SELAMAT UNTUK RELAWAN HEBAT WADAS KELIR YANG TELAH MERAIH JUARA

dibaca normal: 1 menit

“Cara Terbaik dalam Membahagiakan Ayah-Ibu adalah dengan Bakti dan Prestasi. Sebab Bakti adalah Wujud Cinta Kita, sedangkan Prestasi adalah Kerja Keras dalam Mewujudkan Cinta”

Ini salah satu nilai yang saya coba transformasi di Rumah Kreatif Wadas Kelir.

Dari sini, mau tidak mau, kami belajar, bekerja, dan bekerja dengan penuh lelah. Tapi, kami selalu meyakini bahwa “Setiap Tetes Keringat itu Ada Harganya!”

Dan saya menyaksikan sendiri bagaimana Relawan Hebat Wadas Kelir berjibaku dengan Buku, Video, dan Diskusi untuk merumuskan gagasan untuk berkompetisi.

Dan saya sangat bahagia saat mendaptkan kabar di bulan November dan Desember puluhan prestasi juara diraih oleh Relawan Wadas Kelir.

Kak Cesilia Prawening menyabet juara nasional menulis dongeng dan esai; Kak Khotibul Iman menyabet juara menulis dongeng; Kak Umy Khamenyabet juara menulis dongeng nasional; Kak @Putri Kak Wafa Airin dan Bunda Dian menyabet juara mendongeng nasional.

Dari sini kami membangun kayakinan bahwa sedang terus berproses dalam bekerja dan berkarya untuk menjadi manusia-manusia unggul melalui Komunitas Wadas Kelir.

Semoga apa yang kami lakukan menginspirasi banyak orang.

MEDITASI-BERPIKIR: MERUMUSKAN VISI DAN TUJUAN PENCAPAIAN KOMUNITAS WADAS KELIR MELALUI PENGEMBARAAN IMAJINASI KREATIF

dibaca normal: 2 menit

Mendadak tubuh saya tidak bersahabat. Saya diserang sakit. Batuk, sakit kepala, demam, dan tubuh menggigil. Saat masuk kamar kerja, saya menatap kalender yang berdiri di meja kerja, saya tersadar, sejak tahun 2018 saya belum pernah sakit yang kategori sakit.

Dan saya dipaksa harus mengerti: barangkali inilah saatnya tubuh saya rehat dalam sakit yang harus dihormati.

Tapi, saat saya teringat acara plesiran akhir tahun (22/12/2018) bersama dengan relawan dan remaja Komuitas Wadas Kelir, mendadak saya bertambah lemas. Bukan karena sakit tubuh saya, tetapi karena konsep mimpi saya bahwa dalam acara tersebut saya harus datang. Tentu saja tidak sekedar datang, saya juga harus menyampaikan visi dan target tujuan utama Komunitas Wadas Kelir di tahun 2019.

Dan bagi saya, memeras mimpi menjadi visi dan tujuan yang akan diperjuangkan bersama di tahun 2019 harus benar-benar harga mati. Saya pun dipaksa oleh diri saya sendiri untuk bisa menemukannya. Proses menemukan yang membutuhkan pemikiran matang. Matang dalam memeras pengalaman dan pengetahuan, bahkan perasaan.

Maka, dalam kenyataan saya yang sakit, saya setiap malam memaksa diri bermeditasi. Menyatukan pikiran dan perasaan dalam sikap tidur. Menjauhkan diri dari keriuhan hidup, pekerjaan, gadget, dan sebagainya. Saya hanya ingin fokus dalam satu titik imajinasi. Sekalipun melepas semua jenis pemikiran yang saya sadari membuat saya sakit.

Saya membangun keyakinan bahwa dalam sakit, saya harus bisa menemukan gagasan yang akan dijadikan kerja keras Wadas Kelir di tahun 2019. Dan tiga bermalam menjalani hari dalam meditasi-berpikir, akhirnya saya menemukan gagasan penting dalam hidup saya.

Gagasan ini saya temukan dalam meditasi-berpikir: Pertama, imajinasiyang membawa pikiran saya untuk bertemu orang-orang hebat di sekeliling saya yang menjaga dan membantu hidup saya, lahirlah ide-gagasan saya tentang Komunitas Wadas Kelir yang berbasiskan: keluarga. Kedua, imajinasi yang menghadirkan khayalan saya memiliki orang-orang yang tak hanya sayang pada saya, tetapi mereka orang hebat: kualitas. Ketiga, imajinasi yang mengantarkan pada keadaan pertemuan saya dengan orang dekat saya yang semuanya telah mapan penuh senyum: bahagia-sejahtera.

Saya bertanya, kenapa saya memimpikan tiga hal demikian? Saat saya telusuri dalam meditasi-berpikir saya, saya menemukan kenyataan imajinasi yang dibangun dalam film Fast & Furious, yang mengangkat pejuangan Dom Toretto yang sangat mencintai keluarga (Adik-Istri-Teman), mereka adalah orang-orang hebat sesuai dengan bidang keahliannya, dan kaya-bahagia. Mereka Keluarga yang Hebat. Ini saya impikan.

Saat saya tersadar, saya harus mengakui bahwa tugas utama saya sebagai pemimpin adalah berminajinasi. Melalui imajinasi yang dikembarakan dalam meditasi-berpikir saya menemukan banyak hal, tidak terkecuali, langkah saya dalam usaha membangun Komunitas Wadas Kelir.

