RUMAH KREATIF WADAS KELIR LIBATKAN SEMUA USIA DI GELARAN FESTIVAL LITERASI #2 MENDONGENG

dibaca normal:3 menit

Setelah sukses menggelar Festival Literasi #1 pada Februari lalu, Rumah Kreatif Wadas Kelir kembali gelat Festival Literasi #2 di bulan Maret.

Di festival yang dihelat pada Minggu, 17 Maret 2018 tersebut, Rumah Kreatif Wadas Kelir menggelar lomba mendongeng untuk empat kategori, yaitu: kategori SD, kategori SMP/SMA, kategori mahasiswa, dan kategori guru. Total peserta yang terdaftar pada gelaran tersebut adalah 70 orang.

Pesertanya pun datang dari beragam wilayah. Mulai dari dalam kota, hingga yang terjauh datang dari Kabupaten Bumiayu. Seperti contohnya serombongan mahasiswa Universitas Peradaban yang ikut meramaikan lomba mendongeng kategori mahasiswa.

Lomba mendongeng dipilih karena dongeng adalah dunia yang dekat dengan semua orang di semua usia. Dongeng merupakan “dunia dalam kata”, cerita yang begitu menakjubkan dan mempesona bagi anak-anak. Imajinasi yang dibangun melalui dongeng bisa memicu potensi-potensi harfiah yang dimiliki anak.

Ada begitu banyak manfaat  yang akan diperoleh oleh anak melalui dongeng. Dongeng bisa menstimulasi minat membaca serta memancing kepekaan psikolinguistik mereka  yang nantinya akan sangat mendukung kemampuan membaca dan menulisnya. Selain hal tersebut, ada banyak nilai-nilai moral yang bisa ditanamkan melalui dongeng. Manfaat tersebut diperoleh anak tanpa ia merasa sedang digurui.

Menurut penelitian, dalam proses perkembangannya, dongeng senantiasa mengaktifkan tidak hanya aspek-aspek intelektual, tetapi juga aspek kepekaan, kehalusan budi, emosi, seni, fantasi, dam imajinasi, tidak hanya mengutamakan otak kiri, tapi juga otak kanan.

Daya imajinasi anak dapat berkembang luas melalui dongeng. Seperti teori yang disebutkan Piaget bahwa pada saat anak berusia 2-7 tahun, ia tengah berada pada masa pengembangan kognitif pra operasional, dongeng merupakan sarana belajar yang menyenangkan.

Dari segala keunggulan mendongeng tersebut, hal baik yang dapat dirasakan orang tua dan anak dalam proses mendongeng adalah terciptanya positive bonding antara orangtua dengan anak. Dengan kegiatan mendongeng kerekatan hubungan emosi antara anak dengan orangtua dapat tebangun optimal.

Namun, belum semua orang tua menyadari betapa pentingnya kegiatan mendongeng untuk putra-putri mereka. Tidak hanya orang tua, guru, terutama guru di tahapan pendidikan dasar seperti PAUD, SD, dan SMP, juga perlu memahami pentingnya manfaat mendongeng bagi siswa/siswi mereka.

Seperti yang diungkapkan oleh Rahmah Setiawati, selaku ketua panitia kegiatan, bahwa melalui kegiatan Festival Literasi #2 tersebut, Rumah Kreatif Wadas Kelir juga ingin menumbuhkan kesadaran pada khalayak tentang manfaat mendongeng bagi anak-anak Indonesia.

Hal yang menarik, ternyata gelaran Festival Literasi #2 tersebut tidak hanya dikunjungi oleh calon-calon peserta yang ingin mengikuti lomba mendongeng. Beberapa orang tua yang sedang mempelajari teknik mendongeng untuk mendongengi putra-putrinya di rumah juga datang untuk mencari referensi.

“Biasanya belajar di Youtube aja. Eh, mumpung di sini ada lomba mendongeng, pasti banyak jagoan tampil. Bolehlah kami curi ilmunya,” tutur Bunda Hera yang datang dengan putra dan suaminya, khusus untuk melihat dan belajar teknik mendongeng dari para peserta.

Hal tersebut tentu disambut baik oleh pihak Rumah Kreatif Wadas Kelir. Sebab, Rumah Kreatif Wadas Kelir memang membuka diri sebagai tempat masyarakat belajar dan berbagi. Semoga dengan gelaran tersebut, masyarakat semakin sadar dan mencintai kegiatan mendongeng. Cita-cita sederhana yang ingin diwujudkan oleh Rumah Kreatif Wadas Kelir adalah, setiap malam di setiap rumah warga terdengar seorang ibu atau ayah yang sedang mengantar anaknya tidur dengan mendongeng. Sebab, dongeng mengandung banyak informasi baru bagi anak. Hal ini menjadikan anak senang terhadap pengetahuan, dan anak akan membangun persepsi yang positif tentang sebuah buku. Dongeng dapat pula menjadi metode penanaman moral bagi anak. Banyak sekali pesan moral yang dapat diajarkan kepada anak melalui dongeng, tanpa mereka merasa sedang diajari atau dinasehati.

 

ENDAH KUSUMANINGRUM

 Relawan Pustaka Wadas Kelir & Mahasiswa Pascasarjana Universitas Muhammadiyah Purwokerto

 

 

 

PRIORITAS DAN HARAPAN YANG MEMBUATNYA MENJADI YANG TERBAIK

dibaca normal:3 menit

Rumah Kreatif Wadas Kelir, Breefing menjadi pertemuan santai saya bersama bunda-bunda Kelompok Bermain (KB) Wadas Kelir. Seperti biasanya, pukul 09.30 WIB Taman Bacaan Masyarakat (TBM) Wadas Kelir menjadi tempat kami untuk mempersiapkan kegiatan untuk mengajar anak-anak esok hari.

Literasi menjadi pengawal kami untuk memeroleh pengetahuan baru tentang PAUD. Literasi yang diisi oleh Bunda Aerin menjadi pengawal semangat bunda-bunda memelajari tentang metode Montessori. Ya, ada dua hal yang selalu saya dapatkan dari pertemuan dengan bunda-bunda ini, ide dan ketakjuban.

Ide yang saya dapatkan adalah dari literasi dan pengalaman bunda-bunda saat mengajar sebelumnya. Cerita bagaimana anak-anak mengikuti kegiatan dan kesulitan bunda-bunda dalam mengajar. Itu yang membuat saya mengangguk-angguk dan memikirkan solusi dari tiap pengalaman bunda-bunda. Memaksa saya untuk selalu bisa mencarikan solusi terbaik yang harus solutif [walau sebenarnya saya yang sedang belajar dari semua bunda].

