Pengalaman Mengajar #1

“AYAH, NERA SELALU DEG-DEGAN, TAPI NERA SUKA!”

Nera mendekat padaku, kemudian berkata, “Ayah, nanti sekolah literasi yang mengajar Ayah?”

Saya menatap Nera tajam dan sebentar, sekadar ingin tahu motif atas pertanyaannya. Saya pun menjawab, “Iya, mulai sekarang yang mengajar Ayah terus. Memang kenapa?”

“Nera selalu deg-deg-gan jika diajar Ayah,” jawab Nera dengan wajah sangat serius.

Saya diam sesaat. Mencoba mengoreksi diri atas kesalahan apa yang telah saya lakukan dalam mengajar.

“Tapi, Nera suka Ayah. Ayah asyik kalau mengajar. Teman-teman Nera juga suka,” seru Nera mendadak mengagetkan lamunanku.

Saya segera memeluk Nera, anak kedua saya (7 tahun) yang selalu ikut Sekolah Literasi yang sudah saya lakukan selama enam tahun.

Sambil memeluk, saya berbisik bertanya, “Kenapa Nera suka diajar Ayah yang bikin deg-degan?”

“Asyik saja, Yah. Seru, ramai, dan membuat Nera mikir,” jawab Nera asal.

Saya tersenyum senang. Saya memahami sekarang bahwa yang dibutuhkan anak-anak dari gurunya adalah guru yang menyenangkan dalam mengajar, bisa membuat bersemangat anak-anak, dan jangan lupa bisa bikin deg-deg-an karena guru mengajak anak-anak untuk berpikir.

Barang kali inilah yang disebut mengajak anak-anak “berpikir untuk memahami sesuatu.” Ya, karena kenyataan belajar bagi anak-anak mendayagunakan kemampuan berpikir untuk memahami segala sesuatu dengan menyenangkan dan semangat.

Maka, dari kejadian ini saya mendapatkan tiga hal penting dalam belajar: senang, semangat, dan berpikir.

Comments

comments

0 replies

Leave a Reply

Want to join the discussion?
Feel free to contribute!

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *