SEMOGA KAMI DICATAT SEBAGAI ORANG TUA YANG BAIK DI HATI ANAK-ANAK

SEMOGA KAMI DICATAT SEBAGAI ORANG TUA YANG BAIK DI HATI ANAK-ANAK

“Zakka, Nera! Ayah dan Ibu mau pergi, mau ikut?” tanya saya selepas pulang dari kantor.

“Mau ke mana, Yah?” tanya Zakka penasaran.

“Ayah dan Ibu mau ke Restoran Garden Resto, ada acara di sana. Mau ikut tidak?”

“Mau, Yah. Tapi, Tegar dan Devin ikut, ya?” seru Nera.

Saya tersadar kalau anak-anak saya sedang asyik bermain dengan Tegar dan Devin, teman akrabnya. Sepintas saya melihat wajah Devin dan Tegar yang diam. Tentu saja keduanya memendam kekecewaan atas sikap saya yang telah mengganggu kegiatan bermain keduanya dengan anak-anakku.

Untuk menebus kesalahan saya, saya pun berkata, “Tentu saja, Devin dan Tegar harus ikut!”

“Hore…!!!” teriak anak-anak bersorak sorai merayakan senang, sehingga kegiatan bermain yang tadi dilakukan sudah dilupakan.

Kegiatan bermain dihentikan seketika, mereka pun segera bersih-bersih dan Sholat Asar berjamaah. Saat kami mau berangkat, Anin dan Malva, teman-teman akrab anakku, tiba-tiba datang.

“Mau pada ke mana?” tanya Malva.

“Mau ke Restoran Garden Resto!” jawab Tegar senang.

Malva dan Anin diam saling pandang. Melihat Malva dan Anin, saya teringat saat masa kecil dulu. Betapa sedihnya saya dulu, saat melihat teman-teman saya pergi dengan orang tuanya untuk bersenang-senang, sementara saya tidak diajak. Perasaan itu masih tersisa sampai sekarang. Dan barang kali itulah yang dirasakan Malva dan Anin.

Seketika itu, saya pung langsung mengajak, “Malva dan Anin, ikut juga, yuk!”

Saya melihat ekspresi senyum senang keduanya. Keduanya pun ikut serta. Ya, saya membawa banyak anak-anak untuk kegiatan yang saya yakini baru pertama kali mereka mengalaminya.

Buktinya, saat di Restoran Garden Resto, anak-anak merayakan kegembiraan dengan bermain petak umpet, lari-lari, dan apa saja saya lupa. Tapi intinya mereka merayakan kebahagiaan dengan teman-temannya.

Saat acara sesi makan bersama, anak-anak pun saja ajak makan bersama dalam satu meja. Mereka sangat senang. Mereka makan dengan lahap. Saya ikut berbahagia.

Saat mendekati istri, saya berbisik, “Semoga pengalaman ini menjadi peristiwa indah anak-anak yang membuat mereka tidak pernah melupakan kita.”

Istri saya membalas, “Dan selalu membekas diingatan anak-anak kalau di mata mereka kita adalah orang tua yang baik.”

Selesai acara di Restoran Garden Resto yang menyenangkan, mendadak Zakka meminta sesuatu, “Yah, Zakka dan Kak Nera kan sudah tertib membaca dan sholat. Belikan mainan, ya?”

Saya langsung memandang istri saya, dan dia mengganggukkan kepala. Kami sudah sepakat, jika anak saya dengan teman-temannya, maka perlakukan sama harus diberikan pada teman-temannya juga.

“Baik, Ayah akan belikan mainan buat kalian!”

“Bener, Yah. Hore…” seru Nera sangat senang.

“Buat Devin dan Tegar juga, Yah?” tanya Zakka memastikan.

“Iya, buat semuanya!”

“Horee!!!!”

Saat itu saya bertanya pada diri sendiri, apa jadinya jika saya hanya membelikan mainan untuk anak saya, maka Nera dan Zakka, anak saya tidak akan sebahagia ini. Dan pastinya, teman-temannya akan sedih.

Dengan membelikan semuanya, maka Nera dan Zakka bahagianya lebih dan sempurna. Dan teman-temannya, pasti sangat bahagia pula. Semoga saya dan istri dicatat oleh mereka sebagai orang tua yang baik.

