SAAT BERPISAH DENGAN MASYARAKAT WADAS KELIR

–Setiap orang punya ruang hidupnya masing-masing, dan setiap ruang hidup, pasti membutuhkan tangguung jawab untuk menjalaninya dengan sebaik mungkin–

Ini salah satu filosofi yang saya yakini. Hidup akan selalu berpindah dari satu ruang ke ruang lainnya. Dan dalan ruang tempat hidup kita, selalu ada tanggung jawab besar yang harus dijalani.

Wadas Kelir adalah salah satu ruang hidup kami. Di Wadas Kelir kami berlatih dan belajar untuk bertanggung jawab dengan sebaik mungkin. Bertanggung jawab pada diri kami sendiri dan bertanggung jawab pada orang di sekeliling kami. Kesadaran pada tanggung jawab inilah kami kemudian berbuat dan bergerak sebaik mungkin.

Dan sebenarnya, dalam ruag itu ada waktu. Waktu yang akan membuat kita dewasa, sekaligus akan memisahkan kita.

Dan saat menjelang puncak bulan puasa ini, kami harus segera meninggalkan ruang Wadas Kelir untuk masuk ke ruang keluarga yang sudah kami tinggalkan selama setahun. Ramadhan adalah saat kami harus pulang untuk masuk dalam ruang keluarga.

Maka pada Kamis (30/05) kami relawan dan saya sekeluarga berpamitan pada Warga Wadas Kelir untuk pulang ke ruang keluarga kami selama beberapa hari. Tentu saja, warga Wadas Kelir menyadari hal ini. Masyarakat pun melepas kami dalam perpisahan sederhana yang penuh dengan doa-doa keikhlasan yang kami rasakan lembutnya.

Terima kasih relawan, remaja, anak-anak, dan masyarakat Wadas Kelir. Ini saatnya kami pergi untuk masuk dalam ruang keluarga kami yang hangat. Tempat kami mendapatkan banyak energi. Energi utama untuk melangkah esok hari yang lebih baik lagi.

Selamat lebaran. Selamat dalam kasih sayang di ruang keluarga. Semoga esok saat bertemu kita akan lebih baik lagi dalam bertanggung jawab atas kehidupan kita masing-masing.

(Heru Kurniawan, Founder Rumah Kreatif Wadas Kelir)

KULIAH PENDEK SAYA SAAT BUKA BERSAMA KELUARGA RUMAH KREATIF WADAS KELIR

Dongeng Aladin yang sekarang sedang ramai difilmkan memberikan pelajaran penting tentang kehidupan yang memerangkap.

Setidaknya, Aladin terperangkap dalam dua kedupan yang sangat tidak diinginkannya.

Pertama, Aladin terperangkap dalam kehidupannya yang miskin, yang membuatnya menjadi seorang pencopet. Namun, dalam kemiskinan dan perbuatan copetnya, Aladin terus berbat baik pada orang lain.

Aladin membagikan hasil copetannya pada orang lain yang membutuhkan dan itu membuat Aladin sangat senang dan bahagia.

Kedua, Aladin, karena perbuatannya, tertangkap orang tidak baik dan dimasukan dalam gua untuk mengambil teko kecil ajaib.

Di dalam gua Aladin tentu saja putus asa karena merasa akan mati sebab tidak ada jalan keluar, sekalipun di gua banyak emas.

Namun, dalam keadaan putus asa, Aladin berbuat baik dengan menyelamatkan Karpet yang tertindih batu dan bekerja keras mengambil teko ajaib sekalipun nyawa taruhannya.

Karena kebaikan-kebaikan Aladin saat dalam terperangkan inilah, Aladin jadi disukai JIN dan KARPET AJAIB. Melalui keduanya Aladin bisa mendapatkan mimpinya untuk menjadi pemuda terhormat.

Aladin mendapatkan cinta dan kerajaan sekalipun bukan dari keturunan bangsawan.

Dari sinilah, kita (relawan, remaja, dan anak-anak) Wadas Kelir memiliki nasib yang serupa sama dengan Aladin. Kita terperangkap di Wadas Kelir yang membuat hidup kita: kekurangan waktu, tidak bisa bebas, banyak masalah, kehilangan waktu buat sendiri, dan dipaksa untuk berkorban.

Dalam keadaan demikian, yakinlah, kita harus sabar dengan terus berbuat baik pada orang lain seperti Aladin. Karena saya meyakini bahwa kebaikan yang kita berikan pada orang lain akan menyelematkan hidup kita.

Akan membuat kita memiliki masa depan yang bagus. Entahlah, saya meyakini ini. Dan semoga keyakinan saya tidak keliru.

Di sinilah letak perjuangan kita sebenarnya menjadi pegiat literasi yang mencoba terus berbuat baik dalam perangkap hidup yang bisa jadi tidak menyenangkan bahkan mnderitakan kita semua.

(Heru Kurniawan, Pengajar di Institut Agama Islam Negeri Purwokerto dan Founder Rumah Kreatif Wadas Kelir Purwokerto)

Berbagi Inspirasi Ramadhan: MEMBANGUNKAN ANAK-ANAK SAHUR

Salah satu tantangan terberat saya dan Istri dalam mengkondisikan anak-anak berpuasa adalah: membangunkan anak-anak saat sholat.

Zakka dan Nera sangat senang bermain. Selepas sholat Tarawih, saat keduanya baru pulang ke rumah, dapat dipastikan pasti asyik bermain sampai larut malam. Nera dan Zakka pun tidur larut malam. Hasilnya saat dibangunkan sangat susah. Selalu saja ada hal yang membuatnya malas.

“Sudah sahur, Zakka!” Istri membangunkan Zakka. Zakka hanya berubah posisi tidur saja. “Bangun, Zakka!” Istri tidak putus asa. Zakka tidak putus asa pula untuk terus berganti posisi tidur. Istri mulai putus asa.

“Coba Ayah yang bangunkan!” ungkap Istri. Saya pun berbisik pada Istri, ”Saya punya cara yang bisa buat Zakka langsung bangun. Tapi ini harus jadi senjata terakhir. Jangan sering digunakan jika tidak mendesak sekali.”

Istri jadi sangat penasaran. Sebelum menyampaikannya ke Istri, saya meminta maaf dalam hati. Dan semoga ini tidak mengganggu perkembangan postif Zakka ke depannya.

“Bagaimana caranya, Ayah!” Istri sudah sangat penasaran.

Saya pun segera melangkah menemui Zakka yang sedang tidur. Saya memberikan contoh cara membangunkan Zakka, yang sebenarnya kurang baik, tetapi terpaksa harus dilakukan.

Saya berbisik pada Zakka, “Zakka, ayo, bangun. Mamas Nera sudah bangun. Masak Zakka belum bangun!’

 

Beberapa saat kemudian Zakka berteriak, “Aku masih ngantuk!” Zakka kemudian bangun dan marah. Dia kemudian menangis. Saya langsung berkata, “Eh, jangan menagis. Ayo, segera sahur bersam Mas Nera!”

Zakka pun melangkah dan duduk di ruang makan dengan wajah dilipat-lipat. Saya melihat wajah lega pada Istri. Kami kemudian makan sahur bersama sampai terdengar Imsyak.

Pertanyaannya pasti, kenapa Zakka langsung bangun saat dibisikan,”Bangun, Zakka. Mamas Nera juga sudah bangun!” Sebabnya adalah, dalam setiap diri Kakak dan Adik selalu ada rivalitas dan kompetisi yang terpendam. Dalam keadaan darurat, ini bisa dimanfaatkan, tetapi jangan sering dimanfaatkan sebab bisa memberikan dampak yang kurak baik bagi anak.

Setiap Adik pasti memiliki keinginan bisa seperti Kakaknya. Bahkan, ingin bisa mengalahkan Kakaknya. Tidak terkecuali Zakka yang ingin seperti Kakaknya yang puasa dan sudah bangun untuk bersahur. Dalam menghadapi dorongan ini, Zakka begitu keras berusaha sehingga sering tidak menghiraukan keadaannya.

Tidak heran jika setiap Sahur, setelah dibangunkan dengan menyebut nama Kakaknya yang sudah bangun dan mau Sahur, maka Zakka bangun dalam keadaan marah. Bangun karena ingin bisa seperti Kakaknya, dan marah karena sebenarnya tubuhnya ingin tidur, tapi hasratnya ingin Sahur seperti kakaknya. Dari sinilah, Zakka mengalami dilema keinginan dengan keadaan. Kedua hal inilah yang membuatnya marah dan menangis setiap Sahur.

Dalam menyikapi hal ini, saya dan Istri tenang dan menenangkan. Saat Zakka marah dan menagis karena dibangunkan untuk Sahur, maka saya hanya mengatakan, “Jangan menangis, Zakka Sahur biar bisa puasa seperti Mamas Nera!” Sedangkan Ibunya dengan telaten melayani Zakka dengan berbagai permintannya. Dengan cara demikian, maka Zakka kemudian diam dengan sendirinya dan akhirnya menikmati Sahur bersama di rumah.

(Heru Kurniawan, Founder Rumah Kreatif Wadas Kelir)

Berbagi Isnpirasi Ramadhan: HADIAH PUASA

Awal puasa, tepatnya selepas saya dan anak-anak sholat Tarawih, saya berkumpul dengan Zakka dan Nera. Nera bertanya pada saya, “Ayah, Nera mau puasa sampai selesai. Ayah mau memberi hadiah tidak?”

Saya tersentak kaget. Saya malu pada Nera dan Zakka yang tidak peduli dengan apresiasi dan hadiah untuk memotivasi usahanya untuk puasa sampai selesai. Sebelum menjawab pertanyaan Nera, saya bertanya pada Zakka, “Zakka juga mau puasa?”

Zakka menganggukkan kepala, sekalipun puasa hari pertamanya telah dibatalkan dengan minun. Tapi, untuk anak usia lima tahun sudah sangat membanggakan saya sebagai orang tua.

Saya pun menjawab pertanyaan Nera, “Ayah akan belikan mainan kalian setiap lima hari sekali di Toko Mainan dekat Moro dan Pasar Wage.”

Zakka dan Nera langsung melonjak senang. “Yes!” seru Zakka dan Nera serentak. Mereka kemudian ramai-ramai berteriak dan berceloteh tentang mainan-mainan yang akan dibelinya. Saya sangat senang.

“Tapi, ingat! Mainannya yang tidak mahal!” saya mengingatkan. Dengan cepat Nera balik bertanya, “Yang harga berapa, Ayah?” Secepat kilat saya membisiki Zakka dan Nera, “Yang lima belas ribu rupiah, ya?” Nera dan Zaka saling pandang, kemudian berteriak,”Yes!” Saya pun lega.

Setelah kejadian di atas, yang terjadi pada hari Senin (6/05/2018), awal puasa. Dan apa yang terjadi? Saya menyaksikan sendiri Nera dan Zakka benar-benar berusaha menjaga puasanya dengan sebaik dan sekuat mungkin. Setidaknya, sampai hari ini Minggu (12/05/2019), saat saya menulis tulisan ini, Nera (kelas 1 MI) dan Zakka (KB) masih terus bertahan puasa dalam berbagai dinamikanya yang sudah saya tulis di sini.

Dan saya sangat senang dengan keadaan ini: Nera dan Zakka yang terus berusaha untuk berpuasa.

Setelah lima hari, apakah anak-anak lupa dengan hadiahnya? Tentu saja tidak. Malam Sabtu mereka sudah bergembira untuk membeli mainan esok hari. “Asyik, ya, hari ini. Kita akan membeli mainan,” seru Zakka.

“Makanya, kita harus tetap puasa. Jangan batal-batal terus,” kata Nera mengkritik adiknya. Zakka hanya membalas dengan senyum lucunya saja. Zakka sadar dirinya yang paling sering batal puasanya.

Barang kali demikianlah anak-anak, kita harus paham bahwa dalam setiap usaha berbuat baik, maka kita harus memahaminya dengan baik. Salah satunya dengan menstimulasi perbuatan baiknya dengan hadiah. Bukan hadiah sebagai tujuan utama, tetapi hadiah sebagai bentuk apresiasi orang tua pada usaha baik anak-anak dalam berpuasa.

