BAHASA KALBU DITA

Kabar yang sangat tidak ingin aku dengar sampai juga di telingaku. Kabar itu aku dapat dari sahabat Dito, sahabatku juga. Saat di Cafe, kami sedang mengerjakan tugas makalah. Kebetulan aku dan Yohan sekelompok. Tidak ada Dito dalam kelompok makalah kami, tapi sepanjang di Cafe ini, hanya nama Dito yang menjadi topik percakapan.

“Serius, Han?” tanyaku sedikit melawan kenyataan.

“Kapan pernah aku bohong sama kamu, Ta? Lagi pula kenapa kamu sekaget ini dengar ceritaku barusan? Hayo!?”

“Bukan gitu! Ya sepertinya dari kemarin-kemarin kan nggak ada desas-desus apa-apa tuh!”

“Lho, memangnya kalau Dito suka sama cewek, dia harus bilang dulu sama kamu?”

“Ya, minimal sebagai sahabat, ada sedikit bocoran, Han. Setidaknya kita bisa jadi intel, sebelum Dito akhirnya tiba-tiba mau melamar cewek itu”

“Kenapa jadi kamu yang repot, Ta? Sudahlah kita dukung aja apapun keputusan dia, ya?”

“Mm” Aku mengangguk. Mendunduk. Menahan tangis.

Sisa kopi yang pahit ini kuteguk pelan-pelan. Bagiku, tidak ada kopi pahit yang sebanding dengan keadaan hatiku saat ini. Entah mengapa Cafe di sini juga sedang memutar lagu Pupus Dewa 19. Lengkap sudah kepahitan ini. Menulis makalah pun jadi tidak karuan. Entah apa yang mau aku tuliskan. Dan sepertinya Yohan menangkap itu, ia tahu sahabatnya ini sedang tidak baik-baik saja. Tapi ia juga tahu, aku tidak akan mungkin mengakui perasaanku kepada Dito. Tidak akan.

Sesampainya di rumah, hanya satu tujuan yang ingin segera aku lakukan. Menangis. Mengunci pintu kamar dan menjadikan bantal sebagai penutup wajah yang sudah lembab ini. Tuhan, aku tidak pernah tahu bahwa cinta akan melukaiku sedalam ini. Aku tidak tahu bahwa lelaki yang kukira mencintaiku, ternyata ia mencintai perempuan lain.

Dua hari berlalu semenjak cerita di Cafe itu. Aku putuskan untuk izin perkuliahan satu hari. Esoknya, kulangkahkan kembali kakiku menuju kampus. Memasuki ruang kelas yang di sana sudah pasti ada Dito. Seseorang yang sedang sangat ingin aku hindari.

“Duduk, sini Ta! Sebelahku!” Yohan melirik ke arah tempat duduknya. Ia sudah dulu berada di kelas. Aku mengiyakan sambil sekilas melihat sekeliling, sepertinya Dito belum masuk kelas. Syukurlah Dito tidak ada.

Aroma parfum yang kukenali semakin dekat tercium membuatku reflek menoleh. “Hallo, Ta!” Dito menyapaku. Aku hanya mengangguk. Yohan diam-diam memperhatikan itu.

“Kenapa kemarin nggak masuk, Ta” Dito mengambil kursi dan duduk di sebelahku. Hatiku mulai gusar. Emang harus ya, duduk di sebelahku, Dit? Terkadang sesuatu yang ingin kita hindari justru dengan mudah datang sendiri. Ia bertanya seolah tidak tahu apa-apa. Ya memang benar, dia tidak tahu apapun tentang perasaanku ini.

“Kurang sehat” jawabku singkat.

“Sakit apa?” Tatapan Dito terlihat khawatir. Tapi kali aku meyakinkan diri, tatapan itu tidak berarti apa-apa.

“Pusing biasa, Dit” Aku mencoba berkata senormal mungkin.

“Jaga kesehatan baik-baik ya, rumah sakit penuh!” Dito mencoba becanda karena mungkin raut wajahku yang tidak seceria biasanya.

“Haha, iya” Jawabku singkat tanpa peduli candaan itu lucu apa tidak untuk ditertawakan.

Jam perkuliahan berlangsung lancar seperti biasa. Keadaan hatiku saja yang tidak biasa. Sepanjang teman-teman mempresentasikan makalah dan dosen menjelaskan, semuanya kabur dalam lamunan. Sesekali Yohan mengetuk-ngetuk kursinya. Melirikku untuk fokus ke perkuliahan. Sesekali Dito juga melirikku, tersenyum dengan tatapan damai seperti biasanya. Aku balik tersenyum, senormal mungkin. Dito menuliskan sesuatu di bukunya lalu ia memperlihatkannya kepadaku, “Tiket nonton film gratis untuk yang baru sembuh dari pusing”. Aku meliriknya, menolak dengan gelengan kepala, senormal mungkin. Dito menatapku, memastikan bahwa apakah aku yakin menolak “gratisan” ini? Aku tetap menggeleng. Senormal mungkin. Dito menulis kembali dan kali ini ia memperlihatkannya kepada Yohan. Yohan dengan kilat mengangguk semangat. Kali ini tulisannya berbunyi, “Tiket nonton dan makan gratis! Member: Dito, Dita, Yohan. Salah satu tidak hadir, tiket hangus!”

