INI SOAL TIDUR NYENYAK SAAT SAKIT

Ini masih soal sakitku yang sudah saya ceritakan sebelumnya. Kali ini, saya akan menjawab pertanyaan: apa yang saya kerjakan selama sakit hampir 19 hari? Saat sakit itu menyergap, aktivitas saya didominasi oleh tidur. Saya hanya ingin tidur. Hanya tidur. Yang lain terasa jadi sangat tidak menarik.

Saat demam mendatangi tubuhku. Saya tidur dengan berselimut tebal. Memakai kaos kaki dan jaket. Tidak mudah memejamkan mata, tapi saya memaksanya. Awalnya sangat susah, pikiran melalang buana tanpa arah, tapi saya biarkan. Ada godaan untuk menyalakan handphone dan scrolling, tapi saya sedang muak dengan cahaya handphone. Entah, handphone saya ada di mana. Saya juga tidak ingat. Ada godaan juga untuk menonton netflix, tapi saya sedang demam dan pikiran sedang tidak fokus. Saya hanya mau tidur.

Saya biarkan pikiran pergi entah ke mana. Saya biarkan imajinasi hinggap dari satu kenangan ke kenangan lainnya. Setelah lama berpetualang, akhirnya saya terlelap tidur juga. Dalam lelap saya membangun kesadaran tidak mau bangun. Saya ingin tidur yang lama. Tapi, akhirnya juga saya bangun. Saat bangun dalam keadaan berkeringat dan demam lenyap, rasanya saya sangat senang, sekalipun beberapa saat kemudian demam datang lagi. Ini efek tidak meminum obat turun panas atau demam. Tapi tidak apa-apa saya coba untuk menikmatinya. Begitulah seterusnya, sampai demam kemudian lenyap dan saya masuk tahap pemulihan.

Saat tahap pemulihan inilah godaan benar-benar menyiksa. Setelah demam tidak datang lagi, tubuh sudah mulai beraktivitas pelan, dan sudah mulai tidak muak dengan handphone, maka tergerakan keinginan untuk scrolling handphone sebelum tidur seperti saat sebelum sakit. Tapi, pengalaman tidur tanpa scrolling handphone saat sakit, membuatku menggagalkannya. Kenapa? Karena harus saya akui tidur dengan pengantar mengembarakan pikiran dan khayalan, walapun rasanya berat buat tidur, tapi setelah terlelap tidur dan terbangun, sungguh badan dan pikiran jadi sangat segar dan bugar.

Saya pun kemudian mencari tahu sebabnya? Saya menemukan jawabannya karena scrolling handphone sebelum tidur membuat cahaya handphone merusak produksi hormon melatonin, hormon tidur kita. Ada juga yang menjelaskan, radiasi sinyal handphone berpengaruh juga dengan otak kita. Jadi sinyal handphone sangat mengganggu kerja otak kita saat rehat atau tidur. Tidak heran, bangun tidur yang dipengantari dengan scrolling handphone membuat tidur kurang berkualitas dibandingkan tidur dengan pengantar melayangkan imajinasi.

Pemahaman dan pengalaman ini membuatku, saat menjalani tahap pemilihan, membuatku tidak mau menjadikan scrolling sebagai pengantar tidur. Setiap mau tidur, handphone saya taruh di tempat yang jauh. Atau, jiak dekat saya pasang dan gunakan mode terbang. Di situlah, jujur saja, saya mendapatkan sensasi pengalaman tidur yang berkesan dan berkelas. Saya bisa nyenyak tidur tanpa handphone sejak menderita sakit dan tahap pemulihan. Tidur nyenyak ini yang menurut saya punya peran penting terhadap daya tahan tubuh saya dalam menghadapi sakit. Sekalipun tidak minum obat dan berobat ke dokter tubuh saya kuat diserang demam berkali-kali sampai kemudian sembuh.

Sungguh luar biasa tidur itu. Saat sakit kita bisa tidur-tiduran terus. Ini karena melalui tidur tubuh kita sedang beristirahat dan mendukung imun-imun baik kita bertempur melawan virus. Tidur adalah sarana penting untuk penyembuhan. Ciptakan tidur yang berkualitas. Tidak yang dipengantari dengan imajinasi dan khayalan entah ke mana. Inilah salah satu pelajaran penting yang saya dapatkan saat sakit.

Sejak saat itu, sampai sekarang saya bertekad kuat untuk tidur tanpa pengantar dengan scrolling handphone. Saya tidur dengan niatan tidur. Jika tetap tidak bisa memejamkan mata buat tidur, saya terus memaksa dengan cara mempetualangkan imajinasi dan khayalan saya. Sering sampai berguling-guling ratusan kali karena susah tidur. Tapi, saya tidak menyerah. Saya terus berusaha, dan akhirnya tidur juga dengan lelap. Tidur sampai bermimpi entah di mana dan mimpi apa. Tidak jelas. Tapi, setelah bangun saya merasakan tubuh yang segar dan pikiran yang postif. Saya bahagia dengan temuan tanpa sengaja ini.

Dan ini sungguh mengingatkanku saat kecil. Saat belum ada teknologi, bahkan listrik belum masuk desa. Saya biasa tidur dengan dipengantari khayalan dan imjinasi tidak jelas. Hasilnya tetap bisa tidur dan bangun dalam keadaan bugar. Ini pelajaran penting yang saya dapat dari sakit saya. Pelajaran penting soal tidur yang bermakna.

Heru Kurniawan
Founder Rumah Kreatif Wadas Kelir

Facebook
Twitter
LinkedIn
Pinterest

Tinggalkan Komentar

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Pencarian

Kategori

Postingan Terbaru

Scroll to Top