KISAH AYAHKU, YANG MENGAJARIKU TANGGUNG JAWAB DARI PANEN PADI YANG TERSIMPAN DI HATI

dibaca normal:2 menit

“Yah, Minggu depan aku harus membayar kuliah?”

Ayahku hanya diam. Kemudian menatapku tajam. Seperti tahu dengan segala keresahanku.

“Pasti, Nak. Kuliahmu itu yang utama!”

Mendadak saya teringat hari-hari di rantau. Banyak waktu yang saya sia-siakan. Banyak waktu yang saya gunakan untuk bermain sehingga jauh dari pada belajar. Saya sedih. Saya merasakan bersalah melihat raut wajah Ayahku yang tak bisa menyembunyikan kebingungannya bila diminta soal uang kuliah.

“Terus kapan Ayah memberiku uang?”

“Besok!”

Esok harinya, Ayahku mengajakku ke sawah. Aku diperlihatkan hamparan padi yang mulai menguning.

“Inilah yang akan membiayaimu, Nak!”

Aku hanya menatap bengong. Hamparan padi hasil kerja keras Ayah dan Ibuku. Mendadak seorang lelaki datang. Aku kenal dia. Dia adalah juragan padi yang biasa membeli pada para petani di kampungku.

“Bagaimana? Apakah sepakat harganya?” katanya pada Ayahku.

“Tentu saja. Uangnya serahkan pada anakku.”

Kemudian lelaki itu menyerahkan uang penjualan padi itu padaku. Aku bergetar menerimanya. Serasa ada beban berat yang mengguncang pundakku. Aku semakin bersalah pada Ayahku.

Setelah uang itu saya terima. Dengan penuh kasih Ayahku berbisik, “Nak, itu uang buat bayar kualiahmu. Jangan sia-siakan. Itu semua adalah kerja keras Ayah dan Ibumu. Kuliah yang benar biar baik nasibmu!”

Aku mendadak meneteskan air mata. Aku bertekad untuk tidak sia-siakan waktu kuliahku.

Sekarang aku menyadari inilah cara terbaik mendidik anak agar tahu betapa semua bersumber dari keringat Ayah dan Ibuku yang tidak boleh kusia-siakan. Sekalipun berat, tapi barangkali ini menjadi cara terbaik orang tua dalam memberikan tanggung jawab pada anaknya. Dan saya pernah merasakan sensasi perasaan itu dari Ayah dan Ibuku.

 

HERU KURNIAWAN

Pengajar di Institut Agama Islam Negeri Purwokerto & Founder Rumah Kreatif Wadas Kelir

MENELADANI KESEDERHANAAN KELUARGA KI HADJAR DEWANTARA

dibaca normal:4 menit

Di tengah kenyataan begitu mudahnya memenuhi kebutuhan sehari-hari melalui barang-barang mewah, misalnya, gadget bermerek dan berharga mahal, makan makanan instan yang mahal, perabotan bergengsi yang mahal, dan kendaraan yang mahal, maka hidup sederhana sekarang menjadi sesuatu yang langka.

Gengsi telah mengalahkan yang substansi. Orang menjadi ingin memiliki sesuatu yang mahal hanya karena ingin mendapatkan pujian daripada memenuhi kebutuhan. Hal ini membuat kecenderungan masyarakat yang konsumtif dan suka pamer sesuatu yang mahal dan bermerek.

Jika ini terus dibiarkan, maka generasi anak-anak kita kelak akan menjadi generasi yang suka pamer dan konsumtif. Hobi mempertontonkan kepemilikan yang bermerek dan mahal, bergaya hidup konsumtif, dan mengabaikan aspek kesederhanaan yang sesungguhnya menjadi ciri masyakat Indonesia yang sesungguhnya.

Di sinilah, pendidikan kesederhanaan begitu penting. Sikap berani hidup sederhana dimulai dalam lingkup keluarga, dan dalam hal ini, kita bisa meneladani pendidikan kesederhanaan dari keluarga Ki Hadjar Dewantara, yang merupakan Pahlawan Pendidikan Indonesia.

Sekalipun lahir dalam keluarga bangsawan, yaitu putra GPH Suryaningrat dan cucu Pakualam III, kenyataan ini tidak membuat Ki Hadjar Dewantara dan keluarganya hidup mewah. Ki Hadjar Dewantara terus mendidik anak-anaknya dalam kesederhanaan. Pendidikan kesederhanaan dalam keluarganya diberikan melalui contoh-contoh keteladanan yang dipaktikannya sendiri dalam kehidupan sehari-hari.

Kesederhanaan dalam Makanan

Pendidikan kesederhaan dalam makanan yang dimakan oleh keluarga Ki Hadjar Dewantara ditunjukkan dalam peristwa ini. Saat baru ditetapkan sebagai Menteri Pendidikan, Pengajaran, dan Kebudayan Republik Indonesia,  Ki Hadjar Dewantara pulang ke rumah larut malam. Di rumah Ki Hadjar Dewantara mengadakan pesta bersama keluarga atas pelantikan dirinya menjadi menteri. Pesta keluarga itu diisi dengan makan Mie Godhok khas Yogayakarta bersama yang dibeli oleh anaknya. Pesta berlangsung sederhana dan hikmat sebagai ungkapan syukur pada Tuhan.

Di sini Ki Hadjar Dewantara mengajarkan kesederhanaan bahwa perayaan pesta dilakukan dengan Mie Godhok, bukan dengan makan mewah di restoran. Ini mengajarkan pada anak-anak untuk makan dengan sederhana, sekalipun makan untuk pesta perayaan. Jika pesta perayaan yang besar dirayakan dengan Mie Godhok, apalagi dengan makan biasa, pasti lebih sederhana lagi.

Menurut Ki Hadjar Dewantara, yang terpenting bukan mewah dan mahalnya, tapi nikmat dan hikmatnya. Makanan yang sederhana, murah, dan sehat bisa menjadi hidangan yang membahagiakan. Jika ini kita tiru dalam pendidikan di keluarga kita, maka anak-anak akan memahami bahwa yang terpenting dari makanan bukan mewahnya, tapi nikmat dan hikmatnya. Dengan cara ini kesederhanaan dalam makanan akan membentuk kesederhanaan perilaku anak.

Kesederhanaan Perabotan Rumah

Apa yang dilihat anak-anak di rumah jelas akan menentukan persepsi anak. Jika di rumah bergelimpang barang-barang atau perabotan mewah, maka anak-anak pun akan berpikir untuk memiliki barang-barang yang mewah untuk dirinya. Hal ini disadari oleh Ki Hadjar Dewantara.

Untuk itu, sekalipun Ki Hadjar Dewantara keluarga bangsawan, tetapi perabotan atau barang-barang yang menghias rumahnya itu sederhana. Tidak ada barang yang mewah. Bahkan, perabotnya itu didapat dari barang-barang bekas milik orang Belanda yang dibelinya dengan harga murah.

Hal ini diceritakan bahwa Keluarga Ki Hadjar Dewantara tidak akan melewatkan momen jika ada keluarga Belanda yang akan pulang ke Belanda, yang selalu menjual perabotan rumahnya sebelumpulan ke Belanda. Ki Hadjar Dewantara dan keluarganya selalu membeli barang-barang bekas itu yang harganya murah, kemudian perabotan atau barang bekas itu digunakan dan menghias rumah keluarga Ki hadjar Dewantara yang sederhana.

Dari situ, anak-anak keluarga Ki Hadjar Dewantara sudah terbiasa dengan melihat keadaan rumah yang sederhana dengan perabotan yang sederhana. Ini membuat pendidikan kesederhanaan di keluarga Ki Hadjar Dewantara terbentuk. Kesederhanaan yang menjadi filosofi keluarga Ki Hadjar Dewantara yang kemudian diberikan pada anak-anaknya melalui keteladanan dalam keluarga.

Kesederhanaan Pakaian

Selain kesederhanaan dalam makanan dan perabot rumah, Ki Hadjar Dewantara dikenal sebagai sosok yang sederhana dalam berpakian. Dalam berbagai keadaan Ki Hadjar Dewantara selalu mengenakan pakaian yang sesuai dengan situasi dan kondisinya dengan pakaian yang sederhana.

Pernah suatu pagi, Ki Hadjar Dewantara berkebun di sekitar halaman rumahnya hanya dengan mengenakan sarung dan kaos oblong. Saat ada tamu datang, tamu tersebut tidak tahu bahwa yang menerima tamu itu Ki Hadjar Dewantara. Maka, saat Ki Hadjar Dewantara masuk rumah dan mengganti pakaian yang sederhana dan lebih sopan lagi, tamu tersebut kaget, ternyata yang tadi menemuinya adalah Ki Hadjar Dewantara yang hanya mengenakan sarung dan kaos oblong sederhana.

Dengan kesederhanaan dalam berpakian di rumah, Ki Hadjar Dewantara mengajarkan putra-putranya untuk tidak memakai pakaian yang mewah, bermerek, dan mahal. Yang terpenting adalah substansi pakaian yang sesuai dengan fungsi, kondisi, dan kesopanannya.