Hadiah ini akan berperan penting dalam mengikat, mengingatkan, menguatkan, dan memotivasi anak-anak untuk terus berbuat baik, yaitu berpuasa terus. Mendapatkan hadiah pun akan menjadi momen menyenangkan bagi anak-anak, tetapi untuk mendapatkan momen mendapatkan hadiah ini, anak-anak harus berusaha untuk bisa puasa dengan baik.

Dari sinilah, hubungan antara hal yang menyenangkan sebagai hak dengan kerja keras dalam berpuasa sebagai kewajiban terbentuk dengan baik. Anak-anak pun akan memahami pola penting dalam hubungan ini, yaitu untuk mendapatkan hal yang menyenangkan harus dilalui dengan usaha keras melalui puasa.

Puasa pun dapat dijadikan sebagai sarana dalm mendidikan anak-anak kita untuk lebih baik lagi ke depanya.

(Heru Kurniawan__Founder Rumah Kreatif Wadas Kelir)

WAJAH LINGUNGAN WADAS KELIR SETIAP PAGI: ASRI, SEJUK, NYAMAN, BERSIH, DAN MENYENANGKAN

Sejak awal saya berada di Wadas Kelir, salah satu hal yang selalu saya tekankan adalah: Bersih!

Bersih menjadi ciri keberhasilan pertama kita mengelola komunitas. Jika bersih, maka bertanggung jawablah kita pada diri dan komunitas. Tapi, jika kotor, maka indikator pertama kegagalan komunitas sudah terlihat.

Untuk menciptakan kebersiahan ini, langkah awal yang saya lakukan adalah: saya tidak memerintah, saya tidak membuat aturan. Tapi, saya terjun langsung setiap pagi membersihkan lingkungan di Wadas Kelir.

Saat saya membersihkan lingungan setiap pagi itu maka banyak anak-anak melihat. Banyak warga melihat saya. Banyak relawan melihat saya.

Bukan untuk riya dan pamer kalau saya sok rajin nyapu, tapi niatan saya untuk menanamkan satu perintah tanpa kata-kata bahwa lingkungan wadas kelir milik kita, yuk, kita jaga kebersiahannya bersama-sama.

Setelah saya melakukan aksi bersih ini, perlahan-lahan beberapa warga ikut, anak-anak ikut, dan relawan ikut. Kesadaran menjaga kebersihan pun menjadi milik bersama.

Sampai kemudian kami meminta waraga, Pak Poniman, secara khusus bertugas menjaga kebersihan. Setiap pagi Pak Poniman bekerja membersihan lingkungan Wadas Kelir bersama saya dan relawan.

Ya, dari sinilah semua bermula. Dan sekarang menjadi gerakan bersama setelah kami melakukannya selama enam tahun. Mendirikan komunitas membutuhkan kemauan, keteladan, kesabaran, dan perjuangan yang tak berkesudahan. Semoga saya terus diberi kekuatan untuk bisa menjaga dan mengembangkan Wadas Kelir lebih maju lagi.

(Heru Kurniawan, Founder Rumah Kreatif Wadas Kelir Purwokerto)

Berbagi Cerita: PAGI ITU, SAAT SAYA SEDANG MEMBERSIHAKAN GEROBAK BACA, SAYA BERTEMU DENGAN ANAK-ANAK YANG MAU BERMAIN DAN MEMBACA DI TBM WADAS KELIR

Pagi itu (11/05/2019), selepas Subuh, seperti biasanya, saya melakukan kegiatan berisih-bersih di halaman rumah, sepanjang jalan depan rumah saya, hingga di area Pusat Belajar Wadas Kelir.

Saya melakukan kegiatan bersih-bersih dengan Kak Munasiroh Relawan Wadas Kelir yang mendapat jadwal piket. Kami membersihkan sampah, menyiram tanaman, sampai mengelap gerobak baca tempat buku-buku didisplay untuk dibaca masyarakat.

Saat kami sedang asyik melakukan kegiatan bersih-berish, sekolompok anak-anak lewat di depan kami. Mereka rupanya ingin bermain di Pusat Belajar Wadas Kelir. Tapi, karena ada kami, mereka pun malu.

