KEMITRAAN DENGAN TOKO GRAMEDIA PURWOKERTO: MENDONGENG INTERAKTIF DI DEPO PELITA BANJARNEGARA

Sudah dua kali Rumah Kreatif Wadas Kelir (RKWK) bekerja sama dengan Toko Buku Gramedia Purwokerto dalam mengisi kegiatan pameran buku murah.

Kerja sama pertama saat pameran buku di Stasiun Kereta Api Purwokerto, yang saat itu, kami Tim Rumah Kreatif Wadas Kelir mengisi acara mendongeng, sulap, dan game-game interaktif yang menyenangkan bersama pendongeng hebat Alfian Fendi Priyaji dan Ika Nurhanifah.

Keduanya mampu membuat anak-anak, tim toko buku gramedia dan penonton lainnya tertawa senang penuh bahagia.

Kerja sama kedua terjadi kemarin (09/09) saat pameran buku Toko Buku Gramedia Purwokerto di Depo Pelita Banjarnegara. Saat itu yang tampil memukau membuat semua orang bergembira adalah Kak Alfian Fendi Priyaji dan Kak Diki, remaja Wadas Kelir yang memiliki multi talenta.

Kami sangat senang dengan kerja sama ini karena meneguhkan kemitraan kami dalam bidang literasi dengan Toko Buku Gramedia Purwokerto.

Kerja sama ini akan terus berlanjut karena kami menyadari bahwa komunitas literasi yang bagus adalah komunitas literasi yang mampu membangun jejaring dengan berbagai lembaga. Melalui kemitraan dengan lembaga yang sudah kami rintis sejak tahun 2013, Rumah Kreatif Wadas Kelir terus tumbuh menjadi kemunitas yang maju dan mandiri dengan ditopang kerja sama yang harmonis dengan berbagai lembaga, termasuk Toko Buku Gramedia Purwokerto.

Heru Kurniawan

Founder Rumah Kreatif Wadas Kelir

KINERJA BARU TBM WADAS KELIR YANG SEMAKIN MEMASYARAKAT

“Usul Pak Guru, bagaimana jika pengelolaan TBM Wadas Kelir diubah. Sekarang buka pukul 20.00-22.00 WIB. Dengan basis keanggotaan di group WA. Sehingga semua anggota bisa melihat aktivitas membaca temannya. Proses pinjam meminjam pun bisa dikontrol dengan baik!”

Inilah usul yang disampaikan oleh para pengelola TBM Wadas Kelir. Saya sangat senang dengan gagasan ini. Keren sekali dan simpel. Saya pun sepakat. Dan mulai bulan Juli 2019, pengelolaan TBM Wadas Kelir dilakukan dengan basis group WA.

Selama sebulan pun saya terus memantau perkembangannya. Saya tersenyum senang. Setidaknya, sejak model ini diterapkan, setiap harinya, pengunjung dan peminjam buku-buku TBM Wadas Kelir rata-rata 10 – 30 orang yang berasal dari anak-anak, remaja, relawan, dan masyarakat.

Kerja TBM Wadas Kelir setiap malam dimulai dengan woro-woro kepada anggotanya yang sudah mendaftar dengan seruan seperti ini:

Ting Tong!
TBM Wadas Kelir telah dibuka!

Selamat malam,
Selamat datang untuk pemustaka TBM Wadas Kelir. TBM sudah buka nih, ayoo kunjungi dan pinjam buku, kami siap melayani kebutuhan literasi anda!

TBM Wadas Kelir buka setiap hari Senin-Jumat pukul 20.00-21.30 WIB untuk melayani pengunjung, peminjaman dan pengembalian buku.

Yuk datang, baca dan pinjam.
Penuhi kebutuhan literasi dan tambah wawasan Anda dengan membaca koleksi buku TBM Wadas Kelir!!!

Tim TBM Wadas Kelir

Dari woro-woro ke group WA anggota TBM Wadas Kelir ini, maka satu per satu anak-anak, remaja, relawan, dan masyarakat berdatangan untuk meminjam dan mengembalikan buku secara tertib.

Kemudian setelah prosesnya selesai, Tim TBM Wadas Kelir akan melaporkan hasil rekapan pengunjungnya kepada anggota TBM Wadas Kelir melalui group:

LAPORAN TBM WADAS. KELIR
Jumat, 02 Agustus 2019

Pengunjung: 20
Peminjam: 11
Buku yang dipinjam: 16

Total buku yang dipinjam /1 juli: 270 buku

Mendapat laopran seperti ini saya sangat senang. Saya sangat bangga. Kerja relawan TBM Wadas Kelir tanpa embel-embel apapun tetap tak menyurutkan semangat untuk terus memberikan pelayanan literasi terbaik pada masyarakat. Enam tahun sudah mengelola TBM Wadas Kelir tanpa henti.

Terima kasih kepada relawan Tim TBM Wadas Kelir: Risdianto Hermawan, Titi Anisatul Laely, Ufa, Nur Hafidz, Wafa Aering, dan sebagainya.

Semoga bermanfat dan menginspirasi untuk para pegiat literasi.

Heru Kurniawan
Founder Rumah Kreatif Wadas Kelir

*JUMAT WAKTUNYA MENGINGAT*

_Jum’at, 26 Juli 2019_

“Siapa yang berangkat tepat waktu?”

🌟
Kata Andalan dan selalu jadi penantian anak-anak yang datang lebih awal.
Dari sana mereka mendapatkan bintang tambahan.

Tak sengaja kami memakai baju hijau. Baju kebanggaan bagi kami yang pernah ikut kemah literasi. Kami memutuskan untuk berfoto bersama sebelum memulai permainan.

Ada satu kalimat clue hari ini
_”Perhatikan ucapan teman kalian!”_

Kalimat ini menjadi ide dalam permainan kali ini.

Seperti biasanya kami memulai dengan 15 menit membaca buku. Anak-anak langsung lari ke gerobak dan mengambil buku yang ingin dibacanya.


_10 menit kemudian_
“Sudah selesai membacanya?”
tanya saya.

“Sudaaaaah!” Teriak Zakka.
“Beluuuuuuum!” Teriak Nera yang terlihat konsetrasi membaca.

Sebagian yang lain ada yang sudah dan ada yang sedang sibuk menyalin karya yang dibuatnya di rumah.

Waktu selesai.
_Permainan Pertama,_
Kami mulai dengan menceritakan isi buku yang telah dibacanya.
Mereka memperhatikan temannya bercerita, namun beberapa masih ada yang sibuk bermain sendiri (Saya biarkan tanpa menegurnya).

“Siapa yang tahu tokoh yang ada dalam buku yang dibaca Malva?”

“Saya!”
“Saya!”
“Saya, Kak!”
Teriak beberapa anak.

“Kumbi, Bimo, Osyi, Tupi dan Ayi” seru Meli.

“Betul!”

Anak-anak yang memperhatikan temannya bercerita dan menjawab pertanyaan terkait cerita, mereka mendapatkan bintang 1 dari setiap jawabannya.

_Permainan kedua,_
Kami menggambar bangun datar dan membuat rumah dari bangun datar yang telah dibuat. Mereka menggambar dan menjelaskan dengan sangat filosofis.

_Permainan ketiga,_
Memilih satu ruang favorit yang ada di rumah. Mereka menceritakan satu ruangan yang menjadi ruangan yang paling disukai. Mulai dari kapan mereka selalu ada di ruangan itu, dengan siapa, untuk apa dan melakukan apa saja.

Mereka menceritakannya di dalam buku. Dan kami kembali memainkannya dengan cerita di depan teman-temannya.

Saya lihat jam di handphone. Sudah pukul 17.30 saatnya anak-anak pulang. Kak Risdi membacakan bintang dan…….

Juara hari ini
1. Malva
2. Bintang
3. Zakia

👏👏👏👏
Selamat pada semua juara hari ini.

Setelah berdoa ada sebuah percakapan penyesalan dari salah satu anak.

“Kamu si tadi ngajakin mainan! Jadi nggak tahu ceritanya”
“Kamu tadi yang gangguin duluan”

Dari sini saya memahami. Seorang anak tak perlu diberikan alasan dan sebuah teguran. Mereka akan tahu kesalahan mereka saat mereka tidak mendapatkan yang mereka inginkan.

Ayah-bunda, dari sini saya hanya ingin memberikan pemahaman pada anak bahwa…

_Ada banyak cara untuk mendapatkan sesuatu, salah satunya dengan memahami sebuah aturan permainan. Seperti hari ini, saat kita mau menjadi seorang pemenang kita harus banyak mau mendengarkan dan memperhatikan setiap perkataan teman._

Happy today.
Sampai jumpa Besok.

