Read Aload: Metode Mengembangkan Perilaku Prososial Anak

SAHABAT KELUARGA – Kemajuan teknologi dan informasi selain memberikan dampak positif bagi perkembangan anak dilain sisi sering kali menjadi penghalang bagi pertumbuhan dan perkembangan anak.

Media digital dan elektronik telah berhasil menarik perhatian kebanyakan anak Indonesia yang secara langsung dan tidak langsung memicu aktivitas keseharian mereka lebih terkontaminasi pada pemanfaatan media tersebut. Bahkan saat ini media ikut mengambil alih peran orang tua dalam mengembangkan kepribadian anak.

Lalu apakah hasil kepribadian anak yang dicetak oleh media menjadi lebih baik? Tentu saja tidak karena bagaimanapun orang tua adalah madrasah dan tempat belajar anak pertama dan utama. Akibatnya, banyak anak yang tumbuh dan berkembang tanpa mengenal moril ataupun rasa kepekaannya terhadap lingkungan disekitarnya. Mereka menganggap gadget adalah satu-satunya teman yang dapat mengerti dirinya, penolong saat susah dan pemberi kebahagiaan setiap waktu.

Menurut Dr. Muhammad Yaumi (2014: 155) dalam bukunya yang berjudul Pendidikan Karakter: Landasan, Pilar dan Implementasi menyatakan bahwa anak yang hidup di perkotaan memiliki kebiasaan menonton televisi, bermain video gameplay stasion, dan internet yang rasionya 19 kali berbanding satu kali berbicara dengan orang tua.

Belum lagi dengan permasalahan rendahnya minat baca anak-anak di Indonesia. Sebagian besar belum menjadikan kebiasaan membaca sebagai kebutuhan dasar. Mereka pada umumnya hanya dipaksa dan dituntut untuk bisa baca agar dapat mengerjakan ujian dan mendapat nilai bagus sesuai KKM yang berlaku di sekolah tanpa dibekali peminatan terlebih dahulu.

Jim Trelease (2006: 19) dalam bukunya, ReadAload Handbook, mengisahkan saat dirinya mengajar di kelas Taman Kanak-Kanak. Saat anak-anak itu ditanya siapa yang ingin belajar membaca? Maka dengan sendirinya anak-anak akan semangat menunjuk dirinya sendiri. Kita punya 100 persen minat di taman kanak-kanak tetapi kehilangan 78 persen pembaca potensial ketikan menginjak tahun kedua belas pendidikan. Sekolah seharusnya menciptakan orang-orang yang suka membaca seumur hidup mereka – yang terus membaca dan mendidik diri mereka sendiri sepanjang hidup mereka sebagai orang dewasa.

Anak usia dini dan Perilaku Prososial

Dari banyaknya permasalahan di atas, salah satu efek yang saat ini banyak terjadi adalah kurangnya rasa empati atau perilaku prososial pada diri anak. Padahal dalam kehidupan bermasyarakat, manusia dituntut untuk berinteraksi dengan sesama, karena manusia adalah makluk sosial. Perilaku prososial inilah yang akan membentuk suatu peradaban yang saling berkesinambungan seperti mata rantai.

Perilaku prososial (Asih dan Pratiwi, 2010:1) merupakan salah satu bentuk perilaku yang muncul dalam kontak sosial, sehingga perilaku prososial adalah tindakan yang dilakukan atau direncanakan untuk menolong orang lain tanpa peduli motif-motif si penolong.

Wilayah kedua dari perkembangan sosial anak yang mendapat perhatian besar dari para pengasuh anak usia dini adalah aspek positif perkembangan moral, yang lebih dikenal sebagai perilaku prososial. Wilayah ini mencakup perilaku seperti empati, dimana anak-anak mengekspresikan kasih sayang dengan menghibur atau menyenangkan orang lain dalam kesusahan atau dengan mengungkapkan perasaan anak lainnya selama konflik interpersonal; kemurahan hati, dimana anak-anak bergiliran secara sukarela atau memenuhi permintaan dengan riang, dan kepedulian, dimana anak-anak membantu seseorang menyelesaikan tugas atau membantu seseorang yang membutuhkan (Beaty, 2013: 168).

Penanaman perilaku sosial pada anak usia dini merupakan hal penting. Kerena perilaku dasar inilah yang akan membawa anak pada sebuah kebiasaan dan kecerdasan yang baik dalam lingkungannya.

Mengapa anak usia dini? Karena semua potensi kecerdasan dalam otak manusia sejak lahir dimulai saat anak dalam kandungan. Yaitu dari kurun waktu tujuh tahun pertama kehidupan manusia, kecerdasan dapat disingkap dan dilejitkan. Potensi kecerdasan tersebut dapat disingkap jika mendapatkan perawatan (Fauzi, 2018:73).

Keluarga merupakan merupakan tempat utama anak dalam melakukan pembelajaran baik secara langsung ataupun tidak langsung. Anak-anak menyerap semua yang terjadi di sekitar mereka, apa yang dilakukan ibu saat anaknya menangis, apa yang ayah lakukan saat orang mengecewakannya, dan apa yang anggota keluarga lakukan saat mereka tidak sepakat. Setiap emosional menghadirkan perilaku yang bisa ditiru oleh mereka.

Oleh karena itu orang tua harus dapat menjadi role model bagi mereka dengan cara memberikan contoh dan teladan yang baik kepada anak secara konsisten. Penanaman perilaku prososial juga dapat dimulai dari hal-hal sederhana seperti berbagi makanan, saling bantu saat mengerjakan PR, membersihkan rumah secara bersama-bersama, dan lain-lain.

Read Aload sebagai Metode Penanaman Perilaku Prososial

Read aload atau lebih disebut juga membaca nyaring merupakan kegiatan yang baru bagi sebagian orang. Beberapa orang biasanya mengenalnya dengan kata ’membaca nyaring’. Membaca nyaring menurut Kamus Besar Bahasa Indonesia adalah kegiatan membaca yang dilakukan dengan suara nyaring atau lantang. Namun, dalam metode penanaman perilaku prososial ini membaca nyaring atau read aload bukan hanya membaca secara lantang tapi juga merupakan metode yang digunakan guru dalam menanamkan perilaku prososial pada anak-anak (Jim Trelease, 2006: 7).

Penanaman perilaku prososial harus dilakukan dengan cara yang tepat dan membekas agar sampai pada tujuan terurama pada anak usia dini. Ada dua hal yang biasanya sangat disukai oleh anak-anak, yaitu cerita dan musik.

Cerita adalah salah satu media yang sangat efektif dalam mendidik anak, dan read aload adalah metode yang tepat untuk ini semua. Kegiatan bercerita biasanya menjadi kesempatan baik untuk read aload kepada anak-anak dalam menanamkan aksi-aksi atau nilai-nilai baik yang ada pada tokoh dalam cerita.

Tidak hanya orang tua di rumah, di sekolah pun bisa melakukan kegiatan ini. Yang perlu diketahui adalah kegiatan read aload ini tidak hanya dilakukan menjelang tidur saja. Itu semua bisa dilakukan pada waktu kapanpun dan dimanapun termasuk di sekolah dan dalam waktu pembelajaran.

Dalam kasus ini PAUD Wadas Kelir menerapkan metode tersebut. Sekolah menanamkan kurikulum berbasis literasi untuk siswanya.

Dalam kegiatan ini, sekolah bekerjasama dengan para guru untuk selalu melakukan kegiatan read aload setiap pagi, dan dalam setiap pembelajarannya selalu diambil dari kegiatan-kegitan yang ada di buku. Dari kegiatan itu, secara tidak langsung anak-anak selalu belajar tentang perilaku prososial.

Dari hasil riset yang dilakukan terkait kegitan ini, siswa-siswi PAUD Wadas Kelir memperlihatkan perilaku yang lain dari pada anak seusianya. Dalam melakukan kebersihan kelas dan kerapiannya anak seusia mereka sudah dapat bekerja sama dengan baik tanpa dimintai pertolongan oleh guru. Seperti membersihkan dan menggotong beberapa meja secara bersama-sama. Hingga melakukan perilaku kejujuran saat berbuat salah dan mengakui kesalahannya secara langsung oleh guru kelasnya.

Hal lain yang lebih menarik adalah ketika sedang berbuat kebaikan, mereka akan menyebut salah satu tokoh dalam cerita, dan menyebutkan, ”Aku seperti Kumbi dan teman-temannya” secara bangga. Ini membuktikan adanya penanaman pembelajaran yang berdampak bagi diri anak.

Riset ini memberitahukan bahwa kegiatan membacakan buku atau read aload kepada anak-anak adalah hal yang sangat penting. Dari sanalah bibit-bibit tunas bangsa akan tumbuh dengan perilaku prososial yang sangat baik. Dapat dikatakan bahwa membacakan buku atau melakukan read aload adalah kegiatan investasi para guru dan orang tua untuk masa depan anak.

(Putri Puji Ayu Lestari – Relawan Pustaka Rumah Kreatif Wadas Kelir dan Mahasiswa Pendidikan Guru Madrasah Ibtidaiyah IAIN Purwokerto. Foto: Fuji Rachman)

Sumber : https://sahabatkeluarga.kemdikbud.go.id/laman/index.php?r=tpost/xview&id=249900248

KULIAH UMUM #2: MEMBANGUN KAMPUNG INGGRIS BELAJAR DARI KAMPUNG INGGRIS PARE-JAWA TIMUR

Gagasan untuk mewujudkan kebiasaan berbahasa Inggris para relawan, remaja, dan anak-anak di Rumah Kreatif Wadas Kelir sudah muncul di benak saya saat mendirikan Rumah Krestif Wadas Kelir sejak 2013.

Tapi, kami mengalami persoalan pada siapa yang akan mengajar, Rumah Kreatif Wadas Kelir belum memiliki guru Inggris yang memang bidang keahlianya di situ. Berbagai upaya membangun budaya berbahasa Inggris pun pupus sampai usai kami enam tahun.

Tapi, semangat itu menucul kembali malam ini (Jumat, 30 Januari 2019) saat kami kedatang pemateri hebat langseung dari Kampung Inggris Pare Miss Yuni Anjarwati

Dan yang mengesankan lagi, untuk kuliah umum malam ini diikuti oleh banyak peserta,mulai dari; Relawan, Warga Paket, Remaja, FTBM Banyumas, dan dari luar. Semua pserta sangat antusias hingga acara dipungkasi pada pukul 22.00 WIB.

Dalam orasinya, Miss Yuni Anjarwati menyampaikan banyak metode dan cara yang digunakan dalam belajar bahasa Inggris yang praktis dan menyenangkan. Kami pun terperangah karena dibawah orasii Miss Yuni Anjarwati belajar bahasa Inggris begitu menyenangkan dan membuat kami paham.

Usai acara Miss Yuni Anjarwati menegaskan bahwa para peserta sangat potensial untuk bisa berbahasa Inggris dengan baik, maka jangan sampai disia-siakan. Mis Yuni Anjarwati mengajar agar Rumah Kreatif Wadas Kelir menjadi embrio Komuitas Bahasa Inggris yang hidup langsung di tengah masyarakat seperti halnya di Pare-jawa Timur.

Saya sendiri pun terperangah dan semakin optimie untuk bisa membiasakan Rumah Kreatif Wadas Kelir menjadi Kampung Inggris, dan kerja sama agar alumni Kampung Inggris Pare untuk mengajar di Wadas Kelir pun disepakati.