Di sini, keluarga Ki Hadjar Dewantara mengajarkan tiga pokok kesederhanaan yang harus ditanamkan pada anak-anak kita, yaitu kesederhanaan atas apa yang dimakan, kesederhanaan atas apa yang dipakai, dan kesederhanaan atas apa yang dimiliki. Jika yang dimakan adalah makanan yang sederhana tetapi sehat dan nikmat maka jadilah kita orang yang sehat. Jika yang dipakai adalah pakaian yang sederhana dan baik, maka jadilah kita orang yang terhormat. Jika yang kita miliki adalah perabot dan barang yang sederhana maka jadilah kita orang yang amanat.

Dari sinilah, mengajarkan kesederhanaan melalui prinsip keteladanan pendidikan kesederhanaan Ki Hajar Dewantara pada putra-putranya menjadi penting untuk kita tiru dan teladani. Tujuannya agar kita sebagai orang tua bisa mewujudkan generasi yang seperti Ki Hadjar Dewantara di masa datang. Generasi sederhana yang sangat mencintai bangsa dan negaranya.

 

HERU KURNIAWAN

Pengajar Institut Agama Islam Negeri Purwokerto & Founder Rumah Kreatif Wadas Kelir

ANAK-ANAK TANPA TELEVISI, APA JADINYA?

dibaca normal:7 menit

Sudah tiga tahun, di rumah saya tidak ada televisi. Televisi saya taruh di poskampling untuk kegiatan masyarakat. Awalnya anak-anak protes, tapi setelah saya jelaskan mereka paham. Tentu saja paham dalam keterpaksaan. Namun, seringkali mendidik anak harus demikian, orang tua harus berani tegas dan memaksa untuk hal-hal baik yang lebih prinsip. Demi kebaikan tumbuh dan kembang anak-anak kita.

Dan menurut saya, sebaik-baiknya rumah bukan yang tanpa televisi, ada televisi pun bisa menjadi rumah terbaik untuk pendidikan anak-anak. Tapi, saya sedang tidak menyukai televisi karena kenyataan dengan adanya televisi anak-anak saya setiap hari menghabiskan waktu dengan menonton televisi.

Saya mencatat aktivitas anak-anak saat ada televisi: bangun tidur langsung menonton televisi. Saat dingatkan untuk berangkat sekolah anak-anak malas, setelah dipaksa, baru mau berangkat dengan semangat yang tertinggal di televisi. Setelah pulang sekolah, dengan tubuh yang letih, anak-anak kembali menonton televisi sambil tiduran. Kadang tertidur pulas dan bangun saat sore. Saat malam belajar menjadi sangat terpaksa, anak ingin cepat selesai, karena ingin menonton televisi.

Karena hal ini, saya putuskan membuang televisi dari rumah ke tampat yang lebih tepat, di poskampling. Awalnya, anak-anak jika mau menonton televisi langsung ke poskampling, tetapi lama kelamaan, anak-anak jenuh dan tidak mengasyikan. Akhirnya sama sekali anak-anak tidak menonton televisi.

Pertanyaan yang ingin saya jawab dalam tulisan ini adalah: apa jadinya anak-anak tanpa televisi? Bagaimana perkembangan yang bisa saya rasakan sebagai orang tua saat rumah tanpa televisi?

Saya merasa tepat memutuskan untuk membuang televisi dari rumah, sekalipun saya tidak tahu sampai kapan saya bisa bertahan. Tapi, waktu tiga tahun tanpa televisi barang kali menjadi waktu yang cukup lama juga, dan berpengaruh atas perkembangan psikologi anak-anak saya.

Selesai bangun tidur, tanpa televisi, anak-anak saya duduk sebentar seperti sedang mengumpulkan kemampuan daya ingatnya yang telah hilang dalam tidur panjang. Selesai duduk, anak-anak biasanya mengamati lingkungan sekelilingnya. Saat menemukan sesuatu yang bisa dijadikan mainan, anak-anak menghampiri sesuatu itu. Misalnya, tumpukan mainan bongkar pasang yang berserak di rumah saya.

Dan saya memang sengaja membelikan dan menyiapkan aneka mainan edukatif di situ, mulai dari lego, bongkar pasang, mobil-mobilan, dan benda-benda lainnya. Anak-anak pun kemudian bermain dengan benda-benda itu, biasanya disertai dengan bermain drama. Memerankan suatu kehidupan tertentu. Dan jika libur, teman-temannya datang dan ikut bermain sampai anak-anak merasa lapar, kemudian berteriak minta makan pada Ibunya. Anak-anak pun makan, jika merasa sedang asyik bermain, anak-anak sarapan sambil terus bermain.

Saatnya sekolah, anak-anak berangkat sekolah. Jika liburan, anak-anak terus bermain mengembangkan imajinasinya sendiri. Dan anak-anak kuat bermain selama berjam-jam. Bahkan, jika teman-temannya datang, permainan akan dilakukan secara kolosal, dan sudah bisa dipastikan, rumah akan jadi kapal pecah yang menakjubkan. Saya dan istri saya hanya geleng-geleng kepala seraya berkata lirih, “Inilah hebatnya anak-anak tanpa televisi!”

Saat jenuh dengan permainan ini, anak-anak akan meminta izin untuk pinjam gadget. Saya izinkan tapi dengan durasi waktu dan tidak boleh main game, hanya boleh menonton kartun-kartun pendek. Anak-anak menonton sambil merebahkan tubuh dan pikirannya yang telah terkuras untuk berimajinasi dan bermain. Anak-anak duduk santai dan menonton, sampai kemudian jenuh dan pergi keluar rumah.

Di luar rumah anak-anak ingat dengan poin yang kami gunakan untuk mengapresiasi anak jika membaca buku. Membaca satu buku akan mendapatkan satu poin. Jika poin sudah terkumpul dua puluh, maka anak-anak akan dapat hadiah dengan dibelikan mainan baru atau jalan-jalan tamasya. Anak-anak pun segera pergi ke Taman Bacaan Masyarakat (TBM) Wadas Kelir yang saya dirikan lima tahun lalu di depan rumah.

Di TBM Wadas Kelir itu anak-anak minta dibacakan buku, setidaknya sehari akan ada minimal satu sampai lima buku yang dibacakan dan dibaca anak-anak. Di TBM Wadas Kelir itu anak-anak juga bermain lari-lar dengan teman-temannya serta mewarnai. Di TBM Wadas Kelir anak menghabiskan waktu untuk membaca, mewarnai, dan belajar dengan teman-temannya.

Kemudian kembali pulang dengan tubuh dan pikiran yang lelah menjelang sore. Anak-anak kembali minta gadget untuk menonton film kartun sambil tiduran. Anak-anak pun terlelap tidur, dan bangun segera mandi dan menunaikan sholat maghrib. Selesai sholat maghrib anak-anak minta belajar, mulai dari coret-coret, mengerjakan tugas sekolah, mengerjakan buku aktivitas, dan dibacakan buku sampai mendongeng. Kemudian dilanjutkan lagi bermain sampai kemudian terlelap tidur untuk menjalani aktivitas sehari hari.

Dari sinilah saya kemudian bisa membandingkan: saat anak-anak ada televisi dengan setelah tidak ada televisi. Dan saya melihat dan merasakan sendiri, tanpa televisi perkembangan potensi baik anak meningkat cepat dibandingkan saat ada televisi. Tanpa televisi anak-anak lebih liar, kuat, imajinatif, cerdas, dan memiliki budaya literasi yang tinggi, serta tertib makan.

Cerda, Kreatif, dan Imajinatif

Tanpa televisi, sejak bangun tidur anak-anak langsung bermain. Permainan yang dimainkan adalah permainan imajinatif, menggunakan alat-alat permainan untuk mengembangkan ide gagasan anak-anak, mulai dari cerita mobil-mobilan, rumah-rumahan, perang-perangan, dan sebagainya. Anak-anak menghadirkan imajinasinya sendiri untuk membuat mainan itu hidup dan menyenangkan. Anak-anak bertambah kreatif dan imajinatif karena sistem bermain diciptakan sendiri dengan memberdayakan pengetahuannya.

Pada awalnya adalah benda-benda mainan yang diam. Anak-anak kemudian memainkannya secara sederhana. Tapi, berkat diskusi yang intensif dengan teman-temannya, maka kemudian lahirlah permainan-permainan baru. Permainan baru yang kemudian diciptakan dengan sistem aturan baru. Aturan yang dibuat oleh anak-anak melalui kesepakatan baru. Sampai tahap kita melihat anak-anak mampu mengembangkan daya kreatif dan imajinatisinya dengan bagus.

Kemudian anak-anak akan bermain dengan aktivitas-aktivitas yang telah disepakati. Dalam bermain ini, anak-anak secara personal mengembangkan kemampuan untuk mengatasi berbagai persoalan yang dihadapi dalam bermain. Tujuannya untuk bisa mendapatkan predikat pemenang. Di sinilah anak-anak mengembangkan sistem kemampuan daya pikirnya. Anak-anak menggunakan daya pikirnya untuk mengatasi persoalan. Anak-anak pun akan memiliki kecerdasan, imajinasi, dan kreativitas yang mengagumkan.

