KESIAPAN ORANG TUA DALAM MEMAHAMI ANAK SEBAGAI ILMU PENGETAHUAN HIDUP YANG BERGERAK

dibaca normal:5 menit

Saya menyaksikan sendiri, suasana saat saya bersama dengan anak-anak. Kami sedang makan telur puyuh bersama. Saat salah satu anak, Zaka yang berusia empat tahun, mengambil salah satu telur puyuh, saya bertanya, “Apakah sudah bisa mengupas telurnya?” Zaka diam sejenak seperti sedang mengingat sesuatu sambil menatap saya.

Bibir mungilnya kemudian berceloteh, “Bisa, kan sudah pernah diajari Bunda Dian di PAUD!” Zaka kemudian bekerja keras mengupas telur puyuh itu. Sangat kesusahan, tetapi akhirnya bisa, sekalipun telur puyuh menjadi menjadi remuk. Zaka kemudian tersenyum pada saya seraya berkata penuh bahagia, “Zaka, bisa, kan?”

Saya kemudian terhenyak. Ini sangat menakjubkan bagi saya. Anak merupakan sosok yang dalam setiap geraknya adalah ilmu pengetahuan. Zaka mengajarkan pada saya tentang banyak ilmu dari satu kejadian sederhana mengupas telur. Ilmu pengetahuan tentang daya ingat yang luar biasa, tentang kerja keras dan kesungguhan, tentang pengalaman yang menakjubkan, dan tentang cara menyikapi kemenangan yang membuat saya senang.

Inilah yang saya sebut anak-anak sebagai ilmu pengetahuan hidup yang bergerak. Ilmu pengetahuan yang tidak disampaikan dengan kata-kata. Ilmu pengetahuan yang tidak bisa dibaca hanya dengan mata. Tapi, dapat dipahami dengan mengamati penuh keterbukaan kesadaran dan pengetahuan. Sehingga melalui sikap anak-anak kita akan mendapatkan banyak ilmu pengetahuan yang sangat penting untuk kehidupan ini.

Lihat saja anak yang menangis, jika kita sikapi dengan kemarahan, maka anak seakan sosok yang selalu mengusik ketenangan kita. Membuat repot dan menyusahkan. Selalu tidak bisa ditebak maksud dan keinginannya. Jika sudah berpikir demikian, kita pun menjadi emosi tak terperi. Ingin lari dari tanggung jawab kita sebagai orang tua.

Jika sudah demikian, maka peran kita sebagai ilmuwan tidak akan bisa dilakukan dengan baik. Anak-anak tak hanya sekedar anak-anak yang kita lahirkan. Lebih dari itu, anak-anak adalah ilmu pengetahuan bergerak yang harus dipelajari dan dipahami. Peran kita pun tidak hanya sebagai orang tua, tetapi juga sebagai ilmuwan yang harus selalu bisa mengungkap ilmu pengetahuan dari anak-anak kita. Ilmu pengetahuan yang akan membuat kita banyak tahu tentang anak. Ilmu pengetahuan yang membuat kita semakin cerdas dan pintar.

Dari sinilah, peran kita sebagai orang tua akan meningkat menjadi ilmuwan. Ilmuwan yang memiliki banyak ilmu pengetahuan, sehingga dengan penguasaan ilmu pengetahuan, kita dapat mempelajari anak dengan baik. Dapat menyikapi setiap geraknya dengan baik. Serta dapat menafsir gerak anak sebagai ilmu pengetahuan tak bernilai.

Untuk mewujudkan ini, kita tidak hanya dituntut bisa menjadi orang tua yang baik bagi anak. Tetapi, juga cerdas menyikap setiap hal yang terjadi pada anak-anak, sehingga anak-anak benar-benar sebagai sosok ilmu pengetahuan yang dapat dimengerti dan dipahami oleh orang tuanya. Segala persoalan yang dihadapi pun bisa dibantu penyelesaiannnya oleh orang tuanya dengan baik.

Untuk itu, dalam menyiapkan diri sebagai orang tua yang mampu mengungkapkan rahasia ilmu pengetuhan bergerak yang ada dalam diri anak-anak, maka orang tua harus memiliki tiga kesiapan utama sebagai berikut.

Pertama, kesiapan kasih sayang. Pada mulanya adalah anak-anak yang kita lahirkan karena kasih sayang. Maka anak-anak pun tumbuh dalam kebutuhan kasih sayang yang optimal. Di sini, orang tua dituntut untuk bisa menjadi individu yang selalu memberikan kasih sayang. Dengan kasih sayang ini, maka setiap hal yang dilakukan anak adalah kebaikan. Kebaikan yang harus disikapi dengan baik pula sehingga anak-anak dengan orang tua tercipta hubungan yang harmonis dalam kebaikan dan kasih sayang.

Kesiapan kasih sayang ini membuat orang tua selalu menerima sikap apapun yang dilakukan oleh anak. Dalam kebaikan dan ketidakbaikan anak, orang tua selalu mengedepankan kasih sayang. Inilah yang nanti akan membuat orang tua memiliki kesadaran untuk menerima apa yang dilakukan anak. Sikap menerima ini akan menjadi orang tua memahami banyak kejadian yang dilakukan anak sebagi informasi dan ilmu pengetahuan yang berguna bagi orang tua untuk dipelajari.

