, termasuk perinta untuk membiasakan Sholat sejak kecil bagi semua anak-anak yang menjadi lingkungan sosial anak-anak kita.

Semoga menginspirasi!

 

HERU KURNIAWAN

Pengajar di Institut Agama Islam Negeri Purwokerto & Founder Rumah Kreatif Wadas Kelir Purwokerto.

 

IMAJINASI SURGA NERA ITU BISA MANDI DI SUNGAI YANG BERAIR SUSU DENGAN TEMAN-TEMANNYA

dibaca normal:4 menit

Usai empat hari meninggalkan keluarga karena tugas kampus, paginya harinya, usai anak-anak menjalankan ibadah Sholat Subuh, saya memeluk Nera (6 tahun) anak kedua saya.

Saya bertanya padanya, “Apakah selama Ayah pergi Nera meninggalkan Sholat?”

Dengan cepat Nera menjawab, “Tidak, Yah. Nera sholat terus lima waktu setiap hari.”

Aku semakin erat memeluknya. Kemudian iseng-iseng saya bertanya lebih lanjut, “Nera rajin Sholat. Nera ingin diberikan hadiah apa?”

“Surga, Yah.”

“Memangnya di Surga Nera mau ngapain?”

“Nera mau mandi di Sungai yang airnya susu.”

Saya tersentak kaget. Saya tidak menyangka dengan jawabannya. Saya jadi semakin penasaran. Saya mengajukan pertanyaan iseng lagi, “Memangnya Nera mandinya sama siapa?”

“Ya, sama Zakka, Tegar, dan Devin.”

Yang disebutkan Nera adalah adik dan teman-teman dekat Nera, yang setiap hari bermain bersama, dan setiap terdengar Adzan dari Mushola dekat rumah, mereka selalu langsung memakai celana panjang, mengambil air wudhu, dan Sholat bersama. Sekalipun mereka sedang asyik bermain. Semua ditinggalkan demi untuk Sholat.

“Memangnya di Sungai Susu itu, selain mandi, Nera mau ngapain?”

“Mau mandi sambil minum susu, lah, Yah. Nera mandinya akan bawa kaleng dan sedotan. Susu di sungai akan Nera masukan dalam kaleng, kemudian mandi sambil minum susu pakai sedotan.”

Aku tersenyum senang seraya memeluk dan mencium Nera, anak keduaku yang istimewa.

Jawaban Nera atas pertanyaan iseng saya memberikan pemahaman pada saya bahwa anak-anak kecil sudah memiliki imajinasi Surga. Saya pun menelusuri dari mana imajinasi Surga Nera dengan Sungai yang mengalirkan susu itu?

Istri saya menjelaskan, “Imajinasi Surga itu lahir dari pengetahuan Surga yang didapat di sekolah Kelompok Bermain (KB) Wadas Kelir. Dan imajinasi minum susunya didapat dari kegemaran Nera minum susu. Kombinasi pengetahuan dan pengalaman dirinya menciptakan hasil pemahaman tentang Surga dan Sungai Susunya. Surga yang tidak sebatas sebagai tempat yang indah, tetapi juga tempat yang bisa memberikan kesenangan pada anak-anak.”

Atas penjelasan istri ini, saya paham bahwa pendidikan dan pengalaman bagi anak-anak merupakan kombinasi penting dalam membentuk pemahaman akan suatu hal, termasuk dalam memahami Surga sebagai tujuan bagi Nera dalam praktik Sholatnya.

Pertanyannya saya kemudian, “Kenapa Nera tidak memilih Neraka sebagai alasan untuk tujuan Sholatnya?” Pertanyaan ini pun saya lontarkan pada Istri yang menjadi Ibu di rumah dan jadi guru di sekolah Nera.

Dan istri saya memberikan jawaban yang menggugah perasaanku, “Begini, Yah!” Istri kemudian menunjukkan sebuah foto anak-anakku yang sedang Sholat, kemudian bertanya, “Bagaimana menurut Ayah ekspresi Nera dalam Sholat? Sedih atau senang?”

Saya tahu persis ekspresi anak-anakku. Saya pun menjawab dengan cepat, “Nera senang.”

“Betul sekali. Saya pun berpikir demikian. Dan menurut saya, tapi barang kali ini keliru, Nera senang karena saya selalu menanamkan imajinasi Surga sebagai balasan pada anak-anak yang rajin Sholat daripada ancaman neraka…”

“Apa bedanya?” pertanyaan saya memotong penjelasan Istri.

“Jika anak mengimajinasikan indahnya Surga atas balasan Sholatnya, maka anak akan tetap melakukan Sholat. Jika anak mengimajinasikan ancaman Neraka atas balasan perbuatan yang meninggalkan Sholat juga anak-anak akan melakukan Sholat. Jadi, imajinasi Surga dan Neraka tetap akan membuat anak Sholat. Tapi, imajinasi indahnya Surga akan membuat anak-anak Sholat dengan ekspresi senang dan bahagia, sedangkan imajinasi ancaman Neraka bagi yang meninggalkan Sholat akan membuat anak Sholat dengan dampak psikologi yang kurang baik, anak bisa menjadi takut. Bedanya di dampak psikologi yang diciptakan.”