Jangan lupa Ayah-Bunda, tanyakan pada anak bermain apa di SEKOLAH LITERASI Hari ini.

Salam literasi

_Ka Anis_
_Pengajar Sekolah Literasi Wadas Kelir_

MENULIS KISAH INSPIRATIF

Setiap hari dan setiap peristiwa tidak akan lebas dari kegiatan. Saat kita melakukan berbagai kegiatan, maka kegiatan-kegiatan itu adalah bahan tulisan yang empuk untuk ditulis. Salah satu bentuk tulisan yang banyak disukai adalah menuliskan kegiatan-kegiatan sehari-hari kita menjadi kisah inspirasi.

Apa itu kisah inspirasi?

Sebuah kisah sederhana tentang kehidupan atau kegiatan sehari-hari yang ditulis secara naratif-faktual dengan mengeksplorasi rasa dan nilai sehingga menimbulkan dampak emosi dan motivasi-inspirasi bagi pembacanya.

Bagaimana karakteristik dan tekniknya?

Pertama, menulis kisah inspirasi adalah menulis peristiwa. Semua peristiwa bisa ditulis, tidak hanya peristwa yang kita alam saja, tetapi juga peristiwa orang lain. Akan tetapi, karena ini akan fokus pada kegiatan, maka peristiwa yang akan ditulis adalah peristiwa yang dialami oleh kita secara langsung.

Peristiwanya apa saja? Mulai dari mandi, makan, membeli makanan, jalan-jalan, dan sebagainya. Semuanya adalah peristiwa-peristiwa yang bisa diceritakan dan dieksplorasi menjadi kisah inspirasi yang menarik.

Kedua, dalam menarasikan peristiwa, kita harus berpedoman pada elaborasi rasa. Menulis kisah inspirasi bukan menulis rangkaian kegiatan, peristiwa, dan kejadian secara berkelanjutan. Menuliskan kisah inspirasi adalah menulis peristiwa dengan mengahdirkan rasa. Rasa inilah yang akan membuat suka dan merasakan lebih dalam atas peristiwa tersebut.

Misalnya, “Pagi hari aku mandi. Air sangat dingin. Aku kedinginan dan menggigil.”Dalam konteks dieksplorasi rasa-nya bisa menjadi: “Suara kokok ayam membangunkanku. Hari masih sangan dingin. Aku malas bangun, tapi jadwal kegiatan pagi ini sangat dini. Ahh! Aku pun bangun bergegas ke kamar mandi dengan langkah malas. Kucoba rasakan dinginnya air di bak mandi dengan jariku. Hmmmm! Dinginnya sampai ke hati. “Aku mandi tidak, ya?” kataku dalam hati. Ya, apapun adanya aku harus mandi. Aku ambil air dan siramkan ke kakiku. Aku tersenyum menahan geli yang sangat dingin…”

Melalui menghadirkan peristiwa yang “berasa” inilah kisah-kisah ispirasi bisa hidup dan dinikmati pembacanya dengan senang. Namun, rasa yang dihadirkan jangan terlalu berlebihan sehingga tidak mengurangi peristiwa dan tidak jadi lebay!

Ketiga, mengeksplorasi nilai. Kisah inspirasi buka cerita yang mengolah rasa dengan sedemikian rupa menjadi bahan imajinasi yang kompleks sehingga menghilangkan faktanya. Kisah ispirasi adalah peristiwa berasa yang dieksplorasi nilainya. Untuk itu, kehadiran nilai sangat penting karena yang menjadi titik tekan motivas dan inspirasi adalah pada nilai adalah keberhasilan menghadirkan nilai.

Nilai ini terkait dengan pelajaran penting yang ada dalam kisah. Pelajaran yang sederhana tentang pentingnya kebaikan, semangat, dan motivasi yang merupakan wujud atas refleksi penulis terhadap peristiwa yang dialaminya.

Dari sinilah, setelah pembaca membaca kisah inspiratif tidak hanya rasa senang yang didapat, tetapi juga nilai secara langsung untuk dirinya yang bisa diambil untuk menginspirasi dan memotivasi hidup pembacanya.