Semoga ini menjadi langkah awal untuk mewujudkan Rumah Kreatif Wadas Kelir menjadikan bahasa Inggris sebagai bahasa pengantar sehari-hari.

Liputan:
Heru Kurniawan 
Founder Rumah Kreatif Wadas Kelir

BELAJAR PADA ANALOGI PASIR HISAP

Kisah ini saya ambil dari buku yang ditulis oleh Dorothy Law Nolte dan Rachel Haris (1998) yang menganalogikan kehidupan anak-anak seperti: seseorang terperangkap dalam pasir hisap, yang perlahan-lahan akan menghisap tubuh orang tersebut sampai masuk ke dalam. Dalam keadaan terhisap oleh pasir hisap ini, reaksi orang akan memiliki dua kemungkinan besar.

Pertama, orang tersebut akan diam saja dan pasrah karena meyakini bahwa dirinya pasti tidak bisa melawan takdir atas kenyataan hidupnya yang pelan-pelan akan masuk dalam pasir hisap. Dalam keadaan demikian, orang ini akan beranggapan bahwa pasrah adalah jalan terbaik. Diam adalah sikap paling bijak untuk menerima kenyataan. Perlahan-lahan tubuh orang ini akan masuk seutuhnya dalam pasir hisap tanpa usaha apapun untuk selamat.

Kedua, dalam keadaan tubuh yang terus terhisap pasir, orang ini akan terus berpikir bagaimana dirinya selamat. Orang ini percaya bahwa Tuhan akan menyelamatkan dirinya. Melalui berpikir dan berdoa yang tanpa hentii, orang ini kemudian berusaha menggerakan seluruh anggota tubuhnya, sekalipun dengan bergerak dirinya semakin tenggelam oleh pasir hisap. Dalam usaha yang tiada henti, orang ini kemudian menemukan cara untuk selamat, yaitu berteriak minta tolong. Dan tentu saja, akan ada yang menolong. Siapakah yang menolong? Dia adalah orang-orang dekatnya yang pernah merasakan kebaikannya.

Dua kenyataan orang di atas dalam menyikapi kenyataan diri yang terus dihisap oleh pasir hisap adalah analogi atas kebutuhan pendidikan anak-anak kita. Kehidupan ini layaknya pasir hisap, akan terus memerangkap anak-anak kita dalam kenyataan yang apapun keadaannya akan selalu terjadi.

Dalam keadaan terperangkap dalam kehidupan yang seperti “pasir hisap” ini, diperlukan tiga kepribadian penting dari anak: anak yang memiliki keyakinan bahwa dirinya bisa karena adanya kekuatan Tuhan; anak yang selalu memberdayakan pikiran dan usahanya untuk bisa selamat dan sukses dalam kehidupan ini; dan anak yang meyakini bahwa melalui kebaikan, maka akan ada orang baik yang menyelematkan hidupnya. Inilah nilai penting pendidikan yang dibutuhkan anak-anak kita agar selamat oleh pasir hisap kehidupan yang perlahan-lahan akan menenggelamkan dan menggagalkan kehidupan anak-anak kita.

Menanamkan Keyakinan Bisa karena Adanya Kekuatan Tuhan

Prinsip dasar pertama pendidikan untuk anak-anak kita adalah sikap optimis yang dibangun atas keyakinan bahwa semua persoalan bisa diatasi karena keberadaan Tuhan. Untuk itu, sikap selalu dekat dengan Tuhan melalui doa, ibadah, dan kebaikan menjadi hal mutlak yang harus dilakukan oleh anak-anak. Ini perlu dilakukan karena kehidupan itu merupakan serangkaian peristiwa yang sering menimbulkan banyak persoalan yang memerangkap. Untuk bisa selamat dari persoalan ini jalannya adalah memiliki keyakinan ini.

Dari sinilah, prinsip-prinsip dasar keagamaan menjadi pondasi dasar dalam pendidikan untuk anak-anak kita. Penanaman keyakinan ini akan menjadi sikap dasar anak dalam memandang kehidupan dirinya. Anak-anak yang sedari awal memiliki konsep ini akan menjadi anak-anak yang selalu optimis dengan dasar religiusitas yang kuat. Konsep pendidikan ini melahirkan anak-anak kita yang taat beragama dan memiliki keyakinan kuat atas penguasaan diri yang yakin akan adanya Tuhan yang akan selalu membantu dirinya dalam mengatasi berbagai persoalan hidup yang akan dihadapi anak.
 

Menanamkan Usaha Berpikir dan Bekerja Keras

Keyakinan bahwa Tuhan adalah Dzat yang Maha Menolong tidak membuat anak-anak pasrah dalam menerima kenyataan, tetapi membuat anak-anak selalu berpikir dan bekerja keras dalam mengatasi berbagai persoalan demi mencapai keinginannya. Nilai inilah yang kemudian harus diajarkan pada anak-anak, sehingga anak-anak kita adalah individu yang akan selalu berpikir dan berusaha dengan maksimal. Anak-anak kita yakin bahwa dirinya bisa sukses, dan untuk meraih kesuksesannya, anak-anak kita akan belajar dan bekerja keras dengan keyakinan optimis karena Tuhan akan mengabulkan cita-citanya.

Dengan nilai pendidikan inilah, anak-anak kita adalah generasi yang berpikir dan berkarya. Generasi yang tidak saja menerima kenyataan dengan pasrah, tetapi generasi yang selalu belajar memahami banyak ilmu pengetahuan, dan mempraktikan ilmu pengetahuan dalam kehidupan sehari-harinya. Semua dilakukan demi untuk mewujudkan cita-citanya menjadi anak-anak yang baik dan sukses dalam kehidupan.