Saya kembali berbisik pada istri saya, “Semoga kita benar-benar bisa menjadi orang tua yang baik. Tidak hanya untuk anak-anak kita. Tetapi juga anak-anak di sekelilingku.”

Dalam perjalanan di tengah hiruk pikuk kebahagiaan anak-anak, saya teringat kata-kata: Anakku adalah semua anak-anak yang bermain dengan anakku.

Heru Kurniawan
Penulis Buku Parenting, Bacaan, dan Aktivitas Anak
Founder Rumah Kreatif Wadas Kelir

KEDATANGAN TAMU ISTIMEWA DARI PENERBIT ROSDA KARYA BANDUNG

Sejak meniti karier di bidang akademik, saya sering membaca buku-buku yang diterbitkan oleh PT Remaja Rosda Karya, dan saat itu saya ingin sekali buku saya terbit di Rosda Karya.

Saya bisa mewujudkan mimpi saya pada tahun 2012, buku hasil riset saya, Pembelajaran Menulis Kreatif tebirt di Rosda Karya, dan sampai kini sudah tercetak banyak cetakan, dan saya mendapatkan royalti yang terus datang.

Maka, saya pun punya mimpi bisa mendatangkan Penerbit Rosda Karya untuk bisa bekerja sama dengan Wadas Kelir dan FTIK-IAIN Purwokerto, dan pada Rabu (14/02/2019) saya bisa muwujudkannya.

Mba Tina (Direktur) Mas Anang (Naskah) dan MAs Toni (Marketing) datang ke Wadas Kelir. Kami ngobrol banyak hal soal perbukuan dan penjualan. Kerja sama dengan Wadas Kelir pun disepakati.

Selanjutnya, acara istimewa ini dipungkasi dengan makan siang bersama yang indah dengan menu-menu khas Wadas Kelir. Kami bercanda ria mengakrabkan untuk terus berkolaborasi dalam penerbitan dan penjualan buku untuk ikut serta mencerdaskan anak-anak bangsa.

Usai makan siang, kegiatan kami lanjutkan dengan acara ngobrol bareng dosen-dosen FTIK-IAIN Purwokerto. Tim Penerbit Rosda Karya disambut dengan sangat antusias oleh para dosen. Pak Dekan Kholid Mawardimembuka dan menyambut acara ngobrol bareng ini.

Acara yang santai tapi berkesan karena membarikan pemahaman pada para dosen FTIK-IAIN Purwokerto untuk menerbitkan bukunya di Rosda Karya.

Semoga semua hal yang telah dilakukan mendatangkan banyak kebaikan dan kemanfaatan.

 

Heru Kurniawan
Dosen Institut Agama Islam Negeri Purwokerto
Founder Rumah Kreatif Wadas Kelir

Anak dan Pasir Hisap

SAHABAT KELUARGA – Kisah ini saya ambil dari buku yang ditulis Dorothy Law Nolte dan Rachel Haris (1998) yang menganalogikan kehidupan anak-anak seperti: seseorang terperangkap dalam pasir hisap, yang perlahan-lahan akan menghisap tubuh orang tersebut sampai masuk ke dalam. Dalam keadaan terhisap oleh pasir hisap ini, reaksi orang akan memiliki dua kemungkinan besar.

Pertama, orang tersebut akan diam saja dan pasrah karena meyakini bahwa dirinya pasti tidak bisa melawan takdir atas kenyataan hidupnya yang pelan-pelan akan masuk dalam pasi hisap. Dalam keadaan demikian, orang ini akan beranggapan bahwa pasrah adalah jalan terbaik. Diam adalah sikap paling bijak untuk menerima kenyataan. Perlahan-lahan tubuh orang ini akan masuk seutuhnya dalam pasir hisap tanpa usaha apapun untuk selamat.

Kedua, dalam keadaan tubuh yang terus terhisap pasir, orang ini akan terus berpikir bagaimana dirinya selamat. Orang ini percaya bahwa Tuhan akan menyelamatkan dirinya. Melalui berpikir dan berdoa yang tanpa henti, orang ini kemudian berusaha menggerakan seluruh anggota tubuhnya, sekalipun dengan bergerak dirinya semakin tenggelam oleh pasir hisap. Dalam usaha yang tiada henti, orang ini kemudian menemukan cara untuk selamat, yaitu berteriak minta tolong. Dan tentu saja, akan ada yang menolong. Siapakah yang menolong? Dia adalah orang-orang dekatnya yang pernah merasakan kebaikannya.

Dua kenyataan orang di atas dalam menyikapi kenyataan diri yang terus dihisap oleh pasir hisap adalah analogi atas kebutuhan pendidikan anak-anak kita. Kehidupan ini layaknya pasir hisap, akan terus memerangkap anak-anak kita dalam kenyataan yang apapun keadaannya akan selalu terjadi.

Dalam keadaan terperangkap dalam kehidupan yang seperti ’pasir hisap’ ini, diperlukan tiga kepribadian penting dari anak: anak yang memiliki keyakinan bahwa dirinya bisa karena adanya kekuatan Tuhan; anak yang selalu memberdayakan pikiran dan usahanya untuk bisa selamat dan sukses dalam kehidupan ini; dan anak yang meyakini bahwa melalui kebaikan, maka akan ada orang baik yang menyelematkan hidupnya.

Inilah nilai penting pendidikan yang dibutuhkan anak-anak kita agar selamat oleh pasir hisap kehidupan yang perlahan-lahan akan menengggelamkan dan menggagalkan kehidupan anak-anak kita.

Bisa karena Adanya Tuhan

Prinsip dasar pertama pendidikan untuk anak-anak kita adalah sikap optimis yang dibangun atas keyakinan bahwa semua persoalan bisa diatasi karena keberadaan Tuhan. Untuk itu, sikap selalu dekat dengan Tuhan melalui doa, ibadah, dan kebaikan menjadi hal mutlak yang harus dilakukan oleh anak-anak.

Ini perlu dilakukan karena kehidupan itu merupakan serangkaian peristiwa yang sering menimbulkan banyak persoalan yang memerangkap. Untuk bisa selamat dari persoalan ini jalannya adalah memiliki keyakinan ini.

Dari sinilah, prinsip-prinsip dasar keagamaan menjadi pondasi dasar dalam pendidikan untuk anak-anak kita. Penanaman keyakinan ini akan menjadi sikap dasar anak dalam memandang kehidupan dirinya.

Anak-anak yang sedari awal memiliki konsep ini akan menjadi anak-anak yang selalu optimis dengan dasar religiusitas yang kuat. Konsep pendidikan ini melahirkan anak-anak kita yang taat beragama dan memiliki keyakinan kuat atas penguasaan diri yang yakin akan adanya Tuhan yang akan selalu membantu dirinya dalam mengatasi berbagai persoalan hidup yang akan dihadapi anak.

Berpikir dan Bekerja Keras

Keyakinan bahwa Tuhan adalah Dzat yang Maha Menolong tidak membuat anak-anak pasrah dalam menerima kenyataan. Sebaliknya, anak-anak akan selalu berpikir dan bekerja keras dalam mengatasi berbagai persoalan demi mencapai keinginannya.

Nilai inilah yang kemudian harus diajarkan sehingga anak-anak kita adalah individu yang akan selalu berpikir dan berusaha dengan maksimal. Mereka yakin bahwa dirinya bisa sukses dan untuk meraih kesuksesannya, belajar dan bekerja keras dengan keyakinan optimis karena Tuhan akan mengabulkan cita-citanya.

Dengan nilai pendidikan inilah anak-anak kita adalah generasi yang berpikir dan berkarya. Generasi yang tidak saja menerima kenyataan dengan pasrah, tetapi generasi yang selalu belajar memahami banyak ilmu pengetahuan, dan mempraktikan ilmu pengetahuan dalam kehidupan sehari-harinya. Semua dilakukan demi mewujudkan cita-citanya menjadi anak-anak yang baik dan sukses dalam kehidupan.

Komunikasi Kebaikan 

Dalan usahanya berpikir dan bekerja keras ini, sikap menjalin komunikasi kebaikan menjadi inti kesadaran. Anak-anak kita harus diyakinkan bahwa yang akan membuat mereka sukses bukan dirinya sendiri, tetapi Tuhan atas perantara orang lain. Di sinilah sikap menghormati dan selalu berbuat kebaikan pada orang lain menjadi nilai mutlak dalam pendidikan untuk anak-anak kita.

