PERTAMA KALI SAYA BERLARI SEPULUH KILOMETER TANPA HENTI

Entahlah, hari ini, Sabtu 23 Agustus 2025, saya memutuskan untuk menguji kemampuan berlariku: lari sepanjang sepuluh kilometer tanpa henti. Tentu saja, lari sesuai dengan kemampuan kecepatanku. Fokusnya pada kemampuan menempuh jarak sepuluh kilometer tanpa henti, bukan kecepatan waktu dalam menempuh jarak itu. Jadi, aku akan berlari semampu kemampuanku untuk menempuh jarak sepuluh kilometer.

Kenapa tetiba saya memutuskan untuk berlari sepanjang sepuluh kilometer? Jawabannya: saya juga tidak tahu. Tapi, jika ditelaah lebih dalam, saya menemukan rumusan jawaban yang mengada-ada, tapi sepertinya relevan. Rasionalisasi jawabannya kurang lebih seperti ini.

Pertama, saya baru membaca buku memoar berjudul What I Talk About, When I Talk About: Running karya Haruki Murakami. Buku yang menghimpun banyak esai tentang pengalaman Haruki Murakami sendiri dalam eksperimentasi hobi berlari maraton selama ini. Di buku itu Haruki Murakami menuliskan kebiasaan berlarinya. Setiap harinya rata-rata berlari Haruki Murakami adalah sepuluh kilometer. Saya pun jadi penasaran. Apakah saya bisa dan kuat berlari sepanjang sepuluh kilometer? Saya perlu mencoba dan saya pasti bisa.

Kedua, sudah hampir tiga tahun saya terbiasa berlari. Sudah dua tahun saya rutin setiap hari berlari sepanjang tiga kilometer. Lalu, setahun kemudian saya tingkatkan jarak lari saya menjadi 5-6 kilometer setiap hari. Saya pun kuat dan tidak ada masalah. Saya merasa semakin lama, kemampuan saya dalam berlari semakin baik. Jadi, kalau hanya lari menaklukkan jarak sepuluh kilometer itu bukan persoalan berat. Itu soal biasa-biasa saja. Saya mau mencobanya.

Ketiga, kebetulan saya sedang merasakan beban hidup terasa berat. Ada persoalan yang selama lima hari mengganggu pikiran dan perhatian saya. Keadaan ini membuatku ingin sekali melarikan diri dari masalah itu dengan berlari. Sejak dulu, berdasarkan pengalaman pribadi, saya menganggap bahwa dengan berlari saya bisa meredakan persoalan. Bisa berdiskusi dan bertukar pikir antara persoalan dengan diri saya sendiri. Saat berlari saya bisa menemukan keikhlasan untuk menerima masalah dengan baik. Suatu saat saya akan bahas bagian ini secara tersendiri.

Tiga alasan itulah yang membuat saya merasa siap untuk lari menempuh jarak sepuluh kilometer. Saya pun segera memakai sepatu olah raga. Meminum air mineral secukupnya. Pemanasan dan peregangan otot secukupnya. Lalu membaca doa dan saya pun berlari pelan-pelan sampai di kecepatan standar yang saya bisa.

Saat sampai di kilometer kelima saya masih belum menemukan masalah. Tubuh dan kaki saya masih kuat. Saya tidak merasakan sakit di lutut dan otot kaki. Pikiran saya masih bisa fokus untuk berlari seraya berdoa, berpikir, dan berkhayal sesuai dengan keinginan saya. Semuanya baik-baik saja. Saya semakin optimis bahwa saya mampu.

Saat matahari terus meninggi. Saya pun masih terus berlari dengan kecepatan standar aman. Hingga memasuki kilometer kedelapan, saya mulai merasakan hal yang berbeda. Saya merasakan kelelahan pada tubuh dan kaki saya. Tapi kelelahan tidak berarti. Saya masih kuat dan terus berlari. Di kilometer kesembilan inilah saya merasakan berubah. Kaki dan lutut masih kuat, tetapi berlari saya mulai melambat dan saya merasa gerakan lari saya sudah sempoyongan.

Kelelahan pun membuat konsentrasi pelan-pelan hilang. Saya sudah susah untuk berdoa dan berkhayal. Rasanya berat. Pikiran hanya tertuju pada keadaan tubuh dan harapan bisa cepat selesai. Kelelahan sudah mulai mengganggu psikologis saya. Di sinilah, saya menemukan kenyataan bahwa berlari itu sangat berpengaruh dengan keadaan psikologi. Namun, saya tetap berusaha fokus untuk bisa mencapai target yang telah ditentukan. Dan, setelah berlari lebih dari dua jam tanpa henti, saya pun sudah bisa sampai rumah.

Apa yang terjadi denganku? Kehausan yang akut. Bayangkan saja, saya berlari sepuluh kilometer tanpa henti. Tidak minum karena lupa membawa minuman. Sampai di rumah saya langsung minum sedikit demi sedikit. Lalu duduk berselonjor beberapa saat. Menenangkan diri untuk mendiagnosa tubuh saya sendiri. Napas saya masih stabil. Otot kedua kaki saya mengeras, tetapi masih dalam kondisi wajar. Lutut saya juga masih aman karena tidak merasakan nyeri. Ini artinya tubuh saya masih baik-baik saja.

Efek sakit terasa setelah saya tidur siang. Kedua kaki saya terasa sedikit sakit, tetapi masih dalam batas wajar saja. Ini efek atas pengalaman baru kedua kaki saya, yang biasanya berlari lima sampai enam kilometer saja, tetapi kini harus menempuh jarak sepuluh kilometer. Jadi kaget dan berdampak pada rasa sakit. Tapi, ini tidak masalah, karena ini bentuk adaptasi otot-otot kaki dengan pengalaman barunya. Besok pasti sembuh dengan sendirinya dan siap untuk berlari menempuh jarak sepuluh kilometer.

Pengalaman pertama ini penting buatku. Ini menjadi titik awal saya untuk meningkatkan kemampuan daya tahan dalam berlari. Bisa berlari sepanjang sepuluh kilometer secara rutin sedang menjadi targetku. Target yang harus saya wujudkan dengan cara pelan-pelan. Semoga bisa.
(Heru Kurniawan, Founder Rumah Kreatif Wadas Kelir).

Facebook
Twitter
LinkedIn
Pinterest

Tinggalkan Komentar

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Pencarian

Scroll to Top