Kedua, kesiapan referensi. Saat komunikasi kebaikan dan kasih sayang terbangun. Sesungguhnya anak-anak kita tak hanya sekadar individu yang baik. tapi juga individu yang cerdas menyampaikan banyak ilmu pengetahuan. Agar ilmu pengetahuan yang disampaikan oleh anak bisa dipahami orang tua, maka orang tua dituntut untuk memiliki banyak pengetahuan juga. Di sinilah, orang tua harus memiliki referensi bacaan tentang dunia anak-anak yang baik.

Referensi ini didapat dari kesadaran orang tua untuk membaca buku, terutama buku-buku tentang perkembangan anak, parenting, pendidikan dalam keluarga dan sebagainya. Buku-buku yang akan mengkayakan pengetahuan orang tua terhadap anak. Buku-buku yang akan menyempurnakan kesiapan kasih sayang orang tua dengan pengetahuan yang memahamkan orang tua. Pemahaman ini yang akan membuat orang tua dapat menafsir-interpretasikan segala ilmu pengetahuan yang ada dalam setiap sikap dan gerak anak-anak.

Penguasaan referensi inilah yang membuat orang tua menjadi cerdas dan pintar. Orang tua pun akan bisa menangkap dan mehamai gerak ilmu pengetahuan yang dilakukan oleh anak. Anak-anak bisa dipahami dalam konteks ilmu pengetahuan yang menarik dan penting untuk kehidupannya. Inilah yang menjadi modal dasar orang tua untuk kemudian dapat menyelesaikan segala persoalan yang dihadapi anak-anaknya.

Ketiga, kesiapan menyelesaiakan persoalan. Dengan kesiapan referensi ini, oran tua akan dapat banyak ilmu pengetahuan terhadap gerak dan sikap anak-anaknya, dan ilmu pengetahuan itu akan digunakan untuk menyelesaikan berbagai persoalan yang dihadapi anak-anaknya. Karena dalam kehidupannya, anak-anak akan selalu mengahadapi banyak persoalan, saat mengahadapi persoalan itu anak-anak membutuhkan orang tua yang banyak ilmu pengetahuan tentang dirinya.

Di sinilah, kesiapan orang tua dari aspek kasih sayang dan referensi dibutuhkan oleh anak. Sabab hanya orang tua yang penuh kasih sayang, cerdas, dan berpengetahuan luas yang akan bisa memecahkan persoalan yang dihadapi anaknya sebab anaknya hakikatnya adalah ilmu pengetahuan yang hidup dan bergerak, yang selalu membutuhkan temuan-temuan baru untuk memperkaya temuan ilmu pengetuan sebelumnya.

Dari sinilah terjadi lingkaran kenyataan yang harus dipahami orang tua bahwa anak-anak adalah sumber ilmu pengetahuan yang hidup dan bergerak, yang bisa dipahami dan diselesaikan segala persoalannya dengan menggunakan kesiapan kasih sayang dan referensi ilmu pengetahuan.

Untuk itu, orang tua yang ideal untuk anak-anak, yang merupakan sumber ilmu pengetahuan yang bergerak, adalah orang tua yang memiliki kasih sayang, paham dengan ilmu dunia anak, serta terlibat langsung dalam penyelesaian berbagai persoalan yang dihadapi anak-anak. Dari sinilah, orang tua dan anak selalu terlibat dalam aktivitas ilmu pengetahuan yang akan menjadi contoh dan temuan penting.

Dengan terminologi ini, kita sebaai orang tua sedang membangun keluarga yang berumah ilmu pengetahuan karena di dalamnya diisi oleh orang tua dan anak-anak yang selalu belajar. Belajar melalui membaca referensi dunia anak-anak, belajar melalui ilmu pengethuan yang ada dalam setiap gerak anak, serta belajar dalam menyelesaikan berbagai persoalan yang dihadapi anak.

Dengan keluarga yang berumah ilmu pengetahuan, maka kita sedang menyiapkan kesuksesan keluarga sebab ilmu pengetahuan menjadi salah satu kunci sukses dalam kehidupan yang serba disruption.

 

HERU KURNIAWAN

Pengajar di Institut Agama islam Negeri Purwokerto

Founder Rumah Kreatif Wadas Kelir

SALAH SATU KEAJAIBAN MEMBACAKAN BUKU PADA ANAK ADALAH DAPAT MEREDAM DAN MEREDAKAN KEMARAHAN ANAK!

dibaca normal:4 menit

Saya awalnya tidak percaya, jika membacakan buku ke anak yang sedang marah-marah dapat meredakan marahnya, bahkan membuat anak takluk, tidak menangis, kemudian duduk manis, dan mendengarkan suara-suara merdu orang tua yang membacakan buku.

Tapi, siang itu Istriku bercerita, “Ayah harus tahu, sudah beberapa kali Nera (6 tahun) dan Zaka (4 tahun) sering marah-menangis karena kecapekan. Jika sudah demikian, keduanya mengamuk, saya hanya bisa bingung. Dalam bingung saya mengambil buku. Saya bacakan buku. Awalnya suara saya kalah dengan suara tangisnya. Tapi, entahlah, pelan-pelan, saat lembar-lembar buku dibaca, suara tangisan mereda. Kemudian anak tersungkur mendengarkan buku yang saya bacakan, sebelum kemudian tertidur lelap!”

