Sajak-Sajak Alfiana Nur Aeni

LINGKARAN KECIL

Memang masih merah

Ya, sudahlah

Memang ecek-ecek

Benang benak pendek

Memang sangat lambat

Pelan sayat dibebat

Ya, memang maya

Yang nyata tak jelas meraba

Memang sudah apatis

Emosi tumpul teriris

Tapi hamba bahagia

Menyelam  gelombang kidungnya

Menari memeluk swanya

Tapi hamba bahagia

Ramai isi caputnya

Bincang bisik bergema

Tapi hamba bahagia

Menyusur lingkaran kecilnya

Berlari dalam lelapnya

Dan hamba bahagia

Bersama Sang Esa

Bukankah itu yang utama?

Bukan, ya?

Atau iya?

Sidumara, 21 Januari 2026

SOLITER

Pengamat pengandal penuh intuisi ini

Enggan berlogika dan gemar berenang bersama arus

Diracun minthuna bertopeng

Didorong donor universal

Dirangkul plegma dan sanguin

Ia vanda berbintik dan berkerut

Sembunyi dan dicoba bagai musci

Berayun bersama kulimambang

Menyisir lily air murah hati

Bak mustela bergumul selimut salju

Putih ekornya menari

Lalu, kala lavandula menyala

Lembut disandar felis bernyawa sembilan

Babi tanah sigap menyeruput rayap

Tidak kusangka, kemudian …

Bakung putih mengepung

Melindungi saudaranya, convallaria

Lonceng kecil, halus, dan rapuhnya menitik embun

Ya, terharu ujarnya

Sering mabuk bagai lumba-lumba

Kadang nokturnal bersama pungguk lain

Digenggam daffodil yang bahagia

Penuh harap lahir kembali di musim dingin

Binar patronusnya landak

Tetap saja semua itu soliter

Purwokerto, 21 Januari 2026

LEKAS PULIH, YA

Inti mayapada bergejelok

Mendidih menggeser litosa di atasnya

Lelah ia dengan keruk serap

Perutnya mulai kosong

Padahal butuh waktu lama mengisinya

Isi temboloknya menguap mengasap para kecambah merah

Dibuatnya paru kecambah kikis seperti perutnya

Kecambah itu yang memilihnya sendiri

Mengorbankan pupus yang tak berdosa

Menumbalkan kuntum kesuma yang tak tahu apa-apa

Merintih meraungpun para lentil tak akan merasa

Sementara kini litosa keruntang pukang

Awaknya dipenggal kasar

Menyisakan akar yang kusut tak bisa merengkuh

Air sepi yang kehilangan peluknya naik pitam

Menghambur kusutkan kecambah seperti akarnya

Tapi mereka tetap tidak bergeming

Hingga bumantara berpusar

Ruang hawa tersedak asam arang

Bahang meriang membara melahap udara

Jalam langit menyerbu menyapu tak kenal waktu

Apakah para lentil tetap tak akan merasa?

Ataukah memang sudah waktunya para kecambah binasa?

Apapun itu, khalayak gila tetap gigih memugar

Semoga lekas pulih, ya

Banyumas, 21 Januari 2026

BINAR YANG BERJARAK

Kata mereka, Sirius terang bercahaya

Dilirik sangsi cemburu sang Luna

Mendamba merengkuh binarnya

Hingga sang Surya meminjamkan kirana

Dan Luna berbinar menjelma purnama

Tapi apa benar?

Cemburu ada di benak lunar?

Atau hanya celoteh mereka yang tak bersinar?

Nyantanya, meskipun tak mandiri beraskara

Lunalah yang paling dekat dengan buana

Kontrasnya dengan cakrawala

Tepatnya ruang sela

Albedonya

Buat Luna penuh suka ria

Menyapa bumi pagi dan senja

Sebaliknya

Sirius yang asing nan jauh

Tak bisa menyapa embun subuh

Maupun insan berpeluh

Meskipun pendarnya utuh

Tapi yang bisa ia rengkuh

Hanya tawang gelap yang penuh

Bahkan kini di malam purnama

Sirius tetap tak bisa menyapa

Karena gemerlap kecil berdaya

Yang takut akan kelamnya bumantara

Yang tak mau ada gulita

Yang serakah akan dunia fana

Mereka bilang itu polusi cahaya

Karangklesem, 06 Juli 2024

BUKAN SEKEDAR SISA

huh

rintihan pohon-pohon

salmon dan piton

sesak menghirup karbon

ya, rupanya bukan hanya paru

yang hembusnya berisik kasar menderu

daun-daunpun begitu

di bawahnya

sampah menumpuk bak ingatan kebas

tanah tak akan pernah lupa

rasa plastik di rongganya yang tak mau lepas

ya, ia baka

sementara akar pelan-pelan lupa caranya bernapas

sungai tersedak warna

bukan penuh alga hijau merah

bukan lagi deras cokelat tanah

apalagi tenang telus nan ramah

kini ia kilap kemasan kelabu

yang mengapung sambil tertawa tabu

mengejek ikan-ikan berdebu

sementara di atasnya

manusia lewat, memicing, menutup nasal

seolah bau itu tak lahir dari dampanya

seolah lupa setiap lemparan kecil tanpa sesal

adalah vonis panjang bagi buana

bumi tak meraung

ia mengeluh merenung

lewat banjir, panas, dan beliung

menunggu kita bangun

bahwa sampah bukan sekadar sisa yang tertimbun

melainkan cermin beruntun

dari hidup yang tak santun

Wadaskelir, 27 Januari 2026

Facebook
Twitter
LinkedIn
Pinterest

Tinggalkan Komentar

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Pencarian

Scroll to Top