HERU KURNIAWAN

Founder Komunitas Wadas Kelir 

MERAYAKAN DAN MENYATUKAN KOMUNITAS DENGAN MASYARAKAT MELALUI FESTIVAL BACA PUISI MALAM INI

dibaca normal: 2 menit

Kami sudah menyiapkan acara ini sejak lama. Surat undangan sudah dibagi. Manual acara telah disusun. Anak-anak, Remaja, dan Relawan telah berlatih. Komunitas Tamu telah dihubungi kesediannya untuk mengisi. Perlengkapan dan peralatan telah disiapkan. Ya, kami telah siap merayakan peringatan Hari Aksara Internasional yang sedikit terlambat dengan Festival Baca Puisi.

Ilham Nur Ramli sebagai ketua panitia menyatakan, “Nanti malam, kita rayakan Hari Aksara dengan meriah. Melalui festival baca puisi, yang akan menyatukan masyarakat dengan komunitas.”

Siang itu pun (29/09) tampak Remaja Wadas Kelir sedang bersemangat menata panggung dan perlengkapan lainnya. Saya (Ka Iqbal), yang baru saja pulang menerima penghargaan dari Gramedia untuk TBM Wadas Kelir, langsung bergabung dengan remaja. Kami pun bergabung dalam kinerja kreatif untuk menyiapkan acara nanti malam dengan penuh semangat.

Pukul 16.00 kami masih asyik menata danmenyiapkan. Semua relawan dan remaja bahu membahu bekerja keras membantu mensukseskan acara ini. Acara sederhana yang sedang kami desain sebisa mungkin memberikan kesan yang mendalam dan membahagiakan.

Tepat pukul 19.00, tamu undangan sudah berdatangan. Semuanya antusias dan disambut dengan baik. Semuanya kemudian bergabung dalam satu tempat pertunjukkan khas Wadas Kelir. Semua tamu undangan dan masyarakat bersatu dalam kehangatan merayakan pertunjukkan baca puisi.

Kegiatan diawali dengan sambutan dari Tokoh masyarakat wadas kelir (Pak Dayat) sekaligus memimpin doa untuk musibah Palu. Kemudian puisi pertama dibacakan oleh tiga anak kecil (Zaka, Nera dan juga Tegar). Mereka membacakan puisi yang berjudul ‘Tyrex’.

“Horeee, Zaka!” teriak salah satu penonton memberikan semangat.

Terlihat ketiga anak itu memasuki panggung dengan girang. Usia mereka kurang dari 6 tahun. Sungguh mereka terlihat hebat saat itu. Semuanya bertepuk tangan dengan keras mengimbangi suara puisi yang tampak riang itu. Ketiganya menarik nafas dan menyelesaikan puisinya dengan rasa senang. Setelah itu, secara bergiliran dengan penuh suka cita kegiatan diisi dengan pembacaan puisi.

Ada banyak tamu yang memenuhi undangan pada malam puisi. Teater Texas dari Unsoed, Teater Didik dari IAIN Purwokerto, PIAUD Studio dari IAIN Purwokerto, Penyair Banyumas, Pondok Pena An-najah, Relawan Wadas Kelir dan Warga Paket Wadas Kelir ikut serta berpartisipasi meramaikan perayaan hari aksara dan malam puisi itu.

Kegiatan pun diakhiri dengan foto bersama dan pengumpulan dana donasi musibah Palu yang diberikan para tamu undangan dan seluruh masyarakat Wadas Kelir yang mengikuti acara tersebut.

 

MUHAMAQ IQBAL

Relawan Pustaka Wadas Kelir

 

DETIK-DETIK MENDEBARKAN TBM WADAS KELIR MENJADI YANG TERBAIK GRAMEDIA READING COMMUNITY COMPETITION (GRCC)

dibaca normal: 3 menit

Setelah rangkaian acara pembukaan, sambutan, dan acara lainnya, tepat pukul 16.00 WIB (28/09) pengumuman pemenang Gramedia Reading Community Competition (GRCC) 2018, di umumkan di Hall Balai Kartini Jakarta. Suara pembawa acara yang bergema lantang memenuhi ruangan yang megah itu menyentak jantung kami, Relawan Wadas Kelir, yang ikut dalam acara tersebut saya (Pak Guru), Kak Khotib, Kak Umi, Kak Cesi, dan Kak Iqbal.

Saya yakin, jantung kami berdetak dengan sama kencangnya. Tentu saja, doa kami juga sama-sama sepakat: “semoga kami menjadi yang terbaik”. Saat mata kami beradu, saya berkata, “Apapun hasilnya, inilah hasil kerja keras kita yang terbaik! Kita harus tenang dan bahagia.” Kami kemudian diam. Menantikan satu per satu pemenang disebutkan oleh pembawa acara.

Suara pembawa acara bergema, “Juara Harapan dari TBM Sakila Kerti Tegal Jawa Tengah.” Mendengar itu, kami tersenyum senang di tengah deru tepuk tangan yang bergema. Kami pun serentak berteriak, “Yes!”. Kak Khotib pun berbisik pada kami, “TBM Wadas Kelir, aman.”

“Juara Ketiga adalah TBM Kuncup Mekar Gunung Kidul Yogyakarta,” suara pembawa acara bergema kembali diiringi tepuk tangan para peserta. Kami kembali berteriak, “Yes!” dan kini giliran saya yang berkata, “kita punya harapan juara pertama. Tinggal TBM Wadas Kelir dan TBM Limbah Pustaka.” Tentu saja wajah kami berbinar senang.