Saya pun menyaksikan sendiri kejadian itu. Waktu itu Nera kelelahan. Saat diledekin Kakaknya, maka terjadilah pertengkaran yang luar biasa. Nera menangis dan langsung marah-marah. Istri saya menjadi korbannya. Istri saya berusaha menenangkan dengan berbagai cara, tetapi tidak mempan. Nera terus meronta. Terus menangis.

Kemudian Istri saya mengambil buku. Membacakan buku, Nera terus saja menangis. Suara membacakan buku kalah dengan tangisannya, tetapi beberapa saat kemudian, Nera mereda tangisnya. Perhatiannya mulai tertuju pada gambar dalam buku.

Kedua telinganya pun mendengarkan suara Ibunya yang terus meluncurkan kata-kata. Dan Nera benar-benar berhenti menangisnya, kemudian menyimak dengan baik suara Ibunya yang membacakan buku. Sampai cerita selesai dan minta lagi, Istri saya pun kembali membacakan buku lagi. Sampai kemudian Nera tertidur.

Pertanyaannya, kenapa membacakan buku dapat meredakan kemarahan anak? Saya pun memikirkan jawaban ini berhari-hari, mencoba mengkaji dengan kemampuan yang saya miliki, dan saya menemukan berbagai argumen yang tidak ilmiah, tetapi siapa tahu bermanfaat bagi kita.

Pertama, sudah menjadi takdir manusia sebagai “mahluk yang membaca”. Kita adalah mahluk yang takdirnya membaca. Ini dipertegas dalam Islam yang menyatakan bahwa manusia adalah mahluk yang berpikir. Dengan ciri khasnya berpikir, maka membaca harus menjadi menu utama manusia.

Di sinilah, Tuhan dalam al-Qur’an ayat yang diturunkan pertama kalinya adalah memerintahkan kita untuk membaca (iqro). Membacalah yang membuat kesempurnaan pikiran kita, jadi membaca adalah fitrah suci kita.

Sebagai fitrah suci, tugas untuk membaca begitu berat karena Iblis dan jajarannya tidak setuju jika manusia sempurna. Iblis melalui berbagai sistem jalan sesatnya akan membuat kita bodoh dengan tidak boleh membaca. Iblis membuat sistem mekanisme malas dalam diri kita; membuat mekanisme persepsi sesat bahwa membaca tidak penting dan membuang waktu, bahkan tidak bisa menghasilkan uang; sampai membuat mekanisme kenyataan bahwa kesibukan akut membuat kita tidak mau membaca.

Jadi, saat anak-anak sedang marah kemudian orang tua membacakan buku, maka anak-anak menerimanya dengan baik, sebab dalam diri anak ada fitrah suci untuk menerima suara-suara yang bersumber dari bacaan. Suara-suara yang membuat anak-anak takjub dengan berbagai bahasa yang diikat intonasi yang menarik, suara-suara yang mengembangkan imajinasi anak, sampai suara-suara yang membuat anak-anak mendapatkan banyak ilmu pengetahuan.

Montessori (1982) menjelaskan bahwa tidak ada suara yang lebih memukau anak-anak kecuali suara yang keluar dari mulut manusia. Apalagi suara itu indah berintonasi menarik, dengan banyak imajinasi dan pengetahuan di dalamnya, pasti membuat anak-anak terpukau dan sangat menyukai suara orang tua yang membacakan buku.

Kedua, membacakan buku itu bahasa kasih sayang yang hangat. Dengan fitrah membaca, anak-anak memahami bahwa tak ada bahasa kasih sayang paling mulia selain yang diungkapkan dengan membacakan buku. Sebab saat kita membacakan buku, maka ada dua komunikasi penting antara anak dengan orang tua, yaitu komunikasi kasih sayang dan intelektualitas.

Kasih sayang karena akan selalu merindukan momen orang tuanya memeluk erat, pelukan yang mendamaikan perasaan anak. Namun, dalam pelukan itu orang tua melakukan pemenuhan kebutuhan berpikir anak, yang dapat dilakukan melalui membacakan buku.

Istri saya mengatakan, pada awalnya anak meronta. Suara saya kalah dengan tangisannya, tetapi lama-lama luruh. Perasaaanya hanyut dalam setiap kata yang saya bacaan dengan penuh kasih sayang, dan pikirannya mengembara dalam setiap kata yang membawanya berimajinasi melalui gambar dan kata dalam buku yang saya bacakan. Sempurna bahwa membacakan buku adalah bentuk kasih sayang yang dibutuhkan anak.

Ketiga, memenuhi kebutuhan imajinasi paling dasar anak. Salah satu kekuatan anak-anak yang pada mulanya adalah berpikir dari nol adalah persepsi imajinasinya. Tumbuhnya pengetahuan anak berawal dari segala suara yang didengar. Dan suara yang paling menakjubkan bagi anak adalah suara yang bersumber dari alat ucap manusia. Suara yang ditangkap pada mulanya tanpa persepsi.

Tapi, saat anak kemudian bisa menggunakan indra penglihatannya, dunianya terbuka luas. Anak mulai tahu bahwa suara yang didengar dan disimpan dalam pikirannya ternyata bukan suara kosong tanpa makna, tetapi suara yang memiliki kaitan dengan dunia.

Di situ anak-anak memahami segala suara dari alat ucap manusia itu membentuk dunia. Dua kekuatan: suara dan melihat dunia membuat anak-anak mempersepsi diri dengan imajinasinya. Dari sinilah imajinasi literal anak dibentuk.

Anak-anak sangat menyukai ini. Anak yang sejak dini imajinasi literalnya dibentuk, akan menjadi anak memiliki daya imajinasi bagus. Dan membacakan buku menjadi kebutuhan wajib untuk anak dalam memuaskan kebutuhan imajinasi literal. Saat kita membacakan buku dengan suara menarik, “Di hutan yang lebat, saat hujan turun lebat, sekor kelinci sedang kedinginan.” Maka imajinasi anak mengembara menggambarkan kejadian itu dalam benaknya yang tanpa batas.

Saya pun menyaksikan, anak-anak saya yang sejak kecil dibacakan buku, tumbuh menjadi anak-anak dengan imajinasi yang kaya karena kebutuhannya sudah saya penuhi. Dalam tumbuh kembangnya anak-anak saya terbiasa dengan bermain menggunakan imajinasinya.

Bermain sendiri dengan tokoh benda apapun kemudiang mengembangkannya dalam cerita yang dibuat sendiri. Dan anak-anak ini tumbuh dalam kreativitas tinggi dan kecerdasan yang baik. Maka membacakan buku menjadi kebutuhan wajibnya.

Dengan tiga dasar ini, saya membayangkan, sesungguhnya jika sejak usia dini anak-anak bisa menyampaikan keinginannya, maka saat anak melihat buku, anak-anak kita akan berkata, “Ayah, Ibu! Bacakan buku itu buatku!”. Tapi, karena tak memiliki kemampuan itu, anak hanya diam.

Padahal jika kita cermat mengamati, anak-anak kecil selalu tertarik dengan buku, saat menemukan buku, anak kecil selalu membolak-balik buku dan menyobeknya. Ini pertanda anak ingin dibacakan buku.

Andai anak bisa berkata, barangkali anak akan mengatakan, “Yang membuat saya tidak suka membaca itu karena orang tua saya! Sampai saya juga tidak boleh memegang buku yang memukau miliknya. Apalagi berharap orang tua mau membacakan buku untuk saya!” Padahal dengan membacakan buku bisa meredakan kemarahanku.

 

HERU KURNIAWAN

Founder Rumah Kreatif Wadas Kelir

Pengajar di Institut Agama Islam Negeri Purwokerto

TIGA GAYA MEMBACAKAN BUKU YANG AKAN MEMBUAT ANAK-ANAK KECANDUAN MEMBACA ATAU DIBACAKAN BUKU OLEH ORANG TUANYA

dibaca normal:4 menit

Setiap kali dapat giliran jaga Taman Bacaan Masyarakat (TBM) Wadas Kelir, selalu saja perasaanku dag-dig-dug! Sebabnya, jaga TBM Wadas Kelir itu istimewa. Tidak sekadar duduk menjaga dan menunggu anak-anak sampai orang tua datang untuk meminjam atau mengembalikan buku.

Tapi, lebih dari itu. Menjaga TBM Wadas Kelir berarti siap beraksi. Beraksi menyambut kedatangaan anak-anak dengan senyum bahagia. Menata administrasi penjam-kembalikan buku dengan gembara, selanjutnya, harus siap beraksi: membacakan buku pada anak-anak dan remaja. Sangat menantang dan menyenangkan!

Untuk itu, hampir setiap hari kita akan selalu melihat hidangan khas ini:  relawan yang bertugas menjaga TBM Wadas Kelir dikerumuni anak-anak. Semuanya duduk melingkar bersama anak-anak di sudut gerobak baca yang penuh dengan buku.

Jika sudah demikian, maka anak-anak pun berteriak kencang seraya asyik bermain dengan tatapan mata pada buku yang dipegang relawan. Bahkan, tidak jarang pula relawannya sampai berjingkrak-jingkrak gembira bersama anak. Semuanya merayakan rasa senang dalam mengabadikan ilmu pengetahuan melalui kegiatan membacakan buku bersama.

Berawal dari sering menyaksikan kejadian ini, saya mendadak teringat isi sebuah buku yang berjudul: Human Development Edisi Kesembilan karya Diane E. Papalia yang menyebutkan setidaknya ada tiga gaya membacakan buku yang disukai oleh anak-anak.

Pertama, describer style atau gaya membacakan cerita dengan fokus pada mendeskripsikan apa yang terjadi di dalam gambar dan mengajak anak untuk melakukan hal yang sama. Misalnya, “Apa yang akan dilakukan ayam saat pagi hari? Sekarang coba tirukan suara ayam berokok!” Gaya ini akan menghasilkan manfaat memperkaya kosa kata anak, memahami kata yang diucapkan, dan keterampilan menggambar yang amat besar.

Kita bisa melakukannya dengan membuka buku. Memperlihatkan gambar-gambar dalam buku yang menarik pada anak-anak. Pancinglah dengan kalimat-kalimat yang membuat anak-anak penasaran. Terus, perlahan-lahan deskripsikan gambar-gambar itu menjadi suatu alur cerita dengan menarik, dan sesekali ajak anak untuk ikut beraksi dengan menirukannya. Anak-anak pasti akan suka dan terpesona karena gambar-gambar dalan buku ternyata tidak hanya menarik, tetapi juga memiliki cerita yang bagus.