Ada satu kalimat yang membuat kacamata saya berembun, “Saya pun punya banyak pekerjaan, namun saat breefing, ya harus dihentikan dulu. Ini hanya soal proritas, mau diprioritaskan atau tidak. Saya mencoba untuk selalu ikut untuk PAUD Kita”

Rasa memiliki yang dibuktikan dari kalimat ini membuat saya terharu. Ternyata, memang Bunda Chamdi pantas untuk menjadi bunda KB Wadas Kelir. Sosok Bunda Chamdi di mata saya memang sangat menginspirasi. Wanita yang mempunyai tiga ini, masih bersekolah di PAKET C setara SMA di Wadas Kelir.

Semangatnya untuk belajar dan mengajar menjadikan saya tak boleh mengeluh. Seorang ibu rumah tangga yang sekaligus mengelola mushola ini selalu mendukung kegiatan yang ada di Wadas Kelir. Beliau selalu ikut serta di dalam kegiatan yang kami adakan. Bukan hanya dukungan tenaga, namun menyediakan tempat dan makanan tak jarang beliau lakukan.

Tak berbeda dengan bunda Chamdi, guru yang selalu rajin membaca dan membacakan buku ke anak-anak ini selalu menjadi semangat saya saat rasa malas mulai datang. Bunda Beti, beliau selalu dipanggil oleh anak-anak. Bunda Beti mengajar juga di KB Wadas Kelir. Wanita yang selalu memperhatikan tiap kali ada orang yang berbicara di depannya adalah sosok bunda yang selalu di cari anak-anak kelas Bintang.

Sosok keibuannya yang selalu sabar saat mengajar selalu jadi idola saya saat di kelas. Bunda Beti selalu menunjukkan dirinya ingin belajar. Ia juga salah satu warga Paket C di Wadas Kelir. Semangatnya saat berangkat membawa anaknya ke kelas dengan berbagai aktivitasnya tak menyurutkan semangatnya untuk tetap berangkat dan tetap fokus memperhatikan saat pelajaran.

“Suami saya selalu bilang, kamu jangan sampai keluar dari PAUD. Biar kamu bisa belajar dari relawan. Saya pun manggut-manggut. Saya juga senang bisa ngajar di PAUD. Saya jadi banyak pengalaman dan sedikit-sedikit bisa mendidik anak saya biar ketularan kaya relawan,” tutur Bunda Beti menimpali perkataan Bunda Chamdi sambil tersenyum bahagia.

Kalimat ini membuat saya tersenyum lebar di depan bunda Beti dan saling tengok dengan Iyung Dian, istri Pak Guru. Ternyata ada harapan besar yang diinginkan oleh Bunda Beti dan keluarganya. Ini bagian ketakjuban yang selalu saya dapatkan. Rasa syukur yang mendalam bagi saya menjadi relawan di Wadas Kelir. Tak pantas rasanya, keluh kami utarakan pada mereka. Ini memang yang selalu kami katakan pada warga. Pak Guru dan relawan selalu menunjukkan semangat pada warga untuk istikomah membangun Wadas Kelir.

Dua bunda ini, salah satu bunda yang menjadi bunda terbaik di bulan Februari. Mereka menunjukkan keseriusan untuk memajukan Wadas Kelir.

 

PRIORITAS DAN HARAPAN

Jurnal relawan pustaka yang menjadi kegiatan literasi untuk guru KB Wadas Kelir, selalu dikumpulkan oleh keduanya. Tugas sebagai relawan pustaka hampir semuanya terpenuhi. Mereka bunda-bunda yang hebat. Tak hanya membaca dan membacakan buku ke anak-anak, namun menulis pengalaman anak dan pengalamannya sendiri menjadi aktivitas mereka sehari-hari. Relawan ingin mengapresiasinya dengan memberikan dua hadiah untuk dua bunda yang mendapatkan skor tertinggi di tugas relawan pustaka. Bunda Chamdi dan Bunda Beti menjadi bunda terbaik di bulan ini. Prioritas dan harapanlah yang membuatnya selalu bersemangat. Setidaknya, ini bagian dari mimpi kami. Semoga menginspirasi!

 

TITI ANISATUL LAELY

Relawan Pustaka Wadas Kelir dan Mahasiswa Pascasarjana UIN Sunan Kalijaga Yogyakarta

RUMAH KREATIF WADAS KELIR DIGANDENG IPPNU PURBALINGGA SAMBUT HARLAH DENGAN MUNCULKAN KESADARAN TOLERANSI PADA REMAJA MELALUI LITERASI

dibaca normal:3 menit

Tidak hanya bergerak di lingkup sendiri, Rumah Kreatif Wadas Kelir bekerja menghidupkan literasi ke berbagai penjuru. Salah satunya adalah dengan menjadi mitra bagi organisasi-organisasi yang bergerak untuk menumbuhkan budaya literasi di masyarakat.

 

IPPNU Purbalingga sambut harlah IPNU yang ke-64 dan IPPNU ke-63 dengan serangkaian lomba, di antaranya adalah lomba penulisan esai. Lomba tersebut mengangkat isu toleransi dan kehidupan multikultural di Indonesia. Menyasar para generasi muda, yaitu siswa tingkat SLTA, lomba tersebut diikuti kurang lebih oleh 100 siswa se-Purbalingga.

“Dewasa ini, kita melihat banyak sekali pergolakan di daerah-daerah hingga kota-kota besar di Indonesia, salah satu hal yang mendasarinya adalah sikap yang anti toleransi. Saya sangat bersyukur, Purbalingga lewat IPPNU berusaha membangkitkan gairah kaum muda bicara soal toleransi. Semoga dengan upaya-upaya seperti ini, generasi ke depan lebih sadar dan peduli akan pentingnya nilai toleransi dalam kehidupan yang amat heterogen, terutama di Indonesia,” tutur Dyah Hayuning Pratiwi, Wakil Bupati Purbalingga yang turut hadir membuka acara puncak pra-harlah tersebut.

Sabtu, 10 Maret 2018, bertempat di Dinas Perpusarda Kabupaten Purbalingga, acara puncak pra-harlah yang dihelat oleh IPPNU Kabupaten Purbalingga digelar. Puncak acara pra-harlah tersebut adalah presentasi karya tulis oleh 10 besar peserta lomba esai.

