Semoga Pandemi Virus Corona (Covid-19) ini Segera Berlalu

Doa kita bersama, “Semoga pandemi virus corona (covid-19) ini segera berlalu. Semoga kita selalu dijaga dan dilindungi Allah dari bahasa virus corona. Semoga kita diberikan kesehatan dan keberuntungan dalam masa-masa yang sulit ini.”

Amin!

Sejak diberlakukan aturan untuk: bekerja di rumah, belajar di rumah, dan beribadah di rumah! maka saya dan keluarga pun mengkarantina diri di rumah. Saya akan keluar hanya untuk hal penting misalnya membeli kebutuhan domestik keluarga. Selebihnya di rumah saja. Jika pun keluar untuk lari-lari, menyapu, mengepel, dan bercocok tanam saat matahari bersinar di area wadas kelir.

Dari kenyataan keadaan yang serba sulit ini. Saya mencoba untuk menuliskan cerita-cerita tidak penting soal saya, istri, dan keempat anak saya di rumah. Bukan hal yang penting, tetapi semoga bisa berbagi untuk mengisi waktu dan saling berkomunikasi, siapa tahu ada manfaatnya bagi yang membaca.

Terima Kasih

1.

DISKUSI SERU DENGAN ANAK-ANAK

Hari yang berat…

Di luar orang-orang ketakutan dengan virus corona (covid-19). Sekolah sudah memerintahkan anak-anak untuk belajar di rumah. Saya pun demikian, harus bekerja di rumah.

Hari pertama diberlakukan. Saya dan istri memerintah keempat anak kami untuk tinggal di rumah saja. Tapi, namanya anak-anak, mereka tetap saja bermain dengan teman-temannya di luar. Tidak menyadari bahwa covid-19 terus mengintai di luar.

“Anak-anak perlu diperingatkan, Ayah!” kata Istriku menasihati.

“Ide yang baik,” kataku.

Anak-anak yang sedang bermain di luar kami panggil untuk berkumpul di ruang tamu. Jadilah kami berkumpul. Kami siap untuk berdiskusi. Anak-anak menatap wajah Ayahnya yang mendadak aneh. Ekspresi sayang, takut, dan marah yang campur aduk tidak jelas.

“Mulai sekarang, Ayah dan Ibu minta kalian tinggal di rumah saja…” kataku dipotong oleh Zakka dengan polosnya.

“Kenapa, Ayah?” tanya Zakka.

“Karena ada corona!” jawab Istri.

“Iya, sekarang yang terkena sudah seratus lebih,” Mafi bersuara.

Tentu saja, adik-adiknya yang kecil saling pandang tidak paham. Saya segera bertindak. Saya menjelaskan, “Corona itu nama virus berbahaya, yang bila nempel di tangan kita, kemudian masuk ke tubuh kita lewat mulut, hidung, dan mata, maka tubuh kita akan sakit. Dan jika sakit parah harus dibawa ke rumah sakit…” saya bercerita panjang lebar tentang corona dengan sekali-kali menyaksikan anak-anakku yang menguap karena bosan dengan berceramah Ayahnya yang tidak dipahami anak-anak.

“Ah, Ayah ngeles, aku tidak paham,” barang kali suara hati mereka demikian.

Istri saya mencolek saya. Saya tersadar. Saya tertawa merasa begitu tololnya. Saya segera beraksi memperbaiki diri.

“Biar jelas, sekarang kalian lihat tayangan video ini!” kataku seraya putarkan video dari IG najwashihab soal penjelasan bahaya corona.

Tentu saja, anak-anak antusias menonton. Dan mereka pun paham. Mereka manggut-manggut kemudian tesenyum senang seperti habis diberi uang jajan.

“Berarti mulai sekarang di rumah saja?” tanya Nera.

“Ya!” jawabku.

“Beli jajannya?” tanya Zakka.

“Di rumah!” jawab Istri.

“Kalau pingin main?” tanya Keila.

“Di rumah!” jawab Istri.