Untuk kali ini saja, karena Yohan akhirnya aku menerima tawaran itu. Aku berhutang informasi kepada Yohan. Andai waktu itu dia tidak memberitahuku soal itu, mungkin saja saat ini aku masih di dalam dunia indah fiksi yang aku bangun sendiri. Aku memang bodoh. Tapi itu yang mengantarkanku kepada kesadaran bahwa selama ini Dito tidak pernah mencintaiku. Dito hanya menganggapku sebagai sahabat. Pedulinya, kasih sayang dan pengertiannya selama ini adalah bentuk dari buah persahabatan –Tidak lebih, Ta. Berkali-kali kucoba meyakinkan diri– yang bagiku semua itu diterjemahkan ke dalam bahasa kalbu. Bahasa yang aku artikan sebagai “cinta”. Bodoh sekali diriku.

            Seperti yang sudah dijanjikan, setelah nonton, kami lanjut makan. Di tengah menunggu makanan datang, entah dari mana percakapan seperti di Cafe waktu itu pun dimulai. Percakapan yang aku sendiri tidak tahu apakah aku masih sanggup untuk mendengarkannya atau tidak.

“Yohan.. Dita..” Dito memanggil.

“Iya” jawabku dan Yohan kompak.

“Terima kasih ya sudah menjadi sahabat baikku selama ini. Hampir enam tahun ya?” Kami mengangguk. “Ada yang ingin aku sampaikan nih. Sesuatu yang sangat penting dalam hidupku. Sesuatu yang aku impikan dan aku tunggu-tunggu dari dulu. Guys, aku mau melamar seseorang setelah wisuda nanti!”

Aku hanya bisa terdiam mendengar kalimat terakhir itu. Untungnya ada Yohan yang menetralkan suasana. “Bagus Bro! Niatan yang baik, seberapa besar kemantapanmu itu Bro!

“Sembilan puluh sembilan persen koma sembilan! Jawab Dito sumringah. “Aku tidak pernah merasa sebahagia dan seyakin ini dalam mengambil keputusan, Han! Hari wisuda tinggal dua pekan lagi, kan? Tapi rasanya lama sekali menunggu hari itu tiba”

Aku melihat tatapan Dito yang sangat tulus. Harapan yang benar-benar dari hati kecilnya. Impian yang mungkin ia idam-idamkan selama ini. Beruntungnya perempuan itu.

“Kamu diam aja, Ta, dari tadi!” Dito melirikku.

“Iya” Dito dan Yohan menatapku, meminta penjelasan yang lebih panjang dari sekadar kata “Iya”. “Iya, aku setuju!” Aku tersenyum.

“Syukurlah, kembaranku mendukung. Kamu juga, Ta. Jangan lama-lama sendiri. Nih, ada Yohan. Kalian berdua cocok, kok!” Dito melirik Yohan, jahil.

“Enggak perlu menjodoh-jodohkan, Dit! Iya nggak, Han? Aku protes.

“Enggak papa, terserah dia lah!” Yohan membantah. Disusul gelagak tawa Dito yang seakan menertawakan kebodohanku selama ini. “Jangan marah, Ta. Becanda!”

Makanan pesanan kami datang, di luar sepertinya sedang gerimis. Udara dinginnya menggelitik mataku. Aku tidak tahu, apakah ini embun dari gerimis atau air tangis. “Aku ke kamar kecil dulu ya, Dit, Han!” Pintaku dengan mata gerimis.

“Sana, jangan lama-lama! Makanan keburu dingin” Yohan memberi jalan.

“Kamu masih pusing, Ta?” Dito memegang keningku, memastikan “sahabatnya” ini baik-baik saja.

“Enggak kok” Aku menggeleng pelan. Menatap tatapan pedulinya itu yang membuatku selalu salah menerjemahkan bahasa kalbu.

Sepuluh menit berlalu, aku baru keluar. Terlihat di luar sedang mulai hujan. Dito dan Yohan di sebelah sana sepertinya masih setia menunggu untuk kita makan bersama. Aku melihat mereka lamat-lamat. Menikmati indahnya persahabatan kami ini. Aku beranjak lari ke arah mereka, tak sabar menyantap makanan. Dan ternyata dugaanku salah besar.

“Taaa, habis! Kamu pesan lagi makanannya ya! Laper banget kita nih!” Cletuk Yohan, disusul anggukan Dito.

Aku terdiam datar. Membuat suasana sedikit tegang, “Selamanya, kalian tetap menyebalkan!!! Nggak mau ah!!” Teriakku kencang tak memedulikan lirikan pengunjung lain. Dito dan Yohan terbahak sambil memegangi perut. Aku juga cuma becanda. Kami tertawa bersama dan pada akhirnya aku harus mulai belajar kembali menerjemahkan bahasa kalbu yang seringkali keliru kufahami.

Facebook
Twitter
LinkedIn
Pinterest

Tinggalkan Komentar

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Pencarian

Scroll to Top