Seminggu sebelumnya, seratusan naskah esai tulisan siswa-siswi SLTA se-Kabupaten Purbalingga dikurasi oleh tim juri dari Rumah Kreatif Wadas Kelir, yaitu Heru Kurniawan, Umi Khomsiyatun, dan Endah Kusumaningrum. Rumah Kreatif Wadas Kelir dipercaya sebagai sedalam seleksi naskah hingga penentuan juara. Dari keseratus naskah tersebut dipilih sepuluh naskah yang dianggap paling layak untuk selanjutnya dipresentasikan di hadapan juri.

Kecenderungan umum yang dilihat oleh tim juri dalam proses kurasi naskah adalah teknik penulisan esai yang masih kurang tajam. Tema toleransi yang diangkat oleh panitia cenderung dimaknai secara lugas, sehingga tulisan yang dihasilkan selalu berbicara tentang toleransi secara teoretis, belum pada representasi bacaan dan pandangan penulis tentang isu toleransi. Selain itu, masih banyak sekali kesalahan ejaan dan tata tulis dalam esai.

Namun, hal-hal semacam ini masih amat dimaklumi oleh juri melihat para peserta merupakan siswa SLTA yang notabenenya masih berproses dan belajar menuliskan gagasan.

Beruntung, sepuluh naskah terbaik yang terpilih menjadi angin segar yang menghadirkan gagasan dan mencerminkan pemikiran dari para generasi muda di Purbalingga mengenai isu toleransi.

Tulisan Millatina Hanaul Azkiya contohnya, memotret isu toleransi dari sudut pandang yang dekat dengan kehidupannya sebagai remaja. Dalam esainya, ia mengulas tentang perdebatan panjang yang selalu terulang setiap tahun ketika menyambut tahun baru. Teknik penulisan esai yang ringan dengan cara membuka esai melalui cerita pengalaman merupakan hal yang ‘segar’ dan menggugah pembacanya.

Tulisan lain yang juga dianggap layak maju presentasi adalah tulisan Tania Rahayu, yang akhirnya keluar sebagai juara 1. Tulisan tersebut merepresentasikan ketajaman sudut pandang penulisnya. Banyaknya referensi dan data-data empiris yang disuguhkan oleh Tania membuatnya berhasil meyakinkan juri atas gagasannya tentang “Resolusi Toleransi di Indonesia”.

Bekerja sama dengan Wadas Kelir Publisher, esai-esai karya peserta lomba tersebut nantinya akan diterbitkan dalam sebuah antologi. Dituturkan oleh Ketua IPPNU Kabupaten Purbalingga, Mamdudatun Afriani, bahwa geliat literasi dalam organisasi IPPNU harus terus berkembang. Penerbitan buku tersebut diharapkan jadi penanda momentum dan artefak literasi yang ditinggalkan oleh pengurusan periode itu, agar terus berkembang dan dijadikan contoh periode-periode selanjutnya.

Aziz Aneko Putro, selaku koordinator lomba esai tersebut menyampaikan ucapan terima kasih atas kerja sama Rumah Kreatif Wadas Kelir dengan IPPNU Kabupaten Purbalingga. “Saya yakin, melalui literasi kita juga dapat merawat kebhinekaan. Salah satunya dengan lomba ini dan rencana kita menerbitkannya menjadi buku yang bisa dibaca oleh masyarakat luas!” tuturnya mengantar kepulangan tim Rumah Kreatif Wadas Kelir dari lokasi acara.

ENDAH KUSUMANINGRUM

Relawan Pustaka Wadas Kelir & Mahasiswa Pascasarjana Universitas Muhammadiyah Purwokerto

BERBAGI MOMEN SPESIAL DI AWAL BULAN UNTUK PAUD WADAS KELIR DAN TAMAN BERMAIN KITA PURWOKERTO

dibaca normal:3 menit

Sambutan awal bulan, tepatnya 1 Maret 2018, PAUD Wadas Kelir mendapatkan bantuan APE (Alat Permainan Edukatif) dari Taman Bermain Kita Purwokerto. Seperti salah satu visi Wadas Kelir yaitu berbagi, Taman Bermain (TB) Kita tenyata juga mempunyai program kegiatan berbagi untuk hari ulang tahun TB Kita.

Kegiatan berbagi yang menjadi agenda di bulan Maret untuk TB Kita menjadi momen spesial untuk anak-anak PAUD Wadas Kelir dan TB Kita. Terpaut usia yang cukup jauh, 15 tahun TB Kita berdiri dan baru dua tahun belum genap PAUD Wadas Kelir yang melatar belakangi kegiatan ini dIlaksanakan di PAUD Wadas Kelir.

Saat usai pembelajaran awal, tepatnya pukul 09.00 WIB anak-anak istirahat dan makan bersama di teras PAUD. Lewat dua mobil yang ramai terdengar suara anak-anak. Kami menengok ke arah jalan dan terlihat ada beberapa tangan-tangan kecil yang melambai. Bunda-bunda PAUD Wadas Kelir memberi sambutan salam dan senyuman hangat pada tiap anak berseragam biru yang menuju ke ruang kegiatan kami,

Pusat Belajar Masyarakat Wadas Kelir. Anak-anak TB Kita menyambut balik dengan mencium tangan bunda-bunda dan terlihat mata yang berbinar melihat gambar-gambar dinding PBM Wadas Kelir yang penuh dengan gambar-gambar edukatif. Anak-anak diarahkan untuk masuk PBM dan sembari beristirahat Bunda Anis dan Bunda Airin menyambut kedatangan anak-anak dengan perkenalan. Anak-anak antusias mengenalkan diri masing-masing dan mengenalkan ustadz dan ustadzahnya.

Lima belas menit kemudian, datanglah anak-anak dari PAUD Wadas Kelir yang telah usai beristirahat. Tatapannya langsung terfokus pada Alat Permainan Edukatif (APE) dan buku  yang berjumlah 3 kardus besar dan wajah sumringah anak-anak langsung mengerumuni APE dan buku yang dibawa anak-anak TB Kita. Bunda Wafa Aerin mengkoordinir anak-anak untuk masuk dan berkenalan dengan tiap anak yang datang dari TB Kita.

Untuk pertama kalinya anak-anak PAUD Wadas Kelir berkenalan dengan kelompok bermain lain dalam satu acara yang diadakan PAUD Wadas Kelir. Terlihat rasa senang, malu, heran, dan bingung namun ingin main bersama dari keduanya. Anak-anak saling pandang dan beberapa anak langsung saling berbaur. “Mau main di sini yang lama, asyik ada teman baru,” pendapat Afifah, salah satu anak TB Kita.