Menanamkan Sikap Komunikasi Kebaikan

Dalan usahanya berpikir dan bekerja keras ini, sikap menjalin komunikasi kebaikan menjadi inti kesadaran bahwa anak-anak kita harus diyakinkan bahwa yang akan membuat anak sukses bukan dirinya sendiri, tetapi Tuhan atas perantara orang lain. Di sinilah sikap menghormati dan selalu berbuat kebaikan pada orang lain menjadi nilai mutlak dalam pendidikan untuk anak-anak kita.

Melalui orang lain kita akan diberikan kemudahan, pertololngan, dan bantuan. Dan yang akan membantu dan menolong kita adalah orang yang dekat dan baik dengan anak-anak. Dan yang dekat dan baik dengan anak adalah mereka yang telah merasakan kebaikan anak-anak. Di sinilah keomunikasi kebaikan menjadi hal penting yang harus ditanamkan ke anak-anak kita sehingga anak-anak kita memahami semua keyakinan pada Tuhan dan kerja keras dalam berpikir dan berkarya akan sia-sia tanpa kebaikan pada orang lain, maka berbuat baik pada orang lain akan mendatangkan kebaikan orang lain yang diberikan pada kita juga. Dari orang lain inilah kemudian kita ditolong dan dibantu untuk selamat dan sukses.

HERU KURNIAWAN
Pengajar Institut Agama Islam Negeri Purwokerto
Founder Rumah Kreatif Wadas Kelir
Penulis Buku Parenting, Bacaan, dan Aktivitas Anak

MEMAHAMI RASA TAKUT ANAK

Takut adalah suatu kondisi perasaan cemas berlebihan yang memberikan dampak kekhawatiran pada diri sendiri. Perasaan takut terjadi karena hadirnya suasana, objek, dan orang lain yang tidak diharapakan dan selalu ditiadakan oleh anak. Sumber rasa takut ini adalah pengalaman anak yang tidak mengenakan, cerita orang lain yang membuat asosiasi takut, serta menyaksikan kejadian yang memberikan dampak takut pada diri.

 

Di sinilah, rasa takut anak melibatkan tiga hal penting: adanya objek, suasana, atau sosok yang menstimulasi kecemasan anak; sarana yang mengantarkan anak untuk takut, misalnya, menyaksikan, mengalami, atau pun mendengar cerita tidak langsung; dan dampak psikologis cemas dan khawatir yang ditimbulkan atas takut pada anak. Misalnya, saat anak mengalami langsung suasana sepi di malam hari, maka rasa takut yang menimbulkan cemas dan khawatir pada anak pun muncul.

 

Oleh karena setiap hari anak-anak berinteraksi dengan objek, tempat, suasana, dan orang lain, maka perasaan takut setiap kali mengalami hal yang mencemaskan akan selalu terjadi. Artinya, takut adalah suatu kondisi perasaan yang akan selalu dialami oleh anak-anak. Pertanyaannya adalah bagaimana mengatasi perasaan takut yang dialami oleh anak?

Yang sering terjadi adalah, saat anak-anak sedang merasakan takut, orang tua justru menyalahkan anak. Apalagi jika rasa takut itu meuncul karena hal sepele yang dianggap orang tua anak tidak seharusnya takut. Sikap salah yang sering dilakukan orang tua tampak dari ekspresi kata-kata yang diucapkan, misalnya, “ah, kamu penakut, sama semut saja takut!”, “Jangan penakut, setan itu tidak ada!”, “Berangkat sekolah, tidak usah takut dengan temanmu!” “Minum, obat! Sama obat saja takut!”

 

Ungkapan-ungkapan demikian menunjukkan sikap orang tua yang menyalahkan anak dan rasa takutnya. Padahal rasa takut adalah hal yang alamiah, yang bisa terjadi pada siapapun, kapanpun, dan dimanapun. Jika demikian kenyataannya, maka yang atasi atas rasa takut anak bukan pada anak atau rasa takutnya. Atau, sering kali orang tua menghilangkan rasa takut dengan menghilangkan atau menghindarkan anak atas objek, suasana, dan orang yang membuat anak takut. Ini juga tidak menyelesaikan persoalan karena anak-anaktidak bisa dihindarkan atas sesuatu yang membuat takut.

 

Yang harus dilakukan orang tua adalah memahami kebutuhan yang diharapkan anak saat sedang takut. Ya, kebutuhan mendasar anak saat Saat merasakan takut ini adalah kehadiran orang tua untuk memberikan perlindungan pada anak. Melalui perlindungan inilah, anak-anak akan mendapatkan kenyataan ada orang yang memahami kecemasannya, sikap baik untuk melindungi, dan solusi untuk mengatasi pesoalan takut yang sedang dihadapi. Untuk itu, saat anak-anak sedang mengalami rasa takut, maka orang tua harus melakukan langkah-langkah seperti ini.

Pertama, segera mungkin hadir di dekat anak-anak, jangan menunda nanti karena perasaan takut dan cemas itu darurat untuk segera di atasi. Saat takut anak-anak sangat membutuhkan sesorang yang bisa membantunya, maka bersegeralah untuk mendekat ke anak. Tinggalkan semua pekerjaan dan rutinitas, segerakah mendekat dan duduk bersama anak untuk membantu mengatasi rasa takut anak.

 

Kedua, ekspresikan kepedulian kita pada anak. Tunjukkan bahwa rasa takut yang sedang dihadapi anak adalah hal yang serius, jangan remehkan dengan menganggap rasa takut anak tidak pantas dan keterlaluan, ini akan membuat anak kecewa. Ekspresi ini akan meyakinkan anak bahwa rasa takut yang sedang dihadapi ini dipahami oleh orang tuanya, sehingga akan timbul harapan besar anak pada orang tuanya untuk melindungi dan membantunya.