Kedua, comprehender style atau gaya membacakan cerita dengan mendorong anak untuk melihat lebih dalam pada mana cerita dan untuk membuat kesimpulan serta prediksi. Misalnya, “Apa kira-kira yang akan dilakukan oleh ayam setelah itu?”. Dari sini imajinasi anak akan meningkat dan memahami makna ataupun nilai dari sebuah cerita.

Cara ini memfokuskan pada membaca untuk memberikan pemahaman pada anak. Untuk itu, cara yang dilakukan dengan membuka buku, tetapi sebelumnya kita mengajukan pertanyaan. Pertanyaan yang akan dijawab oleh cerita. Berbagai pertanyaan pun sering dilontarkan sebelum setiap halaman dibuka dan dibacakan. Pertanyaan-pertanyaan ini akan membuat anak-anak penasaran sekaligus memahami isi cerita dengan baik.

Ketiga, permformance-oriented style atau gaya membacakan cerita secara langsung, memperkenalkan inti dari cerita tersebut sebelum memulai dan memberikan pertanyaan setelah pembacaan selesai. Gaya ini akan membuat perbendaharaan kata anak dan keterampilan bahasa meningkat sehingga anak bisa mengucapkan kata demi kata yang tersusun menjadi sebuah kalimat yang baik dan benar.

Ini fokusnya pada membacakan buku dengan performa atau gaya semenarik mungkin sehingga anak-anak suka dan paham. Gaya menarik ini bisa dilakukan dengan berbagai gerak yang menarik, serta performa bahasa dengan menggunakan variasi suara yang menarik sehingga anak-anak suka. Setelah dibacakan buku, anak-anak kemudian diuji kemampuannya dengan menjawab pertanyaan yang kita ajukan.

Saya menyaksikannya sendiri, ketiga gaya membacakan buku tersebut, ternyata sudah dilakukan oleh kami para relawan setiap harinya. Bahkan, jika dihitung ada lebih dari tiga gaya membacakan buku pada anak yang asyik dan menyenangkan yang dilakukan oleh relawan. Salah satunya adalah membacakan buku pada anak dengan basis permainan kreatif yang dilakukan dengan membacakan buku dengan saling bergantian untuk menebak sebuah persoalan yang menarik dan menyenangkan.

Dengan berbagai gaya yang dipraktikan dalam membacakan buku ini, maka hasilnya, setiap relawan bertemu dengan anak-anak, anak-anak selalu menarik baju kami dan memintanya untuk dibacakan buku. Bahkan terkadang relawan sampai keteteran saat anak-anak mengajukan beribu pertanyaan yang membuat relawan harus berpikir lebih keras.

Dengan gaya membacakan buku seperti ini, anak-anak menjadi cinta kepada buku. Buku menjadi sahabat yang selalu ingin diajak bermain. Diajak untuk dibaca dan dibacakan agar tahu isinya. Anak-anak pun jadi mencintai buku. Setiap ada buku baru seperti sedang mendapatkan teman baru yang menyenangkan untuk dibaca atau dibacakan. Sungguh saya sangat bahagia menyaksikan pemandangan seperti ini di TBM Wadas Kelir.

Dengan kenyataan ini, jangan salahkan relawan, jika setiap anak-anak pulang ke rumah selalu meminta dibacakan buku oleh orang tuanya. Janganlah orang tua di rumah marah, jika setiap hendak tidurnya anak meminta dibacakan cerita. Dan, jangan salahkan kami, jika anak-anak menjadi gila buku. Sebab, barangkali jejak cerita di Wadas Kelir inilah yang paling berkesan bagi hidup anak, yang akan menjadi memori indah dan motivasi bagi anak. Bahkan, mungkin akan menjadi artefak yang selalu membekas hingga akhir hayat.

Artefak pengalaman menakjubkan yang kelak akan mampu mengantarkan anak-anak menjadi orang sukses dan pemimpin bangsa ini yang cerdas dan berkarakter!

 

MUKHAMAD HAMID SAMIAJI

Periset dan Penulis Buku-buku Parenting dan Bacaan Anak

Relawan Pustakan Rumah Kreatif Wadas Kelir

Mahasiswa Institut Agama Islam Negeri Purwokerto

 

CORETAN PADA DINDING RUMAH YANG MENGINGATKAN BETAPA MENAKJUBKANNYA LITERASI ANAK-ANAK KITA

dibaca normal:3 menit

“Salah satu hal yang dapat mengingatkan masa kecil kita adalah coretan pada tembok rumah yang merupakan artefak literasi yang menakjubkan. Dan tidak ada yang perlu disalahkan dari coretan-coretan di dinding rumah. Karena ini adalah artefak literasi masa kanak-kanak kita, yang nantinya, akan membuat kita rindu. Rindu pada pengalaman imajinasi dan literasi yang menakjubkan saat anak-anak. Rasa rindu yang seharusnya kita berikan pada anak-anak kita kelak.”

Seperti yang saya alami, sore ini, ketika saya pulang ke rumah, ketiga keponakan saya sudah bersiap menyambut saya dengan teriakan dan senyuman paling manis sedunia. Seperti yang sudah dan selalu terjadi sebelumnya, mereka kompak dengan berteriak, “Hore! Bibi Umi pulang!”