Acara yang disambut langsung oleh Founder Rumah Kreatif Wadas Kelir yang sekaligus sebagai ketua komite PAUD Wadas Kelir, diawali dengan ucapan terimakasih atas kedatangan dan kegiatan yang sangat bermanfaat bagi anak. “Terimakasih atas kedatangannya dan kegiatan berbagi yang memang perlu diajarkan kepada anak sejak dini, karena jiwa sosial yang tinggi yang dibentuk sejak kecil akan membentuk mental anak yang suka berbagi,” tutur Heru Kurniawan. Sambutan dari salah satu ustadzah menuturkan, “Kegiatan ini memang rutin dilakukan setiap tahun dan atas rekomendasi dari Pak Karso selaku pegawai di TB Kita tentang PAUD Wadas Kelir yang merupakan PAUD yang sedang merintis dan mempunyai perkembangan yang bagus, pihak pengelola memutuskan untuk ke PAUD Wadas Kelir. Saat kami survey di hari sebelumnya, ternyata memang kegiatannya cukup banyak dan mempunyai tempat yang representatif.”

Kegiatan penyambutan dan diakhiri dengan penyerahan APE diikuti oleh 35 siswa berserta 7 ustadz dan ustadzah dari TB Kita dan 40 siswa  beserta 8 bunda dari PAUD Wadas Kelir dengan penuh kehangatan. Perkenalan anak-anak dari TB Kita, bermain bersama, dan berbagi yang diwakili oleh dua orang dari masing-masing sekolah diakhiri dengan tepuk tangan. Foto bersama APE dan ucapan terima kasih dari anak-anak PAUD Wadas Kelir menutup perjumpaan pagi itu. Anak-anak mengantar sampai ke halaman.

Binar mata anak-anak PAUD Wadas Kelir menyambut APE dan buku yang dibawa oleh TB  Kita membuat anak-anak semakin bersemangat untuk berangkat sekolah.

 

TITI ANISATUL LAELY

Relawan Pustaka Wadas Kelir

 

 

 

 

 

 

 

MENGENAL SOSOK PAHLAWAN MELALUI OUTING CLASS PAUD WADAS KELIR KE PEMADAM KEBAKARAN

dibaca normal:2 menit

Rumah Kreatif Wadas Kelir, “Pahlawan adalah orang yang mau berkorban untuk orang lain,” kata Snerayuza (Nera), salah satu anak berumur lima tahun di PAUD Wadas Kelir, yang ditanya arti pahlawan oleh petugas pemadam kebakaran. Dua jempol langsung ditujukan ke Nera oleh petugas.

Pengenalan sosok pahlawan dari profesi pemadam kebakaran menjadi awal pengenalan tentang profesi pemadam kebakaran dan fungsi dari mobil pemadam kebakaran. Anak-anak memperhatikan dengan saksama apa yang dijelaskan oleh petugas. Penjelasan yang menarik dan pemakaian beberapa baju pemadam kebakaran membuat anak semakin fokus dengan petugas yang sedang mempraktikkan saat terjadi kebakaran. Diselingi dengan gelak tawa anak-anak yang mengatakan bajunya seperti robot membuat suasana lebih menyenangkan.

Saat anak ditanya tentang pekerjaan pemadam kebakaran semua menjawab tahu. Read Aloud yang dilakukan bunda-bunda PAUD Wadas Kelir, telah tampak dari jawaban anak-anak. Anak-anak sudah tahu profesi pemadam kebakaran dan cara memadamkan api saat terjadi kebakaran. Anak-anak malah bertanya tentang pakaian dan benda-benda yang mudah terbakar sebagai pembuktian. Saat mengenali secara langsung, anak-anak menjadi sangat antusias dan ingin mencobanya.

Petugas pemadam kebakaran mengajak anak untuk mencoba baju yang dipakai oleh pemadam kebakaran, cara menyemprotkan air pada api hingga padam, dan menaiki mobil pemadam kebakaran. “Asyik banget, Bun. Mau jadi pemadam kebakaran,” celetuk salah satu anak saat mencoba memadamkan api. Anak-anak perempuan yang cenderung takut, akhirnya mau mencoba untuk menjadi seorang pemadam kebakaran, bahkan ada yang sangat berani untuk mau memadamkan apinya sendiri dan memakai baju pemadam kebakaran.

Kegiatan outing class yang dilaksanakan Sabtu, 7 Maret 2018 begitu mengesankan untuk anak-anak PAUD Wadas Kelir. Diakhiri dengan bermain, makan bersama dan memberi makan ikan di Balai Kumambang anak-anak mengikuti semua kegiatan dengan riang gembira. “Kegiatan ini untuk menciptakan keakraban anak-anak dan bunda-bundanya dan mengajarkan anak mandiri karena orangtua tidak ikut. Perjalanan dari Wadas Kelir ke Dinas Pemadam Kebakaran yang ditempuh sekitar 30 menit dilalui dengan nyanyi bersama. Anak-anak terlihat mengikuti dengan antusias dan memberi tanggapan positif tentang sosok pahlawan seorang pemadam kebakaran,” jelas Dian Wahyu Sri Lestari, kepala PAUD Wadas Kelir.

Kalimat terakhir yang paling diingat anak-anak saat meninggalkan dinas pemadam kebakaran ialah “Pantang pulang sebelum padam”. Penjelasan yang disampaikan oleh petugas pemadam kebakaran untuk mengedukasi tentang api yang bersahabat dan tidak bersahabat menjadi oleh-oleh untuk orangtua.

Titi Anisatul Laely

Relawan Pustaka Wadas Kelir

RUMAH KREATIF WADAS KELIR JADI DESTINASI BELAJAR JURNALISTIK SISWA MAN 2 BANYUMAS

dibaca normal:4 menit

Rumah Kreatif Wadas Kelir, Sabtu, 24 Februari 2018 saat sore dihiasi hujan, 30-an siswa dari MAN 2 Banyumas datang ke Rumah Kreatif Wadas Kelir dengan naik angkutan kota. Ke-30 siswa penuh semangat itu adalah tim jurnalistik “Bunaken”. Bunaken adalah salah satu cabang ekstrakurikuler di MAN 2 Banyumas, yaitu ekstrakurikuler jurnalistik.

Ditemani guru pembimbingnya, Bu Lilis, kawan-kawan Bunaken mengikuti pelatihan jurnalistik dari tim relawan RKWK. Pelatihan sore itu diisi oleh Kak Endah dan Kak Anis.

