MENGHUBUNGKAN DUA KATA

Permainan ini dilakukan untuk mengkondisikan anak-anak dalam menemukan dan menuliskan dua kata yang menyenangkan. Kemudian, melalui dua kata tersebut, anak-anak akan menghubungkannya menjadi kalimat-kalimat sederhana yang menarik, yang kemudian bisa dirangkai menjadi puisi atau deskripsi sederhana.

Guru meminta anak-anak untuk menulis angka 1 – 10 dengan dua kolom:
1………………………………. 2………………………………..
3………………………………. 4………………………………..
5………………………………. 6…………………………………
7………………………………. 8…………………………………
9………………………………. 10……………………………….

Kemudian guru memberikan pertanyaan kepada anak-anak untuk menyebutkan satu kata yang huruf depannya ditentukan oleh guru.

Misalnya:
Pertanyaan nomor 1: sebutkan satu kata yang huruf depannya “H” (anak bebas menuliskan satu kata dengan huruf depan “H”, tetapi tidak boleh dengan nama orang)

Setelah sepuluh pertanyaan dijawab dan sepuluh nomor terisi dengan satu kata. Selanjutnya anak-anak diminta membacakan jawabannya satu per satu. Jawaban yang salah adalah jawaban yang sama antaranak-anak.

Misalnya:
Dengan pertanya, “Sebutkan satu kata yang huruf depannya “H”!”
Kemudian Zaka, Kanza, dan Bintang sama-sama menjawab, “HARIMAU!” maka ketiganya salah.

Jawaban yang benar tentunya yang berbeda. Tidak ada teman-teman yang menyamai. Dari jumlah jawaban yang benar atau tidak sama dengan temannya inilah, guru bisa menentukan pemenang atas permainan ini.

Setelah pemenang ditentukan, selanjutnya, anak-anak diminta untuk menulis kalimat dengan cara menghubungkan jawaban “kata nomor 1” dengan “kata nomor 2”; menghubungkan jawaban “kata nomor 3” dengan “kata nomor 4” dan seterusnya.

Misalnya:
Meli dengan jawaban kata “pemuda” dan “ hutan” kemudian menulis kalimat: “Pada suatu hari seorang pemuda pergi ke hutan rimba”

Khanza dengan jawaban kata “semut” dan “lubang” kemudian menulis kalimat: “Seekor semut sedang makan di dalam lubang tanah”

Dari sinilah, anak-anak kemudian bisa menghubungkan dua kata menjadi kalimat-kalimat sederhana yang menarik dan kreatif.

Malva menulis:
1. Pada suat hari seorang pemuda pergi ke hutan rimba.
2. Ibu mencari ember untuk menampung air hujan.
3. Nenekku mendengar suara aneh dari balik toko itu.
4. Sukarno pahlawan pemberani dari Indonesia.
5. Aku memelihara iguana yang lucu.

PERMAINAN LITERASI #1

1.
MENULIS LIMA BAGIAN KEPALA

Permainan ini sederhana. Hanya mengenal, mengidentifikasi, dan kemudian menerka lima bagian kepala: rambut, telinga, mata, hidung, dan mulut. Melalui kelima bagian inilah anak-anak kemudian dikondisikan untuk menulis puisi atau deskripsi kepala dengan kalimat sederhana.

Permainanannya dimulai dengan guru mengenalkan lima bagian kepala: rambut, telinga, mata, hidung, dan mulut kepada anak-anak. Pengenalan dilakukan dengan menunjuk anak secara bergiliran untuk menyebut satu bagian tersebut, kemudian melafalkan huruf-hurufnya.

Misalnya:
Nera, “Rambut. R A M B U T!”
Zakka, “Telinga. T E L I N G A!”
Malva, “Mata. M A T A!’
Tegar, “Hidung. H I D U N G!”
Anin, “Mulut. M U L U T!”

Setelah berurutan menyebutkan bagian dan hurufnya, selanjutnya anak-anak menyiapkan kertas yang sudah diberi angka 1-5!

Misalnya:
1……………………………..
2……………………………..
3……………………………..
4……………………………..
5……………………………..

Setelah siap, guru mengisi nomor 1 – 5 dengan kelima bagian kepala tersebut dengan acak. Anak-anak juga menulis dengan acak juga. Jika sudah selesai, maka jawaban anak-anak dicocokkan dengan jawaban guru. Anak yang jawabannya banyak yang sama dengan guru menjadi pemenangnya.

Dari sinilah juara permainan ini bisa tentukan. Anak-anak akan senang dan bergembira yang menjadi pemenangnya.

Setelah, pemenang ditentukan, anak-anak kemudian diminta untuk membuat mengembangkan atau membuat kalimat dari masing-masing nomor dengan satu kata bagian kepala itu.