 

 

“Mau bermain di sini!” sapa saya.

Anak-anak hanya tersenyum bimbang.

“Ayo, sini! Jangan takut, Boleh kok main di sini, tetapi ada syaratnya?”

“Apa syaratnya?” tanya salah satu anak.

“Baca buku dulu di sini.”

Anak-anak langsung saling pandang. Kemudian merekan tersenyum dan segera menyerbu Gerobak Baca Wadas Kelir. Anak-anak ramai mencari buku yang disukainya, kemudian suntuk membaca buku selama 15 menit.

Setelah itu mereka kemudian bermain bebas dan menyenangkan. Saya dan Kak Munasiroh senang dengan melihat pemandangan anak-anak yang suntuk membaca.

 

 

Anak-anak kemudian asyik bermain di Pusat Belajar Wadas Kelir. Ya, memang inilah yang kami harapkan. Kami mendirikan Pusat Belajar Wadas Kelir dalam upaya untuk mengajak masyarakat membaca.

Semoga akan banyak lagi anak-anak yang mau membaca buku-buku di Gerobak Baca Wadas Kelir.

(Heru Kurniawan, Founder Rumah Kreatif Wadas Kelir Purwokerto)

Yuk Pahami Delay Gratification Skill Anak

SAHABAT KELUARGA – ”Bu, aku mau beli sepeda,” rengek Dila.

”Sabar Dila, Minggu depan kita beli bareng ayah yah!” jawab ibunya.

”Tapikan sekarang baru hari senin Bu, masih lama hari Minggunya,” pintanya terus merengek.

Dila terus menghitung hari-hari yang terasa begitu lama. Bahkan merengek untuk mempercepat untuk membeli sepeda.

Bisa dibayangkan apa reaksi anak mendengarkan kata ”sabar” jika ia sedang menginginkan sesuatu. Ia akan terus meminta dan merengek agar kita mengabulkan dengan segera keinginannya.

Hal ini menunjukkan kemampuan anak dalam mengendalikan dirinya masih kurang. Bahkan ia bisa menunjukkan perilaku yang tidak sesuai saat keinginannya tidak segera dituruti.

Bagi anak menunda keinginan merupakan tugas yang sulit. Tetapi kita tidak mungkin membiarkan si kecil menangis meronta-ronta, bukan? Kita cenderung mengutamakan keinginannya daripada ia terus merengek dan tantrum.

Menunggu artinya menunda kepuasan atau delayed gratification. Seorang pakar psikologi kepribadian dari Universitas Columbia, Walter Mischel, menjelaskan delayed gratification adalah kemampuan sosial seseorang dalam mengontrol diri dengan cara menunda kepuasan demi mencapai hasil yang lebih besar di masa yang akan datang. Mischael terkenal dengan eksperimennya The Marshmallow Test pada anak usia 4-5 tahun.

Cara kerjanya, anak-anak dibawa masuk ke sebuah ruangan dan masing-masing diberi marshmallow satu. Mereka tidak boleh makan bahkan menyentuhnya selama 15 menit tanpa awasan penguji. Anak yang berhasil akan mendapat marshmallow satu lagi.

Dari 653 anak hanya 3 yang berhasil. Kegagalan mereka levelnya pun berbeda-beda. Ada yang dalam satu detik setelah penguji keluar, ada yang 5 menit, 10 menit, dan seterusnya.

Setelah 20 tahun, Walter Mischel mencoba mendata kembali anak-anak yang pernah terlibat dalam The Marshmallow Test. Anak-anak yang mampu menahan diri tidak memakan marshmallow selama 15 menit tumbuh dengan mengagumkan. Konsentrasi dan logika mereka tumbuh pesat, mampu memelihara persahabatan, dan bertahan dalam tekanan.

Dari riset Mischel kita bisa mengetahui bahwa konsep delay gratification skill yang berkembang dengan baik akan membuat anak tumbuh dengan kontrol diri yang baik. Kemampuan ini berkembang sejak anak berusia seitar 2 tahun dimana anak sudah mengerti konsep sebab akibat.