“Siapa yang bercita-cita menjadi jurnalis?” tanya Kak Endah di awal sesi pelatihan. Kak Endah yang juga merupakan guru ekstrakurikuler jurnalistik di beberapa sekolah di Purwokerto menyampaikan materi  tentang dasar-dasar jurnalistik sekolah. Sebagian besar peserta pelatihan tersebut adalah anggota baru di tim Bunaken, sehingga materi dasar seperti mengenal jenis-jenis produk jurnalistik sekolah dirasa tepat untuk disampaikan pada mereka. Selain itu, Kak Endah juga menyampaikan tentang teknik menulis berita kekinian.

Menurut Kak Endah, menjadi jurnalis sejak bangku sekolah membuka banyak peluang bagi para siswa untuk belajar banyak hal, seperti menulis berita, menulis feature, editing, lay-out, bahkan menulis sastra.

Banyak sastrawan Indonesia yang juga menjadi seorang jurnalis, atau sebaliknya, seperti Seno Gumira Ajidharma. Nama sastrawan besar itu dicontohkan agar teman-teman terus terpacu semangatnya belajar dan mendalami dunia jurnalistik.

Contoh lain tokoh jurnalis yang sukses karena belajar jurnalistik sejak di bangku sekolah adalah Andi F. Noya. Hari ini siapa tidak kenal pembawa acara “Kick Andy” tersebut. Teman-teman Bunaken semuanya pernah menonton acara tersebut.

Menjadi jurnalis di era serba teknologi seperti dewasa ini tidak melulu berkutat pada kegiatan menulis berita. Menjadi reporter seperti Andi F. Noya atau Najwa Shihab juga dapat dilakukan oleh teman-teman Bunaken dengan cara sederhana, seperti membuat akun Youtube lalu mengisinya dengan konten-konten seputar kegiatan sekolah, berita sekolah, atau hal-hal lain yang menarik. Bahkan, jika belajar dari pengalaman para youtuber muda, mereka bisa memperoleh penghasilan yang lumayan dari membuat konten-konten kreatif di akun mereka. Ibarat peribahasa, sekali dayung dua tiga pulau terlampaui.

“Materinya keren banget. Ngebuka wawasan aku yang awalnya bingung kenapa milih ekskur jurnalistik. Sekarang aku ngga bingung lagi. Kebetulan aku nggak andal di nulis, tapi aku suka banget edit-edit video, Kak!” tutur Azizah, salah satu anggota baru di Tim Bunaken.

Sedang Kak Anis yang merupakan alumni MAN 2 Banyumas angkatan 2012 menyampaikan motivasi untuk adik-adik dari almamaternya. Kak Anis yang lulus dari MAN 2 Banyumas itu adalah seorang mahasiswa pascasarjana yang mendapat beasiswa dari pemerintah. Selain itu, ia juga penulis buku yang sangat produktif. Dituturkan oleh Kak Anis bahwa kecintaannya pada dunia menulis dipupuk sejak bersekolah di MAN 2 Banyumas, yaitu dengan aktif menjadi pengurus mading sekolah. Meski kala itu madding bukanlah ekstrakurikuler favorit, Kak Anis tetap istiqomah belajar dan berkarya menyalurkan bakatnya.

“Hari ini buku-buku saya ada di Gramedia. Semua itu tidak lepas dari peran kegiatan-kegiatan saya di sekolah dulu, seperti membuat mading dan mengikuti lomba-lomba. Tidak cukup sampai di situ, saya terus dan terus belajar menulis. Saya tidak malu mengirimkan karya-karya saya ke koran-koran,”  tutur Kak Anis ketika memberikan motivasi pada adik-adik MAN 2 Banyumas.

Menurut Kak Anis, salah satu kelemahan siswa atau remaja yang belajar menulis adalah malu menunjukkan karyanya ke publik. Padahal hal tersebut merupakan salah satu jalan yang baik untuk belajar. Akan ada kritik dan saran yang membangun dari para pembaca. Kita dapat memanfaatkan mading atau produk jurnalistik lainnya di sekolah untuk mulai menunjukkan karya-karya tersebut.

“Kalau dimuat di koran atau media massa lain ada banyak sekali keuntungan yang kita dapat. Satu, semangat menulis jadi bertambah. Dua, orangtua, guru, dan teman-teman akan bangga pada kita. Tiga, dapat honor. Hehe,” tutup Kak Anis yang juga merupakan penulis aktif di media masa daring tersebut.

“Senang sekali rasanya datang ke sini. Tidak salah pilih. Relawan di sini menyemangati siswa-siswa kami dan memberikan gambaran yang jelas seperti membuat video Youtube. Saya yakin hal itu mungkin belum pernah terpikirkan oleh siswa sebelumnya,” tutur Bu Titis dengan raut wajah bahagia.

“Bangga, Kak, ternyata alumnus MAN 2 Banyumas ada yang sehebat Kak Anis. Ingin meniru prestasi-prestasi Kak Anis. Harus bisa seperti Kak Anis, minimal menghidupkan jurnalistik di sekolah tercinta!” kata Mughni Nur Chakim yang merupakan wakil ketua tim jurnalistik Bunaken.

Sore itu ditutup dengan foto bersama. Semoga teman-teman yang belajat di RKWK akan selalu terkenang kehangatan sore itu. Selamat belajar!

Endah Kusumaningrum

Relawan Pustaka Wadas Kelir

KEMERIAHAN WISATA BACA KEGITAN WADAS KELIR FESTIVAL LITERASI #1 BACA PUISI

dibaca normal:3 menit

Rumah Kreatif Wadas Kelir, Minggu pagi, 25 Februari 2018 pukul 07.00 WIB Pusat Belajar Masyarakat (PBM) Wadas Kelir terlihat tak seperti biasanya. Ada deretan kursi yang berjajar rapi, panggung sederhana, tarub yang berdiri tegak dan gerobak baca yang dipenuhi puluhan buku.

Perlahan para peserta lomba baca puisi berdatangan dengan naik sepeda motor dan mobil yang diparkir di area Wadas Kelir. Para peserta siswa SD dan SMP yang didampingi guru dan orang tua pun masuk ke PBM Wadas Kelir, yang dijadikan tempat kegiatan. Mereka segera  menuju meja registrasi lomba baca puisi yang dijaga oleh remaja Wadas Kelir. Para peserta pun melakukan pendaftaran ulang untuk mendapatkan nomor undian.