Dari sinilah, anak-anak kemudian membuat puisi atau deskripsi sederhana tentang bagian kepala ini.

Zaka (usia lima tahun) menulis hasilnya sebagai berikut:
1. Rambut Keila, adikku, di kuncir dua
2. Matanya cerah dan indah
3. Hidungnya mancung
4. Dua telinganya untuk mendengar
5. Mulutnya sering mengunyah permen

Setelah dipuisikan menjadi:

AKU SUKA KEILA ADIKKU

Rambut Keila adikku di kuncir dua
Matanya cerah dan dan indah
Hidungnya mancung
Dua telinganya untuk mendengar
Mulutnya sering mengunyah permen

Aku suka dengan adikku Keila

KONSISTEN JALANI KERJASAMA DENGAN AISEC, WADAS KELIR KELILING DUNIA LEWAT IMAJINASI!

Dua minggu berturut-turut selama rentang akhir Januari hingga awal Februari lalu, AISEC rutin kunjungi Rumah Kreatif Wadas Kelir. Tim AISEC datang bersama para IP mereka dari berbagai negara, seperti China, Taiwan, Itali, hingga Amerika Serikat. Mereka datang dengan misi bertajuk culture project atau memperkenalkan kebudayaan dari berbagai belahan dunia, khususnya negara masing-masing IP.

Bukan hal yang baru di Rumah Kreatif Wadas Kelir dikunjungi tamu dari berbagai negara di dunia. Sebab, kerjasama serupa sudah berjalan kurang lebih 3 tahun sejak 2017. Rumah Kreatif Wadas Kelir sangat antusias menerima tawaran kerja sama demikian karena mendapat respon positif dari masyarakat di lingkungan sekitar.

Bagi Malva misalnya, bagi siswi kelas V SD ini didatangi orang asing di lingkungan rumahnya adalah sebuah topik yang sangat luar biasa untuk diceritakan pada teman-temannya di sekolah. Nyaris serupa dengan Malva, bagi Meli, bertemu para kakak IP dari bermacam negara membuatnya senang belajar IPS, terutama jika di mata pelajaran tersebut menyebutkan nama-nama negara asal para IP yang pernah ditemuinya, “Waktu itu kan pernah ketemu sama Kak Anastasia Sukhanova dari Rusia. Aku jadi tahu banyak soal Rusia, seneng deh. Bisa cerita sama temen-teman rasanya ngobrol sama orang Rusia,” tuturnya.

Lain halnya dengan Malva dan Meli yang bertemu para IP di program Sekolah Literasi yang suasananya lebih informal dan santai. Bagi Rosi Monika, salah satu warga belajar Paket B Wadas Kelir yang sempat diajar oleh para IP di kelas bahasa Inggris, dirinya merasa semakin tekun dan semangat belajar bahasa Inggris. Ia jadi punya cita-cita jalan-jalan ke seluruh dunia. “Pas pelajaran kemarin ditanyain sama Duan dari China, kalau aku bisa keliling dunia mau ke mana, aku jawab mau pergi keliling dunia kayak mereka. Terus dikasih nasihat suruh belajar bahasa Inggris biar bisa jalan-jalan kayak mereka,” tuturnya dengan raut yang antusias.

Tak hanya masuk ke kelas Sekolah Literasi dan Program Paket Wadas Kelir, para IP juga masuk ke kelas Bimbel Wadas Kelir. Kelas yang didominasi oleh anak-anak usia dini itu riuh ketika Ricardo, salah satu IP yang berasal dari Itali dan berpawakan tinggi semampai masuk ke dalam kelas dan menyanyi lagi berbahasa asing.

“Tinggi banget!” kata seorang anak sambil mendongak ketika pertama kali berkenalan dengan Ricardo.

Anak-anak yang awalnya malu-malu dan takut bicara dengan para IP lama kelamaan justru antusias bertanya dibantu para relawan yang menerjemahkan bahasa keduanya.

“Agenda seperti ini memang rutin ada di Rumah Kreatif Wadas Kelir. Selain tujuannya membuka wawasan luas tentang dunia ke masyarakat di lingkungan Wadas Kelir khususnya, acara-acara serupa juga bertujuan supaya anak-anak dan masyarakat yang belajar di sini termotivasi untuk berani bermimpi yang tinggi. Mereka harus punya mimpi bisa menjelajahi negeri-negeri, yang mungkin aja selama ini cuma ada di mimpi! Teman-teman IP dari AISEC inilah yang bisa jadi salah satu pemantik untuk kami agar tidak cepat berpuas diri berkarya di negara sendiri. Kalau bisa berkarya di kancah dunia, kenapa tidak?” tandas Umi, relawan Rumah Kreatif Wadas Kelir yang mengurus soal kerjasama dengan organisasi dan komunitas untuk Wadas Kelir.

