Unit TPQ Wadas Kelir

Oleh: Musyaa Ali

Sebagai salah satu unit keagamaan di Wadas Kelir, unit TPQ Wadas kelir saat ini memegang empat TPQ binaan yakni TPQ Nurul Hidayah, TPQ Baitul Hidayah, TPQ Al-Mubaarok dan TPQ Al-Barokah. Keempat TPQ ini dijalankan oleh relawan Wadas Kelir, setiap sore dan malam hari relawan di jadwalkan untuk mengajar di TPQ sebagai ajang untuk belajar dan mengajarkan ilmu keagamaan kepada masyarakat. Bukan hanya anak-anak yang ikut mengaji di TPQ binaan Wadas Kelir, tetapi remaja dan orang dewasa pun banyak yang ikut mengaji bersama relawan.


Beberapa program yang ada di unit TPQ selain belajar mengaji yakni ada literasi keagamaan seperti imla, hafalan surat pendek, berkisah, praktik ibadah dan ada pula pertemuan rutin bersama wali santri. Pertemuan wali santri ini dilaksanakan setiap satu bulan sekali di masing-masing TPQ dengan tujuan mengevaluasi hasil belajar para santri, merumuskan program kegiatan untuk santri dan koordinasi dengan wali santri untuk meningkatkan semangat mengaji para santri.

PRESTASI ANAK-ANAK KB WADAS KELIR

Tentunya sebuah kebanggan dan kebahagiaan bagi guru dan wali murid dari anak-anak KB Wadas Kelir, setelah bulan kemarin menyabet predikat juara dalam acara peringatam pekan milad yayasan lembaga pendidikan AZ-ZAHRA Gunungtugel kini siswa-siswi KB Wadas Kelir berhasil dinobatkan sebagai juara dalam lomba mewarnai yang diadakan oleh pihak Bank Indonesia dalam acara FesmaBI 2019 yang diadakan pada tanggal 20 November 2019 bertempatkan di Rita Super Mall.

 

Pada kesempatan kali ini Zakkawaliy Herudian dinobatkan sebagai juara dua kategori TK dan Naswa Aisyah Putri dinobatkan sebagai juara harapan dua kategori KB. Prestasi-prestasi yang diperoleh oleh anak-anak tentunya tak lepas dari peran dan dukungan dari orang tua dan para guru.

Bunda Dian Wahyu Lestari selaku kepala sekolah yang juga ikut mendampingi anak-anak dalam mengikuti lomba mewarnai tersebut, menyampaikan bahwa beliau sangat bersyukur dan bangga karena anak didiknya dapat menyabet gelar juara selain anak-anak juga memiliki semangat yang tinggi. Beliau juga menyampaikan harapannya semoga kedepannya KB Wadas Kelir dapat lebih banyak menghasilkan prestasi.

Kemudian Ibu Retno selaku ibunda dari Ananda Naswa yang ikut mendampingi putrinya juga menyampaikan, bahwa beliau sangat bangga karena anaknya dapat dinobatkan sebagai juara, beliau juga menyampaikan ucapan terimakasih kepada bunda-bunda guru yang sudah sabar dan tekun dalam mengajar anaknya sehingga mengantarkannya menjadi juara.

 

_Musyafa Ali_

Cerita Inspiratif #3 MENDEKATI DENGAN MAKAN MIE

Sore itu, hanya sekitar anak yang datang ke rumah untu pinjam buku. Saya menyambutnya dengan penuh bahagia. Selepas pinjam buku, ketiga anak itu pulang. Saya melepasnya di halaman.

Di tengah jalan ketiganya bertemu dengan teman-temannya. Mereka kemudian terlibat dlam pembicaraan yang seru. Tanpa pikir panjang, saya menghampiri mereka. Saya bergabung dan menawarkan gagasan.

“Bagaimana jika sekarang kita makan mie ayam!” usul saya.

“Beneran?” sahut salah satu anak.

“Beneran, Pak Guru yang traktir!” tambah saya.

Anak-anak bersorak sorai. Saya pun segera pergi bersama anak-anak ke bakul mie ayam yang jaraknya lumayan jauh. Kami jalan kaki bersama sepuluhan anak. Kami melangkah dengan penuh suka cita.

Beberapa tetangga kami melihat. Mereka tersenyum atas keanehan saya. Ya, saya sudah tua, tetapi masih mau bermain dengan anak-anak. Saya tidak peduli. Sebabnya, saya sedang punya misi rahasia yang diberikan negara padaku: misi untuk ikut serta dalam mencerdaskan anak-anak bangsa.

Sampai di bakul mie ayam kami langsung memesan mie ayam. Pesanan datang dan kami langsung makan mie ayam dengan lahap. Sampai mie ayam paling enak di daerah kami ludus. Saya yakin anak-anak kenyang.

Saat itulah saya menyampaikan misi saya pada anak-anak, “Kenapa kalian semua tidak pinjam buku di perpustakaan Pak Guru…”

Anak-anak hanya merespon saling pandang. Kemudian salah satu di antara mereka berseru, “Malu masuk rumahnya Pak Guru.”

Beberapa temannya menganggukkan kepala tanda menyetujui jawaban temannya itu. Saya pun tersenyum dan berkomentar, “Biar tidak malu besok pinjam bukunya bersama-sama. Bagaimana?”

Anak-anak kembali saling pandang. Kemudian menganggukan kepala. Saya tersenyum senang. Kamudian kami segera bergegas pulang.

Sejak kejadian itu, anak-anak yang datang ke perpustakaan rumah saya semakin bertambah banyak. Paling tidak, sepuluhan anak yang saya traktir makan mie ayam itu mulai datang meminjam buku.

