Berbagi Cerita: SELESAI SHOLAT SUBUH, KAMI BEKERJA BAKTI!

Saya sudah beberapa tahun selalu berusaha: setiap pagi bersih-bersih (menyapu) halaman rumah dan jalan di lingkungan sekitar saya. Pada bulan Ramadhan kali ini pun, saya bertekad untuk tidak menghilangkan kebiasaan ini. Saya berusaha untuk tetap menjaga dan mempertahankan kegiatan bersih-bersih setiap pagi.

Pulang sholat Subuh dengan anak-anak, saya tetap menyalakan lampu-lampu di rumah. Saya bersepakat dengan Istri untuk tidak tidur selepas Subuh. Istri langsung mengerjakan aktivitas di dapur, sedangkan saya langsung menyapu dan mengepel halaman rumah dengan suara musik yang bergema dari mobil. Saya yakin anak-anak akan merasa terganggu. Bukan hanya terganggu dengan musik, tetapi terganggu dengan keadaan dan aktivitas yang sudah kami desain penuh aktivitas.

 

Dalam keadaan malas-malasan, Zakka dan Nera mendekati saya. “Aku mau ikut ngepel, Yah!” seru Zakka. Saya langsung menyambut dengan senyum bahagia. Segera saya berikan Zakka sapu. Zakka langsung beraksi menyapu dengan saya. Istri saya tersenyum senang penuh kemenangan seperti bulan Ramadhan dalam iklan televisi.

Kemudian Nera ikut ambil bagian juga. “Aku mau semprot dan bersihkan kaca!” seru Nera. Istri saya segera memberi pembersih kaca dengan lapnya. Nera pun asyik mengelap kaca. Kemudian datang Mafi, “Ayah, pembersih kusinya ada?” Saya segera menunjukkan pembersih kursi (furniture) dengan lapnya. Mafi pun segera bekerja mengelap kursi-kursi rumah. Sedangkan Keila ikut bersama Ibunya di dapur membersihkan piring.

Pagi itu, saat masih sagat sepi, mungkin karena tetangga-tetangga saya masih pada istirahat, rumah kami sudah ramai. Kami bahu membahu dalam membersihkan halaman rumah, sampai kemudian jalan-jalan di area rumah saya. Kami sangat senang. Kami bahagia. Di situlah saya dan istri merasakan nikmatnya mengkondisikan anak-anak untuk tidak tidur selepas sholat Subuh dalam bulan Ramadhan ini.

 

Di sinilah saya belajar bahwa mengajak anak-anak untuk berbuat dalam kebaikan tidak selamanya harus diperintah dan disuruh. Akan tetapi, lebih efektif dengan dikondisikan dalam bentuk keteladanan. Saat rumah dikondisikan hidup dan ramai, ini akan menyebabkan anak-anak tidak nyaman untuk tidur. Dan saat melihat orang tua mereka sedang bekerja dengan rasa senang, maka anak-anak pun jadi penasaran dan kemudian ikut ambil bagian.

Anak-anak pun akan merasa tidak nyaman untuk tidur dan merasa bersalah jika tidak membantu orang tuanya. Anak-anak pun akan menyatakan dirinya untuk terlibat. Jika sudah demikian, maka orang tua harus menyambutnya dengan suka cita. Harus memberi kesempatan pada anak untuk mencoba, dan sebisa mungkin membuat situasi bekerja bakti itu jadi hal yang menyenangkan. Di sinilah kerja bakti selepas sholat Subuh akan menjadi aktivitas yang menyenangkan.

Saat rumah dan lingkungan sudah bersih, saya mengajak anak-anak berkumpul dan saya berkata, ”Lihatlah, Nak. Pagi ini rumah dan lingkungan sudah sangat bersih. Enak untuk dipandang. Asyik kan?” Anak-anak hanya menganggukkan kepala senang. Saya kemudian mengajak anak-anak untuk pulang ke rumah.

“Ayo, kita mandi!” seru saya. Satu per satu anak-anak mandi. Apakah kemudian mereka tidur? Tidak. Tubuh mereka sedang bekerja dengan baik, jadi tidak nyaman untuk beristirahat. Anak-anak pun melanjutkan kegiatannya dengan bermain. Saya senang sebelum kemudian meninggalkannya ke kantor untuk bekerja.

Pulang dari kantor, saat jam istirahat, anak-anak baru bangun tidur. Istri saya bercerita, “Tadi anak-anak tidur jam sepuluh. Mereka tidur sangat nyenyak!” Saya tersenyum senang.

“Mas, ayo, sholat Duhur!” bisik saya pada anak-anak. Sekalipun mereka bangun bermalas-malasan, tetapi mereka sholat Duhur juga. Dan melanjutkan kegiatan bermainnya sampai sore hari menjelang berbuka bersama.

Mengajak Anak Bekerja Bakti di Pagi Hari, ciptakan lingkungan yang membuat anak-anak tidak nyaman untuk tidur. Berikan teladan orang tua yang melakukan kerja bakti. Ajak anak-anak dengan baik untuk terlibat. Jika sudah terlibat dalam kegiatan kerja bakti, ciptakan kegiatan kerja bakti yang menyenangkan. Maka, bulan puasa pun kita dan anak-anak bisa berbuat baik melalui kerja bakti di pagi hari.

(Heru Kurniawan, Founder Rumah Kreatif Wadas Kelir)

Comments

comments

0 replies

Leave a Reply

Want to join the discussion?
Feel free to contribute!

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *