Dongeng Nur ‘Aini Rahmawati

BELAJAR RUKUN ISLAM

Salim namanya. Anak laki-laki yang suka sekali bertanya.
Apapun yang baru baginya, selalu mengasyikan.
Ini Salma namanya. Adik kecil yang sangat Salim sayangi.

Matahari bersinar terik.
Panasnya tidak menurunkan semangat Salim untuk berjamaah di Masjid.
“Ibu.. Ibu..!” teriak Salim memasuki rumah.
“Waalaikumsalam…” jawab Ibu.
“Assalamualaikum…” sambil tersipu.
“Wa’alaikumsalam…” jawab Ibu.

“Bu, tadi di masjid ramai sekali. Banyak orang berkumpul,” cerita Salim.
“Ya, mereka kan sedang sholat berjamaah di masjid,” jawab Ibu.
“Bukan, Ibu, kata tetangga kita. Ada Muallaf yang masuk Islam. Muallaf itu apa sih Bu?” tanya Salim.

“Muallaf adalah sebutan bagi orang yang masuk islam,” jawab Ibu.
“Salim tau syarat masuk Islam itu apa?” tanya Ibu.
Salim mengingat pelajaran di sekolah.
“Emm, tidak tahu, Bu,” jawab Salim bingung.
“Syarat masuk Islam itu adalah mengucapkan dua kalimat syahadat,” jelas Ibu.

“Salim tahu, Di sekolah Salim menghafalkan itu, Asyhadu ‘ala ilaha illallah, wa asyhadu anna muhammadarrasullulah. Saya bersaksi bahwa tidak ada Tuhan selain Allah dan saya bersaksi Nabi Muhammad utusan Allah,” kata Salim.
“MasyaAllah Tabarakallah,” puji Ibu.
Salim tersenyum senang.

Allahuakbar.. allahuakbar..!!!
Suara adzan shubuh memecah kesunyian.
“Sayang, ayo, bangun. Allah udah manggil, Allah kangen sama Salim,” kata Ibu sambil mengusap rambut Salim.
“Salim masih ngantuk, Bu,” kata Salim.

Ibu membantu Salim duduk agar bangun dari tempat tidur.
Tak lupa membaca doa bangun tidur.
Salim mengambil air wudhu dan melaksanakan shalat subuh berjamaah di masjid.
Sepulang dari masjid Salim bertanya pada Ibu.

“Ibu untuk apa sih kita sholat?” tanya Salim, “Aku masih ngantuk tapi pagi-pagi harus ke masjid.”
“Sayang, tau tidak? Semua yang Salim punya itu dari siapa?” tanya Ibu.
“Dari Ayah dan Ibu,” jawab Salim.
“Semua itu dari Allah sayang, Ayah dan Ibu hanya sebagai perantara saja,” jelas Ibu.

“Allah itu Maha Kaya dan Maha Baik,” tambah Ibu, “Salim bisa minta apapun pada Allah.”
“Apa iya, Bu?’ tanya Salim.
“Nah, sholat bisa menjadi jalan buat kita berbicara pada Allah. Minta apapun sama Allah,” Ibu menjelaskan.
“Oh, begitu, ya, Bu. Keren, ya, Bu, Allah itu,” kata Salim.

Sore hari yang cerah Salim mengajak adik Salma bermain di teras depan rumah. Saat bermain, tiba-tiba Salim teringat sesuatu.
“Adik Salma besok kita puasa, yuk, kayak Ayah,” kata Salim.
“Nggak, ah. Nanti nggak bisa makan jajan,” balas Salma.
“Nggak setiap hari, kok. Cuma senin sama kamis saja,” balas Salim.

“Kata Bu Guru puasa itu pahalanya banyak,” jelas Salim.
“Tapi, aku setengah hari aja, ya. Aku kan masih kecil,” kata Salma nyengir.
Salim menganggukan kepala dan membalas senyum adiknya.

Ibu datang menghampiri Salim dan Salma.
“Ibu, aku besok mau puasa,” kata Salma dengan semangatnya.
“Wah, hebat, anak Ibu sudah pinter berpuasa, ya,” jawab Ibu senang.
“Iya, Bu, biar seperti Ayah. Puasanya hari senin dan kamis,” tambah Salim.