Seiring bertambahnya usia, anak mulai bisa menekan keinginannya sendiri dan menahan diri demi mendapatkan kepuasan yang lebih. Anak memiliki kemampuan menunda kepuasan yang tinggi sampai mereka memasuki usia remaja.

Berikut perbedaan anak yang terampil dalam menunda kepuasan/delay gratification dan anak yang kurang:

Pertamatelaten

Anak yang terampil dalam menunda kepuasan akan menyelesaikan tugasnya dengan baik dan telaten. Ia akan berusaha dengan terampil untuk mendapatkan hasil yang memuaskan. Berbeda dengan kurang terampil, mereka cenderung mudah menyerah saat mengerjakan tugas yang tak kunjung selesai.

Keduabertanggung jawab

Beberapa anak cenderung sulit melaksanakan tugas yang menjadi tanggung jawabnya bahkan tugas baru, misalnya piket kelas. Namun anak yang mempunyai keterampilan menunda kepuasan yang baik walaupun tidak ingin melakukannya, tetapi mengerti bahwa tugas yang harus dikerjakan, ia akan mengerjakan apa yang sudah menjadi tanggung jawabnya. Sedangkan anak yang kurang terampil cenderung akan mengerjakan hal disukainya saja dan tidak begitu memahami apa yang menjadi tanggung jawabnya.

Ketigasabar

Anak lebih memahami arti menunggu dengan kesabaran. Sehingga saat anak mempunyai keiginan ia paham ada sebuah proses untuk mendapatkannya. Sehingga saat bunda mengatakan ”nanti lagi” atau ”sebentar dulu”, anak dapat mencernanya dengan baik. Sedangkan yang kurang terampil akan rewel bahkan tantrum saat keinginannya tidak dipenuhi.

Keempatmampu memahami situasi

Misalnya dalam kondisi anak harus mengantre untuk giliran hafalan juz ’amma. Anak-anak yang mempunyai keterampilan menunda kepuasan akan memahami bahwa ia harus mengantri untuk menunggu gilirannya. Bahkan anak mampu memanfaatkan waktunya dengan baik untuk mempelajari hafalannya sebelum maju. Sedangkan anak yang kurang terampil cenderung akan sulit untuk memahami situasi ini. Meskipun sudah dijelaskan secara baik, anak cenderung tidak mendengarkannya, bahkan bisa jadi akan tantrum.

Keterampilan menunda kepuasan memang terasa sulit bagi si kecil. Namun kebaikan yang didapat dari skill ini dapat membuahkan hasil yang luar biasa bagi si kecil. Kemampuan ini menghasilkan pengaruh positif terhadap performa akademis dan social skill mereka. (Munasiroh – Relawan Pustaka Wadas Kelir. Foto: Fuji Rachman)

Berbagi Cerita: SELESAI SHOLAT SUBUH, KAMI BEKERJA BAKTI!

Saya sudah beberapa tahun selalu berusaha: setiap pagi bersih-bersih (menyapu) halaman rumah dan jalan di lingkungan sekitar saya. Pada bulan Ramadhan kali ini pun, saya bertekad untuk tidak menghilangkan kebiasaan ini. Saya berusaha untuk tetap menjaga dan mempertahankan kegiatan bersih-bersih setiap pagi.

Pulang sholat Subuh dengan anak-anak, saya tetap menyalakan lampu-lampu di rumah. Saya bersepakat dengan Istri untuk tidak tidur selepas Subuh. Istri langsung mengerjakan aktivitas di dapur, sedangkan saya langsung menyapu dan mengepel halaman rumah dengan suara musik yang bergema dari mobil. Saya yakin anak-anak akan merasa terganggu. Bukan hanya terganggu dengan musik, tetapi terganggu dengan keadaan dan aktivitas yang sudah kami desain penuh aktivitas.

 

Dalam keadaan malas-malasan, Zakka dan Nera mendekati saya. “Aku mau ikut ngepel, Yah!” seru Zakka. Saya langsung menyambut dengan senyum bahagia. Segera saya berikan Zakka sapu. Zakka langsung beraksi menyapu dengan saya. Istri saya tersenyum senang penuh kemenangan seperti bulan Ramadhan dalam iklan televisi.