“Semoga kami menjadi penenangnya,” bisik Kak Umi dengan penuh rasa harap yang tinggi. Kami kembali bersitegang menanti pengumuman juara kedua dan pertama. Mempertaruhkan mimpi perjuangan kami yang seolah melintas di benak pikiran kami.

“Sekarang, untuk juara kedua diraih oleh TBM Limbah Pustaka Purbalingga Jawa Tengah!” Mendengar pengumuman itu, wajah kami berseri bahagia. Sebab dengan demikian, secara otomatis, TBM Wadas Kelir menjadi juara pertamanya. Saya pun langsung memanjatkan puji syukur pada Tuhan Yang Maha Mengerti jerih perjuangan kami selama lima tahun membangun TBM Wadas Kelir dengan keringat dan air mata yang memeras perasaan dan pikiran.

“Kita juara satu, Pak Guru!” seru Kak Iqbal.

Saya hanya membalasnya dengan senyum senang seraya berkata, “Ini hasil kerja keras bersama kita!”

Kami tersenyum senang. Maka, suara yang berkumandang merdu pun bergema dari pembawa acara, “Dan juara pertama untuk regional Jawa Tengah dan D.I. Yogyakarta adalah TBM Wadas Kelir dari Purwokerto Jawa Tengah!”

Saat itu kami menyaksikan nama TBM Wadas Kelir muncul di layar panggung yang rasanya menyilaukan hati saya, disusul kemudian cahaya lampu yang berpendaran menyambut kami. Seketika saat para relawan menyadarkan saya, “Pak Guru, ayuk ke sana!” Aku tersentak kaget. Aku pun segera berlari menyusul para pemenang lainnya menuju panggung kehormatan untuk mendapatkan penghargaan.

Saat itu, sorot mataku hanya tertuju adalah keempat Relawan Wadas Kelir yang hadir pada acara ini. Hati saya berkumandang dalam kedalaman penghayatan yang jujur, “Ini bukan untuk saya. Ini untuk mereka: Relawan Wadas Kelir yang telah bekerja keras tanpa lelah. Ini untuk remaja dan anak-anak Wadas Kelir yang telah menghidupkan kegiatan membaca dan menulis. Dan ini untuk masyarakat Wadas Kelir yang dengan keringat pengabdiannya telah membangun Wadas Kelir dan lingkungan menjadi bersahabat dengan kegiatan literasi. Saya, istri, dan anak-anak saya hanya orang-orang yang menumpang saja. Ikut belajar atas kesabaran dan keikhlasan mereka!”

Maka, saat saya menerima penghargaan ini, saya menatap Relawan Wadas Kelir satu per satu yang mewakili masyarakat Wadas Kelir. Hatiku berkata lirih, “Ini penghargaan kalian. Semoga aku bisa lebih banyak belajar dari kalian!”

Aku pun turun pangung mempersembahkan penghargaan ini pada Relawan Wadas Kelir yang lebih berhak. Selanjutnya saya duduk diam mengatur nafas dan detak jantung saya. Sebabnya, saya dulu bermimpi, penghargaan ini harusnya kami peroleh setelah TBM Wadas Kelir berusia sepuluh tahun. Tapi, saat baru berusia lima tahun, kami mendapatkan penghargaan terbaik dari Gramedia dan Kementrian Pendidikan dan Kebudayaan Republik Indonesia.

Semoga menginspirasi kita untuk terus tekun dalam bergerak mengabdikan dan mengabadikan ilmu pengetahuan (istilah Kak Iqbal) dengan sabar dalam kelelahan dan kerja keras. TBM Wadas Kelir telah membuktikan harga kesabaran yang berbuah penghargaan terbaik ini untuk masyarakat Wadas Kelir, Karangklesem, Purwokerto Selatan, Banyumas!

 

HERU KURNIAWAN

Founder Rumah Kreatif Wadas Kelir

SEKOLAH LIETRASI WADAS KELIR: BELAJAR MEMBACA, BERPIKIR, DAN BERKARYA!

dibaca normal: 2 menit

Sudah seminggu saya membuka Sekolah Literasi . Tidak disangka antusias anak-anak dan remaja mengikuti Sekolah Literasi ini cukup tinggi. Setidaknya, lima belas sampai dua puluh anak ikut serta dalam sekolah ini. Dan semuanya antusias mengkuti kegiatan belajar di Sekolah Literasi ini.

Kami mendesain Sekolah Literasi ini dengan unik. Anak-anak PAUD, Sekolah Dasar (SD), dan Sekolah Menengah Pertama (SMP) saya satukan jadi satu kelas. Kemudian semuanya terlibat dalam suatu kegiatan belajar yang paling dasar: memahami pola substansi informasi melalui kegiatan berpikir dan bernalar.

Dari sinilah, anak-anak kemudian memiliki kemampuan yang sama, sekalipun usia dan jenjang pendidikan. Namun, tentu saja anak-anak PAUD mendapatan pendampingan untuk dibantu membaca dan memahami substansi pola, sehingga akan diarahkan.

Dan yang saya dapatkan, jenjang pendidikan tinggi bukan jaminan anak akan lebih cepat dan pandai dalam memahami substansi pola suatu informasi. Yang jenjang pendidian lebih tinggi sering banyak kalah cepat dalam memahami substansi pola informasi dari anak-anak yang jenjang pendidikan di bawahnya. Jadi ini menjadi salah satu keunikan Sekolah Literasi di Wadas Kelir ini.