PAKET WADAS KELIR GELAR PELUNCURAN DAN BEDAH BUKU KARYA WARGA BELAJARNYA

Senin (25/2) sore, area Pusat Belajar Masyarakat (PBM) Wadas Kelir ramai oleh warga-belajar Paket Wadas Kelir. Ada yang sibuk menata set panggung, ada yang sibuk latihan musikalisi puisi, hingga latihan MC. Mereka adalah warga belajar Paket B dan Paket C Wadas Kelir yang malam harinya memiliki hajat peluncuran buku puisi pertama mereka bersama-sama.

Dibedah oleh Achmad Sultoni, M. Pd. yang merupakan pegiat sastra sekaligus pengajar di salah satu kampus swasta di Purwokerto, buku antologi ‘Sajak-sajak Pemburu Ilmu’ adalah sebuah hal yang spesial. Jika biasanya dia diminta membedah karya mahasiswa atau karya siswa-siswi di jenjang sekolah formal pada umumnya, kali ini dia diundang untuk membedah antologi puisi karya para warga belajar dari paket b dan paket c.

Ia menuturkan bahwa hal tersebut membuatnya haru, bangga, sekaligus malu. Haru dan bangga melihat semangat warga belajar Paket B dan Paket C Wadas Kelir belajar menulis puisi. Sedang dirinya merasa malu karena masih sering merasa malas berproses menulis puisi, padahal hal itu adalah dunia yang sangat dekat dan lekat dengan dirinya. Sedangkan warga belajar di paket adalah mereka yang profesinya sangat beragam, mulai dari ibu rumat tangga, sales motor, penjaga warnet, office boy, hingga karyawan binatu.

“Harusnya mahasiswa saya dari jurusan bahasa dan sastra datang ke acara ini. Biar mereka ikut merasakan apa yang saya rasakan juga malam ini. Biar mereka tertampar dan sadar, kalau harusnya mereka juga menulis!” tutur Achmad Sultoni saat menyaksikan warga paket membawakan sebuah musikalisasi dari sebuah puisi dalam buku “Sajak-sajak Pemburu Ilmu” tersebut.

Tak hanya acara malam itu yang mendapat apresiasi menyenangkan dari berbagai kalangan, tapi buku antologi karangan warga paket itupun mendapat apresiasi yang baik dari masyarakat sekitar. Bagi Ade Wiwit Baety seorang warga belajar paket c yang beberapa sajaknya dimuat misalnya, ia mengatakan bahwa dirinya mendapat pujian dari para sahabatnya karena bisa menulis puisi hingga dibukukan, “Temen-temen nggak percaya kalau itu tulisanku. Katanya puitis banget kaya penyair!” tuturnya sambil tersipu.

Raut bahagia terpancar dari wajah para penyair saat bukunya usai dibedah. Meski harus melewati proses dan penantian panjang, kurang lebih 8 bulan sejak naskah masuk ke penerbit, mereka merasa sangat senang ketika menerima buku pertamanya!

“Semoga ada proyek-proyek selanjutnya. Antologi cerpen, misalnya. Atau bahkan buku solo para warga belajar di sini. Hebat! Selamat!” tutur Yazid, salah satu tamu undangan yang sengaja menempuh perjalanan jauh dari Kabupaten Brebes untuk memenuhi undangan bedah buku malam itu.

Senada dengan Yazid, Wulan, salah satu tutor di Paket B dan C Wadas Kelir juga mengharapkan hal yang sama. Ia berharap agar proses serupa bisa terus ada secara berkala. Sebab, dengan proyek menulis tersebut, bukan hanya warga belajar saja yang dituntut belajar dan berproses menulis, tetapi juga para tutornya. Pasalnya, dalam buku antologi “Sajak-sajak Pemburu Ilmu” para tutor Paket Wadas Kelir diberi ruang khusus bertajuk ‘penyair tamu’, yaitu space bagi para tutor untuk unjuk gigi soal keterampilannya menulis puisi.

“Pasti. Hal serupa pasti akan kami rencanakan lagi. Sebab dengan begini warga belajar tidak hanya merasa belajar teori, tetapi juga melihat wujud nyata dari proses belajarnya. Meski hanya sebagian dari yang telah dipelajarinya selama bertahun-tahun di Paket Wadas Kelir. Buku ini akan jadi sebuah artefak literasi yang mengingatkan mereka pada Paket Wadas Kelir ketika telah lulus nanti!” pungkas Endah, ketua pelaksana Program Pendidikan Kesetaraan Paket B dan C Wadas Kelir.