Jika kegiatan ini dilakukan setiap hari. Kegiatan ini mendapatkan porsi waktu yang lama karena anak-anak tidak terganggu waktunya dengan menonton televisi, maka anak-anak akan semakin cerdas, kreatif, dan imajinatif. Paling tidak pengembangan kecerdasan, kreativitas, dan imajinasi anak lebih lama dan lebih bagus dengan tidak ada televisi di rumah. Dan jika ini dilakukan dalam rentang waktu yang lama karena di rumah tidak ada televisi, maka saya menyaksikan sendiri anak-anak saya tumbuh dalam keadaan sebagai anak yang cerdas, kreatif, dan imajinatif.

Pertumbuhan Badan dan Gerak

Tanpa televisi di rumah, saya pun menyaksikan sendiri pertumbuhan tubuh yang bagus. Bermain dengan seluruh gerak tubuh menjadikan anak cepat lapar, makan yang dulu menjadi persoalan sekarang tidak. Setelah bermain, anak-anak cepat menjadi lapar, maka anak langsung minta makan, dan anak-anak makan dengan lahap tepat pada waktunya.

Jika ada buah-buahan kesukaannya langsung disantap. Bahkan, sering pesan buah-buahan dan makanan kesukaannya. Bermain telah mengkondisikan tubuh yang lapar dan suka makan. Saya pun menyaksikan pertumbuhan tubuh anak-anak saya yang baik, dengan ditunjang fisik yang baik. lincah dalam bergerak dan berlari karena dalam bermain selalu melakukan gerakan yang aktif.

Ini berimplikasi pada sakit yang mulai jarang dialami pada anak. Tanpa televisi anak-anak saya menjadi sehat fisiknya. Aktif bergerak motoriknya. Kuat badannya. Dan memiliki ketangkasan yang baik dibanding dulu saat televisi menjadi hiasan rumah yang menyedot banyak perhatian dan waktu anak-anak untuk menonton berjam-jam sambil tiduran.

Kepekaan Sosial

Anak-anak juga tumbuh dengan kepekaan sosial yang bagus. Setiap hari anak-anak bermain dengan teman-temannya. Bermain dalam memainkan sistem permainan yang mereka buat sendiri dengan aneka media dan benda-benda yang dipilih. Dari sini proses interakasi dalam sistem virtual yang dibentuk anak-anak terjadi. Interasksi pun terjadi antaranak dengan baik.

Jika anak sendirian tanpa teman, anak sering murung. Anak pun kemudian keluar rumah mencari temannya. JIka mendapatkan teman rasa bahagia bersemi dalam sikapnya. Dan segeralah terlibat interaksi yang menarik melalui kegiatan bermain. Dalam situasi bermain inilah, anak-anak akan tumbuh karakter sosialnya yang mengagumkan.

Saya hampir setiap hari melihat anak-anak berbagi jajan atau makanan. Bekerja sama dalam menyelesaikan sesuatu persoalan. Dan tentu saja, yang tidak bisa dihindari adalah pertengkaran. Pertengkaran yang membuat anak-anak terlatih menyelesaikan persoalan internalnya. Untuk berani minta maaf dan memaafkan karena anak saling membutuhkan aktivitas bermain. Sebab tanpa televisi anak-anak tidak punya pelarian untuk menyendiri.

Di rumah sendirian tanpa televisi itu menyiksa. Bermain di rumah sendirian itu tidak menyenangkan. Dorongan ini membuat anak-anak merasakan kebutuhan penting tentang teman. Teman yang akan mengisi hari-hari menjalani kehidupan di rumah tanpa televisi. Kehidupan yang pada akhirnya diisi dengan kegiatan bermain menyenangkan dengan teman. Melalui kegiatan bermain bersama teman ini, sikap dan karakter sosial anak dibentuk dengan baik.

Kemampuan Literasi

Tanpa televise, saya menyaksikan sendiri, anak-anak saya memiliki kemampuan literasi yang bagus. Pada mulanya saat capek mengantuk anak-anak minta dibacakan buku. Kemudian anak-anak jatuh cinta dengan buku, dan saat saya mengapresiasi dengan memberikan poin untuk meraih hadiah jika membaca buku, membuat anak-anak semakin senang membaca atau dibacakan buku.

Sehari akan ada satu sampai lima buku cerita pendek yang dibaca atau dibacakan. Tanpa televisi kebutuhan literasi anak dapat dipenuhi dengan sempurna. Buku menjadi teman dalam keadaan gundah gulana. Perasaan yang dulu biasa dipenuhi dengan menonton televisi, sekarang dipenuhi dengan membaca atau dibacakan buku.

Ini membuat anak-anak tumbuh dalam literasi yang bagus. Saya tidak pernah mengajari secara langsung apalagi memaksa untuk membaca, menulis, dan berhitung. Tapi, anak-anak saya, sejak pendidikan anak usia dini, sudah bisa membaca, menulis, da berhitung dengan baik. ini semua dibentuk karena  kemampuan literasi yang bagus saat di rumah tanpa televisi.

 Tentu saja, saya menyadari, dengan adanya televisi, anak-anak kita sesungguhnya bisa tumbuh dan berkembang maksimal juga. Tapi, karena pengalaman subjektif saya yang kurang baik dengan keberadaan televisi, terutama dari tayangan televisi yang tidak baik bagi anak-anak, memutuskan rumah tanpa televisi menjadi pilihan terakhir. Pilihan yang membawa saya menemukan banyak hal menakjubkan pada diri anak-anak setelah mengisi hari-harinya bermain dan belajar.

Dan sebenarnya, banyak hal yang pasti lebih menakjubkan lagi, tetapi untuk mengungkapkan semuanya membutuhkan riset yang detil dan pengalaman yang kompleks untuk mengungkapkannya. Namun, setidaknya, dengan apa yang sudah saya ceritakan, semoga memberikan kesadaran penting bagi orang tua, yang mengalami persoalan sama dengan saya, untuk berani membuat televisi dari rumah karena rasa cinta yang lebih pada anak. Bukan rasa cinta untuk memenuhi rasa senang anak, tetapi rasa cinta untuk tumbuh kembang yang baik untuk anak-anak kita, yang barangkali, bisa dipenuhi dengan melepas ketergantungan anak-anak kita pada televisi.

 

HERU KURNIAWAN

Pengajar di Institut Agama Islam Negeri Purwokerto dan Founder Rumah Kreatif Wadas Kelir

PRINSIP PENDIDIKAN “HOME SCHOOLING” DALAM KELUARGA HAJI AGUS SALIM

dibaca normal:4 menit

Sekitar tahun 1925, saat itu Mohamad Roem berkunjung ke rumah Haji Agus Salim, yang merupakan praktisi hebat bidang pendidikan, tokoh kenegarawanan, sekaligus sosok jenius yang menguasai sembilan bahasa. Saat itu, Mohamad Roem dikejutkan dengan sesuatu kejadian yang menakjubkan: Syauket, anak Haji Agus Salim yang baru berusia empat tahun sudah mahir berbicara dengan menggunakan bahasa Belanda tanpa terbata-bata. Padahal, Mohamad Roem sendiri, yang saat itu sudah duduk di bangku SMA, belum bisa semahir berbahas Belanda seperti anak itu.

Selain itu, Mohamad Roem juga dikejutkan oleh anak Haji Agus Salim, Syauket yang di usia belia ternyata sudah gemar membaca. Mengisi hari dengan membaca buku-buku. Minat membacanya melebihi minat baca anak usia SMA. Mohamad Roem sangat tepukau dengan kenyataan ini. Mohamad Roem pun ingin tahu soal pendidikan yang dilakukan Haji  Agus Salim pada anaknya.

Kefasihan bahasa asing yang dikuasai anak Haji Agus Salim ini juga menjadi tanda tanya bagi seorang wartawan dan aktivis sosial Belanda bernama Jef Last. Ia pernah bertanya, mengapa putra Agus Salim begitu fasih berbahasa Inggris, padahal ia tidak belajar di sekolah?

Jawaban Haji Agus Salim sederhana. “Apakah Anda pernah mendengar tentang seekor kuda yang belajar meringkik? Kuda-kuda tua meringkik sebelum anak-anak kuda ikut meringkik. Begitu pun saya, meringkik dalam bahasa Inggris dan putra saya juga meringkik dalam bahasa Inggris.”

Setelah diselidiki, rupanya Haji Agus Salim ini menerapkan sistem pendidikan “home schooling” di rumahnya. Ide Haji Agus Salim ini berangkat dari keuletannya membaca teori-teori perkembangan anak, seperti Maria Montessori, yang saat itu ramai diperbincangkan, khususnya oleh Bapak Pendidikan Nasional atau yang kita kenal dengan Ki Hajar Dewantara. Sehingga Haji Agus Salim tidak ingin melewatkan masa jenius kemampuan bahasa anak-anaknya, Haji Agus Salim pun melakukan kegiatan home schooling di rumahnya.