Saya pun menyambutnya dengan senyum bahagia. Sambil satu per satu mengecup kening ketiganya. Dan mereka membalas dengan pelukan hangat. Sebuah pelukan yang paling saya tunggu-tunggu dan saya rindukan selama merantau. Entah mengapa selalu ada saja cerita ini. Cerita berulang kali yang tak pernah bosan di hati.

Dan tiba-tiba Farah, keponakan pertama saya, berceloteh, menceritakan kejadian yang baru dialami di sekolah. Dengan muka sangat senang berkata, Tadi pagi, di sekolah Farah dibacakan cerita Ikan Paus, Bi. Besar sekali ikannya. Di perut ikan itu ada Nabi. Kata Bunda Nabinya masih hidup. Tapi, kok, bisa, ya, Bi, Nabinya masih hidup? Padahal kan sudah dimakan…”

Farah kemudian melanjutkan, “Terus, Farah tadi mewarnai gambar ikan. Sekarang Farah sudah bisa mewarnai dengan rapi,Bi….”

Selesai bercerita, tiba-tiba Farah menarik saya untuk masuk ke dalam rumah. Dengan sangat gembira. Anak itu menunjukan satu per satu hasil gambarnya. Gambar yang dia buat bukan di kertas. Tetapi di dinding-dinding rumah.

Awalnya, saya ingin berteriak marah. Tapi melihat anak itu begitu sangat bergembira, saya mengurunkan. Saya tidak mau merusak kebahagiannya. Anak itu terus menunjukkan beberapa gambar baru yang dia buat.

Gambar pertama, sebuah mobil dengan roda delapan terpajang di dinding ruang tamu. Gambar kedua, sebuah bintang besar dengan beberapa coretan garis mengelilingi bintang, berdampingan dengan nama FARAH di sisi kanan tepat di dinding ruang tengah.

Gambar ketiga, sebuah lingkaran besar dengan tujuh lingkaran kecil di dalamnya serta sebuah bintang terpajang rapi di kamar tidur saya. Ya, sebuah pemandangan baru yang mengesalkan juga mengasyikan. Aku pun harus menerima ini semua dengan senang.

Saya perhatikan setiap kata yang dia lontarkan. Lancar sekali. Seketika itu dalam pikiran saya hanya ada satu kesimpulan. Farah memiliki kecerdasaan yang lebih baik dari anak seusianya di rumah. Sebab, diam-diam anak itu sudah bisa menangkap apa yang didengar dengan sangat baik. Terlebih lagi dapat mengkomunkasikan ide dan pengelamannya kepada orang lain dengan baik pula.

Dan semua itu terbentuk karena Farah sangat suka dibacakan buku. Seketika saya teringat dengan manfaat dibacakan buku bagi anak. Yang salah satu manfaatnya adalah menstimulasi think aloud. Membacakan buku membuat anak berpikir kritis dan kreatif. Sebuah ilmu baru yang saya dapatkan setelah saya membaca buku Jim Trealease, The Read-Aloud Handbook.

Sedang manfaat lainnya membacakan buku pada anak adalah: pertama, anak akan menampakan kekritisannya terhadap bacaan yang didengarnya, sehingga, tanpa disadari, anak mengeluarkan sebuah pertanyaan untuk mengritisi rangsangan yang didapat.

Kedua, sudah mampu berpikiran kreatif. Anak akan memanfaatkan segala sesuatu yang ada di sekelilingnya sebagai media untuk menumpahkan daya kreatifnya dalam sebuah coretan. Inilah yang dinamakan artefak. Artefak yang dihasilkan sebagai hasil dari daya kecerdasan yang dimiliki anak. Yang akan membekas dikehidupan anak, yang salah satunya diekspresikan dalam gambar-gambar di dinding rumah.

Inilah yang akhirnya membuat saya tersenyum dan mengusap kepala keponakan saya. Saat saya melihat betapa bayaknya coretan yang sudah memenuhi dinding rumah. Karena saat itu saya sadar, anak sudah mulai banyak beraksi dengan artefak yang tidak sengaja diciptakan.

Dan karena ini tidak sengaja, saya yakin kelak ketika anak sudah dewasa artefak coretan ini yang akan pertama kali diingat ketika mengunjungi tempat yang sama. Yang bisa jadi, anak-anak yang membuat rumah ini berantakan dengan coretan, kelak akan dihapusnya dengan kesuksesan.

 

UMI KHOMSIYATUN

Periset Bahasa-Sastra dan Penulis Buku Bacaan Anak

Relawan Putaka Rumah Kreatif Wadas Kelir

Mahasiswa Pascasarjana Universitas Muhammadiyah Purwokerto.

KURIKULUM MEMBACA BERSAMA DALAM KELUARGA

dibaca normal:3 menit

“Teng, saatnya membaca!” teriak saya.

Keempat anak saya bergegas menghentikan aktivitasnya bermain dengan wajah cemberut. Barangkali kecewa karena keasyikannya mendadak terhenti. Tapi, ini harus dilakukan sebab anak ada kewajiban untuk melakukan kegiatan selanjutnya yang tidak kalah mengasyikannya, yaitu membaca bersama.

Keempat anak saya bergegas masuk kamar. Ada yang mengambil buku tulis, buku dongeng, dan buku pelajaran sekolah. Keempatnya kemudian berkumpul di ruang belajar yang nyaman. Mereka sudah siap untuk melakukan kegiatan membaca bersama.