 

Ketiga, katakan perhatian kita dengan ungkupan yang menunjukkan dua hal: orang tua akan melindungi dan membantu menyelesaikannya, misalnya, “Kamu harus tenang, Nak. Jangan takut, Ayah dan Ibu akan tetap di samping kamu. Ayah dan Ibu akan melindungmu dari hantu yang berkelebat itu…” jika ungkapan yang meunjukkan perlindungan sudah, maka katakan hal yang menunjukkan sikap ingin membantu mengatasi rasa takut, misalnya, “Jika kamu takut hantu, esok lampu di kamar ini dibuat lebih terang lagi, pasti hantunya akan pergi jauh. Dan Ayah-Ibu akan ajarkan kamu hafalan doa yang membuat hantu tidak datang lagi.”

 

Keempat, untuk menciptakan efek keterlibatan dan perhatian yang lengkap, maka peluklah anak. Saat anak sedang takut dia membutuhkan perlindungan dalam pelukan. Saat memeluk inilah, kemudian kita mengatakan hal-hal yang menunjukkan kesedian orang tua memberikan perlindungan dan keikutsertaan mengatasi ketakutan ini akan membuat anak semakin tenang.

Melalui sikap-sikap di atas ini, maka anak pun akan memahami bahwa ketakutan boleh datang menghampiriku, tetapi aku punya orang tua yang selalu melindungi dan membantuku untuk mengatasinya dengan baik. Hal ini akan membuat anak-anak berani dalam mengatasi setiap ketakutan yang dihadapi. Kepercayaan diri anak akan tumbuh, dan pada gilirannya, anak-anak pun ke depannya akan semakin bisa mengatasi berbagai ketakutan yang dialaminya.

 

 

HERU KURNIAWAN

Pengajar di Institut Agama Islam Negeri Purwokerto

Founder Rumah Kreatif Wadas Kelir

Penulis Buku Parenting, Bacaan, dan Aktivitas Anak

 

KULIAH UMUM RUMAH KREATIF WADAS KELIR #1

Selasa, 22 Januari 2019 untuk pertama kalinya, yang selanjutnya akan dijadikan acara runtin 1-2 kali setiap bulannya, Rumah Kreatif Wadas Kelir mengadakan KULIAH UMUM RUMAH KREATIF WADAS KELIR.

Kuliah Umum ini akan dijadikan sarana untuk berbagi pengalaman dan pengetahuan pemateri pada relawan dan tamu tentang ilmu pengetahuan.

Kuliah umum ini dilaksanakan secara sederhana. Pertama, pemateri diberikan kesempatan berorasi ilmu pengetahuan maksimal 45 menit. Kedua, kuliah umum ini dilanjutkan dengan diskusi dan dialog interaktif antara pemateri dan audiens.

Pemateri bebas dari mana saja, yang berkenan untuk berbagi pengalaman dan ilmu pengetahuan, dengan relawan atau pun ke depannya akan diisi tamu-tamu yang ingin sekali belajar.

Pada KULIAH UMUM RUMAH KREATIF WADAS KELIR #1 menghadirkan pemateri Muhamad Iqbal, S.Pd., yang mengangkat persoalan KISAH DAN INTERAKSI KESADARAN.

Semoga ke depan acara ini akan menjadi acara favorit yang memberikan kontribusi bagi Bangsa dan Negara.

MOTOR PUSTAKA: BERGERAK UNTUK MELAYANI MINAT BACA, MEMBERIKAN ILMU PENGETAHUAN, DAN MERAYAKAN BAHAGIA BERSAMA PUSTAKA

Pada awalnya kami diam. Melayani masyarakat, khususnya anak-anak dan remaja dalam membaca di satu tempat saja: TBM Wadas Kelir. Kami pun menyadari masalahnya: kami hanya berguna untuk masyarakat di sekeliling saja.

 

Padahal, banyak masyarakat dan sekolah yang berharap pada kami, “Pak Guru, sekali-kali bawa buku-bukunya ke sekolah saya. Di sana pasti anak-anak akan suka membaca di tempat!” atau “Pak Guru, setiap minggu anak-anak di sini sangat ramai, bermain di halaman rumah penuh antusias. Coba jika buku-bukunya bisa dibawa ke sini, pasti anak-anak akan suka!”

 

Jujur saja, dengan tuntutan demikian, saya sering merasa sedih. Apalagi, saya secara langsung sering melihat anak-anak di sekolah dan lingkungan tersebut yang ramai tanpa arah. Tanpa saya sadari, saat menyaksikan kenyataan ini, saya sering berdoa, “Seandainya TBM Wadas Kelir punya kendaraan yang bisa membawa banyak buku dan mengantarkannya ke sana, pasti anak-anak akan suka dan kami bisa semakin bahagia dalam membahagiakan mereka.”

Doa yang rasanya sederhana dan sia-sia saja. Akan tetapi, saat dapat kabar kami akan segera mendapatkan Motor Pustaka dari Perpusnas (melalui Forum Taman Bacaan Masyarakat Pusat) benar-benar adanya, saya pun sangat bahagia. Sebelum motor itu diserahkan, saya mengumpulkan para Relawan TBM Wadas Kelir, saya berkata sederhana pada mereka, “Motor pustaka yang akan kita terima adalah cara Tuhan untuk menguji pengabdian kita untuk lebih berani lebih luas lagi dalam mengabdi di bidang literasi.”

 

Dan Motor Pustaka itu pun sampai ke tempat kami: TBM Wadas Kelir. Motor berwarna merah yang gagah dan terasa sangat bahagia. Barangkali karena takdirnya yang akan selalu membahagiakan anak-anak dan remaja melalui kegiatan membaca yang mengkayakan ilmu pengetahuan. Dan merayakan rasa senang dan bahagia melalui kata-kata yang mewakili ilmu pengetahuan.