Sebab Haji Agus Salim sangat meyakini salah satu pemikiran monumental Montessori tentang betapa pentingnya mengoptimalkan masa jenius bahasa anak yang dilihat dari segi kebermanfaatannya terhadap tumbuh kembang anak. Salah satunya, mengenalkan dan mengajarkan bahasa asing pada anaknya saat masih usia dini. Dan saat menjalankan home schooling, Haji Agus Salim bersama isterinya tidak pernah lupa dengan prinsip yang selalu dipegang erat olehnya.

Pertama, Haji Agus Salim bersama isterinya tidak menentukan jam belajar dan bermain bagi anak-anaknya, namun setiap kali ada kesempatan selalu dimanfaatkan untuk mendidik anak-anaknya dengan baik.

Contohnya, saat anak-anaknya sedang asyik bermain perahu kertas di rumah kontarakannya yang bocor. Di saat seperti itulah anak-anaknya bermain sambil belajar. Belajar bahasa, membaca, menulis, berhitung, hingga belajar agama. Dalam mendidik anaknya, Haji Agus Salim juga lebih mendorong anak-anaknya untuk memiliki rasa keingintahuan yang tinggi, memberikan alat untuk memuaskan keinginantahuan, dan mengenalkan anak ke dunia yang diminatinya.

Dari hal ini, kita menjadi tahu dan sadar bahwa peran orang tua bukan hanya sekadar mengajar, tetapi juga sebagai pendamping dan pendidik dalam mengenalkan anak pada dunia luar, membentuk karakter anak, sekaligus mengantarkan anak menjadi pribadi dewasa. Di sinilah kita dituntut untuk terus bisa mendampingi anak-anak saat sedang bermain maupun belajar dengan sebaik-baiknya.

Kedua, membiasakan sejak kecil anak-anaknya berbahasa Belanda. Sekalipun Haji Agus Salim seorang muslim, anak-anaknya tetap diajarkan bahasa Belanda sebab bahasa Belanda menjadi bahasa kolonial saat itu. Cara yang digunakan pun cukup unik. Sejak bayi, anak-anaknya sudah diajak bicara bahasa Belanda dan diajari menyanyi Belanda.

Kebiasaan-kebiasaan yang dilakukan inilah yang pada akhirnya Haji Agus Salim bersama isterinya berhasil mengantarkan anak-anaknya fasih berbahasa asing. Bahasa itu seakan diserap, diciptakan, dan dikuasai secara total oleh anak-anaknya. Istilahnya Montessori, penguasaan bahasa secara total dan ajaib ini dikenal dengan “fenomena eksplosif”.

Haji Agus salim pun sadar perihal kejeniusan berbahasa anak-anaknya sehingga tidak menyia-nyiakan masa jenius bahasa itu, dengan mengajak anak-anaknya menggunakan berbagai bahasa asing dalam kesehariannya. Dari sinilah anak-anak Haji Agus Salim mahir dalam berbahasa asing, Inggris dan Belanda.

 

Ketiga, mengajarkan nasionalisme dan semangat kemerdekaan pada anaknya. Dari ruang keluarga anak-anaknya diajarakan untuk menyayi lagu-lagu nasional, seperti Indonesia raya dan lagu nasional lainnya. Kemampuan Haji Agus Salim di bidang kemiliteran pun ia tularkan pada anak-anaknya. Tujuannya agar anak menjadi seseorang yang kuat dan menumbuhkan rasa memiliki terhadap bangsanya.

Keempat, menjadikan ruang keluarga sebagai perpustakaan keluarga. Hal yang pertama kali diminta Haji Agus Salim terhadap calon isterinya saat itu adalah meminta calon isterinya untuk sering membaca buku.

Alasannya, kelak saat ia memiliki anak tidak akan menyekolahkan ke sekolah formal, ia akan dididik dengan caranya sendiri. Ternyata benar, setelah menikah dan memiliki tujuh anak, mereka dididik dengan tangannya sendiri. Buku digunakan oleh Haji Agus Salim sebagai media belajar dan bermain yang menyenangkan bagi anak-anknya.

Ruang keluarga pun penuh dengan buku-buku babon. Sehingga tidak heran jika anak pertamanya, diusia belia sudah membaca buku detektif bahasa Belanda, anak kedua berusia 6 tahun sudah membaca buku Mahabarata– pun versi bahasa Belanda pula, dan kelima anak yang lainnya pun sama memiliki sejak kecil sudah memiliki budaya membaca yang tinggi. Berkat sejak kecil sudah gila baca inilah, anak-anak Haji Agus Salim tumbuh menjadi orang-orang hebat dan sukses.

Dari apa yang dilakukan Agus Salim bersama isterinya inilah, kita menjadi belajar bahwa untuk mengantarkan anak menjadi pribadi dewasa yang sempurna, tidak hanya bisa dilakukan dengan menyekolahkan anak di sekolah formal yang mahal dan favorit. Namun, lebih kepada bagaimana peran orang tua di dalam keluarga berperan sebagai guru utama. Selain itu, komitmen orang tua dalam menemani anak belajar pun juga menjadi kunci utama.

 

M. HAMID SAMIAJI

Periset Pusat Studi Pendidikan dan Kreativitas Anak di Rumah Kreatif Wadas Kelir dan Mahasiswa Institut Agama Islam Negeri Purwokerto

TIGA PRIORITAS UTAMA KELUARGA BUNG HATTA DALAM MEMBELANJAKAN UANG

dibaca normal:5 menit

Sebagai wakil presiden kala itu, sudah selayaknya keluarga Bung Hatta hidup kaya. Tapi, kenyataannya tidak demikian, keluarga Bung Hatta hidup sederhana, bahkan dalam beberapa hal mengalami kekurangan. Ini menunjukkan sikap dan itikad kuat keluarga Bung Hatta hidup sederhana. Hidup sederhana sebagai pilihan hidup dalam keluarga yang dijalaninya sampai akhir hayat.

Dalam kesederhaan inilah, keluarga Bung Hatta mendapatkan kebahagiaan. Karena, bagi keluarga Bung Hatta, yang terpenting bukan kekayaan, tetapi bagaimana mempersembahkan kekayaan untuk kepentingan bangsa dan negara. Keluarga Bung Hata rela dan bahagia hidup dalam kesederhaan, asal bisa terus memberikan harta untuk bangsa dan negaranya.

Semua ini terjadi karena prinsip keluarga yang tegas dalam menyikapi kekayaan atau kepemilikan uang. Kekayaan atau uang bagi keluarga Bung Hatta harus ditempatkan untuk kepentingan bangsa dan negara, bukan untuk kepentingan diri untuk memperkaya sendiri. Untuk itu, Bung Hatta tidak berani mengambil uang negara yang bukan haknya. Bahkan uang keluarga pun sering digunakan untuk kepentingan negara.

Keluarga Bung Hatta menerapkan tiga prinsip utama dalam menggunakan atau membelanjakan uang keluarga, yaitu uang keluarga untuk kepentingan negara, uang keluarga untuk kepentingan ilmu pengetahuan, serta uang keluarga untuk kepentingan pribadi melalui menabung secara rutin.

Kepentingan Negara

Berdasarkan pengakuan Mahar Mardjono, mantan dokter pribadi Bung Hatta, menjelaskan bahwa  saat Bung Hatta menjalani pengobatan atas sakitnya, dan uang dari Negara yang digunakannya berobat masih tersisa, Bung Hatta memerintahkan mengembalikan uang sisa pengobatannya pada negara, padahal sebenarnya itu sudah menjadi hak Bung Hatta.

Hal serupa juga dilakukan saat Bung Hatta turun dari Wakil Presiden, saat Sekretaris Kabinet memberikan uang senilai enam juta yang merupakan sisa dana nonbujeter untuk keperluan operasional dirinya selama menjabat wakil presiden. Akan tetapi, Bung Hata menolaknya, dan mengembalikannya pada negara, sekalipun uang itu sebenarnya haknya.

Bahkan, saat istri Bung Hatta telah menabung banyak untuk keperluan membeli mesin jahit, Bung Hatta mendadak mengeluarkan kebiajakan negara tentang senering, yaitu penurunan nilai mata uang dari Rp. 100,- menjadi Rp. 1,- tanpa memberi tahu istrinya terlebih dahulu, sehingga impian istrinya untuk memiliki mesin jahit tidak bisa dipenuhi. Bung Hatta pun mendapatkan protes dari istrinya, tetapi dengan tegas Bung Hata menjawab bahwa ini demi tugasnya pada negara dan bangsa, jadi harus rela melepas impian tabungan untuk memenuhi mimpi memiliki mesin jahit.

Kebahagian keluarga Bung Hatta bukan pada seberapa banyak memiliki kekayaaan, tetapi seberapa banyak kekayaan diberikan pada negara. Ini membuat keluarga Bung Hatta selalu bahagia, walaupun kehidupan keluarga dalam kesederhanaan. Kesadaran ini menjadi nilai pendidikan penting bagi keluarga, untuk sejak awal menempatkan kepentingan negara di atas kepentingan pribadi dan keluarga.

