AFIRMASI MIMPI BERKULIAH SAMPAI TINGGI

Suatu ketika saya diminta untuk menguji lisan atau wawancara calon mahasiswa program magister di kampus saya. Salah satu komponen yang harus diujikan adalah dimensi motivasi dan kompetensi akademik. Sekalipun instrumen ujian sudah disiapkan, tetiba saya memiliki gagasan untuk memasukan satu aspek: peristiwa afirmasi apa yang menyugesti calon mahasiswa sehingga mendaftar kuliah di program magister? Aspek ini akan saya tanyakan kepada calon mahasiswa magister untuk mendapatkan informasi terkait dengan mekanisme cita-cita kuliah program magister mampu menyugesti dan memotivasi diri mahasiswa.

Setelah melakukan proses wawancara terhadap sembilan calon mahasiswa baru program magister, saya menemukan tiga pola afrimasi yang menyugesti mahasiswa. Pada tulisan pertama ini saya hanya akan menjelaskan satu pola dulu. Dua pola lainnya akan saya bahas pada tulisan berikutnya.

Pertama, afirmasi dari orang tua yang terbentuk di ruang keluarga. Orang tua, melalui suatu peristiwa istimewa, mengafirmasi anak-anaknya untuk bisa bersekolah atau kuliah tinggi, minimal sampai program magister. Afirmasi inilah yang kemudian menyugesti anak untuk kuliah sampai magister. Sugesti inilah yang diingat anak dan menjadi motivasi penting selama menempuh perkuliahan di program sarjana. Selepas lulus program sarjana, anak kemudian membulatkan tekad untuk melanjutkan di program magister.

Salah satu mahasiswa menjelaskan bahwa awal mendapatkan mimpi untuk sekolah atau kuliah hingga program magister itu saat orang tua berdiskusi dengan anak-anak. Di situlah, orang tua menyampaikan mimpinya untuk mendirikan lembaga pendidikan. Untuk memimpin lembaga pendidikan itu, diperlukan pemimpin atau kepala. Orang tua pun menyampaikan harapan pada anak-anaknya untuk ada yang bisa berkuliah tinggi minimal sampai magister.

Ini artinya orang tua menjadi sosok afirmatif penting dalam membangun mimpi untuk berkuliah bagi anak-anaknya. Melalui suatu peristiwa dalam ruang keluarga yang bersahaja: mimpi, harapan, dan pandangan orang tua, misalnya harapan kuliah tinggi hingga magister, disampaikan sehingga dapat mengafirmasi mimpi atau cita-cita anak-anaknya. Dalam konteks ini, proses afirmasi ini tentu akan terbentuk dengan sangat baik jika orang tua dan anak adalah individu yang paham dengan dunia pendidikan. Di sinilah, informan yang menyampaikan afirmasi dari orang tua menunjukan kenyataan bahwa orang tua atau keluarganya adalah masuk dalam kelompok terdidik dengan anak-anak yang memiliki kepatuhan yang tinggi. Ini ditunjukkan dengan tingkat pendidikan orang tua dan anak-anak yang sudah sejak kecil dididik menjadi santri.

Kenyataan ini menunjukan bahwa keluarga adalah ruang afirmasi penting dalam pendidikan. Dengan keterdidikan orang tua dan kebaktian (santri) anak, membuat proses afirmasi pendidikan bisa terjadi dengan baik. Peristiwa sederhana diskusi dalam menyampaikan mimpi dan pandangan orang tua terhadap pendidikan dengan mudah menjadi peristiwa afirmasi yang mampu menyugesti dan memotivasi anak-anak untuk punya mimpi dalam menempuh pendidikan tinggi. Di sini menunjukan bahwa ruang afirmasi pendidikan terbentuk paling awal dalam konteks keluarga.

Buktinya, saat saya membawa pertanyaan ini dalam konteks yang berbeda saya mendapatkan jawaban yang berbeda. Saya mengajukan persoalan dan situasi ini pada beberapa siswa sekolah menengah atas yang berlatar belakang keluarga tingkat pendidikan rendah. Semua anak-anak sekolah menengah ini menyatakan bahwa orang tuanya tidak pernah menyampaikan mimpi dan harapan soal kuliah. Anak-anak juga ada yang tidak terbersit untuk kuliah hingga sarjana. Atau, ada yang terbayang, tetapi ragu apakah mampu, dan itu tidak mampu menyugesti dan memotivasi anak. Ini menunjukkan bahwa orang tua punya peran penting dalam mengafirmasi anak-anak untuk bisa berkuliah tinggi hingga program magister.