Saya merekam dengan baik. Coba memahami penjelasan Istri, Ibu dari anak-anakku. Di sini saya mendapatkan satu pemahaman: imajinasi Surga dan Neraka tumbuh dari pendidikan dan pengalaman yang dibentuk sekolah dan orang tuanya. Dan setiap imajinasi anak, selalu memunculkan dampak psikologis bagi anak-anak. Termasuk imajinasi Surga dan Neraka yang didapat dari orang tuanya.

Suatu pagi, saya kembali mendekati Nera. Saya ingin mendapatkan pemahaman darinya, “Nera, sini!”

Nera mendekat, kemudian saya mengajukan pertanyaan, “Nera tahu Neraka?”

“Nera tahu. Di sana banyak apinya. Takut!”

Kemudian Nera pergi begitu saja. Seperti tidak peduli atau tidak mau membahas hal demikian. Kenapa? Barangkali imajinasinya tidak mau terlalu jauh larut dalam berbagai kengerian yang dipahami soal Neraka. Saya melihat langsung dampak psikologis takut dan tidak suka atas hal-hal yang menakutkan.

Saat Nera sedang bermain dengan teman-temannya. Kemudian terdengar Adzan berkumandang, saya memeluknya dari belakang. Kemudian saya berkata pelan, “Yuk, masuk Surga bersama dengan Sholat dulu.”

Nera menatap wajah saya dengan senyum senangnya. Kemudian Nera berkata, “Tapi, juga Nera ingin diberi hadiah karena rajin Sholat.”

“Hadiah apa?”

“Mainan.”


Saya tersenyum senang. Karena di balik motif Nera rajin Sholat, tidak semata ingin Surga, tetapi juga punya motivasi ingin diberikan hadiah dari orang tuanya. Saya tersenyum karena memahami tidak selamanya imajinasi Surga itu kuat mengikat keyakinan anak-anak dalam beribadah, tapi perlu motivasi dunia yang menyenangkan dalam praktik ibadahnya.

Apakah ini salah? Tentu saja tidak, sebab tanpa kita sadari, kita sendiri sebagai orang dewasa juga melakukan hal demikian. Rajin Sholat salah satu motivasinya adalah mendapatkan kebaikan dalam urusan dunia. Anak-anak pun jangan heran akan demikian.

Tapi, dari sini, kita akan memahami bahwa imajinasi Surga yang indah dan dunia nyata yang menyenangkan setelah melakukan Sholat menjadi dua kunci dalam membentuk anak-anak untuk rajin Sholat.

Demikian ini yang keluarga saya alami dengan anak-anak.

HERU KURNIAWAN

Pengajar di Institut Agama Islam Negeri Purwokerto

& Founder Rumah Kreatif Wadas Kelir

MENJADI SOSOK TOKOH DI DALAM BUKU

dibaca normal:4 menit

Saya pernah merasa kebingungan saat guru saya baru masuk kelas. Penampilannya aneh. Tidak seperti biasanya. Memakai topi seperti pesulap, dasi panjang di lehernya, dan tongkat kecil. Saya dan teman-teman di kelas saling pandang satu sama lain dan bertanya, “apa itu?”

“Ha, ha, ha” suara tawa kami. “Bapak sedang apa? Kok memakai pakaian seperti itu?” tanya saya.

“Bapak sedang menjadi seorang Herry Potter. Kalian mau tahu ceritanya?”

Aku mengangguk pelan. Teman-teman pun juga. Pak Guru tak mau menceritakannya. Hanya memberikan pernyataan bahwa Herry Potter seorang penyihir cilik yang hebat. Saya menjadi semakin penasaran. Setiap kali mengajar ada saja yang perkataan Harry Potter. Sepertinya saya telah terteror dengan Harry Potter. Teman-teman saya pun bertanya-tanya siapa Harry Potter.

Hari kedua, dengan penampilannya yang masih sama, Pak Guru membawa foto Harry Potter. Saya menjadi ada bayangan tentang sosok Herry Potter. Pak Guru menunjukkan kehebatan Harry Potter hingga genap satu minggu berjalan. Di akhir pekan, Pak Guru membawa novel Harry Potter dan menunjukkan tujuh serinya, saya dan teman-teman pun terkejut. Setebal itu? Dalam bayangan kami, baca buku pelajaran saja kami tidak telaten apalagi membaca setiap halaman novel yang berjumlah tujuh seri itu.

Namun, di minggu kedua, Pak Guru semakin membuat saya kagum tentang Harry Potter dan bertanya-tanya dalam hati tentang ceritanya. Akhirnya, saya mulai memegang buku itu dan membolak-baliknya. Teman-teman juga sudah mulai menghampiri buku yang berada di pojok kelas sebelah meja Pak Guru. Saya membaca beberapa halaman dan mulai menanggapi soal Harry Potter saat pelajaran.

Aku merasa senang bisa berdiskusi tentang Harry Potter dan tahu ceritanya. Beberapa teman yang mendengarkan tanggapanku pun mulai penasaran. Sampai akhirnya, kami semua di kelas membicarakan tentang Harry Potter dari novel-novelnya. Hampir satu bulan, saya dan teman-teman mengenal sosok Harry Potter. Beberapa teman bahkan sudah membaca hingga selesai.

Pak Guru mulai berganti kostum dan mengajar dengan suara tegas dan seperti berpidato. Sosok Bung Karno yang sedang dimainnkannya. Hampir selama satu tahun di SMP saya disuguhi sosok-sosok yang luar biasa. Mulai dari tokoh dalam novel, biografi bung karno, kisah nabi, hingga dongeng-dongeng klasik yang membuat saya suka sejarah.

Pelajaran IPS yang dulu menjadi pelajaran yang paling menyebalkan diubah menjadi pelajaran yang paling menyenangkan bagi saya. Setiap hari saya dihantui rasa penasaran dengan buku-buku sejarah. Saya lebih banyak mengenal tentang sosok-sosok pejuang dan orang-orang hebat di dunia.

Dari pengalaman saya ini, saya memahami bahwa hobi membaca berawal dari guru saya yang selalu menjadi sosok tokoh dalam buku. Mau tidak mau rasa penasaran muncul karena melihat begitu hebatnya guru saya menyulap suasana kelas menjadi kehidupan dari sosok yang diperankan. Itu membuat saya begitu penasaran dengan buku biografi. Setiap kali saya ke toko buku, pertama yang saya lihat adalah buku biografi.

Saya selalu kagum dengan buku-buku biografi dari orang-orang hebat negeri ini dan dunia. Kisah inspiratif dari perjuangan tokoh pendidikan, sejarawan, sastrawan, pahlawan, ilmuwan, dan sosok-sosok orang yang mengubah dunia menjadikan saya suka membaca.

Ide-ide hebat yang cemerlang saya temukan di setiap lembar buku biografi. Kecintaan saya terhadap buku membuat saya semangat untuk belajar. Rasa malu terhadap tokoh yang menginspirasi saya membuat saya pun tidak patah semangat untuk berjuang. Itu yang menginspirasi saya menjadi seorang guru. Bagi saya menjadi guru pilihan yang menyenangkan untuk membuat anak suka membaca.

Melalui ruang kelas, buku-buku pelajaran dan perpustakaan, guru dapat menginspirasi anak untuk suka membaca. Sosok yang ditampilkan dengan wawasan yang luas tentang tokoh dalam buku, akan membuat anak tertarik dengan tokoh. Saat itu, ambillah buku, tunjukkan padanya wajah dari tokoh dalam buku dan sediakan buku-buku tentang tokoh tersebut. Saat istirahat berlangsung, satu, dua, bahkan tiga sampai delapan anak akan ada yang menghampiri buku-buku itu. Ingin mengetahui sosoknya lewat membaca buku.

Seperti yang saya saksikan di kelas saya. Kelas Sekolah Literasi Wadas Kelir, kelasnya anak-anak desa yang ingin bermain di sore hari. Saya hanya membawa uang seribu rupiah. Ada sosok perempuan Aceh di uang seribu rupiah. Sosok Cut Meutia saya tampilkan di depan anak-anak. Mereka bertanya-tanya tentang sosok Cut Meutia. Saya hanya memberi tahu buku tentang Cut Meutia ada di Gerobak Baca TBM Wadas Kelir dan untuk sekolah literasi minggu depan akan saya kenalkan  lagi tentang sosoknya. Beberapa hari setelah saya mengajar ada perbincangan kecil dari anak-anak yang sedang duduk sambil mewarnai.

“Aku tanya sama bu guru di sekolah, masa tidak tahu Cut Meutia?”

“Aku juga, tapi aku sudah baca bukunya tadi di TBM. Dia salah satu dari tujuh srikandi Aceh,”

“Oh, ya! aku belum baca yang itu. Aku cuma baca dia punya anak satu yang selalu dibawanya mengembara  ke hutan rimba. Kamu baca buku yang mana? Aku mau baca juga.”

Sungguh indah mendengar perbincangan anak-anak ini. Ada rasa ingin tahu yang tinggi membuatnya haus akan membaca. Tak puas dengan buku yang dibacanya, ia akan membaca buku lain yang membuat anak semakin tahu tentang sosok dalam buku.

Karena itu, menjadi sosok tokoh di dalam buku suatu keharusan. Suasana kelas yang dibangun melalui tokoh dalam buku akan menjadi kelas yang mempunyai perbincangan hebat tentang tokoh melalui buku yang telah dibacanya. Akan ada kompetisi kecil tentang keseruan anak-anak dari membaca buku.

 

TITI ANISATUL LAELY

Relawan Pustaka Wadas Kelir & Mahasiswa Pascasarjana UIN Sunan Kalijaga Yogyakarta

MENEMPEL SLOGAN BUKU DI DINDING RUANG-RUANG KELAS

dibaca normal:5 menit

“Jangan risaukan penderitaan hari ini, jalani saja dan lihatlah apa yang akan terjadi di depan. Karena yang kita tuju bukan sekarang, tapi ada yang lebih besar dan prinsipil, yaitu manusia yang telah menemukan misinya.”

~ A. Fuadi, Novel Negeri 5 Menara

 

 

Saya masih ingat benar kalimat ini terpampang di atas papan tulis kelas. Saat pertama kali saya naik kelas 2 SMP, wali kelas saya langsung memimpin untuk menghias kelas kami. 36 anak yang satu kelas mempunyai ide untuk menghias dengan origami dan gambar-gambar. Namun, ibu guru bilang, “Tidak!”