Misalnya: “Pandi pagi ini menginatkan saya pada hal penting yang selalu kuingat, ‘Jangan menyerah! Jangan takut mencoba! Taklukkan!’ Ya, setelah mandi tubuhku menjadi lebih pulih kembali setelah beraktivitas pagi sampai sore. Tubuhku pun menjadi lebih wangi. Saya tidak malu saat mendadak ditunjuk maju ke depan kelas. Aku lebih siap dan percaya diri. Aku bayangkan jika pagi tadi aku tak mandi, maka keadaan psikologiku tidak seberani ini. Terima kasih mandi pagi yang menggigil!”

Dengan kombinasi ketiga hal: peristiwa-rasa-nilai maka sebuah peristiwa bisa menjadi kisah-kisah inspiratif sederhana yang menyenangkan dan menebarkan inspirasi dan motivasi pada pembacanya.

(melalui materi ini setiap mahasiswa KKL IAIN Pontianak berhasil menyusun 10 tulisan untuk kemudian akan dibukukan)

HERU KURNIAWAN, Founder Rumah Kreatif Wadas Kelir

MATERI SEKOLAH LITERASI #1 : INFERENSIASI INFORMASI

Anak-anak diminta untuk membaca 2-5 halaman dalam buku atau membaca satu cerita

Kemudian anak-anak diminta untuk menyimpulkan informasi atas teks yang telah dibaca?

Misalnya:

Ayu menyimpulkan informasi tentang teknologi kamera

Aisah menyimpulkan informasi tentang kuliner

Wiwi menyimpulkan informasi tentag hadia ulang tahun

Semua anak kemudian diminta untuk menyebutkan informasi yang telah ditemukan satu per satu secara bergantian.

Setelah selesai, satu per satu, anak-anak diminta untuk menuliskan informasi dari setiap teman-temanya. Ini dilakukan dalam rangka bermain melatih daya ingat anak-anak.

Ada yang lupa dan ada yang ingat, dan yang bisa menyebutkan paling banyak informasi teman-temannya dengan tepat maka dialah pemenangnya.

Setelah itu, dari semua informasi yag terkumpulkan, anak-anak digabungkan menjadi satu, dan anak-anak menyusun informasi itu menjadi satu karangan baik deskripsi maupun narasi.

Misalnya yang deskripsi:

Kemajuan teknologi kamera saat ini membuat kita bisa semakin mudah mengabadikan hobi kita. Salah satunya, bagi yang memiliki hobi kuliner, maka kegiatan kulinernya bisa terdokumentasikan dengan bagus melalui kamera. Kamera bisa digunakan untuk merekam foto dan video kegiatan kuliner kita. Foto-foto dan video kuliner yang bagus dan menarik bisa dijadikan sebagai dokumentasi spesial yang bisa kita kenang dan nikmati saat sedang berulang tahun.

Misalnya yang Narasi:

Aku baru saja dibelikan kamera baru oleh Ayah. Ayah bilang ing kamera terbaik saat ini. Aku heran apa baiknya kamera ini buatku. Kamera itu pun selalu tergeletak di meja kamarku. Aku tidak pernah menggunakannya. Aku lebih suka memilih pergi jauh untuk menikmati hobi kulinerku dengan tanpa kamera. Anehnya lagi, saat ulang tahunku tiba, Ibu kembali memberikan hadiah kamera yang lebih canggih lagi. Aku pun heran sebenarnya apa maksud Ayah dan Ibuku memberikan kamer

HAsil menulis anak-anak kemudian dibacakan secara bergantian. Waow, hasilnya menakjubkan, anak anak bisa membuat tulisan darin inferensi informasi dengan mudah dan menarik.

Silahkan dicoba!

Heru Kurniawan

Founder Rumah Kreatif Wadas Kelir

Catatan Wisata Literasi Wadas Kelir #1 PENTAS SENI ALA RUMAH KREATIF WADAS KELIR PURWOKERTO

Pentas seni adalah pertunjukan yang melibatkan beberapa aksi individu atau kelompok dan berisikan empat unsur: waktu, ruang, tubuh seniman, dan hubungan seniman dengan penonton. Begitu sepertinya makna dari kedua kata tersebut jika dipersempit. Lalu bagaimana dengan pentas seni yang melibatkan bu Kanjeng dan komunitasnya?


