Berbagi Berita: MEMBUKA RAHASIA DAPUR KAMI DALAM MEMPERSIAPKAN KEGIATAN “WISATA LITERASI”

Ketua Panitia Wafa Airin melaporkan keuangan 10 juta sudah masuk rekening. Artinya, 20-an peserta kegiatan Wisata Literasi sudah siap.

Hotel, Acara, Wisata, Makan, hingga Konsumsi sudah dilaporkan siap. Acara pun segera disusun dengan rapi. Ketua Panitia langsung memimpin dan mempresentasikan kegiatan dan job desk setiap relawan.

Semua sudah dalam posisi siap untuk menyambut tamu istimewa dari berbagai kota untuk Wisata Literasi di Wadas Kelir. Setelah rapat koordinasi selesai, saya pun bergabung.

Saya diminta untuk memberikan arahan dan sambutan untuk penguatan motivasi dalam menyelenggarakan kegiatan literasi.

Saya hanya menyampaikan hal sederhana saja, “Niati semuanya untuk memuliakan tamu, membangun keluarga dan persudaraan, maka lakukan semuanya dengan senang dan bahagia!”

Ya, itu saja. Sebab saya sudah sangat yakin dan percaya dengan relawan yang penuh dedikasi. Selama bertahun-tehun semua relawan ditempa dalam kekuatan dan daya tahan yang membuatku bangga.

Inilah dapur pendidikan khas Wadas Kelir. Setiap relawan akan dipaksa praktik langsung memimpin menangani berbagai kegiatan yang menuntuk relawan tampil memimpin dan menyelesaikan persoalan.

Tidak ada teori yang tinggi-tinggi. Yang kami kembangkan praktik, bekerja, dan belajar dari pengalaman untuk mendapatkan pengalaman dan pengetahuan yang selalu menakjubkan.

Heru Kurniawan
Founder Rumah Kreatif Wadas Kelir

SELAMAT PULANG KE THAILAND, SURAIFA!

Ya, Wadas Kelir sekarang punya relawan dari Thailand yang sedang kulian di Institut Agama Islam Negeri Purwokerto, namanya Suraifa.

Saat pertama kali dia bilang ingin bergabung di Wadas Kelir menjadi Relawan, saya langsung bertanya, “Apa alasannya?” Dan denga malu-malu Suraifa menjawab, “Disuruh orang tua untuk mendapatkan banyak pengelaman selama di Indonesia.”

Suraifa pun bergabung dengan pesan saya, “Jika sebulan tidak betah, jangan sungkan untuk kembali ke kos lagi!” Seperti biasanya, Suraifa hanya tersenyum dan menganggukkan kepala.

Selama sebulan saya pantau, dan saya selalu tanyakan, “Kamu betah di sini dengan makan seadanya dan kegiatan yang melelahkan.” Kembali Suraifa menjawab dengan senyum dan bilang, “Betah, Bapak! Saya suka.”

 

 

Sejak itulah, Suraifa menjadi Relawan Wadas Kelir yang setiap hari bekerja, belajar, dan mengabdi. Suraifa sama seperti Relawan lainnya terlibat aktif dalam berbagai kegiatan di Wadas Kelir.

Saya dan teman-teman lain ingin memberikan hal terbaik buat Suraifa. Tujuannya agar kelak saat dia pulang, akan banyak cerita soal Indonesia yang ramah, baik, menyenangkan.

Dan tentu saja akan banyak yang penasaran dan datang ke Indonesia kembali, semoga saja ke Wadas Kelir. Karena saya memahami dalam pundak kami ada amanat nama baik Bangsaku yang harus saya perjuangkan.

Mendekati lebaran ini, Suraifa menyampaikan keinginannya ingin mudik. Tentu saja saya sangat senang. Suraifa akan bertemu dengan keluarganya kembal setelah lama di Indonesia.

