Berita Wadas Kelir: KENANGAN MENDAPATKAN PENGHARGAAN SEBAGAI INSAN PEDULI PENDIDIKAN ANAK DAN MASYARAKAT

Desember (30/2018) saya diminta untuk menerima penghargaan sebagai sosok atau insan peduli pendidikan anak usia dini dan masyarakat oleh Kementrian Pendidikan dan Kebudayaan RI.

Penghargaan yang membuat saya bertanya, “Kok, bisa?” Karena saya menyelenggarakan kegiatan Pendidikan Anak dan Masyarakat awalnya hanya niatan ingin dekat dengan anak-anak, mengajari mereka seni dan membaca, serta membangun keluarga yang cinta dengan ilmu pengetahuan dan pendidikan.

Saya tidak kenal dengan lembaga-lembaga lain. Hanya anak-anak, remaja, dan relawan yang saya kenal untuk selalu bersama dalam mencinta ilmu pengetahuan. Tidak tahuanya, setiap tahun kami mendapat apresiasi dari banyak orang dan lembaga. Dan penguhujung tahun 2018 penghargaan yang kesekian kali datang sebagai Insan Peduli Pendidikan Anak Usia Dini dan Masyarakat.

Dengan ada penghargaan atau pun tidak, sudah jadi niat saya untuk terus maju dan bergerak. Selalau bersama anak-anak, remaja, dan relawan untuk belajar bersama. Membangun mimpi bersama. Dan bekerja keras bersama mewujudkan masa depan kami yang indah.

Ya, semua harus dimulai dari diri kita sendiri jika kita mau berjuang. Semua harus dimulai dari tekad untuk sungguh-sungguh tapi tidak mengeluh. Dari sini kami, Rumah Kreatif Wadas Kelir, terus perlahan-lahan menjadi komunitas literasi yang besar dan mendiri.

(Heru Kurniawan, Dosen Institut Agama Islam Negeri Purwokerto dan Founder Rumah Kreatif Wadas Kelir)

Berbagi Berita: TAMU ISTIMEWA DARI IAIN PONTIANAK, KAMI SANGAT BAHAGIA!

“Tamulah yang membuat kami dikenal dan besar, maka sebisa mungkin kami akan memuliakan tamu!”

Pukul 10.15 WIB (29/04) tamu untuk kampus tercinta saya, IAIN Purwokerto datang. Tamu yang terhormat itu adalah Mas Hamzah, Wakil Dekan I dan Mba Helva, Kaprodi PIAUD IAIN Pontianak. Dua sahabat istimewa ini akan menjalin kerja sama dengan Fakultas Tarbiyah dan Ilmu Keguruan (FTIK) IAIN Purwokerto. Keduanya mewakili FTIK IAIN Pontianak akan melakukan observasi untuk pengembangan program PPL/PKL di FTIK IAIN Purwokerto yang akan ditempatkan di Rumah Kreatif Wadas Kelir.

Tentu saja, saya mewakili teman-teman relawan, warga masyarakat, dan pemerintahan kelurahan mengucapkan terima kasih pada IAIN Purwokerto. Saya tidak menyangka kalau yang kami lakukan dalam membangun dan mengembangkan Rumah Kreatif Wadas Kelir akan mendapatkan apresiasi yang luar biasa ini. Kami akan berusaha melaksanakan amanah ini sebaik mungkin. Selagai yang kami lakukan akan mendatangkan kemanfaatan bagi masyarakat, maka kami akan menerima dan melaksanakannya dengan sungguh-sungguh.

Kedatangan dua sahabat istimewa dari IAIN Pontianak ini kami jemput di Stasiun Purwokerto. Kami segera menuju ke Kampus IAIN Purwokerto. Karena hari libur, kami hanya berkeliling sambil saya sampaikan keistimewaan kampus saya tercinta. Mulai dari kekeluargaan dan kekompakan, prioritas kinerja, sampai akreditasi prodi yang semua prodi baru B dan prodi lama sudah A . Dua sahabat istimewa kagum dan mengapresiasi capaian IAIN Purwokerto. Saya tersenyum senang dan bangga.

Dari kampus IAIN Purwokerto kami melaju ke Rumah Kreatif Wadas Kelir. Dua sahabat dari IAIN Pontianak ingin melihat langsung suasana, tempat belajar, kegiatan, sampai pada tempat penginapan yang akan ditempati 20 mahasiswa FTIK-IAIN Pontianak yang akan PPL/PKL terpadu di IAIN Purwokerto dengan tempat belajar di Rumah Kreatif Wadas Kelir.