Menurut Heru Kurniawan, Pimpinan Rumah Kreatif Wadas Kelir (RKWK), kegiatan diadakan  untuk memenuhi kerinduan warga dan guru-guru serta orangtua yang sering mengikuti kegiatan di RKWK, tapi karena berbagai hal selama dua tahun lebih belum pernah menyelenggarakan lomba. Untuk itu pada tahun ini kegiatan lomba dapat direalisasikan.

Berawal dari rapat singkat seminggu lalu, relawan menginisiasi adanya Festival Literasi #1 di Wadas Kelir. Festival Literasi yang diawali dengan lomba baca puisi untuk siswa SD dan SMP. Dan pertama kali diadakan, jumlah peserta lomba sangat banyak. Ada 42 peserta kategori SD/MI dan 30 peserta kategori SMP/MTs  yang akan membacakan puisi wajib dan bebas di depan para dewan juri.

“Ini di luar prediksi. Saya dan relawan sebenarnya hanya ingin mengadakan lomba sederhana yang paling hanya 20 peserta di setiap kategori. Namun, ternyata animo masyarakat terhadap kegiatan di Wadas Kelir dan keikutsertaan di bidang puisi sudah baik. Ada peserta yang dari luar Kabupaten Banyumas pun ikut hadir untuk menjadi peserta lomba,” tutur Founder Rumah Kreatif Wadas Kelir.

Kegiatan ini dihadiri oleh 150-an orang dan acaranya berjalan dengan baik. Wafa Aerin, ketua panitia pelaksanaan Festival Literasi #1 Lomba Baca Puisi mengatakan tidak ada kendala dalam pelaksanaan. Kegiatan yang dimulai pukul 08.00 WIB dengan literasi sebagai sambutan khas Wadas Kelir diikuti dengan antusias oleh peserta. Di awali dengan menyanyikan lagu Indonesia Raya tiga stanza dan literasi sebelum acara dimulai.

Pembacaan puisi yang berlangsung dua jam di akhiri dengan pentas dari anak-anak Wadas Kelir dan pengumuman juara lomba. Untuk kategori SD/MI dimenangkan oleh Muhammad Basith dari SD Harapan Bunda Purwokerto sebagai juara I, Lugas Budhi dari SD Negeri 2 Cikidang sebagai juara II, dan Andini Nurul Fadilah sebagai juara III dari SD Negeri 4 Karangklesem.

Kategori SMP/MTs, juara I diraih oleh Syarifah Nabila dari SMP Al-Irsyad Purwokerto, Juara II Hanifah Shofi Nurjanah, dan Juara III Nadia Islami dari SMP Al-Irsyad Purwokerto. Selamat kepada pemenang, dan semoga terus berkarya melalui pembacaan puisi yang baik.

“Saya berharap akan ada lagi kegiatan yang bagus seperti ini dari Wadas Kelir, anak saya sangat senang ikut lomba di sini, bisa membaca buku banyak di gerobak baca, mengikuti lomba dan mendapatkan teman baru,” tutur Ibu Aisah, salah satu orangtua peserta lomba kategori SD/MI seusai perlombaan.

Tanggapan dari Ibu Aisah dan beberapa guru serta anak-anak yang datang akan segera direalisasikan di bulan Maret dengan Festival Literasi #2. Tujuan festival literasi yang diwujudkan untuk meningkatkan budaya baca masyarakat yang diselenggarakan oleh RKWK, agaknya membuat anak-anak dan orangtua/guru pendamping menyukai membaca dengan suguhan literasi yang disajikan di Wadas Kelir. Kami berharap akan lebih baik lagi dari kegiatan awal ini.

Dengan kemasan acara yang sederhana berbasis wisata, maka seluruh siswa, orang tua, dan guru yang ikut serta dalam kegiatan ini terkesan. Sangat mengapresiasi Wadas Kelir yang kreatif dan mampu tumbuh menjadi pusat pendidikan dan kreativitas yang unik. Dan Festival Literasi #1 Baca Puisi ini menjadi momen penting untuk terus mengadakan kegiatan yang berbasis literasi secara berkelanjutan.

 

Titi Anisatul Laely

Relawan Pustaka Wadas Kelir

ELEX FEST JADI MOMEN ISTIMEWA RUMAH KREATIF WADAS KELIR DALAM MENJALIN KEAKRABAN DENGAN REDAKSI ELEX MEDIA KOMPUTINDO

dibaca normal:3 menit

Salah satu hal yang membuat kami tak henti bersyukur adalah Rumah Kreatif Wadas Kelir semakin dikenal masyarakat luas karena manfaatnya.

–Heru Kurniawan, Founder RKWK

Ketika awal berdirinya Rumah Kreatif Wadas Kelir (RKWK), para relawan tidak pernah mengira dalam waktu lima tahun perjalanannya nama RKWK akan dikenal hingga ke tingkat nasional. Hal itu mulai dirasakan para relawan sejak RKWK dianugerahi beberapa penghargaan tingkat nasional, baik dari lembaga pemerintah maupun nonpemerintah.

Seperti Sabtu (17/02/2018) lalu, RKWK diberi kehormatan oleh penerbit Elex Media Komputindo (Gramedia Grup) untuk berpartisipasi dalam rangkaian acara #ELEXFEST. Acara yang dihelat di Bentara Budaya Jakarta itu adalah rangkaian perayaan ulang tahun Elex Media Komputindo yang ke-33. RKWK yang diwakili oleh Heru Kurniawan (founder) dipercaya menjadi salah satu pemateri dalam diskusi panel bertema “Buku sebagai Bisnis Kreatif”.

Dalam panggung diskusi panel tersebut, RKWK bersama Suwandi S. Brata (Publishing Director Kompas Gramedia), Oda Sekar Ayu (Penulis Novel), Ryan Filbert (Penulis Buku Investasi dan Founder Stocklab Board Game), dan Yahya Muhaimin (Penggerak Industri Kreatif) berbicara mengenai peran masing-masing tokoh dalam upayanya menggerakkan bisnis ekonomi kreatif di bidang perbukuan.

“RKWK memiliki sebuah formulasi yang kami beri nama literapreneur,” tutur Heru Kurniawan ketika membuka pembicaraannya di panggung diskusi panel tersebut. Para peserta diskusi terlihat antusias mendengarkan penjelasan Heru Kurniawan terkait strategi industri kreatif perbukuan yang dikelolanya bersama RKWK. Hal itu dibuktikan dengan antusiasme audien yang bertanya soal literapreneur dengan lebih mendalam.