Relawan ikut membantu Suraifa menyiapkan segala sesuatunya, dan hari ini Minggu (26/05/2019), Suraifa mudik ke Tanah Kelahirannya. Relawan dan anak-anakku melepas di Stasiun Purwokerto.

Suraifa selamat pulang ke Thailand dan Selamat Lebaran. Ceritakanlah hal yang baik-baik tentang Indonesia dan Wadas Kelir Negeri yang sangat kami cintai.

YANG SERING KAMI LAKUKAN: DUDUK MELINGKAR DAN MENYELESAIKAN PERSOALAN

Apa yang harus dilakukan? Adalah menemukan cara untuk merayakan perbedaan dan mendiskusikan perbedaan tanpa memecah belah komunitas kita.

Hillary Clinton

Sebuah ungkapan yang terkadang sering kita lupakan. Bahwa cara untuk merayakan perbedaan adalah mendiskusikannya dengan senyum hangat. Namun, terkadang kita lupa, yang sering dilakukan bukan mendiskusikannya melainkan mendahulukan ego ketimbang berdiskusi.

Dan di sini kami belajar untuk merayakan perbedaan ego kami menjadi perayaan yang hangat dan penuh makna. Hanya berkumpul, duduk melingkar, saling bercengkrama kemudian merayakan perbedaan dengan memecahkanya melalui kesepakatan mufakat.

Malam ini (10/05/2019), dua puluh lima relawan berkumpul setelah beberapa hari berkumpul bersama keluarga di rumah. Malam ini, relawan Wadas Kelir berdiskusi mengenai kegiatan amaliah Ramadhan. Agenda setiap Ramadhan yang menjadi agenda paling ditunggu-tunggu oleh warga masyarakat Wadas Kelir. Tentu saja, bukan hanya warga masyarakat tetapi untuk kami, Relawan Wadas Kelir.

Selama proses berdiskusi, menyatukan berbagai pendapat diantara ke dua puluh lima Relawan Wadas Kelir tentu berbedaan pendapat itu ada. Saat inilah Relawan Wadas Kelir belajar banyak mengenai toleransi. Hingga akhirnya, dapat menghasilkan satu kesepakatan bersama selama berdiskusi.

Inilah mengapa merayakan perbedaan itu perlu. Sebab, dengan ini, kami akan semakin banyak belajar. Untuk diri pribadi, untuk kelompok, dan untuk masyarakat. Semoga, hasil perayaan perbedaan ini menjadi berkah di bulan yang penuh barokah.

Kesepakatan-kesepakatan yang dihasilkan menjadi kegiatan selama bulan Ramadhan. Hasilnya, mencangkup pembagian jadwal kuliah tujuh menit di empat musholah disekitar Wadas Kelir, tadarus Al-quran setiap ba’da ashar dan setelah terawih, mengajar TPQ di empat musholah, Nurul Hidayah, Baitul Hidayah, As Saadah, dan Al Barokah, dan kegiatan buka bersama warga di Wadas Kelir yang dilaksanakan setiap hari Minggu.

(Umi Khomsiyatun, Relawan Wadas Kelir dan Mahasiswa S-3 Pendidikan Bahasa Indonesia, Universitas Sebelas Maret Surakarta)

BERTAMU INGIN BELAJAR DI WADAS KELIR

Iva, mahasiswa Pendidikan Bahasa dan Sastra Indonesia, Universitas Muhammadiyah Purwokerto menghubungi saya. Dia menyampaikan keinginannya bersama teman-temannya untuk datang dan ingin tahu dengan Rumah Kreatif Wadas Kelir.

Dengan senang hati saya menyambut dengan senang, dan siang itu (05/05/2019), Iva beserta teman-temannya datang. Mereka menyampaikan keinginannya untuk mengajar anak-anak Rumah Kreatif Wadas Kelir. Wah, tentu saja saya sangat senang.

Sebelum kegiatan belajar dimulai, Jumat (10/05/2019), mereka menanyakan soal Rumah Kreatif Wadas Kelir. Saya pun menjelaskan sepintas dengan kebutuhan Iva dan teman-temannya. Mereka sangat antusias, dan tanpa disadari waktu begitu cepat.