Anak-anak saling pandang. Kemudian tersenyum kompak penuh kecewa. Kemudian menunduk lesu seperti sedang lapar menunggu bakul jajan kesukaannya datang.

“Ya, kita harus di rumah!” ajak Mafi, kakak mereka.

Nah, kalau kakaknya sudah memberi perintah, maka adik-adiknya tidak ada yang berani menolak. Kata Kakanya lebih ampuh dari saya dan istri.

“Bagaimana?” tanyaku.

“Siap Ayah!”

“Siap Ibu!”

Keputusan sudah bulat. Di situlah kami telah sepakat untuk di rumah saja. Inilah diskusi paling diplomatis yang pernah kurasakan sepanjang hidup. Saya jadi sadar sehebat apapun saya dan Istri, tetap saja kata-kata kakaknya adalah segala-galanya buat adik-adiknya.

Sejak itulah kami di rumah bersama anak-anak. Sungguh pekerjaan berat dan melelahkan yang membahagiakan bersama empat anak yang super aktif di rumah untuk terhindar dari bahaya corona.

Selapas rapat saya mencoba berdiplomasi akhir, “Anak-anak, Ayah dan Ibu melakukan ini karena Ayah dan Ibu sayang sama kalian, Anakku. Ayah dan Ibu ingin kita semua sehat. Ayah dan Ibu akan melindungi kalian.”

Inilah bahasa diplomasi terbaik saya untuk ungkapkan rasa sayangku pada anak-anakku. Tapi, momen istimewa itu berantakan. Anak-anak hanya bengong dan bingung. Kemudian meninggalkanku dan istri begitu saja. Mereka kembali melanjutkan bermainnya di dalam rumah.

Istriku tersenyum geli. Aku pun menyerah. Inilah cara anak-anak mencintai heroisme orang tuanya: dengan cara meninggalkannya begitu saja!

Aku tertawa jika mengingat kejadian ini. Tapi, tawaku harus kutarik karena di luar jumlah korban karena virus corona terus bertambah.