 

Setelah Motor Pustaka yang bahagia itu sudah tersedia, malam harinya, saya mengumpulkan Relawan TBM Wadas Kelir. Saya menyampaikan tentang tugas tambahan yang mulia dengan adanya Motor Pustaka ini. Tugas tambahan untuk mengantarkan buku pustaka kepada masyarakat luas yang membutuhkan demi penting dan meningkatnya minat baca.

 

Dalam kehangatan semangat mengabdi yang mesra, kami membagi relawan untuk bertugas mengantarkan buku dan pusataka ke tempat-tempat yang sudah memesan: mulai dari sekolah, tempat bermain, tempat bimbingan belajar, sampai ke keluarga yang rumahnya sering dijadikan tempat bermain anak-anak. Merekalah yang sejak dulu sudah meminta pasrtisipasi TBM Wadas Kelir untuk berbagi kebaikan dalam melayani anak-anak untuk membaca buku-buku di TBM Wadas Kelir yang kami kelola.

 

Tugas, jadwal, dan mekanisme penyelenggaraaan kegiatan pelayanan membaca melalui Motor Pustaka pun kami buat dan kami sepakati. Kami akan datang ke tempat tersebut dengan membawa buku yang kami gelar secara menarik secara kontinu setiap minggunya. Sambil menarik perhatian, kami akan selenggarakan kegiatan kreatif, mulai dari mendongeng, sulap, sampai bermain literasi dengan memanfaatkan buku-buku yang kami gelar.

 

Esok harinya, sesuai dengan kesepakatan jadwal dan mekanisme kegiatan, para relawan TBM Wadas Kelir yang bertuga pun melaksanakan pengabdiannya. Hari pertama tugas, di pagi hari tepatnya hari Minggu, saya melepas langsung dua Relawa TBM Wadas Kelir yang akan melayani membaca masyarakat dengan Motor Pustaka.

 

Sebelum melepas, saya menyampaikan kata-kata penyemangat, “Bergeraklah untuk melayani minat baca, memberikan ilmu pengetahuan, dan merayakan bahagia bersama pustaka.” Kemudian Motor Pustaka untuk pertama kalinya melaju dengan kecepatan yang membahagiakan serasa sedang ingin memenuhi takdirnya dalam mengabdi di bidang ilmu pengetahuan.

Siang hari, saat membuka gawai, melihat group WA TBM Wadas Kelir, saya mendapatkan pemandangan bahagia. Saya menyaksikan foto-foto yang diunggah relawan TBM Wadas Kelir yang bertugas dengan Motor Pustaka. Saya melihat foto puluhan anak-anak yang sangat antusias dalam membaca.

 

Dan salah satu pesan berbunya, “Pak Guru mengucapkan terimakasih kepada TBM Wadas Kelir, semoga Motor Pustaka dijadwal rutin untuk melayani anak-anak membaca di sini.” Saya sangat bahagia, TBM Wadas Kelir melalui Motor Pustaka telah memberikan kemanfaatkan dalam membahagiakan anak-anak dan remaja dalam membaca yang lebih luas lagi.

Selesai pulang, untuk meyakinkan diri saya atas kenyataan kemanfaatan Motor Pustaka, saya menanyakan kegiatan yang sudah dilakukan pada Relawan TBM Wadas Kelir yang bertugas, “Tadi kegiatannya seperti apa? Bagaimana animo anak-anak atas buku-buku dengan Motor Pustaka?”

 

Dan Kak Iqbal, Relawan TBM Wadas Kelir yang bertugas menjelaskan, “Anak-anak sangat suka. Kedatangan Motor Pustaka disambut baik oleh para guru dan anak-anak. Mereka terlibat langsung menyiapkan buku-buku untuk digelar. Dan saat kegiatan pengantar sulap dan pantomim, anak-anak sangat antusias. Sambil mencari buku dan membaca, anak-anak menikmati hiburan yang kami sajikan. Setelah selesai, anak-anak suntuk membaca sampai bel masuk sekolah berbunyi. Dan anak-anak langsung meminta agar Motor Pustakan datang secara rutin.”

 

Saya senang dan bahagia.

Di setiap tempat yang menjadi tujuan Motor Pustaka untuk berbagi ilmu pengetahuan, selalu disambut dengan antusias. Dan kegiatan kami selalu menyenangkan. Menghibur dengan menyajikan pantomim, dongeng, sulap, dan permainan lain yang membuat anak-anak terkondisikan dengan baik. Setelah itu, kegiatan dilanjutkan dengan membaca bersama secara suntuk.

 

Tentu saja, semua ini karena keberadaan Motor Pustaka yang telah memberi jalan untuk bisa menggerakkan buku-buku di TBM Wadas Kelir bisa diakses secara luas dan memberikan kemanfaatan secara luas juga. Semoga ini memberikan  semangat bagi kita semua untuk terus melayani masyarakat dengan buku-buku yang akan memperluas ilmu pengetahuan masyarakat, dan akan membuat masyarakat semakin bahagia dengan membaca.

 

Salam Literasi.

 

TBM WADAS KELIR

Jln. Wadas Kelir Rt.7 Rw. 5 Karangklesem

Purwokerto Selatan – Banyumas Jawa Tengah 081564777990

EMPAT KEGIATAN LITERASI DI SEKOLAH YANG MELIBATKAN ORANG TUA

“Yah, bacakan buku ini!” seru Zakka (5 tahun) sambil menyerahkan buku cerita bergambar.

“Sini, Ayah bacakan!” jawab saya seraya memeluk Zakka dan membacakan buku.

Setelah selesai, Zakka segera memasukkan buku cerita tersebut ke dalam tasnya. Kemudian bergegas berangkat sekolah.

Saya segera menghampiri istri dan bertanya, “Kenapa Zakka minta dibacakan buku sebelum berangkat sekolah?”

