MIRAH

Beberapa anak lari ketakutan saat melihat Mirah lenggak-lenggok di jalanan. Ia memang genit, senang menggoda laki-laki, apalagi yang berseragam dan terlihat dewasa. Tak jarang Mirah juga menghampiri mereka yang tengah menyeduh kopi di warung Bi Sur, mencari yang menyandang tas dan mengenakan jaket, bapak tukang kredit, pasti banyak duit.
“Aduuuh ku lapel ya pa, iyha, belum ma’am.”

Mirah cengengesan sambil memegangi perutnya, lidah yang cadel membuat perkataannya kurang jelas. Ada yang memberinya seribu atau dua ribu, tapi tak ada yang memberinya uang receh, sebab Mirah tak akan menerimanya.
Jika ia tumbuh dengan normal, mungkin saat ini Mirah sudah menemukan pujaan hatinya, atau bahkan menimang seorang anak. Tidak seperti saat ini, dari pagi hingga petang ia hanya sibuk menjelajah jalanan kampung. Menghampiri satu dua rumah yang terbuka, lalu meminta makanan dan uang. Kadang-kadang juga ikut menimbrung ibu-ibu yang sedang merumpi, mencoba berbaur, meski sebenarnya ia tetap asyik dengan dunianya.

Tak jarang Mirah ikut mengaji di masjid. Di dalam tas kumalnya ada satu buku iqra. Kenangan dari ibunya yang dulu juga seorang guru ngaji. Ia sering menunjukkan kebolehannya mengucap salam, berselawat, bahkan akting berceramah. Tapi sekali lagi, ia selalu terlihat lebih asyik dengan dunianya, seakan di sampingnya ada satu sosok manusia yang menemaninya berbincang.
Dia cengengesan sambil menatapku, merinding. Aku segera berlari menyusul teman-temanku. Hari ini ada kegiatan sparing voli dengan SD Candirata. Pak Bintaro menyuruh kami menyiapkan perlengkapan lapangan. Aku kembali menengok ke belakang, mencari keberadaan Mirah, namun ia sudah terlihat menjauh, mengejar langkah kucing hitam.

Pak Bintaro segera datang bersama tim voli SD Candirata dan satu guru olahraga. Kami bermain dalam set panjang, mengisi Hari Minggu dengan permainan menyenangkan. SD Candirata bagi kami adalah tandingan yang sangat layak. Kami mengasah berbagai teknik baru untuk menghadapi pertandingan di kabupaten.

Menjelang asar, Pak Bintaro menutup pertandingan. Baru saja kami bersalaman dan bersiap pulang, sebuah teriakan melengking tiba-tiba menusuk telinga. Beberapa warga mulai keluar rumah, mencari sumber suara. Ternyata teriakan itu berasal dari Bu Laisa yang terkejut melihat keponakannya dibopong Lik Darso dalam keadaan tak sadarkan diri.

“Miraaah!”

Bu Laisa terus memanggil nama anak yang sedang didekap. Keponakannya ditemukan Lik Darso yang sedang mengambil nira kelapa di alas dekat perkuburan dalam keadaan tak karuan. Baju dan roknya koyak, tubuhnya penuh memar. Bu Laisa tak bisa membendung tangisnya, ia merasa gagal menjaga amanah dari kakak perempuannya yang telah meninggal. Mirah memang masih memiliki ayah, namun pria itu tak sanggup mengurusnya seorang diri karena harus bekerja serabutan.

Warga secara sukarela menyiapkan mobil. Mereka memilih langsung membawa Mirah ke dokter, karena tak ada yang tahu pasti apa penyebabnya.

Desas-desus warga tak begitu kupahami. Katanya ada yang menodai Mirah. Menodai? Terakhir aku lihat ia sedang mengejar kucing hitam. Mungkin ia tersandung saat berlari, sehingga bajunya koyak dan terkena noda tanah. Tapi, mengapa ia sampai pingsan? Betapa kerasnya ia terjatuh, hingga kesadarannya hilang.

Seminggu kemudian, obrolan warga tentang kasus Mirah masih sangat lekat.

“Bu, Darso diparani polisi.” Ucap bapak selepas pulang berjamaah di masjid.

Ibu segera menggandeng tanganku keluar rumah, mengikuti langkah bapak. Kami memasuki kerumunan warga di depan rumah Lik Darso. Bapak mencoba masuk ke dalam rumah, namun diurungkan oleh seorang polisi. Tak berselang lama Lik Darso keluar diiringi dua orang berseragam. Orang-orang di sekelilingku bilang Lik Darso itu pelaku dan harus bertanggung jawab. Aku tak begitu paham, yang aku pahami adalah wajah bapak yang terlihat begitu kecewa.

Malam itu, aku melihat bapak menitikkan air mata. Sejak kakek nenekku meninggal, Lik Darso hidup sendirian karena belum menikah. Sebagai anak tertua, bapak mengambil alih peran untuk menjaga Lik Darso.

Tiga bulan berlalu setelah Lik Darso dijemput polisi. Tiga bulan pula, Mirah yang dulu selalu meramaikan jalanan, sekarang hanya duduk lesu di depan tv dengan perut yang mulai buncit. Matanya tetap terlihat kosong, tapi tingkahnya tak seramai dulu. Ia juga masih senang berdialog sendiri, kali ini terasa lebih menyayat karena diiringi tangis lirih ketakutan.

Aku melihat Mirah saat menemani ibu ke rumahnya. Meskipun yang mengurus Mirah adalah Bu Laisa, tapi ia tetap tinggal bersama bapaknya, karena jarak rumah mereka tidak begitu jauh.

Seperti biasa, ibu membawakan makanan atau buah-buahan untuk Mirah, ini seperti ritual yang harus dilakukan setiap akhir pekan.
Ibu selalu bersikap ramah pada Mirah, meskipun balasan yang didapatkan dari Mirah hanya sunggingan kecil. Tangan ibu mengelus lembut rambut Mirah, senyumnya memudar, menyisakan kerut kesedihan di sudut bibir.

Aku pernah memaksa bapak mengajakku menengok Lik Darso di lapas kabupaten. Tubuhnya kuyu, tapi binar di matanya masih kudapati. Ia masih sama, selalu antusias bertanya kabar tim voliku. Lik Darso begitu senang mendengarkan bagaimana permainanku. Katanya, dia seharusnya hadir, ikut menyaksikan keponakannya memegang piala bupati.

“Jadi anak yang pinter ya Tan, jangan seperti likmu, gampang dimanfaatkan orang lain karena nda pinter.” Lik Darso menepuk-nepuk pundakku dengan bangga. Aku tersenyum, Lik Darso harusnya tahu, aku juga bangga memiliki keluarga seperti dirinya.

“Tristaaan!” Teriak ibu yang sudah menungguku di ambang pintu, suaranya terdengar tidak sabar. Aku mengehela napas, sudah kuduga, sepulang bermain pasti ada saja tugas yang menanti.

“Anterin makanan ke rumah Mba Mirah, ibu mau berangkat ngaji.”

“Nggih Bu.” Aku menyimpan bola yang kubawa sebelum mengambil alih kantong plastik dari tangan ibu.

Aku berjalan ke rumah Mirah dengan lesu. Rumah Mirah memang tidak begitu jauh, namun letaknya lumayan berjarak dari rumah-rumah lain. Setelah melewati deretan rumah yang padat, jalanan tiba-tiba sunyi, hanya pepohonan di kiri kanan.

Aku melihat kucing hitam berlari keluar dari rumah Mirah, begitu cepat, seolah meluncur. Kucing itu sepertinya sedang mengandung, sekilas terlihat dari perutnya yang besar. Tiba-tiba aku teringat kejadian beberapa bulan lalu saat Mirah mengikuti langkah seekor kucing dan pulang dalam keadaan kacau.

Teriakan Mirah berhasil membuyarkan lamunan. Ia berlari keluar, menjauh dari rumah dengan wajah ketakutan, tak peduli dengan penampilannya yang tak karuan. Rambutnya acak-acakan, pakaiannya koyak di bagian bahu, dan wajahnya dipenuhi air mata. Aku ngeri melihatnya melewatiku seperti kesetanan.

Setelahnya, ayah Mirah menyusul keluar dari rumah tanpa memakai baju, keringat dingin membasahi tubuhnya. Napasnya terengah-engah, seperti ada rasa panik yang menikam dadanya. Langkahnya terhenti saat melihat warga mulai berkerumun. Tatapannya nanar, seolah terbangun dari mimpi buruk yang ia ciptakan sendiri.

Safitri

Relawan Rumah Kreatif Wadas Kelir yang telah menempuh pendidikan S-1 Program Studi Pendidikan Anak Usia Dini di UIN Prof.K.H.
Saifuddin Zuhri Purwokerto. Aktif menulis dan menerjemahkan buku-buku cerita anak. Dapat dihubungi melalui surel saffitry2111@gmail.com. IG bahasa.rahasaaa.

Facebook
Twitter
LinkedIn
Pinterest

Tinggalkan Komentar

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Pencarian

Scroll to Top