Dari penjelasan saya, mereka kemudian menengok beberapa unit yang dikelola oleh Rumah Kreatif Wadas Kelir, mulai dari Gerobak Baca, Taman Bacaan, Toko Buku, dan Sekolah Literasi. Mereka sangat senang dan merasakan iklim di Rumah Kreatif Wadas Kelir yang sejuk dan nyaman.

“Asyik di sini, mbetahin,” kata salah satu temannya.

Dan mereka terpukau dengan kerja-kerja kreatif kami, salah satunya, dalam pengembangan menulis kreatif buku-buku yang dilakukan oleh para relawan.

“Ini hebat sekali, sudah banyak buku-buku yang ditulis para relawan,” seru salah satu dari mereka saat mengunjungi Toko Buku Wadas Kelir.

“Ini sungguh sangat menginspirasi kami!”

 

Kalimat terakhir yang diucapkan salah satu dari mereka sebelum kemudian mereka pergi karena hari sudah mulai sore.

(Heru Kurniawan, Founder Rumah Kreatif Wadas Kelir)

Berita Wadas Kelir: KENANGAN MENDAPATKAN PENGHARGAAN SEBAGAI INSAN PEDULI PENDIDIKAN ANAK DAN MASYARAKAT

Desember (30/2018) saya diminta untuk menerima penghargaan sebagai sosok atau insan peduli pendidikan anak usia dini dan masyarakat oleh Kementrian Pendidikan dan Kebudayaan RI.

Penghargaan yang membuat saya bertanya, “Kok, bisa?” Karena saya menyelenggarakan kegiatan Pendidikan Anak dan Masyarakat awalnya hanya niatan ingin dekat dengan anak-anak, mengajari mereka seni dan membaca, serta membangun keluarga yang cinta dengan ilmu pengetahuan dan pendidikan.

Saya tidak kenal dengan lembaga-lembaga lain. Hanya anak-anak, remaja, dan relawan yang saya kenal untuk selalu bersama dalam mencinta ilmu pengetahuan. Tidak tahuanya, setiap tahun kami mendapat apresiasi dari banyak orang dan lembaga. Dan penguhujung tahun 2018 penghargaan yang kesekian kali datang sebagai Insan Peduli Pendidikan Anak Usia Dini dan Masyarakat.

Dengan ada penghargaan atau pun tidak, sudah jadi niat saya untuk terus maju dan bergerak. Selalau bersama anak-anak, remaja, dan relawan untuk belajar bersama. Membangun mimpi bersama. Dan bekerja keras bersama mewujudkan masa depan kami yang indah.

Ya, semua harus dimulai dari diri kita sendiri jika kita mau berjuang. Semua harus dimulai dari tekad untuk sungguh-sungguh tapi tidak mengeluh. Dari sini kami, Rumah Kreatif Wadas Kelir, terus perlahan-lahan menjadi komunitas literasi yang besar dan mendiri.

(Heru Kurniawan, Dosen Institut Agama Islam Negeri Purwokerto dan Founder Rumah Kreatif Wadas Kelir)

Berbagi Berita: TAMU ISTIMEWA DARI IAIN PONTIANAK, KAMI SANGAT BAHAGIA!

“Tamulah yang membuat kami dikenal dan besar, maka sebisa mungkin kami akan memuliakan tamu!”

Pukul 10.15 WIB (29/04) tamu untuk kampus tercinta saya, IAIN Purwokerto datang. Tamu yang terhormat itu adalah Mas Hamzah, Wakil Dekan I dan Mba Helva, Kaprodi PIAUD IAIN Pontianak. Dua sahabat istimewa ini akan menjalin kerja sama dengan Fakultas Tarbiyah dan Ilmu Keguruan (FTIK) IAIN Purwokerto. Keduanya mewakili FTIK IAIN Pontianak akan melakukan observasi untuk pengembangan program PPL/PKL di FTIK IAIN Purwokerto yang akan ditempatkan di Rumah Kreatif Wadas Kelir.