“Kenapa, Bu?” kami mirip paduan suara.

“Kita akan pajang hasil karya kalian dan quote dari buku.”

Kami semua bengong. Ibu guru langsung mengambil satu quote “Man Jadda Wa Jada” sebagai langkah awal membuat hiasan kelas. Kami pun mengikuti perintah Bu Guru. Kami tempel tepat di atas papan tulis. Setiap hari yang saya baca saat menunggu pelajaran dan istirahat, kalimat itu. Kalimat yang tertempel rapi dengan warna-warni kertas asturo yang menempel di atas papan tulis. Kalimat inspiratif dari sebuah novel. Entah novel apa itu, tapi saya mulai termotivasi. Namun, saya malu untuk menanyakan ke Bu Guru arti dari beberapa kata yang belum saya mengerti.

Saat jam pelajaran Bahasa Inggris, Pak Hartoyo masuk kelas. Guru paling lucu yang selalu membuat saya tak henti-hentinya tertawa saat beliau sedang menjelaskan beberapa kalimat bahasa Inggris dengan nada bahasa Jawa-nya.

“Wah, kalimat apa ini?” tanya Pak Hartono menunjuk catatan di atas papan tulis.

“Itu kalimat dari Bu Rini, Pak! Katanya dari novel,” jawab ketua kelas.

“Kalian tahu tentang kisah di dalam novel itu?”

Kami menggeleng-geleng kepala.

“Cerita seorang Alif. Ia seperti berdiri di puncak dunia. Dia telah mengelilingi separuh dunia. Tulisannya tersebar di banyak media, dan diwisuda dengan nilai  terbaik. Dia yakin pasti akan ada perusahaan-perusahaan besar yang menerimanya. Tapi, Alif lulus di saat yang tidak tepat. Dia lulus saat krisis ekonomi di Indonesia. Satu per satu, surat penolakan kerja datang padanya. Kepercayaan dirinya mulai goyah. Bagaimana dia bisa menggapai mimpinya?”

Kami menggeleng-gelengkan kepala lebih cepat.

“Ya, kalian baca saja novelnya. Inspiratif, keren sekali pokoknya!”

“Yaaaah, bapak. Lanjut, pak!” protes kami.

“Kapan pelajarannya, kalian maju satu-satu dulu pidato bahasa Inggris baru saya lanjutkan.”

Dengan wajah manyun dan hela nafas kami mengakhiri pembicaraan. Ah, rasanya kesal saat sedang asyik-asyiknya menyimak cerita, kata tanya itu menjadi akhir cerita. Wajah penasaran saya menjadikan saya benar-benar ingin bertanya pada bu Rini.

Kelas saya bertemu dengan Bu Rini hanya seminggu sekali karena beliau guru BK (Bimbingan Konseling). Saat datang beliau membaca satu slogan lagi yang akan di tempel di bawah jam dinding.

“Man Jadda Wa Jada”

Asing sekali kalimat itu di telinga saya. akhirnya saya memberanikan diri untuk bertanya.

“Bu, ini kalimat-kalimat apa, Bu? Saya jadi penasaran.”

“Ya, ibu memang sengaja membuat kalian penasaran,” jawab Bu Rini sambil tersenyum.

“Loh, kok?”

“Kita hari ini akan ke perpustakaan, ikut ibu saja!”

Baiklah. Saya ikuti permainan Bu Rini. Rasa penasaran saya membuat saya menjadi begitu penurut pada beliau. Kami segera membantunya memasang slogan itu di kelas dan kami berjalan ke perpustakaan sekolah.

Sampai di perpustakaan, kami mengikuti Bu Rini menuju ke arah rak buku novel. Di sana ada cukup banyak novel tenlit, pertemananan, lucu, dan lebih banyak macamnya.

“Silahkan kalian cari novel Negeri 5 Menara, jika ada yang tidak kebagian boleh baca seri lainnya. Waktu dua jam pelajaran ibu untuk membaca novel itu.”

Kami melongo mendengar perkataan Bu Rini. Namun, karena terlanjur penasaran saya pun langsung mencari novel itu. Rak nomor 1 barisan paling bawah dan bersampul agak kusam. Saya temukan novel Negeri 5 Menara. Saya baca pelan dan menemukan Alif, tokoh dari novel tersebut. Saya baca lembar demi lembar. Kagum, sedih, bangga, rasanya menjadi merasakan jadi tokoh yang ada di dalam buku. Dan akhirnya saya temukan kalimat di atas papan tulis yang pernah Bu Rini tempelkan. Saya pun menjadi semakin penasaran dan terus membaca hingga saya temukan kalimat yang ada di bawah jam dinding.

“Waktu habis! Oke, apa yang sudah kalian dapatkan?”

“Ada slogan yang ibu tempel di dalam buku ini,” jawab saya.

“Tepat! Saya memang sengaja menempel slogan itu agar kalian selalu termotivasi. Buku itu, selalu membuka wawasan, memberi inspirasi, memberi motivasi. Buku selalu membuat mata kita lebih lebar, berbinar-binar, membuat mimpi kita makin dekat, dan selalu ingin berjuang.”