Dari temuan ini, maka idealnya promosi dan sosialisasi pentingnya melanjutkan pendidikan di perguruan tinggi hingga magister jangan hanya fokus pada user saja, yaitu anak sekolah menengah atau mahasiswa program sarjana, tetapi juga sampai pada orang tua. Orang tua punya peran penting dalam membangun dan membentuk mimpi anak-anaknya untuk kuliah di perguruan tinggi hingga program magister melalui afirmasi mimpi anak-anaknya. Ini selaras dengan proses pembentukan nilai-nilai penting dalam hidup anak, termasuk bersekolah hingga tinggi, dibentuk dalam ruang keluarga melalui peristiwa diskusi berkesan yang menggambarkan harapan dan mimpi orang tua.

Jadi, masih rendahnya tingkat pendidikan masyarakat Indonesia terjadi karena rendahnya kesadaran arti penting pendidikan bagi keluarga, terutama orang tua. Meningkatkan partisipasi pendidikan masyarakat bertumpu pada orang tua. Kesadaran pendidikan harus dimulai dengan sosialisasi nyata pada orang tua. Mendidik orang tua tentang menyekolahkan anak hingga perguruan tinggi, bahkan magister, harus dilakukan melalui sosialisasi yang masif kepada orang tua. Salah satu salurannya adalah institusi pendidikan itu sendiri.

Saya akan ceritakan pengalaman nyata saat saya diundang sebagai wali mahasiswa di suatu perguruan tinggi ternama di Indonesia. Saya tersentak kaget ketika salah satu bahasan materinya adalah akselerasi (fast track) program sarjana ke magister. Di situ orang tua diberikan penjelasan lengkap tentang program akselerasi tersebut. Dalam hati kecil saat mengikuti kegiatan itu bertanya: apa pentingnya buat saya? Yang mau atau tidak mengikuti program itu kan anak bukan saya. Kenapa saya yang diberi tahu.

Tapi, di situlah istimewanya kampus ini. Kampus ini sudah menyadari bahwa afirmasi penting dalam mensosialisasikan program akselerasi ini bukan hanya mahasiswa, tetapi orang tua mahasiswa. Melalui afirmasi harapan dan keinginan orang tua untuk mengikuti program akselerasi akan berdampak pada sugesti dan motivasi mahasiswa mengikuti program tersebut. Buktinya, setelah mendapatkan penjelasan program akselerasi itu, saya dan istri juga menyampaikan keinginan dan harapan ini pada anak. Tentu saja harapannya anak tersugesti dan termotivasi untuk mewujudkan mimpi orang tuanya.

Di sinilah, orang tua punya peran penting dalam membangun dan membentuk ekosistem pendidikan. Perannya dalam proses afirmasi dalam ruang keluarga sangat mendasar. Orang tua harus diberdayakan di institusi pendidikan tidak hanya sebagai pemenuh kebutuhan dasar sekolah dan perguruan tinggi, misalnya, pembayaran biaya pendidikan dan lain-lain. Tapi, juga diberdayakan sebagai fasilitator afirmatif program-program pendidikan. Meningkatkan tingkat pendidikan masyarakat tidak hanya dilakukan secara langsung pada calon siswa atau mahasiswa, tetapi juga dengan berkelanjutan memberikan kesadaran tentang arti pendidikan pada orang tua.

Perguruan tinggi pun harus bekerja sama dengan sekolah dalam mendistribusikan harapan kuliah tinggi pada orang tua. Melalui intensitas yang berkelanjutan dalam membangun kesadaran pendidikan tinggi pada orang tua, maka ruang keluarga dijadikan sebagai proses afirmasi penting dalam pendidikan. Para orang tua yang terlanjur berpendidikan rendah akan mengambil peran sebagai agen pendidikan untuk anak-anaknya. Jika ini terjadi, dipastikan motivasi bersekolah sampai tinggi, bahkan hingga magister dan doktor, akan menjadi obsesi semua keluarga di Indonesia. Jika ini terjadi, maka rendahnya tingkat pendidikan bangsa ini akan teratasi dengan garda terdepannya adalah para orang tua.

Heru Kurniawan

Founder Rumah Kreatif Wadas Kelir

Facebook
Twitter
LinkedIn
Pinterest

Tinggalkan Komentar

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Pencarian

Scroll to Top