 

Sampai di Pusat Belajar Wadas Kelir, dua sahabat tersenyum senang komentarnya adalah pasti mahasiswa FTIK IAIN Pontianak akan kerasan di sini. Udarana sejuk dan pemandangannya indah. Di sini banyak fasilitas lengkap, tempat belajar, kantor, perpustakaan, dan home stay milik masyarakat yang nyaman. Ungkapan yang menyenangkan bagi kami, dan acara dilanjutkan dengan pengambilan foto untuk laporan dan diskusi soal orientasi PPL/PKL IAIN Pontianak ini.

Konsep yang saya tawarkan berdasarkan hasil diskusi dengan Dr. H. Suwito, M.Ag., selaku Dekan FTIK IAIN Purwokerto adalah PPL/PKL berbasis karya dan pengabdian masyarakat. Mahasiswa PPL/PKL FTIK IAIN Pontianak akan diorientasikan untuk melakukan pengabdian mengajar di Madrasah Ibtidaiyah (MI) Dipo 3 Karangklesem, PAUD Wadas Kelir, dan TPQ di sekitar Wadas Kelir. Setelah pengabdian, mahasiswa akan diorganisasi dan dibimbing untuk belajar menulis secara intensif sesuai dengan basis program studinya. Hasilnya setiap mahasiswa selama 20 hari PPL/PKL akan menulis dua buku. Harapan Wakil Dekan I FTIK IAIN Pontianak, semoga kegiatan PPL/PKL ini akan sukses dilaksanakan dan akan ditiru dan diikuti oleh kampus-kampus lain.

[Heru Kurniawan, Pengajar di Institut Agama Islam Negeri Purwokerto dan Founder Rumah Kreatif Wadas Kelir]

KEHIDUPAN SEDERHANAKU UNTUK KAMPUS DAN WADAS KELIR

Barang kali ini terlalu mengada-ada, tapi tidak ada salahnya saya berbagi. Sekadar untuk mengungkapkan apa yang saya alami setiap hari. Syukur-syukur, teranyata bisa memberikan banyak manfaat dan inspirasi.

Saya menyadari bahwa dua tempatku bekerja adalah adalah Kampus dan Wadas Kelir. Setiap hari dua tempat ini menyedot energi dan pikiranku. Aku pun harus ekstra menjaga tubuhku untuk bisa sehat dan kuat untuk menjalani hari-hari, yang mungkin bagi orang melelahkan, tetapi sungguh bagi saya sangat menyenangkan.

Hidup saya dimulai sejak pagi buta, setelah minum minuman favorait lemon dalam gelas air hangat, kemudian saya berdoa pada-Nya, saya segera mengisi sejam untuk menulis atau membaca. Setelah itu saya akan lari pagi selama 30-60 menit tanpa henti.

Awalnya baru lari 10 menit sudah ngos-ngosan, tetapi lama-kelamaan kuat juga sampai 30-60 menit. Dan dalam lari saya merasakan sensai perasaan yang luar biasa. Pikiran bisa melayang ke mana-mana penuh imajinasi yang banyak gagasan.

Selepas lari, saya akan menyapu jalan di area wadas kelir, kemudian mengepel halaman rumah sendiri. Saya senang menyapu dan mengepel, ingin rasanya menguji kekuatan saya menyapu dan mengepel di area stasiun. Saya pengagum berat cleaning service di stasiun. Pingin sekali-kali ikut menyapu dan mengepel di sana.

Selepas menyapu dan mengepel saya ke kampus untuk bekerja mencari rizki dan berbakti pada negara. Dalam keaadaan tubuh sudah capek lari, biasanya saya di kampus sempatkan tidur di kursi 10 -30 menit. Ini cukup memulihkan energiku yang hilang. Dan tidak lupa, makan bekal yang dibawakan istri. Rasanya seperti masa kecil dulu kerja di sawah sampai siang kemudian ibu datang bawakan nasi. Lauk apapun rasanya nikmat.

Sore hari pulang, saya segera ngantor di Gerobak Baca Wadas Kelir. DI situ saya bisa berkoordinasi dengan relawan, rapat memantau perkembangan unit, serta menulis dan membaca yang bisa saya lakukan sampai malam pukul 22.00 WIB.