Tentu saja, saya mewakili teman-teman relawan, warga masyarakat, dan pemerintahan kelurahan mengucapkan terima kasih pada IAIN Purwokerto. Saya tidak menyangka kalau yang kami lakukan dalam membangun dan mengembangkan Rumah Kreatif Wadas Kelir akan mendapatkan apresiasi yang luar biasa ini. Kami akan berusaha melaksanakan amanah ini sebaik mungkin. Selagai yang kami lakukan akan mendatangkan kemanfaatan bagi masyarakat, maka kami akan menerima dan melaksanakannya dengan sungguh-sungguh.

Kedatangan dua sahabat istimewa dari IAIN Pontianak ini kami jemput di Stasiun Purwokerto. Kami segera menuju ke Kampus IAIN Purwokerto. Karena hari libur, kami hanya berkeliling sambil saya sampaikan keistimewaan kampus saya tercinta. Mulai dari kekeluargaan dan kekompakan, prioritas kinerja, sampai akreditasi prodi yang semua prodi baru B dan prodi lama sudah A . Dua sahabat istimewa kagum dan mengapresiasi capaian IAIN Purwokerto. Saya tersenyum senang dan bangga.

Dari kampus IAIN Purwokerto kami melaju ke Rumah Kreatif Wadas Kelir. Dua sahabat dari IAIN Pontianak ingin melihat langsung suasana, tempat belajar, kegiatan, sampai pada tempat penginapan yang akan ditempati 20 mahasiswa FTIK-IAIN Pontianak yang akan PPL/PKL terpadu di IAIN Purwokerto dengan tempat belajar di Rumah Kreatif Wadas Kelir.

 

Sampai di Pusat Belajar Wadas Kelir, dua sahabat tersenyum senang komentarnya adalah pasti mahasiswa FTIK IAIN Pontianak akan kerasan di sini. Udarana sejuk dan pemandangannya indah. Di sini banyak fasilitas lengkap, tempat belajar, kantor, perpustakaan, dan home stay milik masyarakat yang nyaman. Ungkapan yang menyenangkan bagi kami, dan acara dilanjutkan dengan pengambilan foto untuk laporan dan diskusi soal orientasi PPL/PKL IAIN Pontianak ini.

Konsep yang saya tawarkan berdasarkan hasil diskusi dengan Dr. H. Suwito, M.Ag., selaku Dekan FTIK IAIN Purwokerto adalah PPL/PKL berbasis karya dan pengabdian masyarakat. Mahasiswa PPL/PKL FTIK IAIN Pontianak akan diorientasikan untuk melakukan pengabdian mengajar di Madrasah Ibtidaiyah (MI) Dipo 3 Karangklesem, PAUD Wadas Kelir, dan TPQ di sekitar Wadas Kelir. Setelah pengabdian, mahasiswa akan diorganisasi dan dibimbing untuk belajar menulis secara intensif sesuai dengan basis program studinya. Hasilnya setiap mahasiswa selama 20 hari PPL/PKL akan menulis dua buku. Harapan Wakil Dekan I FTIK IAIN Pontianak, semoga kegiatan PPL/PKL ini akan sukses dilaksanakan dan akan ditiru dan diikuti oleh kampus-kampus lain.

[Heru Kurniawan, Pengajar di Institut Agama Islam Negeri Purwokerto dan Founder Rumah Kreatif Wadas Kelir]

Liputan Kegiatan:FINALISASI 20 NASKAH BUKU LITERASI ANAK USIA DINI DAN KELAS AWAL SEKOLAH DASAR

Senin, 01 April 2019

Terima kasih atas kepercayaan Balai Bahasa Jawa Tengah yang telah bekerja sama dengan Rumah Kreatif Wadas Kelir Purwokerto untuk pendampingan menulis 20 buku literasi untuk anak-anak.