Substansi materi belajar saya kembangkan dari tiga paradigma literasi: membaca, berpikir, dan berkarya. Aspek membaca direalisasikan dalam kegiatan tugas membaca sehari satu buku dan membaca teks belajar yang dijadikan materi pengayaan substansi pola informasi. Aspek berpikir dilakukan dengan bermain logika pengayaan dan menjawab pertanyaan dari teks belajar. Sedangkan aspek berkarya dengan menulis atau menunjukkan performa atas suatu materi belajar tertentu.

Melalu ketiga aspek materi belajar ini, Sekolah Literasi akan menyiapkan anak-anak yang gemar membaca, memiliki kemampuan berpikir tingkat tinggi, dan keterampilan dan kreativitas dalam mengekspresikan ide gagasan melalui karya dan performa.

Silahkan yang ingin mencoba sensasi belajar di Sekolah Literasi Wadas Kelir, ajak putra-putri Ayah dan Ibu ke Wadas Kelir setiap Kamis – Minggu, Pukul 16.00 – 17.30 WIB, langsung yang mengajar adalah Pak Guru Heru dengan diasisteni langsung oleh Relawan Pustaka Wadas Kelir.

 

TIM KREATIF SEKOLAH LITERASI WADAS KELIR

RUMAH KREATIF WADAS KELIR

Jln. Wadas Kelir Rt.7 Rw.5 Karangklesem

Purwokerto Selatan – Banyumas

Jawa Tengah;  WA. 081564777990

www.rumahkreatifwadaskelir.com

Ig. Rumahkreatifwadaskelir atau Ig. Herukurniawan_1982

MAHASISWA THAILAND BELAJAR DI WADAS KELIR

dibaca normal: 3 menit

Kamis, 3 Agustus 2018, 12 mahasiswa asal Pattani, Thailand Selatan datang ke Rumah Kreatif Wadas Kelir (RKWK) untuk belajar pengembangan bahasa dan sosial. Selama 10 hari ke depan, kedua belas mahasiswa ini akan tinggal di rumah warga sekitar untuk belajar seputar bahasa dan kebudayaan Indonesia.

Kedua belas mahasiswa tersebut adalah pemuda-pemudi asal Pattani yang mendapatkan beasiswa belajar di Indonesia. Sebanyak 8 mahasiswa mendapat beasiswa di IAIN Purwokerto dan 4 mahasiswa mendapat beasiswa di STKIP Darussalam Cilacap. Sebagian besar mahasiswa yang mendapatkan beasiswa belajar tersebut adalah mahasiswa transfer dari Jamiah Islam Syeikh Daud Al-Fathani (JISDA) dan Alumni beberapa madrasah ternama di Pattani.

Sebelumya, seminggu yang lalu, secara resmi, kedua belas mahasiswa tersebut diserahkan untuk belajar di RKWK oleh perwakilan pihak dari Pattani, Thailand Selatan, yang kala itu diwakili langsung oleh Rektor dan jajaran pejabat JISDA serta didampingi oleh pihak rektorat IAIN Purwokerto dan STKIP Darussalam Cilacap.

Kegiatan serah-terima tersebut sekaligus menjadi kesempatan bagi keduabelah pihak (RKWK dan Pihak Pattani) untuk menandatangani MoU, yaitu kerja sama dalam hal pembimbingan bagi mahasiswa Pattani yang belajar di Jawa Tengah.

RKWK dipercaya menjadi pihak penyelenggara program pengembangan karena tahun lalu telah sukses menggelar kegiatan serupa. Tahun 2017, 13 mahasiswa asal Pattani yang baru tiba di Indonesia mengikuti program serupa di RKWK. Kegiatan tersebut dilihat membawa dampak positif bagi para mahasiswa.

Alhamdulillah, dulu saya belajar di Wadas Kelir dulu, jadi nggak malu belajar bicara bahasa Indonesia. Sekarang udah lancar, kuliah jadi enak. Jadi kenal juga dengan dunia menulis dari kakak-kakak relawan di Rumah Kreatif Wadas Kelir,” tutur Rais, salah satu alumni kegiatan pengembangan kebahasaan dan sosial di Wadas Kelir tahun 2017.

Selama sepuluh hari ke depan, para mahasiswa akan didampingi oleh para relawan RKWK untuk belajar tentang tiga hal, yaitu kebahasaan, seni, dan kegiatan sosial. Dalam hal kebahasaan, para mahasiswa ini akan diajarkan tata bahasa Indonesia dalam berbagai ranah, terutama dalam kegiatan sehari-hari. Selain itu, para mahasiswa ini akan dikenalkan dengan dunia kepenulisan kreatif. Para relawan yang menangani kegiatan pengembangan lini bahasa ini adalah lulusan pendidikan bahasa dan sastra Indonesia dan para relawan yang bukunya sudah terbit di berbagai penerbit.

Kegiatan lain adalah pengembangan seni. Dalam hal ini, para mahasiswa akan diajari macam-macam kegiatan dan produksi seperti pementasan pantomim, baca puisi, hingga membuat film. Selama 15 kali pertemuan, para mahasiswa akan didampingi oleh lini kreatif khusus seni, yaitu Tim Rumah Seni Wadas Kelir. Goal dari lini ini adalah menghelat malam puncak yang akan diisi dengan pentas seni. Kegiatan tersebut akan menjadi wadah bagi para mahasiswa untuk menunjukkan hasil prosesnya selama di RKWK, seperti pemutaran film karya para mahasiswa, pentas pantomim, pentas drama, pentas baca puisi, dan lain-lain.