Istri saya tersenyum dan menjelaskan, “Sekarang di Kelompok Bermain (KB) Zakka sedang dikembangkan program membacakan buku oleh orang tua. Setiap hari orang tua harus membacakan buku, nanti saat masuk sekolah, anak-anak diminta menceritakan isi buku.”

“Zakka bisa menceritakan isi buku yang tadi saya bacakan?” tanya saya penasaran.

“Kata Bunda-bunda yang mengajar bisa,” jawab istri saya.

Saya terdiam dan terkagum dengan program membacakan buku di sekolah tersebut. Sebabnya, setelah program orang tua wajib membacakan buku, setiap malam saya dan istri selalu membacakan buku pada Zakka. Jika malam hari Zakka ketiduran, maka pagi harinya, dipastikan sebelum berangkat sekolah, Zakka akan minta dibacakan buku beberapa kali sampai dia paham dan tahu isinya.

Dari sini, seiring berjalannya waktu, saya melihat satu kenyataan yang menyenangkan, anak saya, Zakka, yang awalnya tidak suka dengan buku dan membaca, sekarang berubah menjadi suka buku dan gemar dibacakan buku. Saya dan istri tentunya sangat senang. Saya pun tidak sungkan mengucapkan terima kasih pada sekolah atas program ini.

Dari peristiwa ini saya memahami bahwa mengenalkan buku dan meningkatkan minat baca anak-anak dapat dilakukan dari sekolah dan keluarga. Salah satunya dengan membuat program membaca yang melibatkan peran serta orang tua. Cara yang dilakukan adalah sebagai berikut.

Pertama, sekolah harus membuat program kewajiban anak-anak dan orang untuk meminjam buku. Kegiatan ini bisa dilakukan dengan tenggang waktu, misalnya, setiap hari, dua hari sekali, dan seterusnya agar anak atau orang tua meminjam buku secara rutin. Dan untuk kontrolingnya tentu saja melalui data peminjaman buku, agar semuanya dikontrol dengan baik. Sehingga bagi anak-anak dan orang tua yang tidak meminjam buku bisa diketahui dan bisa ditegur untuk ikut aktif dalam meminjam buku.

Kedua, tidak saja meminjam buku, tetapi setiap orang tua diberikan kewajiban untuk membacakan buku tersebut pada anaknya. Sebagai kontrolnya, setiap kali berangkat sekolah, guru secara rutin menanyakan pada anak: apakah orang tuanya sudah membacakan buku yang dipinjam atau belum? Jika ada orang tua yang jarang atau tidak pernah membacakan buku, maka sekolah perlu menegur, sehingga kegiatan membacakan buku oleh orang tua terus dilakukan setiap harinya.

Ketiga, jika anak sudah dibacakan buku setiap hari, maka setiap hari, sekolah melakukan kegiatan rutin pengayaan, yaitu dengan secara bergiliran, misalnya, sebelum masuk kelas atau saat sebelum pelajaran dimulai, anak-anak diminta menceritakan buku yang telah dibacakan orang tuanya atau anak menjawab pertanyaan atas buku yang telah dibacakan. Hal ini akan membuat anak-anak semakin kaya pemahaman dan meningkatkan kemampuan literasi anak.

Keempat, setelah tiga kegiatan ini berjalan dengan baik, maka dalam periode tertentu, sekolah memberikan apresiasi untuk anak-anak yang paling rajin dibacakan buku dan memiliki pemahaman bacaan yang baik. Kegiatan ini akan semakin memotivasi orang tua dan anak-anak untuk rajin membaca dan membacakan buku setiap harinya.

Dari keempat kegiatan yang dilakukan di sekolah anak saya, saya merasakan perubahan minat baca anak terhadap bacaan yang baik. Anak saya jadi suka dibuku, suka dibacakan buku, dan kemampuan dan kecepatan dalam memahami isi bacaan buku semakin baik.

HERU KURNIAWAN
Pengajar di Institut Agama Islam Negeri Purwokerto
Founder Rumah Kreatif Wadas Kelir
Penulis Buku Parenting, Bacaan, dan Aktivitas Anak

SAYA TIDAK MENYANGKA, DIBERI PENGHARGAAN SEBAGAI INSAN PEDULI PENDIDIKAN ANAK DAN MASYARAKAT


Tahun 2018 ditutup dengan peristiwa yang sangat menggembirakan, atas perjuangan kami mengembangkan Komunitas Wadas Kelir sebagai pusat pendidikan anak dan masyarakat sejak tahun 2013, kami pun dipercaya untuk mendapatkan:

PENGHARGAAN INSAN PEDULI PENDIDIKAN ANAK DAN MASYARAKAT OLEH KEMENTERIAN PENDIDIKAN DAN KEBUDAYAAN RI

Tentu saja, semua ini karena kerja keras semuanya: anak-anak, remaja, relawan, dan masyarakat dalam ikut serta berpartisipatif mengambangkan budaya belajar di masyarakat.

Kinerja sosial-pendidikan kami yang awalnya diam-diam, pada akhirnya diketahui banyak orang dan mendapatkan kepercayaan ini. Kami sangat senang dan yakin bahwa PEMERINTAH sangat peduli atas persuangan masyarakat yang ingin memajukan pendidikan lingkungan sekelilingnya.

Saya kadang membayangkan alangkah hebatnya Indonesia jika setiap RT memiliki pusat pendidikan masyarakat, yang setiap hari mampu mengorganisasi masyarakat untuk belajar. Maka masyarakat kita akan meningkat kualitas hidupnya dan tinggi pendidikannya.

Hanya, terkadang kita banyak mengeluh, banyak mengkritik tapi tidak berbuat, banyak putus asa, padahal saya sangat yakin bahwa orang Indonesia kepedulian sosialnya tinggi. Cuma kurang berani ambil inisiatif dan selalu tidak fokus dan istiqomah.