Di sinilah, aforisme yang mengatakan bahwa kemajuan negara bergantung pada kemajuan keluarga. Jika semua keluarga melakukan apa yang dilakukan oleh keluarga Bung Hatta, maka majulah negara kita karena semua keluarga akan rela mengorbankan hartanya untuk negara, bukan sebaliknya seperti yang sekarang ini terjadi. Banyak orang mengambil uang negara untuk memperkaya diri dan keluarganya dengan alas an agar bahagia. Nilai pendidikan rela mengeluarkan uang keluarga untuk kepentingan negara dari Bung Hatta perlu diteladani setiap keluarga.

Kepentingan Ilmu Pengetahuan

Sejak kecil, berkat didikan Kakeknya, Pak Gaek Ilyas, yang menggantikan peran Ayah Bung Hatta yang meninggal saat Bung Hatta  masih dalam kandungan, menekankan tentang pentingnya ilmu pengetahuan. Kata-kata Kakeknya, “Harta dunia ini tidak ada yang kekal, yang kekal hanya ilmu pengetahuan dan ibadah. Segala yang terjadi di dunia ini sudah ditakdirkan Allah. Sudah ada suratannya lebih dahulu.” terus diingat Bung Hatta, bahkan menjadi filosofi keluarga Bung Hatta.

Filosofi ini yang kemudian membuat Bung Hatta kecil dan muda semangat dalam menuntut ilmu.Belajar tanpa lelah dan sekolah sampai tinggi ke Negeri Belanda. Hingga kepintaran dan kecerdasaannya dalam penguasaan ilmu pengetahuan mengantarkannya menjadi orang nomor dua di negeri ini. Dan kenyataan ini yang membuat Bung Hatta juga memprioritaskan pendidikan anak-anaknya sampai tinggi.

Rasa cinta pada ilmu pengetahuan ini dibuktikan juga dengan kerelaan Bung Hatta meninggalkan Istana Merdeka karena rasa cintanya pada buku dan ilmu pengetahuan. Menurut, Muetia Hatta, putra Bung Hatta, selepas tidak jadi wakil presiden, Bung Hatta menghabiskan waktu dengan menulis dan membaca. Bung Hatta memiliki perpustakaan yang berisi banyak buku. Dan tentu saja, jika kekayaan keluarga saja, Bung Hatta rela diberikan untuk negara, maka buku-buku itu dibeli dari hasil kerja kerasnya.

Keluarga Bung Hatta mengajarkan pada keluarga kita untuk berani mengorbankan uang untuk membelanjakan buku-buku dan ilmu pengetahuan. Buku-buku yang kemudian akan dipajang di dalam rumah untuk kecerdasan dan kepintaran seluruh anggota keluarga. Melalui buku-buku yang dibeli oleh keluarga ini, nanti anak-anak kita dan orang tuanya akan rajin membaca, sehingga seluruh anggota keluarga menjadi orang-orang yang pintar dan cerdas. Orang yang menguasai ilmu pengetahuan luas dan berpendidikan tinggi sehingga akan memiliki masa depan bagus.

Ini barang kali berbeda dengan keluarga kebanyakan sekarang ini, yang sangat tidak menjadikan buku sebagai prioritas dalam membelanjakan uang keluarga. Keluarga sekarang lebih senang membelanjakan uang untuk kepentingan konsumtif daripada ilmu pengetahuan. Untuk itu, suksesnya keluarga Bung Hatta, salah satunya faktornya adalah kesadaran untuk membelanjakan uang keluarga untuk membeli buku sebagai sumber ilmu pengetahuan keluarga.

Kepentingan Sendiri dengan Menabung

Ada satu kisah yang menunjukkan usaha keras keluarga Bung Hatta dalam mewujudkan sesuatu adalah dengan menabung. Pertama, usaha istri Bung Hatta, yang untuk mewujudkan keinginannya untuk memiliki mesih jahit, istri Bung Hatta, menabung uang sedikit demi sedikit, walapun akhirnya gagal memiliki mesin jahit karena kebijakan negara dalam menurunkan nilai mata uang.

Kedua, kisah Bung Hatta yang ingin memiliki sepatu bermerk Bally, yang pada saat itu harganya sangat mahal. Untuk memenuhi keinginan memiliki sepatu itu, Bung Hata menabung, menyisihkan uangnya dari penghasilannya sendiri, sedikit-demi sedikit untuk memenuhi keinginan itu. Sayang sekali, keinginan Bung Hatta pun tidak terwujud karena tabungannya tidak cukup untuk membeli sepatu itu.

Dua cerita ini mengajarkan pendidikan keluarga yang sangat berharga pada keluarga kita, yaitu soal menabung. Menabung menjadi salah satu alokasi penting keuangan keluarga dalam mewujudkan keinginan mimpi Bung Hatta dan Istrinya. Keluarga Bung Hatta sabar menungumpulkan uang melalui proses panjang demi mewujudkan keinginan keluarga.

Ini keteladanan keluarga yang penting, yang barang kali sekarang menjadi langka karena sekarang keluarga barang kali lebih memilih kredit untuk memenuhi keinginan keluarga daripada menabung. Kita menjadi orang yang tidak sabar dan konsumtif. Di sinilah nilai menabung untuk memenuhi keinginan pribadi keluarga bisa menjadi aktivitas penting dalam membelanjakan uang seperti yang diajarkan keluarga Bung Hatta.

Apa yang dilakukan keluarga Bung Hatta dalam membelanjakan uang dan hartanya menjadi contoh konkret dalam mewujudkan keluarga sederhana yang bahagia pada masa sekarang ini. Saat keluarga-keluarga sekarang banyak yang lebih suka memperkaya diri, konsumptif, dan tidak peduli terhadap ilmu pengetahuan, maka belajar pada pengelolaan uang keluarga Bung Hatta menjadi hal penting yang harus dilakukan sekarang.

Saya bayangkan apa jadinya jika keluarga-keluarga di Indonesia itu semuanya rela mengorbankan uang dan kekakayannya untuk negara, kemudian memprioritaskan membelanjakan ilmu pengetahuan dalam bentuk membeli buku dan sekolahkan anak, serta selalu menabung dalam mewujudkan keinginan diri setiap anggota keluarga. Saya yakin keluarga di Indonesia akan menajdi keluarga tulang punggung maju dan sejahteranya bangsa ini, karena kekayaan negara akan ditopang dari keluarga, semua anggota keluarga cerdas dan berpendidikan tinggi, serta tidak konsumtif.

Di sinilah perlunya kita tahu dan belajar dari tata kelola keuangan dan kekayaan yang dilakukan keluarga Bung Hatta.

 

 

HERU KURNIAWAN

Pengajar Institut Agama Islam Negeri Purwokerto & Founder Rumah Kreatif Wadas Kelir

RUMAH YANG BERSERAK BUKU-BUKU ADALAH RUMAH YANG AKAN MENCIPTAKAN ANAK-ANAK HOBI MEMBACA

dibaca normal:4 menit

Saya menyaksikan sendiri, kejadian sederhana ini: Mafi, anak saya yang berusia 11 tahun tampak gelisah. Awalnya duduk di depan rumah, terus pindah ke ruang tamu, terus masuk kamar.

Apa yang dilakukan di kamar?

Mafi tidur-tiduran, tapi kemudian bangkit. Mafi kemudan mengambil majalah Bobo yang tergeletak di lantai kamarnya. Sambil tiduran dia membacanya. Saya menghitung waktu, satu jam lebih dia membaca majalah Bobo itu.

Kemudian Mafi keluar kamar, saya melihat ekspresi yang berbeda. Mafi sudah tidak gelisah lagi. Dia kemudian keluar rumah dan berbaur dengan teman-temannya untuk bermain.

Saya senang sekali mendapatkan kenyataan ini. Rumah yang sudah saya desain berserak buku-buku memberikan manfaat penting bagi saya. Anak-anak saya sejak awal sudah terbiasa mengisi kegelisahannya dengan membaca buku.

Dan dari sinilah, saya mendapatkan kenyataan bahwa anak-anak saya sejak kecil suka membaca buku disebabkan oleh kenyataan di rumah saya berserak dengan buku-buku.

Di kamar anak-anak ada buku-buku yang berserak di rak kecil yang terbuka. Di meja belajar ada buku-buku yang bertumpuk. Di ruang tamu ada buku-buku yang tertata di rak dan di meja. Sampai, beberapa buku tercecer di tempat-tempat tertentu.

Dan saya menyadari, bagi tamu-tamu yang bermain ke rumah saya, ini rumah tampak tidak rapi dan kotor. Namun, saya lebih senang dengan kenyataan bahwa dengan buku-buku berserak anak-anak saya terbiasa bermain dan membaca buku. Menjadikan buku sebagai media untuk bermain dan membaca.

Dengan buku-buku yang berserak di rumah, maka orang tua akan mendapatkan setidaknya empat pemandangan menyenangkan yang dilakukan oleh anak-anak kita atas buku-buku yang bersera di rumah.