Setelah satu bulan mengumpulkan data,meriset, dan menyusun, akhirnya kami telah selesai membuat naskah 20 buku literasi anak-anak.

Dan Minggu (31/032019) kami melakukan finalisasi naskah untuk kemudian akan direview dan masuk ke dapur ilustrasi. Tidak tanggung-tanggung, 8 ilustrator dari Yogyakarta, Surabaya,Malang,Bandung,Purwokerto, dan Sidoarjo sudah mulai mengerjakan ilustrasinya dengan delapan karakter terpilih.

Kami mengerjakan kerja sama ini dengan sangat serius dan penuh bahagia, untuk menyuguhkan hasil buku-buku literasi untuk anak-anak yang berkualitas dan menyenangkan untuk anak-anak.

Semoga menginspirasi!

Pimpinn Rumah Kreatif Wadas Kelir
Heru Kurniawan

KONSISTEN JALANI KERJASAMA DENGAN AISEC, WADAS KELIR KELILING DUNIA LEWAT IMAJINASI!

Dua minggu berturut-turut selama rentang akhir Januari hingga awal Februari lalu, AISEC rutin kunjungi Rumah Kreatif Wadas Kelir. Tim AISEC datang bersama para IP mereka dari berbagai negara, seperti China, Taiwan, Itali, hingga Amerika Serikat. Mereka datang dengan misi bertajuk culture project atau memperkenalkan kebudayaan dari berbagai belahan dunia, khususnya negara masing-masing IP.

Bukan hal yang baru di Rumah Kreatif Wadas Kelir dikunjungi tamu dari berbagai negara di dunia. Sebab, kerjasama serupa sudah berjalan kurang lebih 3 tahun sejak 2017. Rumah Kreatif Wadas Kelir sangat antusias menerima tawaran kerja sama demikian karena mendapat respon positif dari masyarakat di lingkungan sekitar.

Bagi Malva misalnya, bagi siswi kelas V SD ini didatangi orang asing di lingkungan rumahnya adalah sebuah topik yang sangat luar biasa untuk diceritakan pada teman-temannya di sekolah. Nyaris serupa dengan Malva, bagi Meli, bertemu para kakak IP dari bermacam negara membuatnya senang belajar IPS, terutama jika di mata pelajaran tersebut menyebutkan nama-nama negara asal para IP yang pernah ditemuinya, “Waktu itu kan pernah ketemu sama Kak Anastasia Sukhanova dari Rusia. Aku jadi tahu banyak soal Rusia, seneng deh. Bisa cerita sama temen-teman rasanya ngobrol sama orang Rusia,” tuturnya.

Lain halnya dengan Malva dan Meli yang bertemu para IP di program Sekolah Literasi yang suasananya lebih informal dan santai. Bagi Rosi Monika, salah satu warga belajar Paket B Wadas Kelir yang sempat diajar oleh para IP di kelas bahasa Inggris, dirinya merasa semakin tekun dan semangat belajar bahasa Inggris. Ia jadi punya cita-cita jalan-jalan ke seluruh dunia. “Pas pelajaran kemarin ditanyain sama Duan dari China, kalau aku bisa keliling dunia mau ke mana, aku jawab mau pergi keliling dunia kayak mereka. Terus dikasih nasihat suruh belajar bahasa Inggris biar bisa jalan-jalan kayak mereka,” tuturnya dengan raut yang antusias.

Tak hanya masuk ke kelas Sekolah Literasi dan Program Paket Wadas Kelir, para IP juga masuk ke kelas Bimbel Wadas Kelir. Kelas yang didominasi oleh anak-anak usia dini itu riuh ketika Ricardo, salah satu IP yang berasal dari Itali dan berpawakan tinggi semampai masuk ke dalam kelas dan menyanyi lagi berbahasa asing.

“Tinggi banget!” kata seorang anak sambil mendongak ketika pertama kali berkenalan dengan Ricardo.