CERITA SEKOLAH LITERASI: MENGHAFAL LIMA KALIMAT DALAM BUKU BACAAN

Sebelum Sekolah Literasi Wadas Kelir dimulai, anak-anak menghampiri saya. Salah satu di antara mereka bertanya, “Nanti belajar apa?” Saya tersenyum dan menjawab, “Belajar yang menyenangkan, tetapi rahasia!” Anak-anak kecewa berat. Kemudian saya berseru, “Ayo, segera mandi! Belajarnya istimewa!”
Anak-anak segera pulang ke rumah. Mereka sangat rajin mandi karena Sekolah Literasi. Saya tersenyum sendiri karena dalam tempo secepat petir anak-anak sudah kumpul kembali. Mandi tanpa sepengetahuan orang tua itu sama artinya dengan mandi tanpa sabun mandi. Aku tersenyum dalam hati saja. Takut menyinggung perasan murid-muridku yang luar biasa.
Usai berdoa, segera anak-anak kuangkut ke Taman Lalu Lintas di Terminal Purwokerto. Melihat banyak mainan dan taman, mata anak-anak berbinar seperti bintang yang baru menyinari bumi yang gelap.
“Ayo, bermain!” teriak Nera memprovokasi teman-temannya untuk lari dari guru yang biasanya tidak penting saat anak-anak menemukan hal baru. Tentu saja aku tidak tinggal diam. Aku segera berseru, “Stoooop! Sebelum bermain ke sana, kalian harus berkumpul dulu!” Nera menyerah. Teman-temannya putus asa. Aku senang dan bahagia.
Anak-anak kemudian berkumpul duduk melingkar dan berdoa bersama. Ini kesempatan penting bagiku. Saya segera berpidato layaknya mengajak berperang anak-anak, “Tugas kalian nanti adalah bermain…!” Tentu saja anak-anak bersorak gembira merayakan kemenangan.
Ups, tapi aku jelas tidak mau kalah. Aku melanjutkan pidatoku, “Tapi, sebelum bermain, kalian harus membersihkan tempat ini, terus sambil bermain kalian harus membaca satu cerita, dan hafalkan lima kalimat yang ada dalam cerita. Nanti semua anak harus melaporkan lima kalimat yang diingat!”
Anak-anak saling pandang.Kemudian tersenyum dengan sangat dipaksakan. Barangkali, mereka sebenarnya ingin pulang. Tapi, rumah mereka terlalu jauh dari taman ini. Jadi saat anak-anak berkata, “Baik, Pak Guru!” sepertinya tidak terlalu ikhlas.
Aku tertawa puas. Saya paham satu hal. Anak-anak selalu membutuhkan keseimbangan antara dibatasi dan dibebasakan. Antara disuruh bermain dengan diminta belajar. Keseimbangan inilah yang melahirkan harapan. Inilah cara saya mengajar anak-anak.
“Waktu sudah habis!” teriak saya yang pasti sangat mengganggu anak-anak. Terus mau bagaimana lagi. Anak-anak pun datang menghampiri saya. Kemudian duduk melingkar. Saya tersneyum penuh bahagia dan kemenangan. Seperti telah berperang dan menang melawan hawa nafsu.
“Sekarang, satu per satu, kalian harus sebutkan lima kalimat yang sudah dihafal!” kataku sok tegas. Anak-anak saling pandang. Kemudian Kafka angkat tangan, “Aku dulu Pak Guru!” Kafka kemudian menyebutkan lima kalimat yang telah dihafal dengan lancar. Aku tersenyum senang dan merasa jadi bodoh dihadapan anak-anak. Aku kira anak-anak tidak akan bisa. Ternyata semua anak dapat menyebutkan lima kalimat dengan lancar.
Sekarang aku yang malu, tapi juga bangga. Aku kumpulkan anak-anak lebih dekat. Kemudian aku berkata, “Kalian anak-anak yang hebat!” Anak-anak tersenyum bangga. Kami kemudian pulang bersama. Sampai di rumah Adza Maghrib terdengar. Kami pun sholat berjamaah.
Terima kasih anak-anak, ternyata aku lebih bodoh dari kalian. Aku akan terus belajar pada kalian.

 

Penulis: Heru Kurniawan
Photo   : Risdianto Hermawan

BERGEMBIRA MENCARI KEONG DI SAWAH

Oleh: Heru Kurniawan
Dapat idenya sederhana: anak saya suka makan keong. Saya pun bertanya padanya, “Nera tahu keong hidupnya di mana?” Nera berpikir sejenak, kemudian menjawab, “Sungai!” Saya tersenyum senang seraya menambahi, “Di sawah juga banyak keong.” Nera kemudian menanggapinya, “Aku pingin menangkap, Yah!” Aku membalasnya dengan tersenyum senang.
Esok harinya, saat saya dapat mengajar anak-anak Wadas Kelir, saya berseru, “Hari ini belajar kita di sawah!” Anak-anak langsung berbinar senang. Dengan mengendarai tiga sepeda motor, saya dibantu relawan dan anak-anak pergi ke sawah. Saya yakin anak-anak bertanya, “Di sawah belajar apa, ya?” Tapi, saya tetap menjaga ide saya, dan akan saya sampaikan saat sudah di sawah.
Kami pun sampai di sawah. Saya memilih sepetak sawah yang tanaman padinya telah panen. Zakka berseru, “Belajarnya apa, Pak Guru?” Saya langsung menjawab, “Mencari keong sebanyak-banyaknya!” Anak-anak saling pandang. Pandang anak-anak kemudian dialihkan padaku yang sudah turun ke sawah. Saya pun berseru, “Ayo, ke sini! Asyik, lho!”
Awalnya anak-anak ragu, tapi akhirnya mereka terjun ke sawah yang berlumpur. Anak-anak berjalan pelan mencari keong. Setiap kali mereka menemukan keong, mereka berteriak senang. Tak terasa baju dan tubuh anak-anak mulai kotor. Tapi, kegiatan mencari keong semakin menarik. Anak-anak pun akhirnya larut dan bergembira dalam mencari keong.
Setelah keong terkumpul banyak dan tubuh belepotan dengan lumpur, anak-anak berlari ke irigasi yang mengalir airnya. Anak-anak mandi dengan penuh suka cita. Keong-keong hasil kerja anak dikumpulkan dan dihitung. Anak yang memperolah jumlah terbanyak menjadi pemenangnya.
Setelah anak-anak selesai membersihakan diri di irigasi. Anak-anak pun siap untuk pulang. Sebelum pulang saya bertanya, “Bagaimana bermain di sawah?” Dengan kompak anak-anak menjawab, “Asyik, Pak Guru! Besok lagi!” Saya tersenyum senang. Semoga ini menjadi pengalaman penting bagi anak-anak.
Saya pun menyadari bahwa salah satu tugas penting guru dalam mendidik anak adalah memberikan pengalaman menyenangkan dan berharga yang tidak terlupakan, selalu akan dikenang anak-anak sampai mereka dewasa. Jika bisa terjadi, maka kita pun akan jadi guru yang selalu diingat murid-muridnya. Guru yang telah berhasil memberikan pengalaman menakjubkan pada anak-anak.