Pekerjaan selesai. Saat itu saya merasakan bahagia karena terus berusaha bekerja sebaik mungkin di Kampus IAIN Purwokerto dan Rumah Kreatif Wadas Kelir. Di dua tempat ini aku menghayati bekerja.

(Heru Kurniawan, Pengajar di Institut Agama Islam Negeri Purwokerto dan Founder Rumah Kreatif Wadas Kelir Purwokerto)

Cerita Inspiratif: IDE KREATIF LAHIRNYA BANK WADAS KELIR

Saya sering meminjam sepeda motor milik Relawan Wadas Kelir. Di motor mereka saya sering melihat uang recehan terkumpul dibagian sepeda motor. Uang yang pasti sengaja disimpan untuk parkir atau keperluan lainnya. Uang yang barang kali dianggap kelebihan bahkan tidak penting.

Dari situ saya muncul pertanyaan: bagaimana jika uang itu dikumpulkan secara rutin di sebuah tabungan?

Saya kemudian berhitung. Jika sehari relawan menabung Rp. 1.000,- maka sebulan akan ada tabungan Rp. 30.000,- Jumlah Relawan, anak-anak, dan remaja ada 50 orang. Setiap bulan pun akan terkumpul tabungan Rp. 1.500.000,- dan salam waktu satu tahun akan terkumpul tabungan Rp. 18.000.000,-

Saya langsung kaget mendapatkan angka sebanyak itu dari uang setiap hari Rp. 1.000,-. Tentu saja uang Rp. 18.000.000, milik bersama bisa digunakan untuk biaya pendidikan Remaja dan Relawan Wadas Kelir dari S-1, S-2, sampai S-3.

Semua hanya dimulai dari menabung sehari Rp. 1.000,-

Dengan kenyataan ini,saya segera mengumpulkan relawan untuk mendirikan Bank Wadas Kelir yang menerima tabungan sehari cuma Rp. 1.000,-

Sekarang Bank Wadas Kelir berdiri sejak bulan April 2019. Dan setiap malam anak-anak ramai menabung Rp. 1.000,- Jujur saja saya tidak menyangka berefek seperti ini.

Tapi, barangkali inilah ide kreatif yang selalu mendatangkan energi-energi kreatif untuk kemajuan Wadas Kelir.

Semoga ini akan membawa kebaikan untuk Wadas Kelir.

BANK WADAS KELIR
Tempat Menyenangkan untuk Menyimpan Masa Depan!

Catatan Parenting #1: TIDAK PUTUS ASA

Setiap hari kita pasti pernah mengalami berbagai permasalahan yang di lakukan oleh anak, misalnya, anak menangis, bertengkar, memaksakan diri minta dibelikan sesuatu, tidak menurut, malas sekolah dan belajar, kecanduan gadget, mendadak marah-marah, dan sebagainya. Permasalahan ini pasti terjadi berulang-ulang dalam setiap harinya.

Apa yang harus kita lakukan sebagai orang tua? Tidak boleh putus asa! Ini jawabannya.

Kenapa tidak boleh putus asa? Karena setiap permasalahan yang diciptakan oleh anak-anak itu adalah suatu keharusan. Tidak ada anak yang setiap harinya baik, misalnya, menurut dan pendiam terus. Jika ini terjadi, kita sebagai orang tua pasti akan kebingungan karena anaknya tidak membuat masalah. Untuk itu, anak-anak membuat masalah adalah hal yang alamiah terjadi dalam proses tumbuh-kembang anak.

Untuk itu, setiap orang tua harus meyakini bahwa ana-anak membuat masalah merupakan hal yang biasa karena melalui permasalahan anak-anak akan tumbuh menjadi dewasa.

Jadi, terima dengan baik permalasahan anak, sekalipun itu berat. Karena berat inilah, maka sikap orang tua untuk boleh tidak putus asa. Kita tidak boleh menyerah dalam menasihati, mendampingi, mengarahkan, dan melarang untuk hal yang positif saat anak-anak kita sedang bermasalah.

Sikap putus asa orang tua biasanya ditunjukkan dengan membiarkan dan tidak peduli. Saat anak melakukan kesalahan, orang tua tidak peduli dan membiarkan anak larut dalam kesalahannya. Orang tua sudah merasa percuma menasihati karena merasa tidak akan didengar dan dipatuhi nasihatnya oleh anak. Jika ini dibiarkan, maka ini akan berbahaya. Anak-anak kita akan selamanya terjebak dalam kesalahan yang disukainya.