Melalui orang lain, kita akan diberikan kemudahan, pertolongan, dan bantuan. Yang akan membantu dan menolong kita adalah orang yang dekat dan baik dengan anak-anak. Yang dekat dan baik dengan anak adalah mereka yang telah merasakan kebaikan anak-anak.

Di sinilah keomunikasi kebaikan menjadi hal penting yang harus ditanamkan ke anak-anak kita. Sehingga mereka memahami semua keyakinan pada Tuhan dan kerja keras dalam berpikir dan berkarya akan sia-sia tanpa kebaikan pada orang lain. Maka berbuat baik pada orang lain akan mendatangkan kebaikan orang lain yang diberikan pada kita juga. Dari orang lain inilah kemudian kita ditolong dan dibantu untuk selamat dan sukses. (Heru Kurniawan – Pengajar Institut Agama Islam Negeri Purwokerto, Founder Rumah Kreatif Wadas Kelir, Penulis Buku Parenting, Bacaan, dan Aktivitas Anak. Foto: Fuji Rachman)

Sumber: https://sahabatkeluarga.kemdikbud.go.id/laman/index.php?r=tpost/xview&id=249900255 

Catatan Belajar di Sekolah Literasi: HARAPAN MALVA

Sore itu, selepas saya pulang kantor, saat sampai di rumah, Malva (siswa 4 SD) mendatangiku.

“Pak Guru sudah pulang?” tanya Malva pelan.

“Iya,” jawabku sambil tersenyum senang.

“Pak Guru mau mengajar kami lagi?” tanya Malva lagi.

Seketika mulut saya tercekat. Saya tidak bisa menjawab karena kenyataan sudah berbulan-bulan saya tidak mengajar anak-anak. Sebabnya sederhana. Saya tidak bisa membagi waktu dan konsentrasi karena saya harus menyelesaikan studi saya yang sudah lama terbengkalai dan kritis.

“Ya, pasti. Esok Pak Guru akan mengajar lagi usai Pak Guru meneyelesaikan pekerjaan Pak Guru,” jawab saya dengan tidak bisa menyembunyikan rasa bersalah pada Malva yang polos dan jujur.

“O…ooo!” jawab Malva sedih seraya meninggalkanku begitu saja. Saya pun merasa sangat bersalah.

Saya masuk rumah, Istri saya menyambut saya dengan sebuah cerita yang semakin membuatku pilu.

“Kamarin Ibu Malva mengajak Malva untuk segera mandi sebab yang akan mengajar sekolah literasi kali ini adalah Pak Guru. Malva pun mandi dengan segera. Dan saat Ayah tadi mengatakan tidak bisa mengajar, Malva sangat kecewa…” kata Istri saya perlahan.

Saya hanya bisa terdiam. Mencoba untuk menetralisir diri saya. saya harus memahami anak-anak bahwa: (1) anak-anak sangat rindu pada saya untuk mengajar, dan jika sudah rindu seperti ini, harusnya tugas saya adalah mengobatinya; (2) jika sudah rindu, maka anak-anak tidak bisa menyembunyikan kekecewaannya, saat tahu orang yang dirindukannya itu mengecewakannya; dan (3) harusnya saya tahu bahwa anak-anak tidak akan paham dengan bahasa sok sibuk saya, maka harusnya saya tidak menggunakan kesibukan sebagai alasan untuk tidak mengajar anak-anak.

Saya menghempaskan tubuh di kursi. Saya pun menyadari bahwa saya harus segera beraksi. Dan inilah saatnya saya mengajar kembali anak-anak di Sekolah Literasi yang sudah saya dirikan sejak tahun 2013, dan sempat saya tinggalkan pada tahun 2017, dan kali ini di tahun 2019 saya akan kembali lagi memiliki keluarga belajar yang menyenangkan: anak-anak Wadas Kelir.

Pengalaman Mengajar #1

“AYAH, NERA SELALU DEG-DEGAN, TAPI NERA SUKA!”

Nera mendekat padaku, kemudian berkata, “Ayah, nanti sekolah literasi yang mengajar Ayah?”