Maka sekalipun kinerja kami yang menuju 7 tahun menggambarkan semangat kami untuk fokus dan istiqomah untuk terus mengembangkan Wadas Kelir sebagai pusat belajar masyarakat yang bermanfaat.

Semoga Menginspirasi!

SELAMAT UNTUK RELAWAN HEBAT WADAS KELIR YANG TELAH MERAIH JUARA

“Cara Terbaik dalam Membahagiakan Ayah-Ibu adalah dengan Bakti dan Prestasi. Sebab Bakti adalah Wujud Cinta Kita, sedangkan Prestasi adalah Kerja Keras dalam Mewujudkan Cinta”

Ini salah satu nilai yang saya coba transformasi di Rumah Kreatif Wadas Kelir.

Dari sini, mau tidak mau, kami belajar, bekerja, dan bekerja dengan penuh lelah. Tapi, kami selalu meyakini bahwa “Setiap Tetes Keringat itu Ada Harganya!”

Dan saya menyaksikan sendiri bagaimana Relawan Hebat Wadas Kelir berjibaku dengan Buku, Video, dan Diskusi untuk merumuskan gagasan untuk berkompetisi.

Dan saya sangat bahagia saat mendaptkan kabar di bulan November dan Desember puluhan prestasi juara diraih oleh Relawan Wadas Kelir.

Kak Cesilia Prawening menyabet juara nasional menulis dongeng dan esai; Kak Khotibul Iman menyabet juara menulis dongeng; Kak Umy Khamenyabet juara menulis dongeng nasional; Kak @Putri Kak Wafa Airin dan Bunda Dian menyabet juara mendongeng nasional.

Dari sini kami membangun kayakinan bahwa sedang terus berproses dalam bekerja dan berkarya untuk menjadi manusia-manusia unggul melalui Komunitas Wadas Kelir.

Semoga apa yang kami lakukan menginspirasi banyak orang.

MEDITASI-BERPIKIR: MERUMUSKAN VISI DAN TUJUAN PENCAPAIAN KOMUNITAS WADAS KELIR MELALUI PENGEMBARAAN IMAJINASI KREATIF

Mendadak tubuh saya tidak bersahabat. Saya diserang sakit. Batuk, sakit kepala, demam, dan tubuh menggigil. Saat masuk kamar kerja, saya menatap kalender yang berdiri di meja kerja, saya tersadar, sejak tahun 2018 saya belum pernah sakit yang kategori sakit.

Dan saya dipaksa harus mengerti: barangkali inilah saatnya tubuh saya rehat dalam sakit yang harus dihormati.

Tapi, saat saya teringat acara plesiran akhir tahun (22/12/2018) bersama dengan relawan dan remaja Komuitas Wadas Kelir, mendadak saya bertambah lemas. Bukan karena sakit tubuh saya, tetapi karena konsep mimpi saya bahwa dalam acara tersebut saya harus datang. Tentu saja tidak sekedar datang, saya juga harus menyampaikan visi dan target tujuan utama Komunitas Wadas Kelir di tahun 2019.

Dan bagi saya, memeras mimpi menjadi visi dan tujuan yang akan diperjuangkan bersama di tahun 2019 harus benar-benar harga mati. Saya pun dipaksa oleh diri saya sendiri untuk bisa menemukannya. Proses menemukan yang membutuhkan pemikiran matang. Matang dalam memeras pengalaman dan pengetahuan, bahkan perasaan.

Maka, dalam kenyataan saya yang sakit, saya setiap malam memaksa diri bermeditasi. Menyatukan pikiran dan perasaan dalam sikap tidur. Menjauhkan diri dari keriuhan hidup, pekerjaan, gadget, dan sebagainya. Saya hanya ingin fokus dalam satu titik imajinasi. Sekalipun melepas semua jenis pemikiran yang saya sadari membuat saya sakit.

Saya membangun keyakinan bahwa dalam sakit, saya harus bisa menemukan gagasan yang akan dijadikan kerja keras Wadas Kelir di tahun 2019. Dan tiga bermalam menjalani hari dalam meditasi-berpikir, akhirnya saya menemukan gagasan penting dalam hidup saya.

Gagasan ini saya temukan dalam meditasi-berpikir: Pertama, imajinasiyang membawa pikiran saya untuk bertemu orang-orang hebat di sekeliling saya yang menjaga dan membantu hidup saya, lahirlah ide-gagasan saya tentang Komunitas Wadas Kelir yang berbasiskan: keluarga. Kedua, imajinasi yang menghadirkan khayalan saya memiliki orang-orang yang tak hanya sayang pada saya, tetapi mereka orang hebat: kualitas. Ketiga, imajinasi yang mengantarkan pada keadaan pertemuan saya dengan orang dekat saya yang semuanya telah mapan penuh senyum: bahagia-sejahtera.

Saya bertanya, kenapa saya memimpikan tiga hal demikian? Saat saya telusuri dalam meditasi-berpikir saya, saya menemukan kenyataan imajinasi yang dibangun dalam film Fast & Furious, yang mengangkat pejuangan Dom Toretto yang sangat mencintai keluarga (Adik-Istri-Teman), mereka adalah orang-orang hebat sesuai dengan bidang keahliannya, dan kaya-bahagia. Mereka Keluarga yang Hebat. Ini saya impikan.

Saat saya tersadar, saya harus mengakui bahwa tugas utama saya sebagai pemimpin adalah berminajinasi. Melalui imajinasi yang dikembarakan dalam meditasi-berpikir saya menemukan banyak hal, tidak terkecuali, langkah saya dalam usaha membangun Komunitas Wadas Kelir.

HERU KURNIAWAN

Founder Komunitas Wadas Kelir