Di sinilah, sikap tidak putus asa menjadi kunci utama dalam pendidikan anak. Kita tahu bahwa anak kita tumbuh dan berkembang dalam permasalahan. Untuk itu, dalam menghadapi permasalahan yang dihadapi anak, kita tidak boleh menyerah dan putus asa. Misalnya, sikap tidak putus asa orang tua terhadap anak yang kecanduan gadget akan ditunujukkan dengan orang tua yang intensif menasihati, mengarahkan, membuat jam khusus, sampai pada marah dalam kebaikan agar anak tidak sampai kecanduan gadget.

Sikap tidak putus asa inilah yang pada akhirnya akan membuat anak-anak sadar saat nalarnya sudah muncul. Sadarnya dibuktikan oleh anak dengan mengatakan dalam dirinya, “Oh, gadget ini tidak boleh saya gunakan terus-menerus, nanti saya jadi tidak bisa belajar maksimal. Padahal, nilai- sekolahku harus bagus agar aku bisa sekolah sampai tinggi.” Anak-anak pun dengan sendirinya tidak kecanduang gadget karena sikap tidak putus asa orang tua dalam mendidik anaknya.

Untuk itulah, muara utama orang tua tidak putus asa dalam mendidik anak menghadapi berbagai persoalan anak adalah tumbuhnya kesadaran dan nalar anak. Melalui nalar dan sadar inilah, anak-anak pada gilirannya akan bisa mengatasi dan menyelesaikan permasalahannya sendiri. Di sinilah kita sebagai orang tua berarti telah sukses dalam mendidik anak-anak kita karena sikap kita yang tidak putus asa dalam menghadapi dan mengatasi berbagai persoalan dan permasalahan yang diciptakan dan dilakukan oleh anak-anak kita.

(Heru Kurniawan, Pengajar di Institut Agama Islam Negeri Purwokerto, Founder Rumah Kreatif Wadas Kelir, dan Penulis Buku Parenting dan Bacaan Anak)

Yuk, Mendongeng untuk Anak

SAHABAT KELUARGA– Mendongeng sangat baik bagi perkembangan intelektual anak. Tidak saja memberikan pengetahuan yang luas, mendongeng juga efektif dalam mengembangkan imajinasi anak. Di dalam dongeng, anak menerima bahasa yang disampaikan pendongeng untuk kemudian berusaha menerjemahkan dalam pikirannya.

Orangtua sebaiknya tidak menolak saat anak meminta diceritakan dongeng. Di awal mungkin sulit. Namun, seharusnya hal itu tidak menghalanginya untuk mendongeng pada anak-anaknya. Apalagi dongeng dapat sekaligus menjadi media pendidikan orangtua yang kesulitan memberikan arahan kepada anaknya.

Berikut ini beberapa hal yang dapat dilakukan saat orangtua hendak mendongeng:

Pertama, menciptakan antusias

Orangtua atau pendidik sebaiknya memberikan suasana antuasias pada anak. Anak dapat menerima pelajaran dari dongeng saat mereka terlihat antusias. Mengawali sebuah dongeng dengan menarik akan membuat anak senang dan membuat rasa ingin tahunya tinggi. Orangtua dapat memulai dongeng dengan pertanyaan-pertanyaan sederhana. Misalnya mengucap salam dan menanyakan kabar pada anak dengan irama yang menyenangkan.

Kedua, karakter yang menarik

Anak-anak tentu masih memiliki perkembangan dalam segala hal. Imajinasi dan pengetahuan anak masih membutuhkan perkembangan. Orangtua dapat memberikan stimulus yang sesuai dengan kebutuhan anak. Pilih karakter yang mudah diterima anak sesuai dengan usia perkembangannya. Pilih juga tokoh dengan memiliki kelebihan dan kekurangannya.

Ketiga, konflik yang mengejutkan

Selain tokoh atau karakter yang menarik, konflik adalah yang tidak dapat lepas dari dongeng. Orangtua dapat membuat persoalan-persoalan sederhana yang sering ditemui anak dalam kesehariannya. Jika dapat mengangkat persoalan yang ia lihat pada anak, di sinilah orangtua sebenarnya dapat memberikan solusi melalui dongeng yang diciptakannya.