Saya dan istri langsung berbaur. Saya mengajak Nera dan Zaka duduk di sebelah saya untuk mendengarkan saya membacakan buku dongeng. Mafi, yang duduk di bangku kelas lima langsung membaca buku pelajaran, sambil sesekali membaca majalah Bobo. Sedangkan Keila bermain coret-coret buku sambil berceloteh.

Saat itu keluarga kami terlibat dalam kegiatan membaca, dalam suatu waktu yang sudah saya dan istri saya susun. Membaca yang kami lakukan secara bersama-sama setiap hari dalam satu waktu tertentu yang sudah disepakati bersama.

Selesai membaca, kami kemudian bermain tebak-tebakan tentang isi bacaan yang sudah dibaca atau dibacakan. Anak-anak antusias menjawab dengan senang. Anak-anak saling berebut menjawab. Salah tidak masalah sebab yang terpenting senang.

Selesai bermain tanya jawab, anak-anak kemudian bermain mewarnai dan coret-coret di buku dan papan tulis. Anak-anak sengat senang sampai hampir dua jam lebih kegiatan membaca ini dilakukan.

“Teng! Selesai!’ Teriak saya tanda kegiatan membaca bersama usai.

Anak-anak tampak kembali cemberut, tetapi ini pun harus disiplin untuk menegakan aturan. Anak-anak kemudian menata buku-buku dan alat tulis, kemudian bergegas untuk menyiapkan kegiatan selanjutnya.

Inilah yang saya sebut sebagai kurikulum membaca sederhana yang ada dalam keluarga. Kurikulum yang mengatur kegiatan membaca anak-anak kita, sehingga anak-anak kita paham kapan saatnya bermain dan membaca.

Dengan membuat kurikulum membaca ini, maka setiap harinya akan ada kegiatan membaca bersama yang dilakukan anak-anak dengan orang tuanya. Kegiatan yang melibatkan keluarga untuk berkumpul dan berkomunikasi dengan media buku. Buku untuk dibaca dan dibacakan agar anak-anak kita terbiasa membaca dan memiliki wawasan luas.

Dari sinilah, kesadaran keluarga untuk menanamkan kebiasaan dan budaya membaca bagi anak ditanamkan karena melalui kurikulum membaca ini, anak-anak akan diorganisir sejak dini setiap harinya untuk melakukan kegiatan membaca. Dan jika terus dilakukan dalam jangka waktu yang lama, anak-anak akan terbiasa dengan membaca.

Untuk itu, jika keluarga ingin anak-anaknya memiliki kebiasaan membaca yang bagus, maka dalam sehari, harus memiliki kurikulum membaca. Kurikulum yang akan memuat tiga hal penting sebagai berikut.

Pertama, kapan kegiatan membaca bersama akan dilakukan. Orang tua dan anak berdiskusi untuk menetapkan waktu yang tepat untuk membaca bersama dalam sehari. Waktu yang semua anggota bisa berkumpul bersama. Jika sudah ditentukan, maka semua harus komitmen untuk menjadikan waktu itu sebagai saat yang tepat untuk membaca bersama.

Kedua, menentukan materinya, yaitu dalam kegiatan membaca bersama ini, buku-buku apa yang akan dibaca. Apakah buku-buku dongeng, majalah, atau buku pengetahuan. Materi buku yang akan dibaca kemudian bisa disusun, misalnya, setiap minggunya, dua hari buku dongeng, dua hari buku aktivitas, dan dua hari buku sains.

Ketiga, buatlah kegiatan yang menyenangkan dalam waktu membaca bersama tersebut. Misalnya, kegiatan akan diisi dengan membaca atau membacakan bersama, kemudian bertanya-jawab, menceritakan isi bacaan, dan bermain dari buku yang dibuatkan orng tuanya, dan setelah selesai akan diakhiri dengan makan jajan bersama. Dengan urutan kegiatan yang jelas anak-anak akan suka.

Keempat, berikan apresiasi pada anak atas kemampuan yang diperoleh. Artinya, jika anak-anak telah patuh pada kurikulum membaca ini, maka dalam tempo, misalnya sebulan sekali, adakan kegiatan apresiasi sebagai bentuk hadiah atas kedisiplinan dan kemampuan anak dalam mengikuti kurikulum membaca dengan baik. Apresiasi ini akan membuat anak-anak senang dalam membaca.

Dari kurikulum membaca inilah, keluarga sedang menyiapkan anak-anaknya untuk gemar membaca dan sukses dalam pendidikan karena anak-anak menjadi pintar dan cerdas. Untuk itu, menjadikan anak-anak kita hobi membaca dan cerdas bukan semata memerintahkan anak belajar, tetapi mampu membuat kurikulum yang kemudian akan mengatur orang tua dan anak-anaknya membaca bersama secara berkelanjutan.

 

 

HERU KURNIAWAN

Pengajar di Institut Agama Islam Negeri Purwokerto

Founder Rumah Kreatif Wadas Kelir

KENAPA ORANG TUA HARUS BERTANYA, “APAKAH KAMU SUDAH MEMBACA, NAK?”

dibaca normal:3 menit

Setiap kali pulang rumah, baik dari kantor atau luar kota, saya selalu menyalami anak-anak saya. Selesai bersalaman salah satu pertanyaan yang saya ajukan adalah, “Sudah baca berapa buku hari ini?”