Cuplikan kisah ini yang mendorong saya untuk suka membaca. Setiap slogan yang dibawa tiap kali pertemuan dengan Bu Rini kami tempel, setiap kalimatnya selalu ada motivasi dan membuat inspirasi bagi saya. Ruang kelas yang tadinya hanya tempelan satu dua kertas kini, dari tiap sudut dinding yang mudah di baca tertempel slogan-slogan buku yang telah kami baca. Kelas kami penuh dengan slogan yang kini kami dapatkan sendiri.

Bu Rini selalu tersenyum saat setiap kali masuk ada slogan-slogan baru yang menempel di dinding-dinding kelas kami. setiap kali kami membaca buku baru kami mengutip satu, dua hingga tiga kalimat inspiratif yang terdapat dalam buku. Gerakan kelas saya diapresiasi oleh kepala sekolah. Kelas kami diberi buku-buku bacaan dan dicanangkan sebagai lomba slogan buku di tiap kelasnya.  Tempelan slogan-slogan di dinding ruang-ruang kelas menjadi hiasan yang indah.

Saya membayangkan jika ada dinding ruang-ruang kelas yang tertempel slogan-slogan buku, saya yakin akan ada banyak anak-anak yang suka membaca. Mereka begitu mengagumi kalimat-kalimat demi kalimat yang ada. Rasanya tergugah hati untuk selalu ingin membaca. Setiap ada kesempatan untuk sekadar menengok kanan kiri, depan dan belakang, ada banyak kalimat inspiratif yang ingin selalu diingat dan diperjuangkan. Tidak ada kalimat negatif. Hanya ada kalimat harapan, impian, masa depan, dan rencana berjuang untuk menjadi yang kita inginkan mendatang.

Saya menyadari, sebagai seorang guru dan orangtua, kita harus bisa mengutip kata inspiratif yang dapat membuat penasaran, membuka wawasan, dan membuat banyak pertanyaan bagi anak. Karena rasa penasaranlah yang sebenarnya membuat anak mulai suka melakukan sesuatu. Proses ini yang harus kita manfaat untuk membuat anak penasaran dengan buku. Melalui slogan yang ditempel di dinding ruang-ruang kelas anak akan mulai penasaran dengan tulisan yang menempel di kelasnya. Di situlah kesempatan untuk guru, untuk bisa memasukkan keinginan anak untuk membaca dan mengajaknya membaca.

Jadi, menempel slogan di dinding ruang-ruang kelas menjadi suatu keharusan. Kelas adalah kamar bagi anak. kamar tempatnya melakukan segala aktivitas pribadi yang ia inginkan. Begitu pun kelas, ia akan melakukan aktivitas pribadi yang membuatnya merasa percaya diri ketika keluar dari ruang kamar (kelas). Siap untuk menjadi pemberani, membuktikan hasil belajar yang ia miliki. Ia akan menjadi pribadi yang lebih percaya diri saat buku-buku menjadi inspirasi dan motivasi. Cita-cita yang tinggi selalu dimiliki.

Indah bukan? Maka siapkan diri kita sebagai guru yang penuh inovasi. Satu slogan yang kita tempelkan di dinding-dinding kelas akan membawa inspirasi dan motivasi untuk anak. Dari sini kita sedang menyiapkan generasi literat yang membawa inspirasi.

 

TITI ANISATUL LALEY

Relawan Pustaka Wadas Kelir & Mahasiswa Pascasarjana UIN Sunan Kalijaga Yogyakarta

SAAT ORANG TUA MENGATAKAN, “SUDAHLAH SEMUA TERSERAH KAMU!”MAKA KECEWALAH ANAK-ANAK KITA!

dibaca normal:5 menit

Suatu hari saya mengisi acara parenting di suatu sekolah di desa. Saat sedang duduk menunggu acara dimulai, Kepala Sekolahnya bilang begini:

 

”Saya sedih dengan anak-anak sekolah sekarang. Kemarin ada anak yang jarang masuk sekolah karena dia lebih asyik memilih bermain gadget seharian daripada sekolah. Saat dia berangkat gadgetnya kami sita. Kami pun bilang, ’kamu mau pilih sekolah atau gadget’. Di luar dugaan saya, anak itu berkata bangga, ‘lebih baik tidak sekolah asal bisa bermain gadget daripada sekolah tidak pegang gadget’”

 “Terus, kami mengadukan persoalan anak ini ke orang tuanya agar gadgetnya disita. Tapi, komentar orang tua membuat kami miris. Orang tuanya bilang ‘sudah putus asa memarahi dan menasihati anaknya untuk tidak main gadget’. Sudah berkali-kali dan tak mempan. Maka sudah ‘sana terserah kamu, nak’. Dan hasilnya anak itu begini, sering sekali bolos sekolah demi bermain gadget.”

 Saya pun hanya mengelus dada dengan masalah ini. Inilah persoalan yang sekarang dihadapi anak-anak kita.

Pertanyaannya: apa yang sedang terjadi dengan hal ini?

Inilah yang saya sebut sebagai ‘sikap putus asa orang tua’ yang berakibat fatal bagi anak-anaknya. Kita harus memahami satu hal penting: bahwa anak kita setiap harinya akan membuat persoalan. Persoalan yang kemudian membuat orang tua diuji. Melalui persoalan inilah anak-anak kita akan tumbuh dan berkembang menjadi dewasa. Tak terkecuali persoalan kecanduan anak-anak dengan gadget.