Kegiatan lainnya, yang juga dilaksanakan adalah kegiatan sosial. Pada kegiatan ini, para mahasiswa akan diajak bertamu dan menyapa warga sekitar, caranya dengan tausiah di mushalla sekitar, mengajari anak-anak mengaji, mengunjungi rumah warga untuk wawancara tentang kebudayaan setempat, dan memasak bersama. Kegiatan tersebut diharapkan akan membuat para mahasiswa mengenal kebudayaan di Indonesia, sehingga mereka akan merasa betah selama belajar di sini.

Dituturkan oleh pihak rektorat JISDA bahwa mereka sangat bersyukur dengan adanya kegiatan pengembangan di RKWK. Selain, jelas akan membantu para mahasiswa yang sedang dalam proses menyesuaikan diri di lingkungan baru di Indonesia, juga menambah sebuah ikatan saudara.

“Kami melepas anak-anak kami dari Pattani untuk belajar di universitas di Indonesia ini. Tapi, kami sebagai orang tua tetap mempunyai rasa khawatir pada anak-anak yang jauh ini. Namun, dengan adanya RKWK ini, hati kami merasa ada ketenangan, karena kami berpesan agar menjadikan RKWK ini sebagai salah satu rumah untuk pulang. Anggap RKWK ini keluarga. Apalagi sambutan hangatnya selama ini pada kami sangatlah ramah. Saya yakin mereka betah belajar di sini,” pungkas Ust. Dr. H. Abdurrasyid Hamiyae, Rektor JISDA.

Rumah Kreatif Wadas Kelir selalu merasa terhormat  dan terharu apabila orang-orang datang  berkunjung dan belajar bersama relawan dan masyarakat di Wadas Kelir. Sebab, cita-cita RKWK adalah menjadi kampung belajar, tempat orang-orang dari seluruh dunia datang, untuk singgah, mengenal kearifan lokal, dan belajar.

Sebab, kami percaya bahwa tidak ada seorang pun yang singgah dalam hidup kami tanpa dimaksudkan Tuhan untuk mengajari sesuatu yang penting.

 

ENDAH KUSUMANINGRUM

Mahasiswa Pascasarjana Universitas Muhammadiyah Purwokerto

Relawan Pustaka Rumah Kreatif Wadas Kelir

BELAJAR MERDEKA KOLABORASI KOMUNITAS GURU BELAJAR (KGB) DENGAN RELAWAN PUSTAKA WADAS KELIR

dibaca normal: 2 menit

“Ini sudah bukan saatnya berkompetisi, tapi saatnya kolaborasi. Bukan saatnya untuk berlomba meraih kemenangan sendiri. Tapi, harus menang bersama dalam meraih tujuan. Harus berkolaborasi dan bersinergi,” ungkap Daru Kuswanta, Ketua Komunitas Guru Belajar (KGB) Purwokerto dalam kata pembukannya sebagai pemateri.

Dua puluhan peserta diskusi dan bedah buku (8/7) antusias mengikuti kegiatan yang diselenggarakan di Pusat Belajar Masyarakat (PBM) Wadas Kelir. Kegiatan diisi dengan penjelasan Daru Kuswanta seputar kiprah, tujuan, dan kegiatan yang telah diselenggarakan oleh KGB. Kegiatan yang bersumber pada kekuatan untuk selalu “Merdeka Belajar” olah para pendidik dan murid, yang akan membuat pendidikan maju.

Daru Kuswanta pun menjelaskan bahwa empat tujuan yang ingin dicapai KGB adalah memajukan dunia pendidikan, porosnya bersumber pada kemerdekaan belajar, kompetensi, kolaborasi, dan karier. Melalui KGB semua pendidikan diorientasikan untuk mewujudkan keempat hal ini. Melalui merdeka dalam belajar, maka pendidik akan meningkatkan kompetensinya, sehingga mampu berkolaborasi dalam meningkatkan karier pendidik yang benar-benar mampu menciptakan ruang merdeka belajar bagi anak didiknya.

Untuk itulah, Heru Kurniawan menjelaskan bahwa dalam menciptakan kemerdekaan belajar, maka kesadaran belajar harus benar-benar tumbuh dalam diri diri kita. Kita semua setiap hari terlibat dalam kegiatan belajar, tapi pertanyaannya adalah apakah kesadaran belajar kita hadir? Kita pun sering melihat orang yang belajar, tetapi hasilnya tidak memiliki kesadaran belajar yang baik. Padahal kesadaran belajar bertanda pada kemauan untuk membaca dan mendengarkan, tidak mudah melakukan penilaian buruk, mampu mengendalikan diri dengan baik, selalu bijaksana dalam menyikapi fenomena, dan tentu saja, memiliki kesadaran cinta yang menyayangi.

Namun kenyataannya, lanjut Heru Kurniawan, kita banyak menjumpai perilaku orang belajar yang bertolak belakang. Mereka belajar di sekolah. Tapi sikapnya menunjukkan individu yang malas membaca dan mendengarkan, mudah melakukan penilaian buruk atas fenomena, individualis dan egois, ekspresif dan pemarah, serta tidak memiliki rasa sayang yang tinggi. Dan inilah yang sedang kita rasakan sekarang ini.

Untuk itu, merdeka belajar hakikatnya adalah memerdekakan kesadaran kita untuk belajar. Belajar dengan sebaik mungkin dengan penuh daya kreativitas tinggi, yang didasarkan pada penghormatan pada keberbedaan, kebebasan berpikir, keluasan pengetahuan, dan penghormatan hak-hak kemanusiaan kita. Dengan cara begini, kita akan menemukan belajar dalam makna yang sesungguhnya, demikian Daru Kuswanta menjelaskan.

Dari sinilah, buku Relawan Pustaka karya Relawan Rumah Kreatif Wadas Kelir (RKWK) mengungkapkan pengalaman kebebasan belajar relawan dalam mencintai buku-buku. Pengalaman yang didadapat sejak kecil tentang kemerdekaan mereka membaca. Membaca yang pada gilirannya menjadika mereka individu yang merdeka dalam belajar, dan rela menjadi relawan pustaka yang memikul tugas penting dalam meliterasikan diri dan masyarakat tanpa mendapatkan imbalan, kecuali ilmu itu sendiri.

Sedangkan buku Panduan Guru Belajar 2.0 membahas berbagai persoalan dalam kegiatan belajar kita. Persoalan-persoalan yang kemudian dipecahkan oleh para guru kreatif. Guru yang mampu mengadakan berbagai metode dan pendekatan kegiatan belajar yang kreatif dan menarik, sehingga proses kegiatan belajar di sekolah selalu disukai anak-anak. Anak-anak pun tumbuh dalam kemerdekaan belajar yang seharusnya. Praktik-praktik baik dalam mengajar inilah yang kemudian disajikan dalam buku ini. Buku inspiratif yang akan membimbing para pendidik untuk memberikan kegiatan belajar yang merdeka.

 

UMI KHOMSIYATUN

Relawan Pustakan Rumah Kreatif Wadas Kelir dan Mahasiswa Pascasarjana Universitas Muhammadiyah Purwokerto

KERJA BAKTI GEMBIRA: MEMBERSIHKAN DAN MENGHIDUPKAN PUSAT BELAJAR WADAS KELIR UNTUK SEMANGAT BELAJAR YANG LEBIH MEMBUMBUNG TINGGI

dibaca normal: 2 menit

RUMAH KREATIF WADAS KELIR, Minggu (1/7) istimewa bagi kami: relawan, remaja, dan anak-anak Wadas Kelir. Sebabnya, hari Minggu ini menjadi pembuka awal bulan dan awal minggu yang baik setelah libur panjang Lebaran. Kami punya harapan pada hari ini akan menjadi hari pembuka yang membawa kebaikan bersama. Kebaikan dalam belajar di Pusat Belajar Masyarakat (PBM) Wadas Kelir yang lebih membumbung tinggi lagi.

Kami pun memulai hari ini dengan memberi kabar di group WA Rumah Kreatif Wadas Kelir, “Hari yang baik. Yuk, kita mulai dengan Kerja Bakti Gembira!” Dan serentak pesan ini dibaca remaja, relawan, dan anak-nak Wadas Kelir. Kami pun bersegera kumpul, dan tanpa banyak berkata, langsung bekerja bakti dengan semangat penuh gembira.

Kerja bakti gembira yang disi dengan membersihkan ruang kelas belajar kami, halaman bermain kami, sampai jalan-jalan tempat kami melangkah untuk sampai ke PBM Wadas Kelir. Semua kami bersihkan dan ditata dengan rapi, sehingga menghasilkan suasana yang nyaman dan menyenangkan. Kami pun bekerja dalam kegembiraan canda tawa yang tak akan terlupakan karena kami adalah keluarga masa depan yang indah.

Selang beberapa saat, setelah kami bekerja bakti, perlahan-lahan warga mulai bergabung. Ikut membantu kami membersihkan jalan yang selalu setia mengantarkan kami sampai ke PBM Wadas Kelir. Kehadiran warga membuat suasana kerja bakti jadi semakin seru dan istimewa. Semua bahu membahu dalam gerakan yang mengesankan dan menggembirakan.

Mbah Kaji, tokoh masyarakat yang ikut, berkomentar indah, “Terima kasih pada Rumah Kreatif Wadas Kelir yang gerakannya tidak pernah tanggung. Tidak hanya mengurusi dirinya sendiri, tetapi juga mau mengurusi tempat-tempat lain. Mau membersihkan jalan, halaman rumah, dan pekarangan warga lain. Ini membuat kami senang dan ingin selalu ikut serta.”

Kami pun tidak bisa membalas dengan kata apapun, selain senyuman tanda kami sangat senang dan bahagia. Dan Mbah Kaji menambahkan, “Silahkan pakai bambu-bambu saya di belakang rumah buat pagar di Wadas Kelir dan pinggir jalan agar semakin indah.” Kami sangat senang, gerakan mempercantik lingkungan didukung masyarakat.

Belum sempat berlalu lama, tokoh masyarakat Pak Narsidi datang dengan menawarkan diri, “Pak Guru, di rumah banyak bunga matahari dan bibit-bibitnya. Ambil bibitnya dan tabur bijinya di sekitar PBM Wadas Kelir, pasti akan semakin indah penuh dengan bunga-bunga.” Kami membalas dengan senyum penuh sukacita. Menyaksikan kenyataan PBM Wadas Kelir menjadi milik masyarakat Wadas Kelir.

Karena kegembiraan dan kerja sama yang harmonis dengan masyarakat, kerja bakti gembira dapat diselesaikan dengan cepat. Selanjutnya, kami berkumpul di PBM Wadas Kelir untuk kerja bakti selanjutnya yang lebih menyenangkan lagi. Kerja bakti menghabiskan makanan untuk sarapan pagi yang mengesankan. Makan bersama dalam kegembiraan dan kecapekan menjadi kekuatan utama untuk memaknai nikmatnya sarapan hari ini. Kami pun makan dengan lahap menghabiskan menu sederhana yang kami masak dengan kerja bakti pula.