Harus ada komunikasi yang intensif dan menyenangkan agar anak-anak mau percaya bahwa kita sedang benar-benar berjuang untuk mereka dalam meningkatkan minat dan kebiasaan membaca buku.

Inspirasi Wadas Kelir #2: MERAYU DENGAN WISATA

Oleh : Heru Kurniawan

Apakah setelah pintu rumah dan perpustakaanku dibuka anak-anak tetangga dengan segera pinjam buku?

Tidak sama sekali.

Berkali-kali aku mengajak anak-anak untuk pinjam buku, tetapi tidak ada yang mau. Kalaupun mau hanya satu dua anak teman dekat anak saya. anak-anak lainnya tidak mau. Di situ saya merasakan putus asa pertama.

Tapi, mendadak saya mendapatkan ide. Sore itu idenya saya sampaikan ke Istri saya, “Bagaimana kalau Ayah mengajak anak-anak wisata? Siapa tahu ini bisa mendekatkan Ayah dengan anak-anak?” Istri berbinar dan menyampaikan kesetujuannya. Jumat sore saya sampaikan ke anak-anak dan tetangga bahwa saya akan adakan wisata ke Baturrden secara gratis. Anak-anak cukup berangkat dan bawa bekal jajan. Makan saya dan istri yang tanggung.

Tak disangka satu mobil angkot dengan puluhan sepeda motor orang tua ikut serta dalam acara ini. Saya sangat senang. Kami pun berangkat menuju tempat wisata. Sampai di sana kami bergembira merayakan suka cita sampai lelah. Siang hari kami makan bersama.

Di situlah saya mulai mengenal anak-anak di lingkungan sekitar rumah saya. Mereka anak-anak baik yang hebat. Saat selesai kegiatan, saya menutupnya dengan ajakan, “Kalian semua mulai pinjam buku ke perpustakaan saya, ya!” Anak-anak hanya saling pandang dengan ekspresi sama sekali tidak tertarik. Saya pun merasakan kegagalan. Istri saya menepuk pundak saya dan berbisik, “Masih ada cara lain, Ayah.” Aku pun segera bangkit untuk pulang bersama anak-anak. Tentu saja dengan membawa kekalahan yang kesekian kali.

Membutuhkan pertahanan perasaan yang kuat saat gagal mengajak anak-anak dan masyarakat untuk berliterasi. (Red)

Inspirasi dari Wadas Kelir #1: PADA AWALNYA ADALAH TEMPAT BUKU MENUMPUK

Sabtu, 02 November 2019; Pukul 18.00 WIB

Inspirasi dari Wadas Kelir
#1: PADA AWALNYA ADALAH TEMPAT BUKU MENUMPUK

Saya punya satu kamar khusus. Kamar untuk menuimpan banyak buku yang saya kumpulkan sejak sekolah dasar. Di kamar itu saya terbiasa membaca dan menulis buku.

Suatu hari, saat sedang merenung di kamar itu, mendadak saya mendapatkan ide. Bagaimana jika buku-buku yang saya miliki dipinjam oleh anak-anak sekitar saya. Saya pun membuka koleksi buku-buku anak saya. Cukup banyak saya punya buku-buku dongeng, majalah anak, dan novel-novel anak.

Anak-anak pasti suka. Tapi, apakah saya siap buku-buku yang rusak dan hilang. Saya terdiam bingung. Saya begitu sayang dengan buku-buku yang saya dapatkan dengan uang pribadi saya ini.

Tapi, jika buku ini terus menumpuk, apa manfaatnya saya memiliki banyak buku kalau hanya saya dan keluarga saya yang pintar. Saya pun menyampaikan kegundahan saya pada istri.

Istri saya berkomentar bijak, “Jika memang mau dipinjamkan, pasti lebih banyak manfaatnya. Jika rusak dan hilang, barangkali itu takdir akhir sebuah buku yang harus diterima. Tapi, rusak dan hilangnya buku milik Ayah setidaknya telah dibaca banyak orang dan memberikan banyak pengetahuan ke banyak orang. Mungkin itu lebih baik daripada buku itu bagus terus tapi yang pintar hanya Ayah.”

Aku hanya bisa terdiam. Mempertimbangkan perkataan istri yang saya sendiri mengakui kebenarannya.

Dan setelah beberapa hari merenungkan, saya pun memutuskan untuk membuka pintu rumah dan perpustakaan saya untuk anak-anak di sekitar saya. Harapannya, semoga saya menemukan dunia baru melalui hal ini. Dunia yang siapa tahu membuatku lebih bahagia.

Membangun Komunitas Literasi dimulai dari tekad untuk berkorban. Mengorbankan sesuatu yang sangat kita cinta untuk orang lain, baik dalam bentuk buku, tenaga, pikiran, bahkan materi.

LITERASI DIGITAL IBU-IBU WADAS KELIR

Melalui kemitraan yang baik dengan SKB Purwokerto, kembali SKB Purwokerto mengadakan kegiatan Literasi Digital di Rumah Kreatif Wadas Kelir.

Pertemuan hari ini (01/11) merupakan pertemuan yang kesekian kali. Pemateri kali ini adalah Kak Hamid Emha Samiaji yang ahli dalam bidang desain visual dan internet.

Ibu-ibu sangat suka mengikuti pelatihan ini dan antusias. Tanya jawab dan diskusi seputar dunia digital pun ramai dibahas oleh ibu-ibu dan pemateri.

Semoga kegiatan ini akan memberikan banyak manfaat, terutama dalam peningkatan literasi digital ibu-ibu, sehingga ibu-ibu bisa menggunakan dunia digital dengan benar untuk peningkatan ilmu pengetahuan.

(Red)