Jika kita sudah tahu bahwa anak-anak setiap harinya akan membawa persoalan, maka orang tua dituntut untuk membantu dan mendampingi anak dalam menyelesaikan persoalan yang dihadapi anak. Dalam membantu anak ini, prinsip dasar yang tidak boleh terjadi pada orang tua adalah “putus asa!”

Sikap putus asa orang tua ini biasanya diwujudkan dengan ungkapan, ”Sudah, Nak! Ayah dan Ibu menyerah menasihatimu. Sudah berkali-kali tetapi kamu tetap saja begitu. Sekarang semua terserah padamu saja!”

Saat orang tua mengatakan demikian, maka pada awalnya anak merasa senang. Sekarang kebiasaan buruknya tidak akan dilarang oleh orang tuanya. Tapi, lama-kelamaan, anak akan merasa kecewa karena sesungguhnya anak ingin diperhatikan dan dinasihati orang tuanya. Tapi, karena orang tua sudah putus asa. Anak pun akan ungkapkan kecewanya dengan terus semakin larut dalam perbuatan buruknya.

Inilah yang bahaya.

Dan saya menjumpai berbagai kasus yang bersumber dari hal ini. Misalnya, anak-anak yang sudah kecanduan gadget akut, sumber utamanya adalah orang tua putus asa dan membiarkan anaknya larut dengan gadget.

Atau, kasus anak-anak kecil yang sudah mengendarai sepeda motor dan ugal-ugalan juga bersumber dari orang tua yang sudah putus asa menasihati kemudian membiarkan anaknya dengan motornya.

Dari putus asa orang tua inilah anak-anak semakin kecewa dan kecanduan dengan kesalahannya. Kita bisa analogikan diri kita sendiri, jika kita suami atau istri melakukan kesalahan, kemudian suami atau istri kita tahu, kemudian dibiarkan saja, maka kita pasti kecewa. Dan kekecewaan ini kita ungkapkan dengan terus larut dalam kesalahan. Begitu juga anak-anak kita.

Untuk itu, apa yang harus dilakukan orang tua dalam mengatasi permasalahan yang dihadapi oleh anak-anak. Tidak ada lain adalah “damping terus” dan “jangan putus asa”. Ini rahasianya. Anak-anak kita adalah individu yang sedang belajar dengan berbagai persoalannya, baik persoalan yang disukai maupun di benci.

Mendampingi terus berarti selalu ada di samping anak, baik secara keberadaan maupun psikologi, sedangkan jangan putus asa berarti terus memerintah dan menasihati dengan tidak menyerah. Jika anak-anak kita kecanduan gadget, misalnya, maka orang tua harus terus mendampingi anak. Aktif melakukan berbagai kegiatan dengan yang membuat anak melupakan gadget.

Dan jika tahu anak bermain gadget terlalu lama, maka dengan keras melarang anak. Awalnya, anak akan marah dan kecewa, tapi demi kebaikannya kita harus tegas dalam mengatur waktu anak bermain gadget. Dan ini harus dilakukan terus menerus, kita tidak boleh menyerah dan putus asa. Anak-anak akan menggunakan berbagai cara untuk terus bermain gadget, tetapi orang tua juga terus menasihati dengan tidak putus asa, dan menggunakan berbagai cara untuk mendampingi anaknya agar tidak kecanduan gadget.

Sikap tangguh tidak putus asa orang tua dalam mendampingi anak inilah yang akan membuat hati anak luluh dan anak-anak akan sadar dengan kesalahannya. Namun, untuk menemukan titik sadar ini orang tua harus terus berjuang mendidik anak-anak tanpa putus asa. Sikap gigih kita ini nanti akan menyadarkan anak-anak kita tentang hal yang baik baginya.

Saya punya pengalaman dengan anak saya. Dari kelas satu sampai sekarang paling susah untuk bangun pagi dan sekolah. Tapi, saya dan istri saya terus tanpa bosan ingatkan sekolah. Saat kelas tiga anak saya pernah mogok sekolah. Tidak masuk sampai sebulan lebih, dan sudah mengatakan untuk tidak mau sekolah. Saya tentu saja pusing dan pening. Berbagai cara saya coba, sampai akhirnya bisa bersama dengan pihak sekolah mengatasi persoalan ini.

Anak saya pun kemudian sekolah lagi dan sekarang sudah kelas lima. Pada suatu malam saya hampiri dia. Saya ceritakan pengalaman mogok sekolah ini. Anak saya hanya tersenyum malu. Terus saya tanya, “Mafi mau tidak sekolah?”

Anak saya berteriak keras, “Tidak, Yah. Mafi mau sekolah sampai tinggi.”. Terus saya tanya lagi, “Mafi mau ayah belikan hape yang bagus tapi tidak usah sekolah.” Anak saya menjawab dengan lantang, “Tidak, Yah. Mafi lebih baik tidak punya hape asal sekolah terus. Tapi, kalau Ayah mau belikan hape, Mafi akan terima tapi Mafi harus terus sekolah.”

Saya segera memeluk anak saya karena saya dan istri saya merasa berhasil membangun kesadaran sekolah itu penting untuk anak saya setelah saya mengalami keadaan hampir putus asa karena anak mogok sebulan lebih tidak sekolah. Saat memeluk itulah saya berbisik, “Ayah, tetap belum bisa membelikan Mafi hape yang bagus sebelum lulus MI dan masuk SMP Unggulan. Itu pun, jika Mafi nanti Ayah belikan hape, ayah akan tetap membuat aturan yang ketat agar tidak kecanduan hape!”

Anak saya yang awalnya erat memeluk saya, mendengar bisikan saya mengendurkan pelukannya. Itu pertanda kecewa karena ayahnya kembali membuat aturan ketat. Aturan yang membatasi dirinya. Dan anak saya yakin bahwa aturan yang sudah dibuat Ayahnya pasti akan terus diperjuangkan habis-habisan dengan tidak putus asa.

Namun, anak saya juga pasti memahami bahwa nasihat dan aturan yang tak putus asa itu merupakan wujud kasih sayang ayahnya pada dirinya. Seperti, kasus selalu mengingatkan sekolah tanpa jera dan waktu bermain gadget, yang membuat dirinya sekarang sadar tentang pentingnya sekolah dan tidak larut dan kecanduan dengan gadget yang membuat dirinya terus berprestasi di sekolah dan masih bisa bermain lepas dengan teman dan adik-adiknya.

Di sinilah arti penting orang tua untuk tidak putus asa menasihati anak dan terus mendampingi saat anak-anak kita terperangkap dalam kesalahan dan persoalan. Semoga menginspirasi.

 

HERU KURNIAWAN

Pengajar di Institut Agama Islam Negeri Purwokerto & Founder Rumah Kreatif Wadas Kelir

BELAJAR KEHIDUPAN PADA SEBATANG BAMBU

dibaca normal:3 menit

Kisah yang menyentuh hati saya, yang saya dapat teman saya yang telah meninggal dunia. Semoga kebaikannya diterima di sisi Allah.

Seorang petani yang telah menanam bambu puluhan tahun lamanya. Dari ratusan batang bambu yang tumbuh, Petani melihat satu batang bambu terbaik. Lurus menjulang dan besar bentuknya.

Pagi hari Petani mendatangi Bambu itu dengan membawa parang.

Petani:
“Bambu, aku harus menebangmu?”

Bambu:
“Kenapa harus aku yang ditebang. Bukankah di kebunmu banyak bambu-bambu lain sepertiku.”

Petani:
“Sebab kau bambu yang terbaik yang ada di kebunku. Sangat tepat untuk kubuat karya yang paling sempurna.”

Bambu:
“Baiklah jika demikian. Kau pemilikku yang berhak atasku. Jika memang menurutmu aku yang terbaik, maka tebanglah aku.”

Bambu itu kemudian ditebang dengan parang paling tajam. Tentu saja Bambu kesakitan tidak terhingga saat tubuhnya bersentuhan dengan parang. Bambu itu menjerit dan menangis.

Petani:
“Maaf Bambu setelah kutebang, aku ingin membersihkan ruasmu. Apakah kamu bersedia?”

Bambu:
“Kenapa harus dibersihkan ruasku?”

 

 

 

Petani:

“Agar aku bisa membuatmu lebih indah. Dan Untuk bisa membentukmu menjadi karya sempurna, aku harus melakukan itu.”

Bambu:
“Baiklah jika begitu, silahkan bersihkan ruasku demi karya terbaikmu. Kau pemilikku, Petani.”

Bambu memejamkan matanya menahan kesakitan tak berhingga saat ruasnya dibersihkan dengan parang yang tajam.

Petani:
“Sekarang izinkan aku untuk memtong-motongmu menjadi beberapa bagian. Apakah kamu bersedia?”

Bambu:
“Kenapa aku harus dipotong-potong? Kamu tahu sendirikan, dipotong-potong itu sakit rasanya?”

Petani:
“Tentu saja, Bambu. Aku juga sebenarnya tidak tega melakukan ini, tapi ini demi karya sempurna yang ingin kuciptakan darimu.”

Bambu;
“Baiklah jika demikian.”

Parang tajam kembali memotong bambu menjadi beberapa bagian. Bambu kesakitan tapi tetap diam menerima tuannya, menahan rasa peding yang mengkoyak tubuhnya.

Petani:
“Sekarang yang terakhir, izinkan saya untuk melubangi ruasmu dari dalam. Semoga kau bersedia.

Bambu:
“Petani, kau sudah menebangku. membersikan ruasku, dan memotongku. Kau tahu Itu sakit sekali, sekarang kau akan melubangi ruas dalamku. Ini sungguh sangat menyakitkan bagiku.”

Petani:
“Iya saya merasakan itu. Iya, ini demi karya sempurna yang ingin kuciptakan darimu. Semoga kau ikhlas merelakan.”

Bambu:
“Baiklah.”

Petani memasukan besi tajam ke dalam bambu dan melubangi ruas bambu. Bambu hanya diam menerima, dan menahan sakit tak terperi.

Sampai akhirnya karya sempurna itu terwujud. Potongan bamboo yang bersih dan berlubang dari dalam  digunakan untuk mengaliri air dari satu pematang sawah ke pematang lainnya.