Buku untuk Media Bermain

Karena banyak buku-buku di rumah, maka anak-anak punya gagasan kreatif: buku-buku dijadikan media bermain anak. Saya sering melihat anak-anak main laptop-laptopan, mobil-mobilan, sampai jual-jualan dengan menggunakan buku. Anak-anak memanfaatkan untuk alat bermain yang menyenangkan.

Di sini, buku-buku berperan dalam memenuhi imajinasi anak-anak. Buku menjadi sahabat atau teman bagi anak dalam bermain. Ini akan menciptakan hubungan emosional anak dengan buku. Anak akan semakin dekat dengan buku sehingga dalamdiri anak akan terbangun persepsi bahwa buku adalah teman yang baik. Teman yang bisa diajak dan dijadikan permainan yang menyennagkan.

Rasa cinta anak pada buku akan muncul dan terbangun, yang pada gilirannya, anak tidak saja tertarik dalam perannya sebagai media bermain, tetapi kelak akan tertarik pada isinya sebagai pemuas kebutuhan imajinasi dan ilmu pengetahuan anak.

Buku untuk Dibaca

Buku-buku berserak. Anak-anak setiap harinya terbiasa melihat buku-buku. Maka suatu waktu, anak akan penasaran, dan mengambil salah satu buku. Anak kemudian membaca buku tersebut. Ternyata buku itu bagus dan menarik. Anak pun akan larut membaca buku sampai berjam-jam. Dari sinilah anak-anak terbiasa membaca buku dan semakin penasaran dengan buku.

Pada mulanya dilakukan jika sedang sendiri dan gelisah. Buku dijadikan tempat untuk mengisi waktu dalam kegelisahannya. Tapi, perlahan-lahan, sering dengan didapatinya kenyataan bahwa buku itu menyenangkan, maka membaca akan dijadikan prioritas inti dalam mengisi hari-hari. Saat sudah demikian, maka buku-buku yang berserak sudah mampu membangun budaya baca anak di lingkungan keluarga.

Buku untuk Mengerjakan Tugas Sekolah

Setiap harinya pasti akan ada tugas dari sekolah. Tugas yang membutuhkan banyak buku untuk menjawabnya. Saat sudah demikian, jika anak meminta tolong pada orang tua, maka orang tua bisa merekomendasikan buku yang bisa membantu anak untuk menjawab tugas dari sekolah.

Anak pun akan mengambil buku itu, membacanya untuk menemukan jawaban. Saat buku memberikan banyak informasi dan ilmu pengetahuan yang bisa digunakan untuk menjawab tugas, bahkan dengan membaca buku, anak mendapatkan nilai yang bagus dari tugas sekolahnya, maka di sinilah terbangun kesadaran begitu pentingnya buku-buku yang berserak di rumah.

Anak pun kemudian akan membaca buku-buku yang berserak. Anak-anak akan semakin pintar dan berprestasi di sekolah. Di sinilah, telah terbangun kesadaran anak-anak tentang arti penting membaca agar pintar dan berprestasi. Anak-anak pun akan tumbuh menjadi pribadi yang terbiasa membaca dari buku-buku yang berserak di rumah.

Buku untuk Menulis

Dan perlahan-lahan, anak-anak akan mulai memegang pinsil atau bolpoin, yang kemudian digunakan untuk menulis. Bisa jadi awalnya adalah mencoret-coret, tetapi pada gilirannya adalah menulis atau mengisi buku-buku aktivitas anak dengan menyenangkan.

Saat ini terjadi, maka buku-buku yang berserak sedang mengkondisikan anak-anak untuk menulis. Dari yang menulis sederhana sampai menulis untuk menyampaikan gagasan dan pikiran. Budaya menulis anak pun dikondisikan dari menciptakan kenyataan bahwa rumah kita berserakan banyak buku.

Dari sinilah, menciptakan budaya membaca keluarga bukan melulu persoalan memaksa dan memerintah anak membaca, tetapi juga harus dimulai dengan menyediakan banyak buku di rumah yang dibuat berserak, di setiap sudut selalu saja ada pemandangan buku-buku.

Rumah yang berserak buku-buku adalah rumah yang sedang menyiapkan masa depan anak-anak yang pintar dan cerdas, karena buku-buku di rumah pada gilirannya akan dijadikan teman untuk mengisi hari melalui kegiatan membaca yang membahagiakan.

 

HERU KURNIAWAN

Pengajar di Institut Agama Islam Negeri Purwokerto & Founder Rumah Kreatif Wadas Kelir

KENAPA ORANG TUA HARUS MEMBACA?

dibaca normal:4 menit

Sering kali saya mendapatkan pertanyaan dari para orang tua, “Kenapa saya harus membaca buku? Saya sudah tua dan sudah tidak sekolah lagi? Terus, apa manfaatnya jika saya rajin membaca buku?”

Saya pun kemudian bercerita kenapa saya suka membaca buku. Ya, itu karena Ayah-Ibu saya adalah orang tua yang suka membacakan buku ke saya, sering membelikan buku, dan di rumah saya dulu banyak sekali buku-buku. Dan yang lebih penting lagi, saya sering melihat Ayah dan Ibu saya membaca buku.

Saya pun sejak kecil mengganggap membaca buku menyenangkan. Saya sering menyaksikan Ayah dan Ibu saya tertawa sendiri saat membaca buku. Saya sering melihat mereka serius dalam membaca. Dan saya sangat senang sekali saat keduanya bercerita soal bacaan yang telah dibacanya pada saya. Saya pun kemudian meyakini bahwa dalam buku itu ada sesuatu yang menakjubkan. Saat itulah saya sudah berkeinginan kuat untuk bisa membaca. Saya ingin bisa seperti Ayah dan Ibu, bisa membaca buku dengan sangat antusias dan menyenangkan.

Dan hasilnya sekarang, karena saya dibesarkan dari orang tua yang suka membaca buku, saya pun menjadi suka membaca buku. Dari situ, saya menganggap, “Ayah dan Ibuku adalah Perpustakaan Pertama dalam Hidupku.”

Orang yang pertama kali mengenalkan buku, mengenalkan indahnya membaca buku, dan pada akhirnya membuat saya suka membaca buku. Dan saya bersyukur sekali sebab karena suka membaca buku, cita-cita saya sejak kecil ingin menjadi guru bisa tercapai tercapai.

Saya meyakini salah satu aspek kebaikan yang saya capai dalam hidup saya karena membaca buku. Hobi saya membaca buku membuat proses perjalanan pendidikan saya tidak masalah. Saya bisa mengikuti dengan baik, dan mendapatkan nilai yang baik karena saya membaca materi sekolah dengan baik. Saya juga membaca materi ilmu pengetahuan, dan karya sastra dengan baik.

Inilah salah satu alasan penting orang tua harus membaca buku. Kebiasaan orang tua membaca buku akan membuat anak-anak kita ikut hobi membaca buku pula.

Mungkin ini terkesan subjektif, baiklah jika demikian, akan saya paparan hasil riset ilmiah yang membuat orang tua harus membaca buku. Dalam buku Read Aloud (2008) yang menjelaskan sebuah riset atas budaya baca orang tua.

Risetnya mengambil sampel tiga puluh orang yang lahir dan hidup sama-sama dari keluarga miskin: (1) tapi sekalipun dari keluarga miskin yang lima belas orang berhasil menjadi profesor, sukses dalam ekonomi dan pendidikan, (2) sedangkan lima belas orang lainnya tidak sukses, hanya menjadi tenaga kasar atau buruh, dan miskin.  Hasil penelitiannya adalah sebagai berikut.

Pertama, dua belas dari lima belas profesor itu sejak kecil dibacakan atau diceritakan kisah atau buku oleh orang tuanya, sedangkan yang dari pekerja itu yang dibacakan buku hanya empat orang dari lima belas orang.

Kedua, empat belas dari lima belas profesor merupakan anak dari keluarga yang rumahnya penuh dengan buku-buku, memiliki perpustakaan keluarga dengan koleksi buku yang melimpah, sedangkan dari kalangan pekerja dalam keluarganya rata-rata hanya memiliki empat buku.

Ketiga, para orang tua (ayah dan ibu) tiga belas profesor itu diidentifikasi sebagai sosok yang sering membaca buku dengan baik, mengisi hari dengan membaca buku, sedangkan orang tua para pekerja itu hanya enam yang menjadi pembaca buku.

Keempat, kelima belas profesor itu itu sejak kecil disuruh oleh orang tuanya untuk rajin membaca buku, sedang dari pekerja itu hanya tiga orang yang disuruh membaca oleh orang tuanya.

Di sini kita bisa melihat bahwa orang tua yang suka membaca, menyuruh anaknya membaca, menyediakan bacaan buku di rumah, dan suka membacakan buku itu menjadi kegiatan penting orang tua dalam menyiapkan masa depan anak-anaknya untuk sukses dalam segala bidang.

Maka, jika kita sebagai orang tua ingin anak-anaknya sukses, maka membaca menjadi kegiatan yang harus dibiasakan di rumah. Dan ini akan berlaku dan berjalan dengan baik jika orang tuanya adalah pembaca yang baik pula. Untuk itu, membaca sesungguhnya adalah modal dasar dalam menyiapkan anak-anak kita untuk memiliki masa depan yang bagus.