Serentak anak-anak saya akan menjawab bergantian, “Mafi, lima cerita, Yah!” Adiknya melanjutkan, “Nera, dua Yah!” dan tidak mau ketinggalan, “Zaka, satu Yah. Tapi belum kelar!”

Jika sudah menjawab demikian, saya selalu memeluk mereka, dan berbisik, “Jika sudah dua puluh buku yang dibaca, maka Ayah akan membelikan hadiah!”

Serentak ketiga anak saya akan berteriak kompak, “Asyik! Hadiah!” Kemudian mereka kembali melanjutkan aktivitasnya masing-masing.

Ya, pertanyaannya kemudian adalah apa perlunya kita menanyakan pada anak soal apakah hari sudah membaca? Atau berapa buku yang sudah dibaca hari ini?

Bagi saya perlu, bahkan sangat perlu. Sebab pertanyaan kita pada anak soal itu memiliki tiga  makna penting.

Pertama, pertanyaan itu menunjukan perihal membaca sebagai dunia yang disukai oleh orang tua. Jika orang tua suka dengan sesuatu, anak-anak pun memahami bahwa dirinya akan dituntut untuk menyukai seperti apa yang disukai orang tuanya. Ini hal naluri yang selalu terbentuk dalam keluarga.

Sama halnya dengan jika orang tua tidak menyukai sesuatu, maka anak-anak kita dituntut untuk tidak menyukai itu. Jika anak-anak melakukan itu, maka orang tua akan melarangnya. Sehingga, anak-anak paham tentang dunia yang tidak disukai orang tuanya.

Begitu juga dengan membaca. Semakin sering ditanya soal membaca, anak-anak semakin memahami bahwa dunia orang tuanya adalah membaca. Anak-anak dengan sendirinya akan mengikuti orang tuanya. Akan terbentuk kesadaran bahwa membaca adalah dunia dan kebiasaan dalam keluarga yang harus dibina. Ini akan membentuk kepribadian membaca pada anak yang kuat.

Kedua, pertanyaan ini menunjukkan satu peringatan. Ya, pasti kita menyadari bahwa sekalipun membaca adalah hal yang mudah, tetapi godaan untuk tidak membaca pasti banyak dan berat. Mulai dari rasa malas atau banyak kegiatan. Inilah keadaan yang membuat semangat membaca perlahan-lahan hilang, tidak terkecuali pada anak-anak. Dunia bermainnya yang selalu menyenangkan sering membuat lupa dengan membaca.

Untuk itu, pertanyaan soal membaca dari orang tua akan mengingatkan anak-anak untuk tidak terlena dengan kegiatan lain sehingga tidak membaca. Maka, saat orang tua bertanya, “Sudah membaca hari ini?” atau “Hari ini baca berapa buku?” Anak yang belum membaca akan tersenyum bingung dan malu.

Saat itu orang tua akan bilang, “Ayuk, membaca!” Dan anak-anak biasanya akan tersadar. Akan meninggalkan hal yang membuatnya terlena dengan membaca, dan kemudian mengambil buku untuk dibaca atau dibacakan oleh orang tuanya. Anak-anak pun kembali lagi ke jalan kebiasaan membaca lagi.

Ketiga, pertanyaan ini menunjukkan perhatian dan sayang orang tua pada dunia pengetahuan anak-anak. Kasih sayang orang tua tak mesti harus diungkapkan dengan hadiah atau kata pujian. Tapi, pertanyaan juga menunjukkan kasih sayang yang lebih.

Saat orang tua sayang dengan anaknya, pasti orang tua akan selalu bertanya, “Sudah makan belum?” atau “Sudah mandi belum?”

Itu karena orang tua ingin anak-anaknya sehat dan bersih. Tidak ingin anak-anaknya sakit dan kotor tubuhnya, penuh penyakit. Maka dua pertanyaan itu sering ditanyakan pada anaknya. Dan jika anaknya belum melakukan itu, orang tua sering marah. Bukan marah benci, tetapi marah sayang karena tak ingin anaknya sakit.

Nah, jika untuk soal tubuh anak-anak, orang tua begitu mengistimewakan, kenapa untuk masalah pikiran, kecerdasan, dan pengetahuan anak kita mengabaikannya. Maka, seharusnya, jika kita sayang pada anak-anak, kita ingin anak kita cerdas dan pintar, maka pertanyaan soal membaca menjadi aktivitas yang harus ditanyakan setiap hari karena pertayaan itu menunjukkan rasa sayang kita pada anak.

Di sinilah, kita tahu bahwa tidak ada alasan untuk tidak sering bertanya setiap hari pada anak soal: sudah membaca belum? atau sudah baca buku apa hari ini? Sebab melalui pertanyaan-pertanyaan itulah, kita sedang menyiapkan anak-anak menjadi generasi pembaca yang cerdas dan pintar.

Kita sudah tidak punya alasan untuk tidak bertanya, “Nak, sudah membaca hari ini?” dengan nada lembut penuh perhatian sebab dari pertanyaan itu anak-anak kita akan tahu bahwa membaca itu penting. Harus dilakukan setiap hari.

 

HERU KURNIAWAN

Founder Rumah Kreatif Wadas Kelir