Kali ini, saya akan melanjutkan cerita sebelumnya. Cerita soal sakit influenza yang saya alami. Pada cerita sebelumnya saya bahas soal: asal-mula sakit influenza itu datang. Sekarang saya akan cerita dan bahas hasil pengamatan terhadap tubuh saya saat menghadapi sakit influenza.
Tepatnya Kamis, 1 Januari 2026, saat saya bangun pagi, tubuh saya sudah demam. Tapi, demam itu belum akut. Jadi, saya pun masih bisa beraktivitas seperti biasa. Saya masih mengerjakan tugas-tugas kampus. Bahkan, esok harinya saya masih ke kampus dan melakukan berbagai kegiatan.
Tapi, malam harinya, demam itu semakin akut. Mencapai puncaknya. Saya menggigil kedinginan, sakit kepala, dan batuk. Saya tidak mengukur suhu tubuh, tapi saya yakin, panas badan saya sudah mencapai 38 derajat celcius. Saya sudah tidak bisa beraktivitas lagi. Hampir selama sepuluh hari saya mengalami demam yang naik turun tidak menentu setiap harinya.
Apa yang saya lakukan? Saya hanya bisa beristirahat tidur-tiduran. Selama sakit saya belum memutuskan untuk minum obat atau berobat ke dokter. Saya hanya mendisiplinkan diri minum air rebusan jahe, sereh, kunyit, dan jeruk lemon. Tentu saja, semua itu tidak membuatku sembuh. Saya terus mengalami demam, batuk, dan flu yang semakin berat dan menyiksa. Saya mulai mengalami kecemasan setelah satu minggu sakit tanpa ada tanda mau sembuh. Istri dan anak-anak pun mulai merekomendasikan saya untuk minum obat penurun panas atau berobat ke dokter. Tapi, saya tetap belum mau minum obat atau berobat, sekalipun saya sendiri juga mulai cemas.
Akhirnya, untuk meyakinkan diri sendiri, saya bertanya ke beberapa teman yang menurut saya paham soal kesehatan. Saya menanyakan berapa lama demam yang diderita seseorang bisa turun? Rerata teman-teman saya menjawab 7-10 hari. Jika sudah sepuluh hari masih demam, maka segera berobat ke dokter. Saya pun menjadi lega. Setidaknya saya masih punya harapan untuk bertahan tidak minum obat dan pergi ke dokter. Demam saya baru mau mendekati sepuluh hari.
Anehnya, sekalipun saya dalam keadaan sakit, saya tetap menjaga kebiasaan olahraga jalan kaki di dalam rumah sampai mencapai 7500 langkah. Saya tetap squat 25-50 kali. Saya juga tetap berusaha angkat beban semampunya. Semua ini saya lakukan rutin. Saya lakukan saat demam sedang turun. Saya merasa berat meninggalkan kebiasaan berolahraga ringan itu. Apakah olahraga itu berpengaruh terhadap sakit yang saya derita. Tentu saja saya tidak tahu pastinya. Tapi, setidaknya, dengan berolahraga ringan itu saya merasa lebih tenang.
Hingga di hari kesembilan, saya tetap demam. Tapi, intensitasnya sudah tidak sering. Sehari hanya satu sampai dua kali saja merasakan demamnya. Puncaknya, di hari kesepuluh demam itu sudah tidak datang lagi. Sungguh saya merasakan senang dan lega. Saya merasakan tanda-tanda sembuh akan mewujud. Saya pun putuskan untuk tidak berobat ke dokter dan minum obat. Ternyata tubuh saya masih cukup lumayan baik, masih bisa bertahan dan menjinakkan demam.
Pertanyaannya: apakah kebiasaan berolahraga dan minum minuman seduhan jahe, sereh, kunyit, dan lemon berpengaruh terhadap kesembuhan saya? Saya sungguh tidak tahu dan tidak bisa menjelaskannya secara medis. Tapi, kebiasaan untuk tidak minum obat kimia selama sakit telah saya perjuangkan sejak tahun 2021. Sejak saya sembuh dari Covid-19. Kebiasaan berolahraga dan minum seduhan air rimpang juga sudah saya lakukan. Kebiasaan baik yang menurut saya bisa menjadi jalan untuk menguatkan imun-imun di tubuh. Sehingga, saat demam itu melanda, saya masih bisa bertahan sampai sepuluh hari dan akhirnya berangsur-angsur sembuh.
Heru Kurniawan
Founder Rumah Kreatif Wadas Kelir



