LINGKARAN KECIL
Memang masih merah
Ya, sudahlah
Memang ecek-ecek
Benang benak pendek
Memang sangat lambat
Pelan sayat dibebat
Ya, memang maya
Yang nyata tak jelas meraba
Memang sudah apatis
Emosi tumpul teriris
Tapi hamba bahagia
Menyelam gelombang kidungnya
Menari memeluk swanya
Tapi hamba bahagia
Ramai isi caputnya
Bincang bisik bergema
Tapi hamba bahagia
Menyusur lingkaran kecilnya
Berlari dalam lelapnya
Dan hamba bahagia
Bersama Sang Esa
Bukankah itu yang utama?
Bukan, ya?
Atau iya?
Sidumara, 21 Januari 2026
SOLITER
Pengamat pengandal penuh intuisi ini
Enggan berlogika dan gemar berenang bersama arus
Diracun minthuna bertopeng
Didorong donor universal
Dirangkul plegma dan sanguin
Ia vanda berbintik dan berkerut
Sembunyi dan dicoba bagai musci
Berayun bersama kulimambang
Menyisir lily air murah hati
Bak mustela bergumul selimut salju
Putih ekornya menari
Lalu, kala lavandula menyala
Lembut disandar felis bernyawa sembilan
Babi tanah sigap menyeruput rayap
Tidak kusangka, kemudian …
Bakung putih mengepung
Melindungi saudaranya, convallaria
Lonceng kecil, halus, dan rapuhnya menitik embun
Ya, terharu ujarnya
Sering mabuk bagai lumba-lumba
Kadang nokturnal bersama pungguk lain
Digenggam daffodil yang bahagia
Penuh harap lahir kembali di musim dingin
Binar patronusnya landak
Tetap saja semua itu soliter
Purwokerto, 21 Januari 2026
LEKAS PULIH, YA
Inti mayapada bergejelok
Mendidih menggeser litosa di atasnya
Lelah ia dengan keruk serap
Perutnya mulai kosong
Padahal butuh waktu lama mengisinya
Isi temboloknya menguap mengasap para kecambah merah
Dibuatnya paru kecambah kikis seperti perutnya
Kecambah itu yang memilihnya sendiri
Mengorbankan pupus yang tak berdosa
Menumbalkan kuntum kesuma yang tak tahu apa-apa
Merintih meraungpun para lentil tak akan merasa
Sementara kini litosa keruntang pukang
Awaknya dipenggal kasar
Menyisakan akar yang kusut tak bisa merengkuh
Air sepi yang kehilangan peluknya naik pitam
Menghambur kusutkan kecambah seperti akarnya
Tapi mereka tetap tidak bergeming
Hingga bumantara berpusar
Ruang hawa tersedak asam arang
Bahang meriang membara melahap udara
Jalam langit menyerbu menyapu tak kenal waktu
Apakah para lentil tetap tak akan merasa?
Ataukah memang sudah waktunya para kecambah binasa?
Apapun itu, khalayak gila tetap gigih memugar
Semoga lekas pulih, ya
Banyumas, 21 Januari 2026
BINAR YANG BERJARAK
Kata mereka, Sirius terang bercahaya
Dilirik sangsi cemburu sang Luna
Mendamba merengkuh binarnya
Hingga sang Surya meminjamkan kirana
Dan Luna berbinar menjelma purnama
Tapi apa benar?
Cemburu ada di benak lunar?
Atau hanya celoteh mereka yang tak bersinar?
Nyantanya, meskipun tak mandiri beraskara
Lunalah yang paling dekat dengan buana
Kontrasnya dengan cakrawala
Tepatnya ruang sela
Albedonya
Buat Luna penuh suka ria
Menyapa bumi pagi dan senja
Sebaliknya
Sirius yang asing nan jauh
Tak bisa menyapa embun subuh
Maupun insan berpeluh
Meskipun pendarnya utuh
Tapi yang bisa ia rengkuh
Hanya tawang gelap yang penuh
Bahkan kini di malam purnama
Sirius tetap tak bisa menyapa
Karena gemerlap kecil berdaya
Yang takut akan kelamnya bumantara
Yang tak mau ada gulita
Yang serakah akan dunia fana
Mereka bilang itu polusi cahaya
Karangklesem, 06 Juli 2024
BUKAN SEKEDAR SISA
huh
rintihan pohon-pohon
salmon dan piton
sesak menghirup karbon
ya, rupanya bukan hanya paru
yang hembusnya berisik kasar menderu
daun-daunpun begitu
di bawahnya
sampah menumpuk bak ingatan kebas
tanah tak akan pernah lupa
rasa plastik di rongganya yang tak mau lepas
ya, ia baka
sementara akar pelan-pelan lupa caranya bernapas
sungai tersedak warna
bukan penuh alga hijau merah
bukan lagi deras cokelat tanah
apalagi tenang telus nan ramah
kini ia kilap kemasan kelabu
yang mengapung sambil tertawa tabu
mengejek ikan-ikan berdebu
sementara di atasnya
manusia lewat, memicing, menutup nasal
seolah bau itu tak lahir dari dampanya
seolah lupa setiap lemparan kecil tanpa sesal
adalah vonis panjang bagi buana
bumi tak meraung
ia mengeluh merenung
lewat banjir, panas, dan beliung
menunggu kita bangun
bahwa sampah bukan sekadar sisa yang tertimbun
melainkan cermin beruntun
dari hidup yang tak santun
Wadaskelir, 27 Januari 2026