Anak-anak yang awalnya malu-malu dan takut bicara dengan para IP lama kelamaan justru antusias bertanya dibantu para relawan yang menerjemahkan bahasa keduanya.

“Agenda seperti ini memang rutin ada di Rumah Kreatif Wadas Kelir. Selain tujuannya membuka wawasan luas tentang dunia ke masyarakat di lingkungan Wadas Kelir khususnya, acara-acara serupa juga bertujuan supaya anak-anak dan masyarakat yang belajar di sini termotivasi untuk berani bermimpi yang tinggi. Mereka harus punya mimpi bisa menjelajahi negeri-negeri, yang mungkin aja selama ini cuma ada di mimpi! Teman-teman IP dari AISEC inilah yang bisa jadi salah satu pemantik untuk kami agar tidak cepat berpuas diri berkarya di negara sendiri. Kalau bisa berkarya di kancah dunia, kenapa tidak?” tandas Umi, relawan Rumah Kreatif Wadas Kelir yang mengurus soal kerjasama dengan organisasi dan komunitas untuk Wadas Kelir.

PAKET WADAS KELIR GELAR PELUNCURAN DAN BEDAH BUKU KARYA WARGA BELAJARNYA

Senin (25/2) sore, area Pusat Belajar Masyarakat (PBM) Wadas Kelir ramai oleh warga-belajar Paket Wadas Kelir. Ada yang sibuk menata set panggung, ada yang sibuk latihan musikalisi puisi, hingga latihan MC. Mereka adalah warga belajar Paket B dan Paket C Wadas Kelir yang malam harinya memiliki hajat peluncuran buku puisi pertama mereka bersama-sama.

Dibedah oleh Achmad Sultoni, M. Pd. yang merupakan pegiat sastra sekaligus pengajar di salah satu kampus swasta di Purwokerto, buku antologi ‘Sajak-sajak Pemburu Ilmu’ adalah sebuah hal yang spesial. Jika biasanya dia diminta membedah karya mahasiswa atau karya siswa-siswi di jenjang sekolah formal pada umumnya, kali ini dia diundang untuk membedah antologi puisi karya para warga belajar dari paket b dan paket c.

Ia menuturkan bahwa hal tersebut membuatnya haru, bangga, sekaligus malu. Haru dan bangga melihat semangat warga belajar Paket B dan Paket C Wadas Kelir belajar menulis puisi. Sedang dirinya merasa malu karena masih sering merasa malas berproses menulis puisi, padahal hal itu adalah dunia yang sangat dekat dan lekat dengan dirinya. Sedangkan warga belajar di paket adalah mereka yang profesinya sangat beragam, mulai dari ibu rumat tangga, sales motor, penjaga warnet, office boy, hingga karyawan binatu.

“Harusnya mahasiswa saya dari jurusan bahasa dan sastra datang ke acara ini. Biar mereka ikut merasakan apa yang saya rasakan juga malam ini. Biar mereka tertampar dan sadar, kalau harusnya mereka juga menulis!” tutur Achmad Sultoni saat menyaksikan warga paket membawakan sebuah musikalisasi dari sebuah puisi dalam buku “Sajak-sajak Pemburu Ilmu” tersebut.

Tak hanya acara malam itu yang mendapat apresiasi menyenangkan dari berbagai kalangan, tapi buku antologi karangan warga paket itupun mendapat apresiasi yang baik dari masyarakat sekitar. Bagi Ade Wiwit Baety seorang warga belajar paket c yang beberapa sajaknya dimuat misalnya, ia mengatakan bahwa dirinya mendapat pujian dari para sahabatnya karena bisa menulis puisi hingga dibukukan, “Temen-temen nggak percaya kalau itu tulisanku. Katanya puitis banget kaya penyair!” tuturnya sambil tersipu.