“Sebentar lagi kita akan memasuki bulan Ramadhan,” seru Ibu.
“Wah, asyik, nanti ada buka bersama di masjid,” seru Salim.
“Ibu, Ramadhan itu apa?” tanya Salma penasaran.

“Bulan Ramadhan adalah bulan suci umat islam, sayang” jawab Ibu.,“Sebagai orang Islam kita diwajibkan untuk berpuasa selama satu bulan.”
“Satu bulan?” Salma terkejut, “Lama, ya, Bu?”
“Nanti Salma latihan berpuasa, ya,” ajak Ibu.
Salma menganggukan kepala.

“Tapi, setengah hari aja, ya, Bu,” bujuk Salma.
“Iya, tidak apa-apa. Tadi katanya mau puasa Senin dn Kamis. Itu bisa jadi latihan berpuasa sebelum puasa ramadhan,” terang Ibu.
“Iya tapi setengah hari juga.” jawab Salma sambil memeluk ibunya.

“Ibu, dulu Salim pernah ikut Ayah menimbang beras di masjid. Seru!”kata Salim.
“Kok, Salma tidak ikut?” tanya Salma sebal.
“Salma dulu masih kecil, belum boleh ikut” kata Salim sambil tertawa, “Menimbang beras itu namanya apa, ya, Bu?” tanya Salim.
“Namanya zakat fitrah, Sayang,” jwab Ibu.
“Zakat fitrah itu apa?” tanya Salma.
“Zakat fitrah adalah zakat yang wajib dibayarkan pada saat bulan Ramadhan,” jelas Ibu. “Bisa dibayarkan dengan bahan pokok makanan.”

“Bisa beras, gandum, atau bahan makanan pokok lainnya sesuai dengan kebutuhan,” lanjut Ibu, “Zakat dibagikan sebelum hari raya idul fitri tiba.”
“Salma ingin ikut membagikan zakat!” seru Salma.
“Boleh,” jawab Ibu.

“Haha, semangat sekali, Salma” kata Salim tertawa.”Puasa dulu, dong!”
“Iya, pasti. Besok aku mau puasa,” kata Salma sambil tersipu.
“Kuat tidak, ya?” ejek Salim.
“Kuaaaaattttt!!!” jawab Salma marah.

Di sore hari yang cerah berawan.
Salim mengajak Salma bermain bersama di rumah.
“Salma.. Salim.. mau ikut Ibu ke rumah Ibu Mirna tetangga sebelah rumah?” ajak Ibu.
“Mauuuuuuuu!” jawab Salim dan Salma bersamaan.

“Ibu, Bu Mirna mau kemana? Kok semua bilang hati-hati?” tanya Salma.
“Ibu Mirna akan berangkat haji sayang,” jawab Ibu.
“Haji? Apa ya?” tanya Salma penasaran.

“Haji adalah rukum Islam yang kelima, dilaksanakan bagi yang mampu,” jelas Ibu. “Siapa yang tahu rukun Islam ada berapa?”
Salma menghitung dengan jari.
“Salim tahu. Rukun Islam ada lima!” jawab Salim.

“Syahadat, Shalat, Puasa, Zakat, dan..” terang Salim.
“Haji…” teriak Salma ikut menjawab.
Salim pun tertawa melihat tingkah adiknya.
“Wah, anak sholeh dan sholehanya Ibu,” puji Ibu sambil memeluk keduanya.

“Sekarang Salim dan Salma sudah tau kan rukun islam itu apa saja?” tanya Ibu.
“Sudah Ibu,” jawab Salim dan Salma bersamaan.
“Nah sebagai umat Islam, kita harus berusaha untuk menunaikan rukun islam yang lima” kata Ibu.

Sekarang Salim dan Salma tidak pernah melewatkan shalat lima waktu, mulai belajar berpuasa walau hanya setengah hari.
Karena mereka tau sebagai umat Islam harus berusaha melaksanakan rukun Islam yang lima.
Syahadat, shalat, puasa, zakat dan haji.

Facebook
Twitter
LinkedIn
Pinterest

Tinggalkan Komentar

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Pencarian

Scroll to Top