Dan tugas penting orang tua dalam menciptakan anak-anak yang suka membaca buku adalah menjadikan dirinya teladan sebagai pembaca buku yang baik. Dengan menjadi pembaca buku yang baik, maka dipastikan rumah kita akan penuh dengan buku-buku yang berserak, orang tua akan dengan sendirinya rajin memerintahkan anaknya untuk membaca buku, dan pasti akan sering membacakan buku pada anak-anaknya.

Melalui kebiasaan inilah, kita sedang menyiapkan keluarga yang suka membaca buku. Keluarga yang antara orang tua dan anak-anaknya aktif dalam kegiatan membaca buku. Dari sinilah, keluarga sedang menyiapkan anak-anak yang kelak akan sukses seperti yang hasil riset di atas.

Maka, kita sebagai orang tua sudah tidak punya alasan lagi untuk tidak membaca buku, jika kita ingin anak-anak kita suka dan hobi membaca buku. Yuk, kita mulai menjadi orang tua yang suka membaca dan membacakan buku untuk anak-anak kita.

 

HERU KURNIAWAN

Founder Rumah Kreatif Wadas Kelir & Pengajar di Institut Agama Islam Negeri Purwokerto

MENGENAL TIGA ASPEK PSIKOLOGI ANAK-ANAK YANG SUKA MENONTON FILM

dibaca normal:4 menit

Hari Minggu, pukul 10.00 WIB, matahari tengah bercakap dengan awan dan bersepakat untuk tidak menurunkan hujan. Suasana mendung menyenangkan. Udara sejuk berhembus menambah suasan nyaman untuk membaca buku.

Saat itu, Kak Hafidz, Relawan Wadas Kelir, tengah sibuk mempersiapkan proyektor untuk pemutaran film “Bioskip Mini” khas Wadas Kelir yang hendak ditayangkan bersama anak-anak Wadas Kelir yang sudah antusias menanti.

“Sekarang, yang diputar film apa, Kak?” tanya Nera yang sudah sangat penasaran.

“Film Boboboy, Nera!” Ka Hafidz membalas dengan senyum ramah.

“Ayo, Nera ajak teman-teman yang lainnya lagi!” tambah Kak Hafidz.

Nera langsung pergi memanggil teman-teman laiinya. Anak-anak di Wadas Kelir sangat menyukai film. Anak-anak selalu menganggap film adalah hiburan yang menyenangkan. Tempat bertumpu untuk mengembangkan imajinasi.

Entah dari mana datangnya, saya mendadak ingat pengalaman masa kecil, saat itu setiap hari libur, saya rela harus menunggu berjam-jam untuk menonton film favorit saya “Dragon Ball”. Film “Dragon Ball” telah membuat saya kecanduan untuk menonton dan mengikuti ceritanya sampai selesai.

Dan hebatnya lagi, selesai menonton Film “Dragon Ball”, saat saya bermain bersama teman-teman, saya menirukan adegan dalam film itu. Saya senang berfantasi seolah-olah menjadi tokoh Goku dalam “Dragon Ball” yang bertempur melawan musuh-musuhnya.

Saya merasa bangga memiliki kekuatan ‘hamehameha’ dan dapat mengalahkan musuh. Meskipun saat itu saya sadar sesungguhnya saya sedang bermain dan berimajinasi penuh suka cita.

“Kekuataaaan Angin!” mendadak Zaka berteriak dengan keras mengagetkanku yang sedang mendampingi anak-anak menonton Film Boboboy.

“Kekuataaaan Api!” teriak Nera sambil membalas sambil memperagakan sebuah jurus yang saya sendiri kurang paham.

Melihat hal itu saya jadi sadar ternyata mereka mengalami hal yang sama seperti saat saya masih kecil: senang sekali berfantasi. Film pun ternyata mempengaruhi fantasi, imajinasi, bahkan psikologi anak-anak.

Saya pun terhenyak, teringat tulisan dalam Harian Kompas (5 Januari 2018) yang menyampaikan bahwa karya sastra novel fenomenal abad 17 yang berjudul “Die Leither Weither Jong” menceritakan penderitaan pemuda bernama Weither yang bunuh diri. Ternyata kisah ini mampu membius banyak pembaca sehingga banyak orang yang bunuh diri saat itu menirukan kisah dalam novel itu.

Barangkali film juga memiliki efek psikologi yang sama seperti novel itu. Terlebih film tidak hanya menggunakan daya visual, tetapi juga daya audio yang kombinasinya antar keduanya menjadi sangat menarik mengalahkan novel.

Maka jika ditelaah, sesungguhnya ada tiga efek psikologi yang yang ditimbulkan Film pada anak setelah setelah anak menonton film.

Pertama, Defence Stage. Efek psikologi ini dapat ditunjukkan dengan sikap dan perilaku anak yang terpengaruh dengan keadaan apa yang dipertontonkan. Anak sudah menganggap bahwa dirinya adalah orang yang mengalami hal itu.

Anak pun akan meniru apapun yang ada di dalam film. Anak-anak mengimitasi dirinya adalah tokoh-tokoh yang berperilaku dalam film.  Kita pun akan melihat kenyataan anak-anak yang cara bicaranya, kata-katanya, sikapnya, sampai emosi dan perangainya mirip dengan tokoh-tokoh yang ditampilkan dalam Film.

Kedua, Fantasy Stage. Nah, saat anak masih menganggap bahwa dirinya bukanlah dirinya yang dilihat. Namun, anak memaklumi fanstasinya. Di sini anak-anak sudah memiliki kesadaran bahwa sekalipun film sangat menarik baginya, tetapi dunia film berbeda dengan dunianya. Di sini anak-anak masih meniru, tetapi kesadarannya sudah muncul sehingga peniruan tidak dilakukan secara total, tetapi sebatas peran tertentu saja.

Ketiga, Transformation Stage. Saat anak sudah meyakini bahwa dia adalah dia dan aku adalah aku. Yang ketiga inilah yang paling ideal untuk membentengi seseorang dari apa yang tonton atau lihat. Anak-anak suka dengan Film, tetapi film adalah tempat untuk mendapatkan hiburan dan nilai, buka tempat mengadopsi sikap.

Anak-anak ini akan menjadikan film sebagai tempat untuk mencari kesenangan dan pemahaman, bukan tempat meniru. Inilah yang ideal bagi anak-anak, sehingga anak-anak tidak terperangkap dalam mengimitasi film. Untuk mendapatkan kesadaran ini, orang tua harus terus mendampingi anak-anak dalam menonton film, serta memberikan pemahaman atas film sehingga kesadaran ini bisa terbentuk.

Ketiga hal ini baik untuk kita kenali agar dapat melihat psikologi seseorang terutama anak-anak yang suka menonton film. Dengan begitu, kita sebagai orang dewasa dapat melihat tanda yang ditunjukkan pada sikap dan perilakunya setelah menonton film.

Tujuanya, tentu saja, anak bisa menonton film dengan tidak berlebihan, dan sebagai hiburan film tidak merusak psikologi anak-anak. Anak-anak memiliki kesdaran Transformation Stage yang bagus karena mampu membedakan bahwa dirinya berbeda dengan tokoh yang difilm. Tapi, anak-anak mampu mengambil nilai penting yang ada di film.

 

MUHAMMAD IQBAL

Relawan Pustaka Wadas Kelir dan Mahasiswa Institut Agama Islam Negeri Purwokerto

BERMAIN KATA DALAM LAGU: ANTARA SENANG DAN TEGANG JADI WARNA YANG MENGGEMBIRAKAN! [Catatan Kegiatan Belajar, Minggu 21 Januari 2018]

dibaca normal:3 menit

Saya bangun tidur pukul 16.00 WIB karena sebuah pesan singkat masuk, “Pak Guru, jadi mengajar anak-anak!” Rasa malas menyergap tubuh yang rapuh ini. Saya teringat betapa lelahnya hari ini, dan saya baru tidur lima belas menit. Padahal semalaman habis bergadang menyelesikan pekerjaan menata Toko Buku Wadas Kelir.

Namun, saat saya ingin kembali merebahkan tubuh saya ke tempat tidur, saya teringat kata-kata saya sendiri, kata-kata yang jadi prinsiphidup saya, “Hakikat hidup itu capek. Kita tinggal memilih: ingin capek untuk diri sendiri atau capek untuk orang lain. Dan hati saya sudah memilih: capek untuk orang lain!”

Saya pun segera bangkit. Membasuh muka agar tampak bahagia. Sebab modal utama mengajar adalah bahagia. Bahagia itu milik murid yang kita ajar, sedang penderiataan milik gurunya. Saya bercermin, tampak sudah sudah lumayan segar. Saya melangkah ke Pusat Belajar Masyarakat (PBM) Wadas Kelir.

Anak-anak menyambut kedatangan saya dengan senang. Melihat mereka, kecapekan dan kelesuan rontok dimakan bahagia merayakan pesta belajar paling menyenangkan di dunia. Pesta belajar yang sebenarnya saya belum punya ide gagasan, tapi saya suka dengan hal ini, sebab ide kreatif pasti akan menolong saya.