Kemudian Nera ikut ambil bagian juga. “Aku mau semprot dan bersihkan kaca!” seru Nera. Istri saya segera memberi pembersih kaca dengan lapnya. Nera pun asyik mengelap kaca. Kemudian datang Mafi, “Ayah, pembersih kusinya ada?” Saya segera menunjukkan pembersih kursi (furniture) dengan lapnya. Mafi pun segera bekerja mengelap kursi-kursi rumah. Sedangkan Keila ikut bersama Ibunya di dapur membersihkan piring.

Pagi itu, saat masih sagat sepi, mungkin karena tetangga-tetangga saya masih pada istirahat, rumah kami sudah ramai. Kami bahu membahu dalam membersihkan halaman rumah, sampai kemudian jalan-jalan di area rumah saya. Kami sangat senang. Kami bahagia. Di situlah saya dan istri merasakan nikmatnya mengkondisikan anak-anak untuk tidak tidur selepas sholat Subuh dalam bulan Ramadhan ini.

 

Di sinilah saya belajar bahwa mengajak anak-anak untuk berbuat dalam kebaikan tidak selamanya harus diperintah dan disuruh. Akan tetapi, lebih efektif dengan dikondisikan dalam bentuk keteladanan. Saat rumah dikondisikan hidup dan ramai, ini akan menyebabkan anak-anak tidak nyaman untuk tidur. Dan saat melihat orang tua mereka sedang bekerja dengan rasa senang, maka anak-anak pun jadi penasaran dan kemudian ikut ambil bagian.

Anak-anak pun akan merasa tidak nyaman untuk tidur dan merasa bersalah jika tidak membantu orang tuanya. Anak-anak pun akan menyatakan dirinya untuk terlibat. Jika sudah demikian, maka orang tua harus menyambutnya dengan suka cita. Harus memberi kesempatan pada anak untuk mencoba, dan sebisa mungkin membuat situasi bekerja bakti itu jadi hal yang menyenangkan. Di sinilah kerja bakti selepas sholat Subuh akan menjadi aktivitas yang menyenangkan.

Saat rumah dan lingkungan sudah bersih, saya mengajak anak-anak berkumpul dan saya berkata, ”Lihatlah, Nak. Pagi ini rumah dan lingkungan sudah sangat bersih. Enak untuk dipandang. Asyik kan?” Anak-anak hanya menganggukkan kepala senang. Saya kemudian mengajak anak-anak untuk pulang ke rumah.

“Ayo, kita mandi!” seru saya. Satu per satu anak-anak mandi. Apakah kemudian mereka tidur? Tidak. Tubuh mereka sedang bekerja dengan baik, jadi tidak nyaman untuk beristirahat. Anak-anak pun melanjutkan kegiatannya dengan bermain. Saya senang sebelum kemudian meninggalkannya ke kantor untuk bekerja.

Pulang dari kantor, saat jam istirahat, anak-anak baru bangun tidur. Istri saya bercerita, “Tadi anak-anak tidur jam sepuluh. Mereka tidur sangat nyenyak!” Saya tersenyum senang.

“Mas, ayo, sholat Duhur!” bisik saya pada anak-anak. Sekalipun mereka bangun bermalas-malasan, tetapi mereka sholat Duhur juga. Dan melanjutkan kegiatan bermainnya sampai sore hari menjelang berbuka bersama.

Mengajak Anak Bekerja Bakti di Pagi Hari, ciptakan lingkungan yang membuat anak-anak tidak nyaman untuk tidur. Berikan teladan orang tua yang melakukan kerja bakti. Ajak anak-anak dengan baik untuk terlibat. Jika sudah terlibat dalam kegiatan kerja bakti, ciptakan kegiatan kerja bakti yang menyenangkan. Maka, bulan puasa pun kita dan anak-anak bisa berbuat baik melalui kerja bakti di pagi hari.

(Heru Kurniawan, Founder Rumah Kreatif Wadas Kelir)

MENULIS ALA WADAS KELIR DENGAN 5 R

Ada yang bertanya kepada saya, “Relawan Wadas Kelir itu bisa menulis produktif pakainya teknik apa?”

Saya sangat senang sekali mendapat pertanyaan ini. Saya pun menjelaskan dengan sederhana, “Kami mengembangkan menulis dengan model 5 R.”