Pentas seni bersama keluarga Rumah kreatif Wadas Kelir dalam rangka Wisata Literasi yang digelar dari tanggal 29 Juni-1 JULI 2019 jadi momen merefersh diri para peserta yang dikemas seronok oleh para pasukan RKWK (Rumah Kreatif Wadas Kelir) Alhamdulillah bu Kanjeng menikmati sekaligus jadi pelaku di acara tersebut. “Loh koq bisa?”
Acara yang dimulai pukul 20. 00 usai sholat isya dan dinner nasi kotak. Pentas ini sudah diseting sejak tadi sore. Dari 24 peserta dijadikan 4 group. Nah tidak group dengan kreativitas masing-masing, wajib tampil menghibur. Bu Kanjeng menyerahkan sepenuhnya kepada yang yunior dan yakin bisa jadi tim doa dan full aktif sesuai dengan setingan yang dibuat.


Keterbatasan waktu untuk latihan, ide muncul dikoordinasikan lewat group kecil. “Terimakasih Om WAG, sudah jadi solusi tuk komunikasi dan latihan, ” guman Bu Kanjeng.
Jelang pentas seni dadakan ide terlihat riuhnya suasana malam itu di hall hotel tempat mereka menginap. Bu Kanjeng dibuat terpesona dengan kreativitas komunitas RKWK itu.
Acara yang diawali dengan menyanyikan Indonesia Raya 3 stanza itu, membuat mereka bangga hidup di Indonesia. Indonesia yang kaya raya dan mulia. Setelah itu ada pengambilan nomer undian tampil dari 4 group yang sudah siap. Bu Kanjeng masuk kelompok 1 tapi giliran tampil pada urutan 2. Menampilkan Balad KTP ketlisut yang dikemas dengan lagu, gerak dan drama.


Layaknya sebuah pentas seni yang sangat menghibur, ada yel-yel, puisi, lagu dan drama, sampai ke joged dan goyang senam bersama. Disitu bu Kanjeng menyadari pilihan untuk mengisi liburannya yang dirancang 6 bulan lalu tidak sia-sia. Semua atas Izin Allah dan pak Kanjeng. Ada nikmat sehat dan sempat untuk bergabung di acara Wisata Literasi. Sangat cocok dengan temanya “Menjalin Silahturahmi dengan Literasi.
Bu Kanjeng dapat ilmu, dapat saudara, dapat kepuasan batin yang tak tergambarkan. Bisa berbagi dan dipertemukan dengan orang-orang hebat yang punya potensi luar biasa tapi tidak sombong dan siap berbagi. Menjadi bagian dari komunitas yang punya passion sama di bidang literasi ternyata amat sangat membahagiakan.
Kembali ke pentas seni. Keluarga RKWK mempersembahkan lagu yang menceritakan keberadaan dan harapannya. Ada juga tampilan pantomim dan sulap. Putra pak Guru Heru ngga mau kalah, mereka mencuri perhatian bu Kanjeng. Anak-anak itu sudah berani tampil tidak demam panggung. Pemenang lomba dongeng tingkat nasional pun ikut menghibur dan membuat kami bernyanyi, menari dan tertawa bersama. Puncak acara ketika mereka joged bareng diiringi video dan musik berjudul Kewer-kewer. Benar-benar menyegarkan.


Ya RKWK gudangnya mahasiswa kreatif yang rela jadi relawati/wan mengabdi dan mengasah diri di universitas kehidupan sebagai bekal mereka menjadi orang yang sukses dunia akherat.
Seluruh peserta pentas seni malam ini merasa sangat terhibur dan hanyut dalam kegembiraan yang diciptakan bersama. Jadi bu Kanjeng teringat dengan pertanyaan pak guru Heru, ” Bunda semua bahagia ya? Kalau tidak bahagia, saya yang berdosa”.
Begitulah pak Guru Heru pendiri RKWK dengan tutur bahasa yang tulus menyejukkan hati peserta wisata literasi perdana yang digagas akhir tahun 2018. Berharap tahun depan diadakan lagi dan ada produk juga progres untuk pesertanya. Aamiin YRA.
Sri Sugiastuti
Pserta Wisata Literasi Wadas Kelir #1 dan Pegiat Literasi yang Selalu Ingin Berbagi

SAAT BERPISAH DENGAN MASYARAKAT WADAS KELIR

–Setiap orang punya ruang hidupnya masing-masing, dan setiap ruang hidup, pasti membutuhkan tangguung jawab untuk menjalaninya dengan sebaik mungkin–

Ini salah satu filosofi yang saya yakini. Hidup akan selalu berpindah dari satu ruang ke ruang lainnya. Dan dalan ruang tempat hidup kita, selalu ada tanggung jawab besar yang harus dijalani.