Selamat Hari Dongeng Internasional, 20 Maret 2019. (Muhamad Iqbal  Relawan Pustaka TBM Wadas Kelir. Foto: Fuji Rachman)

Mood Anak Berubah-ubah? Berikut Cara Menghadapinya

SAHABAT KELUARGA- Ali akan tampil dalam suatu lomba pantomim. Sejak lama ia mempersiapkan diri dengan berlatih terus menerus sehingga memiliki rasa percaya diri yang tinggi.

Namun, pada saat menjelang lomba itu berlangsung, Ali melihat banyak orang yang menyaksikannya. Ia mendadak tidak mau naik ke atas panggung. Walaupun sudah dibujuk dengan segala upaya, Ali tetap tidak mau naik panggung.

Apa yang dialami Ali itu kerap terjadi pada setiap anak-anak, yakni mood atau suasana hati yang berubah-ubah dalam tempo yang sangat cepat. Awalnya berani, tiba-tiba menjadi sangat penakut. Anak yang awalnya pemarah menjadi sangat manis, atau biasanya sangat bandel menjadi sangat penurut.

Ketidaksetabilan mood adalah bagian dari luapan emosi. Hal ini dapat dipengaruhi oleh banyak faktor, baik eksternal ataupun internal. Anak belum mampu  mengontrol emosinya. Maka di sini orangtua memiliki peranan penting dalam mendampingi anak dan mengarahkan pengaturan emosi anak.

Berbicara merupakan salah satu bentuk pengawasan orangtua terhadap perkembangan anak dalam segi apapun, termasuk perkembangan emosinya. Meluangkan waktu untuk sekadar mengobrol merupakan kewajiban orangtua di tengah padatnya jadwal. Baik saat makan bersama, saat mau tidur, ataupun saat bangun tidur.

Menjauhkan gawai ataupun hal-hal lain yang dapat mengganggu atau mengalihkan obrolan akan membuat percakapan lebih efektif. Sehingga akan terjadi pembicaraan dari hati ke hati yang mendekatkan hubungan emosi anak dan orangtua.

Pertama, memantau emosi anak 

Mulai dari orangtua menanyakan aktivitas apa saja yang telah anak lakukan hari ini, apa yang dia rasakan. Minta anak menyimpulkan sendiri bagaimana perbuatan yang telah dilakukan apakah baik atau tidak.

Kedua, membantu memberi label

Setelah anak bercerita kejadian dan perilakunya selama seharian, orangtua dapat membantu memahamkan bentuk emosi pada anak. Mengarahkan anak apakah dia senang, merasa bersalah, kecewa, atau sedih. Dari sini anak belajar memahai dirinya sendiri dan mengenali macam-macam emosi positif (seperti rasa antusias, senang, cinta, bangga) dan emosi negatif (seperti cemas, marah, rasa bersalah, rasa sedih).

Ketiga, memberi pelajaran pada emosi

Orangtua dapat menceritakan pengalamnnya yang hampir sama di masa kecilnya. Ceritakan bagaimana bisa menghadapi bentuk emosinya agar anak dapat berkaca pada orangtua. Dengan begitu anak akan belajar mengenai penyebab dan konsekuensi dari perasaan-perasaan yang dialami. Di akhir cerita atau obrolan dengan si kecil, orangtua dapat memberikan pelajaran saat anak tengah merasakan emosi negatif (marah, sedih, kecewa, cemas, merasa bersalah) dan menenangkannya.

Keempat, munculkan imajinasi positif 

Salah satu tugas utama orangtua adalah memancing anak untuk selalu berimajinasi positif. Anak adalah manusia terhebat dalam membentuk imajinasi, tanamkan harapan positif di benak anak. Misalnya, ”Hari ini jika Noval berhasil membaca 5 buku, ibu akan belikan hadiah saat pulang kerja.”

Dari sini saatnya orangtua menunjukkan yang terbaik yang orangtua dapat lakukan mesti tidak sesuai imajinasi anak. Apabila orangtua lupa untuk tidak memenuhi janjinya, beri pengertian pada anak agar tidak hilang kepercayaan pada orangtua. Misalnya orangtua dapat menggantinya dengan akan jalan-jalan bersama besok atau akan membeli hadiah bersama-sama nantinya.