“Apa saja 5 R itu?”

Baiklah, akan saya terangkan sebentar. 5 R adalah teknik menulis yang berpedoman pada lima langkah atau tahapan penting.

READ
Sebelum menulis, kami mengkondisikan untuk membaca sebanyak mungkin. Dari membaca kami mendapatkan ide dan gagasan. Jika ide sudah ada, ide itu kami dalami pula dengan membaca.

Misalnya, kami akan menulis dongeng tentang “Rumah” maka kami akan menelusuri bacaan-bacaan yang terkait dengan rumah, sehingga yang kami tulis adalah buah konsep yang matang.

RESEARCH
Setelah mendapatkan ide yang dikayakan dengan hasil telusur bacaan, selanjutnya kami akan meriset sederhana untuk mendalami materi menulis.

Misalnya, setelah membaca soal “Rumah” sebagai bahan ide untuk menulis, kami mencoba untuk mengamati rumah yang sebenarnya atau bertanya pada orang-orang soal rumah. Data ini akan memperkaya tulisan.

REFLECTION
Dari hasil bacaan dan riset inilah, kami kemudian memikirkan atau merenungkan untuk mendapatkan sesuatu yang berbeda, unik, dan khas untuk ditulis. Inilah yang kami sebut menulis hasil refleksi antara pengetahuan dan pengalaman.

W[R]ITING
Setelah bahan bacaan, riset, dan refleksi sudah lengkap, kami kemudian menuliskannya satu per satu gagasan dan ide kami menjadi tulisan yang kami harapkan.

Proses penulisan ini kami lakukan secara kolaboratif, yang mengerjakan secara bersama-sama untuk hasil yang terbaik.

 

REVIEW
Jika tulisan sudah kami tulis, kami selanjutnya membaca untuk melakukan editing dan revisi secara detil sehingga tulisan yang kami hasilkan adalah tulisan yang matang baik secara isi, materi, maupun bahasa.

(Heru Kurniawan, Dosen Institut Agama Islam Negeri Purwokerto dan Founder Rumah Kreatif Wadas Kelir Purwokerto)

Berbagi Inspirasi: MEMBANGUN SISTEM MELALUI KARTU KINERJA LITERASI

Awalnya sederhana saja, saya ingin bisa tahu, mengkontrol, mengembangkan, dan mengevaluasi kegiatan Literasi di Wadas Kelir. Caranya bagaimana, ya?

Entah, dari mana datangnya, saat saya sedang lari pagi-pagi, saya mendapatkan ide: KARTU KINERJA LITERASI.

Wah, lumayan juga, bisa dicoba.

Selepas kerja bakti, saya mengumpulkan relawan untuk menyampaikan gagasan ini. Ternyata ide ini disambut baik oleh relawan. Kartu ini akan menjadi alat untuk memantau kegiatan literasi untuk: anak-anak, relawan, remaja, sampai bunda-bunda PAUD.

Kartu ini berisi dua hal penting: MEMBACA dan MENULIS. Setiap minggu relawan harus mencatat buku atau bacaan apapun yang telah dibacanya secara rutin.

Standar penilaiain setiap minggunya kita buat: nilai A jika membaca 5-7 kali; nilai B jika membaca 3-4 kali; nilai C jika membaca 1-2 kali; sedangkan D jika seminggu tidak membaca sama sekali.

Sedangkan pada kartu MENULIS, setiap minggu harus menulis dengan standar penilaian. Nilai A jika satu minggu menulis 5 dan lebih judul tulisan; nilai B menulis 3-4 judul tulisan; nilai C 1-2 judul tulisan; dan nilai D jika setiap minggu tidak pernah menulis sama sekali.

Setiap Minggu saya akan mengumpulkan KARTU KINERJA LITERASI ini kemudian mengeceknya satu persatu.Semoga dengan cara ini, kegiatan Literasi Wadas Kelir benar-benar menjadi ruh yang sesungguhnya.

Semoga Menginspirasi!

Heru Kurniawan (Dosen Institut Agama Islam Negeri Purwokerto dan Founder Rumah Kreatif Wadas Kelir).