Sejak tiga tahun terakhir, buku-buku karya relawan RKWK memang telah diterbitkan oleh Elex Media Komputindo. Baik buku-buku aktivitas anak, buku kumpulan dongeng, hingga buku-buku teori popular seperti buku parenting. Animo masyarakat pada buku-buku relawan RKWK terbitan Elex Media bisa dibilang sangat baik. Rata-rata buku-buku tersebut sold out di toko buku Gramedia. Para relawan penulis buku itu harus semakin sering berinteraksi dengan pihak Elex Media. Sejak saat itu lah keakraban antara relawan penulis buku dengan para editor Elex Media terjalin, hingga merasa seperti keluarga.

Tidak hanya dengan Penerbit Elex Media, dengan penerbit lain dari Gramedia Grup seperti Bhuana Ilmu Populer (BIP) keakraban serupa pun terjalin. Saat ulang tahun ke-25 Penerbit BIP yang menghadirkan konsep “Writers Gathering” RKWK pun dipercaya menjadi salah satu pembicara dalam diskusi panelnya. Keakraban dan rasa kekeluargaan inilah yang agaknya membuat para relawan penulis buku merasa betah dan terus produktif menghasilkan karya-karya untuk para pembaca.

“Sebagai salah satu partner terbaik kami dari kota kecil bernama Purwokerto, kami berharap RKWK akan terus melahirkan penulis-penulis kreatif muda, yang buku-bukunya diterbitkan oleh kami,” tutur Agnes, salah satu chief editor Elex Media Komputindo yang menemui kami di penghujung acara.

Baik dari pihal Elex Media (Gramedia) maupun RKWK sangat berharap agar kerja sama yang baik itu tidak akan pernah terhenti. Sebab, seperti yang dikatakan Pramoedya Ananta Toer bahwa “Dengan menulis kita abadi”. Salam produktif!

 

ENDAH KUSUMANINGRUM

Relawan Pustaka Wadas Kelir

SENSASI WISATA MAHASISWA MANCANEGARA KE RUMAH KREATIF WADAS KELIR

dibaca normal:3 menit

RUMAH KREATIF WADAS KELIR, setiap siang, selepas anak-anak pulang sekolah, Pusat Belajar Masyarakat-Rumah Kreatif Wadas Kelir (PBM-RKWK) pasti ramai. Mereka ramai-ramai datang untuk meminjam dan mengembalikan buku, mewarnai, atau sekadar mendengar kisah yang di-read aloud oleh para relawan pustaka.

Namun siang itu, Sabtu 3 Februari 2019, ada yang berbeda. Anak-anak datang untuk menyambut tamu spesial, yaitu beberapa mahasiswa asing. Mereka datang untuk melaksanakan program Global Village, semacam program  pertukaran budaya dari negara masing-masing. Dalam kesempatan itu, sembilan mahasiswa asing datang dari Tiongkok (5 orang) dan Mesir (4 orang).

Beberapa bulan terakhir, RKWK memang menjalin kerja sama dengan AIESEC (basis Universitas Jenderal Soedirman), sehingga kegiatan serupa sering dilaksanakan. Seperti Desember 2017 lalu, RKWK kedatangan seorang tamu dari Ukraina. Setiap kali ada tamu asing, anak-anak di sekitar RKWK selalu antusias menyambut dan belajar bersama para tamu. Sebab, dengan belajar bersama para tamu, mereka merasa seperti diajak berkeliling dunia.

Siang itu tidak hanya anak-anak, warga sekitar juga ikut bergabung meramaikan acara Global Village yang dihelat selama lima jam. Para mahasiswa asing itu antusias memperkenalkan tentang negaranya masing-masing. Bahkan, kelompok mahasiswa dari China menyajikan demo masak.

Mereka memasak sejenis dimsum. Masing-masing anak yang ingin mencicipi harus lolos dari games yang dibuat oleh mereka, yaitu mengucapkan sebuah kata dalam bahasa China. Suasana semakin akrab terjalin. Anak-anak, remaja, dan warga pun antusias maju, bekerja keras mengerahkan kemampuannya untuk bisa mengucapkan satu kata bahasa China agar bisa mencicipi dimsum yang menggoda selera.

Dituturkan oleh Dini, seorang anak yang sempat mencicipi dimsum buatan para mahasiswa dari China, bahwa rasa dimsum itu mirip seperti siomay yang biasa ia makan. “Enak! Seneng bisa makan masakan orang China,” tuturnya tersenyum senang, mungkin ia merasa baru saja makan dimsum di China.

Tak hanya itu, kelompok mahasiswa dari Mesir juga tidak kalah heboh mencoba menarik perhatian anak-anak yang hadir. Mereka mengajarkan sebuah tarian khas Mesir. Anak-anak antusias meniru koreografinya, meski kadang mereka justru tertawa. Tertawa bersama ii yang kemudian membuat kehebohan yang menyenangkan bersama-sama.

Program Globab Village tersebut dilaksanakan dengan tujuan untuk saling memperkenalkan kebudayaan dari berbagai negara. RKWK dipilih sebagai rekan oleh AIESEC karena merupakan pusat pendidikan masyarakat yang merangkul semua lini. Mulai dari anak-anak, remaja, hingga orang tua.

“Pihak AIESEC berharap acara ini bisa memberikan wawasan tentang dunia pada masyarakat di Wadas Kelir,” tutur Akmal, ketua pelaksana kegiatan Global Village.

Acara serupa akan terus dilaksanakan di Wadas Kelir dengan harapan akan membuka wawasan luas tentang dunia, sehingga memacu semangat anak-anak, remaja, dan warga di sekitar RKWK untuk terus bercita-cita  tinggi.

“Paling tidak, dengan datangnya para mahasiswa asing itu, anak-anak RKWK akan termotivasi belajar bahasa Inggris dan ingin kuliah! Sebab, selain para relawan di RKWK, para tamu hebat itu lah yang menginspirasi anak-anak untuk terus belajar dan menjadi orang pintar,” tutur Syamsul Hidayat, seorang tokoh masyarakat di Wadas Kelir.

Heru Kurniawan, founder RKWK, menegaskan bahwa “RKWK akan selalu membuka pintu untuk semua yang ingin belajar dan berbagi di sini, apalagi tamu istimewa yang ingin belajar bersama itu dari luar negeri. Maka harus dihormati dan digali ilmu dengan budayanya, sehingga warga wadas kelir, sekalipun di kampung, bisa memiliki wawasan global yang bagus!”