Raut bahagia terpancar dari wajah para penyair saat bukunya usai dibedah. Meski harus melewati proses dan penantian panjang, kurang lebih 8 bulan sejak naskah masuk ke penerbit, mereka merasa sangat senang ketika menerima buku pertamanya!

“Semoga ada proyek-proyek selanjutnya. Antologi cerpen, misalnya. Atau bahkan buku solo para warga belajar di sini. Hebat! Selamat!” tutur Yazid, salah satu tamu undangan yang sengaja menempuh perjalanan jauh dari Kabupaten Brebes untuk memenuhi undangan bedah buku malam itu.

Senada dengan Yazid, Wulan, salah satu tutor di Paket B dan C Wadas Kelir juga mengharapkan hal yang sama. Ia berharap agar proses serupa bisa terus ada secara berkala. Sebab, dengan proyek menulis tersebut, bukan hanya warga belajar saja yang dituntut belajar dan berproses menulis, tetapi juga para tutornya. Pasalnya, dalam buku antologi “Sajak-sajak Pemburu Ilmu” para tutor Paket Wadas Kelir diberi ruang khusus bertajuk ‘penyair tamu’, yaitu space bagi para tutor untuk unjuk gigi soal keterampilannya menulis puisi.

“Pasti. Hal serupa pasti akan kami rencanakan lagi. Sebab dengan begini warga belajar tidak hanya merasa belajar teori, tetapi juga melihat wujud nyata dari proses belajarnya. Meski hanya sebagian dari yang telah dipelajarinya selama bertahun-tahun di Paket Wadas Kelir. Buku ini akan jadi sebuah artefak literasi yang mengingatkan mereka pada Paket Wadas Kelir ketika telah lulus nanti!” pungkas Endah, ketua pelaksana Program Pendidikan Kesetaraan Paket B dan C Wadas Kelir.

KEDATANGAN TAMU ISTIMEWA DARI PENERBIT ROSDA KARYA BANDUNG

Sejak meniti karier di bidang akademik, saya sering membaca buku-buku yang diterbitkan oleh PT Remaja Rosda Karya, dan saat itu saya ingin sekali buku saya terbit di Rosda Karya.

Saya bisa mewujudkan mimpi saya pada tahun 2012, buku hasil riset saya, Pembelajaran Menulis Kreatif tebirt di Rosda Karya, dan sampai kini sudah tercetak banyak cetakan, dan saya mendapatkan royalti yang terus datang.

Maka, saya pun punya mimpi bisa mendatangkan Penerbit Rosda Karya untuk bisa bekerja sama dengan Wadas Kelir dan FTIK-IAIN Purwokerto, dan pada Rabu (14/02/2019) saya bisa muwujudkannya.

Mba Tina (Direktur) Mas Anang (Naskah) dan MAs Toni (Marketing) datang ke Wadas Kelir. Kami ngobrol banyak hal soal perbukuan dan penjualan. Kerja sama dengan Wadas Kelir pun disepakati.

Selanjutnya, acara istimewa ini dipungkasi dengan makan siang bersama yang indah dengan menu-menu khas Wadas Kelir. Kami bercanda ria mengakrabkan untuk terus berkolaborasi dalam penerbitan dan penjualan buku untuk ikut serta mencerdaskan anak-anak bangsa.

Usai makan siang, kegiatan kami lanjutkan dengan acara ngobrol bareng dosen-dosen FTIK-IAIN Purwokerto. Tim Penerbit Rosda Karya disambut dengan sangat antusias oleh para dosen. Pak Dekan Kholid Mawardimembuka dan menyambut acara ngobrol bareng ini.

Acara yang santai tapi berkesan karena membarikan pemahaman pada para dosen FTIK-IAIN Purwokerto untuk menerbitkan bukunya di Rosda Karya.

Semoga semua hal yang telah dilakukan mendatangkan banyak kebaikan dan kemanfaatan.

 

Heru Kurniawan
Dosen Institut Agama Islam Negeri Purwokerto
Founder Rumah Kreatif Wadas Kelir