Wadas Kelir adalah salah satu ruang hidup kami. Di Wadas Kelir kami berlatih dan belajar untuk bertanggung jawab dengan sebaik mungkin. Bertanggung jawab pada diri kami sendiri dan bertanggung jawab pada orang di sekeliling kami. Kesadaran pada tanggung jawab inilah kami kemudian berbuat dan bergerak sebaik mungkin.

Dan sebenarnya, dalam ruag itu ada waktu. Waktu yang akan membuat kita dewasa, sekaligus akan memisahkan kita.

Dan saat menjelang puncak bulan puasa ini, kami harus segera meninggalkan ruang Wadas Kelir untuk masuk ke ruang keluarga yang sudah kami tinggalkan selama setahun. Ramadhan adalah saat kami harus pulang untuk masuk dalam ruang keluarga.

Maka pada Kamis (30/05) kami relawan dan saya sekeluarga berpamitan pada Warga Wadas Kelir untuk pulang ke ruang keluarga kami selama beberapa hari. Tentu saja, warga Wadas Kelir menyadari hal ini. Masyarakat pun melepas kami dalam perpisahan sederhana yang penuh dengan doa-doa keikhlasan yang kami rasakan lembutnya.

Terima kasih relawan, remaja, anak-anak, dan masyarakat Wadas Kelir. Ini saatnya kami pergi untuk masuk dalam ruang keluarga kami yang hangat. Tempat kami mendapatkan banyak energi. Energi utama untuk melangkah esok hari yang lebih baik lagi.

Selamat lebaran. Selamat dalam kasih sayang di ruang keluarga. Semoga esok saat bertemu kita akan lebih baik lagi dalam bertanggung jawab atas kehidupan kita masing-masing.

(Heru Kurniawan, Founder Rumah Kreatif Wadas Kelir)

KULIAH PENDEK SAYA SAAT BUKA BERSAMA KELUARGA RUMAH KREATIF WADAS KELIR

Dongeng Aladin yang sekarang sedang ramai difilmkan memberikan pelajaran penting tentang kehidupan yang memerangkap.

Setidaknya, Aladin terperangkap dalam dua kedupan yang sangat tidak diinginkannya.

Pertama, Aladin terperangkap dalam kehidupannya yang miskin, yang membuatnya menjadi seorang pencopet. Namun, dalam kemiskinan dan perbuatan copetnya, Aladin terus berbat baik pada orang lain.

Aladin membagikan hasil copetannya pada orang lain yang membutuhkan dan itu membuat Aladin sangat senang dan bahagia.

Kedua, Aladin, karena perbuatannya, tertangkap orang tidak baik dan dimasukan dalam gua untuk mengambil teko kecil ajaib.

Di dalam gua Aladin tentu saja putus asa karena merasa akan mati sebab tidak ada jalan keluar, sekalipun di gua banyak emas.

Namun, dalam keadaan putus asa, Aladin berbuat baik dengan menyelamatkan Karpet yang tertindih batu dan bekerja keras mengambil teko ajaib sekalipun nyawa taruhannya.

Karena kebaikan-kebaikan Aladin saat dalam terperangkan inilah, Aladin jadi disukai JIN dan KARPET AJAIB. Melalui keduanya Aladin bisa mendapatkan mimpinya untuk menjadi pemuda terhormat.

Aladin mendapatkan cinta dan kerajaan sekalipun bukan dari keturunan bangsawan.

Dari sinilah, kita (relawan, remaja, dan anak-anak) Wadas Kelir memiliki nasib yang serupa sama dengan Aladin. Kita terperangkap di Wadas Kelir yang membuat hidup kita: kekurangan waktu, tidak bisa bebas, banyak masalah, kehilangan waktu buat sendiri, dan dipaksa untuk berkorban.

Dalam keadaan demikian, yakinlah, kita harus sabar dengan terus berbuat baik pada orang lain seperti Aladin. Karena saya meyakini bahwa kebaikan yang kita berikan pada orang lain akan menyelematkan hidup kita.

Akan membuat kita memiliki masa depan yang bagus. Entahlah, saya meyakini ini. Dan semoga keyakinan saya tidak keliru.