Kelima, memposisikan sebagai subjek dan objek 

Maksudnya adalah orangtua sebagai subjek selalu berada di posisi orang yang paling menyayangi anak. Sedangkan maksud dari orangtua sebagai objek adalah selalu ada dan siaga saat anak membutuhkannya. Orangtua akan selalu dicari saat anak sedang terpuruk, merekalah tempat mengadu dan mendapat kenyamanan serta perlindungan dari anak.

Jangan sampai ada orang lain yang dapat menggantikannya. Dengan begitu ikatan emosi anak dan orangtua akan selalu erat dan satu frekuensi sehingga orangtua dapat membantu mengatasi permasalahan pada anak dengan pendektana emosi. (Cesilia Prawening – Mahasiswa PIAUD IAIN Purwokerto dan Relawan Pustaka Rumah Kreatif Wadas Kelir. Foto: Dhoni Nurcahyo)

CERITA DARI HALAMAN RUMAH YANG MENYATUKAN KAMI

Bermula dari halaman rumah saya, yang kemudian saya beri nama Rumah Kreatif Wadas Kelir, yang pada tahun 2013, saya mengajak anak-anak untuk belajar di halaman rumah saya ini.

Puluhan anak, saya mencatat sampai 30 anak-anak ikut bermain bersama saya di teras rumah saya itu. Saya mengajak anak-anak membaca sebelum bermain, dan wajib meminjam buku setelah bermain.

Di teras rumah depan itu saya mengajak anak-anak bermain angka, bahasa, logika, musik, sampai drama yang kemudian dalam setiap permainan itu saya menugaskan anak-anak untuk menuliskannya.

Dari situlah, kami kemudian bertambah akrab dan menjadi satu dalam kesadaran untuk terus belajar demi mimpi kami untuk sekolah sampai tinggi demi membahagiakan ayah dan ibu kami.

Setalah lama berkegiatan di teras rumah saya inilah, saya kemudian mulai kecapekan. Saya membutuhkan teman-teman yang ikut membantu saya dan anak-anak bermain bersama.

Dari situlah relawan-relawan yang bekerja mengajar tanpa ada imbalan berdatangan.Kami semakin senang dan bahagia karena gerakan bersama mulai menampakkan hasilnya.

Dan hasil istimewanya bukan banyak penghargaan, banyak pujian dan sanjungan, ataupun banyak menang kejuaraan. Hasil istimewa dari kerja dan dari di teras rumah adalah:

KELUARGA WADAS KELIR YANG TERUS PUNYA MIMPI TINGGI UNTUK INDONESIA KAMI.

Ya, kami ingin bisa sedikit yang kami punya untuk Indonesia yang lebih baik lagi.

By: Heru Kurniawan

Marah Kepada Anak secara Cerdas

SAHABAT KELUARGA – Saya pulang dari kantor dalam keadaan capek yang akut. Masuk rumah mendapatkan kenyataan yang seketika membuat marah menguasai hati dan pikiran saya.

Rumah berantakan penuh dengan mainan dan sampah kertas. Anak-anak sedang berlari dan berteriak-teriak sambil bermain lempar-lemparan mainan dan kertas. Keila (2), anak bungsu saya menangis terkena lemparan mainan kakaknya, tetapi kakak-kakaknya membiarkan saja. Terus berlarian dan lempar-lemparan. Semuanya benar-benar sudah diluar yang seharusnya.

Pertanyaannya: Dalam keadaan demikian apa yang harus saya lakukan? Seketika pikiran saya berkerja cepat memprediksi tiga tindakan penting yang bisa saya lakukan dengan analisis dampak-dampaknya.

Pertama, karena menurut saya perbuatan anak-anak sudah keterlaluan, maka semua itu harus dihentikan seketika. Saat itu, saya pun bisa langsung membentak dan berteriak, ”Hentikan!” Kemudian memarahi pada anak-anak.

Saya yakin seketika anak-anak akan diam dan menghentikan kekacauan. Masalah pun terselesaikan dengan seketika. Dan anak-anak, tidak akan mengulangi kekacauan ini. Saya pun bisa tenang.

Tapi, hal ini akan memberikan dampak psikologis yang tidak baik bagi anak-anak. Mereka akan merasa bersalah pada saya.

Lebih buruk lagi jika sampai merasa bersalah pada dirinya sendiri yang terlalu dalam. Ini akan memberikan dampak penyesalan dan ketakutan yang membuat naluri inisiatifnya mati. Kelak, jika anak ingin melakukan suatu kegiatan bermain yang ekspresif, anak akan menghentikannya karena trauma dengan kejadian ini. Ini tentu tidak baik bagi anak-anak.

