SEKOLAH LITERASI: BELAJAR MENANGKAP POLA, BUKAN SEKADAR MENGHAFAL

Kemampuan mengingat informasi ternyata tidak selalu menunjukkan bahwa seseorang benar-benar memahami apa yang dipelajarinya. Hal tersebut menjadi salah satu pembahasan dalam kegiatan Sekolah Literasi semalam. Para relawan diajak melihat kembali bagaimana selama ini mereka menerima, mengolah, dan memahami berbagai informasi yang hadir dalam kehidupan sehari-hari.

Dalam kesempatan tersebut, Pak Guru Heru mengawali pembelajaran dengan memberikan sebuah tes sederhana kepada para relawan. Mereka diminta menyampaikan kembali isi tausiah dari kajian RT yang mereka ikuti pada malam sebelumnya.

Hasilnya cukup mengejutkan. Nyaris tidak ada relawan yang mampu menyampaikan kembali isi tausiah tersebut secara utuh. Padahal, mereka hadir secara langsung, mendengarkan tausiah, dan baru sehari sebelumnya menerima informasi tersebut.

Tes sederhana itu kemudian menjadi pintu masuk untuk membahas satu persoalan yang lebih mendasar, yaitu kebiasaan manusia dalam menerima informasi. Menurut Pak Guru Heru, banyak orang terbiasa berusaha merekam informasi sebanyak dan seutuh mungkin, tetapi kurang melatih diri untuk memahami pola yang ada di balik informasi tersebut.

“Kita sering merasa sudah belajar hanya karena kita mendengar, melihat, dan hadir dalam sebuah kegiatan. Padahal, belum tentu kita betul-betul memahami apa yang sedang kita pelajari. Kita justru sering sibuk berusaha merekam informasi seutuh mungkin sesuai dengan apa yang disampaikan, bukan berusaha melihat pola dan hubungan dari informasi tersebut,” jelasnya.

Ia kemudian menjelaskan bahwa kemampuan menangkap pola akan membuat seseorang memiliki pemahaman yang lebih kuat. Ketika pola sebuah informasi sudah dipahami, seseorang tidak lagi bergantung pada kemampuan menghafal setiap kata yang disampaikan.

“Kalau kita mampu menangkap pola-pola yang disampaikan, kita akan lebih mudah memahami, mengingat, dan mengulanginya kembali. Bahkan, kita bisa membagikannya kepada orang lain dengan bahasa dan cara kita sendiri, tanpa kehilangan inti dari informasi yang kita pelajari,” lanjut Pak Guru Heru.

Menurutnya, pola berpikir semacam itu perlu dilatih karena banyak orang belum terbiasa menggunakan pikirannya secara struktural dan sistematis. Akibatnya, seseorang dapat menerima banyak informasi tetapi kesulitan memahami hubungan antarinformasi tersebut. Pengetahuan akhirnya hanya berhenti sebagai sesuatu yang pernah didengar atau diketahui, tanpa benar-benar menjadi pemahaman yang dapat digunakan.

Melalui pembelajaran di Sekolah Literasi, para relawan terus diajak untuk membangun kebiasaan tersebut. Literasi tidak hanya dipahami sebagai kegiatan membaca atau mengumpulkan informasi, tetapi juga sebagai proses melatih pikiran agar mampu memahami sesuatu secara mendalam, sistematis, dan dapat menggunakannya kembali dalam berbagai situasi.

Penulis
Tania Rahayu
Relawan Rumah Kreatif

Facebook
Twitter
LinkedIn
Pinterest

Tinggalkan Komentar

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Scroll to Top