Di sinilah letak perjuangan kita sebenarnya menjadi pegiat literasi yang mencoba terus berbuat baik dalam perangkap hidup yang bisa jadi tidak menyenangkan bahkan mnderitakan kita semua.

(Heru Kurniawan, Pengajar di Institut Agama Islam Negeri Purwokerto dan Founder Rumah Kreatif Wadas Kelir Purwokerto)

Berbagi Inspirasi Ramadhan: MEMBANGUNKAN ANAK-ANAK SAHUR

Salah satu tantangan terberat saya dan Istri dalam mengkondisikan anak-anak berpuasa adalah: membangunkan anak-anak saat sholat.

Zakka dan Nera sangat senang bermain. Selepas sholat Tarawih, saat keduanya baru pulang ke rumah, dapat dipastikan pasti asyik bermain sampai larut malam. Nera dan Zakka pun tidur larut malam. Hasilnya saat dibangunkan sangat susah. Selalu saja ada hal yang membuatnya malas.

“Sudah sahur, Zakka!” Istri membangunkan Zakka. Zakka hanya berubah posisi tidur saja. “Bangun, Zakka!” Istri tidak putus asa. Zakka tidak putus asa pula untuk terus berganti posisi tidur. Istri mulai putus asa.

“Coba Ayah yang bangunkan!” ungkap Istri. Saya pun berbisik pada Istri, ”Saya punya cara yang bisa buat Zakka langsung bangun. Tapi ini harus jadi senjata terakhir. Jangan sering digunakan jika tidak mendesak sekali.”

Istri jadi sangat penasaran. Sebelum menyampaikannya ke Istri, saya meminta maaf dalam hati. Dan semoga ini tidak mengganggu perkembangan postif Zakka ke depannya.

“Bagaimana caranya, Ayah!” Istri sudah sangat penasaran.

Saya pun segera melangkah menemui Zakka yang sedang tidur. Saya memberikan contoh cara membangunkan Zakka, yang sebenarnya kurang baik, tetapi terpaksa harus dilakukan.

Saya berbisik pada Zakka, “Zakka, ayo, bangun. Mamas Nera sudah bangun. Masak Zakka belum bangun!’

 

Beberapa saat kemudian Zakka berteriak, “Aku masih ngantuk!” Zakka kemudian bangun dan marah. Dia kemudian menangis. Saya langsung berkata, “Eh, jangan menagis. Ayo, segera sahur bersam Mas Nera!”

Zakka pun melangkah dan duduk di ruang makan dengan wajah dilipat-lipat. Saya melihat wajah lega pada Istri. Kami kemudian makan sahur bersama sampai terdengar Imsyak.

Pertanyaannya pasti, kenapa Zakka langsung bangun saat dibisikan,”Bangun, Zakka. Mamas Nera juga sudah bangun!” Sebabnya adalah, dalam setiap diri Kakak dan Adik selalu ada rivalitas dan kompetisi yang terpendam. Dalam keadaan darurat, ini bisa dimanfaatkan, tetapi jangan sering dimanfaatkan sebab bisa memberikan dampak yang kurak baik bagi anak.

Setiap Adik pasti memiliki keinginan bisa seperti Kakaknya. Bahkan, ingin bisa mengalahkan Kakaknya. Tidak terkecuali Zakka yang ingin seperti Kakaknya yang puasa dan sudah bangun untuk bersahur. Dalam menghadapi dorongan ini, Zakka begitu keras berusaha sehingga sering tidak menghiraukan keadaannya.

Tidak heran jika setiap Sahur, setelah dibangunkan dengan menyebut nama Kakaknya yang sudah bangun dan mau Sahur, maka Zakka bangun dalam keadaan marah. Bangun karena ingin bisa seperti Kakaknya, dan marah karena sebenarnya tubuhnya ingin tidur, tapi hasratnya ingin Sahur seperti kakaknya. Dari sinilah, Zakka mengalami dilema keinginan dengan keadaan. Kedua hal inilah yang membuatnya marah dan menangis setiap Sahur.

Dalam menyikapi hal ini, saya dan Istri tenang dan menenangkan. Saat Zakka marah dan menagis karena dibangunkan untuk Sahur, maka saya hanya mengatakan, “Jangan menangis, Zakka Sahur biar bisa puasa seperti Mamas Nera!” Sedangkan Ibunya dengan telaten melayani Zakka dengan berbagai permintannya. Dengan cara demikian, maka Zakka kemudian diam dengan sendirinya dan akhirnya menikmati Sahur bersama di rumah.