Atau, tindakan ini juga akan memberikan pemahaman keliru pada anak: Jika ada hal yang kacau, maka berteriak dan marahlah, hentikan! Seperti yang dilakukan ayah hari ini.

Ini juga hal yang tidak baik karena pola penyelesaian kekacauan dengan kemarahan sangat tidak baik bagi perkembangan anak. Akan menimbulkan dampak traumatik yang tidak baik.

Kedua, saya bisa melakukan tindakan dengan membiarkan saja. Kekacuan ini bagian dari kegiatan kreatif anak-anak, jadi sudah sewajarnya dibiarkan saja. Nanti juga akan berhenti sendirinya.

Terus pertanyaannya: Apakah kita harus membiarkan si bungsu menangis tanpa mendapat pertolongan kakaknya? Apakah kita akan membiarkan anak-anak bermain yang sangat berisiko untuk keselamatan anak sendiri?

Dari sinilah, jika itu semua dibiarkan, maka akan memberikan satu pesan pada anak-anak bahwa apa yang dilakukannya itu benar. Melempar adiknya dengan mainan dan membiarkan itu boleh. Bermain lempar-lemparan mainan yang membahayakan itu boleh. Membuat rumah berserakan mainan dan kertas itu boleh.

Buktinya, ayah tidak marah apalagi melarang. Ini akan membetuk kesadaran anak yang demikian, yang tentu saja meruapakan kesadaran yang salah, tetapi dibenarkan karena sikap orangtuanya yang membiarkan.

Ketiga, saya muncul gagasan yang menurut saya tepat saat itu. Ya, saya berteriak keras mengekspresikan marah, dan meminta anak-anak untuk melindungi adiknya dan tidak lempar-lemparan lagi.

Seketika anak-anak pasti berhenti, dan saat itu saya masuk kamar. Saya membiarkan anak-anak diam beberapa saat dan saling pandang untuk berpikir kenapa saya mendadak melakukan itu.

Di kamar saya harus menenangkan diri. Saya harus keluar dengan tanpa marah. Saat keluar saya mengajak anak-anak untuk berdiskusi.

Saya akan mengatakan, ”Nak, maafkan ayah tadi marah. Ayah marah karena, coba lihat, adik kalian menangis, kertas dan mainan berserakan, dan kalian lempar-lemparan mainan yang berbahaya. Apakah menurut kalian salah ayah marah?”

Anak pasti akan diam dan saling padang, sebelum kemudian menggelengkan kepala setuju dengan sikap ayahnya. Setelah anak-anak menyadari bahwa yang dilakukannya salah mengajak membersihkan ruangan. ”Ayo, kita bersihakan bersama ruangan ini. Dan segera kita menolong adik.”

Di sini anak-anak akan belajar atas sikap kebesaran hati ayahnya. Anak-anak pun  memahami bahwa marah atas kekacauan itu boleh, tetapi selepas marah bicaralah baik-baik, dan selesaikan persoalan bersama-sama. Tidak ada dendam dan kecewa di sini, yang ada adalah sikap tegas dalam kebersamaan yang indah.

Sikap ketiga inilah yang penting dan harus kita lakukan saat simulasi kekacauan yang membuat kita sebagai orangtua harus marah. Marah atas ketidak setujuaan kita terhadap sikap anak harus ditegakkan, tetapi mengekspresikan marah harus dalam konteks pendidikan yang tepat pada anak. Cara ketiga di atas menjadi salah satu cara yang baik dalam mengatasi kakacauan anak-anak yang memberikan dampak marah pada orang tua.  (Heru Kurniawan – Dosen IAIN Purwokerto, Founder Rumah Kreatif Wadas Kelir)

Sosok Menteri yang Layak Kita Contoh

SAHABAT KELUARGA – Percayakah Anda bahwa Indonesia pernah mempunyai seorang menteri yang selepas lengser dari jabatannya memilih kerja sebagai pedagang beras untuk menutupi kebutuhan hidupnya?

Menteri itu bernama KH Saifudin Zuhri, Menteri Agama pada Kabinet Kerja IIIKabinet Kerja IVKabinet Dwikora IKabinet Dwikora II, dan Kabinet Ampera I masa pemerintahan Presiden Sukarno, yakni sejak tahun 1962-1967.

