Dongeng Nur ‘Aini Rahmawati

MAHKOTA SURGA BUAT IBU

Hai, ini Salim. Salim suka makan Es Krim.
Kata Ayah, Salim itu artinya penyelamat.
Nama yang hebat, bukan?
Ayah ingin Salim jadi anak baik.
Selalu menolong siapa pun.
Kini Salim berusia sembilan tahun lebih.

Hai, ini Salma, adik perempuan Salim.
Salma masih kecil, Salim sayang pada Salma.
Kata Ibu, Salma adalah teman bermain Salim yang asyik.
Umur Salma baru lima tahun tahun.

Allahuakbar.. Allahuakbar..!!!
suara adzan maghrib terdengar.
“Salim, ayo, ambil air wudhu kita sholat berjamaah!” ajak Ayah.
“Siap, Ayah,” jawab Salim semangat.

“Asyik, aku bisa bermain dengan teman-teman,” gumam Salim.
“Sudah wudhunya? Ayo, kita berangkat!” seru Ayah.
“Sudah Ayah. Siap meluncur,” seru Salim.

Sebelum berangkat Ibu mendekati Salim.
Ibu berpesan, “Sayang, di masjid tidak boleh lari-lari, ya.”
“Siap Ibu!” jawab Salim.
“Harus bersama Ayah terus,” lanjut Ibu.
“Siap laksanakan!” balas Salim.
Ayah dan Salim berangkat ke masjid.
Menunaikan sholat maghrib berjamaah.

Sepulang dari masjid wajah Ayah sedih.
Ibu bertanya, “Ada apa, Yah?”
“Tadi Salim tidak ikut sholat berjamaah,” jawab Ayah.
“Loh, kok?” seru Ibu memandang Salim.

“Salim, kenapa tidak ikut sholat?” tanya Ibu.
“Ingat pesan Ibu, Salim!” tambah Ibu.
“Salim ingin bermain dengan teman-teman,” jawab Salim dengan sedih.
“Tapi, ini bukan waktunya main-main. Salim harus shalat dulu,” kata Ayah.

“Besok Salim sholat di rumah dulu. Tidak usah ikut Ayah ke masjid!” kata Ibu.
“Tapi, Bu….” protes Salim.
Ibu dan Ayah meninggalkan Salim.
Salim sedih dan merasa bersalah.
Salim tidak ingin mengulangi kesalahannya lagi.

Allahuakbar..Allahuakbar..!!!
suara adzan isya berkumandang.
“Ayah, Salim ikut ke masjid lagi!” seru Salim.
“Salim sholat di rumah dulu, ya!” balas Ibu.

“Tapi Salim ingin sholat berjamaah!” bujuk Salim.
“Salim bisa berjamaah dengan Adik dan Ibu!” balas Ibu.
Salim terdiam sedih.
Salim pun sholat berjamaah dengan Ibu dan Salma.

Hari ini hari libur.
Ayah mengajak Salim dan Salma bermain.
Ibu di dapur memasak sarapan yang lezat.
Salim senang sekali bermain dengan Ayah.

“Salim, jaga Salma sebentar, ya. Ayah mau Sholat Dhuha!” seru Ayah.
“Iya, Ayah,” jawab Salim.
“Sholat Dhuha itu apa?” tanya Salim dalam hati.

“Siapa lapar? Sarapan sudah siap!” seru Ibu.
Salim langsung berlari ke meja makan.
Ayah sudah selesai sholat Dhuha.
Segera duduk di meja makan.
Salim dan Salma makan dengan lahap.
“Masakan Ibu enak sekali,” kata Salma.
Salim tertawa senang melihat adiknya.

Setelah sarapan, Ayah dan Salim menonton tivi.
“Ayah, sholat dhuha itu apa?” tanya Salim.
“Shalat dhuha itu shalat dua rakaat yang dilakukan di pagi hari,” jawab Ayah.

“Sama dengan sholat subuh?” tanya Salim penasaran.
“Berbeda sayang. Kalau subuh itu wajib. Sholat dhuha itu sunah.” jelas Ayah.
“Sunah itu boleh tidak dilakukan, tapi jika dilakukan akan mendapat kebaikan,” Ayah menjelaskan.

“Salim tahu tidak kebaikan sholat Dhuha?” tanya Ayah.
Salim menggelengkan kepala.
“Shalat dhuha itu dapat melancarkan rezeki,” jawab Ayah.
“Wow, sholat dhuha bisa membuat Ayah kaya-raya,” seru Salim.
Ayah tersenyum senang.

“Rezeki itu bukan hanya uang. Tapi…”
“Tapi apa, Ayah?” potong Salim penasaran.
“Tapi Salim bisa punya adik yang lucu, teman yang baik, dan Ayah Ibu yang sayang sama Salim itu juga namanya rezeki,” lanjut Ayah.
Salim tersenyum nyengir.

“Ayah, besok Salim mau sholat dhuha,” kata Salim dengan semangat, “Biar Allah kasih kelancaran rezeki buat Salim,” kata Salim.
“Wah, hebat anak Ayah, rajin sholat sunah. Tapi ingat, sholat wajib tidak boleh ditinggalkan!” kata Ayah.
“Siap Ayah,” jawab Salim.
“Dan satu lagi!” kata Ayah.
“Apa?” tanya Salim penasaran.
“Kalau sholaj jamaah jangan sambil bermain!” nasihat Ayah.
Salim kembali tersenyum nyengir.
“Sudah tidak akan bermain lagi, Ayah!” jawab Salim semangat.

Siang hari Salim pulang dari sekolah.
Salim mencari ibunya.
“Ibu..Ibu..!” panggil Salim sambil berlari masuk ke rumah.
“Wa’alaikumsalam…” kata Ibu.
“Eh, iya, lupa, Assalamu’alaikum….” kata Salim nyengir.
“Wa’alaikumsalam…” jawab Ibu.

“Bu, tadi Bu Guru bilang anak yang berumur sepuluh tahun, jika tidak shalat boleh boleh dipukul. Itu betul Ibu?” tanya Salim.
“Betul. Dipukul agar mau sholat wajib,” jawab Ibu.
“Kok begitu, Bu?” tanya Salim.
“Karena anak usia sepuluh tahun sudah wajib sholat,” balas Ibu.

“Salim sekarang umur berapa?” tanya Ibu.
“Hampir sepuluh tahun,” jawab Salim.
“Nah, mulai sekarang Salim harus rajin sholat,” kata Ibu.

“Tapi, Salim belum sepuluh tahu,” balas Salim.
“Makanya harus dimulai dari sekarang. Agar Salim sudah terbiasa,” nasihat Ibu.
“Siap, Bu!” kata Salim.
Salim segera pergi mengambi air wudhu.
Siap untuk menunaikan sholat dhuhur.

“Sholat itu keren, ya, Bu,” kata Salim usai sholat dhuhur.
“Kenapa keren?” tanya Ibu.
“Karena dengan sholat, kita bisa masuk surga,” jawab Salim, “Salim janji tidak akan sambil bermain saat sholat jamaah,” kata Salim.
“Anak Ibu, hebat!” kata Ibu memeluk Salim.

“Kata Bu Guru anak yang rajin sholat bisa minta mahkota surga ke Allah,” kata Salim, “Salim mau memberi mahkota surga buat Ibu dan Ayah.”
Ibu memeluk erat Salim lebih erat dan meneteskan air mata.
“Terima kasih, Salim, sayang,” kata Ibu.

Facebook
Twitter
LinkedIn
Pinterest

Tinggalkan Komentar

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Pencarian

Scroll to Top