Catatan Belajar di Sekolah Literasi: HARAPAN MALVA

Sore itu, selepas saya pulang kantor, saat sampai di rumah, Malva (siswa 4 SD) mendatangiku.

“Pak Guru sudah pulang?” tanya Malva pelan.

“Iya,” jawabku sambil tersenyum senang.

“Pak Guru mau mengajar kami lagi?” tanya Malva lagi.

Seketika mulut saya tercekat. Saya tidak bisa menjawab karena kenyataan sudah berbulan-bulan saya tidak mengajar anak-anak. Sebabnya sederhana. Saya tidak bisa membagi waktu dan konsentrasi karena saya harus menyelesaikan studi saya yang sudah lama terbengkalai dan kritis.

“Ya, pasti. Esok Pak Guru akan mengajar lagi usai Pak Guru meneyelesaikan pekerjaan Pak Guru,” jawab saya dengan tidak bisa menyembunyikan rasa bersalah pada Malva yang polos dan jujur.

“O…ooo!” jawab Malva sedih seraya meninggalkanku begitu saja. Saya pun merasa sangat bersalah.

Saya masuk rumah, Istri saya menyambut saya dengan sebuah cerita yang semakin membuatku pilu.

“Kamarin Ibu Malva mengajak Malva untuk segera mandi sebab yang akan mengajar sekolah literasi kali ini adalah Pak Guru. Malva pun mandi dengan segera. Dan saat Ayah tadi mengatakan tidak bisa mengajar, Malva sangat kecewa…” kata Istri saya perlahan.

Saya hanya bisa terdiam. Mencoba untuk menetralisir diri saya. saya harus memahami anak-anak bahwa: (1) anak-anak sangat rindu pada saya untuk mengajar, dan jika sudah rindu seperti ini, harusnya tugas saya adalah mengobatinya; (2) jika sudah rindu, maka anak-anak tidak bisa menyembunyikan kekecewaannya, saat tahu orang yang dirindukannya itu mengecewakannya; dan (3) harusnya saya tahu bahwa anak-anak tidak akan paham dengan bahasa sok sibuk saya, maka harusnya saya tidak menggunakan kesibukan sebagai alasan untuk tidak mengajar anak-anak.

Saya menghempaskan tubuh di kursi. Saya pun menyadari bahwa saya harus segera beraksi. Dan inilah saatnya saya mengajar kembali anak-anak di Sekolah Literasi yang sudah saya dirikan sejak tahun 2013, dan sempat saya tinggalkan pada tahun 2017, dan kali ini di tahun 2019 saya akan kembali lagi memiliki keluarga belajar yang menyenangkan: anak-anak Wadas Kelir.

Comments

comments

0 replies

Leave a Reply

Want to join the discussion?
Feel free to contribute!

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *