MALAM INI BELAJAR BERSAMA KELAS MENULIS WADAS KELIR #1 BERAKHIR

Malam ini (06/04/2020) belajar bersama Kelas Menulis Wadas Kelir (KMWK) #1 berakhir. 30 peserta dari berbagai daerah mengikuti dengan antusias. Semua merayakan kegebiraan belajar menulis yang mengesankan.
Materi “Menulis Cerita Inspiratif dalam Kegiatan Bersama Anak dan Murid” dipahami dengan baik. Praktik menulis pun selesai dengan tepat waktu. Kemudian peserta menyampaikan kesannya selama mengikuti KMWK #1. Kami sangat senang bangga diapresiasi dengan luar biasa.
“Sungguh, apa yg saya dapatkan jauh melebihi ekspektasi saya. Sekali lagi terima kasih banyak Pak Guru dan Tim,” tulis Mba Stera, PNS Kemdikbud-Jakarta, yang menjadi salah satu peserta saat kegiatan kelas ini berakhir.
Irma Herawati, PNS-Purbalingga, salah satu peserta juga mengungkapkan, “Ikut Kelas Menulis Wadas Kelir menyenangkan sekali. Ada banyak ilmu dari Pak Guru dan teman teman semua. Tidak hanya materi, tetapi juga masukkan berarti yang saya dapatkan. Tidak akan menyesal, sungguh!”
SedangkanHarizal, Guru-PNS dari Ciganjur, menceritakan pengalamannya selama mengikuti KMWK #1, “Suatu hari saya menerima undangan melalui chat whatsapp dari Mba Airin untuk mengikuti Kelas Menulis Wadas Kelir #1. Kelas menulis via facebook dan whatsapp ini diasuh oleh Pak Guru Heru, founder Rumah Kreatif Wadas Kelir di Purwokerto. Tanpa pikir panjang, saya langsung mendaftarkan diri sebagai peserta. Saya takut kehabisan “kursi empuk’ dalam kelas ini, karena peserta terbatas, hanya tiga puluh orang. Selama di dalam kelas, setiap peserta dipacu untuk aktif dengan mengajukan pertanyaan dan mengerjakan tugas. Keaktifan itu tidak luput dari penilaian.”
“Alhamdulillah sebuah rezeki bisa bergabung di Kelas Menulis Wadas Kelir #1. Senang, bahagia, pasti akan rindu dengan kelasnya. Masya Allah Luar biasa. Sudah jelas hasilnya. Dibanding kelas menulis lain, biaya mahal, tak kunjung membawa hasil!” tulis Yuli Kismawati, Guru PAUD-Penulis Buku Aktivitas Anak dari Purwokerto.
“Terima kasih, Pak Guru dan Mba Admin. Di kelas ini saya mendapatkan banyak sekali ilmu. Diberi stimulus untuk menulis dan menciptakan ide kreatif, motivasi, dan inspirasi tiada henti. Saya berharap kelas ini terus dipertahankan, sebagai wadah silaturahmi sekaligus sebagai tempat pengingat saya untuk selalu berkarya,” kata Ariesma Setyarum, Dosen Universitas Pekalongan, yang ikut bergabung di Kelas Menulis Wadas Kelir #1.
Mimin Rukmini, Guru-PNS-dari Bandung, mengungkapkan, “Alhamdulillah, haru, senang, terus terang minder Pak Guru, takut tidak bisa. Siap belajar lagi. Terimakasih! Moga ilmu Pak Guru makin berkah, demikian pula saya. Mohon doanya moga saya tetap semangat belajar menulis. Tak ada masukkan buat Wadas Kelir. Kelasnya hebat! Gurunya hebat, Tim Adminnya keren-keren dan baiiiiik.”
Masih banyak lagi ungkapan apresiasi yang melebihi ekspektasi peserta membuat kami bangga dan bahagia. Sejak awal, KMWK #1 kami selenggarakan bukan semata kelas yang menjual materi seperti kelas lainnya. Kami menyampaikan materi dengan bahasa keluarga, motivasi, dan empati dengan metode yang kreatif. Yang membuat peserta penuh semangat mengikuti setiap sesi. Dan setelah selesai akan bangga menjadi bagian Keluarag KMWK ini.
Dan tentu saja, KMWK akan terus membangun komunikasi kreatif menulis dlam kolaborasi keluarga. Inilah istimewanya kami. Melalui KMWK kami tidak saja belajar menulis, tetapi menyatukan anggota dalam rasa kekeluargakan yang saling menopang. Kami bahagia. Kami senang. Kami kemudian belajar menulis bersama untuk hasil terbaik.
Silahkan bergabung! Kelas Menulis Wadas Kelir #1 berakhir malam ini, maka esok akan lahir Kelas Menulis Wadas Kelir #2 di Rabu, 08 April 2020. Jika Anda mau bergabung masih ada 5 kursi terbaik buat Anda.

MOMEN INDAH: MENANDATANGANI BUKU UNTUK PEMBACA!

Usai bersih-bersiih pagi (01/04/2020), saya masuk kamar kerjaku. Aku melihat delapan buah buku Pengembangan Bahasa Anak Usia Dini yang baru selesai kutulis tiga bulan lalu. Saya bertanya pada Istri, “Ini buku untuk apa?” dan Istri menjawab, “Buku pesanan dari toko buku Wadas Kelir. Katanya pembelinya minta tanda tangan dari penulisnya.”
Saya tersenyum. Mendadak saya teringat memimpi masa kecil saya. Ya, saat kecil saya sudah suka dengan buku dan koran. Saya suka kumpulkan koran bekas dan membuat kliping dengan berbagai materi, mulai kliping pemain sepak bola, kliping pemandangan, sampai kliping gambar para artis. Dan apa yang membuat saya bangga jika membuat kliping. Ya, karena halaman sampul depan kliping selalu saya tulis nama saya: Heru Kurniawan!
Saat itu saya sudah merasa menjadi penulis buku hebat, sekalipun isinya potoongan gambar koran. Kenapa saya begitu terobsesi jadi penulis, ya, karena Bapak saya sejak aku kecil selalu membawa buku ke rumah. Bapak saya guru SD. Setiap minggu bawa Majalah Ceria, bawa buku bigrafi Soekarna, Bawa Buku Sejarah Kemerdekaan Indonesia, bawa buku Jaka Tingkir, bawa buku Perang Palagan Ambarawa, dan sebagainya.
Sungguh Bapak saya tidak pernah menyuruh saya untuk membaca. Tapi, sejak saya sudah bisa baca, saya tertarik dengan buku-buku itu. Saya pun membacanya setiap kali di rumah bingung mau ngapain. Lama-kelamaan, saya jadi jatuh cinta dengan buku. Saya tak pernah baca buku pelajaran sebab bikin kepala pusing. Jika ada buku pelajaran sekolah yang saya baca adalah cerita-ceritanya saja.
Nah, dari situlah saya ingin sekali nama saya tertulis dalam sebuah cover buku. Ya, bukan buku kliping tentunya. Tapi, buku yang saya tulis sendiri. Begitu inginnya, saya saat SMP dan SMA selalu berdoa pada Allah dalam setiap usai sholat, “Ya, Allah jadikanlah aku penulis!” Dengan tidak punya bayangan bagaimana caranya bisa jadi penulis.
Tapi, begitulah mimpi dan takdir. Selalu bertemu dalam jodoh yang sudah ditentukan. Dengan bantuan doa dan kerja keras saya bisa mendapatkan mimpi itu. Mimpi menjadi penulis yang puncaknya dimulai pada tahun 2003, berkat bimbingan guru-guru saya di kampus dan kesabaran guru tercinta saya Mas Abdul Wachid BS (yang membimbing saya dengan peuh cinta dan sabar). Itulah puncak petualangan mimpi dan kerja keras dengan doa yang berbuah teraihnya mimpi menjadi penulis, setidaknya bisa menulis buku dengan nama sendiri.
Sejak saat itu, saya pun terobsesi ingin menulis buku untuk penerbit Gramedia. Ini perjuangan fase kedua saya. Setiap kali ke toko buku saya selalu pegang salah satu buku yang terpampang di rak buku. Kemudian saya berdoa, “Ya, Allah, semoga besok nama saya tertulis pada buku yang diterbitkan gramedia dan nongkrong di rak buku.” Sejak saat itu saya belajar sungguh-sungguh. Sampai sempat menulis 4 novel, tapi semuanya ambyar. Semua penerbit Gramedia menolaknya. Dan Penerbit yang ada di Indonesia pun ikut-ikutan menolak.
Sempat putus asa. Tapi, mimpi masa kecil dari potongan kliping begitu membekas. Saya tidak menyerah terus menulis. Sampai tahun 2015, buku pertama saya Keajaiban Mendongeng diterbitkan oleh BIP-Gramedia. Itulah puncak saya kemudian percaya bisa menulis di Gramedia Group sampai sekarang. Dan semuanya dilakukan dengan jalan yang panjang. Barangkali, di anatar teman-teman saya yang dulu bercita-cita menjadi penulis, mungkin hanya saya yang masih tersisa. Kalau kemudian menulis menjadi penopang hidup saya sepertinya itu karena doa purba masa kecil yang dikabulkan Allah.
Saya masih ingat nasihat Bapak saya saat saya masih anak-anak dan bercerita tentang mimpi jadi penulis. Bapak saya bilang, “Allah akan kabulkan setiap doa kita dengan tiga cara: dikabulkan langsung, diganti dengan lainnya, dan ditunda.” Saya meyakini mimpi dan doa saya waktu kecil ditunda. Baru diwujudkan lebih dari dua puluh tahun setelah bekerja keras.
Maka, saat menanda tangani buku-buku ini. Mata saya berkaca. Saya mendadak ingat semua perjuangan untuk bisa menulis. Penuh dengan romantika yang hanya enak jika diceritakan, tetapi sangat perih saat dijalaninya. Tapi, demikianlah takdir dan mimpi. Akan selalu bertemu dalam waktu yang tepat.
Aku pun menandatangani delapan buku saya. Saya berdoa semoga yang membaca buku-buku saya mendapatkan banyak manfaat. Semoga kelak buku-buku saya berguna untuk masa depan anak-anak dan keluarga saya.
Selamat membaca!

KEGIATAN SETIAP PAGI

Kenyataan adanya wabah virus corona (covid-19) ini menyadarkanku bahwa Allah selalu punya cara untuk membuat hamba-Nya belajar dan berpikir. Ya, saya pun merefleksikan kenyataan dii saya bahwa:
Saat setiap hari bekerja dan pergi keluar kota, saya selalu rindu dengan rumah dan keluarga, sehingga saya belajar dengan keadaan untuk berpikir keras bisa membuat momen keluarga yang berharga. Sekarang, momen keluarga selalu terjadi setiap hari, dan ternyata kenyataan ini juga tidak serta merta membuat saya bahagia. Justru menghadapi banyak persoalan, termasuk dengan hari-hari anak-anak di dalam rumah. Saya pun harus belajar dan berpikir keras untuk membuat anak-anak terus beraktivitas di dalam rumah.
Ya, sekarang aku menyadari bahwa apapun kondisi hidupnya, kita harus selalu belajar untuk berpikir keras dalam mengatasi setiap persoalan. Hidup adalah rangkaian persoalan yang harus diselesaikan dengan baik. Di sinilah kita selalu diwajibkan untuk belajar dan berpikir.
Termasuk salah satu keadaan yang harus saya sikapi dengan baik adalah saat anak-anak bangun tidur. Saya paham benar bahwa bangun tidur adalah momen istimewa anak-anak karena energi dan pikiran anak-anak telah terecoveri dengan baik. Bangun tidur adalah memon di mana semua kesadara terbangun dengan sempurna. Jika momen setelah bangun tidak tidak didayagunakan dengan baik, maka bisa tidak baik untuk anak.
Saya dan Istri pun membuat aturan, bangun tidur tidak boleh nonton Tivi. Tidak boleh main hape. Saya langsung mengajak dengan setengah mewajibkan anak-anak ikut membantu saya bersih-bersih, bekerja bakti, dan bertanam. Ya, apalagi ada anjuran bahwa virus corona yang menempel di tubuh kita akan mati jika tubuh kita berjemur di bawah sinar matahari secara langsung dalam beberapa waktu.
Wah, mendengar informasi ini. Rasanya melihat panas matahari pagi itu bikin ingin segera berjemur. Rasanya membayangkan saat berjemur virus-virus menyebalkan itu jatuh berguguruan minta tolong jadi puas sekali. Anak-anak pun keceritakan, “Berjemur bisa membuat corona di tubuh kita pada mati!”
Anak-anak terbelalak melihat Ayahnya sedang berkata penuh emosi. Ya, jujur virus corona jika dipikir sampai perasaan itu bikin emosi. Saya pun meneruskan, “Makanya, ayo, setiap pagi berjemur! Bunuh corona dengan sinar matahari!” Kata-kataku serasa sedang mengajak anak-anak berperang dengan mahlkuk yang tidak tampak.
“Siap, Ayah!” jawab Keila yang pasti belum terlalu paham dengan kata-kataku, tetapi paling paham dengan bahasa kekonyolan Ayahnya yang sok dramatis.
Kakak-kakaknya memandang Keila, kemudian Zakka bertanya, “Siap apa Keila?”
“Siap membunuh corona dengan senjata sinar matahari,” jawabnya sambil bergaya.
Aduh, ini efek nonton film. Kaka-kakanya tersenyum. Keila membalas dengan senyum kecutnya.
“Ayo, Ayah, berjemur kerja bakti!” ajak Keila.
Saya tersenyu, dan mengajak anak-anak keluar rumah untuk berjemur dan bersih-bersih jalan. Ya, sejak itulah, setiap pagi jadi salah satu kegiatan istimewa sejak dikarantina karena corona. Anak-anak senang. Saya bahagia. Pagi menjadi waktu istimewa untuk keluar rumah dalam tujuan berjemur dan bersih-bersih dengan menyapu, bertanam, dan mengepel.
Corona membuat pagi dengan sinar mataharinya jadi sangat istimewa.

 

BUKU PENUH EMOSI DAN INSPIRASI DALAM MENGAJARKAN BEPUASA PADA ANAK

Saat saya dikabari Penerbit Bhuana Ilmu Populer Gramedia bahwa sangattertarik dengan naskah buku yang saya tawarkan ini, dan kemudian diproses terbitnya, sampai berdiskusi panjang untuk penentuan cover bukunya, dan kemudian buku ini siap terbit awal puasa.

Saya langsung teringat dengan peristiwa menuliskan buku itu. Saya menulis naskah buku itu pada saat bulan puasa kemarin selama sebulan penuh. Saya menuliskannya selepas sholat Subuh. Ini saya lakukan karena saya sudah berjanji pada diri sendiri bahwa selepas sahur dan sholat subuh, saya tidak akan tidur sampai kemudian bekerja di kampus.

Perjuangan berat menahan kantuk selepas sholat subuh. Saat berjuang menahan kantuk, saya menulis buku ini dengan penuh emosi dan perjuangan melawan kantuk. Saya merefleksikan puasa dengan anak-anak yang saya jalani hari itu, dan saya tuliskan.

Saat beberapa tulisan jadi. Saya bacakan ke anak-anak dan Istri. Ekspresi Istri bilang, “Bagus, Ayah!” Sedangkan anak-anak hanya bisa nyengir. Mereka jadi tahu suara Ayahnya dalam menerima keisengan, kemarahan, kebohongan, ketakutan, sampai kelaparan saat menjalankan ibadah puasa. Anak-anak malu. Tapi, saya juga belajar pada anak-anak.

Dari cerita-cerita selama puasa tahun kemarin dengan anak-anak, saya sajikan untuk Anda. Anda akan mengalami pengalaman emosional yang sama dengan saya. Karena mendampingi anak-anak untuk berpuasa itu perjuangan luar biasa!

Di sinilah, saya katakan bahwa buku ini bisa menjadi bacaan untuk merefleksikan diri kita sebagai orang tua dalam mendampingi anak-anak berpuasa. Buku penuh emosi dan inpirasi untuk para orang tua.

Silahkan dipesan ada hadih istimewa notes untuk Preorder ke saya [WA] 081564777990

Terima kasih!

HASIL KERJA KERAS WADAS KELIR PUBLISHER!

Sejak Januari 2020, Wadas Kelir Publisher (WKP) di percaya untuk mendampingi program literasi guru-guru Kekompok Kerga Madrasah Ibtidaiyah (KKMI) Cakung Jakarta Timur. Pendampingan program literasi dilakukan secara online oleh Heru Kurniawan, Founder Rumah Kreatif Wadas Kelir.
Setelah sebulan melakukan pendampingan, para guru-guru MI Cakung Jakarta Timur bun berhasil menulis cerita-cerita rakyat Jakarta yang sangat menarik. Kesuksesan ini membuat para guru berniat untuk menerbitkan hasil karyanya di Wadas Kelir Publiher.
Setelah berinteraksi dan berkomunikasi intensif mengerjakan proyek literasi ini, akhirnya buku Cerita Rakyat Jakarta yang ditulis guru-guru MI Cakung Jakarta Timur jadi. Pesanan sebanyak 1.200 eksemplar buku kini sudah tiba di Rumah Kreatif Wadas Kelir. Tim Wadas Kelir Publisher akan segera mendistribusikannya ke para penulis dan Madrasah.
Buku Cerita Rakyat Jakarta ini akan dijadikan bacaan literasi siswa MI. Pasti sangat istimewa karena karya guru dibaca oleh murid-muridnya. Inilah keberhasilan program Literasi khas Rumah Kreatif Wadas Kelir.
Silahkan jika Anda ingin bermintra mengadakan proram pendampingan menulis dengan Rumah Kreatif Wadas Kelir.

 

IKLANKAN HIDUP SEHAT UNTUK HINDARI BAHAYA CORONA!

Rumah Kreatif Wadas Kelir (RKWK) belajar di rumah, bekerja di rumah, dan berkoordinasi dengan sosial media. Kami terus menyelesaikan pekerjaan-pekerjaan yang harus diselesaikan di rumah. Cukup berat, tetapi demi kesehatan dan keselamatan semua harus dilakukan.
Dari koordinasi bersama di sosial media itulah, salah satu relawan mengusulkan untuk berkampanye hidup sehat untuk menghindari corona kepada masyarakat. Jadilah ide untuk membuat poster sederhana. Bukan karena ikut-ikutan, tetapi karena kami ingin memberikan hal kecil tak berarti seputar informasi kepada masyarakat di sekitar RKWK.
Semoga saat jalan ada yang baca, dan jika sudah baca informasinya tersimpan dengan baik di pikiran. Harapannya,suatu saat informasi itu menggugah kesadaran masyarakat untuk melakukan hidup sehat sebaga cara terhindar dari penularan virus corona yang semakin banyak.

BERHENTI JAJAN DI LUAR RUMAH!