(Tulisan Kegiatan Sekolah Literasi Wadas Kelir)

 

SEKOLAH LITERASI: MEMBACA BUKU SEBELUM BERMAIN

Oleh: Heru Kurniawan
Saya meyakini, selalu saja yang ada di dalam pikiran kita: agar anak-anak suka membaca buku, maka anak-anak harus diperintahkan bahkan kadang dipaksa untuk membaca buku secara serius setiap harinya. Jangan heran jika anak-anak kemudian bosan, dan tidak suka baca buku.
Harus kita akui. Bagi anak-anak tidak ada yang menarik dengan buku yang isinya tulisan dan gambar. Anak-anak lebih suka bergerak dan bermain bebas. Berlari dan berteriak mengekspresikan bahagianya. Dan inilah keadaan anak-anak yang sebenarnya.
Dalam istilah Montessori (1995), anak-anak adalah penjelajah indrawi. Anak-anak akan selalu memuaskan kesan panca indranya sebagai usaha untuk mendapatkan banyak pengalaman dan pengetahuan. Untuk itu, jangan larang anak-anak untuk tidak bergerak demi membaca buku.
Dari sinilah saya punya gagasan. Belajar bagi anak-anak adalah bergerak mengembarakan jelajah indrawinya. Saya ikuti kenyataan perkembangan anak ini. Tapi, saya juga membangun pondasi literas (membaca) secara pelan-pelan. Dan yang saya lakukan adalah: membiasakan membaca sebentar sebelum kegiatan penjelajahan indrawi anak-anak dilakukan.
Hasilnya, kegiatan membaca tidak menjadi beban bagi anak-anak. Tidak ada tuntutan dalam membaca. Yang ada hanya sebelum bermain dimulai, anak-anak bersama-sama membaca buku. Membaca buku semampunya dengan tenggat waktu 10-20 menit. Anak-anak pun membaca dengan senang dan bahagia.
Usai membaca anak-anak diajak untuk siap melakukan penjelajahan indrawi yang menyenangkan. Anak-anak akan gembira dan melupakan bacaannya. Tapi, esok anak akan kembali membaca sebelum bermain. Begitu seterusnya, sampai kemudian membaca menjadi pengalaman bukan menjadi beban.
Saat membaca menjadi pengalaman inilah, anak-anak akan mulai merasakan sensasi dan menfaatnya membaca. Jika sudah demikian, saya yakin membaca akan menjadi sisi pengalaman menarik yang tersimpan di pikiran anak, yang sewaktu-waktu akan datang dan membuat anak pun melakukan kegiatan membaca. Membaca pun menjadi peristiwa yang dirindukan anak-anak.
Saat itulah, saya meyakini bahwa membaca akan menjadi kebutuhan hidup anak-anak. Dari sinilah, anak-anak dapat disebut telah memiliki minat baca yang baik. Dan ini semua dibangun dari kebiasaan membaca buku sebelum bermain menyenangkan.