Seperti pepatah yang kita kenal, kejarlah ilmu sampai ke China. Anak-anak RKWK harus berkeinginan menjelajahi negeri-negeri tempat ilmu-ilmu ditemukan dan berkembang.

[Liputan Endah Kusumaningrum]

 

 

 

PESAN PENTING LITERASI PARENTING DI LABSCHOOL PIAUD FTIK-IAIN PURWOKERTO

dibaca normal:3 menit

“Rumah Kreatif Wadas Kelir, terus mendapatkan kepercayaan dari masyakarat, sekolah, komunitas, dan pemerintah sebagai komunitas yang ahli di bidang pendidikan keluarga. Buku-buku Parenting hasil pemikiran dan praktik baik pendidikan keluarga di Wadas Kelir telah banyak terbit. Berbagai seminar, workshop, dan pelatihan dalam Pendidikan Keluarga banyak melibatkan Rumah Kreatif Wadas Kelir sebagai pemateri. Suatu kehormatan konsep dan pemikiran pendidikan keluarga Rumah Kreatif Wadas Kelir mulai digunakan oleh keluarga Indonesia

 

Kelompok Bermain (KB) Al-Azkia, yang merupakan Labschool Program Studi Pendidikan Islam Anak Usia DIni (PIAUD), Rabu, 7 Februari 2018, mengadakan kegiatan parenting untuk orang tua anak didik. Kegiatan Parenting yang rutin diselenggarakan setiap bulan ini selalu menghadirkan pakar dan akademisi pendidikan anak usia dini.

Dalam kegiatan parenting kali ini, menghadirkan pemateri Heru Kurniawan, M.A. dari Rumah Kreatif Wadas Kelir yang sekaligus pengajar PIAUD FTIK-IAIN Purwokerto, dan praktisi-akademisi pendidikan anak usia dini. Pada kegiatan parenting ini, Heru Kurniawan, M.A., menyampaikan materi tentang arti penting literasi, terutama membacakan buku untuk anak-anak usia dini.

Heru Kurniawan, M.A. menyampaikan bahwa anak usia dini adalah anak yang menjadikan alam bawah sadarnya sebagai basis belajar dalam menyerap dan memahami segala hal yang terjadi di sekelilingnya. Dengan alam bawah sadar anak menemukan dan mengembangkan eksistensi dan kemampuannya dengan baik melalui proses belajar bahasa anak usia dini itu tidak terstruktur, kompleks, dan impresif. Melalui alam bawah sadar inilah anak-anak usia dini belajar bahasa dengan dengan cepat.

Dari sinilah anak-anak usia dini cepat sekali memahami bahasa, untuk itu, usia 0-6 tahun merupakan masa terbaik bagi anak untuk belajar bahasa. Anak akan sekali cepat memahami dan menyerap bahasa dengan pola dan variasinya. Maka, orang tua harus intensif memberikan stimulasi lingkungan bahasa yang baik, salah satunya melalui membacakan buku.

Kenapa dengan membacakan buku? Karena kenyataanya semua anak usai dini, jika ditanya siapa yang ingin bisa membaca, pasti semuanya angkat tangan. Ini pertanda minat baca anak usia dini seratus persen sempurna. Tidak ada anak usia dini yang tidak ingin dan tidak minat dengan membaca. Maka, untuk mengembangkan minat ini yang sempurna ini, orang tua harus mulai intensif dengan membacakan buku pada anak-anak, agar minat membaca anak tetap terjaga dengan baik. dengan minat yang sempurna, maka tidak ada anak yang tidak suka dibacakan buku. Jika sejak kecil orang tua membacakan buku, maka jadilah anak-anak kita generasi yang suka membaca buku.

Jadi, jika kenyataan sekarang minat baca masyarakat kita rendah, sebab utamnya adalah pada orang tua. Orang tua sejak kecil tidak pernah membiasakan anak-anaknya untuk dibacakan buku. Melalui membacakan buku ini, tahapan anak-anak membaca buku akan dilalui dengan baik, yaitu tahap anak bermain dengan buku, tahap menirukan orang tua membaca buku, tahap mengenal gambar dan kata, dan tahap membaca buku dengan senang.

Maka, tidak ada jalan lain, untuk menciptakan anak-anak kita yang hobi membaca buku, semua harus dimulai dari kerelaan dan kesediaan orang tua dalam membacakan buku untuk anak-anak setiap hari. Untuk mendukung kegiatan membacakan buku ini, maka orang tua harus menciptakan lingkungan membaca di keluarga yang baik, yang bisa dilakukan dengan: menjadikan buku-buku berserak di rumah, sering memerintah anak untuk membaca atau dibacakan, memberikan contoh orang tua membaca, dan sering membacakan buku pada anak.

Dengan keempat penciptaan kondisi membaca ini di keluarga, maka kegiatan membacakan buku untuk anak-anak usia dini akan menjadi momen terbaik bagi anak. Anak-anak akan antusias jika dibacakan buku. Dari kebiasaan inilah, anak-anak kita kemudian akan senang dengan buku, yang kemudian anak aka cepat bisa membaca, dan akan hobi membaca. Kita akan menyaksikan anak-anak kita sebagai generasi pembaca buku yang membanggakan.

Orang tua murid sangat antusias dengan kegiatan parenting dengan materi ini. Semua orang tua mengungkapkan berbagai persoalan terkait dengan minat anak-anaknya terhadap buku, dan pemateri menjelaskan cara mengatasi persoalan tersebut dengan jelas dan menarik. Dalam diskusi terjadi komunikasi yang menyenangkan antara orang tua dengan materi.

Dan untuk mengatasi berbagai kendala orang tua yang mempunyai persoalan tidak memliki banyak buku di rumah, Ana Kurniawati, S.Pd.I., Kepala KB Al-Azkia menyatakan bahwa KB Al-Azkia bekerja sama dengan Rumah Kreatif Wadas Kelir akan menyediakan buku-buku bacaan yang bisa dipinjam oleh orang tua untuk mengembangkan kemampuan literasi anak-anak didik KB Al-Azkia.

Dan ke depannya, KB Al-Azkia dengan bekerja sama dengan Rumah Kreatif Wadas Kelir akan mengembangkan kegiatan belajar dan bermain yang berbasis kurikulum literasi. Sejak dari awal anak-anak akan dididik dan dikondisikan untuk ditingkatkan kemampuan literasi dasarnya melalui berbagai kegiatan literasi yang menyenangkan bagi anak.

Redaksi Wadas Kelir