Berhenti Jajan di Luar Rumah!
Kalau sudah begini, apa yang akan terjadi dengan anak-anak? Ya, tentu saja kaget dan sering lupa. Buktinya, siang itu, saat anak-anak sedang asyik bermain bermain di rumah, dan terdengar teriakan pedagang tahu bulat yang khas. “Tahu bulat….!”
Zakka langsung berlari dan berteriak, “Beli Pak! Beli…!” Kakak dan Adiknya saling pandang. Saat di depan pintu rumah yang terkunci Zakka menghentikan lari dan langkahnya. Kemudian berbalik arah dan tersenyum malu. Kakak dan Adiknya tertawa.
“Tidak boleh jajan di luar,” Keila, Adiknya menasihati.
“Aku lupa!” balas Zakka.
Mafi dan Nera tertawa. Saya dan Istri tersenyum sedih. Inilah kenyataan betapa virus corona yang namanya indah didengar tapi menakutkan dibayangkan itu telah merengggut masa indah anak-anak untuk jajan di luar rumah bersama teman-temannya.
“Anak-anak, apakah kalian sudah sholat dhuhur?” mendadak Istri beraksi.
Aku bengong saja. Sambil merasa penasaran dengan apa yang akan dilakukan Istri saya.
“Sudah, Bu!” jawab anak-anak serentak.
“Jika sudah, ayo, catat satu jajan yang kalian inginkan!” perintah Istri sambil melirikku.
Aku paham dengan idenya. Ya, ini cara untuk membelikan jajan anak-anak dengan transaksi kebaikan.
“Aku kokokranc,” kata Nera.
“Aku benb-beng,” seru Mafi.
“Aku kinderjoy,” balas Zakka.
“Aku apa ya?” tanya Keila padaku.
Aduh, saya bingung. Saya coba tawarkan makanan yang bisa dimakan bersama, “Roti tawar dan misses seres.”
“Iya, Ayah. Aku mau itu,” balas Keila senang.
Aku tersenyum senang. Anak-anak kemudian menyerahkan catatan pesanan jajannya padaku. Aku menerimanya dengan senang.
“Ya, saat Ayah keluar beli keperluan rumah Ayah akan rutin belikan jajan pesanan kalian…”
“Tapi, syaratnya harus lima waktu sholatnya!” Istri meneruskan perkataanku.
Anak-anak tersenyum senang.Kemudian mereka melanjutkan menonton filmnya dengan senang. Iya, semua kenyataan pahit ini pasti ada peluang baiknya. Termasuk kenyataan anak-anak tidak bisa membeli jajan di luar rumah. Pesan jajan dengan transaksi kebaikan bisa dilakukan.
“Aku senang anak-anak jajannya begini,” kata Istri.
“Kenapa?” tanyaku.
“Karena jajannannya lebih sehat dan lebih hemat. Jika jajan di luar rumah hampir setiap ada pedagang mereka pasti beli. Jajannya belum tentu sehatnya, dan uang yang dikeluarkan lebih banyak,” Istri berceramaah.
Aku mendengarkan dengan bodoh seperti anak TK yang dijelaskan tentang istilah-istilah ilmiah tentang virus corona. Tapi yang jelas, corona membuat saya harus rutin membelikan jajan anak-anak setelah melakukan transaksi kebaikan. Saya pun jadi tahu jajannya anak-anak. Jadi tahu juga rasanya jajan anak-anak karena sering minta pada anak. Jadi tahu juga corona membuatku lama-lama bisa seperti anak-anak.
“Semoga kalian selalu sehat terlindungi, Nak!” kataku dalam hati memperhatikan anak-anak makan jajan hasil kerja kebaikan di musim corona.

 

KEGADUHAN TAK TERELAKKAN

Apa jadinya jika anak-anak yang super aktif harus selalu berkumpul di dalam rumah? Pasti bisa dibayangkan, ya, kegaduhan menjadi hal yang tak terelakkan. Itulah yang terjadi saat ini. Virus corona (covid-19) yang membuat sepi di luar, tapi di dalam rumahku menjadi sangat ramai. Anak-anak bermain super aktif. Dari teriak-teriak, kejar-mengejar, hingga pukul-memupuku memerankan diri menjadi jagoan.
Dan apa yang bisa dilakukan oleh saya dan Istri? Hmmmm! Rasanya medegel (marah akut) yang kemudian bisa kami ekspresikan dengan berteriak juga, “Hentikan!” Tapi apakan terus berhenti? Tidak! Suaraku dan Istriku serasa seperti alunan musik berantakan yang tidak bermakna.
Anak-anak terus berlari, berteriak, dorong-dorongan, hingga pukul dan lempar sesuatu. Dan tahukah kita ujung dari kegaduhan ini? Ujuangnya adalah dua hal: (1) akan menyebabkan barang di rumah jatuh dan pecah, misalnya, gelas, mainan, vas bunga, kursi, bahkan kemarin Tivi jatuh (untung tidak rusak) dan (2) semua berujuang pada salah satu di antara anak-anak ada yang marah, berkelahi sungguhan, kemudian ada yang menangis. Dan tentu saja yang sering menangis adalah Keila yang paling kecil.
Kalau sudah ada dalah satu dua kejadian tersebut, barulah anak-anak berhenti. Saat itulah biasanya saya atau Istri tampil memberikan penekanan, “Sudah dibilangan, tetapi kalian tidak menurut. Inilah hasilnya!” Anak-anak saling pandang. Kemudian meminta maaf. Kegaduhan hari ini pun selesai. Anak-anak akan duduk manis lagi nonton film atau tiduran baca buku.
Tapi, apakah dari kejadian ini kemudian selesai kegaduhan? Tentu saja tidak! Esoknya semuanya akan terulang lagi dan lagi. Di situlah saya dan istri harus banyak mengelus dada. Kami memaklumi kenyataan bahwa karena corona yang terus berkeliaran di luar rumah, dan anak-anak tidak bisa bermain di luar rumah, maka surplus energi anak-anak harus dibuang di dalam rumah. Belum lagi ditambah beban psikologi anak yang merasa jenuh di rumah terus, tentu membuat kelebih energi akan diekspresikan dengan cara yang lebih super lagi. Inilah yang harus diterima.
Namun, terlepas dari apapun. Saya juga merasa tidak boleh membiarkan anak-anak bebas. Anak-anak juga harus tahu orang tuanya marah, tidak suka, bahkan berteriak. Bukan untuk menakuti, tetapi kenyataan anak-anak hidup dalam ketegangan untuk keseimbangan perlu dipahami. Dari pemberian situasi marah dan tenang; memaksa dan merdeka; membebasakan dan menegakkan aturan; sampai memberi hadiah dan memberikan hukuman inilah maka anak-anak akan mendapatkan harapan.
Anak-anak belajar dua dunia yang berbeda dari orang tuanya: dunia yang baik dan dunia yang tidak baik. Pengenalan dua dunia memberikan pemahaman pada anak bahwa hidup selalu dalam keseimbangan yang demikian sehingga harapan-harapan akan selalu muncul dan menjadi kekuatan bagi anak-anak. Inilah keseimbangan pendidikan yang harus selalu dijaga dengan olehku dan Istri di saat situasi begini.
“Hentikan!”
Anak-anak terus bercanda saling dorong di kamar. Kemudian Keila terjatuh dan menangis. Keila langsung berlari memeluk Ibunya. Semua Kakaknya terdiam seperti baru menyadari bahwa perbuatannya telah membahayakan adiknya.
Aku mendekati ketiga anakku yang duduk terdiam di tempat tidur. Kutunjukkan ekspresi wajah menakutkan yang pasti tidak karuan. Aku tidak berkata-kata. Sebab anak anak pasti cukup tahu dan takut.
Aku tinggalkan anak-anak. Aku memeluk Keila yang masih menangis. Kakak-kakaknya kemudian datang.
“Maaf, Ayah!” kata Mafi.
“Maaf, Ayah!” kata Zakka.
“Maaf, Ayah!” kata Nera.
Wajah marahku segera kuubah menjadi wajah sayang. Kupeluk ketiga anakkua erat sambil berbisik, “Jangan diulangi lagi!” Anak-anak menganggukkan kepala. Kulanjutkan kata-kataku, “Sekarang cuci tangan yang bersih. Kita makan jajan bersama1”
Anak-anak langsung berlari ke dapur. Dan apa yang terjadi? Di dapur anak-anak kembali bercanda dan gaduh lagi main cipratan air. Aku menelus dada sambil mendeah ringan, “Iya, beginilah! Hari yang berat tidak hanya karena menghadapi corona di luar yang semakin menakutkan, tapi menghadapi anak-anak saat sedang menjalani hari yang berat ini membuat hari-hari di rumah juga berat.”

TRANSAKSI TELEVISI

Baru setengah hari di rumah, anak-anak sudah bosan. Tanpa sepengetahuanku, mereka telah menyusun rencana purba. Anak-anak mendekatiku saat aku sedang bekerja di kamar kerja. Istriku pun ikut bergabung. Ini diskusi kedua kami hari pertama karantina.
“Ayah, bosan!” seru Mafi.
“Iya, tidak ada hiburannya,” tambah Zakka.
“Tivinya dinyalakan boleh?” tanya Nera.
“Iya, Ayah. Aku pingin nonton Tivi,” tambah Keila.
Tumben mereka kompak. Biasanya selalu bertengkar. Inilah alat pemersatu paling ajaib baik anak, yang membuat anak-anak yang sering bertengkar bisa menjadi sangat kompak: jika sama-sama menginginkan kesenangan yang sama.
Aku melirik Istri. Istriku tersenyum, dan aku paham arti senyumnya. Istri juga mendukung keinginan anak-anak. Aku tertunduk lemas. Memikirkan kata-kataku empat tahun lalu, saat aku dapat hadiah TV dari Penerbit Bhuana Ilmu Populer Gramedia Jakarta, “Tivi ini tidak akan Ayah nyalakan di rumah ini! Juga tidak akan Ayah jual. Biar rusak sendiri!”
Aku kemudian melirik kardus Tivi itu di kolong tempat tidur. Kemudian aku menatap wajah anak-anak yang berubah. Biasanya penuh semangat, kini menjadi sangat melankolis penuh kebaikan. Jujur aku pun tidak tega.
“Boleh, ya, Ayah,” seru Keila mendekat kemudian minta dipeluk.
Kakak-kakaknya melirik penuh curiga. Aku paham. Mereka sudah menskenario Keila untuk berperan demikian. Anak-anak tahu, terhadap anak perempuanku satu-satunya itu aku mudah luluh lantak.
“Baiklah, Ayah perbolehkan,” seruku pelan mengakui kalah karena keadaan.
“Yes!” kata Mafi.
“Yes!” kata Nera.
“Yes!” kata Zakka.
“Makasih, Ayah,” kata Keila sambil menciumku.
Aku senang melihat anak-anak senang. Tapi, menyenangkan anak-anak secara total bukan pendidikan yang baik. Mereka juga harus diberi tanggung jawab.
“Tapi, Tivinya tidak boleh untuk tayangan televisi. Hanya untuk nonton film!” seruku.
“Yes, setuju Ayah!” kata Mafi.
“Kalian tidak boleh keluar rumah!” seruku lagi.
“Pasti, Ayah!” jawab Nera.
“Selama di rumah harus nurut sama Ayah dan Ibu!” seruku lagi.
“Siap!” kata mereka serentak.
Tapi aku sudah tahu. Jawaban yang terakhir ini tidak mungkin dipenuhi. Aku pun mengerti. Sebabnya, jika anak-anakku sellau menurut padaku, pasti aku bukan Ayah yang baik. Aku galak dan memaksakan kehendak. Padahal ketidaknurutan anak juga penting untuk membentuk tanggung jawab anak.
“Yang terakhir!” seruku dengan suara lebih keras.
Anak-anak diam dan saling pandang. Mereka ingin mendengar segera permintaanku yang terahir.
“Yang terpenting, Tivinya masih bener tidak? Jika masih bisa nyala, Ayah akan siapkan film-film untuk kalian!” seruku.
“Hore!” teriak anak-anak senang.
Mereka segera mengambil Tivi itu kemudian beramai-ramai memasang di ruang tamu tempat anak-anak bermain.
“Ayah!” teriak Keila.
Aku segera mendekati Keila dan Kakak-kakaknya, “Ada apa?”
“Tivinya sudah nyala!” teriak Zakka.
Anak-anak berloncatan gembira. Aku mengelus dada antara sedih dan senang yang campur aduk kayak adonan pasir dengan semen.
“Terima kasih, Ayah!” seru Keila.
“Terima kasih, Ayah!” ucap Zakka.
“Terima kasih, Ayah!” tambah Keila.
“Terima kasih, Ayah!” kata Zakka mengakhiri.
Aku hanya membala dengan senyum. Anak-anak kemudian menonton film. Sedangkan aku masuk kamar kerja untuk kembali menulis dan mengisi kuliah online.
Inilah revolusi terindah dalam rumahku. Setelah hampir enam tahu rumahku tidak ada televisi, kini telah hadir televisi yang berfungsi hanya untuk menton film. Ya, semua jujur terpaksa saya lakukan karena corona di luar yang semakin mencemaskan membuatku harus benar-benar bisa membuat anak-anak bahagia di dalam rumah. Salah satunya memenuhi permintaan anak-anak untuk memfungsikan Tivi yang telah lama bersemedi empat tahun di kolong tempat tidur anak-anak.
Saya bersyukur Tivi itu belum saya jual. Padahal berbagai tawaran teman-teman dan tetangga untuk membeli banyak. Tapi saya selalu katakan, “Tidak saya jual sebab aku tidak mau melukai perasaan anak-anakku.”
Dan sekaran, sungguh aku bahagia. Keputusanku benar. Ternyata Tivi itu setia padaku dan anak-anak. Tidak ngambek dan rusak. Masih menyala sekalipun sudah empat tahun di kolong. Dan ini Tivi itu menjadi teman kesendirian anak-anak di saat mereka harus sabar mengasingkan di dalam rumah karena corona.
“Terima kasih, Ayah,” kata Istriku dari balik pintu.
Aku membalsanya dengan senyum penuh bahagia. Kemudian aku berkata, “Ini demi anak-anak karena di luar corona semakin banyak memakan korban!”

 

Semoga Pandemi Virus Corona (Covid-19) ini Segera Berlalu

Doa kita bersama, “Semoga pandemi virus corona (covid-19) ini segera berlalu. Semoga kita selalu dijaga dan dilindungi Allah dari bahasa virus corona. Semoga kita diberikan kesehatan dan keberuntungan dalam masa-masa yang sulit ini.”

Amin!

Sejak diberlakukan aturan untuk: bekerja di rumah, belajar di rumah, dan beribadah di rumah! maka saya dan keluarga pun mengkarantina diri di rumah. Saya akan keluar hanya untuk hal penting misalnya membeli kebutuhan domestik keluarga. Selebihnya di rumah saja. Jika pun keluar untuk lari-lari, menyapu, mengepel, dan bercocok tanam saat matahari bersinar di area wadas kelir.

Dari kenyataan keadaan yang serba sulit ini. Saya mencoba untuk menuliskan cerita-cerita tidak penting soal saya, istri, dan keempat anak saya di rumah. Bukan hal yang penting, tetapi semoga bisa berbagi untuk mengisi waktu dan saling berkomunikasi, siapa tahu ada manfaatnya bagi yang membaca.

Terima Kasih

1.

DISKUSI SERU DENGAN ANAK-ANAK

Hari yang berat…

Di luar orang-orang ketakutan dengan virus corona (covid-19). Sekolah sudah memerintahkan anak-anak untuk belajar di rumah. Saya pun demikian, harus bekerja di rumah.

Hari pertama diberlakukan. Saya dan istri memerintah keempat anak kami untuk tinggal di rumah saja. Tapi, namanya anak-anak, mereka tetap saja bermain dengan teman-temannya di luar. Tidak menyadari bahwa covid-19 terus mengintai di luar.

“Anak-anak perlu diperingatkan, Ayah!” kata Istriku menasihati.

“Ide yang baik,” kataku.

Anak-anak yang sedang bermain di luar kami panggil untuk berkumpul di ruang tamu. Jadilah kami berkumpul. Kami siap untuk berdiskusi. Anak-anak menatap wajah Ayahnya yang mendadak aneh. Ekspresi sayang, takut, dan marah yang campur aduk tidak jelas.

“Mulai sekarang, Ayah dan Ibu minta kalian tinggal di rumah saja…” kataku dipotong oleh Zakka dengan polosnya.

“Kenapa, Ayah?” tanya Zakka.

“Karena ada corona!” jawab Istri.

“Iya, sekarang yang terkena sudah seratus lebih,” Mafi bersuara.

Tentu saja, adik-adiknya yang kecil saling pandang tidak paham. Saya segera bertindak. Saya menjelaskan, “Corona itu nama virus berbahaya, yang bila nempel di tangan kita, kemudian masuk ke tubuh kita lewat mulut, hidung, dan mata, maka tubuh kita akan sakit. Dan jika sakit parah harus dibawa ke rumah sakit…” saya bercerita panjang lebar tentang corona dengan sekali-kali menyaksikan anak-anakku yang menguap karena bosan dengan berceramah Ayahnya yang tidak dipahami anak-anak.

“Ah, Ayah ngeles, aku tidak paham,” barang kali suara hati mereka demikian.

Istri saya mencolek saya. Saya tersadar. Saya tertawa merasa begitu tololnya. Saya segera beraksi memperbaiki diri.

“Biar jelas, sekarang kalian lihat tayangan video ini!” kataku seraya putarkan video dari IG najwashihab soal penjelasan bahaya corona.

Tentu saja, anak-anak antusias menonton. Dan mereka pun paham. Mereka manggut-manggut kemudian tesenyum senang seperti habis diberi uang jajan.

“Berarti mulai sekarang di rumah saja?” tanya Nera.

“Ya!” jawabku.

“Beli jajannya?” tanya Zakka.

“Di rumah!” jawab Istri.

“Kalau pingin main?” tanya Keila.

“Di rumah!” jawab Istri.

Anak-anak saling pandang. Kemudian tersenyum kompak penuh kecewa. Kemudian menunduk lesu seperti sedang lapar menunggu bakul jajan kesukaannya datang.

“Ya, kita harus di rumah!” ajak Mafi, kakak mereka.

Nah, kalau kakaknya sudah memberi perintah, maka adik-adiknya tidak ada yang berani menolak. Kata Kakanya lebih ampuh dari saya dan istri.

“Bagaimana?” tanyaku.

“Siap Ayah!”

“Siap Ibu!”

Keputusan sudah bulat. Di situlah kami telah sepakat untuk di rumah saja. Inilah diskusi paling diplomatis yang pernah kurasakan sepanjang hidup. Saya jadi sadar sehebat apapun saya dan Istri, tetap saja kata-kata kakaknya adalah segala-galanya buat adik-adiknya.

Sejak itulah kami di rumah bersama anak-anak. Sungguh pekerjaan berat dan melelahkan yang membahagiakan bersama empat anak yang super aktif di rumah untuk terhindar dari bahaya corona.

Selapas rapat saya mencoba berdiplomasi akhir, “Anak-anak, Ayah dan Ibu melakukan ini karena Ayah dan Ibu sayang sama kalian, Anakku. Ayah dan Ibu ingin kita semua sehat. Ayah dan Ibu akan melindungi kalian.”

Inilah bahasa diplomasi terbaik saya untuk ungkapkan rasa sayangku pada anak-anakku. Tapi, momen istimewa itu berantakan. Anak-anak hanya bengong dan bingung. Kemudian meninggalkanku dan istri begitu saja. Mereka kembali melanjutkan bermainnya di dalam rumah.

Istriku tersenyum geli. Aku pun menyerah. Inilah cara anak-anak mencintai heroisme orang tuanya: dengan cara meninggalkannya begitu saja!

Aku tertawa jika mengingat kejadian ini. Tapi, tawaku harus kutarik karena di luar jumlah korban karena virus corona terus bertambah.