“Hari ini belajar apa, Pak Guru?” tanya Meli. Saya pura-pura tersenyum bahagia. Padahal, sedang berpikir keras untuk menciptakan permainan yang menyenangkan hari ini. Dan spontan saya berkata, “Kita akan bermain lagu. Ayuk, kita menyanyi lagu ‘Naik-naik ke Puncak Gunung’ dengan keras!”

Dengan penuh semangat, anak-anak dan relawan menyanyi lagu “Naik-naik ke Puncak Gunung” dengan penuh semangat. Setelah selesai, saya langsung mendapatkan ide untuk permainan yang menyenangkan hari ini.

Saya segera memberikan petunjuk, “Permainan hari ini, kita akan menyanyikan lagu anak-anak secara bergiliran, setiap orang hanya boleh menyanyikan dengan satu kata yang akan dilanjutkan teman berikutnya, paham?”

Anak-anak tersenyum senang. Mereka paham. Saya menambahi, “Yang akan menjadi pemenang adalah yang tidak pernah melakukan kesalahan!” Semua anak mengangguk tidak sabar. Lagu pertama adalah Naik-naik ke Puncak Gunung.

Saya                      : Naik

Malva                  : Naik

Meli                      : Ke

Rahma                  : Puncak

Tata                      : Gunung

Nera                     : Tinggi

Luna                     : Tinggi

Cesi                       : Sekali

Dan seterusnya, jika ada yang melakukan kesalahan, maka menyanyi akan diulangi lagi, dan yang melakukan kesalahan dicatat jumlah salahnya. Saat satu lagu sukses dinyanyikan secara bergiliran, maka anak-anak bertepuk tangan penuh suka cita karena gembira. Kemudian dilanjutkan lagu berikutnya.

Permainan yang sederhana, tetapi ternyata sangat menyita perhatian dan energi. Sebabnya, dalam setiap lagu bisa diulang 3-5 kali karena banyak anak-anak yang melakukan kesalahan. Tapi, jika benar semua rasanya sangat bahagia karena telah menaklukan rintangan.

Saya menyaksikan sendiri anak-anak sangat suka. Mereka bermain penuh gembira, sampai waktu dua jam habis tanpa terasa. Setelah selesai bermain, kami menghitung jumlah kesalahan kami. Dan dipilihlan anak yang menjadi juaranya karena tidak pernah melakukan kesalahan.

Setelah selesai, hujan turun lebat. Saya berpamitan pada anak-anak, Mereka melepas saya dengan ekspresi suka cita yang masih tersisa. Saya sangat senang telah bermain dengan anak-anak selama dua jam dengan penuh suka cita. Perlahan-lahan saya mendengar hati saya berkata, “Seni paling indah di dunia adalah membahagiakan orang lain!”

Saya pun bersegera menyiapkan kegiatan selanjutnya. Mengisi malam-malam hari bersama anak-anak dan keluarga. Hari yang tentu saja tidak boleh saya lewatkan indahnya sebab dengan keluarga makna kebahagiaan saya dengan orang lain menjadi lebih sempurna.

 

Heru Kurniawan

Founder Rumah Kreatif Wadas Kelir dan Pengajar di Institut Agama Islam Negeri Purwokerto

BERMAIN HURUF DALAM ANGKA KATA: MELATIH DAYA INGAT, KECEPATAN, DAN MENULIS ANAK-ANAK

dibaca normal:3 menit

Pukul 16.00 WIB, selepas pulang dari kantor, saya memacu sepeda motor lebih cepat dari biasanya. Hari ini, Jumat, 19 Januari 2018, saya mengajar anak-anak Rumah Kreatif Wadas Kelir. Jadwal yang selalu menyenangkan sekalipun sejak pagi sampai sore tubuh saya belum rehat. Sesampai di Pusat Belajar Masyarakat (PBM) Wadas Kelir, saya langsung bergabung dengan anak-anak yang siap belajar hari ini.

Dengan gaya saya yang aneh, saya langsung mengajak anak-anak berteriak menyebutkan satu kata sesuai dengan intonasi yang saya lafalkan. Saya ingin semua anak bersemangat dan berteriak karena semangat merupakan modal awal belajar yang menggembirakan.

Di sisi lain, semangat yang diekspresikan dengan berteriak itu, melatih keberanian anak-anak dan kemampuan oleh vokal yang baik. Ini akan penting bagi anak ke depannya, yaitu membekali anak untuk berani berkata lantang dengan vokal bagus di depan umum.

Setelah selesai, seperti biasanya, anak-anak pasti selalu penasaran dengan permainan literasi yang akan saya gunakan hari ini. Dan saya langsung beraksi dengan permainan yang sudah saya temukan di sepanjang jalan saya pulang. Ya, saya terbiasa dengan untuk berpikir cepat dan kreatif dalam menghadapi dunia ini.

Saya berteriak menyebut kata, “I B U!” Kemudian saya menyebutkan angka “2” dan saya menyebut huruf “B” [karena B berada di urutan kedua]. Anak-anak langsung paham maksudnya. Saya sangat senang jika anak-anak langsung mengerti dengan pola permainan yang akan saya mainkan, sekalipun saya tidak menjelaskannya. Sebab, ini menunjukkan kecerdasan anak-anak.

Saya kemudian menyebutkan kata: “M E J A”! Kemudian secara bergilir anak-anak saya tunjuk. Misalnya, “Malva, 2!” Malva pun langsung menjawab, “E”. Atau saya menunjuk, “Hanif, 4!” maka Hanif langsung berteriak menjawab, “A”. Anak-anak semua bisa. Mereka senang bermain. Bermacam-macam kata pun dimainkan, mulai dari kata yang terdiri atas tiga huruf sampai enam huruf. Semua anak bisa. Saya sangat bergembira.

Saya kemudian saya meningkatkan kesukaran bermain dengan menyebutan dua sampai tiga angka yang harus dijawab anak dengan cepat. Misalnya, saya menyebut kata, “T A K S I!” kemudian saya menunjuk dan bertanya, “Mafi, 3, 5, 1!” Mafi pun berpikir sejenak kemudian berteriak, “K, I, T!”.

Di sini anak-anak mulai mengalami kesulitan. Beberapa anak salah menjawab. Tapi, beberapa anak cepat dan tepat menjawab. Ini semakin membuat anak-anak senang dalam bermain dan berkompetisi. Saya merasakan sensasi bermain yang menyenangkan ini. Tanpa disadari anak-anak, saya sedang melatih memampuan dan kecepatan berpikir anak.

Saya menjumpai anak, Nera yang berusia enam tahun, masih duduk di bangku PAUD. Sekalipun, teman-temannya anak Sekolah Dasar, tapi Nera begitu cepat menjawab setiap pertanyaan, dan benar semua. Padahal anak-anak Sekolah Dasar lainnya mengalami kesulitan, dan sering salah menjawab.

Di sini saya melihat kenyataan kemampuan kecerdasan dan kecepatan anak-anak melalui permainan yang menggembirakan ini. Saya ikut senang merayakan kegembiraan melalui kegiatan bermain ini.

Selesai bermain ini, saya melanjutkan dengan evaluasi tak terduga. Anak-anak saya minta menuliskan kata-kata yang sudah digunakan untuk bermain. Anak-anak mendadak kebingungan, dari sepuluh kata yang telah digunakan untuk bermain, anak-anak hanya bisa menyebutkan enam sampai sembilan kata. Saya tersenyum senang melihat kerja anak-anak dalam mengingat ini.

Setelah menyebutkan kata-kata yang telah digunakan dalam bermain ini, saya kemudian menugaskan anak-anak untuk membuat kalimat dari setiap kata yang dituliskan. Kata yang telah digunakan untuk media bermain bersama. Di sinilah, anak-anak pun berlatih menulis kalimat sederhana.

Misalnya, ini karya Hanif siswa kelas tiga Sekolah Dasar: [1] AYAM: Ayahku memelihara ayam di kandang; [2] BUKU: Setiap hari aku membaca buku di TBM Wadas Kelir; [3] KURSI: Ayah suka duduk di kurs kayu depan rumah; [4] IBU: Aku sayang sekali dengan ibuku; [5] MEJA: Meja kayu belajarku berwarna cokelat; dan [6] TAKSI: Saya ingin sekali berangkat ke sekolah dengan naik taksi.

Saya bahagia, semua anak tidak mengalami kesusahan dalam menulis. Semua anak menikmati berpikir yang menyenangkan. Semua anak bergembira merayakan kegiatan bermain literasi yang menyenangkan. Dan saya meyakini, semua anak nanti akan tumbuh menjadi individu yang cerdas, kreatif, dan berkarakter karena permainan hari ini akan terus dilanjutkan untuk hari-hari berikutnya. Semoga menginspirasi.

 

 

HERU KURNIAWAN

Founder Rumah Kreatif Wadas Kelir

Dosen Institut Agama Islam Negeri Purwokerto