Saya menatap Nera tajam dan sebentar, sekadar ingin tahu motif atas pertanyaannya. Saya pun menjawab, “Iya, mulai sekarang yang mengajar Ayah terus. Memang kenapa?”

“Nera selalu deg-deg-gan jika diajar Ayah,” jawab Nera dengan wajah sangat serius.

Saya diam sesaat. Mencoba mengoreksi diri atas kesalahan apa yang telah saya lakukan dalam mengajar.

“Tapi, Nera suka Ayah. Ayah asyik kalau mengajar. Teman-teman Nera juga suka,” seru Nera mendadak mengagetkan lamunanku.

Saya segera memeluk Nera, anak kedua saya (7 tahun) yang selalu ikut Sekolah Literasi yang sudah saya lakukan selama enam tahun.

Sambil memeluk, saya berbisik bertanya, “Kenapa Nera suka diajar Ayah yang bikin deg-degan?”

“Asyik saja, Yah. Seru, ramai, dan membuat Nera mikir,” jawab Nera asal.

Saya tersenyum senang. Saya memahami sekarang bahwa yang dibutuhkan anak-anak dari gurunya adalah guru yang menyenangkan dalam mengajar, bisa membuat bersemangat anak-anak, dan jangan lupa bisa bikin deg-deg-an karena guru mengajak anak-anak untuk berpikir.

Barang kali inilah yang disebut mengajak anak-anak “berpikir untuk memahami sesuatu.” Ya, karena kenyataan belajar bagi anak-anak mendayagunakan kemampuan berpikir untuk memahami segala sesuatu dengan menyenangkan dan semangat.

Maka, dari kejadian ini saya mendapatkan tiga hal penting dalam belajar: senang, semangat, dan berpikir.

BERMAIN HURUF NAMA

Permainan ini saya temukan dan saya pratikan saat kegiatan belajar di Sekolah Literasi Wadas Kelir sore tadi dan anak-anak sangat antusias

Anak-anak menyebutkan nama panggilannya dengan keras. Setelah itu menyebutkan huruf yang membentu nama panggilannya. Misalnya, HERU kemudian menyebutkan H E R U. Secara bergiliran anak-anak melakukan hal yang sama. Kemudian kita menjelaskan huruf-hurufnya.

Misalnya, Jika nama anak HERU, maka susunan huruf atas nama adalah adalah H E R U, yang bila diurutkan dengan angka, maka 1=H; 2=E; 3=R; dan 4=U. Dari urutan inilah maka permainan ini dilakukan dengan memberikan pertanyaan-pertanyaan yang variasinya bisa dilakukan sebagai berikut:

Pertama,
Kita bertanya dalam urutan angka tunggal, misalnya, pertanyaan “Urutan tiga?”, maka anak akan menjawab, “R”. Jika pertanyaan, “Urutan dua dan satu?”maka anak akan menjawab, “E dan H.” Atup pertanyaan lebih sulit lagi, “Urutan dua, tiga, tiga, satu?” maka anak akan menjawab, “E, R, R, dan H.” Begitulah seterusnya, melalui susunan urutan huruf bisa dikembangkan dengan variasi pertanyaan angka.

Kedua,
Ini sebaliknya, anak-anak menjawabnya dengan menyebutkan angka dengan pertanyaan dari huruf. Misalnya, “Huruf E?” maka anak harus menjawab, “3”. Jika ditingkatkan dalam dua urutan angka, misalnya bertanya, “Huruf U dan E?” maka anak harus menjawab, “empat dan dua.” Dan jika ditingkatkan lagi, misalnya pertanyaan, “Huruf H, R, R, E?” maka anak harus menjawab, “1, 3, 3, dan 2.”

Demikianlah permainan ini dikembangkan secara kombinasi sehingga anak-anak hafal, dan tidak hanya hafal. Tetapi juga berpikir cepat. Melalui permainan ini, anak-anak dikondisikan dan dilatih untuk berpikir cepat melalu urutan huruf dan angka.

Permainan ini sangat menarik dan menyenangkan karena saat anak diberi pertanyaan, misalnya, tiga urutan angka dari nama HERU, misalnya 341, maka anak akan berpikir lucu dalam menemukan huruf yang ada pada nomor urut 341 pada nama HERU.