Usai makan bersama, sambil melepas lelah, kami berdiskusi soal ide-gagasa yang semakin membuat Rumah Kreatif Wadas Kelir maju dan berkembang. Kami pun menampung ide-gagasan dari relawan, remaja, dan anak-anak secara terbuka, yang selanjutnya akan disusun dalam program kegiatan di bulan Mei 2018. Misalnya, kami menyepakati untuk mengisi Hari Anak Nasional, 23 Juli 2018, Rumah Kreatif Wadas Kelir akan menyelenggarakan acara Festival Literasi #4 yang akan menyelenggarakan lomba kreativitas permainan tradisional.

Kerja bakti gembira sungguh membuat kami gembira. Gembira karena lingkungan Wadas Kelir menjadi semakin bersih, nyaman, dan menyenangkan. Gembira karena kegiatan kami dibantu dan menyatu dengan masyarakat. Gembira karena kami bisa makan ekstra banyak. Serta gembira kami bisa mendapatkan ide-gagasan inovatif untuk kemajuan Rumah Kreatif Wadas Kelir ke depannya.

 

HERU KURNIAWAN

Founder Rumah Kreatif Wadas Kelir

KEMAH RAMADHAN #1 RUMAH KREATIF WADAS KELIR: RELIGIUS, SERU, DAN MENCERDASKAN!

dibaca normal: 3 menit

Sabtu sore (2/6), Nera (7 tahun) dan Zakka (6 tahun) sudah memegangang bantal dan perlengkapan lainnya. Saat ditanya Ibunya,”Sudah siap berangkat?” dengan antusias keduanya menjawab dengan berteriak, “Siap!” Keduanya kemudian berpamitan pada Ayah dan Ibunya berangkat mengikuti kegiatan Kemah Ramadhan #1 yang diselenggarakan Rumah Kreatif Wadas Kelir.

Nera dan Zakka berbaur dengan puluhan anak-anak lainnya yang sudah datang di Pusat Belajar Masyarakat (PBM) Wadas Kelir yang dijadikan sebagai tempat Kemah Ramadhan #1 yang diselenggarakan Rumah Kreatif Wadas Kelir. Di PBM itu sudah berdiri dua tenda besar dan kayu-kayu bakar yang ditata rapi, yang akan digunakan untuk api unggun.

Berkumpul di PBM Wadas Kelir, anak-anak saling berbincang, dan atas bantuan Kakak Relawan yang menjadi panita acara, anak-anak diajak untuk saling kenal satu sama lainnya karena dari tiga puluhan anak yang ikut acara Kemah Ramadhan #1 ini, berasal dari berbagai daerah, sehingga belum saling kenal. Perkenalan yang santai dan mengasyikkan membuat anak-anak semakin antusias dan tidak sabar mengikuti acara demi acara.

Acara dimulai dengan pembukaan dan pembagian kelompok yang dipimpin Kakak Relawan. Setiap kelompok saling berkoordinasi untuk membuat sebuah performa art yang akan di pentaskan malam hari nanti. Anak-anak saling mengungkapkan ide-gagasannya. Ada yang menyiapkan tari, baca puisi, mengaji, drama, sampai pantomim khas anak-anak. Suasana belajar yang menyenangkan berhasil dikondisikan dalam kegiatan ini oleh Kakak Relawan. Semua anak aktif dan terlibat dengan ekspresi riang gembira.

Saat Adzan Maghrib berkumandang, anak-anak sudah siap dengan santapan berbuka puasa bersama sengan menu sehat yang sederhana. Anak-anak berbuka puasa dalam kebersamaan yang hangat dan mendamaikan. Segala perabotan dan alat makan yang telah digunakan dicuci sendiri oleh anak-anak. Anak-anak menikmati bahwa mencuci alat makan, yang di rumah jarang dilakukan, ternyata bisa sangat menyenangkan.

Dan saat melihat anak-anak dari TK sampai SMP itu khusyuk dalam menjalankan Sholat Maghrib, rasanya hati bergetar. Anak-anak kecil yang barang kali di rumah lebih memilih bermain daripada ibadah, di Kemah Ramadhan #1 ini sedang khusyuk dalam menjalan sholat. Hadilah suasana religius kebersamaan yang dalam acara sederhana yang akan dikenang oleh anak-anak.

Suasana religius ini hadir kembali saat anak-anak melaksanakan sholat Tarawih berjamaah, sholat Tahajud, sholat Subuh berjamaah, sampai Tadarus Al-Qur’an bersama-sama. Anak-anak lupa dengan orang tuanya. Lupa dengan kebiasaan bermain lari yang sering membuat mereka meninggalkan Tarawih. Di Kemah Ramadhan #1 ini, dihadirkan suasana hati yang religius dalam kebersamaan yang mengesankan. Wajah-wajah mungil itu pun tampak bersih dalam kelelahan.

Puncak acara Kemah Ramadhan #1 yang dinanti adalah api unggun. Saat Api Unggun menyala, kelelahan dan mengantuk anak sirna. Anak-anak antusias dalam cahaya kobaran api. Anak-anak bahagia dalam keterpukauan. Dan semakin riuh saat anak-anak satu per satu menunjukkan percaya dirinya dalam pementasan potensi kreatifnya. Anak-anak TK sampai SMP menunjukkan rasa seni dan percaya dirinya. Tepuk tangan riuh bergema memecah malam. Malam yang makin larut memungkasi acara.