(Heru Kurniawan, Founder Rumah Kreatif Wadas Kelir)

Berbagi Isnpirasi Ramadhan: HADIAH PUASA

Awal puasa, tepatnya selepas saya dan anak-anak sholat Tarawih, saya berkumpul dengan Zakka dan Nera. Nera bertanya pada saya, “Ayah, Nera mau puasa sampai selesai. Ayah mau memberi hadiah tidak?”

Saya tersentak kaget. Saya malu pada Nera dan Zakka yang tidak peduli dengan apresiasi dan hadiah untuk memotivasi usahanya untuk puasa sampai selesai. Sebelum menjawab pertanyaan Nera, saya bertanya pada Zakka, “Zakka juga mau puasa?”

Zakka menganggukkan kepala, sekalipun puasa hari pertamanya telah dibatalkan dengan minun. Tapi, untuk anak usia lima tahun sudah sangat membanggakan saya sebagai orang tua.

Saya pun menjawab pertanyaan Nera, “Ayah akan belikan mainan kalian setiap lima hari sekali di Toko Mainan dekat Moro dan Pasar Wage.”

Zakka dan Nera langsung melonjak senang. “Yes!” seru Zakka dan Nera serentak. Mereka kemudian ramai-ramai berteriak dan berceloteh tentang mainan-mainan yang akan dibelinya. Saya sangat senang.

“Tapi, ingat! Mainannya yang tidak mahal!” saya mengingatkan. Dengan cepat Nera balik bertanya, “Yang harga berapa, Ayah?” Secepat kilat saya membisiki Zakka dan Nera, “Yang lima belas ribu rupiah, ya?” Nera dan Zaka saling pandang, kemudian berteriak,”Yes!” Saya pun lega.

Setelah kejadian di atas, yang terjadi pada hari Senin (6/05/2018), awal puasa. Dan apa yang terjadi? Saya menyaksikan sendiri Nera dan Zakka benar-benar berusaha menjaga puasanya dengan sebaik dan sekuat mungkin. Setidaknya, sampai hari ini Minggu (12/05/2019), saat saya menulis tulisan ini, Nera (kelas 1 MI) dan Zakka (KB) masih terus bertahan puasa dalam berbagai dinamikanya yang sudah saya tulis di sini.

Dan saya sangat senang dengan keadaan ini: Nera dan Zakka yang terus berusaha untuk berpuasa.

Setelah lima hari, apakah anak-anak lupa dengan hadiahnya? Tentu saja tidak. Malam Sabtu mereka sudah bergembira untuk membeli mainan esok hari. “Asyik, ya, hari ini. Kita akan membeli mainan,” seru Zakka.

“Makanya, kita harus tetap puasa. Jangan batal-batal terus,” kata Nera mengkritik adiknya. Zakka hanya membalas dengan senyum lucunya saja. Zakka sadar dirinya yang paling sering batal puasanya.

Barang kali demikianlah anak-anak, kita harus paham bahwa dalam setiap usaha berbuat baik, maka kita harus memahaminya dengan baik. Salah satunya dengan menstimulasi perbuatan baiknya dengan hadiah. Bukan hadiah sebagai tujuan utama, tetapi hadiah sebagai bentuk apresiasi orang tua pada usaha baik anak-anak dalam berpuasa.

Hadiah ini akan berperan penting dalam mengikat, mengingatkan, menguatkan, dan memotivasi anak-anak untuk terus berbuat baik, yaitu berpuasa terus. Mendapatkan hadiah pun akan menjadi momen menyenangkan bagi anak-anak, tetapi untuk mendapatkan momen mendapatkan hadiah ini, anak-anak harus berusaha untuk bisa puasa dengan baik.

Dari sinilah, hubungan antara hal yang menyenangkan sebagai hak dengan kerja keras dalam berpuasa sebagai kewajiban terbentuk dengan baik. Anak-anak pun akan memahami pola penting dalam hubungan ini, yaitu untuk mendapatkan hal yang menyenangkan harus dilalui dengan usaha keras melalui puasa.

Puasa pun dapat dijadikan sebagai sarana dalm mendidikan anak-anak kita untuk lebih baik lagi ke depanya.

(Heru Kurniawan__Founder Rumah Kreatif Wadas Kelir)