Dikutip dari buku Karisma Ulama Kehidupan Ringkas 26 Tokoh NU karangan Saifullah Ma’shum, setelah tidak lagi menjabat menteri, Saifudin memilih menjalani pekerjaan sebagai pedagang beras di Pasar Glodok, Jakarta. Setiap hari, setelah salat Dhuha, tanpa sepengetahuan keluarganya, ia berjualan beras sampai dhuhur.

Kebiasaan Saifudin yang menghilang dari rumah di jam-jam tersebut dicurigai oleh anak-anaknya. Akhirnya salah seorang anaknya mengetahui dan akhirnya mengelus dada karena melihat sang ayah sedang menjual beras di pasar.

Apa pelajaran yang bisa kita petik? Apa yang dilakukan Saifudin itu adalah salah satu keteladanan, yakni kerja kerasnya dalam memenuhi kebutuhan keluarganya dengan cara halal meskipun pernah memangku jabatan sebagai menteri agama. Padahal sebelumnya juga pernah menjadi pejuang, wartawan, dan politisi.

Apa yang dilakukan Saifudin itu tidak muncul dengan sendirinya tapi berkat pola asuh yang diterapkan kedua orangtuanya. Sejak kecil, Saifuddin diajarkan hidup dalam kesederhanaan. Ibunya, Siti Saudatun, hanya seorang perajin batik dan bapaknya, Muhammad Zuhri, seorang petani. Namun, keduanya adalah anak dari pemuka agama yang terkenal di Banyumas, Jawa Tengah, pada masa itu.

Selain kerja keras dan keserderhanaan, sikap keteladanan lain yang ditunjukkan Saifudin adalah kejujuran.  Dalam buku Berangkat dari Pesantren,1987, semasa revolusi fisik mempertahankan kemerdekaan, Saifuddin Zuhri menjadi Komandan Hizbullah Divisi Sultan Agung di Jawa Tengah.

Suatu ketika Saifuddin Zuhri berkeliling Jawa Tengah mengumpulkan uang biaya NTR (Nikah, Talak, Rujuk) untuk disetorkan kepada kantor pusat Kementerian Agama yang saat itu berada di Yogyakarta. Karena lama tidak diambil, uang setoran itu menumpuk sampai tiga karung besar.

Bersama tiga orang pembantunya, Saifudin memanggul karung beras tersebut naik-turun gunung dan keluar-masuk hutan.  Ketika bertemu dengan atasannya di Desa Brosot, pinggiran Yogyakarta, ia menyerahkan uang tersebut. Setelah dihitung-hitung, ternyata jumlahnya sama persis dengan catatan NTR.

”Mengapa sampeyan tidak mengambil sedikit untuk biaya makan di perjalanan? Sebagai pejabat berwenang, sampeyan berhak, asal ada catatannya,” kata atasannya.

Saifuddin Zuhri menjawab, ”Saya enggak berani. Ini uang negara, saya bisa kualat kalau memakannya.”

Latar belakang kedua orangtuanya juga membuat Saifuddin banyak menerima ilmu agama sejak kecil.

Maksud dari tulisan ini, Indonesia memang tidak kehabisan kisah nyata tentang keteladanan orangtua dalam menanamkan karakter baik pada anak-anaknya. Kerja keras, kejujuran, dan hidup sederhana sejak dini seharusnya dapat diajarkan orangtua pada anak-anaknya tanpa memanjakannya.

Manfaat orangtua mengajarkan kerja keras di antaranya:

Pertama, melatih kemandirian

Dengan bekerja keras, seseorang tidak mudah bergantung kepada orang lain. Saifudin Zuhri berusaha memenuhi kebutuhan keluarganya tanpa memanfaatkan jabatannya sebagai mantan Menteri Agama, mantan pejuang dan mantan politisi.

Kedua, mendapat kehormatan

Khalifah kedua Umar bin Khattab menjelaskan bahwa kerja keras seseorang akan memperoleh kehormatan. Orang yang bekerja keras tentu tidak dapat diremehkan sebab ia mau berusaha tanpa memanjakan diri.

Ketiga, tidak konsumtif

Orangtua dapat menjelaskan kepada anak bagaimana memperoleh kebutuhan itu harus bekerja keras. Dengan begitu, anak akan memahami ia tidak bisa memperoleh apa saja sesuai keinginannya. (Muhamad Iqbal – Relawan Pustaka Rumah Kreatif Wadas Kelir)