Pagi harinya, seusai Sholat Subuh dan Tadarus bersama, anak-anak berolah raga dan berolah pikiran. Setelah senam sehat ceria bersama, kegiatan dilanjutkan dengan bermain literasi. Anak-anak diorganisir menelusuri area Wadas Kelir dengan berbagai permainan membaca dan menulis. Anak-anak sangat menikmati, dan hasilnya adalah, setiap anak menulis satu puisi yang kemudian dibacakan dalam perpisahan.

Super kreatif dan mengesankan. Acara sederhana yang mampu menggabungkan tiga hal penting: religius, seru, dan mencerdaskan. Tidak heran, saat ditanya kesannya anak-anak Meli menjawab senang dan baru. Baru mendapatkan pengalaman hidup yang demikian. Tidur semalam ditenda bersama, sholat bersama, da nada api unggun yang asyik.

Orang tua anak yang datang pagi hari Ibu Fathur mengungkapkan tidak menyangka anaknya kuat tidur tanpa orang tua di tenda. Dan katanya semalaman tidak bisa tidur, tapi wajahnya masih tampak senang. Ini pasti acara yang menyenangkan. Tahun depan diadakan lagi acara Kemah Ramadhan ini.

Panitia yang dikoordinatori Kakak Wadas Kelir mengungkapkan rasa senang dan suksesnya acara ini. Kak Putri selaku ketua acara mengungkapkan bahwa ini acara yang melelahkan dan mengesankan. Tidak menyangka anak-anak sangat suka dan aktif dalam setiap tahap permainan dan kegiatan yang kami rancang. Pasti ini akan jadi pengelaman hidup yang tak terlupakan bagi anak-anak.

 

DIAN WAHYU SRI LESTARI

Guru Kelompok Bermain (KB) Wadas Kelir

PAKET B DAN C WADAS KELIR GELAR PENTAS DRAMA, SUKSES KOCOK PERUT WARGA!

dibaca normal: 2 menit

Sabtu, 28 April 2018, malam Minggu di Rumah Kreatif Wadas Kelir ramai dengan orang-orang berkostum pantomime dan berkebaya ala-ala jadul (zaman dahulu). Mereka adalah para warga belajar Paket B dan Paket C Wadas Kelir yang akan unjuk gigi mementaskan pertunjukan di panggung Café Baca “Pentas Seni dan Literasi” edisi bulan April.

Para warga belajar yang berasal dari lintas usia, mulai dari usia remaja hingga usia lanjut (nenek-nenek) telah semangat berlatih sejak dua minggu terakhir. Setiap malam, meski gerimis, hujan lebat, lelah sepulang kerja, sambil membawa anak, mereka semua tetap giat berlatih teater demi pentas!

Kegiatan tersebut sebenarnya merupakan praktikum mata pelajaran kesenian yang diampu oleh Tutor Khotibul Iman. Ide pementasan tersebut tercetus dari keinginan memberikan pengalaman berkesan dan menambah semangat belajar para warga-belajar. Sebab, sebagian besar dari warga-belajar belum pernah memiliki pengalaman berpentas, apalagi pentas drama, pantomim, hingga musikalisasi puisi.  Maka, kesempatan tersebut agaknya juga tidak disia-siakan oleh para warga-belajar agar menjadi momentum paling berkesan selama setahun terakhir belajar di Paket Wadas Kelir.

“Deg-degan banget mau pentas dari semalem. Kepikiran lupa adegan, lupa dialognya. Terus nanti ditonton anak sama suami. Seneng-seneng malu,” tutur Puput Sefniati, salah satu warga-belajar yang dalam kesehariaannya cukup pemalu dan pendiam.

Beberapa warga-belajar di Paket Wadas Kelir memang memerlukan motivasi lebih agar selalu semangat datang ke sekolah dan berporses aktif di kelas. Ada beberapa yang jika ditanyai tutor selalu menjawab dengan ragu-ragu, malu, atau dengan suara yang amat pelan serta menunduk malu. Maka, melalui kegiatan ini pula diharapkan dapat menumbuhkan rasa percaya diri dan saling memiliki dalam lingkungan belajar di Paket Wadas Kelir.

Hal tersebut agaknya terbukti, ketika pentas berlangsung, melihat euphoria penonton yang cukup membludak (didominasi oleh sanak family para pemain pentas), para warga belajar berakting sangat total dan melepaskan segala beban di atas pentas. Mementaskan naskah lakon yang diadaptasi oleh salah satu tutor, Endah Kusumaningrum, para warga belajar berhasil menghibur dan mengocok perut penonton dengan dialog dan adegan-adegan lucu.

“Itu Yuyu Kangkang lucu banget. Perutku sampe kaku lihatnya!” tutur salah satu warga dari barisan penonton.

“Nggak nyangka melihat mereka sangat berbeda dengan kesehariannya yang biasa kalem jadi acting judes, total banget. Jadi kemayu dan genit, juga total banget. Top!” tutur Agustina Wulandari, salah satu tutor Paket B dan Paket  Wadas Kelir.

Melihat antusiasme para penonton, mereka, para pemain turun pentas dengan senyum yang mengembang. Lega! Perjuangan dua minggu menghafal naskah, latihan koreo pantomime, latihan musikalisasi puisi, terbayar tunai!

“Aku pengen pentas lagi kayak gini, Pak! Apa bikin film yuk , besok-besok. Sekolahnya jadi seru, nggak cuma pelajaran duduk di kelas. Praktek, berkarya, asyik!” tutur Ruli Karunia, salah satu waga belajar.

 

ENDAH KUSUMANINGRUM

Relawan Pustaka Wadas Kelir & Mahasiswa Pascasarjana Universitas Muhammadiyah Purwokerto