Para petani sangat bahagia karena air bisa mengalir ke pematang sawahnya dan panen melimpah setiap musimnya. Dan bambu pun sangat bahagia dirinya telah berguna bagi manusia. Setiap hari melihat para petani senang bahagia di sawah, bambu merasakan hidup yang sungguh bermaknya, yaitu bahagia karena orang lain bahagia karena kita.

Barang kali demikian cara Tuhan menjadikan keluarga kita sebagai karya yang sempurna untuk bermanfaat bagi orang lain. Kita harus ikhlas menerima setiap kesakitan hidup dalam keluarga, jangan ceritakan sakitnya pada pada orng lain, tetapi yakin bahwa setiap sakit dan derita dalam kehidupan keluarga merupakan bagian dari cara Tuhan untuk jadikan kita sebagai keluarga sempurna.

Keluarga yang akan membahagiakan keluarga lainnya. Termasuk membahagiakan anak-anak kita sendiri.

 

HERU KURNIAWAN

Pengajar di Institut Agama Islam Negeri Purwokerto & Founder Rumah Kreatif Wadas Kelir

NAK, TAHUKAH KAMU, LIMA HAL YANG MEMBUAT ORANG TUAMU BANGGA PADA ANAKNYA?

dibaca normal:3 menit

“Nak, tahukah kamu, lima hal yang membuat orangtuamu bangga padamu,” tanya saya pada seorang anak yang berkunjung di Wadas Kelir.

Anak itu diam berpikir sebelum kemudian nyengir dan menggelengkan kepala, “Tidak tahu, Pak Guru!”

“Baiklah, akan aku ceritakan padamu, ya. Orang tua akan bangga pada anaknya jika anaknya melakukan lima hal ini!”

Pertama, Ibadah.

Jika kamu rajin sholat, puasa, dan selalu mengaji, maka bapak-ibu akan bahagia. Senang melihatnya. Bangga telah melahirkanmu, Nak. Kau akan jadi anak harapan kedamaian dunia dan akhirat Ayah-Bundamu.

“Yang, selanjutnya, saya tahu Pak Guru!”

“Apa, sebutkan!”

Kedua, Berbakti.

“Berbakti pada Ayah-Ibu!”

“Betul sekali, Nak.Jika kau bisa menjadi anak yang penurut. Selalu mendengarkan nasihat Ayah dan Ibu. Melakukan yang diperintahkan Ayah dan Ibu. Maka Ayah-Ibumu akan senang dan bahagia. Kau pasti anak yang penuh kasih sayang pada orang tua.”

“Selanjutnya aku juga tahu, Pak Guru”

Ketiga, Rajin Belajar.

“Rajin belajar!”

“Betul sekali, Nak. Jika kau rajin belajar. Rajin sekolah. Prestasi di sekolahmu bagus. Kau selalu juara. Mendapat banyak prestasi dan beasiswa. Pasti Ayah-Ibumu akan berlinang air mata saat mengantarmu ke sekolah, dan akan senang bahagia saat bercerita kehebatanmu di hadapan keluarga besarmu atau tetanggamu. Kau anak yang cerdas dan pintar.”

“Apakah, yang keempat kau tahu, Nak?”

Anak itu menggelengkan kepala.

Keempat, Sehat!

“Saat kau sakit, Ayah Ibumu sedih tidak?”

“Sedih Pak Guru, menungguiku semalaman, sampai tidak bisa tidur. Dan wajahnya lelah.”

“Iya, Ayah-Ibumu tidak ingin anaknya sakit. Maka rajinlah olah raga. Rajin bermain.Makan tepat waktu. Makan makanan yang bergizi. Minuman yang sehat.Jangan membeli makanan yang tidak sehat dan berbahaya, sehingga kau selalu sehat menemani Ayah dan Ibu, Nak. Itu akan emmbuat Ayah dan Ibumu senang melihat anaknya sehat.”

“Yang kelima apa, Pak Guru?”

Kelima, Anak yang baik.

“Jadilah anak yang baik. Anak yang penuh kasih sayang dan kebaikan pada teman-temanmu. Setiap kali banyak temanmu yang main ke rumahmu dengan senang, maka sungguh Ayah-Ibumu itu senang dan bahagia. Karena anaknya adalah anak yang baik. Memiliki banyak teman, dan sangat disukai teman-temannya. Ini membuat Ayah dan Ibu yakin bahwa karktermu itu mulia.”

“Indah sekali, kan, Nak. Jika kita bisa menjadi anak seperti yang saya jelaskan tadi. Pasti Ayah-Ibumu akan bahagia dan bangga padamu, Nak.”

Anak itu hanya diam. Semoga merenungkan nasihat saya.

“Pak Guru berangkat ke kantor dulu, Nak. Silahkan membaca buku dulu ya. Sebab rajin membaca akan membuatmu pintar, dan Ayah dan Ibumu selalu ingin anaknya pintar.”

Saya kemudian memberikan Majalah Bobo untuk dibaca. Saya meniggalkan anak itu di rumah saya dengan harapan: semoga anak-anakku juga bisa memiliki kelima sifat yang sudah saya ceritakan.

 

HERU KURNIAWAN

Pengajar di Institut Agama Islam Negeri Purwokerto & Founder Rumah Kreatif Wadas Kelir